Title : Competely Love
Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun (ChanHun), and other cast (find out in the story)
Genre : Brothership, Romance, Yaoi
Rated :T- M
Author : SuyangSuyong
Disclaimer : Ff ini pure hasil dari pikiran author 'suyangsuyong', strawberry B Cuma bantu share.
Summary : Sehun mencintai Chanyeol, begitupun sebaliknya. Hubungan percintaan mereka sejak awal memang salah, terlebih mereka adalah saudara. Akankah kisah cinta mereka akan berakhir indah? /YAOI/BOYXBOY/BL/HUBUNGAN SESAMA JENIS.
.
Warning! Don't Read If You Don't Like Yaoi
Sorry for typo
.
.
.
Happy reading guys^^
Chapter 5 ( Ignore the mistakes)
"Sehun"
Chanyeol mengetuk pintu Sehun. Dan segera mendapat balasan dari dalam.
"Ya hyung, masuk saja, tidak dikunci"
"Kau sudah mau tidur ya? Apa aku mengganggumu? Bolehkah aku tidur bersamamu?"
"Ya, kemarilah hyung."
Sehun menggeser posisi tidurnya agar Chanyeol bisa tidur disebelahnya.
"Maaf ya, aku jadi sering ke kamarmu dan kau harus berbagi tempat tidurmu."
"Itu tak masalah, aku senang bisa tidur bersamamu hyung."
"Lain kali kau harus tidur bersamaku di kamarku, eoh?"
"Ya, hyung"
Hening. Tak ada yang berbicara lagi diantara mereka berdua. Keduanya belum memejamkan matanya, tetapi pikiran mereka melayang kemana mana. Tak ada yang berusaha memulai percakapan lagi. Hingga akhirnya Chanyeol angkat suara lagi.
"Hei"
"Ya, hyung?"
"Bagaimana harimu hari ini? Apa menyenangkan? Kau pergi kemana saja tadi?"
"Eung, ya hari ini sangat menyenangkan. Aku hanya pergi ke toko buku dan melihat kembang api di festival. Hanya itu hyung"
Jawab Sehun seadanya.
"Aku merindukanmu." Bisik Chanyeol.
Sehun terkejut. Matanya membola lalu membalikkan badannya kearah Chanyeol. Chanyeol hanya menunduk.
"Apa aku tak salah dengar? Kau bilang apa tadi?"
Chanyeol mendongak. Menatap tepat pada manik hazel milik Sehun.
"Aku merindukanmu. Sangat"
Chanyeol memeluk Sehun. Masih tetap menatap matanya, menyiratkan kasih sayang. Yang ditatap hanya diam terpaku, tak bisa berkata apa apa. Terlalu terkejut hingga lidahnya terasa kelu.
Pandangannya turun pada bibirnya. Sumpah, demi Tuhan dia ingin sekali mencicipinya. Tapi, bolehkah?
Meskipun sekeras apapun dia menahan, akhirnya batinnya terkalahkan. Persetan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, demi apapun dia ingin mencicipinya sekarang atau ia akan mati penasaran.
Tanpa babibu, Chanyeol langsung meraup bibir Sehun. Baru hanya sebatas menempel. Sehun membelalakkan matanya. Terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan hyungnya, namun tak berniat melepas atau mendorongnya. Entah kenapa semua badannya terasa kaku.
Karena tak menerima penolakan, Chanyeol mulai melumatnya dengan lembut. Lembut sekali sampai Sehun terbuai. Namun tak berani membalasnya, masih terlalu terkejut dan belum terbiasa.
Chanyeol terus memperdalam ciumannya. Sial, ia tak tau jika bibir adiknya ini sangat manis sehingga sangat memabukkan. Ia terus melumatnya sampai habis seakan tak ada kesempatan lain lagi. Tangannya bergerak untuk mengelus rahangnya dengan lembut dan menekan kepala Sehun agar lebih dekat. Lalu menggigit kecil bibir Sehun.
"Eungh.."
Satu lenguhan lolos dari bibir Sehun. Sehun tak tau kalau ciuman itu rasanya senikmat ini. Selama ini ia hanya melihat di televisi saja, itupun hanya di drama yang suka ditonton oleh bibi Wu. Dan sekarang ia merasakannya sendiri. Dicium oleh hyungnya sendiri. Sungguh, Sehun sangat polos, bahkan dia tak tahu harus bagaimana. Ia hanya bisa diam sambil merasakannya.
Chanyeol terus melahap bibir Sehun, menggigit-gigit bibirnya, walau Sehun tak membalasnya tak apa, asalkan ia tak menolak dan mendorongnya. Meskipun belum berani untuk mengajak lidahnya berperang di dalam mulut Sehun tetapi hanya dengan menikmati bibirnya yang sangat manis ini pun sangat memabukkan. Apalagi ditambah dengan erangan yang tak sengaja dikeluarkan oleh Sehun membuatnya makin bergairah lagi. Di elus nya tengkuk leher Sehun, serta diusapnya pipi halus adiknya itu, Chanyeol terus melumat bibirnya dengan ganas.
Sehun mendorong dada Chanyeol karena pasokan oksigen di paru parunya sudah habis. Seakan mengerti permintaan Sehun, Chanyeol melepaskan bibirnya, melihat bibir adiknya yang sedikit memerah karena ulahnya, lalu mengecupnya lagi sekilas. Keduanya sama-sama terengah-engah. Chanyeol tersenyum, memegang pipi Sehun sambil menatap matanya.
"Aku menyayangimu, sangat."
Chanyeol pun memeluk Sehun lagi.
Sinar matahari masuk melewati celah celah kecil dari jendela, menusuk sedikit ke celah matanya. Sehun terbangun, sudah pagi ternyata. Melihat kesamping kearah Chanyeol yang sedang memeluknya erat seperti guling. Dia masih terkejut dengan kejadian semalam. Seharusnya ini tidak terjadi. Bukannya mereka saudara sekandung? Ini aneh.
Menggerakkan badannya sedikit, Sehun berusaha untuk bangun dan lepas dari pelukan Chanyeol. Namun Chanyeol terbangun, dia membuka matanya.
"Pagi Sehun"
Sehun terdiam. Menatap wajah Chanyeol yang masih sayu khas orang baru bangun tidur.
"P-pagi j-juga hyung"
Sial. Kenapa jadi salah tingkah begini? Sehun jadi kikuk sendiri, tak tau kenapa.
"Eum, maafkan aku. Soal itu..."
Sehun terdiam sejenak.
"Ah iya, eum, itu... lupakan saja. Bangunlah, sudah pagi. Cepat mandi atau kau akan terlambat."
Sehun bangun dari tempat tidur lalu beranjak masuk ke kamar mandi.
"Aku berangkat, bu!"
Teriak Sehun sambil menutup pintu. Tak lama suara dibelakangnya mengikuti.
"Aku juga berangkat bu! Sehun tunggu aku!"
Chanyeol berlari mengejar Sehun di depannya. Meraih tangan Sehun dan membuat Sehun berhenti berjalan.
"Yak, kenapa cepat sekali, aku lelah" Chanyeol sampai terengah-engah mengejar Sehun.
"Salahmu, kenapa begitu lambat sekali? Cepatlah, kita akan terlambat kalau seperti ini terus."
"Maafkan aku. Lagipula ini masih pukul 07.00, masih ada 30 menit untuk sampai kesekolah tanpa terlambat. Ayolah, kau marah?"
"Ah sudahlah diam saja hyung."
Chanyeol diam. Tapi tangannya memegang jemari tangan Sehun. Erat sekali. Ah sial, ini semakin membuat Sehun salah tingkah dan bingung. Merasa bersalah juga karena tadi ia sedikit memarahi hyungnya.
"Hyung"
"Hm?" Chanyeol menoleh ke arah Sehun.
"Maafkan aku. Tadi aku sedikit memarahimu. Maafkan aku juga tadi meninggalkanmu. Aku tidak bermaksud..."
"Sudah lah lupakan saja, tak apa. Itu salahku juga."
Chanyeol tersenyum, sambil mengusak rambut Sehun dengan lembut, tangan yang satunya juga belum lepas, masih menggenggam tangan Sehun. Sehun ikut tersenyum, rasanya ia sudah berlaku sangat jahat sekali pada hyungnya.
Chanyeol dan Sehun memasuki gerbang sekolah. Masih dengan posisi tangan Chanyeol yang menggenggam tangan Sehun.
"Sehun!" Teriak seseorang dari belakang.
Sehun menolehkan kepalanya kebelakang untuk mencari tahu siapa yang tadi memanggilnya.
"Oh, hai Kai"
Kai menghampiri Sehun, lalu merangkul pundaknya. Membuat Chanyeol mau tak mau melepas tangan Sehun.
"Ayo kita masuk ke kelas bersama"
"Ah iya. Hyung, aku dan Kai ke kelas duluan ya"
"Annyeong sunbae, kami duluan ya" Kai menyapa Chanyeol ramah.
"Ah ya sudah, aku juga ingin ke kelasku. Hati hati, Sehun."
"Ya, hyung. Kau juga"
Kai dan Sehun berjalan bersama memasuki Chanyeol yang masih terdiam sambil memperhatikan keduanya. Ini aneh. Ia sangat tak rela Kai dengan Sehun. Entah kenapa.
Flashback on
Setelah memarkirkan motornya di parkiran yang terletak di luar gerbang sekolah, ia berjalan memasuki gerbang sekolah. Tak sengaja matanya menangkap Sehun bersama Chanyeol, hyungnya, berjalan berdua memasuki gerbang sekolah juga. Tapi tunggu. Chanyeol menggenggam tangan Sehun. Ini aneh. Mereka kakak beradik, tapi kenapa Kai merasa ada yang aneh antara Sehun dengan Chanyeol? Apalagi tatapan Chanyeol pada Sehun saat mengobrol, sungguh berbeda. Seperti ada perasaan lain. Ia merasa tak rela Chanyeol menggenggam tangan Sehun. Apakah ia cemburu? Tapi untuk apa? Bukankah mereka saudara kandung? Ini sungguh aneh.
Kai mengejar Sehun, berusaha mengajak Sehun ke kelas bersama dan melepaskan genggaman Chanyeol dari Sehun.
"Sehun!"
Yang dipanggilnya pun menoleh ke belakang.
"Oh, hai Kai"
Langsung saja Kai merangkul pundak Sehun. Sesekali matanya melirik ke bawah. Syukurlah, akhirnya Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada Sehun.
"Ayo kita pergi ke kelas bersama"
Kai berusaha melepaskan Sehun dengan Chanyeol, kelihatan jahat memangnya, tapi entahlah, ia tak rela Sehun dengan hyungnya sendiri.
"Oh iya. Hyung, aku dan Kai ke kelas duluan ya"
"Annyeong sunbae, kami ke kelas duluan ya"
Kai ikut menyapa Chanyeol, tak lupa memberikan senyum yang sebenarnya dipaksakan, hanya untuk menghormati Chanyeol.
"Ah yasudah, kalau begitu aku juga akan pergi ke kelasku. Hati-hati ya, Sehun."
"Ya, hyung. Kau juga"
Sial. Kenapa lagi lagi ia merasa tak rela? Benar-benar cemburu kah? Chanyeol sangat perhatian pada Sehun, bahkan perhatiannya lebih dari perhatian seorang kakak kepada adiknya. Langsung saja Kai menarik Sehun dan berjalan menuju kelasnya. Sesekali mencuri pandang ke belakang, melihat Chanyeol yang masih berdiri diam di sana. Apa jangan jangan Chanyeol punya perasaan lebih pada adiknya sendiri? Jangan sampai itu terjadi. Kai terus berdoa dalam hatinya. Dia harus lebih dulu menyatakan perasaannya pada Sehun sebelum keduluan oleh Chanyeol.
Flashback off
"Chanyeol!"
Chanyeol terkejut. Baekhyun menepuk pundaknya dan mengagetkannya tiba-tiba dari lamunannya. Membuyarkan pikirannya.
"Yak! Kau mau membuatku mati muda, huh?!"
"Aih, santai saja. Lagipula kenapa kau hanya berdiri saja disini? Ayo masuk ke kelas!"
Baekhyun menarik lengan Chanyeol, mengajaknya untuk masuk ke dalam kelas.
"Senyawa karbon tersusun atas unsur karbon dan hidrogen. Selain itu, senyawa karbon juga ada yang mengandung unsur oksigen. Pembakaran senyawa karbon akan mengubah karbon menjadi gas karbon dioksida dan hidrogen menjadi air. Keberadaan gas karbon dioksida dapat diidentifikasi berdasarkan sifatnya yang dapat mengeruhkan air kapur. Ada yang ingin bertanya dahulu sampai sini sebelum saya lanjutkan kembali?"
Begitulah saat Jung seongsaenim sedang menerangkan pelajaran Kimia. Diantara semua siswa, Sehun merupakan siswa yang cukup rajin, terbukti dia dari tadi mencatat semua yang diterangkan oleh Jung seongsaenim, buku nya pun sangat rapi dan penuh dengan catatannya. Beda sekali dengan teman sebangkunya, Kai. Dari awal pelajaran Kimia sampai sekarang dia tertidur dengan kepala diletakkan diatas meja serta buku diatas kepalanya yang menutupinya. Saat dirasa Jung seongsaenim memerhatikan satu persatu murid-muridnya, Sehun berusaha untuk membangunkan Kai supaya tidak ketahuan oleh Jung seongsaenim.
"Hei! Kai! Kai-ya, bangun! Jung seongsaenim memperhatikanmu."
Sehun menggoyang goyangkan badan Kai, berharap Kai akan segera bangun, namun hasilnya tetap nihil. Kai pulas sekali.
"Ehm"
Deheman keras keluar dari mulut Jung seongsaenim. Dan tanpa disadari sekarang Jung seongsaenim sudah berada di samping Kai sambil membawa pukulan papan yang selalu dia bawa pada saat mengajar.
"KAI-SSI BISAKAH KAU BANGUN?! DAN SILAHKAN BERDIRI DILUAR KELAS SAMPAI ISTIRAHAT!"
Jung seongsaenim berteriak dan memukulkan pukulan papannya ke meja Kai. Kai terlonjak kaget lalu bangun. Langsung ditatapnya Jung seongsaenim dengan ngerinya, lalu segera bangkit keluar dan berdiri di luar kelas. Sehun hanya bisa melihat Kai dari tempat duduknya sambil menatap iba pada teman sebangkunya yang dihukum itu.
"Baiklah mari kita lanjutkan pelajaran kita"
Jung seongsaenim kembali menerangkan pelajarannya.
Bel istirahat pun berbunyi, Sehun langsung merapikan buku catatannya, lalu menghampiri Kai yang masih berdiri di luar kelas dan sedang berbicara dengan Jung seongsaenim yang akan keluar.
"Lain kali jangan diulangi lagi. Kalau kau ketahuan tidur lagi di pelajaranku, hukumanmu akan lebih berat lagi. Arrasseo?"
"Ya seongsaenim, maafkan aku."
Kai menjawab sambil membungkukkan diri di depan Jung seongsaenim.
"Kai!"
Sehun menghampiri Kai.
"Hei, kan sudah kubilang jangan tertidur di pelajarannya. Kau juga ku bangunkan sulit sekali, akhirnya ketahuan kan."
"Ah sudahlah biarlah, lagipula aku mengatuk sangat tadi. Ayo pergi ke kantin, aku sangat lapar."
Kai merangkul pundak Sehun dan mengajak nya pergi ke kantin.
"Sehun!"
Sehun menoleh kebelakang, melihat siapa yang memanggilnya.
"Sehun, ayo ke kantin bersama, kita makan, tadi sebelum berangkat ibu menitipkan bekal untukmu dan aku. Oh, halo Kai"
Sapa Chanyeol saat melihat Kai di sebelah Sehun.
"Oh, Hai juga sunbae" balas Kai.
"Ibu menitipkan bekal? Yasudah, ayo kita ke kantin bersama."
Sehun mengambil bekal yang dipegang oleh Chanyeol.
"Yak! Chanyeol, Sehun, tunggu! !"
"Aish, dia lagi."
"Ah, Baekhyun hyung!" Sapa Sehun.
"Yak Chanyeol kenapa kau meninggalkan ku! Aku ingin pergi ke kantin bersama!"
"Salahmu, bukannya tadi ingin makan bersama Jongdae? Kenapa kemari?"
Chanyeol hanya memutar bola matanya malas melihat Baekhyun.
"Eih Chanyeol jangan marah, aku tak jadi makan bersama nya. Dia ada urusan dengan OSIS."
Baekhyun hanya merengut.
"Sudahlah ayo kita ke kantin, aku sudah lapar!"
Sehun menarik semuanya untuk jalan ke kantin.
"Sehun, ingin kupesankan tteobeokki pedas?" Tanya Kai pada Sehun.
"Hei! Sehun tak suka pedas!"
Sambar Chanyeol sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Kai terdiam. Hei, kenapa dia mengganggu sekali? Chanyeol sungguh-sungguh perhatian sangat pada Sehun.
"Ya Kai, yang dikatakan oleh Chanyeol hyung itu benar, aku tak suka pedas." Jawab Sehun
"Um, kalau begitu, kau mau pesan apa?"
"Um.. susu pisang saja. Hyung, kau mau tidak?"
"Ya Hun, pesankan untukku juga."
"Sehun, aku juga ingin satu." Sahut Baekhyun yang dari tadi mengganggu Chanyeol makan.
"Oke, Kai pesankan 3 susu pisang ya?"
"Baiklah."
Kai POV
'Sial, kenapa Chanyeol sangat perhatian sekali pada Sehun? Lihatlah caranya menatap Sehun, seperti menyiratkan sesuatu yang lebih. Bahkan dia menyuapinya! Apa-apaan itu! Ah benarkah aku cemburu sangat pada kakak kandungnya sendiri? Aku pasti sudah gila. Cepat atau lambat Sehun harus menjadi milikku. Harus.' Batinku dalam hati sambil melihat Sehun dan Chanyeol yang sangat dekat dari kejauhan. Sial, kenapa juga aku yang disuruh memesankan ini semua untuk mereka?!
Kai POV end
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Namun diluar sedang hujan deras. Mencari payung di tas nya, namun nihil. Dia tak membawanya hari ini, karena dia pikir hari ini takkan turun hujan. Akhirnya dia hanya bisa menunggu hujan berhenti di dalam kelas sendirian. Kai sudah keluar duluan karena dia harus ke ruang klub dance.
"Sehun!"
Chanyeol mengintip dari pintu. Terlihat Sehun sedang duduk sendirian di kelas. Chanyeol menghampiri Sehun.
"Kenapa belum pulang? Kau tak bawa payung?"
"Ya hyung, aku tak bawa payung, jadi aku menunggu hujan reda."
"Ayo pulang bersamaku, kita bisa gunakan payungku. Akan sangat lama menunggu hujan reda, bisa-bisa kita kemalaman sampai rumah."
Chanyeol menarik tangan Sehun untuk bangun dan keluar. Mengeluarkan payung dari dalam tasnya, melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya pada Sehun.
"Pakai jaketku, nanti kau kedinginan."
"Tapi, hyung akan.."
"Tak apa, jangan pedulikan aku. Ayo pulang."
Chanyeol merangkul pundak Sehun. Menempelkannya erat dengannya, agar tidak kebasahan, lalu memayunginya dan dirinya sendiri. Berlari menuju halte bus sambil terus melindungi Sehun dari air hujan.
"Hyung"
"Hm?"
"Gomawo. Dan maaf, karena aku kau menjadi kedinginan."
"Ku bilang kan tak apa, kau adikku jadi aku harus melindungimu."
"Kita harus cepat sampai kerumah, aku takut kau terkena demam karena kedinginan hyung."
Sehun khawatir. Ya, khawatir pada hyungnya. Dia khawatir Chanyeol akan sakit karena berkorban untuknya.
"Kami pulang"
"Yaampun, kenapa kalian pulang hujan hujanan? Kenapa tak menunggu hujan reda."
"Hyung yang nekat, bu"
"Kalau menunggu hujan reda, akan sampai malam, dan aku tak mau pulang malam. Lagipula kami memakai payung bu, jadi tidak terlalu basah kehujanan." Chanyeol membela diri.
"Cepatlah ganti baju, nanti kalian sakit."
"Ya, ibu" sahut keduanya.
"Chanyeol hyung."
Sehun mengetuk pintu kamar Chanyeol. Hening. Tak ada suara. Sehun mencoba memutar kenop pintunya. Ternyata pintunya tak dikunci. Sehun membuka pintunya, mengintip sedikit, lalu saat melihat Chanyeol sedang tertidur, Sehun masuk ke kamarnya.
"Chanyeol hyung."
Sehun memanggilnya sekali lagi, berusaha membangunkannya sambil meletakkan dua cangkir cokelat panas yang dibawanya di atas nakas.
"Sehun" bisik Chanyeol
"Hyung? Kau sakit? Kenapa pucat sekali?"
Sehun sedikit menyibakkan selimut diatas Chanyeol, lalu memegang dahinya.
"Astaga hyung! Kau demam! Tunggu sebentar, aku ambil obat dan handuk hangatnya."
Sehun berlari keluar kamar. Lalu kembali lagi dengan membawa obat penurun panas, segelas air putih, serta baskom kecil berisi air hangat dan handuk.
Segera Sehun memeras handuk yang sudah direndam air hangat, lalu meletakkan handuk itu diatas dahi Chanyeol.
"Sudah ku katakan menunggu saja hyung, kau malah nekat. Lihatlah, kau jadi sakit. Minum obatnya hyung."
Sehun memasukkan obat ke dalam mulut Chanyeol, lalu meminumkan segelas air putih padanya.
"Aku senang menjadi sakit. Kau jadi lebih perhatian padaku, hehe." Chanyeol tertawa renyah.
"Dasar manja." Sehun memutar bola matanya malas.
"Aku sudah buatkan cokelat panas untukmu, bangun dan minumlah, nanti dingin kalau tidak segera diminum."
"Wah, adikku ini perhatian sekali." Goda Chanyeol dengan disertai cengiran bodohnya.
"Diamlah hyung, atau ku tinggalkan kau sendirian disini."
"Eih, adikku galak sekali, jangan marah, maafkan aku ya, hehe"
"Ini, minumlah."
Sehun menyodorkan secangkir cokelat panas kepada Chanyeol. Lalu mengambil secangkir cokelat panas miliknya sendiri, kemudian meminumnya.
Chanyeol meminum cokelat panasnya.
"Enak sekali cokelat panas buatanmu. Lain kali buatkan aku lagi ya?"
Sehun berhenti meminum cokelat panasnya, lalu menyahuti perkataan Chanyeol dengan memutar bola matanya malas.
"Sehun, ada sisa cokelat di bibirmu, sini biar ku bersihkan."
Chanyeol menarik Sehun untuk dekat padanya, berniat untuk membersihkan bibirnya. Bukan menggunakan tisu, bukan. Chanyeol mengecup sudut bibir Sehun yang terkena sisa cokelat, lalu menjilatnya.
Sehun membeku. Chanyeol menciumnya lagi. Dan ini tiba tiba. Ia tak tau harus berbuat apa. Ingin sekali ia mendorongnya, tapi ia tak bisa. Seakan ada yang menahannya. Separuh hatinya menginginkannya juga.
Chanyeol tak bisa lepas. Awalnya memang hanya akan membersihkan sisa cokelat di bibirnya, tapi sial. Ia tergoda untuk melahap lagi bibir adiknya itu yang sekarang bahkan terasa tambah manis. Dilahapnya bibir adiknya yang semanis madu itu. Dilumatnya bibir manis itu. Tangannya juga tidak diam. Ia menarik pinggang Sehun agar lebih dekat.
Sehun hanya menurut. Membiarkan Chanyeol bermain dengan bibirnya. Ia masih belum mempunyai keberanian untuk membalasnya.
Chanyeol menjilat, melumat, bahkan menggigit gigit bibir Sehun. Tangannya menekan tengkuk lehernya, lalu mengusap ngusapnya. Membuat sensasi geli pada Sehun serta semakin memperdalam ciumannya.
"Eungh hyungg..."
Sehun mendesah. Kali ini dengan memanggilnya. Chanyeol semakin bergairah, ia terus melumat habis bibir Sehun.
Sehun memberanikan dirinya, ia membalas Chanyeol. Sehun mulai melumat bibir Chanyeol. Berusaha untuk menikmatinya.
Chanyeol tersenyum diam-diam. Sehun mulai menikmatinya, dia mulai membalas lumatan-lumatan Chanyeol. Ternyata tidak buruk juga untuk mencobanya, batin Sehun.
"Eungh euhh.. Chanyeol hyungg.."
Sehun mendesah. Ia mendorong-dorong dada Chanyeol, ia butuh pasokan oksigen.
Chanyeol yang mengerti akan hal itu lalu melepas pautan bibir mereka. Napas mereka terengah-engah. Chanyeol tersenyum. Ia menatap lekat manik hazel milik Sehun. Lalu mengusap pipi Sehun pelan.
"Terima kasih. Aku.. mencintaimu."
Sehun hanya terdiam. Masih terlalu malu, kaku, dan masih terasa asing baginya. Ini aneh, sungguh aneh. Sehun hanya menundukkan kepalanya.
"Malam ini temani aku ya, tidur bersamaku disini."
Disinilah sekarang. Sehun berbaring di sebelah Chanyeol. Di kamar Chanyeol. Entah kenapa kepalanya mengangguk begitu saja saat Chanyeol memintanya untuk menemaninya.
Dengan posisi berhadapan. Chanyeol memeluk tubuh mungil Sehun. Dengan mata yang saling menatap. Hening. Keduanya saling menyusuri pikiran masing-masing.
"Hyung"
Sehun mulai angkat suara.
"Hm?"
"Kenapa.. kau melakukannya?"
Sehun menunduk. Tak berani menatap matanya.
Chanyeol terdiam. Belum berniat menjawab apa-apa.
"Hyung.. bukankah.. kita saudara kandung? Mengapa.."
"Sehun, dengarkan hyung dulu. Aku tak berniat untuk melakukan hal ini, sungguh. Tapi perasaanku benar benar tak bisa dibohongi. Aku.. benar-benar menyayangimu. Aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin selalu ada di sampingmu, melindungimu. Mungkin ini sudah diluar batas, tapi percayalah aku benar-benar mencintaimu. Dengarkan aku Sehun..."
Chanyeol memegang pipi Sehun lembut. Membuat iris hazel milik Sehun bertubrukan dengan miliknya.
"Tak peduli bagaimana perasaanmu padaku, kau menganggapku ada atau tidak, atau kau memang tetap menganggapku hyungmu, yang terpenting adalah aku selalu menyayangimu, mencintaimu, dan akan selalu ada bersamamu dengan perasaan yang sama. Sebagai hyungmu maupun sebagai orang yang suatu hari nanti akan kau cintai."
.
.
.
.
TBC
Next?
Jangan lupa tinggalin jejak yah^^
See you next update...
