Title : Competely Love

Cast : Park Chanyeol, Oh Sehun (ChanHun), and other cast (find out in the story)

Genre : Brothership, Romance, Yaoi

Rated :T- M

Author : SuyangSuyong

Disclaimer : Ff ini pure hasil dari pikiran author 'suyangsuyong', strawberry B Cuma bantu share.

Summary : Sehun mencintai Chanyeol, begitupun sebaliknya. Hubungan percintaan mereka sejak awal memang salah, terlebih mereka adalah saudara. Akankah kisah cinta mereka akan berakhir indah? /YAOI/BOYXBOY/BL/HUBUNGAN SESAMA JENIS.

.

Warning! Don't Read If You Don't Like Yaoi

Sorry for typo

.

.

.

Happy reading guys^^

.

.

.

- 4 tahun kemudian -

.

.

.

.

-Sehun POV-

Ini aku. Park Sehun anak kesayangan ayah dan ibuku. Kini aku sudah berkuliah di universitas yang aku inginkan, Daegu University. Dan aku kini sudah memasuki semester dua jurusan pendidikan.

Aku yang dulu dengan aku yang sekarang sungguhlah sudah berbeda. Aku lebih dewasa sekarang, aku sudah bisa lebih mandiri meski kadang aku masih suka manja pada ibuku. Aku lulus dari masa SMA ku sekitar 2 tahun yang lalu. Aku menjadi siswa angkatan dengan nilai yang terbaik. Itulah sebabnya aku dengan mudah memasuki universitasku yang sekarang.

Aku sendiri sekarang. Ya, maksudku kalian tahu lah. Saat masa SMA aku sempat menjalin hubungan dengan Kai, orang yang sangat ku sayangi. Namun, kami memutuskan untuk berpisah pada saat wisuda SMA, karena Kai ingin berkuliah sekaligus menetap di Amerika mengejar impiannya menjadi seorang dancer sedangkan aku juga fokus pada apa yang kukejar. Tapi sampai sekarang aku dan Kai masih suka bertukar kabar melalui telepon, dan sesekali Kai mengunjungiku di Korea.

Aku sangat berterimakasih pada Kai, karena selama 3 tahun ia mau menjadi teman sebangku ku dan juga teman curhatku. Bahkan saat ia tahu aku sedih karena di tinggal Chanyeol hyung kuliah di luar negeri ia selalu menghiburku dan membuatku melupakan kesedihan ku.

Ya beginilah hidupku sekarang. Sedikit agak bergaya modern, pakaian yang sedikit modis namun tetap sederhana, gadget dikanan dan kiriku. Maklum saja, sekarang sedang masa-masanya tugas kuliah menumpuk jadi setiap hari hanya laptop yang ku pegang dan juga ponsel.

Aku menyeruput Americano coffee ku. Aku sedang berada di sebuah kafe terkenal di dekat area tempat kuliahku. Duduk di sudut ruangan di samping jendela, dengan alunan musik jazz membuatku rileks dan nyaman untuk berlama-lama di kafe ini. Aku membuka laptopku lalu ku lanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi.

Tiba-tiba ponselku berdering.

"Yeoboseyo? Ah ibu, ada apa?"

"Ibu dan ayah ingin menyusul hyungmu di Inggris, dia akan wisuda dan sekalian ibu ingin menjemputnya pulang kerumah. Mungkin sekitar 2 minggu, kau tak apa kan ibu tinggal selama itu?"

"Oh begitu, aku tak apa bu, ibu dan ayah pergilah, aku akan menjaga rumah. Sampaikan salamku untuk Chanyeol hyung, ucapkan juga selamat atas wisudanya. Ayah dan ibu hati-hati dijalan ya, jaga kesehatan"

"Baiklah kalau begitu, kau juga jaga kesehatanmu ya nak"

Huft. Enak ya jadi Chanyeol hyung. Dia sudah menyelesaikan studinya. Sementara aku masih harus menyelesaikan setumpuk tugas yang membuat jengkel ini. Dan juga, Chanyeol hyung akan pulang. Aku sangat merindukannya sekali.

Akupun melanjutkan pekerjaanku. Kulihat dari jendela kafe diluar hujan rintik-rintik. Kebetulan sekali aku tak membawa payung jadi aku bisa lebih lama duduk di kafe ini. Lagipula kafe ini sedang tidak ramai pengunjung.

- Sehun POV end.-

"Hoi, Sehun!"

"Wah, Minseok hyung, sedang apa kau disini?"

"Aku kehujanan tahu, ku lihat ada tempat berteduh disini yasudah aku masuk saja, hehe. Kau sendiri sedang apa menyendiri di pojokan begitu? Seperti tidak punya pacar saja"

"Kau tidak lihat aku sedang apa? Aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan Kang-ssaem, dan juga kau menyindir ku tapi sendirinya juga begitu, dasar tidak tahu diri"

Jongdae duduk di sebelah Sehun, setelah memesan satu cangkir coffee latte kesukaannya.

"Eih, jangan salah, kau tak tahu aku sudah punya pacar?"

"Siapa? Paling juga kau hanya mengaku-aku. Atau bisa jadi, bakpau buatanmu yang kau jadikan pacar, haha"

"Eits, menghina saja kau. Ini dia pacarku tahu"

Minseok menunjukkan ponsel nya kepada Sehun.

"Omo omo omoo... itu.. itu.. Suho sunbae kan? Ketua klub pencinta alam itu? Kau... kau seriusan?"

"Kau kira aku bercanda?"

Minseok memutar matanya malas.

"Ani.. hanya saja.. sulit dipercaya hehe. Bagaimana bisa hyung?"

"Entahlah aku sendiri juga bingung, dia datang mendekatiku beberapa hari yang lalu, mengajakku jalan, dan akhirnya kemarin mengajakku menjadi pacarnya"

"Eih pantas saja kemarin-kemarin kau selalu menolak setiap ku ajak pergi, rupanya ada orang lain yang sudah duluan mengajakmu, cih"

"Hei, kenapa kau marah? Aigoo, kau lucu sekali Sehunnie, haha"

"Jangan memanggilku seperti itu bodoh. Itu menjijikkan hyung"

Sehun memutar matanya malas.

"Ponselmu berdering, Hun"

"Oh iya, bentar ya hyung, aku permisi mengangkat telepon dulu"

Sehun mengangkat telepon dari seseorang

"Yeoboseyo?"

"Hey Hun, apa kabar?"

"Baekhyun hyung?"

"Iya ini aku, kau apa kabar?"

"Aku baik-baik saja hyung. Kau bagaimana hyung?"

"Aku juga baik-baik saja, Hun"

"Kau tahu darimana nomorku hyung?"

"Temanmu Minseok yang memberitahuku"

"Minseok hyung? Kau kenal hyung?"

"Ya, Minseok adalah tetanggaku sekaligus teman rumahku, aku meminta nomormu darinya"

"Oh begitu. Ah ya, ada apa kau menelponku hyung?"

"Oh iya sampai lupa. Rencananya besok aku ingin mengunjungi rumahmu, rumahmu masih yang lama kan? Sekalian aku juga ingin bertemu ibumu, sudah lama sekali aku tak berjumpa ibumu"

"Iya hyung, rumahku masih yang dulu. Tapi kalau besok kau tidak bisa bertemu ibu, hyung. Ayah dan ibu pergi ke Inggris untuk menjemput Chanyeol hyung"

"Ah iya, aku lupa kalau Chanyeol akan di wisuda. Yasudah kalau begitu aku akan kerumahmu kalau Chanyeol sudah pulang saja. Nanti kabari aku kalau Chanyeol sudah pulang, oke?"

"Baiklah hyung"

Sehun memutuskan sambungan teleponnya.

"Hei hyung, kau kenal Baekhyun hyung? Kenapa tak pernah memberitahuku?"

"Yak! Aku juga baru tahu kalau kau dan Baekhyun sangat dekat. Aku pindah ke sebelah rumah Baekhyun dan kami menjadi tetangga. Mungkin sudah 5 tahun kami bertetanggaan. Sudah 5 tahun juga aku menjadi teman rumahnya. Saat kami bercerita tentang kuliah kami masing masing, dan Baekhyun menanyakan tenpat kuliahku, dia langsung menanyakan apakah aku mengenalmu. Yasudah ku jawab saja aku mengenalmu dan dia langsung meminta nomormu padaku, dan kuberikan saja nomormu padanya"

"Oh begitu. Ah iya, hyung aku pulang duluan ya. Rumah ku kosong dan aku harus membersihkan rumahku. Sampai jumpa besok hyung"

Sehun langsung bergegas keluar kafe meninggalkan Minseok yang masih terbengong setelah bercerita panjang lebar.

"Hei! Yak! Kenapa kau meninggalkan ku sendirian?!"

.

.

.

.

Sehun sampai di rumah pukul 7 malam. Hujan siang tadi sangat lama dan sialnya ia harus bersama hyungnya yang menyebalkan itu. Rumah terlihat gelap dan sepi sekali.

Sehun mengambil kunci rumah dari kantong celananya lalu membuka pintu rumah dengan kunci itu.

Menyalakan semua lampu termasuk lampu jalan, Sehun lalu bergegas ke ruang tamu untuk menyalakan tv. Sehun tak suka rumah dalam keadaan sepi, apalagi saat sedang seorang diri, jadi ia menyalakan tv untuk meramaikan suasana.

Ia masuk ke kamarnya, berganti pakaian, lalu turun lagi ke dapur. Ia lapar, dan dikafe tadi ia hanya meminum 2 cangkir Americano coffee saja. Jadi ia hendak memasak ramen untuk makan malamnya, setidaknya ia bisa mengganjal perutnya hanya untuk malam ini karena ia sudah sangat kelelahan untuk memasak.

Sehun membawa ramen buatannya ke ruang tamu, duduk di sofa sambil menonton acara tv. Kalau malam begini Sehun suka sekali menonton acara SNL Korea, asal kalian tahu walaupun terkesan cuek Sehun ini suka dengan hal lelucon.

"Haahh kenapa rumah sepi sekali, aku kesepian"

Sehun mendesah lelah, jujur Sehun merasa kesepian. Karena merasa bosan, lelah, dan mengantuk juga, akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja, tanpa mematikan tv dan lampu ruang tamu terlebih dahulu.

.

.

.

Sehun terbangun pukul 6 pagi, ia ingat hari ini ada jadwal kelasnya Kang-ssaem pada pukul 10 pagi, dan ia harus menyerahkan tugasnya hari ini pada si dosen botak itu. Kalau saja telat menyerahkannya, habis sudah nyawanya oleh si dosen terkejam berkepala plontos itu.

Sehun bergegas ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok giginya, lalu pergi ke dapur untuk memasak sarapannya.

Tak butuh waktu lama, 20 menit sarapan ala Sehun pun jadi. Hanya nasi goreng kimchi dengan telur mata sapi setengah matang diatasnya dan segelas susu.

Sehun membawa sarapannya ke ruang tamu. Tv semalam masih nyala, dan sekarang channel yang sedang ia tonton sedang menyuguhkan berita-berita terhangat.

Sehun menyuapkan makanannya kemulut sambil mendengarkan acara berita tersebut.

"Pesawat Boeing E1719 yang membawa penumpang dari bandara Incheon dengan tujuan ke Inggris tadi malam mengalami kecelakaan. Pesawat mengalami turbulensi dahsyat sehingga pesawat tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya jatuh ke Samudra Pasifik. Kabar yang baru kami dapatkan, tidak ada korban selamat, dan tim SAR baru akan memulai pencarian korban pada pagi ini. Berikut ini daftar korban meninggal dunia"

Deg.

Sehun menjatuhkan piring yang sedang di pegangnya saat melihat daftar nama korban meninggal dunia di tv.

Ayah dan ibunya...

.

.

.

.

.

.

.

"Pak apa korban pesawat sudah tiba di bandara? Mana? Cepat beritahu saya! Saya ingin melihatnya pak, tolong!"

"Sabar Tuan, korban yang sudah ditemukan masih dievakuasi dan akan baru akan dikirim sore nanti. Mohon Tuan sabar menunggu. Kalau nanti korban sudah tiba akan saya beritahu"

Sekujur tubuhnya lemas. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Persetan dengan tugas Kang-ssaem yang tak terkumpul, demi apapun ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah tak punya siapa-siapa lagi untuk bersandar. Kedua orang yang sangat dicintainya, ayah dan ibunya, pergi meninggalkannya untuk selamanya. Sehun merasa berdosa karena ia kadang suka tak menuruti apa kemauan orangtuanya.

"Ayah... ibu... kenapa k-kalian meninggalkanku hiks hiks"

- Seminggu kemudian -

Kini Sehun benar-benar sendiri. Ia benar-benar tak memiliki semangat hidup sekarang. Orang-orang yang selama ini menyemangatinya telah pergi untuk selamanya.

Ya, dua hari yang lalu setelah jenazah ayah dan ibunya tiba Sehun langsung memakamkannya di pemakaman dekat kompleks rumahnya.

Sehun tak tahu harus berbuat apa. Rasanya ia hilang arah dan tak memiliki semangat hidup. Meskipun begitu ia tetap menjalani kuliah nya. Walaupun nilainya agak berkurang sedikit karena ia terlambat mengumpulkan tugas Kang-ssaem tapi untungnya dosen botak galaknya itu mau memakluminya dan tidak memarahinya.

Hari ini tidak ada jadwal kelas. Sehun malas untuk keluar rumah, padahal hari ini Minseok hyung dan Tao mengajaknya pergi.

Sehun hanya duduk di sofa. Seorang diri. Pandangannya kabur, tak tahu memandang apa. Pikirannya kosong dan kacau, mukanya pun juga kusut.

Ponsel nya berdering. Sehun mengangkat telepon nya dengan malas tanpa melihat siapa yang menelponnya.

"Yeoboseyo?"

Sahut Sehun dengan suara lemas dan seraknya.

"Sehun? Kau baik-baik saja? Apa aku perlu kerumahmu sekarang juga?"

"Ah Baekhyun hyung. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja hyung. Kau tidak perlu datang sepagi ini kerumahku."

"Kau tidak baik-baik saja, Hun. Jangan berbohong, aku tahu. Nanti siang aku akan kerumahmu sambil membawa makanan untukmu. Jangan pergi kemana-mana, tetaplah dirumah, oke? Jaga dirimu baik-baik"

"Ya hyung baiklah. Terimakasih hyung"

"Istirahatlah, Hun. Sudahlah, kau jangan terus-menerus larut dalam kesedihan. Ingat, kau masih punya mimpi yang masih belum kau raih. Masa depanmu masih panjang, Hun. Kau harus membanggakan ayah dan ibumu yang berada diatas, mengerti? Jadi, kau harus bangkit."

"Iya hyung, aku sangat mengerti hyung. Terimakasih hyung, aku akan mendengar nasihatmu"

Sehun menutup sambungan teleponnya.

Sehun terdiam lagi. Benar apa yang dikatakan Baekhyun hyung, ia harus bangkit. Ia tak boleh terus-menerus terpuruk dalam kesedihan. Ia harus bisa membanggakan ayah dan ibunya dengan prestasinya.

Sehun bangun dari sofa dan beranjak dari dapur. Membuka kulkas lalu menuangkan segelas air dingin dari dalam botol. Ia perlu membasahi kerongkongannya yang sudah sangat kering dari kemarin.

Ting-tong.

Siapa yang memencet bel rumah sepagi ini? Sungguh Sehun malas hanya sekedar mengintip dan membukakan pintu untuk tamu kurang kerjaan sepagi ini.

Sehun berjalan dari dapur ke pintu depan, berniat untuk membuka pintunya tanpa mengintipnya terlebih dahulu, terlalu malas untuk mengintipnya. Tak lupa sebelumnya Sehun berteriak dari dalam sebelum membukakan pintunya.

"Siapa?"

Sehun membukakan pintunya. Matanya membelalak. Sehun terkejut bukan main. Sehun hanya bisa terpaku di posisinya, membeku tak bisa berkutik apapun.

Dia...

Kembali.

.

.

.

.

.

TBC

Next?

Hayo gimana ? makin gregetkah? Hehe

Review always ditunggu loh...