Di sebuah ruangan yang bernuansa hitam dan gelap, terlihat sebuah meja berbentuk oval yang cukup panjang serta empat buah bangku berwarna putih yang terlihat sangat mencolok. Keempat bangku itu diisi oleh sekumpulan makhluk aneh berjubah serta bertudung hitam yang kini sedang asyik mengobrol dan menyapa satu sama lain.

Krieett

Pintu ruangan itu dibuka secara perlahan. Sesosok berjubah coklat pun masuk melewati pintu yang terbuka itu. Suasana diruangan kelam yang tadinya ramai itu menjadi hening seketika.

Tuk Tuk Tuk

Sosok berjubah coklat itu berjalan melewati keempat rekannya dan kemudian mendudukkan diri di sebuah bangku yang berada di pinggir ruangan. Daripada disebut sebuah bangku, itu lebih mirip seperti singgasana.

Sosok itu tersenyum misterius dari balik tudungnya sambil berujar.

"Maaf menunggu lama, semuanya. Nah, sekarang ayo kita jalankan rencana kita."

REBORN OF EVIL

Rate : T

Disclaimer : Animonsta Studios

Genre : Supernatural, Adventure, Super Power, Friendship

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi begitu."

Ying menganggukkan kepalanya mengerti setelah mendengar penjelasan Fang mengenai penyerangan serta deklarasi perang yang dinyatakan oleh beberapa alien yang mendatanginya kemarin.

"Bahkan Fang bisa ditundukkan dengan mudah oleh mereka, dan kini Boboiboy sedang dalam keadaan koma. Bila mereka menyerang kita lagi nanti, mungkin kita akan dengan mudah dihabisi oleh mereka."

Yaya yang juga ikut mendengarkan penjelasan itu pun ikut menyimpulkan. Sedangkan Gopal, kini sedang meringkuk ketakutan dibawah mejanya.

Fang menganggukkan kepalanya pelan sambil menundukkan kepala. Dia sedikit malu ketika menyadari kalau dia sungguh tidak berdaya bila sendirian dan bahkan kini dia mungkin tidak bisa lagi dibandingkan dengan Boboiboy.

"A-aku tidak ikut-ikutan."

Gopal yang sedaritadi diam akhirnya berujar walaupun nada serta kata-katanya sangat pesimis. Ketiga temannya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala sambil memaklumi sifat takut yang sudah dipelihara teman gempal mereka sejak lahir itu. Sampai sekarang, mereka bertiga masih tidak mengerti bagaimana ketakutan Gopal itu memberinya kekuatan.

"Kita sepertinya harus menemui Ochobot dan memintanya meng upgrade kekuatan kita."

Ying mengucapkan kata-kata yang membawa mereka semua ke topik awal pembicaraan. Fang dan Yaya pun menganggukkan kepalanya. Sedangkan, Gopal masih dalam posisi awalnya.

"Baiklah, sepulang sekolah kita akan ke Kedai Tok Aba dan membicarakan ini dengan Ochobot."

Dan setelah Yaya mengatakan hal itu, bel masuk pun berbunyi dan pelajaran pertama pada hari itu pun dimulai.

*#*

"Upgrade?"

Yaya, Ying, Fang mengangguk antusias mendengar pertanyaan Ochobot. Sedangkan Gopal yang tadinya mengaku tidak ikut-ikutan dengan permasalahan ini kini malah ikut ke kedai Tok Aba dan sibuk meminum Special Hot Chocolate-nya.

"Bukankah 3 tahun yang lalu kekuatan kalian sudah ku upgrade?"

"Itu masih belum cukup. Musuh kita yang sekarang jauh lebih kuat."

"Itwu bwenwar."

Gopal tiba-tiba menyahut tidak jelas sambil mengunyah kue coklat-nya setelah Yaya menuturkan kata-katanya.

"Maaf, teman-teman. Energi yang kupunya sudah kusalurkan semua, jika energi yang tersimpan dalam tubuhku yang berfungsi sebagai penopang hidupku ikut kusalurkan, maka kondisiku akan melemah. Sekali lagi maafkan aku teman-teman."

Ochobot memalingkan matanya ke bawah tak kuasa melihat teman-temannya yang sudah ia kecewakan beberapa detik yang lalu.

"Tenanglah, Ochobot. Ini bukan kesalahanmu. Mulai sekarang, kami akan berjuang sendiri untuk meningkatkan kekuatan kami."

Yaya berusaha menenangkan Ochobot sambil tersenyum dan mengelus kepala Ochobot yang seperti bola . Hal itu membuat Ochobot senang dan kembali memalingkan wajahnya ke arah teman-temannya yang juga memasang senyuman manis seperti Yaya. Terkecuali Gopal, yang kini malah tersedak.

"Ja-jadi, kita akan melawan musuh yang bahkan membuat Fang kalah telak dengan kekuatan kita yang sekarang?"

Gopal segera mengeluarkan keluhannya setelah selesai meminum coklat panasnya untuk meredakan rasa tersedak yang terganjal dalam tenggorokannya. Hal itu pun membuat rasa bersalah dalam diri Ochobot kembali muncul dan ia pun kembali memalingkan matanya. Karena itu, Fang menjitak kepala Gopal dengan keras.

"Aduh, sakit tau, dasar Ah Meng."

"Orang yang tidak berperan apa-apa sepertimu sebakinya tidak usah berkomentar."

Ucapan dari Fang itu membuat Gopal membungkam mulutnya dan merengut kesal karena ucapan itu memang benar.

"Mulai sekarang kita akan berlatih dan menjadi lebih kuat lagi."

Ying berusaha mengobarkan semangat teman-temannya dan hal itu terbukti berhasil karena kini Yaya dan Fang ikut mengangkat tangannya ke udara seperti yang sedang dilakukannya sekarang sambil tersenyum semangat.

Sedangkan Gopal tampaknya tak memperdulikan hal itu dan malah menyibukkan dirinya lagi dengan coklat panas yang baru dia pesan beberapa detik yang lalu, dan tentu saja dia kembali mendapat hadiah berupa jitakan keras dari Fang untuknya.

"Aduh, apa lagi sih, Fang?"

"Dasar bodoh, mengerti situasi dong."

Perasaan kesal Fang kini meluap-luap ketika melihat teman gemuk-nya itu masih saja bersikap tidak peduli dan malah asik dengan dunianya sendiri.

"Baiklah, kita berkumpul lagi disini besok dan berlatih bersama."

Ucapan dari Ying itu pun menutup pertemuan kecil-kecilan antara angggota superhero pembela Pulau Rintis. Matahari yang kini hanya tersisa setengah tiang saja di ufuk barat sana menjadi penyebab berakhirnya pertemuan singkat itu.

Saat semua teman-temannya sudah pulang ke rumahnya masing-masing, Yaya masih saja berdiam diri dan membaringkan kepalanya diatas tangannya. Ochobot yang melihat itupun langsung menegurnya.

"Ada apa , Yaya? Tampaknya akhir-akhir ini kau kelihatan sangat lesu."

"Aku juga tidak tau, Ochobot. Semua ini membuatku agak lelah, manalagi sekarang ada musuh baru yang sangat kuat dan kami harus berlatih untuk meningkatkan kekuatan kami."

Ochobot mengangguk-angguk mengerti mendengar cerita Yaya sambil lanjut menysusn gelas-gelas yang barusan dia cuci ke lemari. Setelah menunggu beberapa lama dan ternyata Yaya tidak mengeluakan suara lagi, Ochobot pun berniat merespon.

"Sebenarnya aku sangat ingin membantu kalian, tapi, keadaan yang sekarang tidak berpihak padaku."

"Sudahlah, Ochobot, kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri."

Yaya kembali mengelus pelan kepala robot milik makhluk yang berbetuk setengah bola tersebut yang sempat kembali merasa bersalah itu.

"Hmm, Ochobot. Aku tidak melihat Tok Aba sedaritadi, beliau kemana?"

"Tok Aba begitu bersemangat saat kuberitahu kalau hari ini kondisi Boboiboy sudah stabil dan perban ditubuh serta diwajahnya akan dilepas. Jadi begitu selesai sarapan tadi, dia langsung pergi kerumah sakit dan aku disuruh untuk membuka kedai sendirian."

Yaya tertawa kecil mendengar penjelasan yang disertai helaan nafas oleh Ochobot itu. Beberapa detik kemudian, tangannya tiba-tiba menepuk dahi mulusnya yang tidak berdosa.

'Oh iya, aku kan harus mengerjakan PR IPA untuk dikumpulkan besok."

Ochobot yang menyadari tingkah aneh dari Yaya pun berniat menegurnya. Namun, niat itu dirurungkannya ketika melihat Yaya yang tiba-tiba berdiri dari kursinya sambil membawa tas ransel pink yang biasa ia bawa ke sekolah.

"Aku izin pamit dulu ya, Ochobot. Soalnya aku ada PR yang harus dikumpulkan besok."

Ochobot hanya mengangguk mengerti mendengar ucapan Yaya yang perlahan-lahan berjalan menjauh darinya.

Yaya sendiri kini sedang menapaki jalan kerumahnya dengan suasana yang cukup sepi karena pada waktu itu hari sudah gelap dan penerangan yang ada disana hanya berupa lampu jalanan yang remang-remang.

Saat Yaya hanya berjarak beberapa kaki dari rumahnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan yang sangat besar dan yang sama persis dengan yang dirasakannya beberapa waktu yang lalu kembali mengintimidasinya dan mengawasinya. Hal itu membuat Yaya menghentikan langkahnya untuk beberapa saat.

Rasa takut yang jarang dirasakannya kembali mendominasi tubuhnya. Namun, rasa takut itu menghilang seiring dengan menghilangnya kekuatan besar itu. Dengan masih dalam keadaan setengah takut, Yaya berlari kecil ke rumahnya dan masuk kedalamnya.

Di luar rumah Yaya sendiri kini keadaannya masih sama seperti saat Yaya berada di luar rumah. Suara burung hantu yang tengah saling berkicau dan menyahut satu sama lain dan dengan penerangan yang sederhana berupa lampu remang-remang, dan juga seorang gadis berjubah dan bertudung hitam yang kini menatap intens ke arah rumah Yaya.

Tiba-tiba, sebuah angin yang sangat kencang berhembus dan secara perlahan menghapus keberadaan wanita misterius itu.

*#*

Fang menatap malas kearah seorang pemuda yang terbujur kaku di depannya. Aroma obat yang menyengat diruangan tempat rival pemuda berambut ungu kehitaman itu dirawat membuatnya merasa mual.

Fang kembali menghela nafas entah untuk yang keberapa kalinya. Ini adalah hari ketujuh sejak ia dan ketiga temannya yang lain memutuskan untuk berlatih bersama dengan tujuan meningkatkan kekuatan mereka, namun, tiba-tiba Tok Aba yang ingin pergi mengantar paket coklat-nya ke luar kota mendatanginya dan berpesan kepadanya agar menunggui Boboiboy yang katanya akan siuman hari ini.

Dan, kini disinilah ia, duduk terdiam ditengah ruangan yang dipenuhi berbagai alat medis dan berbau obat. Fang pun berharap agar jam jenguknya segera habis agar dia bisa keluar dari tempat yang membuatnya mual itu dan segera memulai latihannya kembali.

"Ngghh."

Fang yang tadinya tengah mengutak-atik telepon genggamnya sedikit terkejut mendengar suara yang asalnya dari kasur tempat Boboiboy berbaring. Saat Fang mengalihkan pandangannya ke kasur itu, matanya terbelalak begitu melihat Boboiboy matanya kini telah terbuka sempurna. Ternyata kabar tentang Boboiboy yang akan sadar hari ini yang dia dapat dari Tok Aba bukanlah isapan jempol belaka.

"Dimana aku?"

Pertanyaan umum yang dikeluarkan oleh kebanyakan orang yang tersadar dari komanya terlontar dari mulut Boboiboy. Fang pun berdiri dari kursinya dan menghampiri Boboiboy.

"Hei, Boboiboy. Kau tidak apa-apa? Biar kupanggilkan dokter dulu."

Boboiboy yang masih kebingungan dengan keadaannya yang sekarang hanya bisa mengangguk-angguk saja mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang diucapkan Fang. Fang sendiri kini tengah keluar ruangan Boboiboy dan kemudian kembali dengan membawa seorang pria paruh baya berkacamata lengkap dengan seragam dokternya.

Pria itu kemudian mengambil sebuah alat dengan tiga cabang yang dari sakunya. Pria setengah baya berprofesi dokter itu kemudian menaruh salah satu dari tiga cabang alat itu ke dada Boboiboy.

Beberapa menit kemudian, Dokter itu mengangguk-angguk dan melepaskan alatnya dari dada Boboiboy.

"Keadannya sudah sangat stabil sekarang. Tetapi, dia masih butuh perawatan ringan, jadi jam jenguk yang kami berikan tak akan kami tambah."

Begitulah ucapan sang Dokter sebelum akhirnya meninggalkan kedua pemuda yang menjadi teman senasib itu berdua di ruangan itu.

"Tak kusangka kau benar-benar siuman Boboiboy. Aku kira, kabar yang kudengar dari Tok Aba itu hanya alasan agar aku mau menungguimu disini."

Fang kembali menghela nafas, tetapi, kali ini dia menghela nafas lega. Sedangkan Boboiboy hanya bisa memalingkan wajah serta matanya kala Fang berbicara padanya sambil juga menghela nafas.

"Maafkan aku."

Fang terhenyak saat mendengar perkataan pertama Boboiboy yang ia ucapkan kepadanya setelah lama tidak bertemu yang ternyata berupa permintaan maaf.

"Maafkan aku. Sepertinya aku sangat menyusahkan kalian akhir-akhir ini."

Fang tersenyum penuh arti ketika mendengar kalimat lanjutan perkataan Boboiboy

"Bicara apa kau ini, seperti bukan kau saja. Lagipula, ini tidak seberapa dibandingkan kami yang sudah sering kau selamatkan."

"Begitu ya? Kalau begitu, bagaimana keadaan yang lainnya?"

Fang tertawa kecil ketika menyadari kalau pemimpinnya ini mudah sekali terbujuk. Namun, beberapa detik kemudian dia menyudahi tawanya dan mulai menjelaskan jawaban dari pertanyaan dari Boboiboy.

"Tok Aba dan Ochobot tentu saja yang sangat shock, tetapi aku dan yang lainnya juga tak kalah shock, apalagi Yaya. Tetapi, itu semua kembali normal setelah beberapa hari kemudian."

Boboiboy hanya mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan dari Fang. Fang sebenarnya ingin lanjut mengobrol banyak dengan Boboiboy, namun, sayangnya waktu dan keadaanya sekarang sedang tidak memihaknya. Tepat saat jam tangannya berbunyi, Fang berdiri dari kursinya.

"Maafkan aku, Boboiboy. Aku harus pergi sekarang, aku janji akan datang kesini lagi besok dengan membawa yang lain."

Kata-kata yang menjadi pengganti ucapan sampai jumpa dari Fang itu pun hanya ditanggapi Boboiboy lagi-lagi hanya dengan anggukan. Fang pun langsung melangkahkan kakinya keluar kamar Boboiboy setelah mengucapkan kata-kata pamitnya itu dan kemudian dengan setengah berlari, dia meninggalkan rumah sakit yang besar nan megah itu.

*#*

Fang mendudukkan dirinya di bangku panjang di Taman Pulau Rintis sambil meneguk minuman bersoda miliknya. Perjalanan dari rumah sakit menuju kawasannya rumahnya terbilang cukup jauh, namun, dia lebih memilih untuk berjalan kaki dan berlari.

Sebenarnya, pemuda dengan wajah oriental itu tidak terlalu ingin berjalan kaki, tetapi, lantaran dompetnya yang kian menipis dan sang kakak A.K.A Kapten Kaizo masih belum memberinya uang saku lagi, dia pun terpaksa memilih opsi itu.

Setelah meneguk habis minuman bersoda dengan yang disajikan dalam kaleng itu, Fang pun berdiri sambil melempar kaleng yang sudah kosong yang berada ditangannya barusan ke dalam tempat sampah yang berada tidak jauh dari bangku yang beberapa saat yang lalu didudukinya.

Setelah itu, pemuda berambut ungu kehitaman itu kembali beralih ke mesin minuman yang berada tepat di samping bangku panjang dibelakangnya dan berniat untuk membeli satu minuman lagi guna memuaskan dahaga-nya yang masih belum hilang. Sesaat sebelum Fang memasukkan uangnya ke dalam mesin itu, sebuah firasat aneh tiba-tiba menghantuinya.

Di firasatnya itu digambarkan kalau daerah di sekitar Kedai Tok Aba menjadi porak-poranda dan orang-orang yang berada disekitarnya terluka parah. Begitu juga dengan sang pemilik kedai dan teman-temannya. Karena firasat itu, Fang memutuskan untuk keluar dari taman tempat ia berada sekarang dan menuju tempat dimana teman-temannya kini berada.

Fang terus memacu kakinya secepat mungkin, firasat itu membuatnya takut. Dia tidak ingin ditinggal sendirian lagi, dirinya yang masih lemah ini tak akan bisa menghadapi bahaya yang mengancam bumi tanpa teman-temannya.

Langkah Fang yang terlalu cepat ternyata cukup membebani tubuh mudanya, akibatnya Fang menderita sesak nafas sementara. Fang pun memberhentikan dirinya sebentar di Lorong Pak Senin Koboi dan bersandar di dinding kepunyaan sala satu rumah disana.

Tiba-tiba, firasat itu kembali muncul dan membuat Fang kembali memacu kakinya lagi meskipun kini sedikit lebih pelan daripada tadi. Beberapa menit kemudian, dia akhirnya berhasil sampai ke kawasan disekitar Kedai Tok Aba. Dari jauh, Fang tidak melihat ada yang janggal dengan Kedai Tok Aba dan sekitarnya yang kini hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatnya berdiri sekarang.

Namun, Fang masih tetap ingin memastikannya. Tetapi, apa yang dilihatnya tadi sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya sekarang. Daerah lapangan yang mengitari Kedai Tok Aba porak-poranda. Fang kembali terkejut dan kini membelalakkan matanya ketika melihat ketiga teman senasibnya terkapar tak berdaya di depan meja tender Tok Aba. Dan dihadapan mereka, berdiri tiga orang berjubah dan bertudung dengan warna yang berbeda-beda.

"Hei, siapa kalian? Apa yang kalian lakukan pada teman-temanku?"

Fang langsung melancarkan pertanyaan secara bertubi-tubi kepada ketiga orang itu dengan geram. Salah seorang temannya yang tengah terkapar bernama Ying berusaha merangkak ke arahnya sambil mengucapkan sesuatu.

"Fa-Fang... Cepat pergi. Disini.. Berbahaya."

Ying langsung tak sadarkan diri begitu melontarkan kata-kata itu dari mulutnya dan membuat Fang menjadi sangat marah. Yang membuat Fang bertanya-tanya adalah keberadaan Tok Aba dan Ocobot, dimana mereka? Apa mereka berhasil lari dan sembunyi atau justru tertangkap? Mungkin ketiga orang misterius didepannya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang dikepalanya itu.

"Wah, lama tidak bertemu ya, Manusia."

Fang kembali terkejut begitu mendengar suara yang terdengar familiar yang berasal dari ketiga orang berjubah hitam didepannya itu. Dan keterkejutannya itu semakin menjadi-jadi begitu ketiga orang itu membalikkan badannya.

Salah seorang dari mereka adalah orang yang paling dikenalnya. Gadis berjubah coklat yang dihadapannya ini adalah anak baru disekolahnya, Sherry Inoue.

"A-apa yang kau lakukan disini, Sherry!?"

"Jangan banyak bicara, makhluk rendahan."

Fang terkejut begitu menyadari Sherry yang tiba-tiba berada di hadapannya. Alih-alih menyerang, Sherry malah menempelkan sebuah kertas berbentuk bulat bertuliskan huruf kanji yang Fang tidak tau artinya ke perutnya. Sedetik kemudian, Sherry pun langsung kembali ke posisinya semula dengan kecepatan yang sama seperti saat akan menerjang Fang tadi.

"Apa ini?"

Sherry hanya tersenyum melihat ekspresi bingung yang kini Fang tunjukkan sambil mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke arah Fang.

"Menjauh."

Sepatah kata yang bernada memerintah keluar dari bibir tipis Sherry, Fang tidak teralu mengerti apa maksud kata yang baru saja Sherry ucapkan, tetapi, Fang merasa kalau kata-kata itu bukanlah kata-kata biasa dan Fang juga berfirasat buruk tentang itu.

Pemikirannya itu terbukti tatkala tubuh remajanya terlempar kebelakang secara tiba-tiba hingga menabrak salah satu pohon kecil yang berada disana. Untungnya, Fang berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya dan menyebabkannya berhasil mendarat dengan sempurna meskipun mulutnya terus menerus mengeluarkan batuk darah setelahnya.

"Uhuk, apa yang.. Baru saja..Uhuk... Kau lakukan?"

Sambil terus memuntahkan darahnya, Fang memutuskan untuk bertanya meskipun dia tahu pertanyaannya itu sia-sia dan tentu saja tak akan dijawab oleh orang yang bersangkutan.

"Mendekat."

Tanpa menjawab pertanyaan Fang barusan, Sherry kembali melancarkan perintah keduanya. Perintahnya yang kedua ini kembali membuat tubuh Fang lagi-lagi bergerak dengan sendirinya dan juga secara tiba-tiba. Namun, kali ini Fang tidak lagi bergerak kebelakang melainkan bergerak ke depan ke arah dimana Sherry dan teman-temannya berada.

Fang berhenti bergerak lagi-lagi secara tiba-tiba begitu Sherry memutuskan untuk menyentuh perutnya. Tentu saja, Fang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melepaskan diri dan melancarkan serangan balik. Namun, sebuah hal aneh terjadi. Meskipun Sherry tampak hanya sedang menyetuhnya dan mencengkramnya lembut, tapi, Fang tak bisa melepaskan dirinya dari tangan perempuan itu.

Semakin dia ingin melepaskan diri, entah kenapa tangan Sherry terasa semakin melekat ke perutnya. Aksi Fang terhenti tatkala energinya sudah terkuras habis, melihat sang mangsa tak lagi memberontak, Sherry menyeringai.

BUGH

Pukulan keras diarahkan ke wajah mulus Fang yang kini berhias peluh. Tentu saja, Fang mengerang kesakitan karenanya dan memutuskan kembali memberontak.

BUGH

Pukulan yang sangat keras kembali diberikan oleh Sherry kepada Fang dan kini mengarah ke perutnya. Mulutnya pun kembali mengeluarkan batuk darah seperti tadi. Tanpa sengaja, Fang menumapahkan darahnya ke jubah Sherry dan membuat yang bersangkutan sangat marah.

"Apa yang baru saja kau lakukan padaku, Makhluk Rendahan. Menjauh."

Masih dengan perasaan murka-nya yang tak terbendung, Sherry kembali memberi perintah dan membuat Fang juga kembali terlempar kebelakang. Fang mendarat dengan tidak elitnya dimana kepalanya yang selalu dipenuhi oleh berbagai trik dan cara untuk mengambil kepopuleran Boboiboy mendarat terlebih dahulu.

Fang berusaha kembali berdiri dengan kepala serta matanya yang kini berkunang-kunang. Namun, Sherry yang kini sudah berada dihadapannya menghalangi niatnya dan menendangnya sehingga membuat Fang kembali terlempar kebelakang.

Sherry mengangkat Fang yang sudah tak berdaya dengan menarik kerahnya. Pukulan bertubi-tubi kembali diberikan oleh Sherry kepada Fang. Dan, otomatis beberapa menit kemudian, tubuh Fang sudah dipenuhi memar disana-sini. Sherry menyudahi aksinya saat merasakan rasa nyeri yang diakibatkan bengkak ditangannya.

Sherry menurunkan Fang yang setengah pingsan dengan kasar dan berbalik berjalan menuju ke arah kedua temannya berada.

"Apa kau sudah membereskannya, Cole?"

Salah satu temannya yang bertopeng iblis dan yang pernah ditemui Fang beberapa hari yang lalu menyahut. Sherry hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari temannya itu.

"Baiklah, ayo kita kembali. Tuan Larcade sudah menunggu kita."

Makhluk yang menurut Fang ketus bernama Ryoma itu ternyata juga ada disana. Ketiga sekawan itu perlahan berjalan ke arah Fang dan melewatinya. Tetapi, saat ketiganya hampir keluar dari pekarangan disekitar Kedai Tok Aba salah satu dari mereka yang mempunyai ciri khas bertopeng iblis berhenti dan berbalik badan ke arah Fang.

"Maafkan kami. Sebenarnya, kami disini hanya ingin memberi salam dan menanyakan kabar kalian tetapi teman-temanmu malah menyerang kami. Kami mohon maaf sebesar-besarnya."

Fang semakin dibuat kesal dengan permohonan maaf yang terkesan formal yang terlontar dari mulut sang Topeng Iblis.

"Apa maksudmu?"

"Dan, sampaikan ini kepadamu Ketua-mu. Dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi."

Bukannya menjawab pertanyaan Fang, makhluk itu justru malah membuat sebuah pertanyaan baru dalam benak Fang. Sang Topeng Iblis kemudian memposisikan tangannya seperti orang yang tengah memegang sebuah bola. Beberapa detik kemudian, lingkaran yang ia buat dengan tangannya bercahaya dan menampilkan sosok robot kecil berwarna kuning yang tengah tak sadarkan diri. Sontak, Fang membelalakkan matanya.

"Bilang kepada Boboiboy kalau robot ini akan mengucapkan selamat tinggal padanya."

Setelah berkata seperti itu, sang Topeng Iblis merapalkan sebuah mantra misterius yang Fang tak bisa mendengarnya secara jelas dan setelah mantra itu selesai diucapkan, robot kuning ditangannya menghilang.

"Hei, Cancer, Tuan bisa marah kepadamu lho."

Suasana tegang yang tercipta disana terpecahkan oleh Sherry yang berteriak dari kejauhan. Langsung saja, sang Topeng Iblis yang dipanggil Cancer iu kembali berbalik dan membelakangi Fang dan pergi menemui rekannya meninggalkan Fang yang masi dalam keadaan terekjutnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba, Fang yang sudah tersadar dari rasa terkejutnya itu memukul tanah tempat ia terbaring lemah dengan sangat keras.

"SIAAALL."

"Hei, kau kah itu, Fang?"

Suara ini, suara ramah yang sangat familiar ditelinga Fang. Suara yang hanya dimiliki oleh sang pemilik kedai coklat ternama di Pulau Rintis, suara ini pasti milik Tok Aba.

"Ya Tuhan, apa kau tidak apa-apa, Fang."

Tok Aba keluar dari tempat persembunyiannya begitu melihat Fang yang terbujur kaku denga luka memar diseluruh tubuhnya.

"Lebih baik Atok hampiri mereka terlebi dahulu. Luka yang kuderita ini tak sebanding dengan luka yang diderita oleh mereka."

"Atok sudah lihat luka ditubuh mereka sejak tadi. Maaf, Atok baru muncul sekarang dan tak bisa membantu apa-apa saat kau dipukul habis-habisan tadi."

Fang mencoba menggeleng pelan dengan lehernya yang masih terasa sakit.

"Itu bukan salah Atok, kok. Lebih baik kita bawa mereka ke rumah sebelum terlambat."

Fang berusaha berdiri dengan tubuh dan kesadarannya yang perlahan menghilang. Fang lalu membentuk Jari Bayang dan mengangkat ketiga temannya sekaligus sambil berjalan ke rumah sakit yang juga menjadi tempat Boboiboy dirawat dengan dibantu oleh Tok Aba.

*#*

Boboiboy berjalan dengan perasaan gelisah sambil menarik paksa infus-nya yang terasa berat bagi tubuhnya yang sekarang. Begitu mendengar kabar kalau ada seorang pemuda berambut ungu kehitaman dan seorang kakek berkopiah putih masuk ke rumah sakit dengan memampah ketiga orang remaja lainnya.

Matanya terus mengedar dan mencoba mencari keberadaan pemuda dan kakek itu, hingga akhirnya dia menghela nafas lega begitu melihat kedua orang yang tengah dicarinya kini sedang duduk di ruang tunggu di depan Ruang UGD dengan salah satu dari mereka yang setengah tubuhnya dipenuhi perban. Tunggu sebentar, perban?

"Apa yang terjadi, Fang?"

Fang terkejut begitu melihat Boboiboy yang kini berdiri di hadapannya dengan membawa infusnya sambil bertanya dengan nada gelisah. Mendengar pertanyaan Boboiboy, Fang hanya bisa menundukkan kepalanya lesu.

"Jawab aku, Fang."

Boboiboy yang merasa kalau hal yang tidak baik kini sedang terjadi pun berusaha menuntut jawaban dari Fang untuk memuaskan rasa penasarannya. Dengan menghela nafas dan masih dalam keadaan lesu, Fang akhirnya membuka mulutnya dan menjelaskan semuanya pada Boboiboy

"Jadi begini.."

*#*

"APA KAU BILANG?"

Boboiboy menarik kerah Fang sambil berteriak murka. Ekspresi marah yang jarang ditunjukkan Boboiboy kini tengah terpampang jelas di hadapan Fang dan membuat Fang agak takut.

"Hei, tenanglah, Boboiboy. Bukankah Fang sudah menjelaskannya barusan."

Tok Aba yang menyadari suasana tegang yang terjadi di antara Fang dan Boboiboy pun berusaha mencairkannya.

"Tengkotak, mereka tak akan kumaafkan. Mereka semua akan kuhancurkan dengan tanganku sendiri."

Boboiboy mengepalkan tangannya kuat dan aura gelap nan menakutkan menguar deras darinya dan membuat semua orang yang tadinya berlalu-lalang disana langsung berlari menjauh.

"Aku akan menghajar mereka dan membawa pulang Ochobot."

Boboiboy melepas infusnya kasar dan membuat sebagian darahnya mengucur deras dari lubang yang ada di urat nadinya, hal itu tentu saja membuat Tok Aba dan Fang kembali terkejut.

"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?"

Fang meninggikan suaranya agar Boboiboy yang tengah berjalan menjauh darinya bisa mendengarnya.

"Tentu saja membawa kembali Ocho..."

"Bagaimana cara mu ketempat mereka kalau kau tidak tau dimana lokasi mereka sekarang?"

Fang memotong perkataan Boboiboy dan membuat Boboiboy memberhentikan langkahnya dan terdiam mematung.

"Eh, benar juga ya."

Fang langsung saja sweatdrop melihat kelakuan orang yang secara tak langsung ketua dari kelompoknya itu.

"Kalian harus menemukan orang yang bisa membantu kalian untuk menemukan markas mereka."

Tok Aba yang sedaritadi diam kini akhirnya angkat bicara. Langsung saja, Fang mencoba berpikir keras. Sedangkan, Boboiboy yang hatinya masih diselimuti amarah tidak bisa fokus memikirkannya.

Setelah beberapa menit berpikir, yang kini berada di dalam pikirannya itu adalah sosok yang Fang dan Boboiboy kenal betul. Dia adalah sosok alien hijau kerdil dengan tubuhnya yang keseluruhannya berbentuk kotak dan merupakan alien yang suka menganggu dan berusaha menjatuhkan Boboiboy.

"Ayo kita pergi Boboiboy. Aku telah menemukan orang yang Tok Aba maksud."

Boboiboy hanya kebingungan sendiri melihat Fang yang tersenyum misterius sambil berjalan ke arahnya dan kemudian melewatinya. Boboiboy pun memutuskan untuk mengikuti Fang dari belakang dan meninggalkan Tok Aba sendirian disana.

*#*

"Jadi, orang ini yang kau maksud?"

Boboiboy berujar sambil menunjuk alien mungil berpakaian lusuh dihadapannya.

"Apa maksud kedatangan kalian kemari?"

Alien yang kita ketahui sebagai musuh bebuyutan Boboiboy cs bernama Adu Du itu bertutur ketus tanpa memperdulikan perkataan Boboiboy.

"Kami membutuhkan bantuanmu, Adu Du."

Fang yang menyadari kalau kini amarah Boboiboy semakin menjadi-jadi pun mulai angkat bicara.

"Lalu, mengapa Tuan Bos harus membantu kalian?"

Probe yang baru saja kembali dari membuatkan Adu Du secangkir kopi tiba-tiba menyeletuk.

"Cih, cepatlah. K alau tidak, Geng Tengkotak itu keburu pergi."

Adu Du yang baru saja menyesap kopinya langsung menyemburkan kembali kopinya keluar hingga tak sengaja mengenai robot berwarna ungu kepunyaannya yang ada dihadapannya setelah mendengar kata 'Tengkotak' keluar dari mulut ceplas-ceplos Boboiboy.

"Huhuhu. Tuan Bos jahat, aku kan baru beli baju ini."

Adu Du tak terlalu menghiraukan ucapan robotnya, Probe dan malah lanjut bertanya kepada Fang dan Boboiboy.

"Bukankah Tengkotak sudah kalian hancurkan 3 tahun yang lalu?"

Suara Adu Du tampak bergetar karena takut. Pasukan Tengkotak adalah pasukan pencari Sfera Kuasa terkuat sejagad, kalau pasukan sekuat itu mempunyai dua bagian pasukan yang sama kuatnya atau bahkan lebih kuat dari pasukan sebelumnya, bagaimana nasibnya nanti.

"Yang saat itu kita lawan adalah palsu, dan yang ini asli. Kumohon Adu Du, ini demi keselamatanmu juga."

Fakta yang didengar Adu Du justru lebih mengerikan dari yang dipikirkannya. Bora Ra yang sangat kuat seperti itu dan bahkan berhasil memojokkan Boboiboy yang menggunakan kekuatan penuhnya itu merupakan anggota Tengkotak yang palsu? Lalu seberapa kuat Tengkotak yang asli.

"Emh..."

Adu Du terlihat berpikir begitu keras. Ini merupakan sebuah delima baginya antara mementingkan harga dirinya sebagai Super Jahat Jiro Jiro yang katanya akan selalu membantu kejahatan yang ada dan menumpas kebaikan dengan nyawanya sendiri dan Probe, robotnya.

"Kita tidak punya waktu lagi, Adu Du, cepatlah."

"Ba-baiklah."

Adu Du berpikir kalau sekarang ini nyawanya yang lebih penting karena ia juga tak mau kehilangan satu nyawa berharga yang ia punya. Karena itulah, dia segera berlari ke arah salah satu anak buahnya yang dia namakan Komputer.

"Komputer, lacak para anggota Tengkotak itu."

"Baik, Tuan Bos."

Layar Komputer yang tadinya menampilkan wajah manusia kini berubah menjadi sebuah peta dunia dengan sebuah grafik yang berada diujungnya. Komputer lalu mengaktifkan sistem scannya untuk melacak keberadaan Geng Tengkotak.

"Kuingatkan saja ya, meskipun ini dalam suasana genting, bukan berarti pelacakan ini bisa berjalan dengan cepat. Butuh beberapa jam atau mungkin beberapa hari untuk melacak mere..."

Tiittt

Semua orang yang berada di Markas Kotak kepunyaan Adu Du itu langsung begitu mendengar suara nyaring yang berasal dari Komputer.

"Tuan Bos, aku sudah menemukan lokasi mereka."

Komputer tampak melaporkan hasil pekerjaannya. Langsung saja, Adu Du dan Fang mendekatinya sedangkan Boboiboy sendiri kini sudah siap siaga di pintu keluar.

"Dimana mereka, Fang?"

Boboiboy langsung melancarkan pertanyaan begitu melihat Fang yang sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari markas Adu Du.

"Area kosong di dekat pelabuhan. Ayo kita pergi kesana."

Fang dan Boboiboy segera melesat keluar dengan kecepatan tinggi begitu Fang menyelesaikan kata-katanya. Adu Du hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat musuh bebuyutannya itu yang sekarang tampak sangat berbeda.

"Dasar, bahkan mereka tak menunggu hingga proses pemindahan data selesai."

Tiiit

Komputer kembali mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring. Setelah itu, beberapa gambar makhluk aneh bermunculan di layar Komputer. Adu Du hanya mengernyit heran begitu melihat gambar-gambar serta informasi yang berada di gambar itu karena Adu Du bahkan tak mengenali seorang pun yang berada digambar itu.

Matanya berhenti ketika melihat sebuah gambar makhluk aneh bertopeng Iblis dan bernama Cancer yang berada dipojok bawah kiri layar. Matanya membelalak seketika dan tubuhnya langsung bergetar hebat.

"Ada apa, Tuan Bos?"

Probe yang menyadari perubahan mendadak dari tuannya langsung merasa khawatir.

"Di-dia... Dia salah satu dari 12 Gerbang Bintang Kematian. Mereka.. Mereka dalam bahaya."

Tubuh robot milik Probe ikut merinding ketakutan begitu mendengar nama organisasi itu disebut. Sementara itu ditempat lain, Fang dan Boboiboy menuju ketempat Yakari dan teman-temannya berada.

Pertarungan balas dendam pun dimulai, apakah Boboiboy dan Fang yang kini dipenuhi amarah berhasil memenangkannya atau mungkin sebaliknya. Dan, fakta mengejutkan yang ditemukan oleh Adu Du tentang Cancer, siapa sebenarnya ia?

TBC

Horayy, akhirnya selesai juga chapter ini. Ken mengucapkan permohona maaf sebesar-besarnya karena gak tau kalau buat chapter ini bisa ngabisin waktu hampir dua minggu, atau lebih? Terimakasih ya, bagi yang udah review, follow, dan fav fic gaje-ku ini.

Bener-bener gak nyangka deh, kalau fic iseng ini bisa dapet review 20+. Makasih juga untuk segala saran dan kritiknya, hehe. Kalau masalah apdet lagi sih gak tentu, tapi yang pasti fic ini Ken usahain gak bakal discontinued.

Terimakasih atas dukungannya ya, sampai jumpa dichapter depan

Jaa na