You're My Star
.
By Seoglyu Yeowang
.
Cast : EXO Member
.
Genre: Romance, Friendship
.
Length: Chaptered
.
Rate: T to M
.
Disclaimer: Author hanya meminjam nama mereka tetapi cerita dan ide ini milik saya. Apabila ada kesamaan kejadian, waktu dan tempat itu hanyalah kebetulan semata.
.
Warning: Newbie, GS for Uke, Typo(es) dan Original Chara bertebaran dimana-mana
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Summary
Luhan merupakan seorang rookie yang baru saja setahun debut bersama grupnya. Apakah yang terjadi ketika sang CEO yang merupakan direktur agensi tempatnya bernaung mengaku jatuh cinta padanya? Menolak dan mempertaruhkan karirnya yang tengah naik daun atau menerima dan menghianati kekasih yang telah menunggunya selama ini, sejak ia memutuskan menjadi seorang idol?
.
.
.
Chapter 2
It's me Xi Luhan!
.
"Ah lelahnya hari ini" gumamku merebahkan diri diranjang
Belum saja lima menit kedua kelopak mata ini bertemu saling melepas rindu, mereka kembali harus terpisah karena benda persegi diatas nakas berbunyi dengan hebat
"yak neo eodisseo?" pekik orang disebrang sana ketika ku angkat panggilannya.
"tak bisa kah kau pelan sedikit eonni? Aku sungguh mengantuk kau tau"
"mengantuk? Apa kau lupa bahwa hari ini kau ada jadwal pemotretan eoh? Aku tak mau tau, simpan saja kantuk mu dan bersiaplah! Aku akan menjemput mu tiga puluh menit lagi! Jadi bersiaplah!" – pip selalu saja mematikan telpon sesukanya.
Sebenarnya dia itu manager ku atau ibu kost sih, galaknya tak ada yang bisa mengalahkan. Gagal sudah acara tidur cantik ku kali ini. Ah, apa dia kira waktu tiga puluh menit itu cukup?
.
"Luhan-ah kau mau kemana?" Tanya Baekhyun ketika aku melewati ruang tv
"ah, aku harus keluar sebentar. Aku tak akan lama." Bohong ku
"baiklah, jangan lupa nanti malam kita ada fanmeet." Seru Lay dari dapur
"arraseo, aku tak akan pulang telat." Balas ku "aku pamit neee"
Setelah berpamitan, akupun bergegas keluar. Karena si nenek lampir itu dipastikan sudah mengomel ria didepan sana.
"yak! Kenapa kau lama sekali eoh? Apa kau ingin membuatku mati membeku disini?" cerocosnya ketika ku sudah tiba dihadapannya
"ayolah eonni aku bahkan belum terlambat satu menit pun. Apa kau bilang? Mati membeku? Ini bahkan musim panas eonni. Kau bahkan tidak akan mati membeku jika harus menunggu disini seharian."
Pukkk – sebuah pukulan sukses mendarat dikepala ku "yaakkk appo!"
"apa kau bodoh? Kenapa kau masih berpakaian seperti ini jika kau tau ini adalah musim panas? Apa kau ingin pemotretan ditengah badai salju?" ocehnya mengomentari pakaian yang saat ini ku kenakan
"apa salahnya dengan ini?" Tanya ku tak terima "apa aku harus kesana hanya dengan memakai bikini eoh?"
"ide bagus itu"
"yak eonni!"
"sudahlah, kita bisa terlambat nanti." Ucapnya kemudian menarikku kedalam mobil
.
Hening. Itulah kondisi di dalam mobil selama perjalanan. Tak ada yang berbicara satupun. Ah, mengenai kebohonganku pada member lain tadi bukanlah tanpa alasan. Ya benar, pemotretan ini merupakan salah satu kegiatan ku diluar GENIE. Bukannya aku ingin merahasiakan, tetapi hanya saja aku benar-benar tak enak dengan yang lain.
"apa kau sudah tahu konsep pemotretan kali ini?" Tanya manager ku memecah keheningan
"entahlah, bukankah aku hanya harus bergaya di depan kamera" jawabku tak tertarik
"Luhannie ku mohon jangan seperti ini. Ini demi karir mu sendiri."
"aku tahu. Jadi ku mohon hentikan itu."
Suasana kembali hening setelah percakapan singkat kami. Sedikit bercerita tentang kehidupan ku, bisa dibilang aku berasal dari keluarga berada dan terpandang. Menjadi seorang idol memanglah keinginan ku, dan kedua orang tua ku sangat mendukungnya. Bahkan mereka sudah menyekolahkan ku ke sekolah seni sejak awal. Tetapi terkadang aku tidak suka karenanya, aku ingin berhasil dan terkenal karena usaha dan kekampuan ku sendiri.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul 06:00 PM, berarti masih ada waktu dua jam untuk menghadiri acara fanmeet malam ini. Sungguh melelahkan aku harus kembali lagi ke dorm hanya untuk numpang duduk kemudian pergi lagi.
"apa kau tak ingin pulang dulu ke dorm?" Tanya byunnie memastikan
"entahlah eonni, sepertinya aku akan langsung kesana saja."
"baiklah, apa tak apa jika kau ku tinggal sendiri?" tanyanya hati-hati
"aku tak apa. Pulanglah, aku tak akan membuat masalah."
"aaaaah… terimakasih Luhan-ah kau sungguh pengertian." Ucapnya memeluk ku
"hentikan eonni kau membuat ku malu."
"oops maaf. Aku pulang duluan yaaaa" pamitnya girang
"nee neeee sana pergilah yang jauh" usirku
"oh ya, aku lupa. Ada yang mencarimu diluar." Teriaknya setelah jauh
'siapa ya yang mencariku?' pikirku bingung
.
"apa yang kau lakukan disini sajangnim?" tanyaku ketika melihat sosok yang mencariku tadi
"ini ambillah." Selalu saja seenaknya
"bunga yang kemarin saja belum kering." Sindirku mengambil pemberiannya.
"bagaimana pemotretanmu hari ini? Apa mereka semua membuat mu nyaman?"
"aku benar-benar nyaman sebelum kau datang." Gumam ku tetapi aku yakin ia akan tetap bisa mendengarnya "kali ini apa yang membuatmu berada disini?" tanyaku lagi "kau ingin mengontrol artis-artis mu? Atau kau ada meeting disekitar sini?"
"akuu…"
"aku apa sajangnim?" masa bodo jika aku dilihat kurang ajar pada direktur ku sendiri
"aku hanya ingin bertemu dengan mu." Ucapnya nyaris berbisik
"apa yang kau bilang sajangnim?" entah karena memang tak mendengar atau karena ingin ia mengulanginya lagi
"ya kau benar, aku hanya ingin bertemu dengan mu. Apa itu salah?" dia berbicara lebih kencang namun sangat jelas terdengar bahwa ia sedang gugup
"benarkah itu?"
"ya kau benar"
"lalu selama ini?"
"itu juga."
"aku tak habis fikir."
Pria yang kini menjabat sebagai direktur utama agensi tempat ku bernaung ini sepertinya lebih memilih diam seolah memberiku waktu untuk tersadar dari keterkejutannya. Hingga suara bassnya kembali terdengar beberapa menit kemudian.
"apa kau ingin makan malam bersama ku?" tawarnya "ini sudah waktunya makan malam dan aku tahu kau belum makan siang."
"hmm… baiklah."
"benarkah?"
dan ku jawab hanya dengan anggukan
"kau ingin makan apa? Kau suka apa? Bagaimana dengan sushi?" tanyanya antusias
"apapun itu yang tidak membuat berat badan ku meningkat drastis"
"kau tidak akan gemuk hanya karna sepiring susshi"
"hahhahha" jawabannya yang sederha mampu membuatku tertawa lepas
"kau lebih cantik ketika tertawa lepas seperti ini." Komentarnya
"hem hem." Siapa yang tidak akan terbatuk ketika mendengar pujian yang ditujukan padanya
"sudahlah sajangnim, jangan berlebihan. Sebaiknya kita bergegas karna aku harus menghadiri fanmeeting pukul 8 nanti."
"aku tahu ituu"
.
.
Tak ada yang berucap bahkan hingga beberapa menit pesanan tiba, hanya ada aku yang melihat-lihat sekitar karena sesungguhnya tempat yang ia pesan cukup privasi.
"silahkan dimakan, atau kau terpaksa harus memakan makanan dingin."
"ah nee,"
Suasanapun kembali hening, kami berdua sibuk pada makanan yang berada pada piring masing-masing. Hingga tak terasa piring dihadapan kami pun kembali kosong.
"ah, apa kau ingin kembali ke dorm setelah ini?"
"kurasa tidak." jawabku setelah melihat arloji dipergelengan tanganku. "tidak banyak waktu yang tersisa." Tambah ku "sepertinya aku akan langsung ke lokasi saja."
"baiklah, biar ku antar kalo begitu."
"aah, itu tidak perlu sajangnim. Aku bisa kesana sendiri." Tolakku halus
"lalu membiarkan mu berkeliaran diluar sana sendirian? Itu tidak akan pernah terjadi"
"a-a-aku akan menghubungi managerku untuk menjemputku. Bagaimana?" ucapku cepat untuk menutupi kegugupan. Bodoh bagaimana aku bisa gugup hanya karena dia menghilangkan embel-embel artisku yang biasa dia gunakan.
"kau bilang tidak banyak waktu yang tersisa bukan?"
-skak apa lagi yang harus ku jadikan alasan
"aku tidak menerima penolakan, pergilah bersamaku ke lokasi." Putusnnya
.
.
Aku tak menyangka kini berada satu mobil bersama orang yang selama satu tahun ini ku hindari, ya dia adalah direkutur ku sendiri. Jika kalian berpikir bahwa pria yang sedang fokus pada kemudi disampingku ini adalah seorang pria tua tambung beristri maka kalian salah besar. Tak ada satupun tuduhan kalian yang tesemat pada dirinya. Dia adalah seorang pria muda berusia 26 tahun. Dia lajang dan tak ada satupun butiran glikogen bersembunyi dibalik kemeja yang biasa digunakannya. Bahkan aku tak habis fikir bagaimana bisa ia belum memiliki istri dengan keadaannya yang sudah mapan dan wajah yang lumayan tampan.
"aku tau jika aku tampan. Tapi bisakah kau hentikan tatapan itu padanya." Ucapannya sukses membawa ku kembali dari lamunan
"…."
"aku tak tau apa yang sedang kau fikirkan, tetapi tenang saja aku bukan seorang gay." Ucapnya lagi seolah dapat membaca fikiran seseorang.
"…."
"hey, bicaralah sesuatu? Aku tidak sedang membawa sebuah mayat bukan?"
"nee sajangnim, apa yang kau katakana? Sebuah mayat?"
"hahahha, apa yang sedang kau fikirkan sebenarnya eoh? Tak perlu memikirkan apapun."
"a-a-aku tak sedang memikirkan apapun." Gagapku
"satu yang harus kau tahu. Kau tak cocok menjadi seorang aktris karena kau adalah pembohong yang buruk hahaha"
"…."
"fokuslah, sebentar lagi kita sampai."
Sisa perjalanan pun lagi-lagi dihabiskan dalam keheningan.
.
.
.
To Be Continue
.
Aaaaaah lagi-lagi aku minta maaf karena late update, bukan karena malas menulis, ini bahkan udah jadi beberapa chapter kedepan. Aku lagi-lagi bingung mengenai usia para cast kita. Ada yang tau usia maksimal untuk debut di korea sebagai girlband? Makasih juga buat readers yang ngingetin aku buat update, sekian dulu untuk chapter ini. Silahkan tinggalkan jejak untuk kritik dan saran. .
.
See you soon, Annyeong
