Ada anak fandom Naruto circa 2008-2009 yang lagi nyasar di fandom ini, nggak? Sudah lebih dari lima tahun saya berhenti jadi fanfiction writer, tapi kalau jadi reader sih masih melalang buana sampai sekarang *grins* This is a separate profile though, you can drop me a message if you want to read my stories under my old (and quite possibly dead, since I can't remember the password anymore) profile.


Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama

Stumbling on Happiness

Turn 1


Sudah lebih dari lima menit Armin berjongkok di depan sebuah rak buku bernuansa modern-minimalis, pandangannya tidak berpaling dari rentetan judul buku yang tersusun rapi di dua rak yang paling bawah. Lelaki berambut pirang itu bisa merasakan pegal di kedua kakinya, namun gejolak rasa penasaran—yang jarang sekali bisa ia taklukkan selama dua puluh tahun hidupnya—membuatnya tetap bertahan berada di posisi tersebut. Secara tidak sadar jari telunjuknya ikut bergerak menelusuri deretan buku yang terpampang di hadapannya, kemudian kedua iris birunya melebar untuk sepersekian detik saat membaca judul yang tertera pada sebuah buku berukuran lebih besar dibandingkan yang lain—yang ditempatkan di ujung rak paling bawah.

Dengan senyuman kecil, Armin langsung mengambil buku yang sudah ia idam-idamkan selama sebulan terakhir itu, lalu berjalan mendekati kedua sahabatnya yang sedang duduk di salah satu meja bundar yang tersebar pada sisi kanan ruangan.

"Sudah kutebak kalau alasanmu bersikeras mengajak kita ke sini tidak ada hubungannya dengan menu sarapan," seru Eren yang menatap kedatangan Armin dengan pandangan penuh penghakiman. Ia menusuk-nusukan garpu di atas chicken sandwich yang baru dimakan setengah porsi. "Tidak kusangka aku melewatkan Stohess Lamb Special hanya untuk melihatmu membeli buku. Siapa juga yang punya pikiran untuk membeli buku di sebuah café?"

Armin memilih untuk tidak terlalu menggubris keluhan Eren dan menyeruput minumannya yang belum tersentuh. "Tempat ini dinamakan Trost Books and Cafe karena alasan tersebut, Eren."

"Ya tapi harusnya kamu kasih tahu terlebih dahulu dong kalau tujuan utamamu ke sini itu membeli buku!"

"Kalau aku lakukan itu, kemungkinan besar kamu akan mengusulkan kita mampir ke sini pada akhir pekan dan kita akan kembali berada di Stohess pagi ini. Aku tahu kamu sangat menyukai sandwich buatan mereka Eren, tapi sudah hampir seminggu berutut-turut kita bertiga sarapan di sana. Mungkin kamu bisa mempertimbangkan bahwa Mikasa dan aku butuh sedikit perubahan suasana?" tutur Armin dengan nada kalem. Pada masa awal mereka berkenalan dan menjadi teman sebangku di sekolah menengah, Armin cenderung mengalah saat menghadapi sikap Eren yang keras kepala. Namun setelah menjalin persahabatan selama hampir sepuluh tahun, Armin sadar bahwa terus-terusan memberi makan ego sahabatnya itu adalah hal terakhir yang dibutuhkan Eren. Meskipun lebih lama kenal dengan Eren dan hubungan emosional keduanya lebih kuat di antara tiga serangkai itu, Mikasa tidak bisa diandalkan menjadi "pawang" Eren—karena bisa dibilang gadis itu akan menjadi pelindung pribadi Eren selama hayat dikandung badan. Dengan demikian, secara otomatis posisi "pawang" jatuh ke tangan Armin yang didaulat sebagai manusia paling rasional, tenang, dan—kalau mengutip perkataan Eren—paling tidak berperasaan di antara ketiganya.

Armin tidak bisa menahan senyumnya melihat gelagat Eren yang sudah lebih tenang sekarang. Masih dengan bibir cemberut, lelaki berambut coklat kehitaman itu mengambil potongan sandwich yang masih tersisa di atas piring lalu melahapnya dengan cepat. Bermaksud memberi waktu bagi Eren untuk menenangkan dirinya, Armin berpaling pada Mikasa yang sedari tadi duduk anteng menikmati secangkir Thai Tea hangat pesanannya. "Dalam skala 1 sampai 10, bagaimana rasa minumanmu?"

"…Delapan. Rasa rempahnya cukup kuat, tapi tidak terlalu menyengat. Salah satu Thai Tea paling enak yang pernah aku coba di kota ini."

Armin mendecak halus mendengar komentar Mikasa. Sebagai anggota keluarga imigran dari Asia dan tinggal satu atap dengan penikmat sekaligus kritikus teh paling objektif yang pernah Armin kenal, penilaian Mikasa tidak bisa dianggap sembarangan. Hal tersebut langsung mendongkrak nilai café ini di mata Armin.

"Lain kali kita bisa lebih sering mampir ke sini. Jarang lho ada teh yang dianggap cukup enak oleh Mikasa."

"Sejak kapan satu minuman enak dapat menjadi penentu tempat makanan yang akan kita kunjungi," Eren membalas cepat dengan mulut yang masih lahap mengunyah potongan terakhir sandwich-nya.

"Hmm, mungkin taktik dari kafe ini adalah menarget kelompok konsumen spesifik, misalnya penikmat teh berkualitas tinggi seperti Mikasa, atau kolektor buku yang sudah jarang dijual di pasaran seperti aku."

"Kukira kau bukan mahasiswa jurusan Marketing, Armin." cibir Eren pelan, tapi dengan seringai yang tersungging jelas di wajahnya.

Armin membalas dengan seringai yang tidak kalah lebar. "Yah, rajin menonton Crash Course Economics di YouTube cukup membantu."


Aroma khas obat-obatan langsung menusuk indra penciuman Armin begitu ia keluar dari lift yang mengantarkannya ke lantai satu rawat inap. Ia menyelusuri koridor panjang yang didominasi warna krem dengan langkah perlahan, sebuah buku berukuran cukup besar diselipkan pada lengan bawah sebelah kirinya. Armin merasa lega ketika ia menemukan buku tersebut di Trost tadi pagi. Sejak sebulan yang lalu Armin sudah berencana untuk membelikan buku yang dulu sering kakeknya bacakan untuknya—sebuah buku ilustrasi anak-anak klasik, bercerita tentang kisah sebuah boneka teddy bear bernama Corduroy yang tidak jadi dibeli oleh seorang gadis kecil karena memiliki kancing pakaian yang cacat—dengan harapan bisa membantu demensia yang sudah lama dialami kakeknya.

Kemarin malam ibunya memberi kabar bahwa kakeknya kembali dilarikan ke rumah sakit. Hubungan Armin dengan kakeknya memang tidak sedekat seperti waktu ia masih kanak-kanak—kesibukan sekolah serta komplikasi penyakit kakeknya yang semakin parah mempebesar jarak di antara mereka berdua—namun sebagai cucu satu-satunya yang dimiliki Alfons Arlert, Armin merasa memiliki kewajiban untuk tetap mendampingi hari-hari tua kakeknya. Armin masih memiliki cukup banyak waktu luang mengingat minggu ini masih pekan kedua semester baru, ia langsung bergegas membeli tiket bus setelah kelas satu-satunya pada hari ini berakhir. Kakek dan ibunya tinggal di kota kecil yang membutuhkan waktu dua jam perjalanan dari kota yang sekarang menjadi tempat tinggalnya sejak masuk kuliah.

Sambil terus berjalan ke depan, Armin merogoh ponsel di kantong celananya untuk melihat pesan terakhir yang dikirimkan ibunya mengenai nomor kamar yang sedang ditempati kakeknya.

"A—Armin?"

Armin menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara yang cukup asing tersebut. Sekitar tiga puluh meter di hadapannya, sesosok pasien lelaki yang terlihat berusia sebaya dengannya sedang menyeret sebuah tiang besi berisi kantung infus yang masih terpasang. Lelaki itu menatap Armin dengan mata terbelalak.

Insting dalam dirinya berteriak untuk segera menghampiri lelaki asing itu dan bertanya dengan nada sesopan mungkin—Ada yang bisa saya bantu, atau Dari mana anda tahu nama saya, atau Siapa anda—tetapi Armin mengurungkan dorongan tersebut.

Tak lama kemudian wanita berperawakan cukup tambun menyembul keluar dari kamar nomor 104 dan menghampiri pasien lelaki yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar tersebut. "Kenapa kamu diam di situ, Nak? Apa tidak ada suster yang sedang berjaga di sana?"

Pasien lelaki itu tidak menjawab pertanyaan ibunya, pandangannya masih terpaku pada Armin. Wanita itu akhirnya menyadari keberadaan Armin, lalu bertanya lagi pada anaknya. "Jean? Kau kenal siapa laki-laki itu? Dia temanmu?"

Jean.

Armin tidak mengenali nama maupun lelaki yang ada di depannya itu.


Chapter 81 slayed my entire existence, I kid you not. THE SHIP HASN'T SANK YET, THANKS TO THEE O DEAR CAPTAIN ISAYAMA.

Kalau ada yang kepo, di sini trio favorit kita merupakan mahasiswa/i jurusan Hukum, Hubungan Internasional, serta Kajian dan Sejarah Seni. Ada yang bisa menebak siapa yang mengambil jurusan apa?

Feedbacks are certainly welcomed :D