Stumbling on Happiness

Turn 2


Hingar-bingar suara mahasiswa menyelimuti ruangan serbaguna Universitas Sina meskipun kelas sudah berakhir lebih dari lima belas menit yang lalu. Sebagian kelompok mahasiswa masih menetap di ruangan dengan berbagai alasan tertentu—sekadar bercengkrama dengan teman, mendiskusikan materi kuliah yang baru disampaikan, membicarakan sosok dosen yang selalu meninggalkan kesan baru di tiap pertemuan—sedangkan bagi Eren, Armin dan Mikasa, penyebabnya adalah lemahnya koneksi wi-fi di ruangan tersebut ("Lima menit untuk mengunduh file kurang dari satu giga! Kita ini sedang berada di hutan atau gimana sih?!" Eren menceletuk cepat) yang membuat ketiganya harus bertahan di tempat duduk mereka.

"Aku masih tidak percaya kalau dia bisa membuatku melahap Bentham dan menulis review dalam waktu sepekan." Eren membolak-balikkan buku tebal bersampul lusuh dengan nada takjub, seolah masih tidak percaya bahwa dia telah membaca semua tulisan itu. "Biasanya aku sudah menyerah di bab satu untuk mengerti pemikiran Bentham."

"Dapat aku simpulkan bahwa kau tidak menyesal ikut saranku mengambil kelas Doktor Smith?" Sebenarnya hanya Armin yang sedang membuka laptop untuk mengunduh sejumlah jurnal yang menjadi bahan bacaan minggu depan—kotak kecil di layarnya bertuliskan 75% complete—Eren dan Mikasa refleks menemani Armin atas nama persahabatan dan tingginya probabilitas jurnal-jurnal tersebut menjadi materi ujian ("Jangan pernah menyepelekan daftar bahan bacaan yang disebutkan di kelas," testimoni Armin yang pernah mengambil kelas Doktor Smith semester lalu).

Eren hanya mengangkat bahunya. Setelah menyaksikan sendiri jasad ibunya yang menjadi korban perkosaan oleh sekelompok remaja dikebumikan tanpa mendapat proses pengadilan yang jelas, Eren bersumpah untuk memperbaiki sistem peradilan yang cenderung arbitrer pada kelompok masyarakat yang lebih lemah. Salah satu alasan yang membuatnya sangat protektif pada Armin dan Mikasa kurang lebih disebabkan oleh sentimen yang serupa—saat SMP Eren sering melihat Armin diejek karena perawakannya yang mungil, sedangkan Mikasa hampir menjadi korban penjualan anak. Meskipun ia tahu bahwa kini kedua sahabatnya mampu mengalahkan lawan dua kali usia mereka dengan kapabilitas otot (Mikasa) dan otak (Armin), Eren tetap merasa memiliki tanggung jawab tersendiri untuk melindungi mereka berdua. Bertahun-tahun melihat ketidakadilan yang dialami orang-orang sekitarnya itu membuat Eren mengantongi moral compass yang cukup ekstrim bagi sebagian orang. "Hari ini baru pertemuan kedua dan dia telah membuatku meragukan semua konsepsi tentang keadilan yang selama ini aku yakini. Aku tidak tahu harus bersyukur atau menyesal."

"Tidak ada yang mengharuskanmu untuk mengamini semua apa yang Smith katakan, Eren. Kamu bisa setuju dengan satu-dua hal yang dia dikatakan, sekaligus tidak setuju pada hal yang lain." ujar Mikasa, menyadari kemungkinan adanya pergolakan batin yang dialami Eren setelah mendengarkan kuliah Doktor Smith. Hampir seluruh materi yang disampaikan oleh Doktor Smith di kelas Filsafat Keadilan ini bisa dibilang bertolakbelakang dengan dikotomi moral 'hitam dan putih' yang dijunjung kuat oleh Eren.

File yang diinginkan sudah selesai diunduh. Armin mendongak ke arah Eren sambil memencet opsi shut down pada laptopnya. "Kuakui bahwa Doktor Smith adalah seorang orator yang baik dan cukup berkarisma untuk memengaruhi audiens yang mendengarkannya. Tapi selain dari dua hal itu, aku setuju dengan perkataan Mikasa."

Berbeda dengan Eren yang sangat idealis dalam menegakkan keadilan, Armin sudah menduga bahwa perkuliahan yang disampaikan oleh Erwin Smith akan menawarkan perspektif yang lebih pragmatis. Setelah tidak sengaja menemukan jurnal yang ditulis Erwin saat sedang mengerjakan essay 5,000 kata tentang diplomasi PBB pasca Perang Dingin, Armin tahu bahwa hal pertama yang harus dia lakukan sebelum semester baru dimulai adalah mendaftarkan diri ke kelas yang diajar oleh Doktor Erwin Smith, analis keamanan nasional terkemuka sekaligus dosen tamu di Universitas Sina untuk jangka waktu yang tidak begitu jelas (meskipun terdaftar sebagai alumni, sampai sekarang hanya ada tiga kelas yang pernah diajar Erwin). Erwin yang secara konstan menuntut para siswanya mengambil sudut pandang yang baru dan tidak terpaku pada satu paradigma tertentu membuat gaya pengajaran Erwin cenderung tidak lazim dibandingkan mayoritas dosen di Universitas Sina—Armin berusaha ekstra untuk mendapatkan nilai A- saat mengikuti kelas Terorisme semester lalu—sehingga tanpa berpikir dua kali ia langsung mengajak Eren dan Mikasa ketika Smith membuka kelas Filsafat Keadilan untuk semester ini.

Eren hanya merespon dengan mengangkat bahu lagi. Ia segera bangkit dari duduknya setelah melihat Armin selesai memasukan laptopnya ke dalam ransel. "Sekarang masih jam 11 sih, ada yang mau nongkrong di Stohess—atau Trost, atau Starbucks juga boleh deh. Aku baru ada kelas lagi jam 3 sore."

"Aku tidak bisa ikut. Kelasku dimulai satu jam lagi, dan aku harus mampir ke RoseMart dulu." balas Mikasa, lalu beralih pada Armin yang berjalan di sampingnya, "Jangan lupa kirimkan jurnal itu ke email-ku ya."

Armin menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga melangkah keluar dari ruang serbaguna dan berjalan menelusuri koridor yang dipenuhi oleh mahasiswa yang berlalu-lalang. Ketika sampai di pintu utama Gedung Karanes, Mikasa memisahkan diri dari kedua sahabatnya lalu bergegas pergi. Wilayah Kampus Selatan—julukan untuk kompleks gedung perkuliahan program studi ilmu sosial dan humaniora—yang dihiasi oleh pohon-pohon rindang dan didominasi oleh bangunan-bangunan tua menyajikan pemandangan yang berbeda dengan wilayah kampus lainnya. Jika selama beberapa dekade Kampus Kesehatan (kompleks gedung jurusan kedokteran), Kampus Barat (kompleks gedung prodi ekonomi dan sekolah pascasarjana), maupun Kampus Timur (kompleks gedung prodi MIPA dan teknik) telah mengalami sejumlah pembangunan besar-besaran dan menjadi area perkuliahan yang moderen, minimalis, dan berhawa panas, hal yang membedakan gedung-gedung di wilayah kampus selatan sejak tahun 1743 dengan sekarang hanyalah warna cat yang tidak lagi usang serta renovasi-renovasi minor pada bagian gedung yang sudah tidak layak. Keengganan jajaran dekanat kampus selatan untuk mengubah bentuk arsitektural gedung agar menjadi lebih moderen—berdasarkan laman situs resmi Universitas Sina, gedung prodi sosial humaniora adalah gedung perkuliahan yang pertama kali didirikan di sini—membuat para mahasiwa seolah sedang berada di dalam lorong waktu saat menginjakkan kaki di sini. Bahkan untuk mahasiswa tingkat dua seperti Eren dan Armin, menjelajahi gedung-gedung tua yang sudah berdiri sejak abad akhir pertengahan tersebut masih menjadi salah satu kegiatan di yang cukup menarik untuk mengisi waktu senggang.

"Oh iya, kemarin kamu mengunjungi kakekmu, kan? Ada kemajuan setelah kamu memberikan buku itu?" tanya Eren, lalu mencoba mengingat-ingat judul buku yang kemarin dibeli Armin. Setelah beusaha mengingat selama beberapa detik, akhirnya ia memilih untuk menyerah. "Yang kuingat si beruang mempunyai nama yang mirip dengan merek coklat asal Inggris itu—Cadbury."

Armin berusaha untuk tidak meringis. "Corduroy."

"Iya—apalah itu namanya. Terus bagaimana dengan kakekmu?"

Armin terdiam sejenak sebelum menanggapi pertanyaan yang keluar dari mulut sahabatnya. Otaknya memutar kembali memori saat dirinya mengunjungi rumah sakit, perkataan suster perawat yang mengaku sering mendengar keluhan kakeknya yang merasa telah 'ditinggalkan' oleh sanak familinya, serta percakapan singkat yang ganjil dengan seorang pasien bernama Jean.

Setelah mengunjungi kakeknya—dan mendapati bahwa ingatan kakeknya tidak sepenuhnya terganggu dengan anekdot-anekdot kecil yang beliau ungkapkan saat Armin membacakan Corduroy di sampingnya—Armin kembali berjalan menelusuri koridor dan melewati kamar di mana ia bertemu pasien itu. Jean, pasien dari kamar 104.

Langkahnya tanpa sengaja berhenti di depan kamar 104. Ia merasa penasaran dan ingin sekali menemui pasien itu. Gelagat pasien itu seolah mengatakan bahwa ia benar-benar mengenali Armin dan sangat terkejut saat berpapasan dengan Armin tadi sore. Misteri dan teka-teki, Armin tidak pernah menang mengabaikan kedua hal itu. Baru saja ia hendak mengetuk pintu kayu bercat putih itu, namun ekor matanya menangkap figur Jean yang sedang menelungkupkan kepalanya dan duduk di salah satu sofa di dekat lift. Seolah-olah ia sengaja duduk di situ untuk bertemu lagi dengan Armin. Asumsi yang sangat tidak berdasar, namun cukup membuat Armin memantapkan niatnya dan melangkah menghampiri Jean.

Jean mendongak setelah mendengar suara langkah Armin, matanya sempat melebar untuk sepersekian detik melihat Armin yang sudah berdiri di hadapannya. "Halo, Armin." balasnya dengan suara agak serak.

"Kau mengenaliku? Maaf, tapi aku tidak mengingat bahwa kita pernah bertemu sebelumnya."

"Heh. Tidak heran. " Jean terlihat berusaha untuk menyeringai—kata kunci 'berusaha'. Nada yang keluar malah terdengar seperti sarkasme. Armin masih belum bergeming, posturnya meminta kejelasan lebih lanjut dari kalimat non-informatif yang dilontarkan Jean tersebut.

Jean hanya melengos pelan—seolah-olah ia sudah pernah menghadapi postur pasif-agresif 'aku akan terus berdiri di sini sampai kau memberikanku jawaban yang memuaskan' khas Armin Arlert. "Aku sudah menduga kalimat yang kamu ucapkan itu karena kamu sudah pernah mengatakan hal yang sama kepadaku sebelumnya. "

Armin menyisipkan rambutnya ke belakang telinga sebelum membuka mulutnya lagi. "Lumayan, lah. Ia sempat menunjukkan sinyal-sinyal bahwa ingatannya tidak separah yang kita duga."


Kalau mengutip tulisan Darwin, esensi yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia berusaha untuk mencari dan memahami sesuatu. Armin melepaskan kacamata yang bertengger di batang hidungnya kemudian mengucek-ngucek matanya sebentar. Ia memakai lagi kacamatanya, pandangannya kembali terpaku pada layar laptop. Sejak tadi siang ia tidak bisa lagi mengindahkan memori tentang percakapannya dengan Jean. Percakapan mereka pada tempo hari memang merupakan percakapan paling aneh yang pernah dialami Armin—namun keganjilan percakapan itu yang tidak berhenti memicu rasa penasarannya. Terlebih lagi setelah mendengar kalimat terakhir Jean yang menutup pembicaraan mereka berdua.

Kening Armin refleks berkerut mendengar perkataan Jean. Tanpa memedulikan reaksi yang diperlihatkan Armin, Jean membenarkan posisi duduk dan menatap dalam-dalam lawan bicaranya.

"Hey Armin—apa yang kamu tahu tentang Titan?"

"Titan? Maksudmu salah satu bulan yang dimiliki Saturnus?"

Jean terlihat seolah habis menelan sendok. "Bukan. Bukan Titan yang itu. Titan—monster pemakan manusia. Musuh abadi peradaban manusia." Pria dengan potongan rambut undercut itu tampak sedang berpikir keras, kemudian menggaruk-garuk hidungnya dengan gestur tidak yakin.

"Errr….mungkin hal ini bisa kau cari di Google?"

Armin hanya bisa berkedip.

Insting yang muncul pertama kali di benak Armin pasca percakapan tersebut cukup simpel—ia baru saja berkomunikasi dengan seorang pasien dengan kondisi psikis yang terganggu. Namun, jika mengecualikan konteks pembicaraan mereka, pembawaan pasien dari kamar 104 merefleksikan kondisi mental seseorang yang cukup normal—mungkin dengan karakter yang bisa dibilang cenderung nyinyir. Ditambah lagi dengan celetukan-celetukan lelaki itu yang terkesan cryptic dan personal, membuat kemungkinan bahwa Jean sedang berakting bahwa ia telah mengenal Armin menjadi sangat kecil. Lagipula apa yang akan dia dapatkan dengan pura-pura mengenal mahasiswa tingkat dua yang hidup dari beasiswa penuh dan tinggal di asrama kampus?

Oleh karena itu di sini lah dia berada, duduk di hadapan laptop untuk meluapkan rasa penasarannya sesuai dengan anjuran Jean—dengan meminta bantuan mesin pencari informasi paling populer sepanjang sejarah manusia: Google. Sesuai dengan perkiraannya, hasil pencarian Google mengenai titan sebagian besar sebagian besar berisi kumpulan informasi yang merujuk pada salah satu bulan yang dimiliki planet Saturnus, titan sebagai mitologi Yunani (perang antara Olympians dan Titans?), dan sejumlah variasi produk duniawi dengan nama brand Titan. Sudah hampir lima belas menit Armin menghabiskan waktunya berkutat menelusuri laman-laman dengan tautan "titan" yang muncul pada halaman Google. Ketika memasuki halaman kedua puluh satu, matanya menangkap hyperlink yang menghubungkan dengan laman blog pribadi dengan username titanwarriors4. Namun yang membuat Armin tertarik adalah header image pada blog tersebut yang menampilkan ilustrasi monster—lebih tepatnya raksasa—perempuan dengan posisi siap menyerang. Armin bisa dibilang cukup lumayan dalam urusan seni, namun untuk mengambil kesimpulan bahwa sebuah gambar sederhana yang secara kebetulan sesuai dengan deskripsi Jean dengan teori titan-monster-pemakan-manusia terdengar konyol dan terlalu dipaksakan. Ia beralih untuk membaca post terakhir yang dimuat pada blog tersebut, bertanggal tepat satu minggu yang lalu.

Dan mereka memuja

Mengutuk membunuh

Merongrong meratap

Tertatih-tatih mereka mengharapkan

Yang tidak mereka ketahui

Sejumput rasa kasihan dari kaumnya

kematian di tangan musuhnya

Atau ditelantarkan kaumnya

Dan menggenggam tangan musuhnya

(A.L.)

Puisi yang cukup suram, ungkap Armin dalam hati. Akan tetapi masih terlalu konyol untuk dikaitkan dengan titan-monster-pemakan-manusia yang dimaksud Jean.


This update is written following the major frustration over chapter 83 OTL. Isayama know really well how to toyed with my emotions, throwing Erwin and Armin casually only to ask me to choose between those two (I choose to bury myself with the serum instead and dies peacefully). Special thanks juga untuk Wallbreaker yang sudah meninggalkan feedback dan menyukai diksi di fanfic ini :D Setelah absen nulis ff, jujur saya mayan lupa dan ga pede juga merangkai diksi/syntax untuk karya fiksi. Tiap habis proofread I always question myself "is this writing comprehensible enough?" lol

Oh iya, penjelasan tentang major dari shingashina trio berarti sudah terjawab di atas ya. All those chats regarding justice idealism v pragmatism whatsoever, ain't no law student myself, saya hanya deduce dari artikel-artikel yang pernah saya baca. Jadi kalau ternyata ada salah kata atau teori mohon dimaklumi :")

Feedbacks are certainly welcomed.