Shingeki no Kyojin (c) Hajime Isayama

Stumbling on Happiness

Turn 3


Pertunjukan musik yang berlangsung di Webster Hall hampir tidak pernah sepi dipadati pengunjung, namun sudah bisa dipastikan bahwa line up musisi tersohor selalu ditampilkan pada hari Sabtu malam. Tiga musisi lelaki yang sedang naik daun diperkenalkan sebagai bintang acara—tetapi bukan kehadiran ketiganya yang membuat empat pengurus surat kabar mahasiswa Sina Mitras berkumpul di salah satu tempat hiburan terbesar seantero kota malam ini.

"Aku belum melihat Franz." Armin menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan untuk mencari Franz Kefka, pemimpin redaksi Sina Mitras sekaligus si empunya acara yang mengajak teman-temannya—tentu dengan iming-iming minuman gratis—menonton penampilan perdana sang kekasih yang baru dipromosikan sebagai resident DJ. Hitch mengangkat bahunya acuh. "Fifty chance sedang memberikan wejangan supaya Hannah tidak demam panggung, sedangkan fifty chance lainnya mereka sedang bercumbu di pojok ruangan."

"Kita bahkan tidak tahu Hannah tampil jam berapa. Bagaimana kalau kita telah melewatkan penampilannya? Sama saja kita sia-sia datang ke sini."

"Kita sedang berada di club, Arlert, bukan debat MUN. Cobalah untuk tenang sedikit. Ngomong-ngomong soal club, kapan terakhir kali kau pergi ke club? Dengan pakaian seperti itu—" tatapan penuh penghakiman ditujukkan kepada hoodie berwarna hijau mint dan chino pants yang dikenakan Armin, "—hanya bartender yang akan menawarkanmu minuman. Aku tidak sedang membicarakan bartender seperti Ryan Phillipe di film 54, tetapi pria tua menyeramkan di The Shining atau pecundang seperti Moe dari The Simpsons."

Armin, yang sedang tidak mood mengartikulasikan respon yang lebih cerdas untuk membalas komentar tersebut, hanya mengacungkan jari tengahnya ke arah Hitch. Hitch sendiri nyaris tersedak margarita yang sedang berada di tenggorokannya—gadis itu tidak tahu harus merasa tersinggung atau tertawa geli—sementara Marlowe hanya mengangkat sebelah alisnya melihat tindakan banal Armin tersebut. Boris, yang memiliki love-hate relationship dengan Hitch sejak tahun pertama, mengeluarkan siulan yang kencang. "Kerja bagus, Arlert."

Armin tersenyum kecil, lalu berjalan mendekati bar minuman dan memesan segelas vodka tonic. Ia membutuhkan asupan alkohol yang kuat untuk mengubur penyelesalannya telah datang ke sini, padahal dia bisa berleha-leha di kamar asrama. Sesungguhnya dia bisa memahami daya tarik pergi ke club—dia mungkin seorang kutu buku, namun dia menikmati waktunya saat berada di club—tetapi tiga malam lembur di perpustakaan untuk menyelesaikan proyek kelompok yang menyumbang 40% dari total nilai semester ini membuat badannya tidak bisa menikmati dentuman keras musik disko maupun sekumpulan badan manusia di ruangan yang sempit. Ia juga tidak sempat berpikir panjang dan refleks mengambil tumpukan baju terdekat yang ada di jangkauan tempat tidurnya—kalau bukan karena rentetan bunyi notifikasi pesan dari Marlowe, mungkin dia masih tergeletak dalam dunia mimpi sekarang.

Posisi Armin yang berdiri di dekat bar minuman memberinya keleluasaan untuk melihat kerumunan manusia yang tersebar di seluruh sudut ruangan. Sambil menyeruput minuman pesanannya yang telah datang, Armin berusaha mencari sosok Franz atau Hannah, namun bukan sosok keduanya yang akhirnya datang menghampiri dirinya.

"Wow, empat malam berturut-turut aku harus melihat wajahmu, Pak Ketua. Tidak kusangka kita akan bertemu lagi di sini." Marco terkekeh geli, yang langsung dibalas dengusan pelan dari Armin. Marco merupakan rekan satu grup proyek yang diketuai Armin—proyek serupa yang membuat mereka berdua lembur di perpustakan—dan meskipun tidak tinggal di asrama, Marco dan Armin hampir selalu mengambil kelas yang sama di setiap semester. Menyadari bahwa Marco tidak pernah jauh dari kekasihnya sejak SMP, Armin segera menemukan sosok Mina yang sedang berkumpul dengan teman-temannya di sudut ruangan. "Sedang menjadi bodyguard Mina malam ini?"

Sebuah ekspresi yang lebih lembut tampak di wajah Marco ketika lelaki itu mengarahkan pandangannya pada Mina. "Mengingat kami hampir selalu berbagi circle pertemanan sejak dulu, jadi ya bisa dibilang ini adalah reuni SMA-ku juga."

Armin hanya mengganggukan kepala, meskipun benaknya tidak bisa mengerti bagaimana seseorang bisa menjalani hubungan dan berkomitmen di usia yang sangat muda. Semua orang setuju bahwa hubungan percintaan tidak hanya berisi romansa, namun bergantung pada rasa menghormati serta menerima kekurangan satu sama lain, yang menurut Armin pribadi merupakan hal yang sangat sulit untuk dipertahankan. Rekam jejak percintaannya sendiri memang sangat minim—hanya ada memori tentang seorang senior dan teman satu clubnya saat SMA—keduanya pun tidak bisa disebut sebagai mantan kekasih mengingat semua hubungan tersebut hanya bersifat insidental, tidak melibatkan komitmen sama sekali. Jiwa realisnya hanya bisa mendengus pada prospek menjalani hubungan seperti Marco dan Mina, lebih berharap untuk menemukan sosok seperti de Beauvoir di kehidupan Sartre*.

"Terus kenapa kau tidak bergabung dengan mereka? Mereka juga teman-temanmu, kan?" tanya Armin lagi, mencoba melanjutkan percakapan dengan Marco. Saat ini ia jauh memilih untuk menghabiskan waktu dengan Marco dibanding harus menghadapi kelakar Hitch ataupun Boris di seberang sana. Lagipula ia juga belum melihat tanda-tanda kemunculan Hannah maupun Franz.

"Ya hanya sebatas kenal sih, tidak terlalu dekat juga. Sahabatku yang biasanya hadir belum lama ini keluar dari rumah sakit. Ia masih membutuhkan banyak istirahat di rumah."

"Oh ya?"

"Iya. Mungkin kamu juga masih ingat kepadanya. Jean, Jean Kirschtein?"

Armin terdiam.

"Jean Kirschtein?"

"Kalian pernah sama-sama menjadi panitia kegiatan amal di suatu panti asuhan. Kejadiannya sudah cukup lama sih, Jean juga tidak cerita banyak."

Armin meneguk habis sisa vodkanya. Ia masih mengingat lelaki aneh yang dua minggu lalu menyuruhnya mencari titan monster pemakan manusia di internet, namun ia tidak mengingat kegiatan amal atau panti asuhan apapun. Melihat Armin yang dari tadi diam saja, Marco kembali membuka mulutnya. "Kamu tidak ingat? Itu lho, rambut coklat, dengan wajah yang agak panjang? Jangan bilang kamu mengetahui hal ini dariku tapi sejak sekolah menengah ia diberi julukan si wajah kuda."

"Iya, aku….ingat padanya." Ungkapan Marco tentang dirinya dan Jean menjadi panitia kegaiatan amal yang sepengetahuannya tidak pernah terjadi itu tidak bisa diggubris oleh Armin begitu saja. Ia sudah membayangkan bahwa hal pertama yang dia lakukan sesampainya di kamar asrama adalah mengecek foto-foto jaman SMP dan SMA yang tersimpan di external disk, dan mengingat kembali kegiatan-kegiatan yang ia ikuti semasa sekolah.

"Lain kali aku ajak dia main deh ke Kampus Selatan untuk bertemu denganmu."

Otaknya sudah mulai memanas, oleh karena itu Armin hanya bisa mengedipkan matanya setelah mendengar kalimat Marco tersebut. "Dia mahasiswa Sina juga?"

Sebuah panggilan feminin yang cukup familiar terdengar dari salah satu sudut ruangan. Armin dan Marco segera melihat Mina yang sedang melambaikan tangan ke arah Marco, mengajak kekasihnya itu untuk menghampirinya. Marco berucap "sebentar", kemudian memberikan pandangan terakhir kepada Armin sebelum berjalan pergi.

"Yup. Jurusan Fisika."


Armin membenarkan pegangan pada Jansport biru yang bertengger di pundaknya. Ia berusaha untuk tidak terlihat mencolok dan mengeluarkan aura yang seolah-olah mengatakan bahwa ia merupakan "orang asing" di sini. Atmosfir yang mengelilingi wilayah Kampus Timur—julukan populer untuk kompleks gedung perkuliahan prodi MIPA dan teknik di Universitas Sina—sangat berbeda dengan suasana familiar yang biasanya ia temukan di Kampus Selatan. Selain memiliki gedung-gedung bergaya arsitektur post-modern dan neo-futurisme—penampakan yang tidak akan bisa ditemukan di wilayah kampusnya—hal lain yang mencolok dari kampus timur adalah banyaknya populasi berkromosom XY yang berlalu-lalang. Gender-gap di prodi MIPA dan teknik yang sangat condong pada dominasi laki-laki memang sudah menjadi rahasia umum seantero negeri, namun Armin baru benar-benar bisa merasakannya setelah menginjakkan kaki di sini.

Sebagai mahasiswa sosio-humaniora dengan perbandingan populasi laki-laki dan perempuan yang cukup seimbang—atau bisa dibilang sekitar 3:4—Armin sudah terbiasa berinteraksi dengan rekan perempuan, baik dalam mengerjakan proyek kelompok, belajar bersama, ataupun berdebat di dalam kelas. Armin juga menyadari tendensi masyarakat yang bisa menjadi sangat partriarkis dan mendiskreditkan kaum perempuan, termasuk dalam urusan akademis. Ia tidak mau menggenalisir, namun Armin bisa mengerti mengapa beberapa mahasiswa dari luar prodi sosio-humaniora (terutama yang berasal dari Kampus Timur) bisa bertingkah aneh saat mengunjungi kampusnya—entah bertindak konyol atau bersikap tidak sopan—keduanya merupakan tanda-tanda bahwa mereka tidak biasa berhadapan dengan perempuan. Hal tersebut tidak menjadikan kampusnya sendiri aman dari sekumpulan lelaki berpikiran pendek (kalau mengutip perkataan Eren, orang idiot akan selalu ada dimana-mana) tapi jika dibandingkan dengan kampus timur, kampus mereka bisa dibilang lebih mendukung dalam menciptakan interaksi yang sehat antara akademisi laki-laki dan perempuan. Di tengah-tengah lamunannya mengadvokasikan gerakan perempuan di Kampus Timur ini—Armin sedang membayangkan dirinya membawa Mikasa ke sini untuk meruntuhkan stereotip bahwa perempuan selalu memiliki fisik yang lebih lemah—matanya menangkap sekelebat rambut coklat yang berjalan keluar dari salah satu gedung.

"Jean!"

Jean menoleh, mencari pemilik suara yang memanggilnya. Wajahnya tidak lagi sepucat seperti pada saat mereka pertama kali bertemu rumah sakit, rona segar sudah terpancar di kedua pipinya. Ia tampak sedikit terkejut mendapati bahwa Armin lah yang memanggil dirinya, namun ia langsung mencoba menetralkan ekspresinya.

"Kau masih mengingatku, kan? Kita bertemu di rumah sakit." ujar Armin, mencoba membuka pembicaraan senormal mungkin dengan lelaki yang ada di hadapannya tersebut—meskipun kemungkinan kecil bahwa pembicaraan mereka akan berakhir di ranah yang masuk akal. "Kau menyuruhku meng-Google titan." Kalimat terakhir tersebut diucapkan dengan nada sedikit menuduh.

Jean terlihat berusaha keras untuk tidak mengangkat ujung bibirnya. "Iya, terus?"

"Aku sudah melakukan apa yang kau minta—meng-Google titan, maksudnya. Tapi seperti yang kuduga, tidak ada yang berkaitan dengan titan monster pemakan manusia."

Raut muka Jean seolah berkata lagi, "terus?"

Armin menghela napasnya. Ia tahu bahwa pembawaannya saat berbicara cukup bertele-tele bagi sebagian orang, namun sejak kecil ia tidak pernah terbiasa berbicara apa adanya (seperti Eren) ataupun berbicara tanpa basa-basi (seperti Mikasa). Kalau boleh jujur, mengulur-ulur inti pembicaraan merupakan caranya untuk mengatasi rasa grogi yang ia alami saat berhadapan dengan lawan bicara.

"Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Marco. Dari Marco aku tahu bahwa kau adalah mahasiswa Sina juga, jurusan Fisika." Lanjutkan ke inti pembicaraan, Arlert. Ingat apa yang membuatmu menyebrang kampus untuk menghampiri lelaki ini, batinnya berseru cepat. "Dari Marco juga aku tahu bahwa kamu pernah memberitahu dia bahwa kita berdua pernah menjadi panitia di suatu kegiatan amal. Panitia kegiatan amal yang diselenggarakan di panti asuhan. Aku sama sekali tidak mengingat pernah bertemu denganmu sebelumnya, selain di rumah sakit itu, apalagi terlibat di acara amal apapun."

Berlawanan dengan Armin yang merasa seperti habis menyelesaikan lari marathon—ia tidak tahu mengapa jantungnya berdegup sangat kencang selama berbicara dengan Jean, mungkin alam bawah sadarnya stres pada kemungkinan dementia turunan karena ia tidak bisa mengingat kegiatan amal apapun yang pernah dia lakukan bersama lelaki itu—Jean malah terlihat datar setelah Armin selesai berbicara. Lelaki itu seakan sudah menebak hal yang ditanyakan oleh Armin kepada dirinya.

Jean kembali membuka mulutnya. "Lalu? Apa yang mau kamu lakukan dengan hal itu?"

Giliran kening Armin sekarang yang berkerut. "Maksudmu?"

"Kamu mau membiarkan hal itu, atau bagaimana."

Armin refleks menggertakan giginya setelah mendengar kalimat acuh dari Jean. "Tentu aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku perlu mengetahui apakah kita benar-benar pernah menjadi panitia kegiatan amal, dan aku juga perlu mengetahui mengapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya."

Jean menatap Armin, mencoba melihat keseriusan yang terpancar dari balik dua iris birunya. Setelah beradu pandang selama beberapa detik, Jean mengalihkan pandangannya ke bawah dan berdecak pelan. Tidak lama kemudian, ia kembali memandang Armin yang masih menampakkan raut keras kepala.

"Hal ini mungkin bakal terdengar sangat absurd bagimu, Armin. Sejak kecil aku sudah berinteraksi denganmu, atau bisa dibilang dirimu di dunia yang lain—dunia dimana musuh terbesar umat manusia adalah Titan. Kita berdua—maksudnya aku dan Armin yang lain—tidak pernah bertemu atau mengobrol secara langsung, tapi kita berkomunikasi lewat apa saja medium yang kita bisa gunakan, coretan di tembok, sobekan kertas."

Meskipun Jean menjelaskan dengan nada yang tenang dan santai, raut wajahnya jauh dari kesan bercanda. "Satu-satunya kita bisa berkomunikasi berada di satu tempat, yakni panti asuhan Reiss. Kamu benar untuk tidak mengingat pernah bertemu sebelumnya ataupun berada di kegiatan amal—karena Armin yang kumaksud saat aku berbicara dengan Marco itu bukan kamu, tapi Armin yang lain. Kurasa aku tidak sadar saat mengucapkan hal itu."

Setelah memberikan penjelasannya, Jean terdiam. Dari gelagatnya terlihat jelas bahwa ia sangat mengantisipasi respon yang akan Armin berikan. Sejujurnya, Armin sendiri tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia pernah membaca karya populer Michio Kaku atau Stephen Hawking tentang konsep perjalanan ruang-waktu, dan menganggap segala isi buku tersebut sebagai hiburan semata. Berdasarkan berbagai bacaan itu pula, ia dapat menyimpulkan bahwa perjalanan ruang-waktu terdengar menyenangkan sekaligus mengerikan pada saat yang bersamaan.

"Antar aku ke panti asuhan itu."


*Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, power couple yang sama-sama terkenal sebagai filsuf eksistensialis dan terlibat dalam open relationship yang bertahan selama 50 tahun. Intinya, Sartre dan de Beauvoir itu epitome of free existentialist love deh. Tbh, I always view Armin as typical INTP, too absorbed to finding out the world instead of dwelling in mundane interpersonal relationship (ya terus kenapa lo bikin fanfic romance) (cos I'm just too weak for JeanArmin) (this pairing doesn't get nearly enough credit, I cry).

Feedbacks are certainly welcomed.