Mississippi University for Woman
Columbus, Mississippi
Celaka ia. Jantung Yuri berdebar kencang karena adrenalin yang eningkat sewaktu ia bergegas ke Grossnickle Hall yang aman. Dua jam yang lalu, dengan bodohnya ia menyuruh teman-temannya meninggalkannya di perpustakaan semenata ia melanjutkan risetnya untuk mengerjakan makalah bahasa Inggris.
Karena terlalu asyik membaca kisah hidup Christhoper Marlowe yang malang, ia menghabisan waktu lebih lama daripada yang ia inginkan. Tanpa ia dasari, sudah larut dan ia harus kembali ke asramanya yang bergaya apartemen. Sempat terpikirkan olehnya untuk meminta pacarnya datang mnjemputnya, tapi karena pacarnya sedang bekerja sebagai petugas stok malam ini, rasanya itu sia-sia saja.
Tanpa memikirkan betapa bodohnya kalau seorang wanita yang berusia 21tahun berjalan sendirian, ia merapikan buku-bukunya dan pulang. Tapi sekarang saat ia berlari di kampus dan dikerjar oleh 4 orang pria tak dikenal, ia menyadarinya betapa idiot dirinya.
Bagaimana mungkin seorang kehilangan nyawanya karena satu keputusan yang buruk?
Namun itu teradi setiap hari kepada banyak orang.
Seharusnya ini tidak terjadi kepadaku!
"Tolong aku," jerit Yuri sambil berlari secepat mungkin. Pasti ada orang yang melihatnya, bukan? Seseorang yang akan memanggil pihak keamanan untuk menolongnya.
Yuri mengitari pagar tanaman dan menabrak sesuatu. Ia mendongak dan memandang pria yang berdiri didepannya.
"Tolong..." Kata-kata Yuri terhenti ketika ia enyadari bahwa pria itu adalah seorang dari keempat pria pirang yang mengejarnya.
Pria itu tertawa keji, menunjukkan taringnya kepada Yuri.
Menjerit, Yuri memberontak dalam dekapan pria itu. Ia melempari pria itu dengan buku-bukunya, dan mendorong dengan segenap tenaga yang ia miliki.
Pria itu melepaskannya.
Yuri berlari kejalan raya hanya untuk mendapati seorang pria pirang lainnya sudah menunggu disana. Ia langsung berhenti, mencari-cari kemana ia bisa kabur.
Tapi tidak ada satu pun tempat di mana salah seorang dari mereka tidak bisa menangkapnya.
Berpakaian serba hitam, si pendatang baru berdiri seolah sama sekali tidak menyadari bahaya yang sedang mengancam maupun kengerian yang meliputi Yuri. Rambut pirang panjangnya ditarik ke belakang membentuk kuncir kuda. Ia mengenakan kacamata hitam yang menyembunyikan matanya sepenuhnya dari Yuri dan membuat Yuri bertanya–tanya bagaimana ia bisa melihat ditengah kegelapan.
Ada suatu kesan abadi didalam diri pria itu. Sesuatu yang sangat kuat dan menakutkan. Ia mirip dengan pria-pria yang mengejar Yuri, namun ada sesuatu di dalam dirinya yang sangat berbeda. Sesuatu yang terkesan lebih kuat. Lebih kuno.
Lebih menakutkan.
"Apa kau salah seorang dari mereka?" tanya Yuri dengan suara tercekat
Salah satu ujung bibir pria itu terangkat. "Bukan sayang, aku bukan salah seorang dari mereka."
Yuri mendengar pria yang lain mengepungnya. Memalingkan kepala, ia melihat mereka mengurangi kecepatan ewaktu mendekatinya dan menatap pria yang sedang berdiri bersamanya.
Ketakutan terukir jelas diwajah tampan mereka sementara salah seorang dari mereka membisikan kata "Dark-Hunter".
Langkah mereka terhenti seolah tidak tahu apa yang harus mereka lakukan karena pria itu muncul disana.
Sipendatang baru mengulurkan tangannya kepada Yuri.
Bersyukur karena mimpi burunya sudah berakhir dan karena akhirnya pria ini mencegah mereka memburu atau menyakitinya. Yuri menjabat tangan sih pendatang baru. Pria itu mencibir kepada pria-pria yang mengejar Yuri dan menarik Yuri semakin dekat kepadanya.
Sekujur tubuh Yuri gemetar saking leganya karena pria itu sudah datang melongnya. "Terima kasih".
Pria itu tersenyum saat mendengarnya. "Tidak sayang, aku yang berterima kasih."
Sebelum Yuri bisa bergerak, pria itu sudah mendekapnya dan menancapkan taring kelehernya.
Dark-hunter itu mengecap kehidupan dan emosi si mahasiswa ketika ia mereguk esensi kehidupan wanita itu ke dalam tubuhnya. Rasanya murni tak bercela... wanita itu merupakan mahasiswa beasiswa yang memiliki masa depan yang memiliki masa depan yang cerah.
C'est la vie! (itulah hidupnya).
Menikmati rasa si mahasiswa, ia menunggu sampai ia bisa mendengar dan merasakan beberapa detak jantung terakhir yang samar dan akan berhenti setelah wanita itu mati. Tubuh wanita itu sudah lunglai dalam dekapannya. Anak malang. Tapi tidak ada yang lebih manis dari rasa kemurnian.
Tidak ada.
Ia mengangkat tubuh wanita itu dan dengan perlahan menghampiri para Daimon yang mengejar wanita itu.
Ia menyerahkan tubuh wanita itu kepada Daimon yang sepertinya merupakan pepimpin mereka. "Darahnya tidak tersisa banyak, Teman-teman tapi jiwanyaa masih utuh. Bon appétit (selamat makan)."
