Chapter 1

Katoteros

Kematian selalu menyelimuti lorong-lorong dunia bawah yang berada jauh dari jangkauan umat manusia itu. Kematian tidak berburu disini. Kematian berdiam disini. Malah, keberadaanya merupakan sesuatu yang wajar. Sama seperti Eunhyuk terbiasa dengan Katosteros, ia sudah lama terbiasa dalam keberadaan kematian yang konstan. Dengan pememandangan, suara, aroma, dan rasa kematian.

Segala sesuatu yang fana akan mati.

Malah, Eunhyuk sendiri suda pernah mati dua kali dan dilahirkan menjadi dirinya yang sekarang. Tapi selagi ia memandangi kabut merah menyeramkan dari sfora bola Atlantis kuno yang bisa memperlihatkan masa lalu, masa kini, dan masa depan – ia merasakan suatu gejolak emosi yang asing.

Wanita yang malang. Hidupnya terlalu singkat. Tidak ada yang layak mati di tangan Daimon yang menghisap jiwa manusia agar mereka bisa memperpanjang kehidupan mereka yang singkat. Dan tentunya tidak ada manusia yang layak mati ditangan Dark-hunter yang diciptakan hanya untuk membunuh Daimon sebelum jiwa-jiwa yang dicuri itu musnah dari alam semesta.

Tugas dari semua Dark-hunter adalah melindungi kehidupan, bukan merenggutnya.

Saat Eunhyuk duduk dengan senang di ruangannya yang remang-remang, ia ingin merasa marah karena kematian gadis itu. Berang.

Tapi ia tidak merasan apa-apa. Ia tidak pernah merasakan apa-apa. Hanya logika dingin dan mengerikan yang tidak mengandung emosi apapun. Ia hanya bisa mengamati kehidupan, ia tidak dapat menjalaninya.

Waktu akan terus berlalu dan tidak akan ada yang berubah.

Memang begitulah adanya.

Tapi kematian wanita itu menjadi katalis dari sesuatu yang lebih besar. Dengan tindakan Kibum, ia telah menggali lubang kuburannya sendiri, sama seperti gadis itu ketika ia memutuskan untuk belajar sampai larut.

Dan sama seperti gadis itu, Kibu tidak akan mengetahui kematiannya sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghindarinya.

Eunhyuk menggelengkan kepala karena ironi tersebut. Sudah waktunya ia kembali ke dimensi makhluk hidup dan melaksanakan tugasnya lagi. Kibum dan Junsu mengumpulkan para Dark-hunter dan berusaha mengubah pemburu-pemburu itu untuk tujuan busuk mereka dan tidak akan berhenti sebelum Eunhyuk memaksa mereka.

Mereka berencana untuk memberontak teradap Artemis dan Leeteuk. Dan tugas Eunhyuk adalah membunuh siapa pun yang tidak bisa berpikir dengan jernih.

Eunhyuk bangkit berdiri, hendak meninggalkan bola itu saat dia melihat gambar-gambar di dinding yang mengelilinginya berubah. Para Daimon dan Kibum menghilang.

Sebagai gantinya, ada wanita itu.

Eunhyuk tertegun ketika melihat Dark-huntress Prancis yang sedang melawan sekelompok Daimon lain tidak jauh dari rumahnya Tupelo. Ia berani dan cepat sewaktu berdansa mengitari para Daimon pria yang berusaha membunuhnya. Gerak geriknya indah dan gesit, seperti tarian yang penuh semangat.

Wanita itu tertawa menantang mereka, dan selama sesaat Eunhyk hampir bisa merasakan semangatnya. Keyakinannya. Semangat hidupnya begitu besar sehingga perasaan-persaannya sanggup menjangkau dimensi-dimensi yang memisahkan mereka dan nyaris menghangatkan Eunhyuk.

Memejamkan mata, Eunhyuk meresapi secercah rasa kemanusiaan yang terbesit itu.

Wanita itu bernama Donhae dan ada sesuatu di dalam dirinya yang hampir menyentuh eunhyuk.

Dan karena suatu alasan yang tidak Eunhyuk mengerti, ia tidak ingin melihat wanita itu mati.

Api itu konyol. Tidak pernah ada yang dapat menyentuh Eunhyuk.

Meskipun begitu, Eunhyuk bisa mendengar suara Leeteuk dibenaknya.

Beberapa dari mereka bisa diselamatkan dan Leeteuk ingin unhyuk memusatkan perhatian kepada mereka. Selamatkan apa yang dapat kau selamatkan, Saudaraku. Kau tidak bisa mengambil keputuan untuk mereka. Biar mereka memutuskan takdir mereka sendiri. Tidak ada yang dapat dilakukan untuk orang-orang yang tidak ma mendengarkan...tapi untuk mereka yang mau...

Usahamu sepadam.

Mungkin, tapi yang paling Eunhyuk cemaskan adalah betapa tidak pedulinya ia tentang apakah mereka akan hidup atau tidak. Tugas. Martabat. Keberadaan. Itulah yang ia ketahui.

Eunhyuk semakin tidak terselamatkan. Sampai berapa lama ia akan menolak untuk menjatuhkan pilihan? Mudah sebenarnya. Datang, habisi mereka, dan pulang.

Untuk apa repot-repot berusaha menyelamatkan mereka kalau para Dark-hunterlah yang mengutuk diri mereka sendiri sejak awal?

Tidak, bagaimanapun Eunhyuk bukan Leeteuk. Kesabarannya sudah lama habis. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada mereka.

Tapi sewaktu Eunhyuk melihat Donghae menghabis Daimon-Daimon yang terakhir, ia merasakan sesuatu. Perasaan itu cepat dan berkelebat, seperti kedutan yang samar.

Untuk yang pertama kalinya dalam waktu berabad-abad. Eunhyuk ingin mengubah apa yang akan terjadi ia tidak tahu mengapa. Mengapa ia harus peduli?.

Mengangkat tangan, Eunhyuk mengenyahkan gambar-gambar itu didindingnya.

Meskipun begitu, Eunhyuk terus melihat masa depan dengan jelas di enaknya. Kalau Donghae terus seperti itu, ia seperti teman-temannya akan mati pada saat krisis penghakimanan yang akan dijatuhkan oleh Eunhyuk. Loyalitas Donghae kepada mereka akan menjadi kematian baginya.

Tapi Donghae bukanlah satu-satunya Dark-huner yang bisa mati dtangan Eunhyuk. Eunhyuk memejamkan mata dan memanggil Dark-hunter lain dibenaknya.

Junsu.

Dark-hunter itu ukan hanya menggariskan kejatuhan dirinya sendiri, melainkan juga bagi semuanya.

Kali ini, kepedihan yang Eunhyuk rasakan begitu kuat. Sungguh tak terduga hingga membuatnya tersentak. Itulah sisa-sisa terakhir dari kemanusiaannya dan ia lega karena masih memilikinya meskipun hanya tersisa sedikit.

Tidak, Eunhyuk tidak bisa hanya berdiri dan melihat pria itu mati. Tidak kalau ia bisa menolongnya.

"Tidak ada yang sunggu-sungguh digariskan oleh takdir. Dalam sekejab mata, segalanya berubah. Walaupun cuaca cerah dan langit tak berawan sepoi-sepoi bisa berubah menjadi angin topan yan menghancurkan segala sesuatu yang tersentuh olehnya."

Sudah berapa kali Leeteuk berkata seperti itu kepada Eunhyuk?

Segala sesuatu kembali terbesit di benaknya dan Eunhyuk ingin mengubah apa yang sudah digariskan.

Aneh rasanya memiliki perasaan-perasaan yang begitu kuat setelah tidak merasakan apa pun selama berabad-abad.

Harapan selalu ada.

Ya, benar. Ia sudah lama melupakan sensasi dari harapan. Hidup terus berjalan. Orang-orang datang dan pergi kematian terjadi. Tragedi. Keberhasilan. Semuanya berputar disana-sini. Tidak pernah ada yang berubah.

Namun kali ini Eunhyuk mersa berbeda. Kibum berubah menjadi Rogue dan membantu para Daimon. Tidak ada yang dapat dilakukan terhadapnya. Dan lebih para lagi, ada yang segera mengikuti jejaknya. Mereka yang mengizinkan Kibum dan Junsu mengaihkan pemikiran mereka dari kebenaran. Para Dark-hunter di Mississippi Utara berkumpul untuk memberontak terhadap Leeteuk dan Artemis.

Itu harus dihentikan.

Dengan tekad bulat, Eunhyuk keluar dari ruangannya dibagian paling selatan istana Leeteuk dan berjalan menyusuri lorong yang disepuh dan terbentang dari ruangannya yang indah ke ruang singgasana yang terdapat ditengah. Lantai marmer hitamnya yang bercorak putih terasa dingin dibawah kakinya yang telanjang. Kalau ia masih manusia, hawa dingin itu pasti sudah merusak tulangnya. Akan tetapi, ia hanya bisa mengetahui suhu udara yang ada, ia tidak bisa benar-benar merasakannya. Namun hawa dingin itu selalu meresap didalam tubuhnya.

Sampai didepan pintu setinggi tiga setengah meter lebih yang terbuat dari emas, ia mendorongnya dan mendapati Leeteuk sedang duduk di singgasananya sementara iblis Leeteuk, Simi, sedang berbaring telengkup diujung seberang ruangan, menonton saluran QVC.

Blis itu, yang mirip dengan wanita manusia yang beusia 20 tahunan, mengenakan pakaian vinil merah. Tanduknya yang selalu berubah serasi dengan pakaiannya dan rambut hitam panjangnya dikepang hingga menyentuh punggungnya. Ada semangkuk popcorn yang sudah setengah kosong dilengannya, sementara ekornya bergoyang-goyang di dekat kepalanya seolah berayun seiring dengan detak jam.

"Akri?" tanya ibli wanita itu. "dimana plastiku?"

Seperti biasa kalau ia beraa dirumahnya di Katoteros, Leeteuk memakai formesta hitam pakaian panjang yang menyerupai jubah dan dibiarkan terbuka dibagian depannya, memamerkan dadanya dan celana kulit hitamnya. Formesta itu terbuat dari sutra yang tebal yan bagian belakangnya disum dengan matahari emas yang ditusukan oleh tiga buah petir berwarna perak tanda yang ditorehkan ke bahu Eunhyuk.

Rambut hitam panjang Leeteuk dibiarkan terurai, tergerai dibahunya. Ia duduk disinggasananya yang disepuh sambil memetik gitar eletrik hitam pekat yang suaranya terdengar jelas tanpa bantuan pengeras suara. Dinding di sebelah kirinya dipenuhi oleh deretan monitor televisi yang semuanya menayangkan film kartun John bravo.

"Aku tidak tahu, Sim."kata Leeteuk dengan acuh tak acuh. "Tanya Eunhyuk".

Setelah Eunhyuk menghampiri singgasana Leeteuk, iblis itu sudah munul disebelahnya, melayang-layang sementara sayap hitam dan merahnya yang besar mengepak-ngepak untuk menompang berat badannya. Warna sayapnya, seperti warna tanduk dan matanya, selalu berubah sesuai dengan suasana hati dan seleranya saat itu. Warna rambutnya juga berubah-ubah, tapi itu tergantung kepada Leeteuk, karenanya warna rambutnya selalu sama dengan Leeteuk.

"Dimana Plastiku, hyuk?

Eunhyuk memandang Simi dengan tatapan sabar tapi tegas. Simi tidak lebih dari seorang anak kevil 9 ribu tahun silam ketika Leeteuk membawanya untuk tinggal disini. Salah satu tugas yang Leeteuk berikan kepada Eunhyuk adalah membantu menjaga Simi dan menjauhkan iblis itu dari masalah.

Ya. Itu nyaris mustahil.

Belum lagi, Eunhyuk merasa bersalah karena sudag memanjakan Simisama seperti Leeteuk. Seperti bosnya, rasanya Eunhyuk idak bisa menahan diri. Ada suatu pembawaan yang menarik, mengemaskan, dan sangat manis alam diri iblis itu. Sesuatu yang membuat Eunhyuk menyayanginya layaknya putrinya sendiri. Diseluruh dunia, Simi dan Leeteuk adalah satu-satunya hal yang masih membuat Eunhyuk merasakan emosi manusia. Ia menyayangi mereka berdua dan rela mati demi melindungi mereka.

Tapi sebagai ayah Simi "yang satu lagi", Eunhyuk tahu ia berutang kepada Simi dan dunia untuk berusaha mengajarkan iblis itu mengendalikan diri.

"kau tidak perlu membeli apa-apa lagi, Simi.'

Jawaban Simi yang mononton terdengar cepat dan otomatis "Ya,perlu."

"Tidak" Eunhyuk bersikeras. "Tidak perlu. Kau sudah punya cukup banyak perhiasan untuk menyibukanmu."

Simi cemberut kepada Eunhyuk sementara mata merahnya menyala-nyala dan ekornya dikibas-kibaskan. "Berikan aku plastikku, Hyuk. Sekarang!"

"Tidak".

Simi merengek, lalu membalikan badan menghadap Leeteuk dan terbang kesinggasananya. Tiba-tiba QVC ditayangkan dimonitor Leeteuk.

"Simi..." Kata Leeteuk. "aku sedang menonton sesuatu."

"Oh, ya ampun, film kartun itu bodoh. Simi mau Diamonique, Akhri, dan dia menginginkannya sekarang!".

Leeteuk melirik Eunhyuk dengan lelah, "Berikan dia kartu kredit".

Eunhyuk memelototin Leeteuk. "dia manja sekali, dia tidak tertolong. Dia harus belajar mengendalikan keinginannya."

Leeteuk mengerutkan dahi kepada Eunhyuk. "dan sudah berapa lama kau berusaha mengajarkan pengendalian diri kepadanya, Eunhyuk?

Itu tidak perlu ditanggapi. Dalam hidup ini ada beberapa hal yang sia-sia. Tapi keabadian sangat membosanan. Berusaha engendalikan Simisering kali menyemarakkannya. "akhirnya aku berhasil menyuruhnya duduk manis didepan TV...Bisa dibilang begitu."

Leeteuk memutar bola matanya. "Ya, setelah berusaha selama 5 ribu tahun. Dia iblis, Hyuk. Pengendalian diri bukanlah keahliannya."

Sebelum Eunhyuk bisa membantah, kotak dimana ia menyimpan kartu-kartu kredit Simi muncul diudara didepan iblis itu.

"Ha!" kata Simi kepada Eunhyuk dengan nada girang sebelum merenggut kotak itu dan membuainya. Kegembiraannya langsung sirna begitu ia menyadari kalau kotaknya dikunci. Ia memelototi Eunhyuk dengan tatapan tajam. "Buka".

Sebelum Eunhyuk bisa menolak, kotaknya terbuka.

"Terima kasih, Akhri!" teriak Simi sambil mengambil kartu-kartunya, lalu melayang pergi dan mengambil ponselnya.

Eunhyuk mendengus muak kepada Leeteuk ketika kotak itu lenyap. "Aku tidak percaya kau melakukannya."

Monitor kembali menayangkan kartun. Leeteuk tidak berkata apa-apa sewaktu memberi pick gitarnya untuk fisantap oleh pterosaurus kecil yang bertengger dilengan kursi singgasananya.

Eunhyuk masih tidak tahu keenam binatang itu selalu sama atau tidak. Yang ia tahu pasti adalah bahwa Leeteuk menyayangi dan memanjakan binatang-binatang peliharaanya dan sebagai Eunhyuk, ia juga begitu.

Leeteuk menepuk-nepuk kepala bersisik makhluk itu saat pretosaurusnya melenggang dan berkicau riang, lalu kembali menunduk dan memandangi gitar Leeteuk.

"Aku tahu mengapa kau ke sini, Eunhyuk." Kata Leeteuk, sementara sebuah pick lain muncul dalam genggamannya. Ia memainkan sebuah kunci nada yang merdu. "Jawabannya tidak."

Eunhyuk memaksi diri untuk mengerutkan dahi padahal ia tidak ingin melakukannya. "mengapa?".

"Karena kau tidak bisa menolong mereka. Junsu sudah lama mengambil keputusan dan sekarang dia harus..."

"Omong kosong!".

Tangan Leeteuk terhenti ditengah alunan nada, lalu ia melototin Eunhyuk dengan marah. Mata peraknya yang berputar-putar berubah warna menjadi merah, memperingatkan bahwa sisi penghancur dalam diri Leeteuk sudah muncul.

Eunyuk tidak peduli. Ia sudah melayani Leeteuk cukup lama sehingga ia tahu atasannya tidak akan membunuhnya karena suatu pembangkangannya. Setidaknya tidak karena sesuatu yang sepele ini. "Aku tau kau tahu segalanya, bos. Aku sudah lama mengetahuinya. Tapi kau juga sudah mengajariku nilai dari kehendak bebas. Memang, Junsu sudah mengambil beberapa keputusan yang buruk, tapi kalau aku mendatanginya sebagai diriku, aku tahu aku bisa membicarakan masalah ini dengannya."

"Eunhyuk..."

"Ayolah, Akhri. Selama lebih 9 ribu tahun belum pernah sekali pun aku meminta bantuanmu. Belum pernah. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja dan melihatnya mati seperti yang lain. Aku harus berusaha. Tidakkah kau tidak mengerti? Kami pernah menjadi manusia bersama. Saudara perjuangan dan memiliki semangat yang sama. Anak-anak kami bermain bersama. Dia mati karena menyelamatkan nyawaku. Aku berutang satu kesempatan kepadanya."

Leeteuk menghela napas dengan lelah sambil mulai memainkan. "Every Rose Has Its Thorn." "Baiklah pergilah. Tapi ketahuilah sewaktu kau melakukan ini bahwa apapun keputusannya, itu bukan kesalahanmu. Aku sudah tahu saat ini akan datang sejak hari ketika dia diciptakan. Dia hendak menjatuhkan pilihannya sendiri. Kau tidak bertanggung jawab atas kesalahannya."

Eunhyuk mengerti. "Berapa lama waktu yang kau berikan kepadaku?"

"Kau tahu batas dari eksistensimu. Waktumu tidak lebih dari sepuluh hari sebelum kau harus kembali. Pada akhir bulan, kau harus enjatuhkan keputusanku kepada mereka."

Eunhyuk mengangguk. "Terima kasih, Akhri."

"Jangan berterima kasih kepadaku, Eunhyuk. Aku mengutusmu untuk melaksanakan tugas yang tidak menyenangkan."

"Aku tahu."

Leeteuk mendongak dan menatap Eunhyuk. Ada sesuatu pada mata peraknya yang berputar-putar yang berbeda kali in. Sesuatu...

Eunhyuk tidak tahu, tapi sesuatu itu membuat sekijur tubuhnya merinding. "Apa?" tanyanya.

"Tidak apa-apa." Leeteuk kembali memainkan gitarnya.

Perut Eunhyuk terasa mulas karena suatu pemahaman. Apa yang diketahui oleh bosnya tapi tidak mau dibagi dengannya?

"Aku benci sekali kalau kau tidak mau memberitahukan sesuatu kepadaku."

Leeteuk tersenyum miring saat mendengarnya. "aku tahu."

Eunhyuk melangkah mundur, bermaksud kembali ke ruangannya, tapi sebelum ia sempat membalikkan badan, ia merasa dirinya berpindah. Pada satu menit ia sedang berada di ruang singgasana di Katoteros dan pada mnit berikutnya, ia sudah berbaring telungkup di jalanan yang dingin dan gelap.

Kesakitan melandanya dengan gelombang rasa nyeri yang membuat napasnya tercekat saat ia merasakan aspal ang kasar dan berbau tajam di wajah dan tangannya.

Sebagai seorang Shades di Katoteros, ia tidak sungguh-sungguh merasakan atau mengalami sesuatu yang senyata ini. Makanan sudah tidak memiliki rasa, semua indranya sudah tumpul. Tapi karena sekarang Leeteuk menempatkannya di dunia manusia...

Aw! Semuanya terasa sakit. Tubuhnya, kulitnya. Terutama lututnya yang terkelupas.

Eunhyuk berguling dan menunggu sampai tubuhnya kembali berada dibawah kendalinya lagi. Selalu ada yang lecet-lecet kalau ia datang kebumi, wakru sesaat baginya untuk membiaskan diri dengan bernapas dan "hidup" kembali. Setelah indra-indaranya terbangun. Eunhyuk menyadari ia bisa mendengar orang-orang bertengkar disekelilingnya. Apa ada pertempurnyaan?

Leeteuk pernah melakukan ini beberapa kali kepadanya sebelumnya. Terkadang enjatuhkannya di tengah kekacauan tanpa emberitahunya terebih dulu memang lebih muda. Tapi yang ini tidak seperti zona peran. Tempat ini mirip dengan...

Gang sempit.

Eunhyuk bangun, lalu membeku ketika menyadari apa yang terjadi. Ada enam Daimon dan seorang manusia yang sedang berkelahi di gang itu. Ia berusaha memusatkan padangannya untuk memastikan, tapi segala sesiatu disekelilingnya masih tampak kabur.

"Oke bos," kata Eunhyuk pelan. "Kalau aku perlu kacamata, tolong tangani, karena aku tidak bisa melihat apa-apa sekarang."

Pandangan Eunhyuk langsung menjadi jelas. " terima kasih. Tapi aku tahu, sedikit peringatkan sebelum kau menjatuhkan bokongku ke sini pati menyenangkan." Ia menyentakan mantel kasmir putih panjangnya. "Omong-omong, apa kau tidak bisa, sekali saja. Menjatuhkanku di La-Z-Boy atau ditempat tidur?"

Eunyuk hanya mendengar tawa keji dan singkat Leeteuk dikepalana. Leeteuk bisa menjad bajingan sejati kalau mau. "Terima kasih banyak." Eunhyuk menghela napas panjang dengan kesal.

Mengalihkan perhatinya pada perkelahian itu, Eunhyuk memfokuskan padangannya ke kelompok yang ada di gang. Manusianya merupakan seorang pria yang pendek, mungkin tingginya tidak lebih dari 162 atau 165 cm dan kelihatannya berusia 20 tahunan. Ketika pria itu membalikan badan ke arahnya dan Eunhyuk melihat wajah itu, ia pun menyadari siapa manusia tersebut. Kim Ryeowook, seorang squire Dark-hunter salah satu orang yang membantu dan menjaga identitas Dark-hunter dari manusia.

Squire seharusnya tidak menghadapi Daimon, tapi squire merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia Dark-hunter, mereka menjadi sasaran empuk.

Tampaknya, malam ini Ryeowook yang mendapat giliran dihajar.

"Lari!" kata Ryeowook kepada Eunhyuk.

Pasti squire itu mengira Eunhyuk juga manusia. Eunhyuk menendang sebilah belati yang tergeletak di jalan dan menangkapnya dengan genggaman tangannya. Menikmati "keaslian" dari perkelahian itu, ia melemparnya tepat ke dada Daimon, yang langsung hancur menjadi serbuk emas. Belatinya terjatuh kejalan dengan bunyi yang gemerincing. Eunhyuk membuka telapak tangannya untuk belati itu, yang segera melesat dari aspal dan kembali ke genggamannya.

Ryeowook melongo melihatnya.

Itu membuat perhatian Eunhyuk teralihkan waktunya salah seorang Daimon berlari menerjangnya dari belaan dan menikamkan belati dalam-dalam ke tengah tulang belikatnya. Mencibir muak, Eunhyuk merasakan tubuhnya hancur. Ia benci hal itu terjadi. Rasanya tidak menyakitkan, melainkan menyebalkan dan menganggu.

Dua detik kemudian, tubuh eunhyuk kembali utuh.

Dengan ekpresi ketakutan, Ryeowook menjauhinya dengan terhuyung-huyung.

Waktu bermain sudah berakhir.

Daimon yang terssa berlari tunggang-langgang, tapi mereka hanya punya waktu beberapa detik sebelum mereka ikut hancur. Hanya saja mereka tidak akan kembali utuh.

Masih tidak senang karena gangguan yang telah mereka timbulkan, Eunhyuk menyentakkan kerah mantelnya.

Daimon... mereka tidak pernah belajar .

Wajah sih squire memucat ketika ia mundur dan memandang dengan nger. "Kau itu apa?"

Eunhyuk mendekati Ryeowook dan menyerahkan belati dalam genggamannya keapada squire iu=tu. "Aku squire Leeteuk." Bisa dibilang itu benar. Oke, tidak juga. Itu bohong, tapi Eunhyuk tidak mau memberitahu hubungannya yang sebenarnya dengan Leeteuk kepada siapa-pun.

Bukan berarti itu penting. Ryeowook tidak mempercayainya. "Yang benar saja. Semua orang tahu leeteuk tidak punya squire."

Ya, benar. Kalau semua orang di dunia mengumpulkan informasi yang benar mengenai Leeteuk. Semua itu tidak apa-apanya. Eunhyuk berusaha untuk tidak menertawai pria malang yang mengira ia memahami dunia disekelilingnya itu padahal sebenarnya ia tidak ahu apa-apa.

"Sepertinya semua orang keliru karena disinilah aku berada, diutus kepadamu oleh sang bos sendiri."

Pemuda berperawakan atletis itu memperhatikan Eunhyuk dari ujung kepala sampai ujung kaki. "mengapa kau datang ke sini?"

"Dark-huntressmu, Donghae. Memanggil leeteuk dan karena dia sibuk aku diutus untuk memeriksa berbagai hal yang melaporkan apa yang terjadi kepadanya. Jadi disinilah aku berada. Bahagia, oh bahagianya hidupku."

Sepertinya itu tidak berhasil menenangkan pria itu sedikit pun, tetapi sarkasme memang jarang menenangkan. Meskipun, kalau mau jujur. Eunhyuk sangat senang menggunakannya. Mungkin itu bagus karena sarkasme adalah bahasa ibu Leeteuk.

"Dan dari mana aku tahu kau tidak berbohong?" tanya Ryeowook, matanya masih memancarkan keraguan.

Eunhyuk memaksakan diri untuk tidak tertawa. Pria itu cerdas. Semuanya memang bohong. Leeteuk tahu persis apa yang terjadi...selalu. Tapi bosnya memang tidak bisa datang sendiri. Tidak bisa karena semua Dark-hunter yang ada di area ini sedang berprasangka terhadapnya. Mereka tidak akan mempercayai kebenaran yang diucapkan Leeteuk.

Kalau mereka harus memilih dengan bijaksana dan menjalani semua ini, mereka harus mendengar yang sebenarnya dari pihak ketiga "yang tidak berat sebelah" dan karena itulah Eunhyuk datang. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan mereka dari kebodohan mereka sendiri.

Itupun kalau kebodohan mereka masih bisa tertolong.

Eunhyuk mengeluarkan ponsel dari kantongnya. "Telpon Leeteuk sendiri dan dengar yang sebenarnya."