Chapter 3
Donghae tidak tahu apa yang harus ia percayai ketika ia pulang dari Aberdeen ke Tupelo. Ia sudah menghabiskan waktu terlalu lama dengan Junsu dan kekuatannya melemah jauh lebih banyak dari yang seharusnya ia biarkan. Ia merasa lemah dan mual, dan sejujurnya, ia hanya ingin berbaring sebentar dan memberi waktu untuk pulih kepada dirinya sendiri.
Yang terutama, ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semua yang mereka katakan kepadanya malam ini. Sejujurnya, Yunho memiliki beberapa argumen yang sangat meyakinkan.
"Kalian sudah dididik bahwa semua Daimon itu jahat dan berkeliaran untuk memangsa manusia. Yah, sekilas berita, yang berada di pihak yang salah itu bukan kami, melainkan Leeteuk. Dia diusir dari dunia kami, Kalosis, karena ibu kami sendiri saja sudah tidak bisa membiarkannya membunuh dengan membabi buta. Karena itulah dia memanfaatkan kalian untuk membunuh kami sekarang. Dia ingin membalas dendam kepada kami."
"Kekuatan kalian melemah saat kalian bersama karena Leeteuk mengambil jiwa kalian dan melahapnya. Karena itulah para Dark Hunter yang pertama diizinkan untuk tinggal bersama. Pada awalnya, jiwa mereka tidak mati. Dia yang menguasainya. Tapi setelah Leeteuk melahap jiwa Junsu... mereka sama seperti kalian semua dan tidak bisa berdekatan tanpa mengeringkan kekuatan satu sama lain."
Tetap saja, itu tidak masuk akal bagi Donghae.
"Entah kau menyukainya atau tidak, Gadis Kecil, jiwa kalian sudah mati. Energi yang menyokong kalian, yang membuat kalian tetap bersemangat, mulai bentrok dengan energi makhluk tak berjiwa lainnya. Menurutmu mengapa kalian tidak kehilangan kekuatan saat berdekatan dengan Daimon? Kami punya jiwa di dalam diri kami, dan jiwa itulah yang membuat kita bisa berdekatan tanpa saling merugikan. Karena itulah kalian bisa berdekatan dengan Leeteuk dan tidak merasa kering dan karena itulah Leeteuk bisa pergi ke kuburan dan tidak dirasuki. Dia tidak seperti kalian, memiliki jiwa curian di dalam dirinya."
Donghae masih ragu. "Itu tidak masuk akal. Bagaimana dengan Nickhun dan Dark Hunter lainnya yang mendapatkan jiwa mereka kembali?"
Jawaban Yunho otomatis. "Mereka tidak mendapatkan jiwa mereka kembali, mereka mendapatkan jiwa orang lain."
Itulah pemikiran yang paling menggelikan. "Ya, benar. Kita semua tahu bahwa setiap kali jiwa memasuki tubuh yang bukan miliknya, jiwa itu akan kering dan mati dalam hitungan minggu. Nickhun sudah mendapatkan jiwanya kembali selama bertahun-tahun sekarang."
Yunho tertawa licik saat mendengarnya. "Itu tidak berlaku kalau jiwanya didapat dari bayi yang belum dilahirkan. Karena itulah Daimon paling menyukai wanita hamil. Kalau kau mengambil jiwa bayi yang belum dilahirkan, jiwanya bisa menyokongmu sampai tubuhmu mati."
Kata-kata itu membuat Donghae ngeri. Berbuat seperti itu adalah suatu kekejian.
la masih tidak yakin itu bisa terjadi.
"Dari mana Leeteuk mendapatkan jiwa seperti itu?" tanya Danger.
"Menurutmu dari mana asalnya medalion-medalion yang dia gunakan untuk mengembalikan Dark-Hunter ke diri manusia mereka? Ibu kami adalah penjaga jiwa." Yunho menoleh kepada Junsu. "Kata Yunani untuk Penghancur' adalah kata Atlantis untuk 'jiwa'. Bangsa kalian berasumsi bahwa Apollymi adalah dewi kehancuran, padahal dia itu penjaga jiwa. Saudaraku menggunakan iblis untuk mencuri jiwa-jiwa itu dari ibuku setiap kali dia membutuhkannya. Kemudian dia mengembalikan jiwa itu kepada beberapa orang dari kalian pada jiwa waktu-waktu tertentu supaya kalian terus mematuhinya. Dia tahu kalian harus memiliki harapan agar kalian tidak mengkhianatinya dan merasa bosan dengan eksistensi dan tugas kalian. Karena itulah kalian harus menemuinya kalau kalian mau bebas. Dia mengarang omong kosong 'Aku harus mengajukan petisi kepada Artemis' padahal sebenarnya yang perlu dia lakukan adalah menyelinap masuk ke kuil ibu kami dan mencuri jiwa yang baru. Percayalah, tidak ada yang namanya mengajukan perisi kepada Artemis."
Semua itu terdengar gila-gilaan.
Kebenaran memang lebih aneh dari fiksi...
Itu benar, dan Donghae tidak bisa melupakan mata itu. Tidak ada seorang pun yang memiliki mata perak yang berputar-putar dan mistis kecuali Leeteuk dan Yunho. Mereka berdua memiliki rambut hitam, yang diubah menjadi pirang oleh Yunho di depan mata kepalanya sendiri.
"Menurutmu mengapa kalian tidak pernah melihat Leeteuk dengan rambut pirang? Dia takut kalian akan melihatnya, lalu kalian akan mengenalinya sebagai Daimon."
Donghae membelokkan mobilnya ke jalan yang mengarah ke rumahnya. Segala sesuatu yang ia percaya tentang dunia Dark-Hunter dan tempatnya di dalamnya sekarang meragukan. Ia membenci Junsu karenanya. Sebagai manusia, ia pernah mengizinkan seorang pria membohonginya dan menghancurkan semua yang ia sayangi .
Apakah ia sudah mengizinkan pria lain untuk melakukan hal yang sama?
Siapa yang Siapa sebenarnya yang bisa ia percayai tidak membohonginya?
"Mengapa kau tidak meminta Yunho membunuhku karena sudah mengkhianatimu?" tanya Danger kepada Junsu setelah Junsu berkata bahwa mereka tahu sudah memanggil Leeteuk untuk melaporkan aktivitas mencurigakan dengan para Daimon yang tengah berlangsung.
Junsu tertawa ketika mendengarnya. "Aku memang mau kau memberitahunya. Karena itulah aku menyuruh Squire ku memberitahu Squire mu tentang perubahanku menjadi Rogue. Percayalah, Donghae,." kata Junsu. "Leeteuk tidak akan datang dan menghadapi kita sendiri. Dia pasti terlalu takut untuk melakukannya."
Yunho membenarkan. "Dia benar. Kau memanggil Leeteuk karena kau mencemaskan fakta bahwa kait mendengar Junsu bekerja sama dengan Daimon dan tidak membunuh mereka. Sekarang Leeteuk akan mengutas bidaknya untuk 'menginvestigasi.' Pria pirang yang mengaku pasti sebagai Squire-nya Leeteuk, padahal semua orang sudah tahu Leeteuk tidak punya Squire. Bukan Squire, dia itu pembunuhnya Leeteuk. Kau akan langsung mengenalinya. Dia akan muncul dengan memakai mantel putih.
Donghae memutar bola matanya kepada mereka. "Mantel putih? Ya, benar. Itu bukan cuma norak, itu bodoh."
"Tidak," kata Junsu. "Putih itu warna berkabung untuk orang Yunani dan Atlantis."
Yunho mengangguk. "Squire gadungan itu sebenarnya malaikat kematian Leeteuk dan dia akan membunuh kalian semua yang mengetahui kebenaran tentang Leeteuk kecuali kalau kita membunuh mereka berdua terlebih dulu."
Membunuh Acheron.
Itu membuat perut Danger mulas sampai terasa sakit. Leeteuk selalu bersikap baik kepadanya. Leeteuklah yang mendatanginya setelah ia menjual jiwanya kepada Artemis untuk membalas dendam kepada suaminya. Leeteuk mengajarinya cara bertarung dan cara bertahan hidup. Leeteuk memperkenalkannya pada dunia ini dengan penuh perhatian.
Atau kelihatannya begitu.
"Dari mana kau tahu kepada Artemi-lah kau menjual jiwamu?" tanya Yunho. "Leeteuk bisa menghadirkan wanita jalang berambut merah mana pun untuk berpura-pura menjadi sang dewi dan siapa yang tahu? Lagi pula, kalian semua belum pernah bertemu dengan Artemis sebelum atau sejak saat kalian menjual jiwa kalian, Percayalah. Artemis sudah lama mari dan wanita yang mendatangi para Dark Hunter adalah pelacur yang sedang dipacari oleh Leeteuk sekarang."
Tapi kalau Yunho benar, Leeteuk ada di belakang ini semua. Leeteuk menciptakan mereka supaya ia memiliki pasukannya sendiri untuk melawan Daimon yang berkeliaran untuk membunuhnya karena sudah menyatakan perang terhadap mereka.
Rasanya itu bukan Leeteuk yang Donghae kenal.
Tapi kalau diingat lagi, Leeteuk yang Donghae kenal memang sangat tertutup sampai terkesan paranoid. Tidak ada seorang pun yang tahu banyak tentangnya. Tidak ada seorang pun.
Leeteuk bahkan tidak mau memberitahukan usianya yang sebenarnya ketika Donghae bertanya.
Lalu Junsu menyatakan sesuatu yang tidak bisa dibantah.
Sepotong bukti yang paling kuat...
"Di sepanjang abad yang sudah kulalui, aku hanya tahu Leeteuk punya seorang teman... Squire New Orleans bernama Kangin yang dulunya melayani Kyrian of Thrace sebelum Kyrian menjadi manusia lagi. Semua orang berasumsi karena persahabatannya dengan Leeteuk, Kangin sama sekali tak teramah. Lalu beberapa bulan yang lalu, tiba-tiba saja, beberapa Daimon membunuh ibu Kangin secara brutal dan Kangin menghilang tanpa jejak, tidak pernah terlihat dan kabarnya tidak pernah terdengar lagi. Aku tahu Leeteuk-lah yang melakukannya, Donghae. Kangin pasti sudah tahu tentang dirinya dan Leeteuk membunuh mereka berdua untuk menutupi rahasianya."
Itu sulit dibantah. Kabar menghilangnya Kangin tersebar di komunitas mereka seperti berita kematian. Kangin terkenal dan disukai oleh banyak orang.
Dan cara ibunya mati...
Brutal dan kejam, seolah ada yang ingin membalas dendam kepada seseorang.
Donghae menggelengkan kepala, berusaha memahami segalanya. "Apa yang kupercayai?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Masalahnya adalah, Donghae tidak tahu. Dan ia tidak mungkin menelepon Leeteuk dan menanyakannya. "Hai, Leeteuk, ini Donghae. Aku ingin tahu apa benar kau mengisap jiwa Cherise Gautier lalu membunuh Kangin untuk membala dendam? Kau tidak keberatan menjawabku, kan?"
Ya, kalaupun Acheron tidak bersalah, ia mungkin marah kalau mendengarnya.
Junsu sudah memanggil para Dark Hunter yang ia anggap dapat dipercaya. Ia dan Yunho berencana akan mengumpulkan mereka di Mississippi sini untuk melatih mereka mengambil jiwa manusia yang jahat, yang menurut Yunho adalah mandat Daimon yang sebenarnya.
"Kami tidak pernah membunuh manusia yang tak berdosa sebelum Leeteuk memaksa kami melakukannya. Pada awalnya, kami hanya memburu orang jahat. Pria wanita yang menghancurkan atau merugikan kaum mereka sendiri dan pantas mati. Sekarang, sering kali kami tidak punya pilihan selain membunuh siapa pun yang kami temui, tidak peduli siapa atau apa pun mereka."
"Begitu kami menampakkan diri, salah seorang anak buah Leeteuk muncul dan berusaha menikamkan pisau ke jantung kami. Kami harus bergerak cepat untuk makan sebelum salah seorang dari kalian membunuh kami. Kami tidak mau menyakiti siapa pun, apalagi Dark-Hunter yang tidak bersalah. Menurutmu, mengapa kami sering kabur saat melihat kalian, bukannya melawan? Kami tahu Dark Hunter tidak bersalah dalam hal ini dan tidak ada seorang pun dari kami yang ingin membunuh kalian karena kalian buta dan tidak tahu apa-apa. Leeteuk-lah yang kami incar, bukan antek-anteknya yang malang."
"Kalian semua sudah diprogram olehnya untuk tidak bertanya apa-apa tentang kami. Tanpa tahu apa-apa, kalian membunuh karena berasumsi kami patut dibunuh, tapi aku berdiri di depanmu, bukan sebagai monster yang berusaha membunuhmu. Aku hanya seseorang, sama sepertimu. Aku mencinta dan aku mendamba. Yang kuinginkan hanyalah hidup tenang dan tidak dipaksa untuk membunuh orang yang tak berdosa."
"Dan mengapa Leeteuk membohongi kalian? Dia takut suatu hari nanti kalian semua akan mengetahui kebenaran tentang dirinya. Kebenaran tentang menjadi seorang Dark Hunter. Kalau kalian membunuh manusia dan melahap jiwa mereka, kalian akan memiliki kekuatan yang Leeteuk miliki. Kalian bisa memiliki kekuatan seorang dewa."
Pasti yunho bohong. Tidak mungkin semudah itu.
Menghela napas, Donghae berbelok ke jalan masuk rumahnya dan berusaha semampu mungkin untuk menjernihkan pikirannya. Ia tidak akan mendapat jawaban malam ini. Kemungkinan besar besok juga tidak.
Ia melihat SUV hijau Ryeowook di garasi. Sial. Ia sedang tidak ingin menjawab lima ribu pertanyaan Ryeowook malam ini. Tidak selagi ia berusaha memahami semua ini.
Setelah turun dari mobil, Donghae masuk ke rumahnya dan meletakkan kuncinya di konter. Rumahnya terasa sunyi dan menyeramkan. Tidak biasanya Ryeowook tidak menyalakan radio keras-keras atau mengobrol heboh dengan temannya di telepon.
"Keller?" panggil Danger, merasa agak gelisah saat ia berjalan ke ruang tamu.
Donghae berhenti di ambang pintu dan mendapati Squire-nya sedang duduk canggung di sofa dan berhadap-hadapan dengan seorang pria asing yang duduk di kursi berlengan Donghae. Yang bisa Donghae lihat hanyalah rambut pirang pria itu. Walaupun begitu, ia tahu pria itu duduk dengan sangat tegak dan formal. Pose yang berwibawa.
"Hei, Donghae," sapa Ryeowook dengan gugup ketika ia melihat Donghae di ambang pintu. "Kita kedatangan tamu. Dia, um... dia Squire-nya Leeteuk."
Donghae merasa ngeri saat mendengar kata-kata Ryeowook. Jantungnya mulai berdebar kencang sementara adrenalinnya terpacu.
Pria itu bangkit berdiri dengan perlahan dan berbalik menghadap Donghae. Pandangan Donghae langsung tertuju ke mantel putih yang pria itu kenakan di atas hitam pekatnya. Hingga gaya berdirinya yang arogan seolah ia menantang Donghae atau siapa pun untuk menanyainya.
Pakaiannya serba hitam, kecuali mantelnya... dan mantel itu dimiliki oleh Squire Leeteuk yang berambut pirang seperti seorang Daimon.
