Chapter 4

Reaksi Donghae terhadap "tamunya" cepat dan otomatis, dan terjadi tanpa ia pikirkan terlebih dulu. Ia menarik belatinya dan melemparnya tepat ke jantung sebelu pria itu.

Yang membuat Donghae kaget, pria itu hancur menjadi serbuk keemasan seperti Daimon.

"Mere de Dieu", bisik Donghae.

Junsu benar. Pria itu...

Sedang memasuki ruangan dari pintu di sebelah kanan Donghae!

Mulut Donghae menganga ketika pria itu melenggang masuk ke ruangan dengan gaya arogan dan tampang tidak senang. Ia menghunjam Donghae dengan tatapan tajam sambil beranjak untuk berdiri di depannya. Belati Donghae terangkat dari lantai, di mana benda itu terjatuh setelah pria itu hancur menjadi debu, dan melayang ke genggaman pria tersebut.

Pria itu mengulurkannya kepada Donghae, gagangnya terlebih dulu. Sudah jelas ia sama sekali tidak takut kalau Donghae menggunakan belati itu kepadanya lagi. "Apa kau bisa berhenti bersikap berlebihan? Aku benar-benar tidak suka melakukannya. Menyebalkan sekali dan merusak kaus yang sangat bagus."

Mulut Donghae masih menganga selagi ia memandangi lubang di kaus turtleneck hitam pria itu di mana belatinya menancap tadi. Tidak ada darah di sana. Tidak ada bekas luka. Tidak ada apa-apa. Tanda merah saja tidak ada Seolah pria itu tidak pernah ditikam sama sekali.

Aku sedang bermimpi...

"Kau ini apa?" bisik Donghae, Pria itu menatap Donghae dengan tatapan datar dan terkesan nyaris bosan. "Yah, kalau kau mendengarkan sebelum menikamku, kau pasti sudah mendengar bagian 'aku Squire-nya Leeteuk.' Rupanya entah mengapa kau tidak mendengarnya dan mengira aku ini bantalan jarum."

Pria ini memang bajingan yang menyebalkan. Donghae memang pantas diperlakukan dengan cara yang menyebalkan kalau melihat bagaimana ia baru saja mencoba membunuh pria itu. Tapi pria itu bisa bersikap lebih pengertian sedikit, apalagi karena, kalau Yunho dan Junsu dapat dipercaya. Ia diutus ke sini untuk membunuh Donghae.

"Dia punya bakat yang hebat, Donghae." Kata Ryeowook dari sofa. "Dia membuat semua Daimon hancur tanpa menyentuhnya, tapi dia tidak au memberitahukan caranya kepadaku."

Donghae mengambil belati dari genggaman Eunhyuk, kemudian tanpa berpikir lagi, menyentuh sobekan kasar di kaus turtleneck hitamnya. Pria itu terasa padat dibaliknya. Nyata. Ada kulit yang dingin di balik kain sutra dan wol dan kulit itu terasa kokoh dan maskulin.

Tapi manusia tidak hancur seperti Daimon dan tidak ada Daiomon yang bangkit setelah mati.

Saat itu juga, Donghae merasa takut terhadap pria itu terlalu lama dan kengerian bukanlah sesuatu yang dirasakan oleh Lee Donghae. Belum pernah.

Eunhyuk mengertakkan gigi karena sensasi yang gelap ditata ditimbulkan oleh jemari lembut Donghae di kulitnya. Tubuhnya terbangun saat ia memperhatikan Donghae mengamatinya seperti seorang ilmuwan dengan eksperimen lab yang gagal. Donghae sangat pendek untuk ukuran seorang Dark-Hunter yang berarti Artemis pasti menyukai wanita itu karena suatu alasan yang tidak biasa. Sang dewi Namun lebih memilih untuk menciptakan Dark-Hunter yang Dan sama tinggi dengan Daimon yang mereka lawan.

Tidak lebih dari seratus lima puluh lima atau baru, usia seratus lima puluh delapan sentimeter, Donghae bertubuh mungil dan atletis. Akhir-akhir ini Eunhyuk sering melihatnya melalui sfora selagi ia mengawasi apa yang sedang dilakukan oleh para Dark-Hunter Mississippi.

Ada sesuatu dari diri Donghae yang menarik perhatian Eunhyuk. Sifat lugu yang sepertinya masih ada di dalam dirinya. Sebagian besar Dark-Hunter menjadi apatis karena pengkhianatan dan kematian yang mereka alami sebagai manusia, dan karena tugas mereka. Tapi yang satu ini... Kelihatannya Donghae menghindari kesinisan yang sering dihadirkan oleh kehidupan abadi.

Tentu saja, Donghae masih muda kalau dalam usia Dark Hunter.

Tapi akan disayangkan kalau Donghae sampai kehilangan semangat yang memberinya kemampuan untuk terus menikmati keabadiannya. Betapa Eunhyuk berharap ia bisa merasakannya juga. Tapi waktu yang terlalu lama dan kurangnya harapan sudah merenggut semangat itu darinya.

Rambut Donghae yang berwarna cokelat kemerahan gelap ditata menjadi kepangan panjang, menjuntai sampai ke punggungnya, tapi beberapa helai terlepas dan membingkai wajah pucatnya dengan menarik. Wajahnya bak malaikat dan lembut. Kalau bukan karena pembawaan dan kepercayaan dirinya, ia pasti sudah terlihat lemah.

Namun tidak ada yang terkesan lemah dalam dirinya. Donghae bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik dan Eunhyuk tahu itu. Sebagai salah seorang Dark-Hunter baru, usia Danger baru beberapa ratus tahun dan ia mati ketika berusaha menyelamatkan beberapa anggota keluarganya yang berdarah biru dari guillotine di Prancis pada masa revolusi. Ia membebankan tugas penting itu kepada dirinya sendiri, dan kalau tidak dikhianati, ia pasti sudah berhasil.

Belum lagi wanita itu memiliki bibi paling menggoda yang pernah dilihat oleh Eunhyuk. Penuh dan ranum, bibirnya merupakan jnis bibir yang dimimpikan pria pada malam hari. Bibir itu memanggil-manggil Eunhyuk sekarang dengan godaan dan janji akan surga kenimkatan murni.

Aroma tubuh Donghae juga seperti bunga magnolia yang manis dan feminim.

Sudah dua ratus tahun berlalu sejak Eunhyk merasakan kenikmatan dari tubuh wanita untuk yang terakhir kalinya. Dan ia harus berusaha keras agar tidak menundukan kepala dan membenamkan wajahnya di leher Donghar yang halus dan lembut, lalu menghirup aroma wanita itu. Merasakan kelembutan kulit Donghae dibibirnya yang rakus sementara ia mengecap kelenturannya.

Oh, merasakan tubuh mungil Donghae menempel ke tubuhnya, apa lagi saat mereka berdua telanjang..

Tapi kalau dipikir lagi mengingat reaksi pertama Donghae terhadapnya kehadirannya menurut Eunhyuk reaksi Donghae terhadapnya tidak akan jauh lebih baik kalau wanita itu dicabuli olehnya.

Sayang sekali.

Donghae menelan ludah karena kengerian yang mendadak muncul sewaktu ia memandangi pria yang berdiri di depannya. Pria itu sama seperti yang digambarkan oleh Yunho sampai ke mantel kasmir putihnya.

Semua itu benar. Semuanya.

Pria itu penghancur pribadi Leeteuk yang datang membunuh mereka karena sudah menentang otoritas Leeteuk. Tiba-tiba Donghae merasakan keinginan untuk membuat tanda salib, tapi menahan diri tepat pada waktunya. Hal terakhir yang ingin ia lakukan adalah memberitahu pria itu kalau ia takut kepadanya.

Ibu Donghae yang beragama Katolik dan sangat percaya yang beragama pada takhayul selalu memberitahunya ketika ia masih kecil bahwa iblis memiliki wajah yang mirip dengan malaikat. Dalam kasus ini, itu benar sekali. Tanpa diragukan lagi, ria di depan Danger merupakan contoh terbaik dari kaumnya. Rambut pirang gelap pria itu diselingi oleh warna keemasan dan menyentuh ujung kerahnya. Ia menata rambutnya dengan gaya kasual dan menyisirnya ke belakang dari wajahnya yang sangat maskulin. Pipinya irup yang terpahat dengan baik dihiasi dengan cambang yang belum dicukur selama dua hari dan menambahkan kesan buas dan sangar kepadanya.

Seperti Donghae, mata pria itu berwarna hitam layaknya seorang Dark-Hunter, namun Donghae merasakan kalau pria tersebut bukan salah seorang dari mereka. Pertama, pria itu tidak mengeringkan kekuatan Dark-Hunter Donghae.

Ada aura kekuatan besar dan bahaya mengancamk yang terpancar dari diri pria itu. Auranya merambat dan mendesis di udara di sekeliling mereka dan membuat bulu kuduk Donghae meremang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Donghae, memaksa diri untuk tidak menunjukkan apa-apa selain ketenangan. Walaupun lemparan belatinya yang mungkin sudah memberitahu kalau ia tidak terlalu keberadaan pria itu.

Ya, itu langkah yang cerdas. Donghae ketika keras agar ia tidak memutar matanya ketika teringat betapa ia menunjukan apa yang ia ketahui tentang pria itu. Ia hanya berharap supaya ia tidak hidup atau mati untuk menyesalinya.

Senyuman pria itu cerdik dan meresahkan. "Kau mengundangku."

Apa itu menegaskan kalau Leeteuk adalah seorang Daimon? Tidak ada Daimon yang bisa masuk ke rumah tanpa diundang.

Bagaimanapun juga, Donghae tidak siap menyambutnya... belum. "Aku mengundang Leeteuk ke sini. Bukan kau. Aku bahkan tidak tahu kau siapa."

Pria itu tidak ragu-ragu menjawab Donghae. "Eunhyuk." Suaranya berat dan berwibawa. Hanya ada sedikit aksen asing di sana, tapi Donghae tidak tahu dari mana pria napas itu berasal.

"Eunhyuk..." desak Donghae, bertanya-tanya apa nama empat belakang pria itu.

Pria itu tidak mau memberitahu. "Eunhyuk saja."

Ryeowook bangun dari kursinya dan bergabung dengan mereka. "Leeteu mengutusnya ke sini selama beberapa minggu untuk menelaah apa yang kau katakan tentang Dark Hunter Rogue."

Donghae mengerutkan dahi kepada Ryeowoo. "Apa itu Eunhyuk katakan kepadamu?"

Ryeowook menegang seolah menyadari oleh ia sudah melakukan sesuatu yang salah. "Yah, begitulah tapi aku sudahmenelepon Leeteuk dan dia membenarkannya."

Pintar, Ryeowook tidak menelan mentah-mentah kata- kata pria itu. "Apa ada lagi yang Leeteuk katakan?

"Hanya untuk percaya kepada Eunhyuk."

Ya, benar. Sebagaimana Danger akan memercayai kobra gelisah yang ada di dekat kaki telanjangnya.

Donghae menyarungkan belatinya sebelum bicara dengan Eunhyuk lagi. "Yah, sepertinya aku terlalu cepat bicara. Aku memeriksa masalah Rogue itu sendiri tadi malam dan semuanya baik-baik saja, jadi silakan kembali kepada Ash sekarang."

Mata gelap Eunhyuk disipitkan sewaktu ia menata Donghae. "Mengapa kau berbohong kepadaku?"

"Aku tidak berbohong."

Eunhyuk menundukkan kepala supaya suaranya yang pelan hanya bisa didengar oleh Donghae. Kedekatan pria itu membuat sekujur tubuh Donghae merinding sementara napasnya mengembus ke kulit Donghae. "Asal tahu saja, Donghae, aku bisa mencium kebohongan dari jarak empat belas kilometer."

Donghae mendongak dan melihat rasa penasaran mendalam di... Ia mengerutkan dahi. Sudah tidak hitam, mata Alexion berubah warna menjadi hijau kecokelatan yang aneh dan bercahaya.

Sebenarnya pria itu apa?

Eunhyuk menghunjam Donghae tatapan tajam dengan yang sudah pasti di harapkan dapat mengintimidasi Donghae. Tidak berhasil. Donghae tidak mau diintimidasi siapa pun atau apa pun. Ia menjalani keabadiannya sebagaimana ia menjalani kehidupan manusianya dan dibutuhkan lebih dari orang ini untuk membuatnya gemetar ketakutan Hal terburuk yang dapat Eunhyuk lakukan adalah membunuhnya, an karena Donghae sudah mati...

Yah masih ada yang lebih buruk lagi, mungkin.

Ketika Eunhyuk bicara lagi, suaranya tidak lebih dari geraman primitif. "Pertanyaanku yang sebenarnya adalah mengapa kau melindungi Rogue-mu?"

Donghae menjauh tanpa menjawab. "Ryeowook? Apa aku bisa bicara empat mata denganmu?"

Eunhyuk tertawa singkat ketika mendengarnya. "Aku akan meninggalkan kalian berdua supaya kau bisa memberitahu betapa kesalnya kau karena dia sudah mengizinkanku masuk." Ia berjalan ke lorong mengarah ke kamar tamu.

Donghae mengertakkan gigi. Jangan bilang Ryeowook sudah menyediakan kamar untuknya dirumahku!

Seharusnya Ryeowook lebih pintar dari itu. Bagaimana mungkin ia berbuat seperti itu tanpa berkonsultasi dengan Donghae? Sudah, Ryeowook sudah tamat, dan kali ini aku tidak bersungguh-sungguh.

Donghae menunggu sampai ia yakin Eunhyuk sudah meninggalkan mereka berdua dan merendahkan suaranya supaya Eunhyuk tidak bisa mendengar mereka. "Apa sebenarnya yang terjadi malam ini? Kau kelihatan seperti habis dihajar habis-habisan."

"Memang. Aku berpapasan dengan sekelompok Daimon, dan sewaktu aku menyuruh mereka mundur mereka berkata bahwa mereka tak terkalahkan sekarang. Mereka berkata bahwa mereka bekerja sama dengan para Dark-Hunter dan kalau mereka mau melahap Squire itu sah-sah saja.

Amarah menggelegak di dalam diri Donghae karena mereka berani menghajar Squire nya. "Mereka menyerangmu?"

Ryeoook memandang Donghae dengan tatapan sinis. "Tidak, aku menghajar diriku sendiri. Menurutmu bagaimana?"

Donghae mengabaikan sarkasme Ryeowook saat ia menyadari mengapa TV plasma nya tidak bersuara ketika ia masuk TV-nya sudah hancur.

"Apa yang terjadi dengan TV itu?"

Ryeowook melihatnya dan mengangkat bahu. " tidak banyak bicara, jadi aku menggonta ganti saluran etelah kami kembali supaya ada suara yang meramaikan rumah ini. Semuanya baik-baik saja hingga aku berhenti di saluran QVC untuk melihat kamera dan perekam keren yang sedang mereka iklankan, dan hal berikutnya yang aku tahu, TV-nya sudah meledak. Aku tidak yakin TV-nya yang bermasalah atau Eunhyuk tidak menyukai QVC."

Syukur kepada Tuhan dan orang-orang sucinya karena Squire Donghae tidak ikut meledak.

"Dan Eunhyuk pergi ke mana barusan?" tanya Donghae

"Aku menempatkannya di suite tamu yang kau bilang digunakan oleh Leeteuk setia kali dia berkunjung."

Danger mengepalkan tangannya agar tidak mencekik Ryeowook. "Aku mengerti."

Ryeowook mengerutkan dahi saking cemasnya. "Aku tidak berbuat salah, kan? Kukira aku melakukan apa kau mau aku lakukan. Kau tidak ada disini, jadi aku tidak bisa menayakan kepadamu. Apa kau marah kepadaku?"

Ya, tapi Donghae tidak ingin membahasnya dengan Ryeowook. ini, kalau Ryeowook tetap tidak tahu menahu tentang semua ini, mungkin Eunhyuk tidak akan membunuhnya.

Bagaimanapun juga Donghae tidak mau membahayakan Ryeowook. Tidak sepertinya, Ryeowook adalah makhluk fana dengan keluarga yang sangat menyayanginya.

"Tidak apa-apa, Manis. Mengapa kau tidak pulang saja sebelum hari bertambah larut?"

Untungnya Squire-nya tidak membantah dan Ryeowook sudah terlalu tegang sehingga tidak mendengar sekilas adala getar ketakutan yang ada pada suara Donghae. Kalau Eunhyuk ingin bertarung, Donghae mau Ryeowook keluar dan dari sini dan pulang rumahnya yang aman.

"oke, Donghae Sampai jumpa besok malam."

"Ahh..." Donghae mengelak saat mendengarnya. "Mengapa kau tidak cuti saja selama beberapa hari? Kunjungi saudarimu di Montana."

Kerutan di dahi Ryeoook bertambah dalam. "Mengapa?"

Donghae memaksa dirinya tersenyum kepada Ryeowook. "Ada Squire-nya Leeteuk di sini. Pasti dia bisa..."

"Entahlah," kata ryeowook, mengerutkan hidungnya. "Kelihatannya dia baik-baik saja, tapi rasanya aku tidak mau pergi jauh-jauh dari rumah, hanya untuk berjaga jaga. Kau tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi."

"Ryeowook..."

"Jangan macam-macam denganku, Donghae. Mandat nomor satuku adalah menjagamu. Aku memang manusia, tapi aku Squiremu dan itu mencakup semua risiko yang menyertai posisi tersebut. Oke? Aku dibesarkan dalam dunia ini dan aku tahu tentang semua hal menyeramkan yang terkadang menyusul. Aku tidak akan meninggalkanmu kalau kita tidak tahu apa yang akan terjadi selain bahwa ada yang bekerja sama berita aneh Daimon. Aku mendengar terlalu banyak berita aneh akhir-akhir ini sehingga tidak mungkin pergi tanpa alasan yang jelas."

Donghae tidak bisa membantahnya. Loyalitas Ryeowook menghangatkan hatinya, dan karena itulah untuk semua ini berakhir, ia akan meminta Squire baru untuk menggantikan Ryeowook. Hal terakhir yang ia inginkan terikat secara emosional terhadap seseorang, apalagi seseorang yang akan meninggal karena usia tua dan membuatnya merana.

Donghar sudah kehilangan terlalu banyak orang sayangi dalam hidupnya sehingga tidak sanggup kehilangan siapa-siapa lagi. Dewan Squire mengetahuinya, dan sejak hari? hari ketika ia bergabung dengan pasukan Dark-Hunter, ia tidak pernah memiliki seorang Squire selama lebih dari lima tahun.

Dan tidak pernah memiliki Squire yang sudah punya anak. Ada beberapa luka yang tidak boleh diusik.

"Baiklah," kata Donghae dengan pelan kepada Ryeowook. "Pulanglah dan aku akan menghubungimu.

Ryeowook mengangguk, lalu mengambil jaket tipisnya dan pergi.

Bersyukur karena kali ini Ryeowook mau mendengarkan, Donghae menarik napas dalam-dalam sambil berjalan menuju kamar Eunhyuk. Ia benar-benar tidak menginginkan Eunhyuk di sini, tapi apa lagi yang dapat ia lakukan?

Dekatilah temanmu dan dekatilah musuhmu lebih dekat.

Selama Eunhyuk di rumahnya Donghae bisa mengawasi gerak-gerik pria itu dan melihat apa yang dEunhyuk lakukan. Belum lagi, ia masih belum yakin sepenuhnya terhadap Junsu dan agenda Dark-Hunter ini itu. Ia sudah mendengar banyak hal aneh belakangan termasuk rumor tentang beberapa Dark-Hunter lokal yang meminum darah manusia. Setahunya, Junsu adalah salah satunya dan sekarang sedang membujuknya dengan alasan yang hanya diketahui oleh pria itu.

Sebelum mendapat lebih banyak informasi tentang semua ini, Donghae akan bermain dengan tenang dan melihat apa yang terjadi dengan mata kepalanya sendiri. Tapi selagi ia memikirkannya, hawa dingin merambat di tubuhnya. Eunhyuk memiliki kekuatan-kekuatan luar biasa yang Donghae tidak yakin bisa ia lawan.

Bagaimana mungkin seorang wanita membunuh seorang pria yang tidak berdarah?