Chapter 6
Di ujung lorong lantai atas rumahnya, Donghae membuka pintu kamar tamu dan mendapati Eunhyuk sedang mengamati telur Faberge yang ia koleksi. Donghae mulai mengoleksi empat puluh tahun silam karena telur-telur itu mengingatkannya pada telur-telur Malowanki yang selalu ayahnya bawakan untuknya setelah pulang dari perjalanan tahunan ke Prusia untuk mengunjungi neneknya. Hingga tahun kematiannya, Ibunya selalu memastikan ia membuat telur Malowanki bagi mereka semua untuk mengingatkan mereka pada garis keturunan Prusia mereka dan keindahan Paskah.
Tidak satu pun telur berwarna-warni dan berharga yang Donghae jaga dengan sangat berhati-hati saat menjadi manusia itu selamat. Menyebutnya sebagai tingkah bangsawan yang tidak berguna, dengan senang suaminya menghancurkannya setelah ia meninggal.
Betapa Donghae membenci pria itu. Tapi terutama, ia membenci dirinya sendiri karena sudah percaya kepada seseorang dan mengizinkan orang itu memperdayainya habis-habisan.
Donghae tidak akan bersikap sebodoh itu lagi.
Menyipitkan mata ketika melihat Eunhyuk, Donghae membuka pintu lebih lebar lagi untuk memperhatikannya sewaktu Pakaian modern Eunhyuk kelihatan tidak cocok berada di kamar yang Donghae dandani hingga menjadi sama persis dengan kamar yang ia tiduri saat ia dibesarkan itu. Tempat tidur Baroque buatan tangan tersebut diimpor dari Paris dan dipenuhi dengan bantal dan selimut merah darah juga emas. Kain emas menjuntai dari kanopinya yang dilapisi dengan bantal. Ia menghabiskan banyak waktu untuk memilih barang-barang antik untuk ruangan ini.
Itu merupakan sisa-sisa dunianya dan bisa dibilang sebuah kapsul waktu. Di sini terkadang ia berpikir ia bisa melihat ayahnya sekilas... sayup-sayup mendengar suara tawa adik lelaki dan perempuannya.
Mon Dieu (ya tuhan), betapa ia merindukan mereka semua.
Duka melanda Donghae, tapi ia meredamnya. Tidak perlu menangis. Ia sudah mencucurkan cukup banyak air mata untuk mengisi Atlantis selama berabad-abad ini.
Masa lalu adalah masa lalu dan ini masa kini. Air mata tidak akan mengembalikan keluarga dan air mata tidak akan mengubah kehidupannya dalam hal apa pun. Yang dapat ia lakukan hanyalah melangkah ke depan dan ke atas, dan memastikan tidak ada yang dapat memperdayainya lagi.
Sekarang ini, Eunhyuk adalah masa kini dan pria itu musuhnya.
Eunhyuk berdiri di depan meja rias yang bergaya Neoklasikal, berhati-hati menggenggam telur dengan tangannya yang besar seolah ia memahami betapa Donghae menyayangi koleksinya. Di luar kehendaknya, Donghae tertegun karena kelembutan dari sentuhan Eunhyuk sewaktu pria itu menutup telur dan mengembalikannya ke penopang.
Eunhyuk tampak sangat tampan saat berdiri di sana dan tubuh Donghae bereaksi terhadap pria itu dengan intensitas yang membuatnya terkejut. Tidak biasanya Donghae tertarik kepada orang yang baru ia temui. Selain aktor seksi yang ada di film atau majalah, biasanya ia harus mengenal seorang pria cukup lama sebelum merasakan gairah yang kuat dan menggebu terhadap tubuh pria itu. Itu pun kalau ia bisa merasakan gairah terhadap si pria. Sering kali, ia bisa menerima atau menolak pria mana pun.
Tapi ia benar-benar ingin mengulurkan tangan dan menyentuh Eunhyuk. Dan itu tidak pernah terjadi.
Eunhyuk merasakan kehadiran Donghae seperti belaian semua nya yang panas. Seolah wanita itu menyentuh jiwanya setiap banyak kali mendekatinya. Sesuatu yang benar-benar mustahil karena ia sudah tidak memiliki jiwa selama lebih dari sembilan ribu tahun.
Donghae takut kepadanya dan kesal kepada dirinya sendiri karena ketakutan itu Eunhyuk bisa merasakan jauh di dalam dirinya sendiri. Tapi Donghae berusaha keras untuk menyembunyikannya.
Bagaimanapun juga, Donghae cukup bijaksana kalau merasa takut kepadanya. Eunhyuk bisa membunuh Donghae dalam sekejap mata. Namun ia tidak ingin menyakiti wanita itu.
Karena suatu alasan yang ganjil, Eunhyuk bahkan tidak ingin Donghae takut kepadanya, dan ia belum pernah mengalami sebelumnya. Biasanya kalau ia sedang berada dalam wujud manusia, Eunhyuk akan memanfaat yang kan ketakutan itu demi keuntungannya sendiri untuk mengintimidasi para Dark-Hunter dan mengendalikan mereka. Ia memiliki kekuatan seorang dewa di dalam dirinya. Kemampuan untuk mencabut nyawa mana pun yang ia kehendaki...
Eunhyuk bisa mendengar dan melihat berbagai hal berada jauh luar pemahaman manusia, Apollite ataupun Dark Hunter.
Namun di sanalah Eunhyuk berdiri, hanya ada satu hal yang bergema dibenaknya suara tawa Donghae. Ia pernah mendengar Donghae tertawa tadi malam sewaktu wanita itu melawan para Daiomon. Suara merdu dan menggoda yang keluar dari dalam hatinya. Tulus
Eunhyuk ingin mendengarnya lagi. "Aku tidak ingin menyakitimu, Donghae." Di luar kehendaknya, tubuh Danger menegang.
Dari risetnya tentang laun belakang Donghae, ia tahu bahwa Donghae diberi nama seperti nenek dari Eleanor of Aquitaine yang dikagumi oleh ibunya. Seorang duchess ternama yang menjalani hidup sesukanya dan mengabaikan peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat. Nama itu sesuai dengan wanita mungil yang berdiri di depan Alexion.
"Dan asal tahu saja, aku tidak takut kepadamu." ungkap Donghae.
Eunhyuk tersenyum saat mendengar kata-kata Donghae yang berani. Donghae memang tangguh, bukan wanita sembarangan, dan Eunhyuk bertanya-tanya apakah Donghae juga seperti itu ketika menjadi manusia. Tapi entah mengapa Eunhyuk meragukannya. Dunia di mana Donghae dilahirkan tidak menolerir kepribadian keras dari jenis kelamin yang dianggap lebih rendah.
Pasti mereka menentang sifat pembangkang Donghae, bukan menerimanya.
Donghae memasuki kamar. Tatapan mata gelapnya menghunjam sewaktu mencari-cari kelemahan Eunhyuk.
Semoga beruntung, Ma Petite. Aku tidak punya kelemahan,
"Jadi apa ceritamu?" tanya Donghae. "Kau bilang kau Squire-nya Leeteuk. Kau Blue Blood, Blood Rae, atau apa?"
Eunhyuk menahan senyum saat mendengar peranyaan Donghae. Blue Bood adalah Squire yang berasal keluarga yang sudah menjadi Squire selama bergenerasi generasi. Blood Rite adalah Squire yang ditugaskan untuk memastikan peraturan-peraturan dalam dunia mereka ditegakkan. Mereka menjaga Dark-Hunter dan membentuk kesatuan polisi bagi Squire lainnya. Tentu saja, ia sudah melayani Leeteuk sejak sebelum Dewan Squire ada. Ia bukan Squire sungguhan. Ia Eunhyuk-nya Leeteuk.
Singkat kata, Eunhyuk akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi Leeteuk dan Simi. Dan ia bersungguh-sungguh dengan 'apa pun'.
Eunhyuk tidak punya hati nurani. Tidak punya moral. Dalam dunianya, satu-satunya kebenaran yang ada adalah kehendak Leeteuk. Kebendak Leeteuk menganut segala sesuatu tentang dirinya. Ya, ia bisa dan pernah membantah Leeteuk sesekali, tapi pada akhirnya. Ia pelindung Leeteuk. la akan selalu melakukan apapun yang terbaik untuk Leeteuk tanpa memedulikan dampak pribadi maupun fisik yang akan ia terima.
Namun Eunhyuk tidak bisa memberitahu statusnya yang sebenarnya kepada Donghae. Hanya dirinya, Simi, dan Leeteuk yang boleh tahu tentang hubungan sebenarnya yang ia miliki dengan bosnya.
"Aku barnacle chip," jawab Eunhyuk dalam bahasa tidak resmi Squire, artinya Leeteuk merekrutnya untuk menjadi Squire. Bisa dibilang, itu hampir benar.
"Sudah berapa lama kau melayaninya? Eunhyuk tertawa singkat saat mendengarnya. "Kadang kadang rasanya sudah selamanya."
Mata gelap Donghae berkilat curiga dan cerdik ketika mendengar Eunhyuk. Ia jauh terlalu cerdas untuk kebaikannya sendiri. Dan jauh terlalu seksi untuk kebaikan Eunhyuk.
Donghae masih belum selesai menginterogasi Eunhyuk saat ia mendekati pria itu... begitu dekat sehingga sekarang Eunhyuk bisa mencium aroma tubuhnya. Aroma Donghae yang manis merasuk ke benak Eunhyuk dan memunculkan gambar-gambar Donghae yang sedang telanjang dan pasrah di tempat tidurnya.
"Bagaimana caranya kau melakukan trik sederhana dengan belati itu di mana kau muncul kembali setelah aku menikammu?"
Salah satu ujung bibir Eunhyuk terangkat ketika mendengar pertanyaan Donghae dan ia bergerak semakin dekat supaya bisa mencium aroma rambut dan kulit Donghae. Aroma itu menyelimutinya seperti wiski hangat, mengejutkan dan menggugah.
Aroma itu membuat darah Eunhyuk panas, kejantanannya menegang.
"Tanyakan apa saja yang tebersit di benakmu, Donghae." kata Eunhyuk, suaranya bertambah rendah karena hasrat. "Aku tidak suka bermain-main. Kita sama-sama tahu aku bukan manusia, jadi mari hentikan basa-basinya selagi kau mengendap-endap didekatku dan berusaha mengungkapkan jati diriku."
Sepertinya Donghae menyukai sikap blak-blakan Eunhyuk, meskipun ia bergidik karena kedekatan pria itu. Ia mendongak untuk membuat Eunhyuk merasakan bulu matanya. Tatapan itu membuat Eunhyuk merasakan berbagai hal yang sudah lama tidak ia rasakan. Sebenarnya Eunhyuk tidak mau Donghae bingung dan ragu. Ia ingin menenangkan Donghae dan itu sangat mengejutkannya.
"Apa kau datang untuk menjadi mata-mata Leeteuk?"
Eunhyuk tertawa karena pemikiran itu. "Tidak. Percayalah, dia tidak perlu menyuruh orang untuk menjadi mata-matanya. Kalau ingin mengetahui sesuatu, dia pasti mengetahuinya."
Eunhyuk membutuhkan segenap pengendalian dirinya agar tidak mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Donghae untuk mencari tahu apakah kulit Donghae selembut yang kelihatan. Kulit tampak tak bercela dan menggoda. Pasti akan di terasa lebih lembut lagi di lidahnya...
"Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang kukatakan, Donghae. Leeteuk bisa mencari tahu tentang berbagai orang sendiri. Menjadi mata-mata adalah hal terakhir yang akan dia perintahkan kepadaku."
Donghae menjadi sangat kesal karena ketertarikann terhadap pria ini dan penolakan Eunhyuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya, la tidak tahu ia harus mencium atau menendang Eunhyuk.
Tatapan Eunhyuk yang panas seperti membakar, Meresahkan. Tatapannya begitu intens sehingga Donghae hampir bisa merasakan tangan Eunhyuk di tubuhnya.
Donghae merasakan keinginan yang tidak bisa dijelaskan untuk mencumbu Eunhyuk. Menahan napas, ia memutuskan untuk memanfaatkan hasrat Eunhyuk untuk melawan pria itu sendiri. Ia berjinjit dan mendekat kepada Eunhyu sehingga pipi mereka hampir bersentuhan. Ia melihat Eunhyuk memejamkan mata dan terengah.
Ketika Eunhyuk tidak menjauh, Donghae berbisik di telinganya "Mengapa sebenarnya kau datang kesini?"
Suara Eunhyuk rendah dan berat saat ia menjawab. "Untuk melindungimu."
Donghae tidak akan lebih kaget lagi kalau Eunhyuk bicara blak-blakan dan mengaku kalau ia adalah penghancur Leeteuk. Donghae menjauh dari Eunhyuk dan menciptakan pipi jarak di antara mereka. Berpikir dengan jernih terasa sulit kalau seorang pria menatapnya seperti sedang tak membayangkannya telanjang. "Melindungiku dari apa?"
Mata hijau yang menakutkan itu masih menghunjam Donghae dengan hasrat yang intens. "Orang-orang yang ingin melihatmu mati. Kau berada dalam bahaya, Donghae. Orang yang berubah menjadi Rogue akan langsung membunuhmu kalau tahu kau sudah mengkhianatinya."
Lucu, Junsu ternyata sangat pengertian dalam hal itu.
"Dia tidak bisa membunuhku dan kau tahu itu. Dark-Hunter tidak bisa melukai sesamanya."
Alexion mengerutkan dahi saat mendengar Donghae. "Kau benar-benar memercayainya? Tidak ada yang menyatakan bahwa Dark-Hunter tidak bisa memborgol sesamanya ke gedung, mobil, ataupun benda lainnya, dan meninggakan mereka diluar sampai matahari terbit. Kalian tidak bisa saling melukai, benar. Tapi ada banyak cara untuk mengekpos musuh kalian dibawah sinar matahari tanpa membahayakan diri kalian sendiri."
Oh, celah itu belum tebersit di benak Donghae. Tapi jelas sudah di benak Eunhyuk.
"Dan bagaimana cara kau mendapatkan informasi ini? Ada berapa banyak Dark Hunter yang kau tinggalkan di bawah sinar matahari setelah mereka percaya kepadamu?
Eunhyuk tertawa getir. "Kalau aku menginginkan kematianmu atau seseorang, Donghae, aku tidak perlu menunggu matahari."
"Jadi kau mau melindungiku dari apa?"
Eunhyuk memalingkan wajahnya dari Donghae. "Aku tidak bisa memberitahukannya kepadamu."
"Cobalah."
"Tidak," kata Alexion sambil mengertakkan gigi. "Kalaupun aku memberitahumu kau tidak akan percaya kepadaku,."
Mereka menghadapi jalan buntu. Donghae tidak akan percaya kepada Eunhyuk sebelum Eunhyuk memberitahu alasan untuk sebelum Eunhyuk memberinya untuk percaya dan mungkin sesudahnya pun tidak dan hal yang terakhir yang ia inginkan adalah seseorang pria yang tidak bisa ia percayai dirumahnya. "Kalau begitu, apa kau mengerti kalau aku memintamu inap di hotel selagi kau menjadi mata-mata Leeteuk di sini?"
Dengan ekspresi geli, Eunhyuk tertawa singkat dan dan sinis. "Kau bertemu dengan Junsu tadi malam dan dia berusaha memengaruhimu untuk bergabung dengan pemberontakannya. Apa kau percaya kepadanya?"
Dari mana Eunhyuk tahu? Donghae tidak pernah mengumumkannya. Astaga. Kelihatannya Eunhyuk sama maha tahunya dengan Leeteuk dan itu mulai membuat Donghae kesal. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
Eunhyuk menghilangkan jarak yang memisahkan mereka. Keberadaannya di kamar itu seperti raksasa, ercaya sangat kuat namun anehnya menenangkan. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang memancarkan getaran-getaran yang menenteramkan. Belum lagi ia memiliki feromon yang semestinya dimasukkan ke dalam botol perlu dan dijual. Ia sungguh menarik dengan cara yang sangat seksual. Leeteuk adalah satu-satunya kenalan Donghae selain Eunhyuk yang memiliki faktor "tiduri aku" aneh yang mendorong siapa pun yang berada di dekatnya untuk melucuti pakaiannya dan mengajaknya melakukan permainan malam yang mesum.
Apa yang salah denganku?
Donghae belum pernah merasakan hasrat yang seperti ini.
"kau tahu," kata Eunhyk dengan nada rendah yang membuat Donghae merinding, "untuk ukuran seorang aktris kau tidak bisa berbohong sedikit pun."
Donghae menegang begitu mendengar kata-kata Eunhyuk "Maaf?"
"Kau sudah mendengarkanku. Jadi kebohongan apa yang Junsu sampaikan kepadamu kuharap setidaknya dia lebih kreatif dari kata-kata favoritnya 'Leeteuk tua adalah seorang Daimon.''
Donghae tidak tahu yang mana yang membuatnya lebh kaget. Fakta bahwa ia membicarakan Junsu seolah ia mengenal pria itu secara pribadi. "Dari mana kau tahu tentang Junsu?"
Donghae menjadi semakin bingu sekarang. Apa Eunhyuk mengatakan yang sebenarnya atau ua memanfaatkan kebenaran tentang Leeteuk adalah seorang Daimon untuk mengalihkan perhatian Donghae? Cara apa yang lebih baik untuk membuat Donghae lengah selain mencemooh fakta yang sebenanrnya?
Siapa yang Donghae percayai? Junsu yang kelihatan seperti pengkhayal atau pria dihadapanna yang kelihatan seperti pembunuh?
Donghae bersedekap dan mengamati Eunhyuk dengan cermat. "Jadi katakan, apa benar Leeteuk itu Daimon"
Mata hijau kecokelatan yang menakutkan itu disipitan saat menatap Donghae. "Menurutmu bagaimana?"
"Entahlah." Dan nitu benar. Dia berasal dari Atlantis dan kita semua tahu bahwa Daimon berasal dari sana."
Eunhyuk mendengus kepada Donghae, "Leeteuk dilahirkan di Yunani dan dibesarkan di Atlantis. Bukan berarti dia Daimon atau Apollite."
Tapi masih ada bukti yang harus dipertimbangkan. "Dia tidak pernah menyantap makanan."
"Apa kau yakin? ejek Donghae. "Hanya karena dia tidak pernah makan di depanmu, bukan berarti dia tidak pernah makan."
Oke, Eunhyuk mengutarakan isi otak Donghae, Donghae rasa merasa agak lebih baik setelah tahu bahwa mungkin Junsu seorang idiot.
Tapi masih ada satu bagian yang tidak masuk akal. Satu bagian yang belum dijelaskan oleh Eunhyuk. "Lantas bagaimana denganmu? Kalau Junsu benar-benar salah, dari mana dia tahu kau akan datang ke sini dengan mantel putihmu dan mencoba menjatuhkan keputusan tentang kami semua hah?"
Eunhyuk membeku ketika mendengar pertanyaan Donghae. Pertanyaan itu menyambarnya seperti pecahan-pecahan kaca. "Maaf?
Ekspresi sombong muncul di wajah Donghae. "Kau tidak bisa menjawab yang satu itu, kan?"
Tidak, Eunhyuk tidak bisa. Tidak mungkin Junsu tahu tentangnya. "Dari mana dia tahu tentang diriku? Tidak ada yang tahu aku ada."
"Berarti dia benar," kata Donghae dengan nada yang menuduh. "Kau membohongiku tentang tujuanmu. Kau datang ke sini untuk membunuh kami semua. Kau pembunuh suruhan Leeteuk."
Eunhyuk tidak bisa bernapas saat kata-kata Donghae menyambarnya. Bagaimana mungkin ada yang tahu tentang itu? Tidak mungkin. Leeteuk sudah sangat berhati-hati untuk memastikan tidak ada seorangpun yang tahu kalau Eunhyuk ada. "Bukan, aku untuk itu Aku datang ke sini untuk menyelamar kau Dark Hunter sebanyak mungkin."
"Dan aku harus percaya kepadamu, mengapa? "
"Karena aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu."
Bicara lebih mudah daripada bertindak. "Buktikan bagaimana? Satu-satunya cara membuktikan kepadamu bahwa aku datang bukan untuk membunuhmu adalah dengan tidak membunuhmu. Setahuku, kaulah yang melempar belati, bukan aku."
Donghae memelototi Eunhyuk dengan sengit. "Aku harus bagaimana? Aku masuk ke rumah dan melihat Squireku yang biasanya bersemangat sedang duduk diam di sofaku, kelihatan babak belur, dan sudah meledak. Lalu pria pirang ini, dan aku menggunakan kata 'pria' secara luas, yang sudah diberitahukan kepadaku akan datang untuk membunuhku, berdiri mengenakan mantel putih, persis seperti yang dikatakan kepadaku akan dia kenakan. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan berkata, halo, bisa kubantu?"
Donghae memutar bola matanya kepada Eunhyuk. "Tentu, tentu saja."
Sungguh, Eunhyuk pasti melakukannya, tapi kalau dipikir lagi ia memiliki satu keunggulan besar dari Donghae. Ia tidak bisa mati. Setidaknya tidak karena sesuatu ya tidak dilahirkan di dunia ini.
"Dengar, Donghae, aku tahu kau tidak punya satupun alasan untuk percaya kepadaku. Sebelum mala kau bahkan tidak pernah mendengar tentangku Tapi kau mengenal Leeteuk. Apa kau pernah melihatnya menyakiti seorang Dark Hunter? Pikirkan. Kalau Leeteuk memang seorang Daimon, untuk apa dia membantu dan melindungi para Dark-Hunter?"
"Karena dia memanfaatkan kami untuk melawan kaumnya sendiri supaya ibunya tidak membunuhnya."
Eunhyuk ngeri begitu mendengarnya. Dari mana datangnya kebohongan-kebohongan ini?
Leeteuk bisa gila kalau mendengar kata-kata itu. Lebih jauh lagi, tidak akan ada keselamatan untuk Dark-Hunter mana pun dalam hal ini. Leeteuk akan menghancurkan mereka semua tanpa mengedipkan mata. Kalau sudah berhubungan dengan eksistensi ibunya, Leeteuk tidak pernah mengambil risiko.
Dan Acheron tidak pernah menunjukkan belas kasihan.
"Apa yang kau ketahui tentang orang yang disebut ibuny itu?" tanya Eunhyuk, dan berharap Leeteuk tidak memilih saat itu untuk memata-matainya.
"Bahwa ibunya mengusirnya dari alam Daimon dan sekarang dia memanfaatkan kami untuk kembali kepada ibunya dan kaumnya."
Eunhyuk mendengus mengejek. "Itu lelucon paling konyol yang pernah kudengar, dan percayalah, aku sudah mendengar banyak omong kosong dalam eksistensiku. Percayalah, itu kebohongan total."
Donghae ikut mendengus. "Masalahnya adalah, aku tidak percaya kepadamu. Sama sekali."
"Tapi apa kau percaya kepada Junsu?"
Eunhyuk melihat jawaban dimata gelap Donghae. Tidak, ia tidak fakta bahwa ia belum meninggalkan saudara Dark-Hunter-nya menunjukkan banyak. Dan hal tentang dirinya. Donghae masih melindungi Junsu. Leeteuk mengaguminya karena hal itu.
"Dengar, Donghae. Bukalah hatimau dengan perasaanmu. Hati nuranimu menyuruhmu apa?"
"Kabur ke bukit dengan Squire ku supaya kalian bisa berkelahi sendiri."
Eunhyuk tertawa muram saat mendengarnya.
Donghae hanya berharap ia juga bisa mentertawainya, tapi itu sama sekali tidak lucu baginya. "Akan tetapi, aku tidak bisa melakukannya, kan? Jadi aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya dan aku cukup berbesar hati untuk mengakuinya. Ada banyak lubang pada cerita kalian berdua. Jadi pertanyaan yang harus kujawab adalah, siapa dan yang tidak menyebutkan bagian aku melayani iblis."
Eunhyuk merasa geli. "Kalau begitu, biar kujelaskan seperti ini. Hitam dan putih jarang ditemukan dalam dunia kita. Terkadang hal-hal yang kita anggap baik bisa berubah menjadi sangat jahat pada saat-saat tertentu, tapi sesuatu yang sangat jahat akan selalu berkata bahwa dan dia baik. Sesuatu yang jahat tidak pernah mengakui bahwa dia dalam hal apa pun, jahat."
Donghae memiringkan kepala. Eunhyuk kedengaran seperti Bapa Antohny, pendetanya ketika ia masih muda di Paris. "Jadi kalau aku bertanya apakah kau berada di yang baik?"
"Ya. Tapi aku tidak akan ragu-ragu melakukan apapun yang diperlukan untuk untuk melindungi manusia dan Leeteuk. Aku datang ke sini untuk menyelamatkan kalian yang bisa diselamatkan."
"Dan yang lainnya?"
Eunhyuk memalingkan wajahnya dari Donghae.
"Kau akan membunuh kami." Itu fakta.
Mata Eunhyuk menatap mata Donghae dan kali ini matanya berwarna hijau tua yang terang dan bercahaya. Matanya gaib, menakutkan, dan sama sekali tidak manusiawi. "Tidak. Kalian mengutuk diri kalian sendiri dengan kebodohan kalian. Kuakui aku tidak peduli siapa yang hidup atau mati... itu bukan urusanku. Aku datang ke sini untuk melakukan apa yang perlu dilakukan demi menjaga keteraruran berbagai hal."
"Keteraturan apa?"
"Eksistensi kita. Alam semesta kita. Sebur sesukamu, tapi pada akhirnya, mereka yang mengkhianati Leeteuk dan yang memangsa manusia akan mati dan ya, mereka mati di tanganku."
Ini tidak bisa dipercaya. Eunhyuk mengakui bahwa ia memang orang yang akan membunuh mereka semua. "Jadi kau hakim kami?"
Wajah Eunhyuk dampak muram, jujur, "Hakim, juri, dan algojo."
Kata-kata itu menyulut amarah Donghae saat ia beranjak untuk berdiri berhadap hadapan dengan Eunhyuk. "Apa yang membuatmu begitu bijaksana sehingga kau bisa memutuskan dengan mudah siapa yang boleh hidup dan siapa yang patut mati? Dari mana kau tahu yang mana yang benar?"
Eunhyuk mendengus. "Kalian semua tahu untuk itu yang benar. Kalian tidak membutuhkanku untuk itu. Pada malam ketika kalian menjadi Dark-Hunter, kalian manusia bersumpah abadi akan melayani Artemis dan memerangi Daimon untuknya. Masing-masing dari kalian diberi harta, kemewahan dan pelayan. Yang perlu kalian lakukan untuk membalasnya hanyalah melindungi manusiadan tetap hidup. Selama kalian melakukan mandat kalian, kalian berhak mencari kebahagiaan semampu kalian. Kalian semua tahu peraturannya. Aku datang hanya untuk menegaskan peraturan-peraturan tersebut setiap kali salah seorang dari kalian kalian mengira kalian kebal terhadapnya."
Cukup. Donghae tidak mau siapapun atau apapun yang sekasar ini ada di rumahnya. Eunhyuk benar- benar tidak peduli siapa yang ia bunuh. Dark-Hunter tidak berarti baginya. Tapi bagi Donghae, saudara-saudaranya adalah segalanya.
Eunhyuk bersedia membunuh atau mati demi melindungi Leeteuk dan Donghae bersedia membunuh atau mati demi melindungi keluarga Dark-Hunter-nya.
Sederhana sekaligus rumit.
"Kalau begitu, silakan keluar dari rumahku."
Eunhyuk menggelengkan kepala. "Bukan begitu cara kerjanya. Kalau Leeteuk mengutusku, dia akan menempatkanku dengan Dark-Hunter yang dia harap bisa diselamatkan. Sayangnya, hasilnya tidak selalu seperti itu, tapi secara teori, kalau kau bekerja sama, kau bisa selamat dari pemberontakan teranyar ini. Aku menggunakanmu bahwa sebagai wajah yang bersahabat dan dapat dipercaya untuk mengenalkanku dengan para pengkhianat supaya aku bisa memutuskan siapa di antara mereka yang layak diselamatkan.
"Dan kalau aku menolak?"
"Kau mati," Nada suara dan wajah Eunhyuk sama-sama tidak menunjukkan emosi. la benar benar tidak peduli ia akan membunuh Donghae atau tidak.
Donghae memelototi Eunhyuk sementara jantungnya berdegup kencang saking marahnya. "Kalau begitu kuharap kau datang dengan membawa pasukan karena kau tidak bisa membunuhku sendirian."
Donghae menerjang Eunhyuk hanya untuk menabrak sesuatu yang menyerupai dinding tak kasatmata yang menyelubungi pria itu. Donghae menyerangnya, tapi dinding itu bergeming.
"Aku tidak bisa mati, Donghae," kata Eunhyuk dengan nada mengancam sambil memperhatikan Donghae dari balik perisainya. "Tapi kau bisa, dan percayalah kalau kukatakan bahwa mati sebagai Dark-Hunter adalah sesuatu yang sungguh menyebalkan."
Donghae memukul dinding tak kasatmata itu, mencibir kepada Eunyhyuk. "Kau memintaku mengkhianati saudara-saudaraku demi keselamatan pribadi? Lupakan saja. Persetan dengan kau dan Leeteuk."
"Tidak," kata Eunhyuk dengan nada jujur sambil menggelengkan kepala. "Aku memintamu menyelamatkan mereka. Kalau kita bisa meyakinkan mereka untuk mengandalkanmu dan percaya kepadaku, dan menerima bahwa Junsu berbohong, mereka bisa pulang dan semua ini hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk."
"Dan kalau tidak?"
"Mereka akan menjadi sejarah."
Muak kepada Eunhyuk, Donghae menjauh. "Kau tahu, kau bisa menunjukkan sedikit belas kasihan saat mengatakannya. Apa kami tidak berarti apa-apa bagimu? Bagi Leeteuk?
Donghae merasakan udara bergolak sedikit, seolah dinding itu sudah hilang sekarang. Eunhyuk menatapnya dengan mata hijau yang itu.
"Leeteuk sangat peduli. Kalau tidak, aku tidak akan ada di sini sekarang, dan kalian semua pasti sudah mati. Dia tidak membutuhkanku untuk membunuh mereka. Dia bisa melakukannya tanpa mengerahkan tenaga. Percayalah, aku juga tidak mendapat kepuasan pribadi dengan membunuh. Aku juga tidak peduli siapa yang selamat dan siapa yang tidak. Ini bukan permain bagiku. Juga bukan akhir dari dunia."
Donghae menelan ludah dengan tenggorokan yang tercekat karena membayangkan teman-temannya mati. "Mereka semua layak diselamatkan. Semuanya. Kau tidak tahu betapa sukarnya menjadi salah seorang dari kami. Kami diciptakan lalu ditelantarkan. Beberapa dari kami melalui berdekade dekade, bahkan lebih lama lagi, tanpa pernah mendengar sepatah kata pun dari Leeteuk. Tidak seorang pun dari kami yang pernah bertemu dengan Artemis lagi,"
Eunhyuk mendengus kejam, menyela Donghae "Syukurilah itu."
Donghae tertegun saat mendengar ejekan Eunhyuk sementara kata-kata Yunho tentang kematian Artemis kembali tebersit di benaknya. "Artemis masih hidup."
"Oh, masih. Percayalah, dia hidup dan sehat dan bertemu dengan Leeteuk setiap hari."
Entah mengapa, itu membuat Donghae merasa lebih baik kalau Eunhyuk tidak berbohong. "Berarti dia peduli kepada kami."
"Tidak," kata Eunhyuk dengan muram. "Dia peduli kepada Leeteuk. Kalian ada di sini supaya dia bisa mengendalikan Leeteuk. Karena itulah dia terus menciptakan Dark Hunter baru untuk menggantikan Dark Hunter yang sudah bebas. Hari ketika Leeteuk berhenti memedulikan kalian adalah hari di mana Artemis akan mengabaikan kalian dan kemungkinan besar kalian semua akan musnah. Jadi jangan pernah mengatakan kalau Leeteuk tidak peduli kepada kalian, padahal aku melihat bagaimana dia menderita setiap hari karena kalian."
Kata-kata Eunhyuk menggantung di benak Donghae. Apa benar?
Mengenal Leeteuk, sepertinya itu jauh lebih bisa dipercaya daripada Leeteuk adalah seorang Daimon.
Yah, kurang lebih begitu. Tapi kalau dipikir lagi, teori Daimon itu juga sangat meyakinkan.
Andai saja Donghae tahu siapa yang harus ia percayai.
Eunhyuk beranjak untuk berdiri tepat di depannya, begitu dekat hingga Donghae bisa merasakan napas Eunhyuk berembus ke pipinya. "Kau harus mengambil keputusan Donghae. Kau mau membantuku menyelamatkan beberapa Dark Hunter atau aku harus membunuh mereka semua sekarang dan pulang?"
