Suara serangga khas musim panas menggema di dalam hutan. Dibalik rindangnya pepohonan yang bergoyang karena angin, di bawah sebuah pohon plum besar terdapat dua manusia yang sedang beristirahat. Keranjang besar yang mereka bawah sudah penuh dengan jamur yang mereka kumpulkan sejak pagi tadi. Salah seorang dari kedua pria itu membuka matanya perlahan. Rambut pirangnya sedikit bergoyang karena buaian bayu.
"Kau sudah bangun, Minato?" Tanya pria lain yang duduk tak jauh darinya. "Ayo kita segera pulang. Para istri pasti sudah menunggu." Lanjutnya setelah berdiri dan menggeliat -merenggangkan ototnya yang kaku.
Pria bermarga Namikaze itu mengangguk. Ia beranjak dan melakukan hal yang sama dengan rekan sekaligus tetangganya tadi. Ia berjalan mendekati buntalan kain yang ada disamping keranjang miliknya. Mengocok-ngocok botol air yang terasa ringan. "Fugaku, apa kau masih memiliki air?" Tanya dengan suara serak. Tenggorokannya kering sedang air yang dibawanya ternyata sudah habis.
Tanpa banyak bicara, pria berambut hitam gelap itu menyodorkan botol minumnya. Tadi, saat sang rekan masih tertidur ia sempat menggambil air di sungai.
Setelah menghapus dagunya yang basah karena air menggunakan kerah yukata tanpa lengan miliknya, Minato tersenyum lebar kearah tetangganya. "Maaf, aku menghabiskannya. Dimana aku bisa kembali mengisinya?"
Fugaku mengendus sesaat. "Nanti ada sungai di depan. Kau bisa mengisinya disana." Ucapnya dan mulai menggendong keranjang di punggungnya. Berjalan lebih dahulu, seolah tak peduli pada Minato yang masih membereskan buntalan kainnya.
"Fugaku, hei? Tunggu aku!"
.
Fugaku duduk diatas batu besar ditepi sungai. Disampingnya ada 2 keranjang terisi penuh dengan jamur. Di bawah sana, Minato sedang sibuk mengisi persediaan minum mereka untuk perjalanan pulang. Fugaku menatap ke langit sambil melindungi matanya dari sinar mentari. Matahari masih bersinar terik. Terlalu terik untuk awal musim panas. "Tidak bisakah kau lebih cepat, Minato?!" Tanyanya sambil berteriak.
Tak mendapat jawaban, Fugaku memilih untuk menenggok kebawah. "Minato?!" Teriaknya panik saat tak menemukan sang sahabat ditempatnya semula.
"Aku disini!" Suara Minato yang menggema membuat Fugaku mengedarkan pandangannya -melihat sekeliling. Sampai akhirnya onyx kelam itu menemukan sang tetangga melambai padanya dengan jarak yang cukup jauh. "Kemarilah! Aku menemukan sesuatu!" Tambah lelaki berambut pirang cerah itu.
Fugaku mengendus. Kesal dengan ulah Minato yang selalu seenaknya. Bergumam tak jelas karena benar-benar kesal. Sebentar lagi sore tapi Minato masih sempat bermain-main. Kalau ingin bermain seharusnya mereka cepat pulang agar bisa bermain dengan anak-anak mereka di rumah. Kenapa pula seorang ayah yang akan memiliki dua anak seperti Minato masih suka bermain?
Minato kembali fokus pada apa yang dilihatnya saat sadar Fugaku akan menghampirinya. Jika bukan karena sinar terik dari matahari, ia tak akan melihat kilatan emas dibalik semak-semak. Sekarang ini, ia duduk tak jauh dari sesuatu yang cukup aneh menurutnya. Terlihat sangat berharga. Menarik untuk diambil, tapi ia tak mau mengambil resiko yang terlalu berbahaya.
Fugaku menepuk bahu Minato, menyadarkan temannya jika ia sudah ada disana. "Ayo, sebentar lagi sore." Fugaku seolah tak peduli dengan apa yang sedang dipadangi Minato dibalik semak-semak. Fugaku lelah, dan ia ingin cepat sampai rumah. Sang Uchiha berusaha menarik sahabatnya namun gagal.
"Hei, lihat itu." Minato menarik tangan Fugaku dengan mata masih fokus ke depan. "Menurutmu, itu apa? Jamur?" Tanyanya sambil melihat ekspresi kaget sahabatnya.
Fugaku tertegun melihat pemandangan di depannya. Berjarak sekitar 5 meter, terdapat sesuatu seperti jamur. Kecil, tak terlalu banyak dan bersinar seperti emas. Merasa penasaran Fugaku mendekat, tak memperdulikan pertanyaan yang tadi diajukan oleh Minato.
"Hei, hei. Kau mau apa?" Minato menarik lengan yukata Fugaku saat akan memetik jamur emas yang tumbuh dibawah pohon besar. "Jangan bertindah gegabah." Imbuhnya sambil berusaha menjauh.
Fugaku menatap Minato. "Tidakkah menurutmu itu berharga?" Tanyanya menatap lurus sapphier sang sahabat.
Minato tampak berpikir sejenak namun akhirnya melepaskan lengan Fugaku lalu mengangguk. "Tentu aku berpikir itu berharga. Tapi.." Minato menatap jamur-jamur itu. "Jika berharga, bukankah tidak mungkin seseorang sengaja menanamnya disini?" Sebenarnya Minato juga tertarik dengan jamur itu. Jika dijual harganya pasti mahal. Mungkin bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sepanjang umur. Tapi keraguan seolah berkata jika itu sangat tidak boleh.
Fugaku menghela nafas. "Ini hutan, Minato. Tidak ada yang memiliki tempat ini. Beberapa orang beruntung karena menemukan sesuatu yang berharga di dalam hutan. Tidakkah kau berpikir jika ini giliran kita?" Fugaku mencoba menyakinkan Minato. "Dengan itu, kita pasti bisa hidup lebih baik. Pikirkan Minato."
Minato masih menatap jamur itu. Ia masih merasa ragu untuk mengambilnya, tapi Minato diam saja saat Fugaku mulai memetik jamur itu. "Kita ambil sebagian saja. Jika memang berharga, besok kita kembali lagi. Aku tak mau mengambil resiko terlalu besar." Akhirnya Minato membantu Fugaku mengambil beberapa jamur itu.
"Tentu." Fugaku tersenyum.
.
.
.
"Anata?!" Mikoto berusaha membangunkan suami yang tampak gelisa dalam tidurnya. "Kau mimpi buruk?" Tanya khawatir saat Fugaku membuka matanya.
Fugaku merubah posisinya menjadi duduk dibantu oleh Mikoto. Nafasnya sedikit tak teratur, tapi keringat dingin membasahi wajahnya. Saat Mikoto menyodorkan segelas air padanya, ayah dua anak itu segera meminumnya.
"Kau mimpi apa?" Mikoto menghilangkan peluh pada wajah Fugaku dengan telapak tangan.
Fugaku menatap Mikoto. Wanita yang tetap cantik itu masih sibuk membersihkan wajah Fugaku dari peluh. Raut wajah resah Fugaku berubah menjadi sedih. Disentuhnya wajah sang istri. Dan mata segelap malam itu menatap lurus wajah Mikoto. Wajah pucat dan kantung mata yang terlihat jelas. Ukuran tubuh yang semakin kurus dari hari ke hari. Rasa bersalah memenuhi hati Fugaku, hingga tak terasa setetes air mata menuruni pipinya. Tanpa banyak bicara, Fugaku memeluk Mikoto.
Mikoto membelai punggung tegap Fugaku. "Anata.." Panggilnya berusaha untuk menenangkan.
Fugaku mempererat pelukannya. "Tak apa." Ucapnya lirih. Memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya. Ia mengecup singkan pipi Mikoto dan kembali berbaring, dengan sang istri yang masih dalam pelukannya. "Masih larut, ayo tidur." Fugaku membenahi selimut keduanya, memejamkan mata terlebih dahulu sebagai tanda jika ia memang akan kembali tidur.
Mikoto membelai sisi wajah Fugaku, menghela nafas sejenak lalu memejamkan mata setelah mencium bibir Fugaku. "Semoga mimpi indah." Bisiknya pada Fugaku dan mulai menyamankan posisi dalam pelukan pria yang sudah lebih dari 25 tahun menemahi hidupnya.
Dalam gelapnya kamar mereka, Fugaku kembali membuka matanya dan lurus menatap wajah Mikoto. Tetes demi tetes air mata kembali mengalir. Karena salahnya, karena dosanya, Mikoto selalu tersiksa. Mungkin tak akan sebanding dengan dirinya yang harus menanggung rasa bersalah selama ini. Karena kecerobohannya, Mikoto, Sasuke bahkan klan-nya mengalami kemalangan.
Mengapa pula, harus dirinya yang memiliki ingatan tak terhapuskan? Ya, setidaknya lebih baik dari pada Mikoto yang menyimpan ingatan di masa lalu. Walau dirinya harus menelan rasa bersalah setiap harinya, terlebih jika bulan kelahiran putra bungsunya datang.
Ia selalu merutuki kesalahan leluhurnya. Kesalahan yang dirinya perbuat dimasa lalu sehingga membuat keluarganya menderita seperti ini. Seandainya, ia tak mengambil jamur emas kala itu mungkin semua ini tak akan terjadi.
Semoga, Dewa berbaik hati untuk segera mengakhiri hukumannya.
Karena 170 tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah hukuman.
.:===========:.
.: Disclaimer :.
Naruto by : Masashi Kishimoto
Miracle of Destiny by : Yun Ran Livianda
.: Rated : M :.
.: Genres :.
Romance - Fantasy - Drama
Pair : SasuNaru
WARNING :
AU, Yaoi - Boys Love, Slash, typo(s) dan miss typo tak dapat dihindari, bahasa sesuka diriku, semoga tidak abal dan aneh, dkk.
Happy reading.. ^_^
.:===========:.
Sasuke memasukkan makanan ke dalam mulutnya secara perlahan. Onyx kembarnya yang biasa menatap tajam kini terlihat sayu. Jujur, bungsu Uchiha tersebut masih merasa mengantuk walau tadi ia bangun hampir tengah hari. Namun kenyataan bahwa tak bisa tidur di malam hari membuat pola hidupnya 'sedikit' berubah. Setidaknya pemuda tersebut bersyukur hari ini adalah hari sabtu. Terlebih hari ini sahabat kental orang tuanya datang berkunjung.
"Jadi, kalian benar-benar tak akan mengadopsi anak, walau seorang?" Mikoto bertanya dengan raut wajah sedih pada wanita lain yang duduk pada kursi disebrangnya.
Sekilas, wanita berambut merah itu melirik suaminya dan lekas melaham tempura yang tadi sempat mengambang di depan mulutnya.
Sosok disamping wanita bersurai merah itu tersenyum kearah Mikoto. "Jika tiba waktunya, tentu kami akan mengadopsi mereka." Jawab Minato lembut menggantikan Kushina yang mulutnya masih penuh. Seolah hal yang mereka bicarakan adalah hal yang biasa, pria bersurai pirang itu kembali pada makanan miliknya dengan tenang.
Mendapat jawaban Minato, Mikoto meletakkan sumpit ditangannya. Dengan senyum sedih yang kentara, ia mulai membelai sisi rambut Sasuke yang duduk disebelahnya. "Dulu, aku selalu berharap anak kita bisa bermain bersama." Ucapan Mikoto menarik perhatian semua orang, terutama Sasuke. "Pasti itu hal menyenangkan saat melihat mereka bisa tumbuh bersama-sama."
Sasuke yang sejak tadi cuek dengan sekitar cukup tersendak mendapati perlakuan ibunya. Raut wajah Mikoto menyakiti hatinya. Sejenak melupakan makanannya, Sasuke meraih tangan sang ibu untuk dikecup dan mulai tersenyum lembut. Hanya hal itu yang Sasuke tahu agar ibunya menghapus senyum pedihnya.
Itachi menatap kearah adik dan ibunya sendu. "Tentu." Itachi menatap ibunya dan tersenyum ceria. "Suatu saat, kami pasti bermain bersama putra bibi Kushina dan paman Minato." Ia berkedip genit kearah Kushina yang duduk disampingnya. Membuat sahabat ibunya sejak SMP itu mendengus geli.
Bukan apa-apa, hanya saja sebagian besar dari mereka tahu apa arti sebenarnya.
"Hentikan itu, Itachi." Fugaku yang sejak tadi diam mulai ikut bicara. "Minato akan pulang sebelum menghabiskan makanannya jika kau menggoda Kushina seperti itu." Fugaku benar-benar ingin melawak dengan wajah dan nada suara yang datar miliknya.
"Apa?" Kushina melotot kearah Fugaku dengan mulut menggembung berisi makanan. "Aku tak akan keberatan jika kedua putramu menjadi menantuku." Akunya dengan nada gurau yang jelas. Tak peduli dengan Minato yang menggeleng samar karena istrinya berbicara walau mulutnya penuh makanan.
"Jadi kalian sudah berencana mengadopsi dua putri?" Tanya Mikoto dengan nada haru dan mata berbinar wanita cantik tersebut menatap Kushina dan Minato bergantian. Hanya membayangkan berbesan dengan sahabatnya cukup membuatnya bahagia.
Hening.
Mendapati pertanyaan Mikoto, empat orang disana saling lirik satu sama lain.
Sedang Sasuke hampir tersedak.
Apa itu artinya ia akan dijodohkan?
Diusia sedini ini?!
Mata Itachi bergerak kesana kemari, mencoba mencari sesuatu yang sekiranya bisa mengalihkan pembicaraan. "Ekhem.." Sang sulung berdehem canggung. Tanpa pikir panjang ia menunjuk tumis jamur yang masih utuh dengan sumpit ditangannya. "Makanan ini enak, kurasa tak masalah jika ibu memasaknya lagi untuk makan malam."
Fugaku melotot kearah putra sulungnya. "Aku baru tahu jika kau sangat menyukai jamur."
Dan Itachi hanya meringis saat Kushina lengkap dengan senyum manis nan mempesona memindahkan sebagian tumis jamur tersebut ke dalam mangkuk sang sulung.
Hikari no Miko
Naruto meletakkan kardus terakhir yang dibawanya. Menepuk kedua tangan berusaha menghilangkan debu yang menempel ditelapaknya. Iris Sapphier-nya megedar memperhatikan apartemen kecil yang masih berantakkan. Ia baru saja memindahkan barang-barang dari tempatnya terakhir bertugas –apartemen Shinji- kemari, ke kota yang akan menjadi tempat tinggalnya selama tugas yang dijalaninya sekarang.
Tugas?
Mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan keharusan.
Setiap tahunnya, kota yang Naruto tempati untuk berbaur bersama manusia demi menghadapi ramalan bukan dipilih secara acak atau secara berurutan. Naruto menempati kota-kota yang memang Dewa persediakan untuknya. Malaikat pembawa pesan akan memberikan sebuah gulungan yang bertuliskan nama sebuah kota. Dan tahun ini, kota Konoha-lah yang tertulis.
Bukan kota yang besar, tapi memiliki penduduk yang cukup padat terutama para pelajar. Mulai dari bangku TK sampai Universitas seolah berjajar rapi ditepi jalan. Begitu banyak kalangan muda yang menempati kota ini, menjadikan peluang usaha terbuka lebar. Mulai dari toko buku kecil-kecilan ditepi trotoar sampai restoran mewah berbintang yang selalu dipadati pengunjung, semua ada disini.
Konoha, kota pelajar.
Kali ini Naruto akan menyamar menjadi seorang pemuda 16 tahunan yang bersekolah di sekolah favorit, Kohona Gakuen 5 dan duduk dibangku kelas 2 SMA. Sekolah high school yang cukup terkenal. Jangan tanya kenapa harus sekolah ini, karena memang nama sekolah inilah yang tertulis pada gulungan informasi.
Naruto membuka kardus berwarna kuning mencolok yang diletakkan diatas meja. Dikeluarkannya kotak persegi panjang berbahan kayu jati yang tak terlalu besar.
Clek
Malaikat penganti dalam wujud manusia itu membuka kunci pada kotak tersebut. Ia menggambil gulungan yang terbuat dari kulit rusa muda. Dimana tertuliskan ramalan yang akan membuka kutukan Naruto dalam gulungan tersebut.
Pada hitungan ke 23 pernama yang ketujuh, saat surya tak bisa bersinar karena upacara pembukaan kunci, saat angin membuat butiran-butiran air setajam pedang.
Ketika bulu-bulu malaikat tak lagi terlihat indah, ketika rasa takut terasa lebih dingin, ketika sebuah duri meneteskan sebutir darah.
Akan ada airmata karena takut kehilangan.
Dan sinar dari cinta yang tulus akan membatalkan kutukan.
Naruto menghela nafas berat.
Kadang Naruto meragukan ramalan tersebut. Sudah terlalu lama ia menunggu hari dimana ramalan tersebut akan terjadi.
Pertanyaannya...
Kapan bulu malaikat tak terlihat indah?
Bahkan disetiap helai rambutnya, bulu malaikat bagaikan terbuat dari benang sutra yang dirajut bersama benang emas. Membuatnya tampak berkilau setiap kali dikepakkan. Menjadikan malaikat selalu dipuja-puja sebagai sosok yang suci.
Naruto kembali menggulung kulit ditangannya. Saat hendak mengembalikannya ke tempat semula, Naruto menemukan daun kering di dalam kotak. Naruto memunggut daun itu dan mengembalikan gulungan ramalannya. Naruto tersenyum geli saat membaca kalimat yang ditulis dengan tinta emas pada permukaan daun tersebut.
Entah ini sudah yang keberapa kali, tapi aku akan tetap mengatakannya.
Aku menyayangimu, otouto.
Bersemangatlah! ^.^)9
Naruto tersenyum. Memang hanya tulisan sederhana yang dituliskan oleh kakaknya, namun cukup membuat malaikat bersurai pirang itu lebih semangat lagi. Dan ia pun sadar selalu terdapat ketakutan dalam setiap katanya. Naruto tahu, Kyuubi takuk kehilangan dirinya.
Naruto melangkahkan kakinya mendekati sebuah kotak unik -mirip seperti peti harta karun. Membuka peti yang lumayan besar itu. Didalamnya terdapat berbagai macam benda. Mulai dari kertas berbagai warna, daun kering berbagai bentuk bahkan robekan amplop kertas yang tak beraturan bentuknya bahkan berbagai jenis batuan. Semua benda itu sekilas terlihat tak berguna, namun sebenarnya semua itu adalah kalimat penyemangat yang Kyuubi buat untuk Naruto setiap tahunnya. Setiap tanggal 23 Juli.
"Pada hitungan ke 23 purnama ketujuh." Naruto bergumam pelan.
Artinya, adalah tanggal 23 pada bulan Juli.
Setiap tahunnya, pada bulan Juli Naruto akan berhenti -cuti dari pekerjaannya sebagai malaikat pengganti. Naruto diharuskan berbaur bersama para manusia selama sebulan penuh. Hidup sebagai manusia, bertingkah seperti manusia, intinya Naruto menjadi manusia.
Tapi tak sepenuhnya manusia, dia tetap malaikat.
Lalu bagaimana caranya berbaur?
Dia malaikat pengganti, tentu Naruto akan menggunakan kemampuannya selama itu.
Ya, begitulah.
Dengan mudah Naruto bisa membuat orang-orang disekitarnya menerima dirinya sebagai orang baru, atau mungkin juga sebagai seorang kenalan lama. Mungkin semudah menjentikkan jari, jauh lebih mudah dari pada berpikir apa yang kau inginkan dari seorang jin lampu.
Setelah menutup kembali peti itu, Naruto berjalan mendekati dinding. Menatap lekat kalender yang tertempel pada dinding samping tempat tidur di kamar barunya. Naruto merogoh saku celana jeans yang dipakainya dan mengeluarkan sebuah spidol berwarna merah. Tanpa ragu, Naruto menyilang tanggal hari ini ; 1 Juli.
Hari pertama pada bulan ini sudah terlewati.
Hikari no Miko
Angin musim panas menggoyangkan surai pirang sang Namikaze yang berkilau karena pantulan sinar matahari. Minato menyeruput ocha kesukaannya dengan santai, ditambah suara gemericik air membuat hatinya seolah damai. Benar-benar bisa mengabaikan kenyataan jika tak jauh darinya ada empat orang yang terlihat sangat heboh karena 'menguras' kolam ikan keluarga Uchiha. Tiga orang saja mungkin, karena Sasuke lebih banyak diam dan memasang wajah datar seperti biasanya. "Apa kau tak mengajari Sasuke berbagai ekspresi wajah saat masih kecil?" tanya dengan nada polos tapi terkesan bodoh untuk pria yang duduk disampingnya.
Fugaku mendengus samar mendapati pertanyaan Minato. "Apa karena kau tak memiliki anak membuatmu lupa jika sebenarnya anak-anaklah yang mengajari kita ini banyak ekspresi." Ucapnya sambil meletakkan gelas ocha miliknya.
"Begitukah?" Minato menatap lekat interaksi empat orang disana dengan ikan yang baru saja mereka tangkap. Ia menerawang, dadanya terasa hangat dan sakit secara bersamaan hingga tanpa sadar membuatnya tersenyum miris. "Aku hanya berpikir kalau Sasuke tak memiliki banyak ekspresi wajah karena kau yang mengajarkan, haha.." lanjutnya dengan tawa riang. Dengan cepat mengganti ekspresi seolah-olah senyum sedih sebelumnya tak pernah ada.
Fugaku menatap kosong kedepan. Dengan jelas tadi wajah sedih Minato terlihat olehnya walau hanya sekilas.
Mimpi buruk Sasuke,
Wajah sedih Mikoto,
Dan kehidupan Minato dan Kushina yang tak memiliki anak,
Semua itu berawal darinya..
Salahnya.
"Aku.." Suara lirih Fugaku membuat Minato melihat kearahnya. "Aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan untuk kalian." Senyum kecil namun menyakitnya tanpa sadar tercetak pada wajahnya. "Kesalahan dikehidupan ini, adalah salahku. Terkadang, aku benar-benar malu untuk bertemu denganmu jika-"
"Kau bicara apa?! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Ini adalah kesalahan kita berdua!" Minato sedikit menaikkan nada suaranya. "Seandainya aku tak menemukan jamur-jamur itu, ini tak akan terjadi.." Suara Minato mulai bergetar. "Para malaikat itu tak akan mendatangi kita dan Dewa tak akan menghukum kita.. Semua salahku.." kedua sapphier kembar pria bersurai pirang tersebut mulai berembun.
Fugaku menepuk pelan bahu sahabatnya. "Dan akulah yang memaksa untuk membawa jamur-jamur itu pulang." Kepala keluarga Uchiha yang biasanya berwajah kaku itu kini mulai tersenyum dengan tulus. Setelah memastikan Minato mengusap airmata dipelupuk matanya, sang revan kembali melihat kedepan, menyaksikan Itachi yang meringis dipukul Kushina karena tak sengaja melepaskan ikan besar yang baru saja sulung Uchiha itu dapatkan. "Ada kalanya aku benar-benar berpikir kehidupan ini kutukan."
"Aku tahu. Aku merasakannya saat mendapati Kushina memandangi anak-anak yang berangkat sekolah di pagi hari." Minato meringis mengingat kebiasaan Kushina semenjak pindah ke Konoha sejak beberapa tahun lalu. "Sama seperti Mikoto, aku selalu menawarinya mengadopsi seorang anak tapi dengan cepat ia akan menolak." Minato mengamati Kushina yang tertawa bersama dengan para Uchiha di tepi kolam ikan. "Apa menurutmu Dewa bisa lebih tega lagi pada seorang ibu yang menunggu kedua putranya, hanya karena jamur?"
Fugaku menggeleng samar, "Aku tak tahu, Minato. Aku tak tahu.."
Hikari no Miko
Kyuubi masih asik berjongkok dengan menopang dagunya dengan kedua lututnya. Bibir bawahnya maju kedepan dan kedua tangannya asik memeluk kakinya sendiri. Iris ruby indahnya yang biasa mengkilat tajam dan penuh ambisi kini meredup menandangi gumpalan-gumpalan awan yang ada di langit ke-5. Kedua sayap putih lebatnyapun muncul, mengepak kecil sesaat lalu kembali menghilang. Terus seperti itu –berulang-ulang. "Kau yakin aku tak boleh tur-"
"Apa hari ini harus aku katakan tidak untuk yang ke 84 kalinya, Kyuu?" Pemuda lain bersurai merah yang sedang sibuk dengan dokumen –entah-apa-itu- di depan meja memutar bola matanya bosan. Sekarang ia yakin akan benar-benar gila sebelum semua pekerjaannya selesai jika The Devil King of Angels menggalau di dekatnya.
"Kau yakin?" Kyuubi mulai berdiri dan duduk di depan Nagato –satu-satunya malaikat lain yang ada disana. "Aku hanya ingin menenggok Naruto." Ia kembali merengek dengan mata berkaca-kaca. Sayang Nagato tak melihat tatapan yang mampu merontokkan jantung para iblis senior itu.
Nagato mendengus geli sekaligus mengejek dari balik dokumen yang dibacanya. "Bilang saja kalau kau takut Naruto akan menjadi manusia tahun ini, lalu meninggalkanmu sendiri disini. Sang malaikat yang ada dibawah kepemimpinan Jiraiyah itu meletakkan dokumen ditangannya dan mendekatkan wajahnya pada Kyuubi. "Tenanglah, ada aku disini, Kyuu-nii~" ucapnya dengan suara mendayuh diakhir kalimat -menggoda.
Kyuubi yang merinding mendengar suara aneh Nagato langsung menggeplaknya keras. "Mana sudih aku menjadikanmu adik?! Kau itu sama dengan malaikat tua-mesum-bongkotan itu, selalu memberiku tugas yang aneh-aneh!" Kyuubi terus memukulnya berulang-ulang. Seolah-olah menjadikan kepala merah Nagato pelampiasan untuk mood-nya yang buruk. Jika bukan karena Nagato lekas melepaskan diri, tentu malaikat 200 tahunan itu akan gagar otak. Setidaknya itu istilah para manusia di bawah sana. "Aku hanya khawatir pada Naruto." Kyuubi kembali duduk diam dan memasang wajah sedih.
Nagato menghelah nafas lelah sambil menggosok kepalanya yang mati rasa. "Kalau begitu, perbaiki kelakuanmu dan cepat susul Naruto. Hadapi juga ramalanmu sendiri." Nagato kembali duduk di tempatnya. Alisnya terangkat saat menyadari tiba-tiba Kyuubi memalingkan wajah. Dan seringai yang jarang dimiliki oleh para malaikat tercetar jelas pada wajah Nagato. "Ah, apa kau suka jika setiap tahunnya kita menghabiskan waktu seperti ini selama sebulan? Mengingat jika selama ini hanya aku yang selalu mengawasimu saat kau dikurung." Dan kilat nakal terlihat pada manik hitam kembar milik pemuda merah tersebut saat Kyuubi benar-benar memunggunggi dirinya. "Atau karena ramalanmu itu-"
"BERISIK!"
Dan Nagato tertawa lepas saat Kyuubi kembali memukul kepalanya.
Ok, sekarang sepertinya Nagato mulai gila karena harus menjaga Kyuubi dan menghadapi tumpukan dokumen.
Tbc..
Update…. T^T)/
Setelah sebulan akhirnya update juga #benerandibuangkejurang
Gomen minna~
Yun beneran nggak ada niat update selama ini..
Tapi ini belum genap setengah tahun kan? /sendal melayang/
Ya, yang punya du-nyat pasti pahamlah..
Walau Yun bener-bener pengen update ada aja halangan..
Kehidupan kadang memang menyesatkan (^.w)/ #monggodibakar
Ok, abaikan saja alasan yang nggak jelas itu!
Ini update sih, tapi nggak panjang. Sekali lagi maaf ya?
Jadi, gimana dengan cerita di chap ini? Ada bagian yang nggak jelas?
Yun jelasin disini aja dech.
Mimpi Fugaku itu merupakan ingatan dari masa lalu yang nggak terlupakan. Karena kutukan or hukuman Fuga, Ita, Mina ama Kushi jadi nggak bisa lupa ama masa lalu mereka. Kalo Miko ama Sasu? Miko ingatannya terhapuskan, sebagai gantinya dia selalu sedih dan Sasu, waktu kutukan itu datang doi belum lahir.
Tahu dech ini cerita ketangep ato nggak dalem chap ini :3 ato baru di chap depan ya? O.o
Ya, begitulahh..
Ini dulu dari Yun, doakan Yun punya waktu dan feel yang pas buat chapter depan /Aamiin/
Soal jumlah chapter, liat kedepannya aja. Entah jadi 3 chap ato lebih nich ff.
Gomen juga kalo ada kata, kalimat, tanda baca dan ketikan yang hancur..
soal rated, kita liat kedepannya ya? Soalnya Yun yakin ini bakal jadi M, jadii... mari kita nanti bersama #apabanget
Jawab pertanyaan yang masuk :
a. Kesalahan apa yang dilakukan ortu KyuuNaru?
Di chap ini udah mulai kejawab belum? /jawaban macam apa ini?!/
b. Ada nggak ItaKyuu?
Yun juga jadi pengen buat kisah ItaKyuu dari ff ini, tapi mungkin akan muncul di ff lain. Pendeklah mungkin, nggak usah panjang-panjang.
Pengennya oneshot, tapi entah kapan buatnya #plakk :3
c. Apa isi ramalannya?
Punya Naru udah ada tuch.. kalo punya Kyuu.. ssttttt…
Thanks juga buat :
Ineedtohateyou, yunaucii, Rachel Cassie Elf613, Hibari-Sayaku Shiina, hanazawa kay, AKAshi Kirigaya Uzumaki Uchiha, Amtrs7227, Haruko Akemi, Namikaze Asyifa, Nia Yuuki, Reikai Eran, angelhana9, aokiaoki95, bright16, eizan .ki, elleinakartika .devyanti, ikatriplesblingers, marsamariana, miss horvilshy, onxyshapierblue, wintersubaki, Dovyqueensan, TheopilaMax, sivanya anggarada, soura-batrisyia, yamamura sayuri, zadita uchiha serta para Guest dan semua silent readers.
Gomen, baru ini yang bisa Yun kasih :'D
Tolong tinggalin review, saran, kritik atau apapun itu namanya.
Review….
