"Maafkan aku"

"Tidak, aku memang bisa mengatakan aku memaafkan mu. Tapi, apa gunanya kata maaf ku jika pada akhirnya aku menjauhi mu"

"Lalu, apa maksud mu? Aku harus menahan rasa bersalah ku? Menahan diriku tanpa maaf mu?"

"Apa yang kau minta? Bukankah itu yang sudah kau lakukan. Kesalahan mu sudah lama. Bagiku, kau sudah biasa dan ahli manahan rasa bersalah. Dan kau, sudah biasa hidup tanpa permintaan maaf"

"Kumohon, aku bersungguh-sungguh. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku"

"Kau tahu? Dan sekarang kau merasakan bagaimana rasanya memohon itu. Memohon yang bagimu dulu sama saja dengan mengemis"

"Aku salah, kau bukan pengemis. Bahkan, kau lebih berjasa dari segala raja"

"Kau salah, aku memang pengemis. Lepaskan saja aku. Meskipun bagimu aku raja, tapi bagiku kau bukan rakyat ku. Dan sudah sepantasnya aku tak memperdulikan mu"

"Aku membutuhkan mu"

"Aku tidak. Aku permisi"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Selebat apapun hujan malam itu, dia terus berlari. Dia sudah tidak peduli dengan apapun yang akan menghalanginya nanti. Dia sudah menyiapkan tangannya, dia sudah mengepalkan tangannya. Erat, dan bahkan sangat erat. Tanpa dia sadari, aliran darah yang berbau anyir sudah mengucur deras dari tangannya. Seluruh tubuhnya sudah basah, tapi tak ada rasa dingin sedikitpun menyerangnya. Tubuhnya sudah mati rasa, semua yang ada padanya sudah mati rasa. Bahkan untuk sekedar berlari pun dia sudah seperti melayang.

Tanpa dia sadari, sepasang mata di sudut sana terus mengamatinya. Di dalam hatinya dia ingin menjerit dan berlari menyusul sosok yang telah pergi tadi, namun apa daya tubuh ringkihnya. Ingin dia berlari maju, tapi angin membawanya melaju mundur. Tubuhnya sudah siap terhempas, tubuhnya sudah siap tertubruk apapun. Dia bukan lagi dengan tubuh lamanya, yang bisa leluasa menerjang apapun yang menghalanginya. Dia sekarang berbeda, dengan tubuh ringkih dan rasa putus asa yang menggantung indah pada lehernya.

Pada akhirnya mereka berbeda, kaki panjang itu mundur. Dan kaki kecil itu memilih maju.

Sudah tidak bisa terbayangkan lagi apa yang akan dia lalukan setelahnya. Dia terlalu bejat, bahkan untuk segala kesalahan yang tidak di ketahui nya.

Dan dia yang berlari sudah terlalu lelah, bahkan hanya untuk menengok saja dia sudah ingin terjatuh. Dia ingin berakhir, ingin mengakhiri semua rasa sakit yang menyerang segala tubuhnya. Dan sakit itu semakin sakit, ketika dia menyerah pada rasa cintanya pada sosok itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol, dia sudah lama merasa sakit. Tapi dia tidak bisa menahan apapun yang membuat orang tercintanya ikut tersakiti. Dia butuh di cintai. Tapi apa yang bisa dia lakulan? Kenyataanya dia membuat semua orang tersakiti.

Chanyeol tidak bodoh, dan dia mengharapkan Kyungsoo cintanya kembali berada pada pelukannya.

Dan Kyungsoo

Dia mencintai Chanyeol. Sangat dan sangat, tapi dia harus melepas perasaannya.

Tapi Kyungsoo selalu tahu, Chanyeolnya akan kembali lagi padanya. Dan dia akan menghapus rasa sakitnya bersama.

.

.

.

.

.

.

.

Ha ha hai, i'm back.

Maaf ya buat semua yang nunggu updatean ff HWM. Sebenarnya udah setengah jalan, tapi saya masih di sibukan dengan tugas dan latihan buat hut sekolah minggu depan. Insyaallah minggu depan bakal aku selesai dan cepet2 saya publish. Maaf banget buat keleletan saya, dan makasih buat yang udah mau baca ff abal ini.

Ini cuman selingan aja, waktu duduk di kelas jam pelajaran hari ini :3

Big Thanks yaaaa, luv u guys😊