"Kyungsoo"
"Kyungsoo" sudah dua kali di panggil dia tetap tidak menoleh.
"Sayang, Kyungsoo sayang?"
"Haahhh" dan orang itu hanya bisa menghela nafasnya berat. Dia tidak yakin apa yang sedang Kyungsoo pikirkan. Sudah beberapa kali dia memanggilnya. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Tetapi dia juga khawatir jika Kyungsoo tetap seperti sekarang. Kondisi tubuhnya sudah cukup memprihatinkan, dan sekarang kondisinya semakin memprihatinkan.
Dan dia tidak akan berhenti untuk memperhatikan Kyungsoo. Seperti apapun keadaanya, dia akan tetap berusaha untuk selalu berada di dekatnya dan menjaganya. Kyungsoo sudah menjadi suatu hal yang sangat penting dalam hidupnya. Jika dia berani mengabaikan Kyungsoo, berarti sama saja dia melepas jantungnya untuk tetap hidup.
Karena Kyungsoo yang tetap diam dan melamun, dia memilih untuk memeluknya dan mengusap rambut panjangnya pelan. Dia menghirup semua aroma yang keluar dari tubuh Kyungsoo. Mengisi penuh paru-parunya untuk tetap bisa merasa tubuh Kyungsoo sedikit menggigil, dia menarik selimut dan menutupi tubuh Kyungsoo sampai bahunya. Dengan posisi tubuhnya yang berbaring disamping Kyungsoo, dia bisa mengamati dengan jelas wajah ayu dan polosnya. Tapi dia langsung tersenyum getir ketika melihat lingkaran hitam di bawah mata indah itu. Dengan pelan dia mengecup kening Kyungsoo dan mengeratkan pelukannya. Dia ingin menyalurkan semua rasa sayang dan cintanya. Dan dia ingin memberikan kehangatan yang mendalam kepada tubuh ringkih Kyungsoo. Tanpa sadarpun dia sudah meneteskan air matanya di atas bahu Kyungsoo. Dia semakin menyelusupkan kepalanya di tubuh Kyungsoo.
Tanpa dia sadari, Kyungsoo mendengarkan semuanya. Dia memang tidak tidur, dan dia juga tidak menjawab semua panggilan yang datang untuknya. Dia hanya lelah dan sangat lelah untuk membuka matanya. Dia tidak tahu, apakah nanti dia masih bisa bertahan jika membuka matanya dan melihat sosok yang kini tengah memeluknya. Dia tidak ingin menunjukkan kerapuhanya pada orang yang dengan tulus mengurusnya. Tapi dia tidak bisa egois, dia juga harus membuka dirinya untuk orang yang telah lama mengurusnya, tidak hanya mengurusnya tapi dia dengan tulus melindunginya juga.
Pada akhirnya Kyungsoo menyerah, dia membuka matanya dan langsung memeluknya dengan sangat erat. Kyungsoo sudah tidak peduli lagi dengan egonya, dia lelah untuk menahan semua rasa sakitnya selama ini.
Merasa ada seseorang yang membalas pelukannya dan merasakan bahas pada bahunya, orang itu segera mengangkat kepalanya dan melihat apa yang terjadi pada seseorang yang tengah ia peluk saat ini. Dia langsung panik ketika mengetahui bahwa Kyungsoo tengah menangis di pelukannya.
"Kenapa eum?" dia bertanya dengan lembut dan membelai pelan punggung Kyungsoo. Sejujurnya, matanya sendiri masih bengkak karena tadi dia juga habis menangis. Karena merasa yang tengah di ajak biacara tidak menanggapi dia kembali mengecup pelan kening Kyungsoo dan membenarkan selimut yang menutupi tubuh Kyungsoo.
"Kyungsoo kenapa eum? Kenapa menangis?" dan dia mengulangi lagi pertanyaanya.
"Jongin" dan akhirnya Kyungsoo berani mengeluarkan suaranya untuk menjawab Jongin.
Jongin, laki-laki yang selalu setia menemaninya dan menjaganya. Jongin yang selalu berada di sisinya, dan Jongin laki-laki yang akan selalu berdiri di depannya jika semua orang sudah tidak ingin melihatnya lagi.
"Jongiinn" panggil Kyungsoo lagi dengan air mata yang terus mengalir dan suara yang masih sesenggukan.
"Kenapa sayang?" dan Jongin selalu berusah tersenyum saat Kyungsoo memanggilnya dengan tenang.
"Aku, a a a akuu. Hiks, hiks, hiks" Kyungsoo serasa tidak bisa lagi untuk meneruskan kalimatnya. Dia bingung, dia takut, dan semuanya sudah terlalu sakit untuk di pikirkan lagi.
"Hust! Aku disini oke, tidurlah Kyungsoo. Aku akan memeluk mu sampai kau bangun" ujar Jongin dengan terus mengelus pelan punggung Kyungsoo dan menciumi pucuk kepalanya.
"Maafkan aku" Kyungsoo hanya mengatakan kata maafnya pelan.
"Tidak ada yang perlu aku maafkan. Sudah, tidurlah" titah Jongin dengan tegas tetapi tetap dengan nada yang sangat lembut.
Dan Kyungsoo pun hanya mengikuti perintah Jongin untuk segera tidur, dan dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Jongin. Menempelkan kepalanya erat pada dada Jongin, dan berharap dia bisa menemukan sosok yang tepat untuk dia temui di alam mimpinya nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau memang bejat dan bodoh Park Chanyeol!" lagi dan lagi bentakan keras menghujani wajah Chanyeol. Seperti hujan batu yang sangat besar, dan bagaikan seribu tombak menusuk tepat pada seluruh tubuhnya.
"A a, aku kenapa?" tanya Chanyeol dengan pelan dan ketara sekali rasa takutnya.
"Aku menyesal sudah membesarkan mu!"
Chanyeol hanya bisa menatap nanar seseorang yang telah membentaknya tadi. Sekarang dia sendiri, ditinggalkan tanpa tahu apa salahnya. Dan ditinggalkan tanpa di pedulikan bahwa sesungguhnya dia sangat sakit menerima semua perlakuan seperti tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Makasih buat yang udah review, aku tahu ini emang gak nyambung dan membingungkan. Dan so sorry buat yang minta biar di panjangin :3, ini aku bikinya langsung di hp dan di sekolah, jadi ini bakalan singkat2.
Sekali lagi makasih yaa ^°^
