Warning : If you heading read this one first (My Ff) Please take your responsibility to leave a review then. Bashing, Criticism, Sarcasm di terima.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enjoy^^
.
.
Keheningan melanda suasana di dalam mobil yang di dalamnya terdapat pasangan yang sedang tidak akur itu. Senyapnya basement mendukung suasana itu.
"Sshhhh...pukulanmu boleh juga Kyu." Bosan dengan keheningan yang menggigit itu, Kibum mengambil suaranya dengan keluhan yang di tujukan untuk dirinya sendiri sekaligus memuji Kyuhyun meski dirinyalah yang sedang terluka. Tidak hanya luka batin yang kini Kibum terima, tetapi juga luka fisik akibat pukulan telak dari Kyuhyun, seseorang yang di cintainya.
"Kurasa ini waktu yang tepat untuk berbicara denganmu." Kibum tersenyum. Ia sudah tahu Kyuhyun hanya akan diam dan mengunci bibirnya untuk mengeluarkan sepatah kata barang satu huruf pun. Lama Kibum menunggu respon dari bibir Kyuhyun dan tak mendapati apa-apa, bahkan Kyuhyun enggan menoleh padanya. Kibum semakin terlihat sebagai makhluk kasat mata di mata Kyuhyun.
"Aku menemui Ms. Song untuk membicarakan soal penolakan tawaran kerjasama dengan perusahaannya. Karena besok sore aku sudah berangkat ke Jepang. Aku membangun perusahaan cabang disana dan aku membutuhkan waktu selama kira-kira satu tahun untuk megelolanya. Maaf aku tak membicarakan hal ini dari awal padamu." Kibum tak pernah melepas tatapan lekatnya ke arah Kyuhyun. Ia mengerti Kyuhyun pasti juga terkejut dengan keputusannya ini. Tetapi di balik itu Kibum memiliki satu tujuan.
"Kyuhyun. Aku meminta padamu. Kumohon katakan sesuatu padaku. Aku tak mengerti arti diammu itu. Jadi tolong kali ini saja Kyu, sebelum aku pergi, katakan sesuatu padaku." Mata Kibum terlihat berkaca-kaca. Ia juga tak menerima dengan sepenuhnya keputusan yang di ambilnya ini. Ia tak mau berpisah dari Kyuhyun. Apalagi tak akan bertatap muka dengan orang yang di cintainya ini selama kurang lebih satu tahun. Tak ada yang akan ia peluk di saat waktu tidur tiba. Tak akan ada yang membuatkan sarapan sederhana untuknya. Dan tak akan ada Kyuhyun yang dingin selama ia berada di Jepang.
"Pergilah." Kibum mematung. Bukan. Bukan jawaban ini yang Kibum harapkan. Bukan jawaban untuk menyuruhnya pergi begitu saja yang sejak seminggu yang lalu selalu Kibum pikirkan tentang reaksi Kyuhyun. Meski Kibum sudah mengira respon Kyuhyun akan seperti ini, tetapi menerima kenyataan seperti ini Kibum rasanya lebih baik mati saja saat ini. Kibum berharap Kyuhyun akan menahannya tetap tinggal atau paling tidak Kyuhyun meminta untuk ikut serta dan meninggalkan pekerjaannya demi Kibum. Angan-angannya begitu tinggi mengharapkan Kyuhyun yang seperti itu. Ia tidak menyiapkan mentalnya untuk kemungkinan terburuk tentang respon yang akan di berikan oleh Kyuhyun. Bahkan rasa sakit karena tinjuan yang di berikan Kyuhyun pun kini tak terasa apa-apa. Rasa sakit di hatinya jauh lebih dalam. Menjalar keseluruh sudut persendian tubuhnya. Hingga ia tak mampu bergerak bahkan untuk sekedar menghentikan air matanya yang tanpa di komando mengalir melewati pipinya. Air mata yang mewakili segala rasa sakit Kibum kini. Bukankah Kyuhyun sungguh keterlaluan. Berciuman dengan pria lain, membela Siwon, memukulnya, dan kini membiarkannya pergi. Kibum tak mengerti arti dirinya bagi Kyuhyun itu apa. Apa arti dua tahun ini pernikahan mereka. Apa arti kehadiran Kibum di hidupnya. Apa Kibum benar-benar di anggap pengacau hidup Kyuhyun? Apa semua perhatian yang Kibum kerahkan untuk istri tercintanya itu sia-sia belaka? Lalu terbuat dari apa hati Kyuhyun yang teramat keras itu? Apa selama dua tahun ini apa yang Kibum perbuat tak berhasil melunakkan hati itu barang sedikit pun?
"B-baiklah. K-kau ingin aku antarkan kerumah atau ke-kembali ke kantormu?"
"Kantor."
.
.
.
.
.
.
Sudah seminggu sejak kepergian Kibum ke Jepang. Hari ini adalah hari Minggu. Di rumah besar itu kini hanyalah Kyuhyun seorang satu-satunya penghuni rumah itu.
Di pagi hari yang tenang itu, Kyuhyun masih bergelung dengan selimut di tempat tidur luasnya. Tempat tidur di mana awalnya ada dua penghuni yang menggunakannya sebagai tempat rehat yang nyaman. Kini terasa tak lagi hangat. Satu penghuninya tak lagi berada di sana.
Pagi itu, tiba-tiba suara bel berbunyi nyaring memekakkan pendengaran Kyuhyun yang masih nyaman berada di alam mimpinya.
"Eunghh... Kibummm ada yang datang." Erang Kyuhyun dengan mata yang masih menutup. Enggan melepaskan kenyamanan tidurnya.
Bel masih terus berbunyi. Kyuhyun mau tak mau ikut kesal. Biasanya Kibum yang tanpa di suruhnya akan bangun dan membukakan pintu.
"Kibum!" Kyuhyun memaki keras. Meski matanya masih setengah tertutup, tetapi kesadarannya masih belum pulih. Tangan Kyuhyun meraba ke samping di mana biasanya Kibum tidur. Kyuhyun seketika tersadar saat tempat itu dingin saat bersentuhan dengan kulitnya. Kyuhyun seketika mendudukkan dirinya masih dengan selimut yang membalut badannya.
"Kibum..." Kyuhyun lupa. Tubuhnya hanya terlalu terbiasa dengan keberadaan Kibum di sekelilingnya. Ia terbiasa dengan Kibum yang melakukan hal apapun untuk dirinya. Hingga ia melupakan bahwa saat ini Kibum tak lagi di sekelilingnya.
"Hiks...Kibum..." Kyuhyun menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangan di atas lututnya yang di tekuk. Ia menangis. Rasa menyesal, rindu, dan malu bercampur di dalam tangisan itu. Hingga ia mengabaikan bunyi bel yang sudah berhenti. Mungkin orang yang akan berkunjung ke rumahnya sepagi ini mengira bahwa tak ada orang yang berada di rumahnya.
"Kyuhyun mungkin sedang berlibur. Kenapa tadi aku tak menelponnya dulu sebelum kesini? Tapi ya sudahlah. Sebaiknya kutinggalkan undangan ini di kotak surat saja." Gumam Shindong yang tadinya berniat akan mengunjungi Kyuhyun sekaligus untuk memberikan undangan pernikahannya secara langsung pada sahabatnya itu. Setelah menaruhnya secara mencolok agar Kyuhyun nanti tak kesulitan menemukannya, Shindong segera pergi dengan mobilnya dari pelataran rumah Kyuhyun yang memiliki pintu gerbang otomatis itu.
.
.
Kyuhyun merasa malu dengan dirinya sendiri. Pantaskah ia menangis untuk Kibum? Tetapi ia sangat merindukan sosok yang selama ini di sakitinya itu. Dirinya begitu egois. Dalam kisah rumah tangganya pun tak ada secuil kebahagiaan untuk mereka. Lalu untuk apa dulu ia menerima lamaran Kibum dan menikah dengannya jika di awal bukan untuk hidup bahagia. Sama saja ia menyiksa dirinya sendiri dan terlebih ia juga menyeret orang lain dan menyakiti orang itu demi keegoisannya.
"Maafkan Aku hiks. Mianhe Kibum..." percuma meminta maaf. Kibum juga tak akan mendengarnya. Orangnya tak ada disana.
.
.
.
.
.
.
"Selamat atas pernikahanmu Shindongie hyung." Kyuhyun tersenyum lebar di hadapan Shindong. Tetapi sahabatnya itu tahu semua yang Kyuhyun simpan di balik senyuman lebar itu.
"Terimakasih." Shindong memeluk tubuh Kyuhyun erat. Shindong menangis di pundak Kyuhyun, begitu juga dengan Kyuhyun. Ia menumpahkan air matanya dengan segala perasaan yang berkecamuk. Ia turut bahagia dengan pernikahan sahabatnya ini. Tetapi ia juga sedih dengan rumah tangganya.
"Hyung. Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menyakiti istrimu. Jangan membuat ia menangis. Jangan menjadi orang yang jahat sepertiku araseo? Aku sangat bahagia kau akhirnya menemukan pendamping hidupmu." Shindong mengeratkan pelukan mereka begitu mendengar nasihat sekaligus pengakuan dosa Kyuhyun.
"Terimakasih. Akan kuingat selalu kata-katamu Kyu. Terimakasih."
"Hey, ini bukan sebuah perpisahan Shindong Hyung. Jangan menangis. Kau terlalu berlebihan hyungi." Meski Kyuhyun meyuruh Shindong untuk tak menangis, tetapi kenyataannya mereka berdua menangis teramat keras hingga membuat semua tamu undangan yang hadir memberikan atensi kepada mereka berdua.
"Sudah. Sudah. Kau tidak boleh merusak acara penrnikahanmu sendiri Hyung." Kyuhyun memberikan sapu tangan dari sakunya dan di terima Shindong untuk menghapus air matanya.
"Haha. Kau juga. Lihat Kyu wajahmu jelek sekali. Ini. Aku menggunakan yang sisi sebelah sini. Sisi sebelahnya sebaiknya kau gunakan untuk mengelap ingusmu haha kau lucu sekali." Shindong mengembalikan sapu tangan yang di berikan Kyuhyun yang telah di pakainya. Mereka terbiasa berbagi, jadi tidak ada rasa jijik sama sekali.
"Kyu, kau masih ingat mimpiku saat itu?"
"Tidak. Kau terlalu banyak bermimpi. Aku hanya ingat kau bermimpi untuk menguruskan badanmu."
"Haishh. Kau ini. Hari ini akhirnya terwujud! Aku ingin memiliki keturunan yang memiliki mata berwarna biru safir. Apa kau masih ingat Kyu?" Kyuhyun mengangguk. Ia jelas mengingat mimpi aneh Shindong itu.
Shindong membisikkan sesuatu pada Kyuhyun dan seketika membuat Kyuhyun kaget.
"Istrimu sudah hamil?!" Pekikan Kyuhyun itu ternyata di dengar oleh seluruh orang yang berada di sana. Terutama istri bule Shindong yang sedang berbincang dengan beberapa tamu tersipu seketika. Mau tak mau kabar gembira itu di sambut tepuk tangan dan sorakan menggoda dari para tamu undangan.
"Wah. Daebak kau Hyung. Selain playboy kau juga tak kenal menunggu." Sindir Kyuhyun yang memiliki sahabat bejat macam Shindong ini.
"Hehe." Cengir Shindong sambil menggaruk tengkuknya.
"Bukan 'hehe' Shindong pabboya." Kyuhyun dengan seenaknya menepuk jidat Shindong dengan keras hingga kepala Shindong terdorong kebelakang.
"Ini sakit bodoh! Kau tetap saja tak bisa menjaga sopan santunmu meski di pernikahanku sekalipun. Oh iya, setelah sebulan disini, kami akan pindah ke kanada untuk mewujudkan project mata sapphire blue hehehe. Aku sudah membeli rumah dan peternakan disana. Doakan sahabatmu ini ya teman?" Kyuhyun kembali memeluk Shindong tetapi hanya sebentar saja.
"Selalu"
.
.
.
.
.
Dua bulan berlalu semenjak Kibum pergi ke Jepang. Tak ada satupun telepon maupun pesan singkat yang Kibum kirimkan untuk Kyuhyun. Hanya sekedar mangatakan 'hai' saja tak pernah. Begitu juga Kyuhyun. Gengsi Kyuhyun begitu tinggi. Ia berpikir bahwa selama ini Kyuhyun tak pernah peduli pada Kibum. Jika tiba-tiba Kyuhyun yang menghubunginya lebih dulu Kyuhyun takut jika Kibum menganggapnya aneh atau apapun. Tetapi rasa rindunya terhadap Kibum semakin hari semakin besar. Bahkan setiap malam, Kyuhyun sampai mengenakan pakaian Kibum untuk menemaninya tidur. Ia juga tak mencuci sarung bantal Kibum karena di sana masih tercium bau Kibum yang begitu membuatnya merasa nyaman.
Katakan Kyuhyun mulai jatuh cinta. Tetapi ia selalu mengelak dari pemikiran itu. Gengsinya terlalu besar untuk mengakuinya. Tak pernah sehari pun Kyuhyun melewatkan untuk memikirkan Kibum. Karena di setiap sudut rumah Kibum selalu ada dan terbayang di pikirannya. Bahkan Kyuhyun akhir-akhir ini begitu mellow karena sering menangisi Kibum.
Kyuhyun menyalakan televisi. Ia awalnya tak berminat sama sekali dengan tayangan-tayangan yang berlalu lalang di sana, begitu ia tak sengaja memencet channel berita di negeri sakura sana, entah karena Kyuhyun yang begitu hampa tanpa Kibum sehingga ia melihat sosok Kibum terpampang dengan senyum menyejukkannya di dalam sana atau Kyuhyun yang hanya salah fokus. Kyuhyun mengucek matanya. Tetap sama. Masih ada Kibum di sana. Berita yang menayangkan sebuah proyek entah apa, sesekali menyorot Kibum bersama senyumnya yang tetap sama.
"Kibum!" Kyuhyun tanpa peduli kakinya sakit karena tersandung kaki meja, memeluk televisi layar datar itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC atau Selesai?
.
.
.
.
Ungkapkan komentar dan jawaban Anda di kolom review^^.
Jangan jadi silent reader ne?
.
.
Terimakasih atas segala dukungan kalian readers^^
