KLIKK
Suara jepretan kamera terdengar lirih, tenggelam dalam riuh rendah keramaian tradisi musim semi. Hanami, begitu orang-orang menyebutnya, piknik bersama keluarga berpayung keindahan bunga yang hanya menampakan diri dalam waktu singkat. Merah muda mendominasi, menghipnotis setiap mata akan keindahannya. Moment beharga itu diabadikan dengan apik oleh pemuda dengan surai pirang bermata saphire. Mencoba berbagai macam angle dan mencari posisi strategis sebelum akhirnya tersimpan gambar menawan dalam beberapa kali tekan dari jemari sang pemuda.
Permata saphire itu senantiasa menajam tatkala menemukan objek yang menarik hati. Bibirnya menarik senyum, foto si cantik merah muda didapat.
Naruto merasa bahwa keberuntungan sedang menempel padanya, matanya berkilat kala mendapati objek menarik—sangat menarik bahkan mengalahkan si cantik merah muda yang sedari tadi menjadi objek fotonya. Objek itu, atau bisa divokalkan gadis itu, benar-benar menjadi jelmaan bunga sakura di matanya. Fokus diarahkan, tombol shutter ditekan jemari tan, menyimpan puluhan pose gadis merah muda yang melebur di bawah naungan pohon sakura yang senada rambutnya.
Naruto tersenyum lebar memamerkan gigi putihnya. "Haru no sakura," ucapnya dengan nada riang. Ingatkan ia untuk berterima kasih pada sahabat temenya karena telah mengajaknya berhanami di tempat ini. Hanami dengan Sasuke? Ya, hanami memang seharusnya piknik dengan keluarga dan Naruto bersihkeras mengklaim Sasuke sebagai keluargannya. Atau mungkin rival? Ah ngomong-ngomong tentang Sasuke, Naruto memang sedang panik karena kehilangan rival rambut pantat ayamnya itu. Apa ia tersesat saat aku mengambil gambar? pikirnya bingung. Seingatnya tadi ia berjalan berdampingan dengan Sasuke. Dan Naruto mulai sibuk mengambil gambar dengan kameranya lagi.
Mungkin sebagian orang lebih memilih untuk pindah lebih ke utara untuk melihat bunga sakura yang baru bermekaran. Namun bagi Naruto pohon Sakura yang mulai gundul sembari menggugurkan bunganya lebih memiliki pesona tersendiri. Suasana yang tidak terlalu ramai mendukungnya untuk menciptakan efek dramatis untuk mengabadikan sang cherry blossoms dari berbagai sudut. Terlebih ia dapat menangkap mahluk jelmaan bunga merah muda dengan kameranya, padahal Naruto tidak ingat sejak kapan kameranya dapat menangkap gambar 'mahluk halus'.
"DAMEEE!"
Sontak gerakan Naruto yang berniat menarik ranting sakura lebih dekat demi mendapatkan foto close up bunga khas jepang itu terhenti. Apa yang tidak boleh? pikirnya menjawab teriakan memekakan telinga tadi. Ia menoleh, namun apa yang terpantul di mata membuatnya kaget hingga saphire itu melebar dan mulutnya terbuka.
Sosok merah muda mendengus jengkel, bibirnya mengerucut. "Kau! Dasar turis asing tidak bertanggung jawab!" Sakura berteriak sembari menunjuk-nunjuk pemuda pirang dihadapannya. "Kau pasti akan mematahkan ranting itu, membungkusnya dan membawanya pulang, huh? Aku tahu kalau bunga itu tidak ada di negaramu. Tapi kau harus tahu kalau masyarakat jepang sangat menanti mekarnya sakura di musim semi. Seharusnya kau menghargai kami dengan ikut menjaga keindahannya bukan merusaknya!" Sakura menghembuskan nafas setelah selesai dengan pidatonya, capek juga berteriak begitu panjangnya.
Sedangkan para keluarga yang kebanyakan sedang berhanami yang juga mendengarkan teriakan toa Sakura mulai berbisi-bisik, menghujat tindakan seseorang yang katanya pelaku perusak keindahan bunga sakura.
Naruto kehabisan kata-kata "Ka-kau―"
"Apa?" Sakura mendelik sinis, sekarang turis pirang itu mau memakinya huh? Dasar tidak sopan! Jelas dia yang salah dan sekarang berniat memaki gadis cantik dan manis sepertinya, tidak termaafkan.
"—Manusia?" lanjut Naruto terdengar ragu, heran, tidak percaya, bagai menemukan alien yang sedang bermain pokemon.
TWICTH
Urat perempatan muncul di jidat lebar Sakura, pemuda ini sungguh menguji kesabarannya. Tangan terkepal erat, berkedut mencari mangsa.
BLETAKK
"Bakaaa! Kau pikir aku siapa huh? Mahluk halus? Sadako? Kau benar-benar tidak punya sopan santun ya? Teganya kau mengatai gadis manis dan cantik sepertiku. Kau mau merasakan pukulan mautku? Asal kau tahu ya, aku ini—"
Di sisi lain Naruto terjebak dalam dunianya, mengabaikan celotehan Sakura, pemuda pirang itu memandang intens dari ujung kepala merah muda hingga kaki. Naruto bertanya-tanya apa rambut sewarna gulali itu asli? Wajah manis, mata bulat dengan bulu lentik dan dagu mungil. Tak terlewatkan bibir merah sewarna cherry yang membuka tutup setiap tuannya melontar kata. Damn! Dimata naruto gerakan itu seakan ingin menggodanya. Tubuh gadis yang masih dalam masa bertumbuh itu diselimuti seragam sailor khas anak junior high, senada dengan sepatunya yang membalut kaki mungil gadis itu. Naruto mengusap kepalanya, rasa sakit jelas tersampaikan dari syarafnya. Jadi gadis merah muda ini nyata?
"Huwaa, sekarang kau memandangiku. Dasar om-om mesum!"
Naruto tak tahu apa penyebab jantungnya berdetak keras saat ini. Berfikir keras dimana ia dapat menemukan dokter spesialis jantung.
Pertemuan pertama dua insan itu membuat hati sang pirang jatuh, terjerat pesona gadis merah muda.
Precious Memories © NaouraIda
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: AU, Typos, Abal, Aneh, OOC, Alur kilat loncat-loncat.
Pair : NaruSaku slight SasuSaku.
Just for fun
Don't like? Don't read
.
~o0o~
.
Chapter 2 : Cherry Blossoms
Bola orange melambung tinggi di tengah lapangan, sontak menjadi rebutan para pemain yang melompat untuk meraih bola ke dalam genggaman. Konohamaru, pemain dari kubu kanan menjadi yang tercepat untuk mencuri bola. Mendreable bola, membawanya masuk ke daerah lawan. "Yosh, ayo kita serang pertahanan mereka!" ucapnya menularkan semangat. Ia tersenyum sambil melirik kawan se-timnya, isyarat akan mengoper bola.
Namun belum sempat bola di sambut, Udon menggagalkan rencananya dan dengan segera mengoper bola. "Tidak akan kubiarkan." Ia melempar senyum mengejek saat Konohamaru harus rela kehilangan ruang gerak karena menghadapi pemain defense dari kubu kiri.
Udon memulai langkah lebar dan melompat tinggi untuk kemudian mencetak skor.
PLUSH
PRIIITT
"Ya, kita akhiri latihan hari ini sampai disini!" Naruto, selaku penguasa lapangan melirik arlojinya. Meraih handuk yang menggantung di leher untuk kemudian mengusap keringat yang meluncur di dahinya.
Naruto berjalan masuk ke lapangan, memungut bola dan berdiri di tengah lapangan sambil memainkan bola orange di tangannya. Suara pantulan bola membaur dengan keributan yang dibuat para pemain basket yang kelelahan. Suara anak yang merebutkan botol minuman, pelaku peregangan otot dan nafas memburu para pemain yang rebahan menghilangkan kaku.
Menghentikan pantulan bolanya, Naruto mengisyaratkan agar perhatian tertuju padanya. Setelah suasana terkendali ia memulai review latihan hari ini. "Konohamaru." Ia melirik remaja bersurai coklat yang rebahan di sisi lapangan. Sang empu yang dimaksud segera menegakan tubuh dan membalas dengan gumaman. "Kau kurang konsentrasi, tembakanmu banyak yang meleset." Naruto menggeleng heran, biasanya pemuda Sarutobi itu dapat bermain cukup baik, terlebih kemampuannya yang dapat bergerak cepat dalam permianan. "Apa kau ada masalah?"
Konohamaru terkekeh, "Aku baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan kore." Ia menghapus keringat di dahi, sebelum terlonjak. "Ah, ini juga karena hukuman darimu, Naruto-sensei. Aku mengerjakannya semalaman sehingga kurang tidur. And see, permainan hebatku berkurang." Konohamaru memasang wajah sengsara, berharap meruntuhkan keras hati gurunya agar tak memberinya hukuman lagi.
Naruto ingat ia memberi Konohamaru hukuman menulis 'tehnik dasar permainan bola basket' minimal sepuluh lembar karena terlambat dalam pertemuan latihan kemarin. "Kalau begitu mana tugas hukumanmu?"
"Eh, apa kau lupa Naruto-sensei? Saat jam istirahat tadi, kau menyuruhku untuk menaruh tugas itu di mejamu." Konohamaru mencebik, kalau tahu begini, ia akan mengerjakan tugas laknat itu tadi pagi saja saat ia membolos pelajaran pertama.
Naruto tertawa garing dibuatnya, "Ahaha, aku belum memeriksanya ttebayou." Kemudian senyum tegas Naruto tampilkan, berusaha memperbaiki suasana. "Kurasa latihan hari ini cukup bagus. Kalian mengalami banyak peningkatan, terutama Udon—" Ia melirik sobat konohamaru itu dengan senyum bangga. "—Lay up-mu semakin baik," lanjutnya yang membuat Udon tak kuasa menahan senyum lebarnya.
Naruto menyapu pandangan pada seluruh pemain di bawah bimbingannya, senyum mentari menularkan semangat. "Aku harap kalian selalu menjaga kekompakan tim dan jaga kesehatan kalian untuk menghadapi olimpiade yang tinggal tiga minggu lagi. Jangan lupa dengan ujian simulasi minggu depan. Aku ingin di ujian nanti, kalian bermain dengan serius. Anggaplah kalian sedang bermain di olimpiade yang sesungguhnya, karena akan ada point untuk setiap pemain. Apa kalian mengerti?" jelas Naruto yang kemudian mendapatkan jawaban serentak.
Naruto mendekat sembari memberi gestur untuk melakukan kebiasaan timnya. Para remaja itu mendekat membentuk lingkaran dengan tangan kanan saling ditumpukan. "Tim basket Konoha School pasti menang! Yeah!"
.
.
.
"Jadi, bagaimana persiapan dari tim biologi?" Naruto melirik wanita bersurai pirang dengan poni menutupi sebelah matanya, sang empunya terlihat asyik memandangi kuku berpoles warna mengkilat menyakiti mata. Mungkin sedang berpikir untuk mengubah warna kuku sesuai dengan moodnya? "Ino-sensei!" tegur Naruto, sedikit lebih keras hingga kemudian menarik perhatian Ino.
Ino tersentak, memasang wajah bingung. "Ah, persiapan kah?" Wajahnya mendadak berseri. "Kami baru saja selesai praktik pengamatan morfologi dan anatomi cicak. Ah, mahluk mungil itu memang menggemaskan." Yang mendengarkan mendadak sweetdrop, Naruto tertawa garing. Ino tambah bersemangat untuk menjelaskan. "Aku senang kala melihat wajah-wajah serius muridku saat menancapkan jarum pentul pada ekor cicak-chan ataupun saat menguliti kulit luarnya. Terutama Hanabi-chan, dia selalu melakukannya dengan cepat. Aku tak salah karena memilihnya, ia memang berbakat." Ino tertawa girang, terlihat angkuh dengan menegakan kepalanya.
Naruto bersyukur karena telah terbiasa mendengar perkataan Ino yang terlalu frontal jika bebicara mengenai hobinya. Ini bahkan tak se-ekstrem biasanya. Jika orang baru pertama kali mendengar dan kemudian dapat membayangkan dengan baik, Naruto pastikan orang itu sudah mengeluarkan isi perutnya seperti ibu-ibu hamil.
"Ah, aku tidak sabar menanti ujian simulasi minggu depan. Sepertinya aku juga akan menambahkan ujian praktik setelah selesai dengan ujian teori." Ino melirik Naruto antusias, tanpa sadar mengguncang lengan sang ketua. "Ne, Naruto-sensei menurutmu mana yang lebih baik? Praktikum katak atau cacing tanah? Mahluk berlendir itu pasti lucu saat aku sayat dengan pisau bedah, tapi mahluk mungil yang menggeliat saat aku mengulitinya juga tidak kalah menggemaskan." Ino tampak galau untuk memilih dari dua pilihan sulit itu. Keduanya sama-sama tak boleh terlewatkan, sama pentingnya dengan tak boleh melewatkan mewarnai kukunya.
Naruto menghela napas, entah nasib baik atau buruk yang menimpanya. Ia diamanahkan untuk menjadi penanggung jawab Konoha School dalam Olimpiade se-Jepang dan memimpin guru-guru pembimbing dengan kelakuan yang memiliki tingkat aneh bin absurd berlebih. Selain guru-gurunya yang aneh, bahkan kepala sekolahnya pun lebih aneh plus mesum. Naruto menggeleng.
Meski begitu Konoha School merupakan sekolah lanjutan yang berlangganan untuk membawa pulang belasan medali emas dan piala dari bidang sains dan olahraga. Dua bidang tersebut menjadi ciri khas dan fokus tersendiri dari pengembangan di sekolah. Bagi Naruto ini adalah tantangan yang besar, mempertahankan title Konoha School sebagai raja di olimpiade sains dan olahraga sekaligus membuktikan bahwa ia bisa membawa nama sekolah untuk lebih baik dari tahun sebelumnya.
"Mendokusai, kenapa tidak kau pilih keduanya saja, Ino. Kau bilang keduanya sama pentingnya." Pria berkepala nanas menjawab hendak mengusir kegalauan istrinya, berbanding terbalik dengan tampangnya yang terlihat mengantuk dan malas. Naruto dapat merasa asap rokok masuk bersamaan oksigen yang dihirupnya. Ino bertepuk tangan bagai telah berhasil memecahkan masalah hidupnya, setuju dengan pendapat Shikamaru. Wanita ponytail itu mengirimkan tatapan penuh cinta yang dibalas pandangan malas lengkap dengan gumaman. Dasar pengantin baru! Tunggu, apa tadi ia bilang rokok?
"Nara-sensei dilarang merokok saat rapat sedang berlangsung. Kau tahu peraturannya kan?" Naruto menggeram, ini sudah lebih dari tingkah aneh yang bisa ditoleransinya. Membuat Shikamaru dengan segera menindas rokoknya yang masih panjang ke bawah sepatu pantofel mengkilatnya.
"Kenapa hanya aku?"
Naruto dapat melihat tampang Shikamaru yang tampak tak niat untuk bertanya, "Nani, tteba?"
"Kau memanggil semua guru dengan nama depan kecuali aku, mendokusai."
Naruto mendelik, hal ini sudah terlampau aneh di matanya. Jelas Shikamaru adalah guru baru yang masuk bulan lalu. Naruto tidak mengerti, apa yang dipikirkan otak mesum Jiraiya yang memasukan Shikamaru dengan mudah dan begitu saja menjadi salah satu guru pembimbing. Naruto jelas tidak menerima alasan pria nanas itu yang mengatakan keinginannya untuk berada satu instansi dengan istrinya dapat meluluhkan hati Jiraiya yang sesama anggota forum suami-suami takut istri. Itu alasan teraneh yang pernah didengarnya.
Terlebih Shikamaru terlalu mencurigakan, ia sering muncul secara tiba-tiba. Naruto ingat pertemuan pertamanya yang mendapati Shikamaru berada di balik pintu tepat saat ia mengakhiri kelasnya tepat jam istirahat baru berbunyi, ingin berkenalan katanya? Bahkan saat berpapasan di jalan dan berakhir pulang bersama atau saat Shikamaru berada di pinggir lapangan untuk mengingatkannya rapat rutin bulanan. Seperti hantu saja, ia ada dimana-mana.
Naruto mengabaikan perkataan Shikamaru akan panggilannya, "lalu bagaimana dengan laporanmu Nara-sensei?"
Shikamaru menggumankan kata favoritnya, ternyata Naruto cukup keras kepala. Pria itu menyodorkan sebundel laporan selama sebulan bimbingannya. Ini lebih simple bagi jenius sepertinya jika dibandingkan harus panjang lebar menjelaskan, terlalu merepotkan.
Mata saphire mendadak sakit, mana mau ia membaca laporan setebal kamus begitu. Naruto yakin kertas itu berisi angka semua. "Jadi..." Naruto menatap enggan Shikamaru, membuat si perokok menghela nafas. Jadi pada akhirnya harus menjelaskan juga?
"Mendokusai. Jadi pada intinya tim bimbinganku banyak peningkatan. Materi yang tersampaikan terlampir. Soal latihan terlampir. Hasil tes siswa terlampir." Oh, oke. Singkat, padat dan diperjelas laporan. Naruto berkedip.
"Baiklah, selanjutnya laporan Shino-sensei."
"Mendokusai, di awal rapat kan sudah dijelaskan jika Shino-sensei tidak masuk."
Naruto berusaha mengabaikan tatapan menyelidik Shikamaru, ia tertawa gugup lalu berdehem. Berdoa dalam hati semoga tingkahnya tak terlihat aneh. "Kalau begitu kita sudahi rapat kali ini." Naruto beranjak dari kursinya, membereskan barang bawaannya sebelum sedikit menunduk. "Terima kasih atas kerja keras kalian. Selamat beristirahat," ucap Naruto mengakhiri pertemuan, yang dibalas hal serupa oleh guru lainnya.
.
.
.
"Hey, siapa yang kau bilang turis, gadis kecil?"
"Memangnya siapa lagi yang berkepala pirang disini?"
Si gadis berkacak pinggang, memandang pemuda di hadapannya dengan aura menantang. Naruto menghela nafas. "Dengar ya! Aku asli orang sini. Terserah kau mau percaya atau tidak, aku tidak peduli," katanya setelah melihat tatapan Sakura yang menuduhnya bagai seorang pembohong.
Diam-diam ia ingin tertawa geli, ekspresi gadis kecil dihadapannya ini sungguh menggemaskan. "Dan aku sama sekali tidak berniat untuk merusak bunga itu, ok? Aku hanya ingin memotretnya lebih dekat," jelasnya seraya menunjuk kameranya yang kini menggantung di lehernya.
Sakura gelagapan, ia berusaha menyembunyikan rona malu di pipinya. Shannaroo! Sakura tak bisa dipermalukan karena kesalahannya sendiri. Ia harus memutar otak, tak membiarkan dirinya disalahkan. "Ka-kalau begitu buktikan! Buktikan kalau kau bukan orang asing." Sakura mengangguk semangat dalam hati, yakin pembelaannya akan menjungkir balikan situasi. Lagi pula siapa yang akan percaya kalau pemuda surai pirang mata biru bukan turis di negara jepang yang mayoritas memiliki mata dan rambut hitam. Ia tidak sadar dengan warna rambutnya sendiri.
"Kalian saling kenal?".
"Sasuke-kun." Sakura berseru semangat, merasa penyelamatnya datang. "Orang asing ini sudah berlaku tidak sopan padaku," adunya saat Sasuke menghampiri keduanya.
Pemuda raven menyimpan tangan kokohnya ke dalam saku celana. Mata hitam setajam elangnya menatap Naruto sinis, merasa menyesal karena sempat―sedikit menghawatirkan sahabat pirangnya. Menghiraukan Sakura, ia bertanya dengan nada ketus, "dobe, kau malah bersenang-senang disini."
Naruto tergelak hingga perutnya sakit, "Hahaha, jangan bilang kau mencariku berkeliling. Oh, Uchiha Teme Sasuke yang apatis mau bersusah payah mencariku, aku tersanjung," oloknya terdengar bangga.
"Dobe, tentu saja aku mencarimu." Naruto melongo, apa ero-sannin sudah tidak mesum lagi pikirnya tidak nyambung. Tapi ini serius, Sasuke pemuda emo itu baru saja mengakui sudah menghawatirkannya?
"Kameraku ada padamu, tentu saja aku mencarimu. Aniki ingin menggunakannya," lanjutnya kalem yang kemudian menghancurkan pemikiran sesaat Naruto.
Naruto menangis dalam hati, jadi si teme mengajaknya hanya untuk menagih kamera yang dipinjamnya? Bukan untuk berhanami bersama? "Huweee teme, kau 'kan punya banyak kamera di rumahmu. Kenapa tidak kau beri aku satu saja? Aku kan baru pinjam kemarin." Ia memeluk kamera dengan erat bak ibu-ibu yang protektif saat anaknya akan diculik.
Sasuke memandang risih uzumaki pirang di hadapannya. "Kalau kau memang menginginkannya, kau bisa pilih salah satu punyaku. Kecuali yang kau pegang, itu kesayangan Itachi."
Sakura berkedip, rasanya ia mendengar hal ambigu.
Naruto mendengus, dasar holang kaya. Lalu ia nyegir lebar, rejeki tak boleh ditolak kan? Lumayan, dapat kamera gratis. "Hehe, sangkyu Sasuke."
Sakura menatap interaksi dua pemuda itu dengan binggung. Sangat jarang untuk mendapati Sasuke banyak berbicara, pemilik onyx itu hanya akan melakukannya dengan orang yang sudah benar-benar dekat dengannya. Bahkan tidak termasuk dirinya. Sebenarnya siapa pemuda pirang itu? Wajahnya tidak asing dimata emerland-nya. Dimana ia pernah melihatnya?
Sang pemuda emo memandang Sakura yang sempat terlupakan, "Kurasa tidak terlalu buruk jika kau ikut berhanami bersama kami, dobe," ucapnya yang direspon semangat berlebihan Naruto.
Sekarang mereka bertiga duduk menggelar tikar menikmati suasana hanami. Kotak bekal yang sudah terhidang terlupakan karena ketiganya masih asyik menggusung obrolan.
"Jadi dia teman Sasuke-kun yang akan dikenalkan padaku? Bukan turis asing?" Sakura bertanya dengan nada tidak percaya.
"Hn."
"Hahaha, apa kubilang, sekarang kau percaya kan?"
Naruto berkata dengan nada menggoda, alis pirangnya naik turun. Sementara Sakura sibuk berfikir, Sasuke tidak berteman dengan banyak orang, jika dia teman Sasuke berarti... Tunggu, jangan bilang—
"Apa dia pernah mampir ke rumahmu?"
Sasuke mengernyit lalu meliriknya sekilas, "hn."
Sakura gelagapan, ia menyampirkan helai merah mudanya ke samping telinga. Senyum cantiknya ditampilkan. "Haruno Sakura desu, yoroshiku."
Sasuke memperhatikan gadis yang lebih muda tujuh tahun darinya itu mengubah sikapnya, padahal onyxnya sendiri melihat bagaimana tadi sang gadis berteriak di depan si pirang idiot.
Naruto melirik tangan mungil yang mengulur ke arahnya. Tangan kecil seorang gadis kecil yang pastinya akan terasa lembut dalam genggamannya. Tapi bukan itu yang menjadi fokusnya saat ini, nama itu... sesuai dengan apa yang dipikirkannya, nama yang sangat cocok untuk gadis merah muda itu. Ia tersenyum tulus, "He, jadi itu benar-benar namamu ya?"gumannya sebesar bisikan tapi masih bisa didengar telinga tajam Sasuke.
"Dobe, ia yang ingin kukenalkan padamu. Haruno Sakura―"
Sasuke menjeda untuk melirik keduanya, lalu onyx memaku saphire.
"―tunanganku."
DEG
Naruto tidak tahu alasan apa yang membuat tangannya membeku. Apa karena lengan mungil digenggamannya? Tapi kenapa juga dadanya sesak? Kenapa rasanya... sakit sekali.
"Uzumaki Naruto. Yoroshiku Sakura-chan."
Naruto bahkan tidak tahu apa senyumnya terlihat normal.
.
.
.
Angin berhembus menyibak surai pirang Naruto, membuatnya menutup mata, lembut. Suasana ini selalu membuatnya tenang, damai dan melupakan sejenak rupa masalahnya. Naruto menggeleng menghilangkan bayang-bayang. Kenapa ia harus mengingat pertemuan pertama dengan sang pujaan hati? Kejadian itu jelas membuatnya melayang sekaligus jatuh terhempas.
Bunga sakura yang berguguran jatuh tepat di telapak tangannya. "Haru no Sakura, kah?" Ia terkekeh getir. Setidaknya sakura yang ini bisa dimilikinya, miliknya.
SRAAK
Naruto melirik cepat ke arah gang di ujung taman, ia bersumpah melihat siluet bayangan tadi. "Siapa?" katanya berteriak yang hanya direspon hembus angin musim semi. Apa hanya perasaannya saja? Naruto mengendikan bahu, tidak ambil peduli. Hari sudah semakin sore, ia beranjak untuk bersiap pulang.
BRUUKK
"Ittaiii."
Naruto melirik, orang bodoh mana yang mau memanjat pohon di cuaca yang cukup dingin seperti ini. Berniat melanjutkan langkah, namun kaki jenjangnya membawa berbalik dan menghampiri orang bodoh yang kini meringis kesakitan. "Oy, kau baik-baik saja?" Naruto menghampirinya yang kemudian membuat ia tercengang. "Konohamaru? Apa yang kau lakukan, bodoh?" Konohamaru menampilkan gigi putihnya, nyengir tanpa dosa. "Ehehe, konbawa Naruto-sensei."
Pada akhirnya Naruto berujung menggendong Konohamaru di balik punggung, berniat membawanya ke klinik Tsunade untuk mengobati kaki yang terkilir. Naruto tidak habis pikir dengan tindakan muridnya yang satu itu, ia keluarkan dari tim baru tahu rasa. Keduanya sampai dalam waktu beberapa menit mengingat jarak yang tak jauh. Klinik sekaligus rumah berlantai dua itu tidak besar, namun halamannya luas. Ditambah kolam ikan koi peliharaan Jiraiya yang menciptakan suasana damai. Kesan minimalis dan tradisional sangat kental terasa, salah satu yang membuat Naruto betah berlama-lama mampir di rumah tetangganya itu.
"Shizune-neechan!" Naruto menyapa asisten dokter Tsunade setelah menurunkan Konohamaru dari gendongannya.
"Ah, Naruto." Wanita berambut pendek sebahu itu melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan berkas berkas di mejanya. Hari ini Sakura tidak masuk karena sedang menghadiri acara workshop vaksin terbaru di Yokohama dan itu membuatnya harus mengerjakan tugas ganda. Rasanya ia tak punya waktu untuk meladeni Naruto yang terlalu sering berkunjung tanpa alasan yang jelas, namun ia tetap melempar senyum. "Kau ingin bertemu Tsunade-sama?" tanyanya setelah menangkap Naruto membawa remaja dalam keadaaan kaki kiri bengkak bersamanya. "Tunggulah! Tsunade-sama sedang menangani pasien."
Naruto hanya mengangguk lalu mendaratkan pantatnya di kursi ruang tunggu. Konohamaru menyusul dengan langkah tertatih. "Jadi―" Naruto membuka obrolan, meminta penjelasan atas tindakan bodoh muridnya.
Konohamaru membuang muka, isyarat enggan menjelaskan. Tapi tatapan tajam sang guru yang membakar tengkuknya tidak bisa ditahan. "Etto, aku hanya―"
"Hanya?"
Konohamaru memutar otak, haruskah ia menjelaskan yang sebenarnya? "Naruto-sensei, kau terlihat aneh akhir-akhir ini, kore," katanya mengalihkan pembicaaraan.
"Eh, apanya?"
Remaja surai coklat itu menghela nafas lega. "Naruto-sensei kau jadi sering terlambat. Kau melupakan tugasku, bahkan membatalkan tes tulis hari ini dan menggantikannya dengan latih tanding." Kalau yang terakhir sih Konohamaru malah bersyukur, ia memperbaiki duduknya lalu melanjutkan, "kau juga menjelaskan teori secara berulang. Anak yang lain juga membicarakannya, rasanya bosan jika harus mendengarkan teori yang bahkan prakteknya sudah dipelajari minggu lalu. Eh, apa Sensei mulai pikun? Hiruzen-jiisan juga pernah mengalami hal yang sama, kore." Konohamaru mengangguk berualang kali, merasa puas karena berhasil menarik kesimpulan.
TWICTH
Urat persimpangan muncul, emosi naik ke permukaan. "Beraninya kau! Beraninya kau mengatai gurumu, Konohamaru!" Kepalan tangan Naruto tergoda untuk membuat benjolan di surai coklat itu, ia tidak peduli jika harus berakhir di kantor polisi karena tuduhan menganiaya murid. Ia mendengar jika di negara tetangga sudah ada guru yang merasakannya.
Konohamaru berkeringat dingin, apa ia salah bicara? Ia memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit. Setelah kaki, kini kepalanya juga akan menjadi korban kah? Meringis menahan tangis ia lakukan.
Namun emosi itu tidak pernah akan Naruto salurkan kala instuisinya berteriak tanda bahaya. Di depan pintu, Tsunade berdiri menjulang, mengirim sejuta tatapan mematikan yang hanya tertuju pada si pirang. "Kau berhutang penjelasan padaku, Gaki," ucapnya dingin mengirim tremor mendadak yang membuat nyali Naruto menciut.
Sementara Konohamaru berhenti menahan nafas, setidaknya hari ini ia selamat. Remaja tanggung itu mengekori Tsunade yang ditelan pintu ruang pemeriksaan. Meninggalkan Naruto yang tenggelam memikirkan cara melarikan diri.
Naruto mengacak surai pirangnya kesal. Haruskah ia membiarkan dirinya dimangsa singa yang menatapnya lapar. Ia menghembuskan nafas kasar, ia benar-benar akan habis.
Daun pintu terbuka tanda pemeriksaan selesai. Tsunade melemparkan tatapan ikut-aku-sekarang-dan-jelaskan. Naruto tahu ia tak bisa kabur, tapi—
"Kurasa aku harus mengantarkan Konohamaru pulang terlebih dahulu."
—mengulur waktu akan terasa lebih baik kan? Tapi mendadak bulu kuduknya berdiri.
SIIINGG
"Biar aku yang melakukannya."
Sebuah bisikan di telinga terasa dari belakang. Naruto berdetak cepat, ia berbalik. Berdoa dalam hati, berharap tak menemukan mahluk astral dan sejenisnya. "Gyaaa, Shikamaru!" pekik Naruto kaget, ia lanjut berdecih. "Kau ini memang hantu ya? Tak bisakah kau muncul dengan cara yang normal? Kau membuatku jantungan, ttebayo."
"Sekarang kau tak punya alasan lagi, Gaki. Ikut aku." Tsunade melotot tajam sebelum berbalik masuk ke ruangannya lagi.
Konohamaru mengirimkan ucapan penyemangat. Shikamaru menggumankan kata favoritnya.
Naruto menangis dalam hati. "Huwaa, habislah aku."
.
.
.
To be Continued
.
.
.
Hola! Nao balik dengan chap terbaru. Seneng deh kemarin banyak yang tebakannya benar. Jawabannya? Ada di bonus chap, silahkan baca di bawah. Tapi sebelum itu, ada ucapan dulu nih buat:
Tofu Megane, Naruzhea AiChi, Teahimawari, Paijo Payah, Geki uzumaki, Aion Sun Rise, Ae Hatake, Laffayete, Guest, Lora 29 Alus, adam. muhamad. 980, Dear God, Aprilia NS, Aim, leliyana6, uzunalis, DeviUzumakiNS, Fidel584, Irul24, The Great Unknown89, ributriani, se7enisty98, wildanbondil, Ace155, atma8248.
Terimakasih atas partisipasinya yang sudah review, fav dan follow fic ini. Maaf nggak bisa balas satu-satu. Semua pertanyaan akan terjawab di chap2 depan. Nao sangat menghargai dan pastinya baca review kalian yang membuat senyum gaje berkembang. Ada yang mau ikut tebak-tebakan lagi? Siapa yang dikirim 'nyonya' buat jadi mata-mata Naruto? Udah ada hints-nya loh.
Menanti senyum gaje...
.
.
.
Omake.
"Nyonya, dia sudah datang." Kakashi menatap ramah sosok yang sedang duduk membelakanginya menghadap jendela besar. Memandangi langit gelap Tokyo yang dihiasi kelip lampu gedung dari ketinggian.
"Baiklah. Bawa dia masuk, Kakashi." Suara halus mengisi ruangan besar yang dibelenggu sunyi. Yang dibicarakan berjalan masuk lalu membungkuk sopan. Sementara kakashi berdiri mendampingi nyonyanya.
Kursi diputar, menampilkan sosok wanita paruh baya berambut merah panjang menjuntai. Iris violetnya menatap tajam, kontras dengan bibir merah darahnya yang melempar senyum. "Jadi, apa yang kau bawa hari ini?"
Lelaki itu tersenyum, ia menyodorkan map dalam genggaman. "Aku sudah mendapatkan buktinya, Kushina-sama. Kuharap kau menepati janjimu," katanya yang mengundang rasa penasaran Kushina. Wanita merah itu tergesa membaca laporan dengan cepat, sedetik kemudian violetnya berkaca. "I-ini... Kakashi, aku tidak salah lihat kan?" Kushina berkata dengan suara serak menahan tangis.
Pria bersurai perak yang juga ikut mengintip membaca, tersentak. "Ya, nyonya. Harapanmu tidak sia-sia," ucapnya dengan rasa haru membuncah. Ia tidak menyangka harapan yang pernah padam kini bersinar kembali.
"Maaf mengganggu momen haru kalian, tapi ada hal penting yang harus kusampaikan." Sang lelaki menginterupsi euforia berlanjut, ia melanjutkan, "aku tak begitu yakin, tapi..."
"Katakan!" desak Kushina tidak sabar. Ia harus mengetahui semua informasi tentangnya.
Tapi apa yang ia dengar selanjutnya mengikis rasa senangnya yang sekejap. Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa bisa terulang lagi? Haruskah ia kehilangan lagi? Semua pertanyaan itu menggema di otaknya, mencabik kewarasannya. Hatinya berdenyut nyeri, ia tak sanggup jika harus kehilangan lagi. Dan satu hal yang ia sadari kini, ia benar-benar—
"Nyonya!" Kakashi panik menyadari nyonyanya terduduk lemas dengan raut pucat.
"Kushina-sama!"
"Segera panggilkan dokter! Cepat!" Kakashi berteriak yang kemudian membuat lelaki misterius tadi berlari cepat menerobos pintu.
Setelah petunjuk bersinar kenapa jalan buntu didapat? Kushina menutup mata, meneteskan bulir bening.
—benar-benar bukan ibu yang baik.
Edited.
