~Belong~

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

DREAM GIRL © WISMA RYUZAKI

"Together day"

Page 14

.

.

.


Jika ada kesamaan dalam judul atau jalan ceritanya, itu hanya kebetulan! -,- dan bagi yang berniat mengikuti cerita fic ini dilarang asal menebak kelanjutannya ^-^

.

.

.


Pair : Sasuke Uchiha & Sakura Haruno

Genre : Drama

Rated : Semi "M"

.

.

.


Caution! Masih banyak typo, kalimat gaje, kata-kata kurang efisien, dan EYD dalam tahap pembelajaran. Kurang teliti mengetik dan tidak suka meralat kembali cerita yang sudah dibuat! Belajar membuat fic tidak AU

Warning! Don't Like? Don't Read!

Flame? Up to you reader-san

.

.

.


Ittadakimashu Reader-san, Douzo ne

.

.

.


Mobil mewah bermerk Lamborgini Aventador Ip 700-4 berhenti tepat didepan gerbang rumah besar kediaman keluarga Haruno. Sakura turun dari dalam mobil Sasuke dengan tampang kusut, wajar saja wajahnya kusut bahkan penampilannya juga. Karena ia belum mandi pagi sekarang.

Berjalan melewati beberapa pelayan dengan wajah tersenyum sudah menjadi kebiasaan Sakura, walau pada kedua orang tuanya Sakura jarang menampilkan senyuman tapi anak tunggal pewaris perusahaan Haruno ini selalu mencoba tersenyum kepada siapapun orang yang ia temui.

"Pulang darimana?" tanya Kizashi menatap anak tunggalnya mengintimidasi, Sakura menghela nafasnya bosan, walau hati kecilnya sedikit merasa senang atas pertanyaan Ayahnya.

"Aku menginap dirumah temanku," jawab Sakura cuek dan santai, tampak disana juga ada Ibunya yang sibuk bertelpon dengan rekan bisnis fashion nya. Mungkin Ayahnya saat ini sedang tidak ada kegiatan sehingga bertanya hal itu pada Sakura, pikir Sakura enggan mengakui kenyataan jika ia memang berharap dengan hal-hal berbasis dari orang tua.

"Siapa-"

"Hn, Paman maaf mengganggu," ujar Sasuke yang tiba-tiba dan tanpa disangka Sakura sudah masuk kedalam rumahnya.

"Eh? Haha tidak apa-apa, wah... Sakura beruntung sekali memiliki kekasih sepertimu!" ujar Kizashi bangga.

Sakura memerah mendengarnya, tapi ia ingatkan lagi pada dirinya sendiri jika yang dilakukan Ayahnya pada orang luar hanya sekedar sandiwara belaka.

Dan karena tidak mau melihat hal yang sia-sia baginya, Sakura lebih memilih untuk mandi dan berpakaian sekolah tanpa perlu memikirkan apa yang dibicarakan Ayahnya dengan Sasuke.

.

Memandang dirinya dicermin, walau terlihat santai namun dalam hatinya sangat penasaran dengan apa yang dikatakan Ayahnya pada Sasuke. Dan merasa sudah selesai dengan penampilannya seperti biasa, barulah Sakura menyambar jas dan tas sekolahnya kemudian turun melalui anak tangga.

"Jadi kau anak bungsu dari Fugaku dan Mikoto?" terdengar sayup-sayup pertanyaan Kizashi ditelinga Sakura yang kini sedang ada dibalik pintu ruang tamu.

"Hn," jawab Sasuke dengan gumaman, tapi rupanya Kizashi tidak terlalu memperdulikan tentang jawaban atau respon singkat yang diberikan Sasuke padanya.

"Wah... Sakura benar-benar beruntung," ujar Ayahnya lagi, dan Sakura masih bisa mendengar dengan jelas gumaman yang dilontarkan Sasuke pada Ayahnya.

Jika saja waktu masih sangat banyak mungkin Sakura akan setia menunggu sampai percakapan selesai, namun waktu tersisa 15 menit lagi dan perjalanan menuju sekolahnya berkisar 10 menit saja dari rumahnya.

"Oke baiklah! Aku harus pergi Ayah, percakapannya bisa dilanjutkan jika Sasuke kembali lagi kesini!" jelas Sakura dan berpamitan pada Ayahnya, Kizashi bahkan tampak sangat ramah disaat Sakura mencium telapak tangannya disusul dengan Sasuke walau tidak terlalu kentara karena pemuda bungsu itu dengan singkat berpamitan pada Ayah Sakura.

"Hati-hati dijalan sayang!" jelas Kizashi dan Sakura sebatas menganggukan kepalanya, benar-benar sandiwara yang profesional. Pikir Sakura dalam hati, dan ia hanya sanggup tersenyum miris karena yang tadi hanyalah kebohongan belaka untuk menutupi kenyataan dalam keluarganya.

"Keluargamu sangat harmonis," ujar Sasuke kagum disaat mereka berdua sudah masuk kedalam mobil dan siap lepas landas dari depan gerbang Haruno yang kini tampak Ayahnya sedang bersiap menutup gerbang.

'Romantis? Kau bercanda!' ujar Sakura dalam hati. "Tentu saja, bukankah hubungan orang tua dan anak harus seperti itu?" tanya Sakura dengan senyuman manisnya, benar-benar seorang teater yang berbakat walau Sakura tidak menggeluti bagian itu.

"Hn, tapi aku tidak seperti itu," jawab Sasuke singkat, mungkin Sasuke ingin mengutarakan kekaguman walau sebenarnya Sakura tau jika Ibu Sasuke itu sangatlah baik dan mempunyai jiwa kasih sayang yang tinggi.

"Tidak seperti itu apa maksudmu Sasuke-kun? Kau saja mungkin yang kurang bergaul dengan keluargamu, yah maksudku selain Ibumu. Bukan aku menyudutkan tapi lihatlah dari segi manapun orang-orang akan beranggapan sama sepertiku! Kau lebih terlihat pendiam walau itu pada keluargamu sendiri!" jelas Sakura dan Sasuke tidak merespon apa-apa selain gumaman ambigunya.

"Jadi kau mencoba untuk menasehati Hn? Menyedihkan, seorang Uchiha sepertiku mendapat nasehat dari gadis bengal sepertimu!" ujar Sasuke geli, benar apa yang ia katakan itu adalah kenyataan jika dilihat dari garis besar.

Sakura diam sepersekian detik sebelum tertawa geli mendengar pernyataan Sasuke untuknya, "Haha... kau benar, kenapa kau bisa sampai mendapat nasehat dariku Hm? Hihi... tapi nasehat itu bahkan dari orang gila sekalipun jika memang benar harus didengar!" jelas Sakura lagi.

"Jadi kau samakan dirimu dengan orang gila?" tanya Sasuke menyeringai tipis. Bukan seringai karena sebal atau bukan pula seringai karena amarah, dalam hal ejekan. Seringaian ini mengarah pada senyuman geli karena disertai niat membalas ucapan.

"Haha... tak apa aku disamakan dengan orang gila! Karena kau lebih gila mengajak orang gila dalam mobilmu!" sindir Sakura disertai tawaan geli.

"Hn, Ibuku yang mengajakmu!" ralat Sasuke tidak ingin jika Sakura beranggapan lebih.

"Tak apa, itu artinya Ibumu memang sangat menyukaiku untuk menjadi menantunya nanti!" balas Sakura dengan senyuman percaya dirinya membuat dada Sasuke tiba-tiba terasa memanas.

"Hn, menghayalmu terlalu jauh!" desis Sasuke.

"Oh yah, Sasuke-kun! Sesuatu yang tadi aku cubit masih terasa sakitkah? Haha~ maafkan aku jika itu masih terasa di 'itu'mu, aku benar-benar jengkel mendengar ejekan bodohmu!" jelas Sakura dengan mengerucutkan bibirnya.

Sasuke terdiam, terdiam karena bingung harus menjawab apa. Jujur saja hati prianya terasa sakit ketika mendapat sesuatu yang tidak terduga dari Sakura seperti tadi, mengapa harus merasa sakit? Karena seharusnya, kepemilikan Sasuke adalah raja dari segala anggota tubuhnya yang seharusnya dimanjakan dan bukan disakiti.

"Kau diam! Masih mau aku cubit lagi Hm?" goda Sakura menatap Sasuke dengan seringaian jahilnya.

"Kau ingin aku mati Eh?" desis Sasuke sebal.

Sakura nyaris saja pusing karena kepalanya ia gelengkan keras hingga rambutnya terasa acak-acakan. "Tentu saja aku tidak mau kau mati! Aku mencubit bagian itumu itu bahkan dengan sangat pelan jika aku ukur dengan tenagaku yang sebenarnya! Kau terlalu mengada-ngada, jika kau mati pria mana yang akan menjadi suamiku Hm?" tanya Sakura dengan tampang sebalnya.

"Sasori," jawab Sasuke cepat, dan perlu diingatkan jika saat ini bukanlah kesengajaan. Sauske mengatakan hal itu tidak lebih dari dua detik dan artinya ia memang keceplosan dengan jawaban yang ia lontarkan.

"Hihi... kau tau kedekatanku dengan Sasori yah? Wah Sasuke-kun tenang saja! Aku tidak menyukainya, aku hanya suka karena ia itu sangat baik padaku-"

"Jangan dilanjutkan. Gerbang sekolah sudah sampai!" jelas Sasuke mengalihkan pembicaraan.

Sakura menghela nafasnya, 'Kau pikir aku bodoh Eh? Kau cemburu bodoh!' decak Sakura dalam hatinya namun jelas saja Sakura tidak mengatakan hal itu disela-sela kedekataannya dengan Sasuke setelah beberapa hari perihal ejekan yang didapatnya dari pemuda tersebut. Jika Sakura nekat mengatakan hal itu, semua hari-hari ini akan terbuang sia-sia dengan Sasuke yang kembali marah padanya.

"Baiklah!" jawab Sakura singkat, sebelum benar-benar keluar untuk menuju kelas Sasuke memarkirkan mobilnya diparkiran belakang khusus kendaraan siswa.

Walau di bagian parkiran itu memang terdapat banyak mobil sport dengan berbagai macam merk atau bahkan hasil modifikasi namun mobil Sasuke tetap yang paling mencolok karena tingkat kemahalan yang lebih tinggi.

Motor? Jangan ditanyakan perihal kendaraan yang satu ini, seluruh siswa membawa motor sportkesekolahnya. Dan tidak ada satupun siswa yang memiliki motor biasa atau bahkan bisa disebut kampungan.

Sungguh sekolahan yang elit, dan bahkan diSuna hanya beberapa siswa yang membawa mobil dan tidak ada yang sebagus milik Sasuke Uchiha.

"Teme!" panggil Naruto kencang sontak sampai ketelinga Sasuke karena pemuda itu langsung berhenti dan diam tidak melangkahkan kakinya. Namun kepalanya tidak sedikitpun ia tolehkan kebelakang, kearah sahabat kuningnya yang sudah langganan menyebut dirinya seperti itu.

.

"Wah, Sakura-chan kau sudah semakin dekat saja dengan Sasuke!" ujar Naruto bahkan tidak ingat dan tidak canggung untuk menggoda Sakura.

Sakura terkekeh pelan, dibelakang mereka ada Hinata yang sedang menyusulnya. Tidak enak melihat Hinata dibelakang sendirian, Sakura lebih memilih berdiam diri sejenak dan ia tolehkan kepalanya kearah Hinata yang kini semakin dekat dengan jaraknya.

"Selamat pagi, Hinata-chan," sapa Sakura yang kembali berjalan dengan Hinata yang ada disampingnya.

"Pagi Sakura-san... Sakura-san apa kau akan melihat pertandingan basket besok?" tanya Hinata pelan.

"Oh Hinata-chan jangan memanggilku terlalu formal! Panggil aku Sakura-chan jika memang kau tidak merasa keberatan," jelas Sakura disertai senyuman manisnya.

Hinata terkekeh pelan sungguh manis kelihatannya dimata Sakura, wajar saja jika gadis anggun bermarga Hyuga ini menarik perhatian Naruto. Pikir Sakura.

"Tentu saja Sakura-chan aku su-sungguh tidak keberatan," ujar Hinata lagi.

Berjalan beriringan, Sasuke berpasangan dengan Naruto begitu juga Sakura yang berpasangan dengan Hinata.

Beberapa pasang mata banyak yang menatap Sakura sebal, dan tajam. Namun mereka tidak berani bertindak lebih jika ada Hinata disamping gadis bengal yang baru pindah kesekolah Konoha.

"Bagiamana dengan besok Sasuke?" samar-samar seseorang terdengar sedang berbicara dengan Sasuke. Sakura bisa melihat jika kekasih Ino lah yang bertanya hal demikian. Sungguh geli kedengarannya perihal hubungan sahabatnya yang sudah terjalin selama 3 tahun.

"Hn, Suna bukanlah lawan yang perlu diremehkan. Kita harus latihan sepulang sekolah!" jawab Sasuke dan lagi masih bisa masuk ditelinga Sakura yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pemuda yang ada didepannya.

"Tentu saja, apalagi jika ada Sabaku no Gaara!" ujar Naruto angkat bicara menatap kedua temannya serius. Sai dan Sasuke sebatas menganggukan kepala mereka.

Sakura tertegun, 'Gaara? Gaara akan ada?' tanya Sakura dalam hatinya, tapi tak ambil pusing Sakura hanya menyimpan pertanyaan nya dalam hati.

.

Sejujurnya saat mengatakan Suna bukan lawan yang pantas diremehkan Sasuke hanya katakan itu untuk memperingati sahabatnya agar berjuang keras untuk esok hari. Karena sejujurnya meski Gaara sekalipun masih ada dalam naungannya, atau dalam artian Sasuke masih lebih unggul dari pada pemuda berambut merah bermarga Sabaku.

Merah? Kenapa Sasuke sebersit pikirannya pada Sasori? Sungguh menyebalkan! Pikir Sasuke jengkel. Ya, akhir-akhir ini memang otak Sasuke sudah teracuni dengan seorang gadis bernama Sakura Haruno.

Meskipun kini Itachi tidak ada dirumah dan artinya tidak ada orang yang selalu menjahilinya, kali ini Ibunya menggantikan tugas Itachi karena setelah melihat kedatangan Sakura kerumahnya dan memaksa agar Sasuke menjadikan Sakura kekasihnya, itu sungguh membuat Sasuke terbebani. Haruskah? Pikir Sasuke kacau.

.

.

.

"Sasuke-kun! Kyaaa Sasuke-kun!" pekik beberapa siswi seperti biasa, walau akhir-akhir kemarin para siswi itu bungkam perihal Sasuke telah mencium Tayuya. Tapi seakan itu berlalu begitu saja, para siswi Konoha Senior High School kembali meneriaki nama pangerannya.

Sasuke diam tidak merespon namun kali ini ia selalu melihat kearah siswi yang memanggilnya, walau itu banyak kenapa tidak salah satu nya dilirik saja? Pikir Sasuke santai.

Dan itu sukses membuat siswa yang dilirik itu menjadi kegirangan dan berteriak lebih kecang, memang itu seakan tidak tau malu sebagai seorang perempuan. Tapi toh, jika cinta yang menaklukan semuanya harus bagaimana?

Sakura memasang tampang sebal ketika para siswi balik menatapnya tajam dan seakan-akan jijik melihat kearahnya. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ia memang belum terbiasa bergaul di Konoha, atau bisa jadi mereka lebih dulu menebak Sakura gadis seperti apa.

"Sa-Sakura-chan, kau tidak apa-apa? Wa-wajahmu terlihat tidak bersahabat?" tanya Hinata pelan dengan nada yang jelas hati-hati.

Sakura menghela nafasnya, ia tolehkan kepalanya kearah Hinata disertai dengan senyuman manis khasnya. "Tidak apa, aku hanya menebak kenapa gadis sekolah ini terlihat sangat membenciku? Padahal mereka belum tau bagaimana aku," ujar Sakura jujur, ia baru kali ini membicarakan hal yang memang ada dalam otaknya, karena Sakura berfikir Hinata seperti sahabat-sahabatnya, tidak banyak omong dan bisa menyimpan rahasia.

Kepala indigo itu mengangguk paham, Hinata jelas bisa melihat tatapan siswi pada Sakura. Sesaat senyuman untuk dirinya dan sesaat lagi delikan tajam untuk gadis disampingnya.

"Sa-Sakura-chan mungkin mereka seperti itu ka-karena mereka melihat kedekatanmu dengan Sasuke-san," jelas Hinata mencoba agar Sakura paham dari segala tatapan siswi yang dilayangkan.

"Haha... kau benar Hinata-chan, tapi mereka bodoh! Kenapa mereka hanya sebatas berteriak yang bisa memekakan telinga? Kenapa tidak dekati saja Sasuke-kun langsung!" sungut Sakura, yah kenapa harus ditutupi lagi? Hinata memang kekasih dari sahabat Sasuke sendiri.

Hinata terlihat menghela nafasnya, entah untuk menyabarkan diri karena jawaban Sakura, atau karena pernyataan Sakura benar sehingga membuat dirinya bingung.

"Hinata-chan kau gadis yang baik, pasti kau disayangi siswi seperti mereka?" gumam Sakura setengah bertanya. Hinata diam, diam karena ia bingung harus mengatakan apa lagi.

'Aku memang bukan tipe orang yang pantas disayangi,' lirih Sakura dalam hati. Jika saja apa yang dikatakan Ayahnya tadi pagi bukanlah sandiwara belaka, mungkin saja Sakura akan terus terpikirkan perkataan Ayahnya sampai sekarang karena hatinya yang sangat senang. Namun sayangnya Sakura sudah tau semua kedok keluarganya sendiri.

"Sakura-chan kau ada masalah? –maksudku ka –kau terlihat sedang bingung?" tanya Hinata lagi. Sakura tidak sempat menjawab, hanya gelengan kepalanya untuk mewakili jawabannya jika tidak ada hal yang patut membuatnya bingung.

"Ayo Hinata-chan! Kelas sudah sampai!" ujar Sakura semangat.

Naruto, Sasuke, Hinata, dan Sakura masuk kedalam kelas 11 Ipa-1. Walau Sakura dibenci para gadis dikelasnya terkecuali Ino dan Hinata, tapi Sakura sangat dikagumi para kaum lelaki dikelasnya.

Bahkan sekarang Lee dengan terang-terangan memandang Sakura penuh kekaguman, namun karena Lee bukan tipe seperti Gaara atau Sasuke bahkan Sasori yang diatas rata-rata wajahnya, jadi Sakura merespon dengan senyuman yang kentara sinis.

.

"Saki! Kau tau, kapten basket Suna yang kemari itu Gaara?" tanya Ino menatap Sakura serius, wajar saja karena Ino sudah tau semua tentang Gaara yang menyukai sahabatnya sejak pertama pindah ke Suna.

Sakura menghela nafasnya kemudian ia anggukan kepalanya, "Aku memang tau hal itu sebelum sampai disini, Sasuke-kun dan kekasihmu yang mengatakannya juga," jelas Sakura menatap Ino intens.

Mata aquamarine Ino terbelalak, "Sai? Apa yang dikatakannya pada Sasuke?" tanya Ino dengan raut wajah memaksa dan menuntut berharap Sakura mau menjawabnya.

Namun berbalik karena Sakura sebatas mengendikan bahunya acuh, "Aku hanya dengar bagian Gaara," jawab Sakura singkat dan padat.

PUK

Sakura segera menolehkan kepalanya tatkala sebuah tangan memegang bahunya, dimatanya memperlihatkan jika Sasuke tengah menyodorkan buku tugas dari Kakashi-sensei yang dikerjakan kemarin malam.

Dengan terkekeh garing mencoba menutupi kesalahannya Sakura menerima bukunya cepat dan langsung memasukan kedalam tasnya. "Aku tertidur saat itu," jelas Sakura.

Sasuke terlihat acuh dan cuek karena lelaki itu sudah kembali duduk dibangkunya dan berbincang bersama Naruto.

"Sialan! Kenapa tidak saat sampai dirumahku saja ia berikan ini!" rutuk Sakura, wajar saja Sakura merutuk. Tasnya sudah berat dan kali ini masih satu ada satu paket besar buku pelajaran yang diajarkan Kakashi.

"Ka-kau? Semalam kau mengerjakan dirumah siapa tugas ini Sakura?" tanya Ino tidak bisa menutupi rasa penasarannya.

"Aku menginap dirumah Sasuke," jawab Sakura jujur, menatap Ino dengan tatapan menantang karena ia penasaran dengan ekspresi Ino selanjutnya.

Mulut menganga, mata terbelalak lebar, make up yang dipegangnya terjatuh keatas meja, dengan tatapan horor kearah sahabatnya. Itu adalah kegiatan Ino disaat dirinya merasa kaget, dan Sakura selalu terkikik geli melihat sahabatnya yang seperti burung beo ini.

"Ish! Kau memang pig!" ujar Sakura sedikit kasar, tapi itu sudah menjadi salah satu panggilan kesayangannya pada Ino, karena gadis itu yang terkesan malas dan suka bermain saja jadi Sakura memberikan panggilan langka pada Ino.

Ino menyudahi acara melamunnya, menatap Sakura sebal ketika namanya kembali diubah oleh sahabatnya. "Kau tega! Dasar Forehead dan dada rata!" decak Ino terlalu kencang sampai-sampai beberapa siswa melirik kearah Sakura, begitu juga dengan Sasuke yang sebelumnya sedang diajak bicara oleh Naruto sahabatnya.

"Teme! Kau mendengarku tidak?! Astaga, hanya karena itu perhatianmu teralihkan!" dengus Naruto.

Wajah Sakura merah padam seutuhnya dengan ucapan Ino.

PLETAK

"Berani kau katakan hal itu lagi akan aku pastikan rambutmu menjadi pendek piggy sialan! Bagaimana jika Sasuke-kun tidak tertarik padaku?!" desis Sakura tepat ditelinga Ino.

Ino meringis hanya karena mendengar ancaman sahabatnya.

"Okay!" jawab Ino mengangkat kedua lengannya seolah-olah ia memang mengakui kesalahannya. Sakura melepaskan kerah jas Ino yang sempat ditariknya.

"Sasuke-kun, a-ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu," ujar Tayuya yang kini sedang berhadapan dengan Sasuke. Namun karena nada bicaranya yang kecil tidak ada satupun siswa atau siswi yang melirikan kepalanya kearah Tayuya dan Sasuke, termasuk Sakura.

"Hn?" jawab Sasuke menatap datar pada gadis didepannya. Naruto jelas bisa merasakan aura hitam yang menguar dari tatapan Sasuke pada Tayuya yang beberapa kali menghela nafasnya.

"Bisa tidak disini? Aku tidak ingin ditempat keributan." Jelas Tayuya masih dengan nadanya yang pelan dan hati-hati.

Sasuke diam, seakan-akan jika ia sedang enggan mengangkat pantat dari kursi yang ia duduki. Matanya masih tidak teralihkan pada gadis yang ada dihadapannya, sebersit ingatan tentang Tayuya mencium dirinya kembali berputar dikepala Sasuke.

"Kumohon, sebentar saja," jelas Tayuya melirih, dan setelah mematangkan pikiran dan sudah siaga dengan kejadian yang bisa saja diluar dugaan seperti dulu Sasuke akhirnya berdiri dari kursinya.

"Kemana Sasuke-kun?" cegat Sakura sebelum Sasuke benar-benar jauh dari jangkauannya.

"Hn, bukan masalahmu," jawab Sasuke singkat. Dan ia segera melepaskan legan Sakura yang melingar disebelah lengannya.

"Aku ikut!" paksa Sakura dan segera berdiri tidak peduli Tayuya yang menatapnya semakin tajam. Bukan tatapan Tayuya yang membuatnya ciut kali ini, Sakura sungguh tidak peduli tatapan gadis itu padanya. Namun ketika Sasuke menatapnya tajam dan seakan memberi isyrat untuk tidak melakukan apapun membuat Sakura mendudukan kembali pantatnya.

CUP

"Sebelum kau pergi!" Sakura mencium Sasuke dipipi pemuda itu dan benar-benar melepas kepergian Sasuke dengan berbagai perasaan berkecamuk, tatapan yang dilayangkan untuk aksi nekatnya sungguh Sakura tidak satupun yang dihiraukan.

Sasuke menghela nafasnya, namun tidak menyangkal jika Sasuke tidak menghapus jejak bibir Sakura dipipinya. Perlahan kembali Sasuke mengikuti langkah Tayuya yang sudah lebih dulu meninggalkan kelasnya.

.

"Hn, disini! Apa yang kau bicarakan?" tanya Sasuke datar walau sebenarnya ia sedang menahan emosi untuk tidak berbicara kasar pada gadis dihadapannya yang sudah beberapa kali menyatakan perasaan padanya namun selalu ia tolak.

"Pertama, aku ingin meminta maaf karena kejadian waktu lalu. Kedua, aku mohon padamu untuk tidak membenciku Sasuke-kun. Dan yang ketiga aku akan melepaskan perasaanku padamu yang sudah berakar disaat kita baru pertama bertemu di mall Konoha, dan ini aku ingin mengembalikan headset mu yang tertinggal sejak kejadian ditaman itu. Maafkan aku selalu membuatmu repot," lirih Tayuya tidak berani memandang kearah Sasuke, ia hanya menundukan kepalanya dengan harapan Sasuke tidak bisa melihat air matanya yang berjatuha.

Melihat Tayuya yang mengulurkan headset miliknya kearahnya, Sasuke sebatas mengambil headset dan berlalu dari hadapan Tayuya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sungguh ini sangat menyakitkan bagi seorang gadis baik seperti Tayuya, Tayuya sadar diri untuk tidak memaksakan. Namun satu, ciuman pertama bagi Tayuya adalah pangeran sekolahnya.

Sasuke berjalan dengan perasaan berkecamuk, mencoba untuk tidak menghiraukan Tayuya tapi karena ingatan itu terus melilit erat diotaknya membuat Sasuke merasa tidak ingin berlama-lama dekat Tayuya.

.

.

.

"Tidak ada, sebelah sini tidak ada," gumam Sakura masih setia mengusap wajah Sasuke ketika pemuda itu kembali kedalam kelas tepat disaat jam pelajaran kedua dimulai. Dan itu membuat Sakura harus bersabar menunggu saat dimana ia bisa mengecek adakah perbedaan dalam tubuh Sasuke.

"Kau bodoh?!" desis Sasuke menatap Sakura tajam.

Sakura mengendikan bahunya cuek, "Ayo Ino kekantin!" ajak Sakura tanpa menghiraukan pertanyaan Sasuke padanya. Membuat Sasuke bertanya-tanya sungguh salah satu hal menyenangkan dalam diri Sakura.

"Kau mendapat ciuman lagi?" tanya Naruto menatap Sasuke serius. Sasuke menggelengkan kepalanya kemudian berjalan menjauh dari arah sahabatnya.

.

.

"Senpai!" suara Sasori masuk digendang telinga Sakura, walau adik kelasnya itu tidak menyebut namanya tapi Sakura tau jika dia mengarahkan kata kakak pada dirinya.

"Bagaimana dengan tugasnya senpai sudah selesai?" tanya Sasori duduk berhadapan dengan Sakura dan Ino.

Sakura menganggukan kepalanya. "Walau aku menginap dirumahnya," jawab Sakura.

"Huh? Rumah siapa?" tanya Sasori menatap Sakura penuh tuntutan.

"Siapa lagi jika bukan Uchiha Sasuke!" sela Ino menatap Sasori disertai kekehan kecil.

DEG

Kenapa dada Sasori rasanya sakit? Pasti karma tengah menghukumnya sekarang! Pikir Sasori sebal. Mencoba menutupi rasa sakit dan pikiran negatif Sasori ikut terkekeh ringan oleh jawaban Ino.

"Pasti senpai melakukan hal yang tidak-tidak!" tuduh Sasori menatap Sakura horor.

"Aku mengharapkannya," jawab Sakura santai.

Mata hazel coklat Sasori membulat dengan jawaban kakak kelas dihadapannya. "Kau memang agresif senpai!" sindir Sasori.

"Kenapa? Kau sirik karena bukan kau yang aku sukai Eh? Makanya cari sana, gadis duplikat diriku!" jelas Sakura terkekeh kecil.

"Ya! Akan aku cari seseorang yang mirip dengan senpai!" jelas Sasori tak kalah sengitnya.

"Dan aku akan menunggu tantanganku sebelum aku benar-benar lulus dari sekolah ini!" tantang Sakura, dan kembali menganggukan kepalanya Sasori begitu yakin dengan apa yang ia ucapkan. Banyak kan gadis seperti kakak kelas yang satu ini? Pikir Sasori.

.

Bel masuk sekolah berbunyi, dengan berat hati Sasori segera pamit pada keempat kakak kelasnya setelah Temari dan Tenten datang dan duduk disamping Ino dan Sakura.

"Aku duluan senpai!" pamit Sasori.

"Aku juga harus segera pergi kekelas!" ujar Sakura mengejar Sasori dan berjalan beriringan dengan adik kelasnya.

Ino menghela nafasnya, ia bingung dengan tingkah sahabatnya yang terkesan langka itu. Dikelas Sakura bahkan berani mencium pipi Sasuke, dan dikantin kemana-mana yang jadi teman bicaranya adalah Sasori adik kelasnya.

.

"Aku akan membawa cemilan untuk kita menonton besok senpai!" jelas Sasori dan disambut anggukan kepala antusias dari Sakura.

"Kau jangan memberi harapan saja padaku!" ancam Sakura dan mendapat anggukan kepala mantap dari adik kelasnya.

.

Okay selama Sasuke tidak melihat kedekatan Sakura dan Sasori tidak ada penghalang untuk membuat Sakura lebih menempel pada pemuda bungsu Uchiha tersebut.

.

.

.

~!~

.

.

.

"Aku pergi!" pamit Sakura berteriak, Sakura tidak peduli jika ucapannya itu akan mendapat respon atau tidak. Karena yang jelas Sakura hanya ingin mengucapkan sesuatu yang sering dilakukan anak-anak setiap akan pergi kemanapun pada kedua orang tuanya.

Berjalan cepat kearah mobil pribadi yang akan mengantarnya kesekolah, Sakura terus terbayang bagaimana wajah Sasuke ketika lelaki itu kelelahan dengan keringat yang melucur deras dari kening atau bagian seluruh tubuhnya. Sungguh sangat menggoda walau itu hanya dalam hayalan Sakura, namun itu cukup membuat kepemilikan Sakura menjadi basah sendiri.

"Sakura-san terlihat sangat senang hari ini?" tanya supir pribadi yang selalu mengantarnya kemana-mana.

Sakura menganggukan kepalanya membenarkan. "Aku memang sedang bahagia paman!" jelas Sakura masih dengan sunggingan senyuman manis yang selalu terpampang lebar pada orang-orang terdekatnya.

"Syukurlah, aku lebih suka melihat anda yang seperti ini," jelas supir nya lagi. Sakura langsung menganggukan kepalanya membenarkan ucapan sang supir.

.

"Terimakasih paman!" ujar Sakura senang, bahkan tidak seperti biasa Sakura menutup sendiri pintu mobilnya. Tidak biasa? Karena Sakura setelah turun dari dalam mobil tidak pernah melirikan pandangannya kearah belakang lagi.

Berjalan dengan tatapan binar disetiap langkahnya, sungguh hari ini adalah hari dimana dirinya akan melihat salah satu makhluk Tuhan berwajah sempurna dan nyaris seperti pangeran dalam dongeng. Melihat Sasuke Uchiha yang akan bertarung bersama anak sekolah Suna sungguh membuat dada Sakura berdesir hebat.

BRUK

'Sialan!' decak Sakura dalam hati, langkahnya terlalu semangat sehingga Sakura menambrak seseorang dalam belokan menuju lantai dua sekolah.

"Sakura?" tanya orang yang ditabrak itu dengan mengulurkan lengannya.

Mata Sakura membulat tatkala melihat, ... "Gaara?" tanya Sakura tak percaya, ia pikir pemain basket akan lebih siang tiba disekolahnya, kenapa Gaara sudah sampai di sekolahnya sepagi ini? Tapi baiklah karena jam sekolah sudah menunjukan pukul 07.15 bagi Sakura ini sudah tidak pagi lagi.

"Kau pindah kesekolah ini? Hn, menguntungkan! Jika aku memenangkan pertandingan ini, akan aku dedikasikan untukmu dan jangan ada penolakan untukmu menjadi kekasihku!" jelas Gaara tiba-tiba.

Sakura melirikan pandangannya kesegala arah berharap jika Sasuke tidak akan memergokinya. Sakura tersenyum meremehkan, "Aku terima, dan aku tunggu kemenanganmu!" tantang Sakura dan berlalu begitu saja meninggalkan Gaara yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.

"Dan akan aku pastikan kali ini kau kalah Uchiha," desis Gaara pada dirinya sendiri.

.

.

.

GREP

"Sasuke-kun! Sasuke-kun! Sasuke-kun!" ujar Sakura berulang-ulang dengan telapak tangan memeluk tubuh Sasuke yang kini sedang menyimpan tasnya dalam kelas.

Sasuke menatap heran Sakura tanpa harus menjawab apapun dengan perkataan Sakura.

"Kumohon! Kau harus menang! Kau harus menang dari Gaara! Aku percaya kau akan menang! Jangan kecewakan aku Sasuke-kun!" jelas Sakura menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya.

"Hn?" akhirnya satu gumaman yang mewaili pertanyaannya melucur bebas dari mulut Sasuke.

"Aku tidak mau menjadi kekasih Gaara, Sasuke-kun! Intinya kau harus menang kali ini!" desak Sakura sebelum Sasuke turun dan bergabung untuk pemanasan pertama bersama teman-temannya. Naruto bahkan sudah lebih dulu turun kelapangan.

"Apa hubungannya denganku?" tanya Sasuke datar.

Sakura mendengus ia pukul dada Sasuke yang tepat berada diwajahnya. Sebal, sungguh Sakura sebal dengan sikap Sasuke seperti ini.

Sasuke sendiri menyangka ucapan Sakura hanya cuap-cupa cara menyemangatinya yang unik. Karena waktu hampir habis bahkan Sasuke belum latihan terpaksa Sasuke lepaskan rangkulan Sakura dan meninggalkan murid kelasnya yang beberapa orang masih ada yang menyemangatinya dengan teriakan.

"Sasuke-kun semangat, semoga keberuntungan berada dipihakmu," ujar Tayuya dan Sasuke sebatas menganggukan kepalanya dan benar-benar pergi dari dalam kelas.

.

"Teme! Kau lama sekali?!" tanya Naruto sebal, Sasuke menghela nafas dan sebatas mengangguk pelan.

"Suna sudah datang! Kita harus cepat-cepat latihan!" jelas Naruto lagi.

"Aku yang menjadi ketua disini bodoh! Jadi aku yang sudah merencanakan!" jelas Sasuke dengan nada meremehkan.

"KALIAN HARUS FOKUS!" nasehat Kakashi sebagai coach nya.

Ke enam tim Konoha yang sedang latiha dihalaman belakang sekolah menganggukan kepalanya kompak.

.

.

.

Pertandingan belum sepenuhnya dimulai karena ke enam siswa sebagai perwakilan itu saling menjabat tangan lawan sebagai tanda pertemanan saja.

"Uchiha, kemenanagnku akan ku dedikasikan untuk Sakura!" gumam Gaara tepat saat berjabatan tangan dengan Sasuke.

"Hn, coba saja!" balas Sasuke lebih datar dari ucapan Gaara.

TBC

4107


A/N

Padahal kaga update satu hari, tapi para reviewer kaya yang aku itu sudah off long time aja-,- hehe walaupun aku seneng^^ okay maafkan Wisma, karena Wisma sempat dilanda rasa malas karena sedang bermain game Hayday, ada yang tau game itu? Download dong! Hihihi *maksa amat* tapi seriusan kita mainkan bersama-sama dan bagi yang sudah punya mohon kasih tau lewat PM ke atau review ke :D

Wkwk okay balas review dulu^^

~Silent Reader "Haha iyaaa^^ kemarin habis nyiapin semuanya :D... makasih sudah ditunggu :3 jadi malu :p dan makasih RnR serta semangatmu :*"~

~NikeLagi "Nah yang ini mah pending satu hari :D karena kamu kaga bisa review kemarin sekarang kamu bisa kasih review ga? :3 makasih semangatnya :*"~

~White's "Demi kucingku yang udah lahiran aku seneng banget liat review darimu :D wkwk demi-demi apaan kita ini? :D panggil aku Wisma aja^^ dan yang satu lagi Tsuki :* makasih RnR nya^^"~

~Dianarndraha "Haha kaga apa-apa buat nebus yang ini sedikit dipanjangin :3 ini sudah update maaf telat^^"~

~Chiekooo "Wkwk sabar, bentar lagi ko *plak* :D tapi aku seriusan-,- aku sudah follow beberapa fic yang ada lemonnya buat belajar dan diterapin dichap nanti :3"~

~Ayuniejung "Hahaha aku juga kayanya sama :3 ini kan Fanfiksi :p"~

~Rya-chand "Makasih dukungannya senpai^^ gomen aku baru on lagi , noh pacar senpai ada nongol dikit :p"~

~Hermansh9d "Wkwk btw makasih reviewmu, menurutku kaga monoton ko ;D"~

~Shivatand "Haha iya makasih nasehatnya :* juga sekali lagi aku kece yah? Wkwk makasih RnR nya yah :)"~

~Ichachan21 "Sudah^^"~

~Suket Alang Alang "Sudah^^"~

~Mantika Mochi "Makasih senpai^^, wkwk iya yah Saku-,-"~

~Sakura Uchiha Stivani "Haha eike juga seneng kalo u log-in ;* :D"~

~Arinamour036 "Kamu punya akun? Log-in dong kalau punya :D *wkwk maksa amat* haha iyaaa mending kesini aja nih diCiamis :D *plak* makasih RnR nya^^"~

~Uchiha Viona "Iyaaa saya memang masih kelas 3 SMP say :D"~

~NethyTomatoCherry "Wkwk aku kan faster :D makasih semangat dan RnR nya yah gomen telat :D"~

~Hanazono Yuri "Sudaaah senpai^^"~

~Ikalutfi97 "Haha iyaa daku seneng ko^^ nyubit sesuatu yang jelas bukan bagian panjangnya :D *plak* tabokan kali ini kerasa bener^^"~

~Imahkakoeni "Haha cie kita sama^^ aku masih 14 tahun beneran kalau kaga percaya bisa tanya *caesarpuspita sama NikeLagi* ... haha perihal Gaara nanti dijelasin di chap depan... makasih semangat dan RnR nya^^"~

~YOktf "Sudah xD"~

~CherryAsta "Haha yang ini lebih seneng lagi ga? :D wkwk kaga ko kaga gaje :p makasih RnR nya^^"~

~Caesarpuspita "Ih senpai gaje :p kan ini sudah baikan-,- *eike juga udah buat mereka kaya gitu, gimana sih-,-* ala CEWO :D makasih RnR nya senpai {}"~

~Luca Marvell "Ada tapi nanti ini masih ditengah jalan^^"~

~Rury "Makasih sayang :D bagian apa yah.. bagian bawahnya aja :3 *udah ah jangan bahas itu malu-,-* wkwk makasih RnR nya :*"~

~Byun429 "Sudah walau kaga ada percakapan yang nyatain mereka berdua sudah baikan^^"~

~ai "Haha kaga apa-apalah rated nya juga sudah di M wkwk makasih RnR nya kirain Ai yang dibesarin A nya itu sama kaya kamu :3"~

~PinkLaLaBlue "Haha ngebet banget kamu :3 *plak* hehe nanti :p"~

~An Style "Haha omes? :D wkwk aku ikutan vulgar :p ini sudah update kilat walau kepending satu hari :D"~

~Cherry853 "Haha iyaa... makasih RnR nya senpai :D"~

~Viona "Wkwk semoga kaga maraton lagi makasih RnR dan semangatnya :)"~

~Miharu348 "Makasih pujiannya, ini sudah lanjut ;)"~

~Violeta "Ini yang bikin aku pengen cepat update :) makasih yah :*"~

~Dea Lova SS "Hehe iyaaa makasih RnR nya, semoga kita bisa jadi teman ^^"~

~Toru Perri "Haha maksih dan ini sudah lanjut, RnR nya ditunggu :3"~

~Gita559 "Hehe makasih sayang, ini juga salah satu reviewer yang bikin aku ingin cepat nyelesain kedongkolan :D"~

Dan spesial thanks to all reader wait this fic, rasanya terharu banyak yang nunggu :3


WISMA RYUZAKI

30 Mei 2015