"Hei!" Seru pemuda yang ditabrak Taufan, tak terima dengan perbuatannya yang telah membuat bajunya ketumpahan kopi yang hendak ia minum.

Taufan gelagapan panik. Baru saja ia sampai didunia manusia, tetapi kenapa ia harus membuat masalah baru dengan manusia?

"Ma-Maaf! Aku tidak sengaja!" Seru Taufan sambil mengambil saputangan dikantong bajunya dan mengelap baju Pemuda dihadapannya.

"Ish! Apa-apaan sih!"

Pemuda tersebut mendorong Taufan menjauh darinya. Hampir saja Taufan terjatuh jika Air tak menompang dirinya.

Yaya yang tak terima dengan perbuatan pemuda tersebut kepada Taufan pun menimpali.

"Hei! Sahabatku'kan sudah meminta maaf dan ingin memperbaiki kesalahannya, jadi kenapa kau kasar kepadanya?!"

Air mengangguk setuju, "Lagipula ia'kan tidak sengaja!"

Pemuda itu menatap tajam mereka berempat.

"Tak perlu ikut campur urusanku! Urus saja dirimu sendiri!"

Ying memutar bola matanya jengah, "Yasudah, sekarang yang penting Taufan sudah minta maaf, jadi masalahnya sudah selesai bukan?"

Pemuda beriris ruby itu menatap sengit Ying. Ia mendengus, "Selesai? Huh! Tentu saja belum!"

Taufan mengnyerit bingung, "Hah? 'Kan aku sudah minta maaf? Apalagi?"

"Bagaimana dengan kopiku? Kau tak ingin menggantinya begitu?"

Air mendecak kesal, "Kau'kan orang kaya, kau bisa membeli berapapun yang kau mau!"

Keempat Peri dan juga Pemuda tersebut saling tidak mau kalah. Huh... -_-

Delia Angela and Riana present to you...

Fairy Tale Love

The Story about fairy who Fall in Love with a Human, though that is Forbidden Love.

Disclaimer: BoBoiBoy All Chara © Animonsta

And Fairy Tale Love © Delia & Riana

Genre: Fantasy & Romance

Rating: Teen (13+)

WARNING! OOC (Out Of Chara)! Typo(s)! Fast Alur! GaJe! Fantasy Love! Friendship Day!

Chapter 4: Meet with 'Friends'

.

.

.

Fang, Api, dan Gempa sedang berjalan keluar dari pertokoan. Mereka bertiga sebenarnya ada janji dengan Halilintar ingin bertemu disana. Tetapi...

"Ck! Kemana sih Halilintar itu? Katanya mau bertemu disini, tapi mana orangnya?!" Seru Fang kesal. Gempa mengangkat bahunya tak tahu.

"Mungkin dia telat," Ujar Gempa mencoba berpikir positif.

Fang mendelik padanya, "Tak datang 1 Jam itu masih dikatakan Telat?"

"Sudahlah, lebih baik kita..."

Api hendak saja ingin mencari Halilintar, namun perkataannya tergantung ketika ia melihat pemuda yang ia cari berada di hujung pertokoan.

"Gempa, Fang, itu Halilintar'kan?" Tanya Api memastikan sambil menunjuk pemuda yang ia maksud.

Mata Fang terbelalak, "Iya! Itu Halilintar! Eh, tapi kenapa ia berdebat dengan 4 perempuan?"

"Lebih baik kita kesana saja!" Usul Gempa.

Mereka berempat pun berlari kearah Halilintar.

Ditempat Halilintar...

"Pokoknya aku gak mau tahu! Yang jelas, kau harus ganti rugi! Titik!"

Taufan menghela nafasnya, "Terserah kau sajalah!"

"Hei! Hei! Ada apa ini?" Bingung Api, Fang, dan Gempa ketika menghampiri mereka.

"Aduh... Ini siapa lagi? Mau bantuin dia juga?" Lenguh Ying.

Gempa yang belum ingin berdebat langsung bertanya kepada Halilintar apa yang sedang terjadi.

"Sebenarnya ada apa ini, Hali? Kenapa kau bertengkar dengan keempat perempuan ini?" Tanya Gempa.

Halilintar kembali mendengus.

"Dia menabrakku, lalu menumpahkan kopi yang baru saja kubeli. Aku memintanya ganti rugi, tetapi mereka tidak mau," Jelas Halilintar.

"Jelas dong kami tidak mau! Kau'kan orang kaya, apakah sulit untuk kau agar bisa membeli kopimu lagi?" Bantah Ying.

Halilintar menatap Ying tajam, "Bukan masalah uangnya, tetapi kau tahu berapa jam aku menunggu didalam sana?"

Keduanya nyaris saling bertengkar jika Api tidak memisahkan mereka berdua.

"Wo...wo...Wo... Sabar! Sabar!" Seru Api menengah.

"Dan kau Hali, APA KAU TAHU SEBERAPA LAMA KAMI MENUNGGU KEHADIRANMU?!" Sambungnya berteriak.

Halilintar menepuk-nepuk telingannya yang terasa sakit akibat 'semburan' Api.

"Iya, maaf. Aku lupa."

Taufan yang tidak ingin memperpanjang masalah ini pun menengah.

"Baiklah. Aku minta maaf. Tetapi aku tidak bisa mengganti kopimu untuk saat ini. Aku sedang tidak memiliki uang, tetapi suatu saat aku akan menggantinya," Ujar Taufan bijaksana.

Halilintar menaikkan sebelah alisnya, "Hah? Enak saja! Kau pikir aku akan tertipu? Kau pasti akan pergi entah kemana dan tak kembali."

Yaya yang sudah mulai kesal dengan bertengkaran ini pun menimpali kembali.

"Baiklah, sekarang apa maumu? Kau butuh jaminan? Apa yang bisa Taufan buat agar percaya dan memaafkannya?"

Gempa mendapat ide.

"Ha! Aku tahu! Bagaimana kalau kalian berempat membantu kami dirumah saja? Kebetulan kami sudah tidak punya orang tua."

.

.

.

"APA?!"

Semuanya berteriak kaget dengan usul Gempa.

"Yang benar saja, Gempa?" Seru Fang tidak terima. Gempa mengangguk membenarkan pertanyaan Fang.

"Iya, lagipula kita sama-sama untung bukan. Kalian orang baru'kan?"

Yaya tersenyum, "Iya, kami ini orang baru disini. Salam kenal, aku Yaya, ini Taufan, Ying, dan juga Air."

Api ikut tersenyum senang bertemu dengan mereka.

"Aku tidak setuju."

Semua mata tertuju kepada Halilintar yang sepertinya tidak setuju dengan usul Gempa.

"Kenapa?" Bingung Gempa yang usulnya ditolak begitu saja.

"Maksudmu mereka tinggal dirumah kita begitu?"

Gempa mengangguk membenarkan.

"Yang benar sa-"

"Oh ayolah, Hali! Pasti akan lebih menyenangkan daripada kita sendirian dirumah kita tanpa orang tua yang menyebalkan itu! Ya'kan, Air?"

Air sedikit tersentak ketika namanya dibawa-bawa oleh Api. Ia hanya tersenyum canggung lalu mengangguk.

Fang mendengus, "Karena ini Gempa yang memintanya, aku izinkan mereka tinggal dirumahku."

Ying menatapnya kesal, "Kalau gak ikhlas bilang saja dong! Gitu banget sih!"

"Yee... Suka-suka dong!"

Yaya hanya memijit keningnya. Kenapa disetiap 'fanfic' mereka harus bertengkar terus? Tak sadar apa kalau mereka lagi beda cerita 'fanfic'? 'Kan ini Fairy Tale Love, bukan Goo- eh? Kok ngelantur sih? Lanjut aja! #abaikan

Halilintar berpikir sebentar lalu melirik Taufan yang sedikit tertawa kecil melihat pertengkaran Fang dan Ying.

Entah kenapa, hati Halilintar seolah deg-degan melihat wajah Taufan yang berseri sekarang.

Namun segera ia menepis pikirannya.

"Hah... Baiklah! Mereka boleh tinggal!" Pasrah Halilintar, tak ingin bertengkar dengan keempat temannya yang menurut dirinya memaksa itu.

"Yeay!" Semua bersorak girang, kecuali Halilintar, Fang, dan Air.

"Terima kasih, Hali!" Seru Taufan sambil sedikit membungkuk.

Pipi Halilintar tiba-tiba sedikit merona tipis. Ada apa ini?

"Kalau begitu, aku dengan Yaya, Fang dengan Ying, Api dengan Air, dan Hali dengan Taufan," Atur Gempa memasangkan mereka.

Halilintar, Fang, dan Ying tersentak kaget, tak terima dengan pasangan mereka.

"Apa-apaan sih, Gempa? Kenapa aku harus sama si perempuan rese ini?!"

"Dih, siapa juga yang mau sama landak ungu kayak kamu! Huh!"

"Apa?!"

Api mendecak kesal, "Kalian ini berisik sekali sih! Udah terima aja! Ayo, Air! Kita pulang!"

Air terkejut ketika Api menarik tangannya dan membawa (baca: menyeret) dirinya untuk ikut bersamanya.

Yah... Beginilah hari mereka sekarang, dengan adanya Keempat perempuan yang tinggal dirumah mereka, tentu hari mereka akan lebih meriah.

...

Halilintar House,

Taufan sungguh tidak suka jika harus berjalan bersama dengan Halilintar. Sendari tadi tidak ada seorang pun yang ingin mengeluarkan suaranya. Atmosfer keheningan dan juga kecanggungan terasa diantara 2 insan ini.

Taufan menatap Halilintar yang berjalan didepannya, seolah tak peduli dengannya. Bibir Taufan mengercut, ingin rasanya ia merobek tampang sok cool itu.

Ia tak suka gayanya. Berjalan sok gagak, tangan dimasukkan ke kantong jaketnya, dan wajah yang ditekuk seperti itu.

"Hah... Betapa sialnya nasibku," Gumamnya pelan bergerutu kesal.

Meskipun itu pelan, suara Taufan sampai ke telinga Halilintar.

"Gak perlu bergerutu seperti itu. Kalau bukan karena Gempa, kau pikir aku mau mengizinkanmu untuk tinggal bersamaku?" Balas Halilintar yang tak kalah sengitnya.

Taufan mendengus mengejek, "Ya, terserah."

Tak lama kemudian, akhirnya Halilintar dan Taufan pun sampai dirumah Halilintar.

"Baiklah, kita sudah sampai. Masuklah." Ajak Halilintar datar.

Taufan mendecak.

"Kau ini ingin mengajak atau tidak sih? Tidak semangat banget?" Komen Taufan.

"Berisik banget sih! Udah masuk!"

Halilintar pun mendorong Taufan paksa untuk masuk kerumahnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Hei! Hei!" Serunya tak terima.

"Iya, Maaf. Aku gak bakal banyak ngomong lagi deh! Maaf ya."

Melihat ekspresi Taufan yang seperti itu membuat Halilintar ingin tersenyum kecil, namun segera ia membatalkan niatnya itu.

"Disini kau hanya perlu tinggal saja. Aku tak perlu bantuanmu dirumah ini. Aku bisa melakukan segalanya sendirian. Paham?" Jelas Halilintar dingin.

Dahi Taufan berkerut bingung, "Lho? Bukannya kata Gempa, aku harus membantumu? Lagipula aku gak enak kali kalau harus diam doang tanpa berbuat sesuatu?"

Rasanya Halilintar mau menghajar Taufan saat ini juga, namun mengingat ia adalah perempuan membuat niatnya itu harus ditahan.

"Kau ini... Masih mending udah dikasih enak, bukannya nurut aja gitu? Yang penting, kau hanya duduk diam dirumahku. Paham?" Jelasnya sekali lagi dengan penekanan disetiap kata-katanya.

Merinding menghampiri Taufan seketika melihat wajah Halilintar yang menyeramkan itu. Taufan hanya tersenyum kaku lalu mengangguk dengan cepat.

Merasa sudah cukup menerangkan, Halilintar pun meninggalkan Taufan sendirian dirumah.

Taufan membuang nafasnya lega.

"Astaga, itu Manusia apa hantu? Seram banget!"

Gempa House,

"Ohh... Jadi kau ini dari desa sebelah."

Yaya mengangguk, meskipun ia tahu dirinya berbohong, namun ia harus berbuat apa? Tidak mungkin bukan ia menceritakan 'siapa' sebenarnya dirinya.

"Iya... Aku dan ketiga temanku sengaja kesini. Biasa, cari rumah baru. Hehehe..." Ujarnya.

Kelihatannya Gempa mempercayai perkataan Yaya.

"Kalau begitu, kau tinggal saja disini. Jujur saja, semenjak Ibuku kerja diluar kota, aku kesepian dan bingung harus berbuat apa di rumah ini. Mungkin dengan adanya kau, aku bisa terbantu," Pikir Gempa sambil tersenyum lembut.

Yaya tertawa kecil, "Ya, semoga aku bisa membantumu. Dan, terima kasih karena sudah memberiku tempat tinggal ya."

"Sama-sama,"

Yaya cukup senang mendapat teman seperti Gempa yang sangat ramah dan baik hati. Semoga saja ia tak membuat masalah dengan Gempa.

"Nah, ini dia rumahku."

Rumah Gempa cukup besar, namun sederhana. Bagi Yaya itu sudah cukup.

"Ayo masuk!" Ajak Gempa.

Keduanya pun memasuki rumah Gempa.

Yaya terkagum melihat rapinya rumah Gempa. Segala perabotan tersusun manis disetiap pojok rumahnya. Menurutnya, Gempa adalah anak yang rajin.

"Rapi banget, Gempa. Kau yang membereskan semua ini?" Tanya Yaya penasaran.

Gempa kembali mengangguk, "Ya, begitulah." Jawabnya malu-malu.

"Wow... Kau ini hebat ya?" Puji Yaya.

Gempa tertawa canggung, "Biasa saja kok..."

Kelihatannya mereka berdua sudah sangat akrab. Semoga saja begitu...

Api House,

Air hanya membiarkan dirinya ditarik oleh Api menuju rumahnya. Ia sama sekali tak berani berkomentar, takut Api akan marah.

"Huh! Mereka itu menyebalkan ya, Air?" Ujar Api berusaha mencairkan suasana.

Air tersenyum kecil dan mengangguk.

Api mengnyerit melihatnya, "Kau ini bisu ya? Kok gak bilang apa-apa sendari tadi?"

Menyadari kebingungan Api akan sikapnya membuat Air terkekeh kecil.

"Tidak, aku tidak bisu. Aku hanya bingung harus berkata apa," Jelas Air.

Api memangut paham.

"Oh ya, saat sampai dirumahku nanti, kau tak perlu melakukan apa-apa. Aku tak ingin kau dianggap seperti pembantu. Aku bisa melakukannya sendiri kok," Ujar Api.

Air terkejut. Padahal ia ingin sekali membantu Api karena sudah baik kepadanya.

"Tapi..."

"Sstt..." Api menempelkan telunjuknya ke bibir Air, yang membuat hati Peri ber-ras Mermaid itu berdegup kencang.

Jarak antara wajah Api dan Air benar-benar dekat. Sangat dekat.

"Tidak perlu tapi-tapian. Ikuti saja, oke?" Kata Api sedikit dingin. Air berusaha menyembunyikan rona merah dipipinya itu, sebenarnya ada apa ini?

.

.

.

Air menganga melihat isi Rumah Api yang sungguh berantakan. Sepertinya Api tak pernah berniat membersihkan rumahnya.

"Hehehe... Maaf ya agak berantakan. Oke, aku pergi duluan ya? Dah!"

Api pun meninggalkan Air yang masih agak shok akan keadaan rumah Api.

Inisiatif Air muncul. Ia pun memiliki ide yang hebat dan dijamin, Api pasti menyukai idenya itu.

Fang House,

"Ini rumahmu?" Kaget Ying melihat rumah Fang yang tergolong besar itu.

Fang bergumam, "Ya, ini rumahku."

Ying tak mampu mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya itu.

"Sudahlah, gak usah kagum begitu. Masuk saja."

Mendengar itu, Ying langsung menepis kekagumannya.

"Dih? Siapa juga yang kagum? Ge-er banget..." Elak Ying tak mau mengaku, karena ia tahu jika ia mengaku Fang pasti akan menertawainya.

Fang memutar bola matanya, "Terserah kau sajalah! Yang jelas, sana masuk dan beres-beres! Aku mau pergi sebentar!"

"Heh? Enak saja! Memangnya aku pembantu apa?"

Tak ada respon dari Fang, meskipun didalam hatinya Fang tertawa, tapi tampang coolnya harus tetap dijaga tentunya.

Ying kesal melihatnya. Dengan berat hati, Ying pun TERPAKSA masuk ke rumah Fang.

.

.

.

"ASTAGA, FANG! INI RUMAH ATAU KAPAL PECAH?!"

"Pfftt..."

To Be Continue...

Hi! Akhirnya setelah lama tak mengupdate Fic. Fairy Tale Love ini, ada juga waktu luang untuk menulis! Wkwkwk...

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa semua! Mohon maaf ya jika Author ada salah ^^!

Oh ya, apa ada yang mau ngusul ide-ide menarik untuk Fanfic ini? Silahkan tulis di kolom review ya ^^

Balasan Review:

EruCute03: Ya, ini udah lanjut kok ^^

Rampaging Snow: Ya, yang nabrak Taufan itu si Halilintar.

Sitiwulandari: Ya, ini udah lanjut...

Annisa Arliyani Wijayanti: Yang nabrak Taufan adalah... Jeng! Jeng! Jeng! Wkwk...

Blackcorrals: Enggak kok, baju Taufan gak basah, tapi baju Halilintar yang basah...

aquilacarssa: Iya, Halilintar yang ngomong...

Hikaru. Q.A: Iya, begitu deh...

°ºoĸế(-͡. ͡)(y), Thanks For Review ya!

Kali ini aku ingin tambahkan Quiz!

Quiz: Kira-Kira, insiatif yang dimaksud Air itu apa ya?

A. Ngerjain Api?

B. Masak buat Api?

C. Beresin rumah Api?

Ditunggu ya!

Please Review! Favs! And Follow!

Pai! Pai!