"Hah..."
Ini sudah ketiga kalinya Ying menghela nafas seperti itu.
Dengan tidak sudinya Ying mengepel lantai rumah Fang dengan perasaan yang benar-benar kesal dengan si pemilik rumah yang ia tinggali.
'Ish! Sungguh sialnya nasibku! Kenapa aku tinggal dengan si Landak ungu yang bisanya cuman memerintah doang?' Batinnya tak terima.
Karena ia benar-benar tak terima dengan perintah Fang, Ying pun mengepel lantai rumah Fang tanpa memeras dahulu kain pelnya, sehingga lantai rumah Fang becek semua.
Toh, dia juga tak mungkinkan memeras kain tersebut? Jika tangannya terkena air, habis sudah penyamarannya...
Kriettt... Brakk!
"Aku pulang.".
Fang pun akhirnya pulang kerumahnya. Dengan malas, Fang memasuki rumahnya tanpa sadar kalau lantai rumahnya becek.
Ying yang menyadari hal itu tersentak.
"Fang, hati-hati! Lantainya-"
Gubrak!
"Aduh!"
"-becek."
Benar saja, Fang jatuh terpeleset dengan tidak elitnya. Bokongnya sukses mencium lantai licin dibawahnya.
Ying menutup mulutnya shok melihat Fang yang terjatuh seperti itu.
"Aduh... Ying!" Seru Fang kesal sambil mengelus bokongnya yang terasa perih.
"Pfftt..." Ying mati-matian berusaha menahan tawanya agar tidak buyar melihat ekspresi Fang yang terlihat kesakitan bercampur kesal.
"Hahaha... Rasain tuh! Siapa suruh nyuruh-nyuruh orang? Kena sendiri'kan? Hahaha..."
Tawa Ying terpaksa lepas karena dia sudah tak kuat lagi menahannya.
Fang menatapnya tajam. Seenaknya saja dia tertawa diatas penderitaan orang lain.
"Ck! Bukannya bantuin, malah diketawain!"
Ying menghapus setitik air mata yang tak sengaja keluar dari kelopak matanya akibat tertawa.
"Hahaha... Sorry, Sorry. Sini kubantu."
Ying pun menghampiri Fang yang masih kesakitan.
Tanpa sadar, Ying pun tak sengaja menginjak lantai becek tersebut, sehingga Ying pun ikut terjatuh terpelesat.
"GYAA!" Pekik Ying kaget.
Akhirnya Ying pun jatuh menimpa Fang.
Keduanya terdiam menatap wajah mereka masing-masing yang hanya berjarak 1 cm.
Ada perasaan yang membuat mereka tak mau melepaskan pandangan mereka, namun kenapa?
Wait? Tunggu?
1...
2...
3...
"AAAHH!"
Delia Angela and Riana present to You...
The Story about The Fairies who fall in love with a Humon, though that's Forbbiden Love...
Fairy Tale Love
Disclaimer: BoBoiBoy © Animonsta
And Fairy Tale Love © Delia & Riana
Genre: Fantasy & Romance
Rating: Teen (13+)
Pair:
1. Halilintar x fem!Taufan
2. Gempa x Yaya
3. Api x fem!Air
4. Fang x Ying
WARNING! OOC (Out of Character)! Typo(s)! Fast Alur! GaJe! Fem!Taufan! Fem!Air! No Boys Love! Friendship Days! And so many mistake you can found in this story!
Catatan: Cerita ini MURNI berdasarkan IMAJINASI AUTHOR! Adanya KESAMAAN NAMA merupakan KETIDAKSENGAJAAN!
Chapter 5: Surprise for You! (Part 1)
.
.
.
Sesaat sebelum Fang pulang kerumah...
"Sungguh Gempa, rencanamu itu benar-benar gila!" Seru Fang tak terima.
Kini Fang, Gempa, Halilintar, dan Api sedang bersantai di Cafe sebentar untuk bertukar pikiran.
"Lho? Memangnya kenapa? Wajarkan? Orang tua kita tidak ada sekarang, mungkin mereka bisa membantu kita mengurus rumah," Ujar Gempa membela diri.
"Tapi Gempa, kenapa harus 4 perempuan itu? Kau tahu'kan aku bermasalah dengan mereka?" Keluh Halilintar.
Tentu, dia baru saja bertengkar dengan 4 perempuan itu, dan sekarang ia harus tinggal bersama dengan perempuan yang membuat ia kesal hari ini.
"Tapi menurutku, mereka agak aneh."
Semua mata tertuju kepada Api yang terlihat sedang berpikir.
Gempa mengnyerit bingung tak mengerti maksud perkataan Api.
"Aneh? Maksudmu?"
"Ya... Kau tak lihat pakaian mereka?"
Semua baru sadar, kalau pakaian mereka itu agak sedikit aneh.
Taufan mengenakan dress mini selutut dengan hiasan pernah pernik di bagian atas dress tersebut.
Yaya pun mengenakan dress mini selutut berwarna pink muda.
Ying juga sama, hanya dress miliknya berwarna hijau-kuning.
Air pun mengenakan dress berwarna biru muda polos.
"Oh iya, mereka semua memakai dress," Ujar Fang ketika menyadari pakaian mereka yang aneh.
Api mengangguk, "Itu sebabnya aku agak sedikit bingung, untuk apa mereka mengenakan dress dihari seperti ini?"
Semuanya terdiam berpikir.
Rasa curiga akan keempat perempuan tersebut membuat mereka harus sedikit lebih berhati-hati.
...
"Hoam..." Aku menguap bosan setelah 5 menit kepergian Halilintar itu.
Bosan.
Aku benar-benar bosan.
Niatnya sih aku pengen melakukan sesuatu untuk Halilintar, tetapi mengingat seramnya wajah Halilintar membuatku berpikir 2x.
Menurutku, Halilintar pantas untuk menjadi preman jalanan. Tampangnya yang men-'death glare' itu benar-benar seram. Sekali ditatap, langsung tak berkutik.
Tetapi, apakah tak ada yang bisa kulakukan untuk berterima kasih karena telah mengizinkanku untuk tinggal dirumahnya?
Aku menghela nafas. Sungguh pilihan yang membingungkan.
Aku pun memutuskan untuk berkeliling disekitar rumahnya agar bisa beradaptasi.
Memang, aku agak sedikit risih untuk tinggal dirumah orang lain. Karena tak bebas melakukan apa yang kita suka. Contohnya saat ini.
Tapi aku tak mungkin kembali kerumahku. Keputusanku sudah bulat untuk kabur dari rumah. Kira-kira Bunda sadar tidak ya aku kabur?
Aku terkikik geli mengingatnya.
Saat hendak naik kelantai dua, aku melihat pintu kamar Halilintar terbuka sedikit. Aku pun berinisiatif menutup pintu tersebut.
Bisa kubilang aku orangnya pengen tahu banyak, alias Kepo.
Rasa itu tiba-tiba muncul saat aku mengintip sedikit kamar Halilintar yang sedikit agak berantakan, namun tidak parah.
Aku menyungging senyuman dibibir ranum ku. Tak ada salahnya'kan kalau mengintip sedikit saja?
Kakiku pun melangkah masuk kekamar yang bernuansa merah-hitam itu. Tak heran, sesuai dengan warna pakaiannya.
"Kelihatannya dia Favorite sekali dengan warna merah dan hitam," pikiranku menduga.
Kasur tidurnya agak sedikit berantakan, mungkin karena ia belum sempat membereskannya.
Tanganku pun dengan lihainya melipat dan membereskannya agar menjadi rapi.
Saat ingin membersihkannya, aku melihat ada sebuah bingkai foto dibalik bantalnya.
Aku heran melihatnya, "Lho? Kenapa ada bingkai foto dibalik bantal? Aneh."
Kulihat itu foto seorang anak kecil dengan seorang wanita disebelahnya yang sedang memberikan sebungkus coklat keanak tersebut.
Tanpa sadar aku tersenyum geli melihat kelucuan di foto tersebut.
"Hmm... Kelihatannya Halilintar suka dengan coklat."
Sepintas ide melintas begitu saja di kepalaku.
"Oh iya! Aku akan coba untuk membuat coklat untuk Halilintar saja! Mana tahu dia itu suka dengan coklat?"
Aku pun meninggalkan kamar Halilintar dan bergegas kearah dapur.
.
.
.
"Tapi... Aku'kan tak bisa masak."
*gubrak*
...
Di Dunia Fairy Tale...
Ratu Shiva duduk tenang di meja makan, menunggu kedua putra-putrinya untuk bergabung dengannya. Meskipun hatinya masih agak kesal dengan Taufan, namun mau bagaimana lagi? Tak mungkin bukan dirinya harus mengusir anaknya itu.
"Pengawal, tolong panggilkan kedua anakku untuk makan siang. Ini sudah masuk waktunya," Pinta Ratu Shiva.
Pengawal itu pun mengangguk hormat lalu menjalankan perintah sang Ratu.
Ratu Shiva menghela nafas pusing. Ia baru saja kehilangan duta lagi untuk menjadi pokok kerajaannya. Namun sayang seribu sayang itu gagal lagi.
Tetapi, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya. Sesuatu yang aneh seperti firasat buruk yang akan menimpa putrinya. Namun apa itu, Ratu Shiva juga tak tahu.
Pangeran Gopal dan juga Ochobot pun masuk keruang makan kerajaan.
Melihat hal itu, Ratu Shiva mengnyerit heran.
"Lho? Gopal? Ochobot? Dimana Taufan?"
Seketika Gopal dan Ochobot gelagapan, tak tahu harus menjawab apa.
"Engg... Taufan..." Bibir Gopal serasa kaku. Ia merasa tak mampu merangkai kata untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Psst... Pangeran Gopal," Panggil Ochobot berbisik. Gopal melirik kearahnya, seolah bertanya ada apa.
Ochobot menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tak setuju jika Gopal memberi tahu yang sebenarnya.
Tingkah mereka berdua membuat Ratu Shiva kebingungan. Ia sepertinya sadar, ada yang disembunyikan mereka berdua.
"Taufan? Taufan kenapa?" Desak Ratu Shiva.
Tiba-Tiba, Penjaga kerajaan masuk ke ruang makan istana dengan tergesa-gesa sekaligus panik, seakan telah terjadi sesuatu yang besar dan menakutkan.
Ratu Shiva semakin kebingungan. Mengingat perasaan buruknya tadi membuat Ratu Shiva semakin kalang kabut.
"Ada apa penjaga?"
Salah satu penjaga pun menjawab, "Putri Taufan menghilang dari kamarnya, Ratu!"
.
.
.
Deg.
Jantung Ratu Shiva seakan berhenti berdetak mendengarnya. Shok berat mendengar pesan yang sangatlah buruk baginya.
"A-APA?! BAGAIMANA BISA?!"
Reaksi dari Ratu Shiva sedikit membuat Gopal terkejut. Ia tak menyangka bundanya akan sepanik itu.
Perlahan, Ratu Shiva merasa badannya melemas. Pusing nan hebat dirasakannya dibagian kepalanya. Dan perlahan ia pun kehilangan kesadarannya.
Badan Ratu Shiva ambruk ditempat.
Semua penjaga dan juga Pangeran Gopal dan Ochobot tersentak kaget. Seisi ruangan langsung menjadi semakin panik.
"RATU SHIVA!"
Mata Gopal terbelalak kaget, "Astaga! Bunda!"
Segera, Gopal langsung menghampiri Bundanya yang kehilangan kesadaran.
"Bunda! Bunda, bangun! Bangun!"
Diceknya nafas bundanya. Gopal berangsur lega menyadari Bundanya masih hidup, namun itu masih belum bisa diartikan baik.
"Ochobot! Cepat panggilkan Doctor Fairy (1)!" Pinta Gopal.
Namun, entah mengapa Ochobot merasa tubuhnya tak bisa ia gerakan. Seolah dirinya masih shok melihat reaksi Ratu Shiva akan menghilangnya Taufan.
'Andai saja kau tahu betapa sayangnya Bunda terhadapmu, Taufan.'
...
Air terduduk disofa ruang tamu rumah Api. Ia merasa ia harus berbuat sesuatu untuk membalas jasa Api karena mengizinkan dirinya untuk tinggal dirumah yang 'nyaman' ini.
Oke, coret kata 'nyaman'.
Rumah Api benar-benar berbeda dengan rumahnya. Rumah Api benar-benar berantakan seperti tak pernah dibereskan oleh pemiliknya.
Kalau dilihat sekilas, mungkin orang-orang akan mengira rumah Api adalah Gudng. Bukannya menjelek-jelekan Rumah milik Api, tetapi itu adalah 'Fakta'.
Air menghela nafas pasrah. Entahlah, apakah ia akan sanggup bertahan lama didunia manusia.
"Hm... Kira-kira apa yang bisa kulakukan untuk membalas jasa Api kepadaku ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
Setelah lama berpikir, ia pun mendapatkan sebuah ide yang menarik.
"Mungkin aku bisa memasak makan malam untuknya!"
Baru saja Air hendak ke dapur, sebuah kenangan masa lalu masuk kedalam memorinya.
FlashBack On...
"Hah? Kau mau memasak?"
Seorang Fairy ber-ras Mermaid memandang penuh heran kearah Adiknya yang tersenyum memohon kepadanya.
Namanya Ice. Dia merupakan Kakak dari Air.
Air mengangguk penuh antusias, "Iya, Kak! Boleh ya? Please..."
Ice memutar kedua bola matanya, bisa-bisanya adiknya itu berpikir hal yang aneh seperti ini.
Ia pun mensejajarkan tingginya dengan tinggi adiknya yang berbeda 3 Tahun darinya.
"Air, dengar kakak. Kita ini Fairy ber-ras mermaid, jadi mana mungkin kita melakukan sesuatu yang berhubungan dengan api? Kau ingatkan? Api dan Air tak cocok untuk bersatu. Nanti kau yang akan terlukan," Tegur Ice lembut, berusaha membuat sang adik mengerti apa yang ia maksudkan.
Namun sayang seribu sayang, Air masih tidak mau mengerti dan bersikeras terhadap keinginannya.
"Enggak, kak! Air janji gak bakal bikin masalah apapun!" Seru Air keras kepala.
Ice menghela nafas, benar-benar kepala batu. Ditatapnya Air agak lama.
Air tetap saja tersenyum, berharap kakaknya berubah pikiran.
'Hah... Jurus itu lagi,' gerutu Ice dari dalam hati.
Akhirnya hati Ice meleleh melihat 'keimutan' adiknya itu, "Oke, kamu boleh memasak. Tapi ingat! Kau tahu'kan resikonya jika kau membuat masalah?"
Hati Air semakin berseri-seri mendengarnya.
"Yeay! Terima kasih Kak!"
Air pun langsung dengan antusiasnya memasak untuk mereka. Sebenarnya Ice agak ragu dengan kemampuan adiknya dalam hal memasak.
Seingatnya, Air tak pernah tahu menahu dengan urusan dapur.
Setelah 1 jam berada didapur, Air pun keluar dari dapur sambil membawa makanan ditangannya. Anehnya, wajah Air terlihat muram.
Ice mengnyerit heran melihat perubahan suasana hati Air.
"Kenapa Air? Tadi kau senang, kenapa kau muram sekarang?"
Air menghampiri kakaknya sambil menunduk, "Maaf Kak, masakannya..."
Ice akhirnya mengerti apa yang terjadi dengan adiknya.
"Tak apa, Air. Namanya juga baru belajar."
Flashback Off...
Air menghela nafas. Tak mungkin ia memasak jika ia tak pandai memasak.
"Kalau begini, lebih baik aku membersihkan rumah Api saja."
...
Halilintar pun kini berjalan menuju rumahnya kembali. Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak akan apa yang terjadi dirumahnya.
Apa mungkin Taufan membakar rumahnya?
Atau mencuri semua barang dirumahnya?
Atau jangan-jangan...
Halilintar segera menghapus pikiran anehnya yang sudah mulai mengelantur.
Ia pun mempercepat langkahnya.
Tak lama kemudian, Halilintar pun sampai dirumahnya...
"Aku pulang!" Seru Halilintar.
Ia bernafas lega melihat seisi rumah masih lengkap dan normal tanpa kekurangan suatu apapun.
"Taufan?"
Ia baru sadar gadis itu tak muncul jua.
'Apa mungkin dia pergi ya?' Batin Halilintar.
Ia pun mencoba mencarinya keseluruh pelosok ruangan, namun tetap saja Gadis berambut hitam-biru tua tersebut tak ada dimana-mana.
"Akh!"
Suara pekikan seseorang membuat telinga Halilintar menegak. Ia yakin betul, itu suara Taufan. Suara itu berasal dari dapur.
Halilintar pun melangkahkan kakinya mengikuti arah suara terserbut.
"Engh..." Taufan berusaha menggapai panci yang Halilintar letakan diatas lemari yang sangat tinggi (melebihi tinggi dirinya).
Taufan pun menjijitkan kakinya, mencoba kembali menggapai panci tersebut.
"Ayolah sedikit lagi!" Hibur Taufan, menyemangatkan hatinya.
Tetapi betapa sialnya dia, tinggi tubuhnya masih belum cukup untuk menggapai panci tersebut.
"Hah..." Taufan menghela.
Namun ia teringat akan sesuatu...
"Oh iya! Aku'kan Fairy? Kenapa aku gak kepikiran dari tadi ya?"
Taufan pun mengubah dirinya kembali ke bentuk asalnya, seorang peri.
Dengan sayap berwarna pelangi dengan germelap butiran perak mengkilap dipunggungnya, ia pun terbang keatas lemari dan mengambil panci itu dengan mudah.
"Yes! Dapat!" Girangnya.
"Taufan?"
Deg.
Mata Taufan membesar kaget mendengar suara yang tak asing baginya. Tubuhnya mendadak kaku.
Perlahan, digerakkannyalah lehernya menuju asal suara.
Benar saja. Halilintar hendak masuk ke dapur, tempat ia berada sekarang.
'Gawat!'
To Be Continue...
(11) Doctor Fairy: Fairy yang tugasnya mengobati makhluk lain seperti Doctor.
Oh No! Taufan ketahuan gak ya? Wah! Bahaya nih!
Kira-kira gimana reaksi Api yang saat liat rumahnya diberesin? Hihihi...
Mau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ikuti terus fanfic Fairy Tale Love ini ya! Dengan cara follow my story or Follow me!
Terima kasih bagi yang sudah mengikuti Quiz kemarin, ya!
Jawabannya adalah: C. Beresin rumah Api.
Alasan yang paling tepat diucapkan oleh: Aisyah Zoldyck807
Yeay! Selamat ya!
Buat pemenang, akan dikasih hadiah loh! Tapi bukan hadiah materi ya -_-, tapi kesempatan untuk merequest Scene-Scene menarik untuk fanfic ini. Boleh dengan pair apa saja!
Quiz di Chapter ini:
Apakah Taufan bakalan ketahuan penyamarannya? Sertai alasannya ya!
Balasan Review:
BlackCorrals:
Wah, sayangnya kamu kurang beruntung... Dicoba di Chap. Depan ya! Thanks For Review!
Vannila Blue 12:
Tentu. Mereka pastinya akan bertemu lagi dong. Ciee yang jawabannya betul... Thanks For Review!
Anna-chan Yhaliez Tiawati:
Air emang mermaid. Taufan, Yaya, sama Ying itu keturunan Fairy asli, cuman jenisnya beda-beda. Nanti tunggu aja penjelasannya di Chap. mendatang. Thanks For Review!
EruCute03:
Emang, namanya juga si Landak ungu. Wkwk... Thanks For Review!
Siti Wulandari:
Ciee yang jawabannya betul... Wkwk... Thanks For Review!
Aisyah Zoldyck807:
Wow, alasan kamu tepat banget loh! Wkwk... Selamat ya! Thanks For Review!
Rampaging Snow:
Wah, jangan bimbang dong. Harus yakin ^^! Semangat juga ya! Thanks For Review!
IceCandy03:
Ciee... Yang jawabannya betul... #ciaa Thanks For Review!
NekoLily:
Selamat, jawaban kamu betul! Boleh-boleh aja kok... Wkwk Thanks For Review!
Aniara:
Ciee yang jawabannya tepat... Thanks For Review!
sofy:
Kita liat aja reaksi Api di chapter mendatang! Wkwk... Thanks For Review!
Hikaru Q.A:
Air mermaid, Taufan, Yaya, dan Ying itu Fairy, cuman jenisnya berbeda-beda. Tunggu penjelasannya di Chapter mendatang ya! Thanks For Review!
Alright, Terima kasih yang udah baca Fanfic gak jelas ini! Please Review, favs, and Follow my story ya!
Preview Chapter mendatang:
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Astaga! What Happend to My House?!"
"Oke, ayo kita ke Mall buat beli baju!"
"Wow... Kamu cantik, Yaya! Sama seperti peri!"
"Ingat tujuan kita kesini, jangan sampai kalian jatuh cinta dengan mereka!"
See you in the Next Chapter! ^^
Salam,
Delia Angela ^_^!
