'Gawat!'
Taufan mendadak panik menyadari Halilintar hendak masuk ke dapur.
"Oh tidak! Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia tahu penyamaranku? Oh! Tamat sudah riwayatku..."
Taufan merasa ide dikepalanya sudah terbakar habis. Apa ini saatnya dia harus membongkar semuanya?
Tetapi tunggu...
Jika ia membongkar semuanya, bisa-bisa seluruh rahasia 'Fairy Tale' akan terbongkar. Seluruh warga di Dunia Fairy Tale World akan terancam keberadaannya. Dan itu tidak boleh terjadi.
Bagaimana pun juga, Ia adalah Putri. Putri Kerajaan Fairy Tale World. Meski ia tak suka dengan jabatannya, tetapi tetaplah itu tugasnya. Ia tidak bisa menyelewengkan tugasnya.
Rasa bersalah yang mendalam akan terasa dihatinya jika seluruh manusia tahu jika 'fairy' itu nyata.
Taufan bangkit dari rasa pasrah. Ia harus berbuat sesuatu.
"Taufan?" Halilintar memasuki dapur rumahnya, tempat dimana ia mendengar suara-suara aneh.
Dahi Halilintar berkerut menyadari tidak ada siapapun didapur. Kebingungan menerpa hatinya.
'Rasanya tadi aku mendengar suara, tetapi tidak ada siapapun disini,' Batin Halilintar menerka.
Tubuh Taufan berkeringat dingin. Bersembunyi dibelakang Halilintar membuatnya merasa gugup dan canggung. Ia mati-matian berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Dengan perlahan namun pasti, Taufan melangkahkan kakinya menuju ke pintu dapur. Ia pun berlari keluar dari dapur dan segera mengganti wujudnya.
Halilintar merasa ada kejanggalan disini. Ia merasa ada yang disembunyikan darinya, namun ia tak bisa menuntut lebih dengan hal yang tak terjadi.
Ia pun melangkah keluar dari Dapur.
Taufan, yang sudah berubah wujud, menyambut Halilintar dengan wajah yang sangat gugup.
"Owh... emm, Hai Hali! Kau baru pulang? Hehe..."
Halilintar menatap tajam gadis berambut biru ombre dihadapannya. Ia benar-benar curiga dengan sikap Taufan yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Apa yang kau lakukan disini?"
DEG...
Pertanyaan nan dingin dari Halilintar benar-benar membuat Taufan tak dapat berkata-kata.
"Sshhh..." Taufan meringis. Ia tak dapat berkutik lagi didepan Halilintar.
Keheningan melanda mereka. Taufan menghela nafas kecil, ia mengigit bibir bawahnya. Berharap jika Halilintar tak bertanya lebih jauh.
.
.
.
"Cepat bersiap. Kita akan pergi."
"?!"
Delia Angela and Rini Taviana present to You...
'The story about the adventure Taufan and his Friends in the Human's world. Can she hide her identity from him?'
Fairy Tale Love
Disclamer: BoBoiBoy © Animonsta Studio
• Fairy Tale Love © Delia and Riana
Genre: Fantasy & Romance (+ Friendship)
Rating: T (+13)
OC: Ratu Shiva, Jung Eunji, dll.
Pair: HaliTau, FaYi, GemYa, ApiAir, dll.
WARNING! OOC (Out Of Character)! OC (Other Cast)! Typo(s) everywhere! Fast Alur! Fantasy Love! Friendship Day! MultiPair! Female!Taufan! Female!Air!
Catatan: Cerita ini murni IMAJINASI sang Author! Adanya kesamaan jalan cerita, nama, lokasi, dan waktu merupakan ketidak sengajaan!
Chapter 6: "Surprise For You (Part 2)"
Api berjalan ceria. Hatinya yang sedang senang membuat dirinya ikut bahagia. Tidak juga sih, setiap hari dia selalu saja merasa bahagia. Sekalipun hatinya sedang merasa sedih.
Mengingat hal itu, ia menjadi terbayang akan Air. Eh? Tunggu... Air?
"Lho? Kenapa aku tiba-tiba kepikiran soal dia ya?" Gumam Api, bertanya terhadap dirinya sendiri.
Ia juga tak mengerti mengapa. Mengapa ia merasa agak aneh didekat Air? Padahal baru saja dirinya mengenal Gadis manis (?) itu.
Api mendesah kecil, pemikirannya mulai terdengar ngawur.
"Tapi... kalau dilihat baik-baik, senyumannya benar-benar membuat hati adem, gitu. Gak kayak Halilintar, sekali senyum ajal menanti."
Perut Api terasa geli menyadari ia telah mengejek temannya sendiri. Toh, yang penting orangnya gak dengar'kan?
Setelah lama berpikir dalam otaknya sendiri, Api pun sampai di rumah kesayangannya. Dengan antusias, ia langsung masuk kedalam.
"Hai Air! Aku pul..."
Indera penglihatan Api menangkap kondisi rumah yang sangat berbeda dari apa yang ia harapkan.
Seluruh perabotan rumah tertata rapi. Lantai rumahnya juga sangat bersih dan licin. Debu-debu yang biasanya bertebangan disembarang tempat, kini lenyap entah kemana.
Rahang Api serasa jatuh ketanah. Ia sama sekali tak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi.
"Astaga! What Happend to my house?! Siapa yang membuat rumahku jadi bersih seperti ini?!" Teriak Api histeris.
Logika Api berputar. Tidak ada lagi orang yang berada dirumahnya saat dia pergi. Kecuali...
Suasana hati Api yang ceria mendadak suram bercampur marah. Matanya berkilat kesal. Ia bangkit dan mencari gadis yang ia yakini penyebab rumahnya jadi begini
"AIR!"
Api memasuki ruang tamu rumahnya. Dugaannya tetap, Air ada disana. Berbaring di sofa rumahnya. Dengan penuh geram, Api melangkah mendekati Air.
"Kau benar-benar keterlaluan! 'Kan aku udah bilang, jangan diberesin! Telinga kau bermasalah ya?! Kau benar-benar..."
Api tertegun ketika melihat Air ternyata tertidur. Omelannya berhenti. Entah kenapa Api merasa tak bisa melanjutkan kata-katanya ketika melihat wajah Air yang begitu damai dan tenang.
Api dapat melihat jelas, ada kelelahan disana. Pandangan Api langsung melunak, ia menatap Air lembut.
"Padahal sudah kularang, tapi kenapa dia begitu keras kepala?" Heran Api. Tetapi ia tak marah sekarang, meski agak kesal sedikit.
Senyuman terukir dibibir Api. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Tanpa ia sadari, tangannya tergerak mengelus rambut halus Air yang panjang itu.
Api berpikir sesaat, kelihatannya tubuh Air akan pegal-pegal jika ia tidur disofa.
"Hmm... Lebih baik aku pindahkan dia kekamarku saja, deh."
Dengan perlahan, Api pun menggendong tubuh Air dengan gaya bridal. Melihat wajah Air yang begitu dekat membuat hati Api menjadi agak gugup.
Dia terdiam dalam posisi tersebut. Entah apa yang membuat Api tak ingin melepas pandangannya dari Air.
Jantungnya berdegup kencang. Apakah ini yang mereka sebut cinta?
Api tersadar dari lamunannya. Ia menepis perkataannya barusan. Tak mungkin rasanya ia jatuh cinta kepada Air, gadis yang baru saja ia kenali.
Ia pun mengantar Air menuju kamarnya. Direbahkannya tubuh mungil itu dengan penuh hati-hati, berusaha membuat Air tak terbangun dari mimpinya.
"Hah..." Api menghapus keringat yang mengucur dari keningnya. Ternyata memindahkan seseorang dari lantai bawah ke lantai atas bukanlah pekerjaan sepele.
Ia menarik selimut dan menutup setengah tubuh Air agar ia merasa jauh lebih nyaman. Setelah memastikan semuanya beres, Api pun keluar dari Kamarnya. Ia tak mau mengganggu Air.
Api melirik sedikit Air yang masih terlelap. Senyuman kembali mengembang diwajahnya. Ia pun menutup pintu kamarnya.
'Selamat Tidur, Air...'
...
"Aduh! Aduh! Sakit!" Jerit Fang kesakitan.
Rasa perih luar biasa dirasakannya saat Ying mengoleskan obat ke benjolan dikepala Fang akibat 'terjatuh' tadi.
Ying memutar bola matanya jengah. Sendaro tadi, telingannya terasa pekak mendengar teriakan Fang.
"Kau ini! Perih sedikit aja udah jerit-jerit gak karuan! Huh, payah!" Ejek Ying.
Fang menatap tajam Ying. Sindiran Ying benar-benar membuatnya merasa tersinggung.
"What? Hello! Siapa ya yang buat rumah becek? Siapa ya yang bikin benjolan ini? Lalala..."
Dicubitnya hidup Ying gemas. Ying meringis kesakitan, "Ih! Sakit! Fang!"
Fang tertawa melihat ekspresi wajah Ying yang cemberut seperti itu.
"Haha... Udah, gak usah cemberut gitu! Nanti cantiknya hilang loh!"
Ying mengnyerit mendengar ujaran Fang barusan. Ia gak salah dengar kan? Fang? Bilang dia cantik? Wow...
"Apa?" Tanya Ying memastikan.
Fang menatap wajah Ying dalam-dalam. Ia membunuh jarak antara wajahnya dengan wajah Ying .
Ying gelagapan melihat Fang yang sangat dekat. Baru kali ini, ia dekat dengan lelaki. Sedekat ini.
"Jangan Ge-er! It was a joke! Lol!"
Ying menganga tak percaya. Sekali lagi, Fang berhasil mengerjainya.
"Fang!"
"Aduh! Aduh! Sshh... Iya! Iya! Ampun!"
Cubitan maut mungkin sesuai untuk Fang.
At Gempa's House...
"Sungguhkah? Kau ingin mengajakku jalan-jalan?"
Gempa tersenyum lalu mengangguk. Ia merasa geli melihat ketidakpercayaan Yaya akan perkataannya tadi.
"Hihi... Iya, Yaya. Aku ingin kau mengganti dress mini kamu dengan pakaian yang jauh lebih simple. Merepotkan bukan jika kau mengenakan Dress setiap hari?"
Yaya terdiam. Sebenarnya, menjadi seorang fairy pasti sudah terbiasa dengan dress mini seperti ini. Tetapi, daripada Gempa curiga, ia mengangguk kecil.
"Lagipula, tidak mungkin bukan jika kau memakai pakaian yang sama setiap harinya?"
Yaya tertawa renyah, "yah... Kurasa kau benar. Baiklah, aku ikut saja deh."
Spontan, tangan Gempa menggandeng erat tangan Yaya dan menariknya.
"Oke, ayo kita ke Mall buat beli baju!"
Tanpa Yaya sadari, ia membalas gandengan erat Gempa. Membiarkannya membawa pergi dirinya kemanapun.
Entah mengapa Yaya merasa nyaman dengan genggaman Gempa yang sangat hangat. Ia serasa tak rela melepaskannya.
Apa mungkin ini...
Yaya menepis pikirannya barusan. Apa yang ia katakan? Tak mungkin ia jatuh cinta ke Manusia. Ini sungguh cinta yang terlarang.
Tetapi bagaimana jika ini sungguh-sungguh cinta?
Oh... Ia akan merasa bersalah tentunya.
Dari belakang, Yaya menatap sendu tubuh Gempa yang cukup gagah. Saat itu juga dadanya berdebar kencang.
Ia menggigit bibir bawahnya. Ia merasa takut sekarang. Apa yang akan terjadi jika ia sungguh jatuh cinta padanya?
...
Taufan menatap pantulan dirinya dicermin dengan rasa berbunga-bunga. Senyuman nan lebar tercetak jelas dibibirnya.
Ia membetulkan jepitan cyclone di rambutnya yang terasa agak kendor. Ia tak menyangka pemuda seperti Halilintar itu mengajaknya pergi.
Sebenarnya ada rasa ragu dihati kecilnya. Melihat sifat Halilintar, rasanya tak mungkin ia mau mengajak perempuan seperti dirinya pergi. Kecuali terpaksa. Atau malah, Halilintar ingin mengusirnya?
"Gawat! Kalau sampai dia memang mengusirku gimana? Huh... Tamat sudah."
"Oi! Mau berapa jam lagi kau berdandan?"
Taufan agak tersentak. Teguran (baca: sindiran) dari Halilintar membuyarkan pikiran negatifnya.
Ia sadar ia sudah 1 jam didalam kanar Halilintar hanya untuk bersiap-siap. Taufan mendadak panik, ia pun segera keluar dari kamar Halilintar.
"Ah... maaf! Maaf! Aku terlalu asyik bercermin! Sorry!"
Mata Halilintar terpaku melihat gadis yang ada dihadapannya saat ini. Gadis yang menurutnya menyebalkan ini, ternyata bisa juga tampil feminim. Ia terlihat jauh lebih... manis sekarang.
"Ke-Kenapa? Aku jelek, ya? Maaf... Aku sama sekali tak pandai berdandan!" Seru Taufan malu. Pipinya memerah.
Halilintar menyungging senyuman tipis.
CUP...
"Kau cantik. Ayo, kita sudah terlambat."
Tubuh Taufan mematung. Dengan penuh rasa campur aduk, ditatapnya Halilintar yang terlihat sangat santai, seolah tak menyadari apa yang telah ia lakukan.
Tangannya meraba bibir yang telah dicumbu oleh Halilintar.
'First Kiss-ku... sama Halilintar?'
"Kau benar-benar ingin aku tinggal ya?"
Taufan langsung sadar dan menyusul Halilintar yang sudah siap dimotornya.
Mata Taufan terbelalak melihat motor yang ia lihat saat pertama kali sampai didunia manusia, "Monster!"
Taufan langsung bersembunyi dibelakang Halilintar dengan rasa ketakutan. Halilintar menatap aneh Taufan.
"Kau ini bicara apa sih?! Jelas-jelas ini motor!"
'Motor? Oh... jadi nama monster ini Motor,'
Taufan berdehem kecil dan melepaskan 'pelukan' tidak langsungnya pada Halilintar.
"A-Aku tahu kok! Tadi itu aku cuman bercanda!" Seru Taufan tak mau mengaku.
Halilintar menghela nafas melihat sifat aneh gadis disebelahnya ini.
Ia pun langsung menaiki motornya dan mengenakan helm. Dinyalakannya motor ninja berwarna merah-hitam itu.
.
.
.
Halilintar sadar jika Taufan masih diam ditempat. Hatinya mengumpat kesal, sebenarnya ada apa dengan gadis ini?
"Naiklah!" Seru Halilintar kesal.
Taufan yang tidak tahu apa-apa merasa agak tersinggung mendengar seruan Halilintar.
"Yaudah sih, jangan marah-marah mulu napa! Tua aja baru tahu!" Balas Taufan yang tak kalah kesalnya.
Dengan penuh amarah, Taufan langsung menaiki motor Halilintar. Karena belum siap, motor Halilintar menjadi meleng dan nyaris jatuh.
"Eh! Eh!" Halilintar buru-buru menyeimbangkan kembali motornya.
Melihat hal ini, emosi Halilintar menjadi tak terkendali. Matanya menatap tajam Taufan yang berada dibelakangnya.
"Kau ini selalu saja membuat masalah! Tak bisakah kau tak membuatku repot? Menyebalkan..."
Taufan tertegun mendengarnya. Merepotkan?
Halilintar tiba-tiba merasakan motornya agak ringan. Matanya menangkap sosok Taufan yang sudah berada disamping tubuhnya.
"Kenapa kau-"
"Maaf kalau aku MEMANG MEREPOTKAN. Permisi."
Taufan berbalik meninggalkan Halilintar yang terdiam. Mendengar umpatan kesal Halilintar membuat Taufan sadar, tak seharusnya ia merepotkan Halilintar.
Mata Taufan terasa panas. Bendungan air mata dimanik shappirenya ia tahan. Ia tak mau menangis lagi.
GREP...
"GYAA!" PekikTaufan ketika merasakan tubuhnya begitu ringan. Ada tangan yang mengangkat tubuhnya keatas.
Wajahnya pun berpapasan dengan wajah Halilintar.
Kini terjawab sudah. Dengan gaya Halilintar menggendong tubuh Taufan dengan mudahnya.
Halilintar terkekeh kecil, "ringan banget. Kayak kertas."
Taufan yang awalnya berbunga-bunga, langsung cemberut mendengar ejekan Halilintar.
"Ish! Turunin! Kau bilang aku merepotkan bukan? Sudah turunin aja!" Seru Taufan. Dia sejujurnya kesal dengan perkataan Halilintar tadi. Meski ia sadar, ada perasaan tak enak hati padanya, tetapi bukankah dirinya tak memaksa Halilintar untuk menerima kedatangannya? Lantas, kenapa harus merasa bersalah.
Manik ruby Halilintar berputar, ia menyesal berkata seperti itu tadi. Bukan menyesal karena telah melukai perasaan Taufan, tetapi menyesal karena telah membuat mulut beo Taufan bangkit.
"Kau ini sensitif sekali, ya? Gak usah cemberut gitu! Jelek tahu."
Mata Taufan membulat mendengar ejekan baru Halilintar, hatinya yang sudah panas menjadi semakin panas hingga berapi-api.
"Kau ini! Sudah cepat turunkan aku!"
Halilintar menghela nafas. Dilepaskannya pegangan terhadap Taufan, membuat...
BRUK!
"Aww!"
-dia terjatuh mencium tanah.
Halilintar bertingkah seolah tak peduli kepada Taufan yang meringis kesakitan. Toh, dia yang meminta untuk dilepas bukan?
"Kau benar-benar menyebalkan ya?!"
"Lho? Salah ya? Bukannya kau minta dilepaskan?"
Taufan menggeram, "iya! Tapi bukan begitu caranya! Argh! Kau-"
CUP...
Segala perkataan Taufan langsung terhenti. Bibirnya sudah dikunci (lagi) oleh bibir Halilintar.
Halilintar menyesap, menelusupkan lidahnya menuju rongga mulut Taufan dengan cara paksa.
Menyadari hal itu, Taufan menutup erat ruang masuk Halilintar. Ia benar-benar tak mau Halilintar berbuat lebih.
Tahu jika Taufan tak mau membalas ciumannya, Halilintar pun melepaskan bibir Taufan.
"..." Taufan menganga. Ditatapnya Halilintar shok.
Halilintar tersenyum penuh arti, "apa? Kau berisik, jadi aku terpaksa melakukannya. Sayang kau tak mau membalasnya. Bibirmu itu manis lho."
Jemari Taufan mengelus bibirnya yang masih terdapat saliva milik Halilintar. Sehabis mengejek, kini ia memuji?
"Ka-Kau ini bicara apa sih?" Kini ia merasa agak enggan menatap Halilintar karena malu.
"Sudahlah. Ayo kita pergi, nanti keburu tutup. Ayo!"
Tangan Taufan ditarik menuju motor Halilintar yang sudah nganggur didepan pintu rumahnya.
Ia merasa ada getaran hati saat dirinya diperlakukan seperti ini terus menerus oleh Halilintar. Namun...
Bukankah ini... Cinta terlarang?
To Be Continue...
Astaga, dosa apa aku Tuhan O_O? Seharusnya Chapter ini menjadi Chapter dimana para Fairy dan Manusia di Mall! Tapi kenapa malah jadi adegan romance + kiss begini?!
Yap... Lagi-lagi, terpaksa aku mengundurkan adegan pembelian baju. Otak Fujoshi aku gak bisa ketahan lagi untuk gak membuat adegan kiss HaliTau.
Sesuai dengan permintaan salah satu guest reader juga, aku akhirnya menjadi semangat dengan segala ide yang mencret (?) dari otakku ini untuk membuat adegan kiss.
Maaf kalau kurang hot adegan kissnya, yang hot-hot disimpan untuk kedepannya aja ya? Soalnya kalau kepake sekarang, nanti ide buat kedepannya gak ada. *nyengir*
Kalau ada yang nanya, kok adegan GemYa-nya dikit ya? Emmm... Entahlah, mungkin karena aku kurang terlalu suka GemYa. Tetapi akan aku usahain buat menjadikan pair ini lebih menarik lagi. Meski agak ragu...
Balasan Review:
Captain Kaizo:
Makasih ya! Semoga ini memuaskan... *amin*
Nadya:
*diam* *melongo* Ok, abaikan. ASTAGA! Ternyata ada yang nge-fans sama Good Detective *nangisbahagia* Sabar ya, doain minggu depan lanjut...
Vanilla Blue 12:
Asyik, yang jawabannya bener... Wkwk... Makasih udah review ya...
Macaron22:
Jawaban yang paling tepat dengan alasan yang paling tepat! Selamat ya... Semoga bisa Update kilat #gakjamin ToT
crytal pinkie s:
Ciee... Yang alasannya paling tepat juga! #asiikk Semoga bisa Next kilat... #gakjamin ToT
Guest:
Ya... Ini udah next ^^
Siti Wulandari:
Makasih udah penasaran... *hormat* Ini udah lanjut kok...
Furena Misty:
Yah, sabar ya Nak. Ciee yang jawabannya tepat! Hehe... Yap, pasti update (klo ide gak mentok).
Guest:
Makasih sarannya. Semoga puas ya!
Aisyah Zoldyck807:
Kamu kurang beruntung, coba di chapter berikutnya ya! Good Luck!
Syak30Dec:
Terima kasih... *cengo* Fansnya nambah satu! Horey! *nangisbahagialagi*
Guest:
Yap. Ini udah next. Thank for review...
Jawaban Quiz: Gak ketahuan.
Alasan tertepat: Maracon22 & crytal pinkie s
Selamat buat kalian yang benar ya!
Quiz: Kira-kira pair mana yang akan difokuskan di chapter depan?
A. Fang and Ying
B. Api and Air
Buat GemYa, kira-kira bakalan ada di Chapter 7. Ditunggu aja ya...
Alright! Terima kasih udah baca fanfic aneh bin gaje ini! Please review, favs, and follow! Karena itu memberikan aku semangat untuk tetap menulis!
Preview Chapter mendatang:
"GYAA!"
"Aw! Aw! Kau ini kenapa sih?!"
"Pergi sana! Dasar mesum!"
"Wow..., kamu cantik, Yaya! Sama seperti Peri!"
"Kau tahu... Aku lebih suka kau feminim daripada tomboi dan menyebalkan."
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku ya?"
"Ingat tujuan kita kesini, jangan sampai kalian jatuh cinta dengan mereka!"
Unleash your imagination and Keep Writing!
Delia Angela
Copyright 2016
