Tittle : "Mystery of The Twins"

Author: Little Evil
Genre : Mystery, Romance
Main Cast (s) :

Cho Kyuhyun (SJ)

Kim Kibum as Cho Kibum (SJ)

Park Hyura (OC)

Other Cast (s) :

Choi Donghyun (OC)

Lee Sikyung (OC)

Kim Jisung (OC)

SJ Member

Length: Series

Rated : T

Facebook : Iffah Pevensie

Twitter : iffah_MUFC19

Blog : iffahgames . wordpess . com

Disclaimer :

Some scene (s) are inspired by series but the plot (s) are absolutely mine.

Summary :

Kisah dua saudara kembar yang tak pernah bisa bersatu, namun secara tak sadar akan sangat kompak saat berhadapan dengan suatu kasus. Lalu bagaimana jika keduanya melabuhkan hati pada gadis yang sama?

- = LittleEvil19 = -

Chapter 3

Ada saatnya dalam hidup, kita dipaksa untuk membuat keputusan kunci dalam sepersekian detik. Take a chance and risk it all, or play it save and suffer the defeat.

-Anonymous-

Hyura mulai melangkahkan kakinya di sepanjang koridor lurus di lantai dasar bangunan kosong yang tak akan bertahan lama tersebut. Berjalan pelan, mata bulatnya meneliti tiap sudut penjuru yang dilaluinya.

Pandangan Hyura menangkap sebuah pintu kayu yang terkunci dari luar. Pintu itu tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sebatas dada orang dewasa. Pintu itu terletak di sudut koridor yang gelap. Merasa penasaran, Hyura pun mendekatinya meski perasaan gelisah mulai menyelimutinya.

Dengan perasaan was-was, tangan Hyura dengan cekatan memutar lubang kunci pintu di depannya, setelah sebelumnya memasukkan handycam yang sedari tadi setia berada di genggamannya ke dalam ransel putihnya. Meski tangannya sedikit gemetar, ia berhasil membuka pintu itu.

Cklek.

Tangga memutar terhampar di depannya. 'Apa ini semacam pintu rahasia? Tapi mengapa dibiarkan terkunci dari luar? Ah aku lupa. Bangunan ini memang akan dihancurkan'. Hyura berkutat dengan pikirannya sendiri.

"Ini ruang bawah tanah." Hyura bergumam pelan sembari menganggukkan kepalanya. "Apa aku harus masuk kesana?"

Ruangan temaram siap menyambutnya. Eottokhae? Haruskah dirinya masuk ke kegelapan di hadapannya? Bagaimana jika hal yang di luar ekspektasi terjadi di dalam sana? Namun jika dirinya tak memberanikan diri, bagaimana ia bisa mengetahui apa yang terjadi? Dan ingat, nyawa Donghyun tengah di pertaruhkan saat ini.

Hyura memejamkan matanya sejenak. Menetralkan hatinya yang bergejolak. Dan setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Hyura memutuskan untuk melihat lebih jauh ruangan temaram di hadapannya.

Tap. Tap. Tap.

Sneakers hitamnya yang berbenturan dengan lantai lembab di bawahnya menciptakan irama saat kakinya melangkah menuruni tangga. Pegangan kedua tangannya pada tali ransel putihnya semakin erat. Meski masih di dominasi perasaan was-was, Hyura terus melangkahkan kakinya meniti tiap anak tangga yang mengantarkannya pada ruangan bawah tanah di bawah sana.

Tap.

Anak tangga terkahir telah ia lewati. Hyura memutar pandangannya ke penjuru ruangan. Namun hanya samar yang terpampang. Akhirnya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam ruangan.

Tap. Tap. Tap.

Hanya irama derap langkahnya-lah yang menemani Hyura dalam keheningan yang tercipta. Aura tidak menyenangkan mulai menyergap, Hyura bertaruh bulu kuduknya telah bangkit dari tidurnya. Demi apapun, Hyura mengutuk siapapun yang mendesain ruangan ini. Hei, meski ia tengah menginjak usia yang menuju kedewasaan, tapi ia sangat anti dengan hal-hal yang berbau mistis, horror, atau apapun itu.

Hyura mengusap tengkuknya saat dirasa udara di sekitarnya semakin terasa dingin. What the hell is going on? Deg. Ia merasa ia terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya terlihat menegang. Pupil matanya melebar dan tubuhnya bergetar. Kedua tangannya mencengkeram erat tali ransel yang melekat di kedua bahunya.

Diantara cahaya temaram, mata Hyura menangkap sosok tubuh yang tergeletak tak berdaya di lantai yang lembab dan kotor. Bercak-becak darah yang belum mengering terlihat membasahi permukaan lantai di sekitarnya.

"KYAAAAAA!"

- = LittleEvil19 = -

Suara teriakan yang terdengar nyaring menghentikan kegiatan Kyuhyun yang tengah menyisir tiap sudut ruangan yang dilaluinya. Ia tersentak mendengar teriakan dari seseorang yang sangat dikenalinya. Berusaha untuk tetap berpikir jernih, Kyuhyun membawa tubuhnya berbalik dan berlari secepat yang ia mampu menuju lantai dasar. Satu hal yang dapat ia pastikan bahwa Hyura-lah pemilik suara itu. Berbagai probabilitas buruk pun mulai berkecamuk di kepalanya. 'Calm down, Kyu~ She'll be alright~ she'll be alright..' Kyuhyun berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

TAP.

Langkahnya terhenti di ujung tangga saat menemukan Kibum terlihat terengah di depannya. Rupanya Kibum mendengar teriakan yang sama, pasalnya ia baru saja menginjakkan kakinya di ujung tangga saat tiba-tiba suara teriakan Hyura menggema di seluruh penjuru bangunan. Keduanya saling melemparkan tatapan dalam sebelum kemudian bergegas mencari tahu apa yang sebenarnya tangah terjadi –pada gadisnya.

- = LittleEvil19 = -

Buliran kristal bening tampak berguguran pada pelipis dan wajah Hyura. Kedua kakinya terlihat bergetar. Bagaimana tidak? Panorama di hadapannya kini sungguh membuat perutnya terasa mual. Darah. Darah. Darah dimana-mana! Memenuhi penglihatannya. Hyura lebih memilih untuk berkutat dengan ratusan soal fisika yang dianggap menyebalkan oleh teman-temannya daripada menghadapi cairan kental berwarna merah pekat yang berbau anyir itu. Darah!

Drap. Drap. Drap~

Derap langkah tergesa terdengar menuruni anak tangga di belakangnya. Kyuhyun dan Kibum terlihat berlari cepat menuruni anak tangga. Raut kekhawatiran tak bisa di sembunyikan di wajah tampan mereka.

"Hyura –ya, gwenchanayo?" terdengar suara husky Kyuhyun yang kini tepat berada disampingnya. Kalau boleh jujur, suara itu sedikit memberi perasaan nyaman pada dirinya. Hyura memejamkan matanya dan menghirup nafasnya dalam sebelum menunjukkan panorama di depannya dengan tangan gemetar.

"I~ Itu..." lidahnya masih terasa kelu untuk sekedar mengungkapkan frase yang terus berputar dalam pikirannya. Tubuh dan pikirannya tak bisa berjalan bersama saat ini. Pemandangan mengerikan di depannya itu membuat pikirannya blank seketika. Kosong.

Kyuhyun mengalihkan atensinya pada arah yang Hyura tunjuk. Iris hazelnya menyipit, berusaha menajamkan pandangan dengan bantuan cahaya temaram. Meski tidak terlalu jelas, mata Kyuhyun mampu menangkap seonggok tubuh pria dewasa. Tubuh itu tergeletak dalam posisi tengkurap. Dilihat dari kondisinya saat ini, bisa dipastikan sosok tersebut telah mengalami penyiksaan yang amat sadis.

Kemeja putihnya sudah tak bisa lagi dikatakan sebagai kemeja –yang tersisa hanyalah kain putih yang robek di hampir seluruh bagian dengan merahnya darah yang terlihat masih segar membasahinya. Kedua tangan dan kakinya yang berlubang dengan darah yang mengalir, diikat sedemikian rupa sehingga kedua siku dan lututnya menyatu. Dan hal yang paling 'menakjubkan' ialah wajahnya. Wajah yang tertutup darah yang mengalir akibat banyaknya sayatan di kulitnya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah-

"Dia masih hidup!" suara Kibum mampu memecahkan keheningan yang terjadi.

Kyuhyun dan Hyura mengalihkan pandangannya pada Kibum yang tengah mengangkat tubuh seorang anak lelaki dengan kedua lengannya. Bocah itu sepertinya hanya pingsan. Dadanya naik turun dengan pelan dan teratur, menandakan bocah itu masih menikmati oksigen di sekitarnya.

"Donghyun –ah.." diam-diam Kyuhyun mendesah lega. Thanks goodness. Setidaknya sosok bocah lelaki yang sedari tadi menjadi tujuannya telah berada dalam jangkauannya. Menepis segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada Donghyun yang disayanginya layaknya dongsaeng kandungnya sendiri. Sudah lama Kyuhyun menginginkan sosok seorang adik dan kehadiran Donghyun dalam kehidupannya mengisi ruang kosong di hatinya. Ia tersenyum tipis.

Guncangan pelan pada bahu kirinya membuat Kyuhyun menoleh.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Hyura menginterupsi dengan pertanyaan yang merupakan bentuk dari rasa cemas yang kini tengah menyelimutinya.

Setelah menyerahkan tubuh Donghyun dalam dekapan saudara kembarnya, Kibum mulai mengamati kondisi tubuh pria dewasa – yang kemungkinan sudah menjadi tubuh tanpa nyawa –mayat di hadapannya. Iris matanya yang kelam mulai menajam.

"Waktu kematiannya sekitar dua jam yang lalu." Kibum berujar setelah selesai memeriksa tubuh tak bernyawa di hadapannya.

Kyuhyun menganggukkan kepalanya ringan menanggapi penuturan kakak kembarnya itu. Di gendongnya tubuh mungil Donghyun pada punggungnya guna mempermudah aksinya untuk keluar dari bangunan itu.

"Pembunuhnya telah mengatur semuanya agar pembunuhan ini terlihat seperti kecelakaan akibat penghancuran gedung ini." Kyuhyun memulai analisisnya.

"Lantai pertama adalah yang paling lemah. Jika bangunan ini runtuh, kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada ruang bawah tanah ini..." lanjut Kyuhyun seraya membenarkan posisi Donghyun pada gendongannya.

"Tapi, apa tujuan pembunuh itu menculik Donghyun bahkan mengincar nyawanya?" Hyura mengguratkan frase dengan nada gemetar. Iris matanya masih belum teralih dari panorama mengerikan yang tertangkap oleh indera penglihatannya. Ia yakin, perutnya tak bisa mentolerir rasa mualnya lebih lama lagi for God's sake!

"Aku yakin Donghyun melihat sesuatu di gedung ini. Dan karena kejadian ini terjadi saat pelaku hendak meninggalkan tempat ini, aku rasa Donghyun tak melihat pelaku saat membunuh korban." Kali ini Kibum menjawab pertanyaan Hyura. Sementara Hyura masih membungkam mulutnya. Ia tengah mencerna informasi yang di dapatnya secara perlahan. Hey, ia bukan Kyuhyun maupun Kibum. Si kembar Cho yang memiliki insting tajam mengenai hal semacam ini. Meski tingkat intelegensinya tak bisa diragukan.

"Tapi pelaku tidak berpikir seperti itu.." Hyura mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang menimpali pernyataan Kibum.

"Ia berpikir bahwa Donghyun menyaksikan dirinya yang tengah membunuh korban. Karena itu dia mengikuti Donghyun ke daerah tempat perbelanjaan Gwangshin dan mencoba membunuhnya tapi ia dua kali gagal melancarkan aksinya." Lanjutnya.

"Untuk itu pelaku menculik Donghyun dan berniat membunuhnya bersama dengan pria ini. Tentu dengan dalih kecelakaan akibat penghancuran bangunan ini." Tukas Kibum mengakhiri hipotesanya dengan Kyuhyun. Hyura menganggukkan kepalanya serius. Ah, ia mulai paham sekarang.

"Hyura –ya, apa kau membawa senter?"

Hyura memeriksa barang bawaan dalam ranselnya dan bingo! Ia menemukan ponselnya. Dengan segera ia menyalakan flashlight dan beranjak melangkahkan kakinya menuju tangga memutar, berniat keluar dari bangunan itu sebelum perobohan gedung itu dimulai. Tak ada hal lain yang ada dalam pikiran mereka saat ini selain keluar dari gedung itu secepatnya. Benar. Kini mereka tengah berperang melawan waktu yang terus berputar. They must go on!

Ketiga remaja itu melangkahkan kakinya dengan ritme cepat saat tiba-tiba~

BRUGHH! Brukk Bukkk..

Gemuruh reruntuhan langit-langit gedung mulai terdengar. Lantai tempat kaki mereka berpijak terasa bergetar. Tangga yang menjadi satu-satunya jalan keluar dari ruang bawah tanah itu mulai retak dan ambruk. Ini gawat.

Ketiga remaja itu segera menghentikan langkahnya. Tubuh mereka mundur beberapa langkah guna menghindari reruntuhan yang mulai berjatuhan. Mereka berlari menghindari retakan yang membentuk alur pada lantai tempat kaki mereka berpijak dan membelah lantai di atasnya. Memisahkan lantai menjadi beberapa bagian. Mau tak mau mereka harus gesit menghindar.

"Kearah sini. Cepat!" Kibum memberi instruksi pada Kyuhyun dan Hyura untuk segera mengikutinya.

Kyuhyun dan Hyura bergegas membalikkan tubuh mereka dan melangkahkan kakinya cepat menyusul Kibum di depannya. Saat bergerak menuju Kibum dengan Donghyun masih berada di balik punggungnya, mata tajam Kyuhyun menangkap sesuatu. Sesuatu yang membuatnya menemukan titik terang pada kasus yang tengah dihadapinya. Ia melirik Kibum dan sepertinya kakak kembarnya itu sudah terlebih dahulu menemukannya. Terbukti dari smirk tipis yang kini terukir di wajah tampan keduanya.

- = LittleEvil19 = -

Sementara itu, suasana di luar gedung berlantai tiga tersebut terlihat tak jauh berbeda dengan kondisi yang terjadi di dalamnya. Beberapa wrecking ball diarahkan dari berbagai sisi, menghantam dinding-dinding kokoh bangunan di depannya. Debuman keras tak mampu terelakkan lagi saat ini. Petugas-petugas penghancuran gedung terlihat fokus pada pekerjaanya masing-masing. Beberapa warga kota bahkan ikut ambil bagian, sekedar menyaksikan momen runtuhnya gedung. Such an entertainment, huh?

Namun di antara banyaknya kerumunan manusia disana, sepasang mata menatap tajam bangunan yang mulai runtuh di hadapannya seiring senyuman puas yang terkembang di bibirnya. Seringaian tipis tersembunyi di baliknya dan menggumamkan frase dengan berbisik pelan, memastikan hanya dirinya sendirilah yang mampu menangkapnya.

'Game over.'

- = LittleEvil19 = -

Di antara puing-puing gedung yang mulai runtuh berjatuhan, ketiga remaja berusia delapan belas tahun itu terus melangkahkan kakinya cepat –berlari menghindari reruntuhan yang seakan terus mengejarnya. Kaki-kaki yang mulai lelah mereka paksakan untuk bisa menopang tubuh mereka lebih lama. Bagaimanapun, tak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain berlari. Come on, haruskah mereka duduk manis dan menunggu bala bantuan menghampiri? Bahkan di luar sana orang-orang melempar pandangan penuh minat pada bangunan yang tengah di hancurkan! Tak mengetahui ada nyawa-nyawa yang tengah terancam di dalamnya.

"Aargh!" pekikan Hyura sontak menghentikan langkah Kyuhyun dan Kibum yang berada tak jauh di depannya. Kyuhyun yang masih menggendong tubuh Donghyun di punggungnya, segera membawa tubuhnya berbalik dan berjalan menghampiri Hyura, mengulurkan satu tangannya berniat membantu yeoja itu untuk berdiri dari duduknya.

"Akkh!" Hyura kembali memekik kesakitan. Ia jatuh terduduk dan memegangi pergelangan kaki kanannya. Sial! Kenapa harus di saat seperti ini?! Hyura merutuk keadaannya saat ini. Aissh! Kakinya terkilir di saat yang sangat tidak tepat.

"Naik ke punggungku." Hyura mengerjapkan kedua matanya, menatap punggung tegap Kibum yang kini terpampang jelas di hadapannya.

"Cepat!" desak Kibum membuat Hyura reflek naik ke punggung Kibum dan mengalungkan kedua tangannya pada leher namja itu. Keduanya masih berusaha menetralkan degup jantung masing-masing. Okay. That's an awkward moment for both of them! Really.

Iris hazel Kyuhyun sedikit mendelik tak suka dengan panorama yang tersaji di hadapannya. 'Huh! Dasar namja jelek menyebalkan! Berani-beraninya dia mencari kesempatan dalam kesempitan'. Kyuhyun menggerutu panjang pendek. Gerutuan khas seorang Cho Kyuhyun kala kesal melandanya. Berbeda dengan Kibum yang hanya mengungkapkan gerutuannya dalam hati. See? Mereka memang tidak ditakdirkan untuk menjadi saudara kembar seutuhnya. Kalian paham maksudku?

Kyuhyun sadar. Hey! Ia masih cukup waras untuk menjatuhkan tubuh bocah mungil yang berada di balik punggungnya dan menggantikannya dengan Hyura. Come on, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal cheesy seperti itu. Nyawa mereka jelas-jelas tengah terancam saat ini!

Kibum yang menyadari tatapan 'sayang' dari adik kembarnya memilih tak ambil pusing. Setelah membenarkan posisi Hyura di punggungnya, ia mulai mengambil langkah panjang. Seragam sekolah kebanggaan SIHS yang semula melekat rapi pada tubuh mereka telah di penuhi noda disana-sini. Bahkan robek di beberapa bagian akibat gesekan dengan reruntuhan bangunan yang berguguran.

"Yak! Tunggu aku!"

- = LittleEvil19 = -

Peluh makin deras mengalir di pelipis Kyuhyun. Surai dark brown-nya sebagian telah basah oleh keringat. Deru nafasnya pun mulai tak beraturan.

"Hah..hhh..." Kyuhyun memejamkan mata dan berhenti sejenak, berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Sendi-sendi kakinya mulai melakukan protes. Ditambah beban di punggungnya. Meski berat tubuh Donghyun memang tak seberapa, namun jika kau membawanya berlari tetap saja menambah potensi kelelahan yang siap mendera.

Dirasa nafasnya cukup stabil, Kyuhyun mulai membuka matanya. Menampilkan hazel cokelat madu yang bersinar lembut. Pandangannya menangkap sosok Kibum dan Hyura yang tengah berlari cukup jauh di depannya. Sepertinya mereka berdua tak menyadari Kyuhyun yang tertinggal cukup jauh di belakangnya.

"Ayolah, Kyu~!" Kyuhyun berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri saat ini. "You can do it!" Diliriknya wajah Donghyun yang tengah memejamkan mata dan bersandar di bahu kanannya. Nyatanya hanya dengan menatap wajah Donghyun sejenak, berhasil membulatkan tekad Kyuhyun. Dirinya kini tengah mengemban tanggung jawab untuk menyelamatkan bocah manis yang sangat disayanginya itu. Setelah menarik nafas dalam, Kyuhyun pun bergegas mempercepat larinya.

BRUGGHH!

"Arrgh..!" tubuh Kyuhyun limbung saat runtuhan gedung menimpa bahu kirinya. Ia jatuh berlutut, meringis merasakan nyeri yang teramat nyata di bahunya. Namun ia mengabaikan rasa sakit itu dan berusaha bangkit segera. Gedung tempat ia berada saat ini tidak akan bertahan lebih lama. Kyuhyun masih sempat bersyukur bukan bahu kanannya lah yang tertimpa reruntuhan. Hei, disana ada kepala Donghyun yang terkulai. Apa jadinya jika reruntuhan itu justru mendarat di kepala Donghyun?

- = LittleEvil19 = -

"Lihat! Ada celah sempit disana. Itu cukup untuk tubuh kita melewatinya." Kibum bergumam pelan pada Hyura yang masih berada di punggungnya. Di depannya kini ada celah sempit memanjang ke atas. Yang bisa mereka lewati dengan memiringkan tubuhnya. Sepertinya celah tersebut tercipta akibat dinding yang merenggang akibat getaran dari wrecking ball yang tak henti menghantam dinding bangunan tiga lantai tersebut.

"Ne, kita harus bergegas, Kibum –ssi" Hyura menolehkan atensi pada ruang kosong di belakangnya. Nihil. Tak ada sosok Kyuhyun disana. Tak ayal perasaan gelisah mulai menggelayuti hatinya. Bukankah sedari tadi Kyuhyun dan Donghyun mengikuti mereka?

"Disini Kyuh~" ucapan Kibum terhenti begitu menyadari dongsaeng kembarnya tak terjangkau oleh penglihatannya. Iris kelam Kibum memancarkan kekhawatiran yang besar saat ini. Disaat jalan keluar ia berhasil temukan, justru adiknya kini tak terjangkau penglihatannya. Mungkinkah dirinya terlalu fokus terhadap jalan keluar yang menjadi tujuannya sehingga tak menyadari langkah kaki Kyuhyun tak lagi mengikutinya? Where the hell are you, Kyu?!

"Kyuhyun –ah!" Kibum segera menurunkan Hyura dari gendongannya. Ia berteriak keras berharap Kyuhyun mendengarnya. Bukan. Ia berharap Kyuhyun segera menampilkan dirinya di hadapannya sekarang. Suara teriakannya teredamkan oleh gemuruh reruntuhan gedung yang terus saja berjatuhan.

"Dengarkan aku. Keluarlah dari sini dan segera minta bantuan. Aku dan Kyuhyun akan menyusulmu." Sorotan tegas dari mata Kibum membuat Hyura tertegun. Tatapan itu~ merupakan tatapan yang tak menerima penolakan.

"Tapi Kibum~"

"Waktu kita tidak banyak, Hyura –ya!"

BRUGGH.. Brukk! Brukk!

Suara reruntuhan gedung kembali menggema. Kibum dan Hyura menggunakan tangan mereka untuk melindungi kepala dari hantaman puing-puing yang meluncur bebas. Debu-debu yang beterbangan dengan bebas semakin menipiskan jarak pandang. Serbuk-serbuk halus itu memasuki sistem pernafasan membuat mereka sulit menghirup oksigen di sekitarnya.

"Uhukk..uhukk! Hyura –ya! Gwenchana?" Kibum mendekat ke arah Hyura, memastikan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.

"Ne, uhukk. Aku baik-baik saja." Hati Hyura menghangat dengan sendirinya mendengar panggilan dari seorang Kibum. Hyura –ya.. panggilan yang dulu kerap keluar dari mulut manis Kibum. Bolehkah ia menyebutnya 'Kibum-nya'? Panggilan yang telah sekian lama menghilang dari indera pendengarannya. Dan Hyura sangat merindukan hal itu. Hal kecil memang, tapi nyatanya hal kecil seperti itu sangat berarti baginya.

"Hyura, dengarkan perkataanku kali ini saja. Keluarlah dan lekas cari bantuan. Aku akan membawa Kyuhyun kembali. Arasseo?" Kibum kembali mencoba meyakinkan gadis di hadapannya. Kedua tangannya memegang kedua bahu Hyura dengan erat.

"Tidak. Aku tidak bisa, Kibum –ssi!" Hyura menggelengkan kepalanya, tetap bertahan dengan sikapnya. Yang keras kepala. Jika ada ungkapan bahwa wanita lebih dominan menggunakan emosi daripada logikanya. Tampaknya ungkapan itu kini benar adanya. Kristal bening mulai menggenang di kedua pelupuk mata Hyura, siap meluncur kapan saja.

"Hyura aku moh~"

"Kibum hyung! Uhukk..hukk!" teriakan Kyuhyun menginterupsi perdebatan yang tengah terjadi di antara Kibum dan Hyura. Kibum segera menghapus debu yang membuat kacamatanya buram, menutupi pandangannya. Sosok Kyuhyun dengan Donghyun yang masih tak sadarkan diri di punggungnya mulai terlihat diantara kabut debu yang menyelimuti ruangan temaram itu.

Kibum yakin dirinya akan bersorak senang ketika indera pendengarannya menangkap kata-kata yang dianggap keramat oleh saudara kembarnya itu. Kibum hyung.. Kyuhyun memanggilnya 'hyung'? Oh, Kibum bertaruh orang tua mereka akan merayakan momen langka ini. Jika saja kondisi yang kini terjadi tidaklah seperti ini. Adik kembarnya itu tengah memanggilnya diantara puing-puing gedung yang terus saja berjatuhan. Demi apapun, tak ada yang lebih buruk dari ini.

Brugh! Brukk!

Langit-langit ruangan yang menaungi mereka mulai runtuh, membuat langkah Kyuhyun terhenti. Ia mengalihkan atensinya pada Kibum dan Hyura. Mereka masih terpisah oleh jarak yang cukup jauh saat ini.

"Kyu! Percepat langkahmu!" Kibum dan Hyura hanya bisa berteriak sekuat tenaga. Kondisi ruangan saat ini sangat tidak memungkinkan mereka untuk menghampiri Kyuhyun dan Donghyun. Tangan kiri Kibum terulur, siap menyambut kehadiran saudara kembarnya yang tengah berjuang melawan waktu.

Yang ada di pikiran Kyuhyun saat ini hanyalah terus mempercepat langkah kakinya, memfokuskan pandangannya pada uluran tangan Kibum. Tapi~ mengapa? Mengapa jarak antara dirinya dan Kibum terasa semakin jauh? Seolah, sosok Kibum begitu sulit untuk dijangkau dalam rengkuhannya. Jarak antara mereka semakin jauh dalam pandangan Kyuhyun.

Mengeratkan tubuh Donghyun dalam gendongannya, Kyuhyun menepis prasangkanya dan terus membawa kakinya berlari ke arah Kibum. Tak ia pedulikan rasa nyeri di bahunya yang semakin berdenyut. Kaki-kakinya yang ia paksakan juga mulai memberontak karena lelah. Tubuhnya dibasahi peluh yang mengalir deras.

Kibum bisa merasakan, lantai tempatnya berpijak saat ini tak mampu bertahan lebih lama lagi. Langit-langit dan pilar terus saja berjatuhan, memutar otaknya untuk mengambil tindakan dengan cepat. Dan tepat. Ia memejamkan mata sejenak, membulatkan tekad dalam hatinya. Dilihatnya wajah Hyura yang berpeluh dan matanya menyiratkan kecemasan yang teramat besar. Kemudian mengalihkan atensinya pada sosok Kyuhyun yang masih terus berlari menghindari runtuhan yang berjatuhan.

Semua terlihat slow motion. Saat pilar beton yang berdiri kokoh di ruangan itu mulai roboh, dengan kuat Kibum menarik tangan Hyura. Menggiringnya keluar dari gedung yang hampir rata dengan tanah itu.

Brukk.

Tubuh keduanya terhempas ke atas tanah akibat kuatnya tarikan dari tangan Kibum. Gerakan tiba-tiba dari Kibum membuat Hyura tak sempat melakukan penolakan yang berarti.

Dan tepat saat keduanya jatuh terduduk, debuman keras pilar beton yang menghantam lantai terdengar menggema. Mata Hyura membelalak lebar, menyadari pilar tersebut sukses menutupi satu-satunya celah akses keluar dari gedung tersebut. For God's sake! Kyuhyun dan Donghyun masih terjebak di dalam sana!

"KYUHYUUUUN!" pekikan Hyura terdengar memilukan. Bola matanya bergerak gelisah meneliti tiap celah yang memungkinkan indera penglihatannya menangkap sosok Kyuhyun di dalam gedung –yang sebentar lagi hanya menjadi puing-puing yang rata dengan tanah.

"KYUUU~!" kembali Hyura meneriakkan nama teman satu kelasnya itu. Diiringi dengan isak tangis yang kini tak bisa terbendung lagi. Sementara Kibum, ia menghela nafasnya dan senyuman tipis mulai tersungging di bibirnya.

To be continued~

What's on your mind? Just say it on the review box. Thanks you, everyone!

And for the readers, much love for ya! *big hug*

Balasan review chapter 2

Jihyuelf : Thanks for review. Hyura buat Kibum? Kyuhyun buat kamu? *smirk* Tunggu tanggal mainnya saja. kekekee

With love, Little Evil :]