I really sorry for the late update. New semester. New lectures. New assignments!

Happy reading..

Chapter 4

Iris mata Hyura menatap nanar reruntuhan bangunan yang terpampang di depan matanya. Sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sungguh. Ia tak mengerti. Kibum~ Kenapa Kibum melakukan ini? Di luar dugaannya, Kibum justru menarik dirinya untuk keluar dari gedung -yang tengah dihancurkan- itu di saat pilar beton di ruangan bawah tanah itu roboh, menutup akses celah sempit yang menjadi jalan keluar satu-satunya dari sana.

'Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan oleh anak ini?' Hyura menoleh ke arah Kibum yang masih terlihat mematung, persisten memperhatikan reruntuhan gedung yang di kelilingi oleh debu-debu yang beterbangan.

Mengapa harus dirinya yang di selamatkan oleh Kibum? Mengapa bukan Kyuhyun yang jelas-jelas adik kembarnya? Mengapa dan mengapa. Pikiran Hyura semakin berkecamuk bagaikan benang kusut. Dilihat dari segi manapun, tindakan Kibum sangatlah tidak bisa diterima oleh akal sehat menurutnya. Di dalam sana~ temannya yang tengah bersama dengan Donghyun –bocah manis yang masih tak sadarkan diri dalam gendongan Kyuhyun- mungkin tengah berpikir hal yang sama dengannya. Tidak percaya dan tidak menyangka dengan apa yang akan dilakukan oleh Kibum. Siapa yang akan menduga jika dalam situasi seperti itu, kakakmu justru memilih untuk menyelamatkan orang lain daripada dirimu? Don't be insane!

Masih jelas dalam ingatan Hyura, bagaimana raut wajah Kyuhyun yang tengah berusaha keras menggapai tangan Kibum. Mengabaikan rasa sakit dan lelah yang mendera. Bermandikan peluh, Kyuhyun yang masih menggendong tubuh mungil Donghyun di punggungnya itu berlari cepat sembari menghindari reruntuhan bangunan yang tak kunjung berhenti. Semua terasa sangat lambat saat itu. Apa yang bisa kau pikirkan selain segala kemungkinan buruk yang terjadi?

Namun sekarang-

"Ki- Kibum... Bagaimana~ Mengapa~" Hyura bahkan tak tahu pertanyaan mana yang harus ia lontarkan terlebih dahulu. Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang berputar dalam otaknya saat ini.

Deg.

Hyura tertegun. How come? Ia cukup di bingungkan oleh keadaan. Kala penglihatannya menangkap sebuah~ senyuman? Ya. Senyuman tipis itu kini terpatri di bibir seorang Cho Kibum. Hyura menggelengkan kepalanya. Memastikan ada hal yang salah dengan indera penglihatannya. Wha- What's wrong with that smile? Even that smile is going to be a smirk now. A dangerous smirk.

What the hell is going on?

"Gomawo, Ra –ya.."

Kyuhyun belum sepenuhnya menyadari apa yang tengah terjadi. Lebih tepatnya kejadian yang menimpa dirinya. Saat terbangun beberapa saat lalu, ia mendapati dirinya tengah terbaring di atas reruntuhan dengan Donghyun yang berada di sampingnya. Beberapa serpihan reruntuhan bangunan mendarat di atas tubuhnya. Dengan segera Kyuhyun bergerak menyingkirkan serpihan-serpihan itu.

"Uhukk- hukk.." Tangan Kyuhyun bergerak menghalau butiran debu yang berusaha menerobos saluran pernafasannya. Setelah berhasil menegakkan tubuhnya, Kyuhyun meraih tubuh mungil Donghyun dan mendekapnya dengan kedua lengannya. Tak lupa satu tangannya mendekap kepala Donghyun guna melindungi bocah lelaki itu dari reruntuhan bangunan yang sampai saat ini tak kunjung usai. Rupanya bangunan yang menaunginya cukup besar untuk ukuran sebuah gedung, membuat proses penghancurannya pun membutuhkan waktu yang tak bisa di katakan sebentar.

Kyuhyun mengingatnya sekarang. Senyuman itu~ Senyuman lembut dan teduh milik kakak kembarnya –Kibum yang sudah begitu lama tak terjangkau pandangannya. Otak jenius Kyuhyun tentu masih sangat ingat saat-saat dirinya tengah berjuang melawan waktu yang terus saja bergulir. Bagaimana dirinya berlari menghindari runtuhuan gedung, bagaimana ia berjuang keras mengabaikan rasa sakit yang mendera tubuhnya, bagaimana ia berusaha melawan rasa lelahnya dan- bagaimana~ bagaimana ia melihat senyuman itu di wajah Kibum yang berbalut pekatnya debu.

Ya. Kyuhyun yakin. Bahkan amat yakin. Dirinya tak mungkin salah lihat. Well, kedua matanya masih normal, tidak seperti saudara kembarnya yang memerlukan bantuan lensa kacamata untuk menormalkan penglihatannya.

Saat itu indera penglihatan Kyuhyun sempat menangkap sesuatu yang membuatnya sontak menghentikan langkahnya saat itu juga. Dirinya tengah terfokus pada uluran tangan Kibum yang menyambut kehadirannya, saat tiba-tiba Kibum menarik Hyura dari dalam bangunan itu. Saat itu Kyuhyun belum menyadari adanya pilar yang mulai roboh dan ambruk. Ia terlalu fokus pada Kibum.

Deg.

Dan Kyuhyun melihatnya. Melihat senyuman itu. Senyuman teduh di wajah Kibum yang sempat tertangkap indera penglihatannya sebelum pilar beton ambruk tepat di hadapannya.

'Kibum hyung~' gumam Kyuhyun saat itu. Kibum. Hyung nya itu selalu menyunggingkan senyum yang menyiratkan seribu makna. Namun, apa maksud senyumannya kali ini? Kyuhyun tengah memikirkan hal itu saat tiba-tiba pemandangannya menjadi gelap.

Kyuhyun sempat pingsan. Untuk beberapa saat.

Dan kini, Kyuhyun menyadarinya. Menyadari arti senyuman itu. "Gomawo, Kibum –hyung.." Kyuhyun kini mulai menyunggingkan senyum manisnya dan melangkahkan kakinya, dengan mengeratkan Donghyun dalam dekapannya.

Kyuhyun yakin. Jika dirinya saat itu tak segera menghentikan langkahnya, mungkin yang terjadi adalah dirinya saat ini~ ah Kyuhyun tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya. Kemungkinan terburuk adalah tubuhnya yang akan terjebak di bawah pilar beton itu. Dan ia sangat bersyukur hal itu tidak terjadi padanya.

Dan senyuman itu juga menyiratkan bahwa Kibum, saudara kembarnya itu yakin, bahwa dirinya pasti bisa menemukan jalan keluar lain dari gedung ini. Ketika Kibum memiliki keyakinan, maka Kyuhyun pun memiliki keyakinan yang sama besarnya dengan kakak kembarnya itu.

Langkah kaki Kyuhyun terus menyusuri ruangan yang kini di penuhi reruntuhan gedung. Di eratkannya dekapan pada tubuh Donghyun dan menutupi kepala mungil Donghyun dengan satu tangannya. Berjalan di atas reruntuhan yang terhampar sepanjang mata memandang. Kembali mengabaikan segala rasa sakit yang mendera tubuhnya. Melangkahkan kakinya lebih cepat, Kyuhyun kini menyusuri lorong lurus yang ada di hadapannya. Gemuruh reruntuhan masih tetap saja menghantuinya.

"Sial. Jalan buntu!" Kyuhyun menggerutu kesal. Ia telah memaksakan kakinya menyusuri lorong panjang dan harus memuaskan diri dengan menemui jalan buntu? Hell no! Dengan berat hati, ia membalikkan langkahnya.

Tapi tunggu.

Kali ini indera pendengarannya menangkap suatu bunyi. Bunyi yang terdengar samar. Well, mungkin kali kini Kyuhyun patut berbangga karena ia memiliki pendengaran tajam.

"Tunggu. Bukankah itu suara~" dan Kyuhyun mulai menyunggingkan smirk tipisnya.

Hyura masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia tertegun. Apa yang baru saja Kibum katakan? Apa ia baru saja memanggilnya dengan sebutan yang dulu sering di dengarnya dari mulut manis seorang Cho Kibum?

Bukan.

Bukan hal itu yang membuatnya tertegun. Namun sebuah frase yang baru saja terlontar dari pemuda di hadapannya ini. Gomawo? Bukan itu reaksi yang seharusnya. Adik kembarnya tengah berada di dalam bangunan –yang tengah dalam proses menuju kehancuran. Dan ia justru mengucapkan kata gomawo? Terimakasih? Untuk apa Kibum berterima kasih padanya? Hyura begitu bingung dengan maksud Kibum. Respon yang Kibum tunjukkan sungguh di luar ekspektasinya. Obviously unpredictable!

"Ke- kenapa kau berterimakasih padaku?" suara Hyura terdengar terbata. Raut tak percaya tersurat dengan jelas di wajah manisnya.

Kibum tak menunjukkan respon berarti. Dirinya hanya mendekatkan tubuhnya pada gadis di depannya. Kedua tangan Kibum mencengkeram pelan kedua bahu Hyura. Iris hitam kelamnya yang tajam menatap lurus ke mata Hyura.

"Gomawo. Saat aku menatap pandanganmu, aku tersadar. Jika aku tak melakukan tindakan itu secepatnya, mungkin kita semua akan berakhir dengan tubuh di bawah runtuhan gedung."

Hyura mengernyitkan alisnya. Ia masih belum begitu paham dengan deretan frase yang tergurat dari bibir Cho Kibum.

"Ra –ya, lihat aku."

Hyura mengalihkan atensinya pada iris kelam Kibum. Tatapan itu~ Tatapan yang teduh dan sarat akan keyakinan yang begitu besar. Kenapa-

"Kyuhyun pasti akan segera keluar dari gedung ini dan membawa Donghyun dengan selamat." Kibum tersenyum menenangkan.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu, Kibum –ssi?"

"Aku mengenal Kyuhyun lebih dari siapapun, Hyura -ya. Anak itu tak akan berakhir secepat itu. Kau tahu? Kyuhyun itu anak yang keras kepala dan~ yah sangat nakal." Kibum terkekeh kecil di akhir kalimatnya.

"Mwo?" hanya satu frase itu yang mampu Hyura lontarkan dari bibirnya. Tatapannya sama sekali belum teralihkan dari mata Kibum.

Saat ini Kyuhyun tengah menelusuri gorong-gorong bawah tanah setelah sebelumnya menemukan celah di antara dinding bangunan yang retak, menghubungkan bangunan itu dengan saluran pembuangan. Kaki-kakinya berpijak pada dasar gorong-gorong yang berisi air setinggi betis kakinya. Menjalankan tugasnya sebagai sepasang kaki, langkahnya yang panjang dan terkesan tergesa itu selaras dengan bunyi kecipak air yang menemani perjalanan Kyuhyun yang tengah mencari jalan keluar.

Beberapa saat lalu, saat telinganya yang tajam menangkap suara gemercik air, air yang mengalir, Kyuhyun merasakan optimisme yang meningkat drastis.

'Kibum hyung, tunggu kami.' Tersirat kilat binar pada kedua iris hazel Kyuhyun.

Sembari mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil Donghyun, Kyuhyun melanjutkan perjalanannya menyusuri gorong-gorong itu. Tak ia pedulikan bau tak sedap yang menguar di sepanjang gorong-gorong yang ia lalui. Gemuruh reruntuhan masih saja terdengar samar. Tujuannya saat ini adalah menyelamatkan Donghyun dan membawanya kembali pada ahjussi Choi, ayahnya. Bukan tidak mungkin saat ini ayah Donghyun tengah mencemaskan keberadaan putra kecilnya itu, bukan?

Pria bertubuh kurus yang sedari tadi menyaksikan penghancuran bangunan dengan seksama kini semakin melebarkan senyuman miringnya kala bangunan itu kini telah rata dengan tanah. Ia merasa rencananya telah berhasil dengan sempurna. Dendamnya terbalaskan sudah. Namun, entah mengapa, perasaan aneh menyelusup dalam hati dan juga pikirannya, pria ini merasa ada hal yang mengganjal perasaannya. Dan itu membuatnya tidak nyaman.

Meski demikian, Jisung –pria kurus itu segera menepis perasaan aneh itu dan kembali mensugestikan dirinya untuk berpuas diri terhadap dendamnya yang telah terbalaskan. Setidaknya, tak ada lagi yang mengganggu kehidupannya saat ini.

Jisung tengah tersenyum puas saat ekor matanya menangkap pergerakan dari piringan besi yang menjadi penutup gorong-gorong membuka pelan. Menolehkan atensinya, Jisung membelalakkan matanya kala indera penglihatannya menangkap sesuatu yang menyembul dari gorong-gorong.

Deg.

'Tidak mungkin!' Jisung hanya mampu berteriak dalam benaknya. 'Apa-apan ini?!' batinnya berteriak menahan amarah yang bergemuruh dalam dadanya. Wajahnya mengguratkan raut tak percaya. 'Bagaimana bisa?'

Iris mata Jisung bergerak gelisah, menyiratkan rasa cemas yang tiba-tiba menyergapnya. Bulir-bulir kristal bening mulai muncul di pelipisnya, menggumpal dan bergerak menuruni wajahnya. Atensinya teralihkan oleh langkah kaki yang tergerak tergesa. Terlihat dua remaja yang masih menggunakan seragamnya yang telah di penuhi noda dan robek di beberapa bagian. Penampilan mereka tampak kacau, jauh dari kata rapi. Keduanya tengah berlari ke arahnya. Namun fokusnya berbeda. Mereka tengah memfokuskan perhatiannya pada lubang gorong-gorong yang letaknya tak jauh di hadapannya kini.

Kibum dan Hyura memerintahkan otak mereka untuk mempercepat larinya saat indera penglihatannya menangkap sesuatu menyembul dari lubang gorong-gorong yang 'tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kyuhyun. Itu kepala Kyuhyun. Kibum, terutama Hyura, berulangkali berucap syukur pada Tuhan. Kyuhyun mereka selamat. Tak ada hal lain dalam benaknya selain perasaan lega yang menggantikan rasa cemas dan was-wasnya beberapa saat lalu saat dengan mata kepalanya sendiri, Hyura menyaksikan Kyuhyun dan Donghyun terjebak dalam bangunan yang tengah di hancurkan itu.

Tunggu. Dimana Donghyun?

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dengan kaki-kakinya yang masih berpijak erat pada tangga besi yang menghubungkan permukaan dengan gorong-gorong di bawahnya. Satu tangan ia gunakan untuk mendekap Donghyun sementara tangannya yang lain ia fungsikan untuk menjadi tumpuannya memegang erat ibu tangga. Indera pendengarannya menangkap derap langkah di belakangnya. Sontak mengalihkan perhatiannya, Kyuhyun memutar pandangannya.

Ia tersenyum kecil. Dalam radius beberapa meter, saudara kembarnya –Kibum dan Hyura tengah berlari dengan senyuman yang tersemat pada wajah lelah mereka berdua.

"KYUHYUUUN –AH!" Hyura tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Di hampirinya Kyuhyun dengan cepat. Tak ayal suara teriakannya yang tak bisa di bilang pelan itu, mengalihkan perhatian kerumunan manusia di sana.

"Gwenchana?" Hyura berlutut. Tangannya terulur menyambut Kyuhyun.

"Ne." Kyuhyun menyerahkan tubuh Donghyun pada Hyura terlebih dahulu. Hyura menerimanya dengan kedua tangannya dan segera mendekapnya erat. Menanti Kyuhyun mengeluarkan tubuhnya dari lubang itu.

Di belakang mereka, Kibum persisten melangkahkan kakinya sembari menatap tajam pada sosok di hadapannya. Iris kelamnya tak teralihkan darinya. Memperhatikan gerak-gerik pria kurus itu dengan seksama, Kibum makin yakin dengan dugaannya. Gotcha!

Setelah membantu Kyuhyun keluar sepenuhnya dari gorong-gorong itu, Kibum berdiri tegap menatap pria bertubuh kurus yang masih menunjukkan raut wajah tak percaya.

"Terkejut, Tuan?" Kibum semakin mendekatkan langkahnya ke arah Jisung. Smirk yang makin tajam terukir angkuh di bibirnya.

"Kau sungguh tidak beruntung, Tuan. Kau berniat mengubur Donghyun dengan mayat itu"

Perkataan Kyuhyun sontak membuat kedua mata Jisung membelalak lebar. Bagaimana mereka mengetahui hal ini?

Tak hanya Jisung, orang-orang di sekitar area penghancuran gedung pun mulai terdengar berbisik-bisik. Sementara Jisung, ia mati-matian meredam emosinya yang mencapai puncaknya. Betapa ingin dirinya menyangkal semua hal itu dengan keras, memukul bocah-bocah di hadapannya dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan emosinya yang meluap-luap saat ini. Namun mengingat dimana posisinya saat ini, melakukan tindakan itu justru akan membuatnya semakin mencurigakan. Ia tak ingin kedoknya terbongkar. Setidaknya tidak secepat ini. Tapi semakin keras ia menyangkalnya, justru semakin menunjukkan dirinya bersalah, bukan? Bukankah sebuah negatif yang kuat sama dengan positif?

"Saat pembongkaran dinding di ruang bawah tanah runtuh, ternyata celah itu berhubungan dengan saluran pembuangan. Kau pasti tak akan mengira kami mengikuti jejak Donghyun, bukan?" kali ini Jisung melirik Kibum yang membuka suaranya. Namun ia tak juga bergeming. Gigi-giginya saling bergeletuk geram. Kedua telapak tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.

"Kau mengira Donghyun melihatmu yang tengah membunuh seorang pria di dalam bangunan itu, bukan? Untuk itu kau mengikutinya dan mencoba untuk membungkam mulutnya dengan ikut menguburnya bersama pria itu." Kibum masih melanjutkan analisisnya.

"Kau berniat membakar mayat itu untuk menghilangkan barang bukti. Aku dan kakakku sempat meliat kerosine yang terletak di ruangan tak jauh dimana mayat pria itu di temukan. Namun karena Donghyun yang datang menginterupsi, kau memutuskan untuk membunuh Donghyun juga. Hingga sampai tiba waktu penghancuran gedung, kau belum sempat untuk menuntaskan rencanamu. Apa aku salah, Tuan?" Kyuhyun melanjutkan perkataan Kibum.

Hyura menatap Jisung dengan pandangan tak percaya, bibirnya seidikit terbuka. Bagaimana ada orang yang setega itu? Pikirnya. Tampaknya Hyura masih terlalu polos dan naif untuk melihat hal-hal seperti ini. Well, di luar sana masih banyak kasus pembunuhan yang lebih kejam bahkan dari apapun yang bisa kau bayangkan. Pembunuhan dengan memutilasi tubuh korban terdengar jauh lebih menarik, bukan? Bayangkan betapa indahnya 'karya' yang di hasilkan oleh para pemutilasi itu. Kepala yang terpisah dengan otak berceceran. Bola mata yang tercungkil keluar. Tangan dan kaki yang terpisah dan terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Serta isi perut yang terburai dengan brutal. That's fuckin' beautiful, right?

Mendengar penuturan dari Kyuhyun dan Kibum, Jisung semakin geram di buatnya. Pasalnya, tak ada satu frase pun yang luput dari penuturan mereka. Semua benar adanya. Dirinya tak bisa menyangkal lagi. Saat Jisung hendak melangkahkan kakinya, iris matanya menangkap pergerakan kecil dari tubuh bocah mungil dalam dekapan seorang gadis remaja. Donghyun yang tengah dalam dekapan seorang Park Hyura.

Donghyun menggeliat kecil dalam gendongan Hyura. Tak lama setelahnya, kedua matanya yang terpejam erat sebelumnya itu kini perlahan mulai terbuka. Mengerjapkan matanya, Donghyun kini tengah berusaha menyesuaikan pandangannya. Kepalanya menoleh ke kanan kiri, sebelum akhirnya pandangannya menangkap seseorang yang di kenalnya. Dengan riang, ia menurunkan tubuhnya dan berlari kecil menghampiri orang itu.

"Ahjussi!" Teriakan Donghyun terdengar riang. Tangan mungilnya merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas dari sana. Di genggamnya erat kertas itu dan berlari kecil menuju seorang pria yang dipanggilnya dengan sebutan ahjussi itu.

Nafas Jisung tercekat. Menangkap pergerakan Donghyun yang tengah berlari kecil ke arahnya dengan senyum manis yang sangat polos.

"Jisung ahjussi, tokomu mau buka lagi, 'kan?" celotehan ceria nan polos meluncur begitu saja dari bibir mungil Donghyun.

"Boleh tidak aku membeli kacang goreng keju dan kecap pedas?" Donghyun berkata sembari membaca catatan dalam kertas yang di genggam oleh kedua tangannya. Kepalanya mendongak, tersenyum menatap wajah Jisung yang jauh lebih tinggi darinya.

Deg.

Nafas Jisung kembali tercekat di tenggorakannya. Jantungnya bertalu cepat, bahkan darahnya seakan mendidih, bergejolak dalam tubuhnya.

'Anak ini~ bagaimana mungkin?!' batinnya berkecamuk. Rasa terenyuh melihat binar polos dari kedua manik mata Donghyun, membuat lututnya terasa lemas seketika. Bahkan kedua lensa matanya kini tertutup oleh kabut tipis, siap menghasilkan air mata yang berteriak meloloskan diri dari sana.

Anak semanis dan sepolos ini, bagaimana bisa aku berniat membunuhnya? Nurani terdalam dalam hatinya berteriak kencang, seakan mengoloknya. Mengolok-olok kebodohannya dalam mengambil tindakan dan berpikir yang begitu pendek.

Bruk.

Tubuh Jisung jatuh berlutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua telapak tangannya terkepal erat di atas lututnya. Meringis pelan, menahan gejolak dalam batinnya sendiri. Berulangkali ia menggelengkan kepalanya. Frustasi. Kini Jisung memberanikan dirinya untuk mengangkat kepalanya perlahan, menatap sepasang manik polos milik Donghyun yang persisten menyunggingkan senyum manis kepadanya.

"Dong- Donghyun –ah, mi- mianhae. Maafkan ahjussi, Donghyun –ah." Suara Jisung terdengar tercekat. Bahkan bulir-bulir air mata mulai menghiasi wajahnya.

"Wae, ahjussi? Kenapa ahjussi minta maaf padaku? Ahjussi 'kan tidak nakal?" Donghyun bertanya dengan memiringkan wajahnya, polos. Tiap dirinya berbuat nakal, orang tuanya segera memintanya untuk meminta maaf. Tapi, kenapa sekarang ahjussi meminta maaf padanya? Apa Jisung ahjussi juga telah berbuat nakal? Seperti dirinya? Pertanyaan itu kini berputar dalam kepala kecil Donghyun.

Mendengar pertanyaan yang terlontar dengan polosnya dari bocah di depannya, membuat Jisung semakin mengeratkan cengkeraman di dadanya. Perih. Kenapa rasanya perih sekali di dalam sana? Dirinya semakin terisak.

Hyura sedari tadi sudah menutup mulutnya, menahan isakan yang keluar dari mulutnya. Panorama di depannya sungguh membuatnya terenyuh, terharu, dan tercekat di saat yang bersamaan. Kyuhyun yang berada di sampingnya, segera merangkul bahu Hyura. Memeluknya dari samping, mengusap bahunya pelan berharap bisa membuat gadis pujaannya itu sedikit tenang.

Dalam bersimpuhnya, Jisung kini mendongakkan kepalanya. Sepasang matanya bertatap lurus dengan binar polos milik Donghyun, membuat aliran air matanya semakin meluncur bebas, berlomba untuk turun dari sudut matanya.

"Seorang broker telah menipuku. Aku memiliki hutang yang sangat banyak padanya. Ya. Broker itu adalah pria yang aku bunuh dalam gedung itu." Jisung menuturkannya dengan pandangan menerawang ke arah gedung yang kini telah runtuh, rata dengan tanah.

"Karena aku tak bisa membayar hutangku yang sangat banyak itu, istriku memilih untuk kabur bersama pria lain dengan membawa anak kami." Jisung melanjutkan perkataannya. Tergurat nada kesedihan yang mendalam dalam kalimatnya.

Kyuhyun dan Kibum masih terdiam. Mereka ingin Jisung mengungkap semua dengan sendirinya.

"Uang yang telah aku pinjam dari broker itu di rampok. Aku telah kehilangan semuanya. Tokoku menjadi tidak laris lagi dan akhirnya aku bangkrut. Gedung ini akhirnya di hancurkan. Dan baru-baru ini aku mengetahui bahwa perampok itu adalah suruhannya. Dan ia juga yang telah membawa kabur istri dan anakku." Kali ini ia mengguratkan nada geram dan terlihat kilatan emosi dalam matanya.

"Tapi Donghyun masih mengingat tokomu, Tuan." Kyuhyun menyela.

"Dia datang ke tokomu untuk membeli barang-barang pesanan ayahnya." Tambahnya.

"Apa?!" Jisung tampak terkejut mendengar pernyataan itu.

"Ahjussi..!" masih terngiang jelas dalam ingatannya, saat suara Donghyun menginterupsi kegiatannya yang tengah membunuh Sikyung kala itu. Ia membalikkan badannya dan matanya terbelalak seketika. Dengan cepat ia menyembunyikan pisau yang masih berlumuran darah dalam genggamannya.

"N-ne, Donghyun –ah?" Jisung masih berusaha menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan. Apa anak ini melihat apa yang aku lakukan? Aku harus segala membereskannya. Pikirnya saat itu. Dirinya yang tengah kalut tak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana ia membersihkan barang bukti dan saksi yang ada. Sebersih mungkin.

"Apa tokomu ini masih buka, ahjussi?"

"I- iya Donghyun –ah. Tapi aku akan membukanya sore nanti." Ucap Jisung saat itu. Ia tengah memikirkan cara untuk segera membuat Donghyun pergi dari sana. Secepatnya.

"Oh, arasseo, ahjussi. Nanti sore aku akan ke tokomu lagi, ya?" Donghyun menanggapinya dengan riang. Jisung masih mengingat jelas wajah ceria itu. Setelah mengucapkan salam perpisahan, Donghyun segera beranjak dari gedung itu. Di perempatan yang terletak di seberang gedung, Donghyun melihat sosok Jisung yang tengah berdiri di sisi jendela. Refleksinya terpantul pada cermin cembung yang terletak di sudut jalan. Jisung yang melihatnya pun ikut melambaikan tangannya seraya tersenyum tipis. Dan setelah memastikan Donghyun melanjutkan langkahnya, dengan segera ia bergegas mengikuti bocah itu secara diam-diam dan mulai menyusun rencana untuk melenyapkannya.

Jisung semakin menyesali perbuatannya. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki niat yang begitu kejam? Bagaimana mungkin ia hendak menghilangkan senyuman polos milik Donghyun? Bagaimana mungkin~ Anak sekecil ini~ ia yang tahu apa-apa nyaris menjadi korban akibat kebodohannya. Ia merasa begitu bodoh. Lebih bodoh bahkan dari orang terbodoh di dunia. Ia harus menanggung dosa dengan menghilangkan satu nyawa. Apa ia mau menambah dosanya lagi? Huh. Hebat kau Jisung, nuranimu masih berada dalam eksistensinya ternyata.

Donghyun yang sedari tadi mendengar pernyataan dari Jisung hanya bisa memberikan tatapan polosnya. Hei, ia sungguh tak mengerti apa yang terjadi saat ini. Yang ia tahu, ia hanya ingin membeli barang pesanan ayahnya di toko milik Jisung ahjussi.

"Maafkan aku, Donghyun –ah. Aku memang orang yang jahat. Maafkan aku." Jisung kini menyentuhkan kepalanya di kaki Donghyun.

"Ahjussi! Kau kenapa?" Donghyun sungguh tak mengerti.

Tak lama setelahnya, suara sirine mobil polisi terdengar. Kyuhyun telah meminta Hyura untuk menghubungi pihak kepolisian sebelumnya.

Seminggu berlalu setelah peristiwa ini. Kyuhyun harus mendapatkan perawatan selama lima hari di rumah sakit untuk memulihkan tubuhnya dari luka-luka yang di dapatnya. Selama itu pula Kibum dan Hyura serta orang tua mereka bergantian menjaganya. Well, menjaga bulldog dalam kandang mungkin akan lebih mudah daripada menjaga Kyuhyun untuk tidak kabur dari rumah sakit. Asal kau tahu, Cho Kyuhyun adalah seorang yang akan mencari celah dan memanfaatkannya se-efisien mungkin untuk kabur dari rumah sakit, tempat yang sangat ia benci. Bahkan dokter dan suster pun tak luput dari tingkahnya yang membuat mereka kewalahan.

"Kau yakin akan masuk sekolah sekarang, Kyu? Kau sudah pulih benar?" Nyonya Cho khawatir dengan keadaan putra bungsunya yang sangat ia sayangi itu.

"Eomma! Kau jangan berlebihan. Aku tak selemah itu." Kyuhyun merengut mendengar kalimat ibunya yang ia dengar berulangkali sejak ia mengatakan ingin masuk sekolah semalam.

"Kau ini, itu tandanya ibumu sangat menyayangimu, nak!" Tuan Cho mengacak surai Kyuhyun dengan gemas.

"Aissh. Ya, ya. Aku tahu. Aku juga menyangimu, Eommaku yang cantik." Kyuhyun memeluk Nyonya Cho dengan erat dari belakang tubuhnya. Di akhiri dengan kecupan manis di pipi kanan milik ibunya.

"Aku berangkat, Eomma. Bye, appa! Yak! Kibum –ah tunggu aku!" Kyuhyun berlari mengejar langkah Kibum yang sedari tadi jengah menunggu saudara kembar –tidak identiknya itu.

"Ck." Kibum hanya berdecih menanggapi tingkah Kyuhyun.

"Hyura –ya, apa sore ini kau ada waktu? A-aku~ Ada yang ingin aku katakan padamu." Tiba-tiba Kyuhyun merasa gugup. Kenapa rasanya seperti ini?

"Ah. Sore ini aku ada janji dengan seseorang, Kyuhyun –ah. Mianhae, ne?" Hyura merasa tak enak hati saat menangkap raut kekecewaan di wajah Kyuhyun.

"Oh, tak apa, Hyura –ya. Kapan pun kau ada waktu, hubungi aku, OK?" Kyuhyun harus rela menelan pahit kekecewaannya untuk ke sekian kalinya.

"Baiklah. Ah, apa kau sudah pulih benar, Kyu?"

"Seperti yang kau lihat, aku ini memiliki daya sembuh yang tinggi, Hyura –ya!" Kyuhyun terkekeh kecil mendengar ucapannya sendiri.

"Kau ini." Hyura menggelengkan kepalanya.

"Ya, Tuan. Target telah keluar dari gedung sekolahnya. Mereka berdua sedang menunggu bus di halte. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"

"Algaeseumnida. Akan kami laksanakan."

To be continued~

What's on your mind, just say it on the comment box. Thank you, everyone!

Balsan review(s) chapter 3

maya kyu : jinjha? *smirk*

Rim Ryeosunghyun : *ikutKedip2*

angella : terjawab di chapter ini ;)

ydiasimatupang2301 : ne, ne ...

jihyunelf : yap. Dia punya alasan, dear.. ;) makasih udah review di tiap chapter ~

With love,

LITTTLE EVIL