Summary :
Kisah dua saudara kembar yang tak pernah bisa bersatu, namun secara tak sadar akan sangat kompak saat berhadapan dengan suatu kasus. Lalu bagaimana jika keduanya melabuhkan hati pada gadis yang sama?
Chapter 5
"Kau pulang duluan saja Kyu, aku masih ada sedikit urusan." Kibum berujar tanpa menolehkan kepalanya. Tatapannya tetap fokus pada layar ponsel di tangannya.
"Urusan apa?" tanya Kyuhyun. Dengan posisi yang sama dengan Kibum, fokus pada ponselnya.
"Dengan Kim seonsaengnim." Kyuhyun mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari Kibum. Kali ini ia menolehkan kepala pada kakak kembarnya itu.
"Untuk apa kau berurusan dengannya?"
"Dia-
CKITT..
Suara Kibum terinterupsi dengan suara gesekan ban dari sebuah bus yang berhenti di depan halte. Kibum sedikit menghela nafas lega. Ia merasa sedikit tak sanggup untuk menjawab pertanyaan adik kembarnya itu, mengingat jika teman lamanya –Hyura, merupakan gadis yang berarti bagi Kyuhyun. Ia hanya tak ingin menyakiti perasaannya –lagi.
"Kka, kau pulanglah dulu. Katakan pada eomma aku akan pulang terlambat."
Kibum mendorong bahu Kyuhyun untuk segera menaiki bus yang akan mengantarkannya pulang, membuat Kyuhyun mendengus sebal. Dengan langkah terpaksa, ia melangkahkan kakinya untuk memasuki bus itu. Setelah mendudukkan dirinya di kursi, Kyuhyun mengalihkan atensinya pada Kibum yang mulai melangkahkan kakinya berlawanan arah dengannya. Perasaan tak tenang menggelayut dalam hatinya. Pikirannya tak fokus, Kyuhyun merasa penasaran dengan Kibum. Tak seperti biasanya Kibum seperti itu.
Perasaan itu terus berputar dalam benaknya, membuat Kyuhyun memutuskan untuk turun dari bus yang ditumpanginya dan mulai berjalan mengikuti jejak langkah Kibum, secara diam-diam.
Pandangan Kyuhyun menangkap tubuh Kibum yang melangkah menuju taman kota. Diam-diam Kyuhyun bertanya dalam benaknya. Untuk apa Kibum ke taman kota? Bukankah dia ingin bertemu dengan Kim seonsaengnim? Ah, mungkin mereka membuat janji untuk bertemu di sini, pikirnya. Kyuhyun terus berkutat dengan pikirannya, hingga ia mlihat Kibum yang mendudukkan dirinya di bangku taman. Kyuhyun tetap mengikuti dengan diam-diam, ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang taman tak jauh dengan Kibum, membelakanginya. Namun sesekali ia melirik ke arah Kibum, guna mengawasi gerak-geriknya. Ia kini tak ubahnya seperti seorang detektif yang tengah mengintai targetnya. Kedua tangannya menggengggam sebuah buku bacaan untuk menutupi wajahnya.
Menit berlalu, Kyuhyun mulai merasa bosan dengan situasi yang melingkupinya. Hingga iris matanya menangkap sosok yang sangat dikenalinya, sosok yang akhir-akhir ini mengisi ruang kosong di hatinya. Hyura, gadis yang masih mengenakan seragamnya itu, tampak berlari kecil ke arahnya. Kyuhyun sudah siap untuk menyambutnya kala ia menyadari bahwa Hyura, bukanlah menuju ke arahnya. Langkah Hyura berhenti tepat di depan sosok lelaki tampan yang tampaknya sudah menunggu cukup lama, Kibum. Ya, Hyura menghampiri Kibum dengan senyuman kecil yang tergurat di bibir tipisnya. Melihat itu, Kyuhyun merasa sedikit dongkol. Perasaan apa ini? Apa mungkin, Hyura dan Kibum~ Tidak. Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk berpikir positif.
"Mianhae, Kibum-ah, sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Ujarnya sembari mendudukkan dirinya tepat di samping kanan Kibum.
"Gwenchana." Jawab Kibum, singkat. Disertai sennyuman kecil yang menawan dari bibirnya.
"Bagaimana kabarmu, mhm... baru kali ini kita bisa bertemu secara langsung." Entah mengapa Hyura mulai merasakan perasaan gugup melanda dirinya. Sementara di dekat mereka, Kyuhyun masih terus menyimak percakapan keduanya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Ne, akupun begitu.." setelahnya, keduanya terdiam. Hyura merasa gusar, ia harus mulai darimana?
"Ehm." Kibum berdehem kecil untuk memecah suasana. "Hyura –ya, ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
"Eoh, yah.. Mmm, itu, apa kau- Kau tahu, hubungan kita dulu~
"Aku tahu." Hyura menolehkan kepalanya ke arah Kibum yang memotong pembicaraannya. Dan Kyuhyun, ia makin mempertajam pendengarannya.
"Kau tahu?"
"Yah, aku tahu, Hyura-ya, hubungan kita dulu adalah hubungan antara dua remaja yang belum mengerti apa arti cinta yang sebenarnya." Kibum mengeluarkan frase dengan nada datar, khas seorang Cho Kibum. Hyura yang mendengarnya merasakan sedikit nyeri yang berdenyut dalam hatinya.
"Tapi Kibum-ah, apa rasa cintamu saat itu memang hanya sebatas cinta seorang remaja yang masih dangkal? Tidakkah kau merasa cinta kita dulu, berbeda dari cinta kebanyaakan remaja di usianya?" air mata tampak mulai menggenang di kedua sudut mata Hyura.
Kibum tertegun mendengar ungakapan gadis di sampingnya. Hyura berujar dengan nada yang pilu, seolah menahan rasa sakit yang menggelayut dalam hatinya. Ia memandang Kibum dengan tatapan nanar.
"Maafkan aku, Ra-ya.."
Deg. Hyura tertegun. Kibum, memanggilnya dengan panggilan yang selama ini ia rindukan. Hatinya menghangat dengan sendirinya mendengar panggilan dari Kibum.
"Maafkan aku." Kibum membawa Hyura dalam pelukannya, membawanya dalam kehangatannya. "Aku memang mencintaimu, sangat."
Hyura memejamkan kedua matanya, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh Kibum yang menenangkan. Ia masih membungkam mulutnya, menunggu Kibum mengungkapkan perasaannya.
"Bahkan hingga saat ini, perasaan itu masih ada, Ra-ya.." Kibum berujar lembut, membuat Hyura tersenyum tipis, bahagia mendengar pengakuan dari Kibum, lelaki yang ia cintai dan kasihi.
"Tetapi-
BRUK!
Ucapan Kibum terputus begitu saja saat seseorang menarik tubuhnya dengan kasar, dan mendorongnya, membuatnya terjerembab di atas tanah. Ia meringis pelan, kemudian berusaha bangkit untuk melihat siapakah gerangan yang melakukan ini padanya.
Deg.
Mata Kibum membulat melihat sosok yang kini berdiri di depannya dengan wajah yang mengeras, menahan amarah. Ia melirik ke arah Hyura yang tengah terpaku di tempatnya, menatap kedua lelaki di hadapannya dengan raut yang tak bisa dijelaskan.
"Kau!" Kyuhyun menatap Kibum dengan geram. Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuhnya.
"Kyu~"
"Ini yang kau sebut dengan berurusan dengan Kim seonsaengnim, huh?" ujarnya sarkatis. "Apa Kim seonsaengnim sekarang menjelma menjadi gadis muda, eoh? Cih. Aku baru mengetahuinya." Lanjutnya, dengan nada yang membuat Kibum dan Hyura tertohok. Rasanya seperti, tertangkap basah mengkhianati kekasih sendiri.
"Kyu~ dengarkan aku. Aku dan Hyura~"
"Bukankah sudah kukatakan padamu, Kibum-ah. Bahwa aku tak ingin merasakan sakit itu lagi. Kau berkata padaku, kau tak ingin merebut Hyura dariku seperti yang telah kau lakukan pada Jihyun. Tetapi, apa yang aku dapat hari ini? Cih." Kyuhyun menyeringai pilu.
Perkataan yang baru saja terlontar dari mulut adik kembarnya, membuat Kibum terdiam. Ia bisa melihat, tatapan terluka yang terpancar dari pandangan adiknya. Ia tak suka itu. Ia tak suka saat adiknya menatapnya seperti itu. Rasanya seperti, kau telah menjadi orang terjahat di seluruh dunia.
"Haha, kalian berdua tak perlu khawatir." Kyuhyun tertawa miris, seolah tengah menertawakan dirinya sendiri. "Anggap saja aku hanya angin lalu, yang lewat diantara kalian. Aku hanya orang bodoh yang masih berharap akan ketulusan cinta. Haha."
Tes. Tes.
Entah mulai kapan, buliran krital bening itu kini mengalir pelan di wajahnya. Kyuhyun sendiri tak mengerti, ada apa dengan dirinya? Mengapa ia terlihat begitu lemah saat ini? Dirinya bukanlah tipe orang yang akan dengan mudahnya mengeluarkan air mata. Tapi saat ini, rasa sakit yang diterimanya terasa berkali lipat. Untuk kedua kalinya, cintanya~ cintanya harus berkahir seperti ini bahkan sebelum ia memulainya. Dan untuk kedua kalinya, cintanya~ beralih ke lain hati, yang tak lain adalah hati milik kakak kembarnya sendiri, Cho Kibum.
"Kyuhyun-ah, kau salah paham. Dengar. Hey!" Kibum segera menarik lengan Kyuhyun yang akan meninggalkannya. Membuat Kyuhyun mau tak mau berbalik arah, menatap Kibum dengan pandangan dingin.
"Lepaskan." Ujarnya datar, melirik ke arah tangan Kibum yang tengah mencengkeram erat lengan kirinya. "Sakit, Kibum. Lepaskan aku." Tak ada respon dari Kibum, membuat Kyuhyun geram.
"Biarkan aku pergi!" sentaknya kuat, hingga cengkeraman Kibum terlepas dan dengan ia segera melangkah, menjauh dari situasi yang membuat hatinya merasa tercabik.
Meninggalkan Kibum dan Hyura yang menatap punggungnya yang menjauh dengan pandangan bersalah yang kentara di wajah keduanya. Kibum, hatinya berdenyut nyeri saat iris maatanya melihat pandangan terluka adik yang sangat ia kasihi. Sementara Hyura, ia sungguh dibingungkan dengan posisinya saat ini. Diam-diam perasaan bersalah mulai muncul, karena selama ini ia memberi harapan pada Kyuhyun. Harapan yang pada akhirnya hanya angan-angan belaka.
Ia mengalihakn atensinya pada Kibum yang masih memandang kosong ke arah kepergian Kyuhyun. Perlahan ia mendekat ke arah Kibum dan mengusap lengannya lembut, guna memberikan gurat ketenangan padanya.
"Kibum, maafkan aku. Sungguh, aku tak bermaksud untuk membuat kalian berdua bertengkar. Aku hanya~"
"Sst..Tak apa, Ra-ya, aku yang salah disini. Aku tak bisa menjaga perasaan Kyuhyun. Aku kembali~ menyakitinya. Sungguh, aku kakak yang sangat buruk, Ra-ya...Aku~"
Grep. Hyura memeluk erat tubuh Kibum, berusaha menyalurkan kehangatan padanya. Ia usap punggung kokoh itu dengan lembut, ia mengerti bagaimana perasaan Kibum saat ini. Perlahan, Kibum membalas pelukan itu. Saat ini, ia memang membutuhkannya..
"Darimana saja, Kibum-ah?" suara ayahnya menghentikan langkah Kibum menuju tangga. Ia segera membalikkan badannya dan ia menemukan ayah dan ibunya tengah memandangnya cemas.
"Eoh, aku ada urusan dengan Kim seonsaengnim, appa."
"Apa Kyuhyun tak ikut denganmu?" kali ini ibunya yang melontarkan pertanyaann padanya. Ia mengernyit. Apa mungkin Kyuhyun belum pulang? Ini sudah menunjukkan jam 9 malam.
"Kyhuyun? Bukankah ia pulang lebih dulu?" hanya gelengan kepala yang ia dapatkan dari keduanya. Perasaan Kibum mulai tak tenang, mengetahui adik kembarnya sampai saat ini belum menginjakkan kakinya di rumah. Kemana perginya anak itu?
Tanpa menunggu respon dari orang tuanya, Kibum segera melesatkan tubuhnya, berlari dengan perasaan cemas yang terus menghantuinya. Namun sebelum mencapai pintu, ia memutar tubuhnya dan berbalik arah menuju ayahnya. Membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahi melihat tingkah puteranya itu.
"Appa, pinjam kunci mobil." Meski dengan raut bingung, Tuan Cho memberikan kunci moil miliknya ke tangan Kibum yang menengadah ke arahnya.
"Gomawo, Apppa..ku kembalikan nanti. Anyeong.."
BLAM!
Bunyi pintu yang tertutup membuat sepasang suami istri itu saling memandang bingung.
The number you're calling cannot be reach at the moment. Please try ag~
PIP.
"Argh Shit! Dimana kau sebenarnya, Kyu?" Kibum tengah dalam perjalanannya mencari keberadaan adiknya. Ia melajukan mobilnya pelan dengan mata yang memandang sekeliling, siapa tahu adiknya berkeliaran di jalan? Argh..Kibum menggelengkan kepalanya. Pikirannya mulai tak karuan. Yang terlintas dalam kepalanya saat ini hanyalah beragam probabilitas buruk yang terjadi pada adiknya. Sungguh, ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa Kyuhyun. Dan mengingat pertengkarannya dengan Kyuhyun yang terjadi sebelumnya, membuat Kibum semakin resah.
Apakah Kyuhyun baik-baik saja saat ini? Apa ia tengah bersama para sahabatnya? Ah! Benar! Mengapa ia tak menghubungi teman-temannya saja? Aisshh, pabboya!
Kyuhyun mengerjapkan matanya yang terasa berat. Hanya seberkas sinar yang masuk melalui celah-celah dinding ruangan dimana dirinya berada saat ini. Seluruh tubuhnya terasa sakit, mungkin memar-memar akan terlihat di sekujur tubuhnya, mengingat sebelumnya beberapa orang memukuli tubuhnya secara bersamaan. Memang mereka tidak menggunakan kekuatannya secara penuh, Kyuhyun bisa merasakan itu. Entah apa yang ada dalam benak mereka, mungkin seseorang yang menyuruhnya demikian. Tak boleh membuat tawanan mati, tapi boleh menyiksanya.
Ia teringat bagaimana ia bisa sampai ke tempat yang gelap dan pengap ini. Saat ia meninggalkan Kibum dan Hyura dengan emosi yang meluap, Kyuhyun memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Tempat yang selama ini menjadi tempat untuk dirinya menenangkan pikiran. Namun di tengah perjalanannya menyusuri jalan, Kyuhyun merasa seseorang tengah mengikutinya. Tiap ia membalikkan badan, hanya orang lalu-lalanglah yang terjangkau indera penglihatannya. Sampai ia di tempat sepi, perasaan itu semakin kuat. Seseorang tengah tepat berada di belakang tubuhnya, mengikuti setiap langkahnya.
Tanpa aba-aba, Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan memerangkap sosok tersebut, kemudian membantingnya ke atas tanah. Nice shoot! Sosok pria yang mengenakan topi hitam tersebut meringis kala dirasa bahu kanannya melakukan pendaratan terlebih dahulu di tanah. Tapi tak lama kemudian ia bangkit dan menatap Kyuhyun nyalang.
"Kekuatanmu tak bisa diremehkan juga, bocah!" ucapnya seraya menyeringai. Kyhuyun menatap pria tersebut dengan raut penasaran. Siapa pria ini?
"Apa yang kau inginkan?"
"Cukup dengan menjadi anak manis dan menurut untuk ikut denganku. Itu yang aku inginkan. Bagaimana?"
"Cih. Siapa yang menyuruhmu?"
"Seseorang yang tak akan pernah kau duga, dear." Kyuhyun mengernyit mendengarnya.
"Well, kurasa sudah cukup basa-basinya."
Prok! Prok!
Ternyata pria itu tidak sendirian. Kawanan yang dibawanya mulai muncul dari berbagai arah, siap mengepung Kyuhyun. Kini mereka berjumlah empat orang. Bagaimana aku mengalahkan mereka semua? Kyuhyun mencoba memutar otaknya. Situasi genting seperti ini menuntutnya untuk berpikir cepat.
Kyhuyun mulai memundurkan langkahnya kala para pria tersebut semakin menyudutkannya dari berbagai arah. Sial! Tak ada jalan keluar lain, selain melawan mereka sekuat tenaga. Lagipula tak ada yang bisa dimintai pertolongan saat ini. Kibum? Jangan harap ia akan menolongnya. Bahkan mungkin memikirkannya saja pun tidak ia lakukan. Ia pasti tengah bermesraan dengan Hyura, gadis pujaannya. Arghh.. pikiran Kyuhyun mulai kacau. Dengan segera ia menggelengkan kepalanya untuk kembali meraih fokus yang sempat menghilang begitu saja.
Gotcha! Ia melirik ke bawah dan dilihatnya sebongkah batu yang cukup besar. Kesempatan itu ia gunakan untuk mengambil batu itu dan sekuat tenaga ia lempar ke salah satu pria di belakangnya.
BUG! Tepat!
"Argh.." erangan tertahan terdengar, membuat Kyuhyun mengukir smirk tipis di bibirnya.
Melihat kawannya terluka, memancing emosi tiga pria lainnya disana. Dengan gerakan cepat, mereka mengepung Kyuhyun. Grep! Salah seorang di antara mereka menyergap Kyuhyun dan memiting kedua tangan Kyuhyun ke belakang tubuhnya, mengundaang jerit kesakitan yang tertahan dari mulut Kyuhyun. Badan pria tersebut yang jauh lebih besar di bandingkan dengan Kyuhyun, menjadi keuntungan baginya untuk bisa lebih memerangkap Kyuhyun.
Sementara dua pria lainnya mula mengukir seringaiannya dan berjalan perlahan, mendekat kearah Kyuhyun. Pria di belakang Kyuhyun menekan kedua bahu Kyuhyun untuk berlutut, namun Kyuhyun bersikeras menahannya. Hingga kemudian, pria tersebut menendang bagian belakang lututnya, memaksa Kyuhyun untuk berlutut di bawah kungkungannya.
"Heh. Apa yang bisa kau lakukan sekarang, hm?" pria yang sedari tadi mengikuti Kyhyun, kini berjongkok di depannya dan memandang sinis kearahnya. Kyuhyun pun sama, memandang pria tersebut tak kalah sinis.
Melihat Kyuhyun yang begitu tenang menghadapinya, membuat pria tersebut gerah. Tak bisa memperoleh respon yang ia inginkan. Ia pikir, anak di depannya akan menunjukkan respon ketakutan dan memelas padanya. Namun ia salah besar. Anak di depannya ini ternyata bukanlah anak sembarangan. Ia harus lebih berhati-hati dalam mengambil langkah.
PLAK!
Wajah Kyuhyun terhempas ke kanan saat sebuah tangan kekar dan kasar menampar pipi kirinya. Panas dan perih. Bahkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah. Pria itu kini mencengkeram rahang Kyuhyun, memaksanya untuk mendongakkan kepalanya. Ia masih menunjukkan wajah sinisnya pada pria di hadapannya, membuat pria itu semakin geram dibuatnya.
"Cepat bawa dia!" seiring dengan intruksi dari pria tersebut, Kyuhyun merasakan sesuatu membekap hidungnya dengan erat.
"Sial! Kloroform!."ucap Kyuhyun dalam benaknya, seiring dengan kesadarannya yang kian menipis, dan tubuhnya melemas seketika. Dan beberapa saat kemudian ia terbangun, dihadapkan dengan beberapa pria yang tengah menatap sinis ke arahnya. Masing-masing pria tersebut membawa sebongkah kayu, siap untuk menjamah tubuhnya. Dan benar saja, setelah mengetahui Kyuhyun sadar dari pingsannya, mereka serempak mengayunkan kayu-kayu itu pada tubuh Kyuhyun, hingga ia kehilangan kesadarannya untuk yang kedua kalinya.
Dan disinilah ia sekarang, di sebuah ruangan gelap dan pengap. Sendirian.
"Tidak, Kibum-ah. Kyuhyun tidak sedang bersamaku. Bukankah ia pulang denganmu?"
"Ah, begitu. Gomawo, Changmin-ah."
PIP.
Kibum menghela nafas, dalam dan lelah. Ia telah menghubungi semua sahabat adik kembarnya yang ia tahu, dan mereka semua memberikan jawaban yang sama. Kyuhyun tidak bersama mereka. Kenyataan yang ia terima semakin membuat perasaannya resah. Dan rasa bersalah itu pun semakin merayap, merasuki hatinya. Kibum tahu, ia telah melakukan kesalahan. Tak seharusnya ia menyatakan perasaannya pada Hyura jika ia tahu Kyuhyun akan mendengarnya, dan menyadari kenyataan bahwa.. Kyuhyun kembali tersakiti olehnya. Sungguh, melihat tatapan terluka dari iris mata Kyuhyun, membuatnya ingin mengubur dirinya sendiri.
Drrt.. Drrt..
Getaran ponsel digenggamannya menginterupsi Kibum yang tengah berkutat dengan pikirannya. Sebuah ID tak dikenal menghubungi ponselnya, mengundang raut bingung di wajah stoic-nya.
"Yeobosseyo..?"
"Yeobosseyo, Kibum-ssi?"
"Ne, aku Kibum." Jawabnya datar. Namun raut penasaran tergurat jelas di wajah tampannya.
"Baiklah, Kibum-ssi, aku tak akan berbasa-basi. Aku yakin saat ini kau tengah mencari adik kesayanganmu itu, hmm?" mendengar penuturan pria di seberang telepon membuat wajah Kibum mengeras. Orang ini, tahu keberadaan Kyuhyun. Dan dilihat dari nada bicaranya, pria ini bukanlah ciri seseorang yang berniat baik pada adiknya. Seketika berbagai kemungkinan buruk berputar-putar dalam pikirannya.
"Katakan dimana ia sekarang? Dimana kau menyembunyikannya, brengsek!" Kibum menggeram. Meski ia dan Kyuhyun tak pernah bisa akur, namun ketahuilah. Kibum akan menjadi orang yang paling menderita saat sesuatu buruk menimpa adik kembarnya itu.
"Wow, calm down, Kibum-ssi. Ia aman bersamaku. Kau tak perlu mengkhawatirkannya."
"Jangan bermain-main denganku! Atau kau akan menerima akibatnya." Nada suara Kibum semakin rendah, dingin. Ia tak sedang main-main.
"Haha, memang apa yang akan kau lakukan hmm? Bahkan jika aku mau, aku bisa menghabisi adikmu saat ini juga. Benar begitu, Kyuhyun-ah?"
"Mmmph...mmph!" Iris mata Kibum membulat kala ia menangkap suara erangan yang ia yakini milik adiknya, Kyuhyun.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya huh?!"
"Lebih kau tanyakan sendiri padanya, arasseo?"
"Arrh.. sialan! Apa kau tidak bisa sedikit lembut huh?.. Kibum-ah? Bum hyung.. hey,kau mendengarku?" suara Kyuhyun terdengar, membuat Kibum sedikit bernafas lega. Setidaknya, Kyuhyun terdengar baik-baik saja saat ini.
"Kyu! Segera katakan dimana kau sekarang! Kau baik-baik saja, kan?"
"Ne, nan gwenchana. Dengar Kibum-ah, apa pun yang terjadi, jangan pernah kau menuruti perintah ahjussi jelek ini! Kau mengerti?!" Kyuhyun berucap dengan tergesa.
"Apa yang kau katakan bocah bodoh?! Cepat katakan kau ada dimana sekarang!" rasa cemas yang melanda dirinya, membuat Kibum semakin kalut.
"Yak! Kau tak mendengarkanku, eoh? Aku akan baik-baik saja. Kau tahu aku bukan anak yang lemah!" nada suara Kyuhyun semakin meninggi, menandakan emosinya naik satu level lebih tinggi. Kibum merasa tertohok mendengarnya. Ia merasa, Kyuhyun masih menyimpan rasa marah padanya akibat peristiwa tadi siang. Kyuhyun masih enggan untuk bertemu dengannya, enggan melihat wajahnya. Ya, kyuhyun pasti berpikiran seperti itu, ujar Kibum dalam benaknya.
"Aku tak pernah bermaksud menganggapmu anak yang lemah, Kyu! Tolong untuk kali ini saja, kau jangan keras kepala!"
"Siapa yang keras kepala?!"
"Yak! Sekali ini saja kau dengarkan hyung-mu ini, Kyu! Kau tak tahu betapa aku mencemaskanmu, huh?"
"Ck. Sudah kubilang, kau tak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Kyuhyun masih kukuh dengan jawabannya.
"YAK! Mengapa aku bisa memiliki saudara yang keras kepala sepertimu, Kyu?!"
"Jadi kau menyesal mempunyai saudara sepertiku?"
Kibum tergagap mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Kyuhyun. Sungguh, ia yang dilanda rasa cemas, membuatnya tak bisa mengontrol kata-kata yang terucap dari bibirnya.
"Bukan seperti itu maksud~"
SRET! Tanpa aba-aba, pria yang sedari tadi menyimak percakapan kedua saudara kembar itu menjauhkan ponselnya dari Kyuhyun. Tampaknya ia mulai jengah mendengar perdebatan dua saudara itu yang tak berujung.
"Ck. Aku disini bukan untuk mendengarkan perdebatan kalian berdua yang tidak penting." Ia menyeringai ke arah Kyuhyun yang menatapnya kesal.
"Jika kau ingin bertemu dengan adikmu, datanglah ke Myungjoon. Sendirian. Jika kau beruntung, kau akan menemukannya di sebuah rumah tua yang kosong. Haha, semoga kau beruntung, bocah. Karena aku tak menjamin kau akan datang tepat waktu sebelum waktu yang sudah ku tentukan. Anyeong.."
PIP. Sambungan itu pun terputus secara sepihak. Pria itu kini menundukkan tubuhnya ke arah Kyuhyun yang masih terikat pada kursi kayu di depannya, menyeringai kecil.
"Kau dengar? Sebentar lagi kau akan bertemu dengan kakak bodohmu itu. Jadi tak perlu merasa kesepian lagi, arasseo?"
Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas. Kedua tangannya yang terikat ke belakang, diam-diam mencoba untuk melepaskan simpulnya. Kyuhyun menyeringai senang dalam hati, kala ia berhasil melepaskan simpul tali yang mengikat pergelangan tangannya. Simpul tersebut terlalu mudah baginya. Namun ia menyembunyikannya, menunggu saat yang tepat untuk bisa menyerang balik pria yang masih memasang seringaian di wajahnya.
Di saat pria itu membalikkan badannya dan mulai berjalan pelan ke arah pintu, Kyuhyun dengan gerakan cepat, bangkit dari kursinya dan menerjang punggung pria di depannya sehingga ia tersungkur di bawahnya.
BRUK!
"Argh.." Pria itu mendesis merasakan nyeri yang menerjang saat dadanya menyentuh lantai dingin di bawahnya dengan cukup keras. Kekuatan Kyuhyun memang tak bisa diremehkan.
Kyuhyun menduduki punggung pria yang tersungkur di bawahnya. Ia memiting kedua tangan pria ke belakang tubuhnya, mengundang geraman dari pria tersebut. Otot sikunya terasa nyeri.
"Bocah sialan! Beraninya kau melakukan ini padaku, huh?!"
"Tentu saja aku berani, ahjussi." Seringian Kyuhyun semakin melebar menghiasi bibirnya, sementara kedua tangannya sibuk menyimpulkan tali untuk mengikat kedua tangan pria tersebut dengan simpul yang tak mungkin bisa dilepas oleh sembarang orang. Tak lupa ia mengikat kedua kakinya, dan terakhir, membungkam mulutnya dengan lakban. Percfect!
Kyuhyun mulai membangkitkan dirinya dan menatap puas hasil pekerjaannya. Sementara pria tersebut menatap tajam ke arahnya, dengan terus menggerakkan badannya, berusaha melepaskan simpul yang mengikatnya erat. Namun usahanya sia-sia. Simpul itu justru semakin menyakitinya tiap kali ia beusaha meregangkannya.
"Anyeong, ahjussi. Aku pamit, ne?" Setelah menyelesaikan kalimatnya, dengan santai Kyuhyun melenggang menuju pintu, dan mengendap-endap untuk keluar dari bangunan gelap ini. Ia berjalan pelan menyusuri lorong yang cukup panjang sampai ia menemukan sebuah tangga yang menuju ke ruangan di bawahnya. Ia menolehkan kepalanya ke berbagai arah, mengantisipasi akan keberadaan kawanan lain dari pria yang membawanya ke tempat ini. Mungkin mereka tersebar untuk memantau keadaannya. Dan saat kakinya hampir mencapai bibir tangga, derap langkah dari arah bawah menyapa indera pendengarannya. Dengan garakan cepat, ia memutar tubuhnya, berbalik arah dan menyembunyikan dirinya di balik pilar beton yang besar. Beruntung pencahayaan yang minim di bangunan tersebut, membuatnya lebih leluasa untuk menyembunyikan dirinya.
Dua orang pria berbadan tegap itu melewati tempatnya bersembunyi. Ia sedikit menggeser tubuhnya, memutari pilar untuk menyembunyikan dirinya hingga kedua pria tersebut menjauh dari pandangannya. Setelah memastkan situasi yang aman, Kyhuyun segera melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga dengan cepat. Pintu utama ia lewati dengan mudah, ternyata tidak ada satu pun dari kawanan tersebut yang berada disana.
Kyuhyun melirik arloji yang bertengger di pergelangan tangannya. Pukul 11:34 PM.
Kibum kembali melirik GPS yang terpasang pada mobilnya. Benar, saat ini ia tengah berada di kawasan Myungjoon, seperti yang tertera pada layar GPS mobilnya. Dari dalam mobil, terlihat sebuah bangunan tua yang terlihat tak berpenghuni dengan suasana suram yang menaunginya. Instingnya mengatakan bahwa di tempat inilah Kyuhyun berada.
Kibum memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya, dengan langkah perlahan ia menuju bangunan kosong tersebut.
Brak!
Bunyi pintu terbuka dengan keras seiring dengan masuknya dua pria berbadan kekar. Niat awalnya untuk mengecek keadaan sandera mereka, Kyuhyun, runtuh seketika saat mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri, pimpinan mereka tersungkur di lantai dalam keadaan yang mengenaskan dalam posisi tangan dan kaki yang terikat serta mulutnya yang terbungkam oleh lakban hitam.
Dengan segera mereka membuka simpul yang mengikat tangan dan kaki pimpinannya, namun mereka mengalami kesulitan. Akhirnya setelah memotong tali dengan pisau lipat yang selalu mereka bawa, pimpinan mereka berhasil dibebaskan.
"Apa yang terjadi, dimana anak itu?"
"Tangkap bocah sialan itu secepatnya! Aku yakin ia belum lari terlalu jauh." Mendengar intruksi darinya, kedua pria tersebut bergegas keluar dari bangunan teresebut, menyusuri jejak sandera mereka yang berhasil meloloskan diri. Mereka akui, Kyuhyun anak yang tak bisa diremehkan. Selama ini tak ada yang bisa lolos dari penjagaannya. Mereka harus berhati-hati dalam mengambil langkah.
"Shit!" Kyuhyun semakin merapatkan pelukan pada tubuhnya sendiri, sembari merutuk dalam hati. Angin malam yang berhembus menerpa kulitnya, semakin membuatnya menggigil, kedinginan. Ia semakin merutuki keadaan tubuhnya yang saat ini tidak bisa diajak berkompromi. Apalagi saat ini ia hanya mengenakan seragam sekolahnya, pun hanya kemeja bagian dalamnya.
Langkah kakinya terlihat tergesa, ia membutuhkan tempat untuk beristirahat dan menghangatkan diri. Kyuhyun terus memaksakan langkahnya, entah kemana. Jalur kawasan yang dilaluinya terlihat sepi penduduk. Tak ada satu pun rumah penduduk yang ia temui sejauh ia melangkahkan kakinya.
Kyuhyun masih terfokus untuk menghalau pada rasa dingin yang membalut tubuhnya, saat telinganya menangkap derap langkah kaki dari arah belakangnya. Langkah kaki itu terdengar mengikutinya, ia memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Ia tolehkan kepalanya sejenak ke arah belakangnya dan mendapati kawanan yang tadi siang membawanya ke bangunan kosong itu, kembali mengejarnya. Ia menghela nafas kasar sembari terus mengajak kaki-kakinya untuk bertahan dan berlari lebih cepat. Tenaganya sudah cukup terkuras, dan ia belum mendapat asupan energi yang memenuhi.
"Berhentilah berlari, bocah kurang ajar!"
Kyuhyun tak mempedulikan teriakan lantang yang ditujukan kepadanya. Ia hanya terfokus untuk menambah kecepatannya, mengabaikan rasa dingin dan lelah yang menderanya.
"Jika kau ingin kakak bodohmu itu selamat."
Tap.
Dan kalimat yang terdengar selanjutnya mampu membuat Kyuhyun refleks menghentikan langkahnya.
To Be Continued..
Balasan review chapter 4:
Felicia Azarin : kira-kira siapa, kkkk terjawab di chapter ini... *smile*
Dida Kaginuki : iya, seperti itu... semua orang pasti punya sisi negatif kok, tenang aja.. kkkk *smirk*
Nur Maya Sari : mereka berdua emang keren, tapi aku belum :3
Nurrahmi ChoCho : nah kok bisa tahu? :3
A.N : mungkin udah pada lupa sama jalan ceritanya, tapi... just enjoy it
