Chapter 6
Setelah memastikan sekali lagi posisinya pada GPS mobilnya, Kibum memutuskan untuk mulai memasuki bangunan kosong yang masih tampak berdiri dengan kokoh di tengah terpaan sinar rembulan. Hanya bangunan itulah yang berada di sana, menguatkan keyakinannya bahwa di sinilah Kyuhyun, adik kembarnya berada saat ini. Kibum berharap ia belum terlambat.
Langkah kakinya terdengar tergesa saat Kibum mulai memasuki bangunan tersebut. Hamparan ruang dengan cahaya temaram menyambutnya, membuat Kibum harus menajamkan pandangannya. Ia menyusuri anak tangga menuju lantai dua, setelah memastikan keadaan di lantai pertama nihil. Kibum berrhenti sejenak saat kakinya mencapai ujung tangga. Ada dua lorong di sisi kanan dan kirinya, jalan mana yqang harus ia pilih? Kedua lorong tersebut tampak gelap, namun lorong sisi kanan tampak secercah cahaya di ujungnya.
Mengkuti insting tajamnya, Kibum melangkahkan kakinya menuju cahaya tersebut. Seiring langkahnya mendekat, sayup-sayup indera pendengarannya menangkap suara beberapa pria yang tengah berbicara sesuatu. Dan Kibum yakin, merekalah orang-orang yang tengah menyekap Kyuhyun. Semakin dekat, Kibum merasakan jantungnya ikut bertalu lebih cepat.
Kibum tak menyadari, sedari tadi, seseorang mengikuti langkahnya dengan gerakan yang sangat halus. Mungkin karena sudah terlatih, gerakannya menjadi sangat halus, seperti angin. Membuat siapa pun tak menyadari akan keberadaannya.
Langkah kaki Kibum terhenti di depan ruangan dengan pintu yang sudah rusak. Kenop pintu eboni itu sudah tak berbentuk. Dan suara dari seorang pria di dalamnya semakin terdengar jelas.
"Tangkap bocah sialan itu secepatnya! Aku yakin ia belum lari terlalu jauh." Kibum mengernyitkan dahinya. Suara pria tesebut terdengar tengah memendam amarahnya yang memuncak. Tunggu. Bukankah ini berarti, apa mungkin Kyuhyun berhasil kabur? Kibum harus segera memastikannya. Saat terdengar langkah kaki berlari menuju pintu, Kibum dengan cepat menyembunyikan dirinya di sisi lorong yang gelap, menahan nafasnya. Dua pria berbadan tegap berlari menuju lorong yang berlawanan arah dengannya, menjauh dari posisinya. Dan Kibum masih belum menyadari keberadaan seseorang di belakangnya, yang sejak awal mengikuti pergerakaannya sejak ia menginjakkan kakinya di bangunan tersebut. Orang itu menyeringai menatap punggung Kibum.
Setelah dua sosok pria yang berlari menghilang dari pandangannya, Kibum mulai mengikuti mereka dari belakang. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencengkeram bahu kanannya, membuatnya menolehkan kepalanya kaku. Detak jantungnya semakin berdetak hebat, mengingat mungkin saja ada sosok astral yang berkeliaran dalam bangunan kosong tersebut. Kibum menggelengkan kepalanya keras, menepis pemikiran konyol dalam kepalanya. Karena dari awal ia merasa tak ada siapa pun yang berada di belakangnya untuk mengikuti langkahnya. Namun saat ini? seseorang di belakangnya tengah mencengkeram bahu kanannya erat, membuat Kibum tanpa sadar menahan nafasnya untuk beberapa saat.
Cahaya rembulan tak banyak membantunya untuk bisa melihat sosok tersebut dengan jelas. Kibum menepis tangan sosok itu dan mundur beberapa langkah, membuat jarak dengannya.
"Siapa kau?!"
"Haha... Kau yakin ingin tahu siapa aku, anak muda?" Nada pria tersebut begitu sarkatis. Dan tanpa aba-aba, beberapa pria muncul dari belakang sosok tersebut. Masing-masing pria dari mereka mengacungkan revolver pada Kibum, siap menarik pelatuknya kapan saja.
'Sial..!' Kibum merutuk dalam hati, menyadari keadaannya tengah terkepung. Ternyata sosok pria itu adalah ketua kawanan tersebut, yang saat ini tengah mengukir senyum kemenangan ke arahnya. Kibum kembali mengambil langkah mundur, mencoba mengulur waktu sembari memutar otaknya, berusaha mencari cara untuk bisa keluar dari situasi yang kini sangat menyudutkannya. Para pemegang revolver bergerak maju lebih cepat, sementara ketua mereka melangkahkan kakinya dengan santai, seolah menikmati pertunjukkan di hadapannya.
"Mau lari kemana kau, hmm?" mendengar pertanyaan dengan nada meremehkan dari pria di hadapannya membuat Kibum menggertakkan giginya, geram terhadapnya. Saat ini prioritasnya adalah menyelematkan adiknya. Dan membicarakan tentang hubungan mereka dengan Hyura. Kibum tak ingin Kyuhyun terus-menerus salah paham, tak ingin Kyuhyun terus-menerus merasa tersakiti olehnya.
Kibum bersiap membalikan badannya dan berlari secepat mungkin saat tiba-tiba desingan peluru dengan sangat cepat melewati sisi kepalanya, mencipta gesekan udara panas yang menerpa sisi wajahnya. Kibum terpaku. Orang-orang ini, ternyata tidak main-main. Nyawanya bisa melayang dengan mudah jika posisi tubuhnya bergeser barang satu sentimeter. Kibum tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan kepalanya.
"Masih berniat untuk berlari, hmm?" Lagi. Suara pria satu itu terdengar sangat menyebalkan di telinganya. Mau tak mau, Kibum memutar tubuhnya menghadap kawanan tersebut dengan tatapan tajam dan aura yang sangat tidak bersahabat.
"Segera katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku dan adikku?!" meski tubuhnya sedikit bergetar menahan amarah yang memuncak, wajah Kibum tetap pada poker face andalannya.
Hanya seringaian yang kian nampak di wajah pria yang menjadi ketua kawanan itulah yang Kibum dapatkan sebagai jawaban.
-o0o-
Kyuhyun menenggak sisa kuah ramen pedas yang terlihat masih mengepulkan asap langsung dari cup-nya. Menjilati sudut bibirnya, dan mendesahkan kepuasan setelah merasa tubuhnya sedikit hangat. Hal tersebut mengundang tatapan sengit dari pria yang merupakan salah satu kawanan yang menahannya yang kini tengah duduk di sampingnya. Saat ini ia tengah berada dalam audy hitam yang mungkin akan membawanya menuju bangunan tempat ia ditahan sebelumnya.
-flashback-
"Berhentilah bocah kurang ajar! Jika kau ingin kakak bodohmu itu selamat." Kyuhyun yang saat itu tengah berusaha untuk berlari secepat mungkin, sontak menghentikan langkahnya mendengar kakak-nya di sebut-sebut.
"Kau pikir aku bodoh, huh? Bagaimana bisa aku mempercayai perkataanmu itu?"
"Berlagak sekali kau, bocah tengik?!" mereka tampak mulai geram akan tingkah bocah yang tampak menantang di hadapannya.
"Cih. Bisa saja kan kalian mengarang cerita agar aku masuk dalam perangkap kalian? Heh, as your wish, ahjussi.." smirk menyebalkan yang tersemat di bibir Kyuhyun melengkapi kalimatnya. Menghasilkan tatapan geram di wajah mereka. Salah satu dari kawanan itu menyerahkan sebuah ponsel pada pria yang berada paling depan, setelah kemudian mulai menyeringai ke arah Kyuhyun yang menatapnya datar.
"Ku pastikan kau akan menyesal jika tak menyerahkan dirimu, bocah!" Kyuhyun menatap ponsel yang disodorkan pada mukanya. Melirik intens pada pria botak yang masih memasang seringai di wajahnya, Kyuhyun akhirnya mengambil ponsel hitam itu dan mulai mendekatkannya ke telinganya.
Keheningan sempat terjadi selama beberapa menit, menciptakan guratan jengah pada dahi Kyuhyun. Ia mengalihkan atensinya pada pria yang tadi menyerahkan ponsel padanya dan menatapnya tajam.
"Kau mencoba membodohiku, ahjussi?"
Tangan pria botak itu dengan cepat meraih ponsel di tangan Kyuhyun dan mulai memaki seorang di seberang telepon. "Yak! Suruh dia mengeluarkan suaranya!"
-o0o-
Kibum tetap memilih untuk membungkam mulutnya, enggan mengeluarkan suaranya barang sedikit pun. Iris hitamnya yang tajam menatap intens pada pria yang menjadi ketua kawanan itu.
"Heh. Kau masih keras kepala rupanya."
Tentu saja. Kibum tak ingin menyakiti adiknya lebih jauh lagi. Saat ini ia tengah ditahan, dan seseorang memaksanya berbicara pada Kyuhyun agar ia mau mengikuti perintahnya, datang ke tempat pengap ini untuk menemaninya di tahan. Tentu saja Kibum menolak, baru beberapa saat lalu adiknya berada dalam posisinya saat ini. Anak itu pasti sangat menderita. Dan kini, karena kecerobohannya, justru dirinya lah yang kini tengah dalam bahaya.
Akan tetapi, tampaknya Kibum tak ambil pusing akan keadaannya. Ia tak mempermasalahkan akan dirinya yang kini tengah terancam nyawanya –mungkin? Bisa saja bukan, kawanan tersebut sewaktu-waktu membunuhnya, mengingat peluru yang beberapa saat lalu melesat di samping kepalanya.
Kibum hanya memikirkan Kyuhyun. Hanya keselamatan Kyuhyun yang ada dalam prioritasnya. Dan jika ia menuruti perintah para pria berwajah sangar di hadapannya untuk membuka suaranya, bisa dipastikan Kyuhyun tanpa pikir panjang akan menemuinya disini dan berakhir dengan keduanya yang berada dalam posisi berbahaya. Ia lebih memilih untuk berada dalam posisi ini seorang diri, sembari memikirkan cara untuk bisa lolos dari tempat terkutuk ini.
PLAK!
Tamparan keras di pipi kirinya membuat Kibum mengerang secara tak sadar. Ia membulatkan matanya saat suara Kyuhyun di seberang sana meneriakkan namanya. Nada khawatir tersirat dengan jelas di antara suaranya. Argh.. ia menggeram kesal. Pasti saat ini Kyuhyun akan memaksa kawanan yang tengah bersamanya untuk segera menuju bangunan ini. Sial, sial sial! Kibum merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan suara erangan kesakitannya.
"Haha, anak pintar. Cepat temui kakakmu yang kesepian ini, arasseo?" nada suaranya terdengar seperti seorang ayah yang tengah memberi nasehat pada putra kebanggaannya. Membuat Kibum mendecih ke arahnya.
PIP. Segera ia mematikan ponsel setelah puas dengan jawaban yang Kyuhyun berikan. Dan menghadiahkan tataapan mengejek pada Kibum yang balik menatapnya tajam.
Kibum, kini tak ada yang menyelubungi kepalanya kecuali rasa cemasnya akan Kyuhyun.
"Forgive me, my lil'brother.." lirih Kibum seraya memejamkan mata lelahnya.
-o0o-
Kyuhyun kembali menatap kesal pada kawanan pria yang tengah menyunggingkan senyum kemenangan di wajah-wajah tua mereka yang menambah kadar kekesalan Kyuhyun. Ia tak menyangka, Kibum, kakak jeniusnya, bisa tertangkap oleh kawanan itu. Awalnya ia menyangka mereka tengah mengarang cerita untuk membohonginya, tapi setelah mendengar suara Kibum –walau hanya sebuah erangan tertahan, Kyuhyun tak bisa menyembunyikan perasaan cemasnya.
Yah, meskipun mereka tak bisa bersatu dalam hal apa pun –kecuali saat menyelesaikan sebuah kasus, Kyuhyun tetaplah seorang saudara kembar, adik yang menyayangi kakak kembarnya. Ia tetap seorang adik tampan yang baik hati, meski Kibum selalu merebut cintanya –ini dalam pandangan Kyuhyun, ia tak akan tinggal diam melihat kakaknya dalam bahaya. Meski ia akan tetap akan melanjutkan sikap kesalnya pada Kibum karena telah merebut cintanya setelah ia menyelamatkan Kibum nanti. Kyuhyun menganggukkan kepalanya, menyetujui pemikirannya sendiri.
"Arasseo. Aku akan ikut dengan kalian, dengan satu syarat." Seruan Kyuhyun membuahkan tatapan tak mengerti dari para ahjussi itu.
"Kau terlalu banyak mau, bocah tengik!"
"Yak! Kalian tak melihatku menggigil kedinginan? Dan perlu kalian ketahui bahwa belum ada sedikit pun asupan yang masuk dalam tubuhku sejak tadi siang. Perutku meronta-ronta dengan brutal sejak tadi. Bagaimana jika aku mati kelaparan dan hipotermua, huh?!" Sebuah keajaiban Kyuhyun berhasil mengucapkannya dalam satu tarikan nafas. Sementara para pria itu masih dalam masa transisi setelah mendengar ucapan ekspress dari bocah pucat di hadapannya.
"Belikan aku ramen lebih dulu! Baru aku mau ikut dengan kalian." Dan Kyuhyun tetaplah seorang bocah yang benar-benar kurang peka dengan keadaan. Bagaimana bisa ia meminta ramen –pada penjahat? Namun tampaknya rasa laparnya telah mengalahkan segalanya.
"Huh. Apa peduli kami? Tugas kami hanya menyeretmu pada kakak bodohmu itu. Mana bodoh dengan rasa laparmu itu!" Kyuhyun hanya menyeringai mendengar kalimat itu, meski dalam hati ia merutuk pria-pria tua di hadapannya.
"Jinjja? Bagaimana jika aku mati dalam perjalanan, hmm?" katakan Kyuhyun sudah tak waras. Apa yang diucapkannya benar-benar jauh dari logika. Sangat bukan dirinya.
"Sudahlah, turuti saja apa maunya. Agar tugas kita cepat selesai." Ucap salah seorang dari mereka. Kyuhyun mengangguk-anggukan kepalanya senang. Saat ini tubuhnya memang sangat memerlukan asupan, selain hawa dingin yang menusuk kulit hingga tulangnya. Dan lagi, lebam yang ada di sekujur tubuhnya akibat perbuatan mereka. Masalah ia yang kemungkinan besar akan kembali ditahan, setidaknya kali ini ia tidak sendirian. Ada Kibum, kakak kembarnya yang bisa ia ajak untuk memikirkan cara untuk lolos bersama-sama. Haha, brilian, kan?
-o0o-
BRUK!
Kibum tersentak dari lelapnya kala suara berdebum di lantai sisi kanannya menyapa indera pendengarannya. Dan suara erangan dari Kyuhyun terdengar menyusul setelahnya. Dengan cepat ia membuka matanya dan menemukan Kyuhyun dalam keadaan tersungkur namun matanya menatap tajam pada pria tua –botak yang tadi menjatuhkannya.
"Kyu!" menderngar seruan Kibum, Kyuhyun mengalihkan atensinya pada kakak kembarnya yang tengah duduk menyandar pada dinding kusam dengan cat yang telah terkelupas di sana- sini.
"Boss kami sedang berbaik hati. Kalian berdua diberi waktu untuk meratapi nasib kalian bersama sebelum waktunya tiba." Setelahnya, terdengar suara langkah kaki yang keluar dari ruangan, dan bunyi pintu yang di kunci sebagai penutupnya.
"Kyuhyun–ah, gwenchana?" Kibum meringis mendapati wajah dan tubuh Kyuhyun yang dihiasi oleh lebam-lebam yang mulai membiru. Adiknya itu, pasti telah melewati saat-saat penyiksaan yang mengerikan, dan bodohnya ia tak ada di sampingnya. "Kau pasti sangat kesakitan."
Kyuhyun mengernyitkan dahinya. "Hey, nan gwenchana. Ini hanya luka kecil." Kyuhyun berujar, dengan nada datarnya. Dan Kibum menangkapnya sebagai tanda bahwa adik kembarnya itu masih kesal, marah terhadapnya –karena kejadian di taman tadi siang.
"Maafkan hyung, Kyuhyun-ah.." Kyuhyun sedikit mendelik pada Kibum yang kini tengah memandang lurus ke arah pintu ruangan.. Hey, ada apa dengan anak ini? Kyuhyun bertanya dalam benaknya. Untuk apa ia meminta maaf? Lagipula –ia hanya mengalami luka ringan. Bahkan ia beberapa kali mendapati butir peluru yang mendarat di tubuhnya.
"Wae?" hanya kata itu yang Kyuhyun pikirkan.
"Aku yakin kau masih menyimpan rasa marah padaku karena kejadian tadi siang, bukan?" Kibum mengeluarkan frase, masih dengan pandangan lurusnya.
Kyuhyun sedikit melirik Kibum lewat ekor matanya. Kini ia ikut menyenderkan tubuh lelahnya pada dinding di belakangnya, tepat di sisi kiri Kibum.
"Oh.. Itu-
"Kau langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku lebih dulu. Kau melanggar prinsip sebagai seorang detektif." Kalimat kedua Kibum maksudkan untuk menjadi lelucon. Dan Kyuhyun tertawa kecil menanggapinya.
"Kyuhyun-ah, kumohon dengarkan aku kali ini saja." Kibum meraih kedua bahu Kyuhyun, menghadapkan Kyuhyun padanya. Iris kelamnya menyelami iris cokelat madu milik adiknya.
"Aku sama sekali tak bermaksud untuk kembali menyakitimu. Sungguh. Saat dulu Jiyoung yang kau cintai itu ternyata justru menyatakan cintanya padaku, aku sungguh tak menginginkannya. Kau pasti paham apa yang aku maksudkan, bukan?" tatapan intens dari Kibum membuat Kyuhyun mau tak mau mengalihkan atensinya ke arah hal yang lain.
"Begitu juga dengan Hyura. Memang benar –aku masih menyimpannya dalam hatiku, hingga saat ini." pernyataan Kibum membuat Kyuhyun kembali memusatkan atensinya ada kakak kembarnya yang masih persisten menatapnya dengan intens.
"Masih –hingga saat ini?" lirih Kyuhyun, ia tak mengerti –belum sepenuhnya paham akan pengakuan Kibum.
Kibum menghela nafas pendek sebelum melanjutkan penjelasannya. "Yah, masih –hingga saat ini. Hyura adalah cinta pertamaku."
Iris mata Kyuhyun sedikit melebar mendengarnya. Hyura –gadis yang ia cintai itu, cinta pertama Kibum? Bagaimana bisa? Dirinya yang selama delapan belas tahun hidup bersama Kibum, bagaimna tidak mengetahui hal semacam ini? Ia merasa –dirinya adalah seorang saudar kembar yang sangat tidak perhatian padanya. Sosok Kibum yang selama ini ia kenal, adalah sosok dingin dan introvert yang tak peduli akan sekitarnya. Lagipula, ia dan Kibum tak ada waktu untuk berengkerama, karena tiap interaksi yang terjadi di antara keduanya hanya akan berakhir dengan pertengkaran kecil yang seringkali di sebabkan oleh si bungsu, Kyuhyun.
"Kami telah mengikrarkan sebuah janji, yah –janji antara dua bocah berusia lima belas tahun yang kekanakan." Kibum terkekeh kecil di akhir kalimatnya. Sementara Kyuhyun masih membungkam mulutnya, menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut kakaknya.
"Saat itu kami berada di tingkat akhir junior high school, dan kami harus berpisah saat keluarga Hyura memutuskan untuk pindah sementara ke Jepang. Saat itu kami adalah remaja yang baru merasakan betapa indahnya jatuh cinta. Maka tanpa ragu, kami pun mengikrarkan sebuah janji. Sebuah janji yang menyatakan bahwa suatu saat dia akan kembali, dengan tetap menjadi Hyura –ku dan hingga saat itu tiba, aku akan menunggunya sebagai Kibum –nya." Kibum melirik Kyuhyun yang masih saja menundukkan kepalanya, mengamati lantai berdebu yang dingin di bawahnya.
"Dan saat itu pun tiba. Ia kembali padaku. Namun, kenyataan yang ada membuatku ragu. Aku memang masih mencintainya –sangat. Tapi, melihatmu yang begitu tulus mencintainya.. apa yang harus aku lakukan, Kyuhyun –ah?"
Kyuhyun menghela nafas dalam-dalam. Mendengar penrnyataan dari Kibum, membuat hati Kyuhyun merasa tertohok. Sakit, sakit di dalam sana. Ia merasa dirinya sedikit egois. Ingat, hanya sedikit. Kyuhyun tetaplah seorang yang memiliki gengsi setinggi langit untuk mengakui perasaannya. Namun, salahkah ia jika mencintai seorang Hyura yang kini ia ketahui, adalah cinta pertama kakak kembarnya sendiri? Salahkah jika perasaan itu tumbuh dalam hatinya? Ia tak bisa memilih perasaan cinta yang akan tumbuh di hatinya dan akan melabuhkannya pada siapa.
"Entahlah, tak ada yang bisa kupikirkan saat ini." akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.
Kibum kembali menghela nafas, ia mengerti. Kyuhyun pasti tengah merasakan keraguan yang sama dengannya. Terlihat dari pancaran mata Kyuhyun yang tidak akan bisa membohonginya. Ia tahu adiknya pasti merasa bersalah padanya, tapi ia enggan untuk mengakuinya. Ia sungguh paham akan sifat Kyuhyun yang satu itu.
"Baiklah. Satu hal pasti yang perlu kau tahu, Kyu. Aku menyayangimu." Kyuhyun menolehkan atensinya pada Kibum yang tengah menyunnggingkan senyuman tipis di wajahnya. Hati Kyuhyun bergetar melihatnya, senyuman Kibum terasa begitu tulus. Ia menjadi semakin merasa bersalah saat ini.
"Ki-Kibum hyung.."aissh, mengapa dirinya menjadi gugup? Kyuhyun berujar dalam benaknya. Pasti kini ia terlihat bodoh di depan mata Kibum.
"Ne?"
"Aku.. aku meminta maaf." Kibum tersenyum kecil mendengarnya. Ini sangat jarang terjadi. Seorang Cho Kyuhyun yang meminta maaf padanya.
"Maafkan aku. Sungguh, selama ini aku tak tahu jika Hyura adalah cinta pertamamu, seseorang yang berharga di hatimu. Kau memang menyakitiku lagi –untuk kedua kalinya. Kau ingat?" dan Kibum tak bisa menahan kekehannya. Ia terkekeh mendengar pengakuan Kyuhyun yang seharusnya terdengar melankolis, namun entah mengapa justru hal itu merupakan seseuatu yang cukup lucu di matanya.
"Yak! Jangan menertawakanku!" Kyuhyun mendelik kesal pada Kibum. Padahal tadi ia mengatakan hal dengan serius, namun justru Kibum menyambutnya dengan suara tawanya yang jarang ia perlihatkan.
"Tapi ini juga bukan sepenuhnya salahku. Aku tak akan menganggapmu merebut Hyura ku jika sejak awal kau berterus terang padaku. Jadi dalam hal ini, kau juga ikut bersalah karena tak memberitahuku hal yang sebenarnya." Kibum masih menyunggingkan senyuman manisnya –yang terlihat semakin menyebalkan di mata Kyuhyun.
"Aku mengerti, Kyu. Jadi kali ini maafkan ak-
"Yak! Jangan terus-menerus meminta maaf! Kau membuatku menjadi semakin merasa bersalah saja!" seru Kyuhyun, menginterupsi kalimat Kibum. Yang di sisi lain juga tengah mengalihkan perhatian. Ia hanya tak ingin rasa bersalahnya semakin menjadi saat mendengar permintaan maaf dari Kibum.
Kibum kembali tersenyum kecil. "Tapi tetap saja Kyu, kalau saja aku memberitahu hal yang sebenarnya padamu, kau tak akan –
"YAK! Aku bilang berhenti meminta maaf, Cho Kibum!"
"Haaha, arasseo, nae dongsaengie..."
Kyuhyun menggerutu mendengar panggilan manis dari kakak kembarnya yang terasa begitu aneh menyapa indera penglihatannya. Merasa kesal, ia pun menghentakkan ujung kakinya pada lantai di bawahnya dan mendengar suara aneh setelahnya.
Kyuhyun menolehkan kepalanya pada Kibum, mencoba memberitahu lewat tatapan matanya. Kibum yang mengerti maksud Kyuhyun, segera memeriksa bagian lantai yang tadi mengeluarkan bunyi aneh. Kini ia berjongkok dan mengetuk lantai itu dengan tangannya.
Duk. Duk.
Sepertinya ada ruang kosong di balik lantai tempatnya berpijak saat ini. Ia mulai meraba-raba lantai itu dan akhirnya menemukan sesuatu yang membuatnya mengukir smirk andalannya. Kyuhyun yang melihatnya, ikut menyunggingkan smirk yang tak kalah berbahaya dengannya.
Kibum membuka bagian lantai tersebut dan menemukan ruang kosong sekitar 1x1 meter di bawahnya. Sepertinya ruang ini memang digunakan untuk tempat persembunyian. Meski tak mengerti untuk apa pembangun bangunan ini menempatkan ruang persembunyian di dalamnya, tapi Kibum bersyukur akan hal ini.
"Kyu, kau bersembunyilah di dalam sini. Aku akan mengalihkan perhatian mereka saat mereka datang nanti."
"Apa yang kau pikirkan?! Mana mungkin aku membiarkanmu begitu saja sedangkan kau menghadapi mereka sendirian? Kau pikir aku ini anak lemah yang harus selalu kau lindungi?" Kyuhyun merasa kesal akan perilaku Kibum. Mengapa orang itu tak pernah memikikan dirinya sendiri?
"Dengar, Kyu. Kau percaya padaku, bukan?" Kibum menatap lurus ke arah iris Kyuhyun.
"Saat mereka datang, aku akan menunggunya dibalik pintu dan segera menyerang mereka dengan cepat untuk merebut senjata mereka. Setelah mereka berhasil aku lumpuhkan, kau keluarlah dari persembunyianmu dan keluar dari sini bersamaku. Arasseo?"
"Mengapa aku tak ikut bersamamu menyerang mereka? Aku juga bisa merebut senjata mereka bersamamu. Bukankah itu akan lebih baik?"
"Tidak, Kyu, itu akan lebih beresiko."
"Yak! Akan lebih beresiko jika kau menyerang mereka sendirian. Bagaimana jika kau gagal melumpuhkan mereka dan justru mereka melakukan serangan balik terhadapmu? Ingat, kau sendirian. Setidaknya jika ada aku, kita bisa melawan mereka bersama-sama."
Kibum tersenyum penuh arti. "Setidaknya, jika aku gagal melumpuhkan mereka, kau akan tetap aman selama kau berada dalam persembunyianmu. Dan kau bisa melarikan diri setelah situasi aman dan meminta bantuan di luar sana untuk menolongku disini. Bisakah kau melakukan itu untukku, Kyuhyun-ah?"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya keras. Tidak. Ia tak bisa melakukannya. Ini kini sadar akan suatu hal. Kibum, kakak kembarnya itu –selalu menomorsatukan keadaan Kyuhyun daripada dirinya sendiri. Ia bahkan rela bertaruh dengan dirinya sendiri dan mengambil resiko yang berbahaya hanya untuk memastikan dirinya dalam keadaan aman dan selamat. Sungguh, sikap Kibum yang seperti inilah yang membuat Kyuhyun menjadi semakin merasa bersalah padanya. Ia tahu, Kibum memang menyayanginya –meski selama ini mereka tak pernah bisa akur. Tapi saat ini –ah Kyuhyun tak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkannya.
"Kyu, Kyuhyun-ah dengarkan hyung." Kibum mencengkeram kedua bahu Kyuhyun lembut. Mencoba memberi pengertian padanya. "Hyung tahu ini memang sulit bagimu. Tapi percayalah padaku, aku akan baik-baik saja dan kita akan keluar dari sini bersama, ara?"
Tubuh Kibum tersentak saat Kyuhyun menerjang tubuhnya dan memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya pada bahu kirinya. Dapat ia rasakan betapa eratnya pelukan Kyuhyun di tubuhnya, seakan menyalurkan perasaannya melalui bahaasa tubuhnya. Tak lama setelahnya, ia merasa bahunya basah yang ia yakin, Kyuhyun diam-diam menangis untuknya.
"Ssh, uljima, Kyu.. aku yakin kau pasti bisa melakukannya." Ucapnya pelan. Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap punggung dan kepala Kyuhyun, mencoba memberi gurat ketenangan pada tubuh yang bergetar dalam pelukannya. Meski tak bisa dipungkiri, dirinya pun tengah menahan air matanya untuk tidak turun dari tempatnya.
Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon, dan Kibum tersenyum lega karenanya. Ia tahu, Kyuhyun juga sangat menyayangi dirinya seperti ia menyayangi Kyuhyun. Kedua saudara kembar itu memang saling menyayangi, meski memiliki cara yang berbeda untuk menyalurkan bentuk kasih sayangnya.
Kibum terkekeh melihat wajah Kyuhyun yang memerah karena air mata. Jemarinya menghapus sisa-sia air mata yang membekas di wajah Kyuhyun dengan lembut, dan mengusap surai eboni adiknya dengan sayang, menimbulkan rasa nyaman bagi Kyuhyun. Kyuhyun memejamkan matanya, meresapi tiap sentuhan yang Kibum berikan padanya.
"Gomawo, Kibum-ah." Ujarnya seraya tersenyum kecil. Kibum membalasnya dengan anggukkan kecil di kepalanya dan senyum kecil yang tersemat di bibirnya.
"Ne, cepatlah masuk ke dalam sini sebelum mereka datang."
Kyuhyun bergegas masuk ke dalam ruangan kecil di bawahnya. Ia harus mendudukkan dirinya mengingat luas ruangan itu hanya sekitar 1x1 meter. Dan sebelum Kibum menutupnya, Kyuhyun kembali menahannya.
"Aku tak akan bisa memaafkanmu jika sesuatu terjadi padamu, Kibum-ah."
"Arasseo. Aku akan baik-baik saja."
Bruk. Dan ruangan persembunyian itu tertutup dengan sempurna. Kini Kibum hanya tinggal menunggu kawanan itu datang dan ia akan memulai aksinya. Setidaknya, ia merasa tenang karena Kyuhyun akan aman di tempat persembunyiannya. Dan tak khawatir jika adiknya kembali terluka. Namun satu hal yang tak ia sadari bahwa –terdapat penyadap suara di ruangan tempatnya berada saat ini. Ia tak tahu, kawanan yang menahannya kini tengah memantau keadaannya dan tentu saja –mengetahui apa saja yang ia bicarakan dengan Kyuhyun. Dan yang terlebih penting, mereka semua –mengetahui rencananya.
-o0o-
Ini sudah lebih dari 20 menit sejak Kyuhyun berada dalam persembunyiannya. Ia duduk sembari menekuk kedua lututnya di depan dada dan terus berharap agar Kibum berhasil dengan rencananya. Belum ada tanda-tanda akan kedatangan kawanan itu dan hal ini membuat Kyuhyun semakin merasakan cemas yang melanda hatinya.
Brak!
Suara pintu yang terbuka sayup-sayup terdengar oleh Kyuhyun. Ia segera menegakkan tubuhnya dan mempertajam pendengarannya. Bisa ia dengar samar-samar Kibum yang tengah menyerang kawanan itu dan berusaha merebut senjata dari mereka. Buliran keringat berjatuhan di pelipis Kyuhyun, menunggu kepastian dari kakak kembarnya.
Kyuhyun tersentak saat penutup ruang persembunyiannya di buka secara tiba-tiba dan moncong revolver yang mengarah tepat di dahinya. Kyuhyun terpaku dalam duduknya. Iris matanya melebar dan nafasnya tercekat. Ia melirik Kibum, kakaknya yang kini terlihat dalam kukungan seorang pria botak. Mulutnya kelu untuk sekedar mengeluarkan suaranya.
Klek.
Kyuhyun semakin menatap horor pada ketua dari kawanan itu yang kini tengah mengacungkan revolvernya, siap menarik pelatuknya kapan pun ia mau. Jemari telunjuknya bergerak perlahan menarik pelatuk revolver dalam gengamannya. Melihatnya, Kyuhyun semakin menahan nafasnya. Jika pria ini berhasil menarik pelatuk itu, tamatlah riwayatnya. Ia kembali mengalihkan atensinya pada Kibum yang masih berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria di belakang tubuhnya.
Seolah mendapat kekuatan baru, Kibum menyikut perut pria itu dan berbalik dengan cepat untuk melayangkan tendangannya pada kepala botak itu. Kemudian berlari secepat yang ia mampu ke arah Kyuhyun yang masih menatapnya dengan cemas. Pasti adiknya itu tengah merasakan ketakutan yang sangat besar. Kibum tak bisa membiarkan hal ini.
"Kyuhyun-ah.. andwae!"
Klek.
Dan Kyuhyun hanya bisa memejamkan matanya erat, menanti hal yang akan terjadi padanya.
To be continued...
Balasan review :
lydiasimatupang2301 (ch 4) : wah maaf, typo yah ? *nyengir* dan untuk update cepat aku ngga bisa janji.. tugas kuliah seolah ngga membiarkanku untuk sekedar bernafas *hiks* aku Cuma bisa janji bakal nulis ini hingga akhir.. ok dear ;)
jihyunelf (ch 4) : untung aja baru 'hampir' lupa yah, belum lupa *nyengir* makasih masih mau nunggu fanfic ini ;)
choi yewon11 (ch 4) : nado anyeong^^ jangan takut, dia udah biasa patah hati kok *smirk*
entik hale (ch 1, 2, 3) : thanks udah mau ngikutin cerita ini dan review ;) terus ikuti hingga akhir yah *hug*
Awaelfkyu13 (ch 5) : iya, nasib Kyuhyun.. suka sama seseorang tapi malah belok ke kakak kembarnya sendiri kekekee *smirk* he'em, Kibum sayang banget sama adeknya jadi ya... kita liat aja nanti ;)
lydiasimatupang2301 (ch 5) :
jihyunelf (ch 5) : kekekee... iya nih, gimana dong? Bahaya mennghampiri mereka silih berganti *nyengir* wah aku perhatiin, jihyun review fanfic ini di tiap chapternya.. thank you so much, dear ;) review dari kalian membuat cerita ini terasa berharga, yah meski Cuma sedikit.. aku sangat menghargai kalian yang udah mau review di tiap chapternya, jadi aku bisa tahu apa yang reader rasakan di tiap chapternya. Well, thanks again ;)
Evilkyu Vee (ch 5) : hy juga.. *ikut tebar bunga* untuk masalah itu, akan terjawab sebentar lagi *smirk* kita lihat apakah hipotesa-mu ada yang tepat? Xixixixi..
Hyunhua (ch 5) : iya, kebawa emosi jadi salah paham dia -_- pertanyaanmu akan segera terjawab, dear ;)
What's on your mind? Just say it on the review box. Thank you, everyone! ^^
With love, Little Evil
