Tittle : "Mystery of The Twins"
Author: Little Evil
Genre : Mystery, Romance
Main Cast (s) :
Cho Kyuhyun (SJ)
Kim Kibum as Cho Kibum (SJ)
Park Hyura (OC)
Lee Min Young (OC)
Other Cast (s) :
Choi Donghyun (OC)
Lee Sikyung (OC)
Kim Jisung (OC)
SJ Member
Length: Series
Rated : T
Facebook : Iffah Pevensie
Twitter : iffah_MUFC19
Blog : Little Evil ( .com)
Disclaimer :
Some scene (s) are inspired by series but the plot (s) are absolutely mine.
Warning : Be aware of typo (s), ne? xD
Summary :
Kisah dua saudara kembar yang tak pernah bisa bersatu, namun secara tak sadar akan sangat kompak saat berhadapan dengan suatu kasus. Lalu bagaimana jika keduanya melabuhkan hati pada gadis yang sama?
Chapter 7
Klek.
Seiring suara revoler yang siap memuntahkan pelurunya, indera pendengaran Kyuhyun menangkap derap kaki Kibum yang berusaha berlari ke arahnya. Namun ia tak kuasa membuka mata, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hingga detik berikutnya, pria yang tengah mengarahkan fokusnya tepat di dahi Kyuhyun menyeringai penuh kemenangan. Perlahan, jari telunjuknya menarik pelatuk revolver di genggamannya, dan-
"Kyuhyuuun-ah...!"
Lengkingan teriakan Kibum menggema di ruangan itu. Kibum menghentikan larinya, tatkala melihat adik kembarnya terlihat pasrah dengan keadaan yang dihadapinya. Nafas Kibum tercekat, dadanya naik-turun menahan gejolak emosi yang membuncah. Jika dirinya yang ada di posisi Kyuhyun saat ini, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengannya. Hey, apa yang ada di pikiranmu saat moncong revolver tepat berada di dahimu selain kemungkinan terburuk yang akan terjadi? Otak jeniusnya pun seketika tak dapat berfungsi dengan semestinya. Namun, Kibum mendapati ada sesuatu yang ganjal disini. Dan ia sukses membulatkan kedua matanya melihat panorama di hadapannya.
"Kyu- Kyuhyun-ah?!" panggilnya terbata.
-o0o-
Kyuhyun makin memejamkan matanya erat saat mendengar teriakkan dari Kibum. Dalam hati ia tengah mengingat-ingat apa yang telah ia lakukan selama delapan belas tahun hidupnya di dunia. Apakah ia termasuk anak yang baik sehingga Tuhan akan memanggilnya saat ini? Selama ini ia hanya mengingat perdebatannya dengan Kibum. Meski beberapa saat yang lalu ia akhirnya menyadari betapa kakak kembarnya itu menyayanginya. Dan, senyuman kecil terpatri di bibir Kyuhyun. Setidaknya, jika ia mati hari ini, ia tak perlu menjadi arwah penasaran yang akan terus merasakan penyesalan lantaran belum sempat meminta maaf pada Kibum hyung-nya. Dan ia-
PLOP!
Pergulatan pikiran Kyuhyun yang makin tak masuk akal itu harus terhenti kala sesuatu yang terasa lentur menempel di dahinya dengan keras. Cukup untuk membuatnya meringis sakit. Tapi, bukankah seharusnya peluru revolver yang bersarang di dahinya? Mengapa sekarang..
Jemari kanan Kyuhyun bergerak untuk mengambil sesuatu yang masih menempel erat di dahinya. Ini semacam anak panah kecil yang ujungnya terbuat dari lembaran karet. Yang biasa dijadikan amunisi pada pistol mainan anak-anak. Tunggu. Pistol mainan?
Kyuhyun akhirnya tersadar dengan keanehan yang terjadi saat ini. Ia mengalihkan atensinya pada pria di hadapannya dan Kibum yang mematung di tempatnya berdiri.
"Kyu-Kyuhyun-ah?" panggil Kibum terbata, terselip nada tak percaya di kalimatnya. Bayangan kemungkinan terburuk yang menimpa adiknya lenyap seketika. Dengan segera ia memerintahkan kakinya untuk melihat keadaan adiknya.
"Kibum-hyung? Apa yang sebenarnya terjadi?" Kyuhyun pun masih tak mengerti akan situasi ini. Hingga terdengar suara kekehan pelan dari pria yang masih menggenggam revolver dengan posisi jongkoknya. Kyuhyun yang masih berada dalam ruangan 1x1 meter tempat persembunyiannya itu mengernyitkan dahinya. Ia menatap pria itu dengan pandangan menyelidik.
"Kibum –hyung? Ah, kau ternyata bisa menjadi adik yang manis juga, ya, Kyuhyun –ah?"
DEG.
Kyuhyun dan Kibum mengerjap tak percaya secara bersamaan. Suara ini, bukankah terdengar seperti suara ayahnya? Namun pria di depannya ini jelas-jelas bukan ayah mereka. Tak mereka sadari bahwa sedari tadi kawanan itu telah meninggalkan ruangan. Kini hanya tersisa tiga orang di ruangan itu.
"Sebenarnya siapa dirimu dan apa maksud dari semua ini?" Kibum menginterupsi dengan nada yang tedengar tak bersahabat.
"Aigoo, kalian berdua masih tak mengenaliku?" pernyataan pria itu membuat Cho bersaudara saling melempar pandangan.
"Apa kau –appa?" Kyuhyun bertanya dengan ragu, membuat pria itu menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar.
"Menurutmu?" ujarnya dengan mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun di bawahnya.
"YAK! Jangan bermain-main, ahjussi..!" Kyuhyun mulai kesal dibuatnya.
Sreeett... perlahan, pria itu mulai melepaskan topeng kulit yang melekat erat diwajahnya, mulai dari bagian leher. Kibum dan Kyuhyun memperhatikannya dengan sekasama.
Sret! Dan sosok botak itu kini berubah total. Tampaklah wajah dari sosok yang begitu mereka kenal. Ia juga telah melepaskan alat kecil untuk mengubah suara yang tersemat di bagian dalam kerah lehernya.
"Ap-Appa?!"
-o0o-
Hening sesaat. Baik Kibum maupun Kyuhyun masih menatap tak percaya pada sosok ayah mereka yang kini memberikan senyuman lebarnya. Keduanya masih berkelut dengan pikirannya masing-masing. Jadi, ayah mereka ada di balik semua ini? Bagaimana bisa? Dan apa maksud dari semua ini? Bahkan mereka mengalami penyiksaan yang tak bisa dikategorikan kecil.
"Ini benar-benar appa.. apa kalian mendadak hilang ingatan, huh?"
"Ta-tapi, ini semua.."
"Ya. Kau benar, Kyu.. ini semua rencana appa. Bagaimana, kalian menyukainya?" jawab Tuan Cho masih dengan senyuman penuh arti yang tersisip di bibirnya.
"Apa maksudmu, appa? Kau lihat keadaan Kyuhyun? Bagaimana kau bisa mengatakan kami menyukainya?" Kibum tampak tak terima dengan pernyataan yang dilontarkan ayahnya. Adiknya terluka dan ayahnya mengatakan ia akan menyukainya? Don't be insane!
"Maaf untuk itu, ne, Kyuhyun –ah? Anak buah appa sepertinya terlalu menghayati perannya." Ujar Tuan Cho tanpa beban. Membuat Kyuhyun mengerjap tak percaya.
"Appa!" Kyuhyun mulai kesal juga. Ia belum mampu menangkap pesan apa yang coba ayahnya sampaikan.
"Ne, Kyu? Sama-sama."
"Mwo?"Kyuhyun semakin tak mengerti.
"Haha...baiklah, baiklah, appa akan menjelaskan semuanya. Jadi, siapkan telinga kalian baik-baik, arasseo?" Tuan Cho akhirnya tak bisa menahan tawanya melihat raut muka kedua putranya. Apalagi si sulung Kibum yang menatapnya tajam, penuh dengan tuntutan seolah tatapan itu bisa membuat lubang tak kasat mata di kepalanya.
"Awalnya eomma kalian memang menolak ide appa untuk melakukan ini semua. Tapi dengan terus meyakinkannya bahwa ini semua untuk kebaikan kalian berdua, akhirnya ia pun setuju." Tuan Cho memulai penjelasannya.
"Eomma? Jadi eomma juga sudah tahu sebelumnya?"
"Ne, Kibum –ah. Saat kau pulang sorang diri dan eomma menanyakan Kyuhyun. Itu semua bagian dari rencana kami. Dan, ah- istriku memang pandai berakting. Haha.." Tuan Cho menghentikan tawanya ketika tak ada respon berarti yang ditunjukkan oleh kedua putra kembarnya. Jelas mereka masih menuntut penjelasan lebih darinya.
"Appa melakukan semua ini bukannya tanpa alasan. Appa dan eomma tahu hubungan kalian selama ini memang bisa dibilang kurang baik. Dan kami pun tahu, sebenarnya kalian saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Tapi sayangnya kalian tak menyadarinya. Untuk itu kami ingin membuat kalian berdua sadar akan hal itu."
"Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini, appa?" Kibum menginterupsi.
"Kalian berdua berinteraksi tak lebih dari sekedar bertengkar, bukan? Dan kalian hanya akan kompak saat tengah menangani sebuah kasus. Jadi ya, inilah yang muncul di pikiran appa."dalam hati, Kyuhyun dan Kibum membenarkan pernyataan ayahnya.
"Appa sangat senang saat mendengarkan percakapan kalian beberapa saat lalu. Bahkan Kibum, kau rela mengorbankan dirimu demi adik nakalmu ini. Dan Kyuhyun, akhirnya kau bisa meruntuhkan sikap egoismu dan menyadari betapa kakakmu ini menyayangimu, bukan? Appa senang mengetahuinya." Wajah Kyuhyun memerah mendengarnya. Ia malu, aigoo..
"Appa mendengarnya?" tanya Kyuhyun masih dengan rona merah di wajahnya.
"Benar, chagi.. penyadap suara diruangan ini bekerja dengan dengan baik. Maka dari itu, appa bisa mendengar semua percakapan kalian, termasuk mengetahui rencana kalian, dan – ah.. appa rasa kalian juga tengah terlibat cinta segitiga yang lumayan rumit, hmm?"
"APPA/APPA!" Kyuhyun dan Kibum secara tak sadar berteriak secara bersamaan mendengar kalimat terakhir dari ayahnya.
"Haha... Aigoo, kalian tak bisa menyangkalnya, bukan?" Tuan Cho kembali mencoba menggoda kedua putranya. Membuat Kibum dan Kyuhyun kembali merona.
"Tapi appa, saat aku datang ke tempat ini dan mengetahui Kyuhyun kabur, anak buahmu sepertinya benar-benar mendalami perannya." Kibum mendelik sebal. "Kalau saat itu aku bergerak satu senti aja, mungkin aku hanya tinggal nama, appa.." Kibum mencoba mengalihkan pembahasan dengan bertanya pada ayahnya. Ia yakin Kyuhyun pun ingin menghidari pembahasan mengenai cinta segitiga yang terjadi diantara mereka dan Hyura. Astaga, ini hal yang begitu sensitif..
Tuan Cho terkekeh pelan sebelum menjawabnya. "Kau tahu, Kibum-ah? Appa tak mungkin sembarangan memerintah seseorang. Anak buah appa itu sudah sangat jitu. Appa sengaja memerintahkannya untuk menembakkan revolvernya tepat di samping kepalamu untuk memantapkan skenario appa buat. Bagaimana, hasilnya memuaskan, bukan?"
"Tapi tetap saja itu memiliki resiko yang sangat tinggi, appa!" Kyuhyun tampak masih tak percaya dengan perkataan ayahnya. Hei, ia baru tahu kalau Kibum mengalami hal itu.
"Baiklah, baiklah. Appa minta maaf, arasseo?"
"Ah, pantas saja mereka memukuli-ku tidak dengan menggunakan seluruh tenaganya. Dan juga, ahjussi botak yang membelikanku ramen.. itu kau, appa?"
"Nice shoot, Kyu." Tuan Cho menganggukkan kepalanya bangga. Membuat Kyuhyun memutar bola matanya malas. Pantas saja kawanan itu menuruti permintaannya. Kalau ini bukan skenario ayahnya, mana mungkin ada sekawanan penjahat yang mau menuruti permintaan konyolnya itu? Huh, seharusnya ia menyadarinya sejak awal, Kyuhyun menggerutu dalam benaknya.
"Appa dan eomma hanya khawatir, semakin dewasa, kalian belum juga menyadari perasaan kalian masing-masing. Dan hanya dengan jalan inilah kami rasa kalian akan segera menyadarinya." Kyuhyun dan Kibum menundukkan kepalanya, mulai memikirkan perkataan ayahnya. Tuan Cho tersenyum melihatnya.
Cklek!
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum dengan cahaya lilin menemaninya.
"Saengil cukkhae, uri adeul..!" ucapnya riang, membuat tiga lelaki di sana menolehkan kepalanya secara bersamaan.
"Ah, benar. Ini yang sedari tadi appa tunggu. Selamat ulang tahun, putra-putraku.." ucap Tuan Cho setelah membawa Kyuhyun dan Kibum dalam pelukan hangatnya. "Jadilah lebih dewasa dan saling melindungi, arasseo..?!" dapat ia rasakan, kedua putranya menganggukkan kepalanya bersamaan. Sepertinya mereka berdua kehabisan kata-kata.
Dan Nyonya Cho tak bisa menyembunyikan raut bahagianya saat ini. "Aigoo.. kalian bertiga sangat manis~"
-o0o-
Suasana kamar bernuanasa biru itu tampak sunyi. Hanya suara detik jarum jam yang terdengar. Padahal ada dua sosok di sana yang sedari tadi belum mengeluarkan suaranya. Baik Kyuhyun maupun Kibum sepertinya belum ada yang berniat untuk memulai pembicaraan. Keduanya masih terpekur dengan pemikiran masing-masing.
Setelah menghela nafas dalam, akhirnya Kyuhyun memantapkan dirinya untuk memulai pembicaraan ini.
"Kibum-ah.." Kibum berdehem untuk memberi respon.
"Terimakasih dan- maaf.." Kibum menoleh ke arah Kyuhyun yang duduk di single bednya. Ia terdiam, menunggu adiknya melanjutkan kalimatnya.
"Umm.. terimakasih, mengenai yang kemarin-
"Bukankah kita sudah membicarakannya?" Kibum menginterupsi kalimat Kyuhyun. "Hey, Kyu.." Kibum mulai beranjak dari single bed-nya menuju Kyuhyun yang masih terduduk. Kyuhyun memandang Kibum dengan intens.
"Ne, kita memang sudah membicarakannya. Tapi tetap saja, Kibum. Ada hal yang harus kita selesaikan. Dan itu mengenai.." Kyuhyun terdiam sejenak, merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Haruskah ia mengatakannya sekarang? Tapi ia tak mau terus dihantui perasaan bersalah pada kakaknya. Maka dari itu, ia pikir inilah saat yang tepat. Sekarang atau masalah ini akan terus berlarut-larut.
"Mengenai Hyura?" tanya Kibum. Tepat sasaran. Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Kibum menghela nafas. "Baiklah. Lalu, apa yang mesti dibicarakan?"
Kyuhyun mendengus kesal. Apa yang mesti dibicarakan? Untuk apa Kibum bertanya seperti itu? Tentu saja mengenai kelanjutan hubungan mereka bertiga.
"Aku tahu kau paham maksudku, Cho Kibum!"
"Ya, lalu?"
"Gadis yang selama ini aku inginkan, ternyata adalah cinta pertamamu. Dan sampai saat ini kalian berdua masih menyimpan perasaan satu sama lain."
"Yeah, lalu?"
Kyuhyun menghela nafas, mencoba untuk tidak meledakkan emosinya. Kakaknya ini, memang orang yang kurang peka.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?!" Ujar Kyuhyun frustasi. Bagaimana kakaknya bisa berekspresi sesantai itu sedangkan dirinya kini dilanda frustasi.
"Kau ingin aku merelakan Hyura untukmu?" tanya Kibum tanpa beban.
"Mwo? Mana bisa seperti itu?"
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Kini Kibum yang balik bertanya, membuat Kyuhyun mendengus. Ia ingin segera menjawab, namun kalimat yang ingin ia keluarkan tertahan. Benar. Memang apa yang harus Kibum lakukan? Dalam hal ini, Kibum dan Hyura adalah dua pihak yang saling mencintai. Sedangkan dirinya adalah pihak ketiga yang kebetulan menyukai salah satunya. Jadi, disini... dirinya yang menjadi penganggu diantara mereka berdua? Tapi ia tak tahu sejak awal jika mereka berdua –Kibum dan Hyura saling mencintai. Jadi, ini bukan sepenuhnya kesalahannya, bukan?
Kibum tersenyum melihat Kyuhyun yang tengah bergelut dengan pemikirannya sendiri. Sesekali Kyuhyun terlihat menganggukkan dan menggelengkan kepalanya. Dan Kibum sengaja membiarkannya, mencoba membuat Kyuhyun untuk membuat keputusannya sendiri.
Setelah beberapa saat, akhirnya Kyuhyun mengalihkan atensinya pada Kibum yang persisten menatapnya. Iris mata Kyuhyun terlihat ragu, ia memejamkan matanya sejenak sebelum mengucapkan frase pada Kibum.
"Baiklah. Sepertinya aku harus patah hati untuk kedua kalinya karenamu." Ujar Kyuhyun dengan lesu, dan terlihat pasrah.
"Yak! Kenapa kau terus tersenyum, Kibum –ah? Hentikan itu! Kau menyebalkan!" Kyuhyun mendelik sebal. Tak habis pikir akan reaksi kakak kembarnya.
"Apa kau benar-benar merasa patah hati, Kyu?" Kyuhyun mengangguk lemah, menampakkan dirinya yang solah sangat merasakan penderitaan besar.
"Karena diriku?" dan Kyuhyun kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Maafkan aku, Kyuhyun-ah.. Sebagai seorang kakak justru aku sering membuatmu sakit hati. Aku tak bisa menjaga perasaanmu. Aku ini-"
"Hentikan kalimatmu disana, Cho Kibum!" Kibum mengatupkan bibirnya. Dan Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam.
"Arasseo. Kau tak usah meminta maaf karena disini sebenarnya kau tak bersalah sama sekali. Aku sadar, baik Jiyoung maupun Hyura, mereka juga tak salah. well, bukan salah mereka jika lebih memilihmu daripada diriku, bukan? Lagipula, gadis masih banyak di dunia ini. Benar kan, Kibum?" Kyuhyun mengatakannya dengan senyuman yang terpatri di bibirnya, namun jauh di dalam sana, Kibum tahu. Adiknya tengah menekan erat perasaannya. Tersirat dari binar matanya yang meredup.
Kibum tak menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir adiknya, ia hanya terus menatap intens wajah Kyuhyun.
-o0o-
Kibum memandang punggung Kyuhyun yang duduk tepat di depannya. Adik kembarnya itu tengah berkutat dengan PSP-nya meski seonsaengnim di depan sana tengah serius menerangkan materi pada anak didiknya. Ini memang pelajaran sejarah, pelajaran yang sangat tidak disukai adiknya lantaran bisa membuatnya mati kebosanan, katanya. Changmin, teman sebangku Kyuhyun justru memilih untuk terbang ke alam mimpi.
Kibum menghela nafas. Beberapa hari ini, Kyuhyun tampak selalu menghindarinya. Merangkai berbagai alasan untuk bisa berlalu darinya. Kibum tahu, ini pasti karena masalah mereka dan Hyura. Demi apapun, Kibum sebenarnya saat ini kurang begitu memahami sikap Kyuhyun. Apa yang sebenarnya anak itu inginkan? Jika yang Kyuhyun inginkan adalah merelakan Hyura untuknya, Kibum akan dengan sekuat hati berusaha merelakannya. Lebih baik ia diabaikan seorang gadis daripada diabaikan adiknya seperti ini.
Deringan bel panjang menandakan usainya kegiatan belajar di SIHS. Kibum memandang Kyuhyun yang bergegas untuk keluar kelas. Karena sedari tadi ia tak mengeluarkan satu bukupun, Kyuhyun hanya memasukkan PSP hitam metaliknya ke dalam saku blazer miliknya dan menyampirkan ransel hitamnya di pundak kirinya.
"Kyuhyun –ah!" Kyuhyun mengentikan langkahnya begitu mendengar namanya dipanggil. Tanpa menolehkan kepalanya, ia paham betul suara siapa yang tengah menyerukan namanya.
"Mau kemana?"
"Aku akan pergi dengan Changmin. Kau duluan saja." Lagi. Jawaban semacam inilah yang selalu Kibum dengar dari mulut Kyuhyun tiap pulang sekolah selama beberapa hari ini.
"Eomma selalu menanyakanmu tiap melihat putra sulungnya pulang sendiri. Apa kau ingin terus membuat eomma khawatir?"
"Kau pikir berapa usiaku saat ini? Jangan terlalu berlebihan. Aku yakin eomma akan mengerti." Suara Kyuhyun terdengar datar.
"Baiklah. Kali ini biarkan aku ikut denganmu, arasseo?"
Kyuhyun menyeringai. "Kau yakin?"
"Ne."
-o0o-
Kyuhyun berjalan mendahului beberapa langkah di depan Kibum bersama Changmin di sampingnya. Keduanya tengah asik bercengkerama, tak mempedulikan keberadaan Kibum yang berjalan dengan tenang di belakangnya.
Langkah kaki mereka tehenti di depan sebuah Game Centre yang masih berada di kawasan SIHS sehingga mereka menempuhnya hanya dengan berjalan kaki. Kyuhyun dan Changmin mendahului Kibum masuk ke dalamnya dan langsung menuju pada admin di sana untuk memilih jenis game yang akan dimainkan beserta durasinya. Kibum hanya menggeleng saat ditanya oleh petugas disana. Ia hanya mengikuti kemana adiknya pergi, dan tak berniat untuk ikut bermain game disana.
-o0o-
Kibum menguap untuk ke sekian kalinya, kala dirnya merasakan tingkat kejenuhan dalam dirinya meningkat drastis. Ini sudah lebih dari empat jam sejak mereka bertiga menginjakkan kaki mereka di tempat ini. Dan tampaknya belum ada tanda-tanda dari kedua bocah yang sedari tadi asik dengan dunia virtual –Kyuhyun dan Changmin untuk menghentikan aksinya. Sungguh. Ini benar-benar bukan dunia seorang Cho Kibum. Mungkin menenggelamkan diri dalam deretan kalimat-kalimat sebuah buku tebal akan menjadikan dunianya lebih berwarna. Sedangkan adik dan sahabatnya itu tampak tak peduli. Bukankah Kibum sendiri yang meminta untuk ikut bersama Kyuhyun?
Tak ada yang menyadari smirk tipis yang tersisip secara sembunyi di bibir Kyuhyun. Sedari tadi memang ia memperhatikan tingkah Kibum yang tengah dilanda kebosanan setengah mati. Tapi ia sengaja membiarkannya, toh ia sendiri yang meminta untuk ikut, bukan? Lagipula ia masih sedikit kesal dengan Kibum yang menganggap hubungannya dengan Hyura bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan. Maka membuat kakak kembarnya kesal adalah salah satu dari caranya untuk membalas perbuatan kakaknya itu.
Kyuhyun dan Changmin masih larut dalam dunia virtualnya, sesekali teriakan kemenangan dan kekalahan silih berganti keluar dari mulut mereka. Tak pernah sunyi. Mereka hanya istirahat sebentar untuk makan dan minum.
"Yeahhhh!" Lagi. Untuk ke-sekian kalinya terdengar sorakan kemenangna dari mereka. Kibum yang tak bisa lagi mentolerir rasa jenuhnya mulai beranjak dari tempat duduknya menghampiri mereka.
"Ini sudah hampir jam 8 malam, Kyu. Sebaiknya kita segera pulang sebelum eomma khawatir." Kibum mencoba untuk menbujuk Kyuhyun, untuk ke-sekian kalinya.
"Bukankah sudah ku katakan, jika kau merasa bosan lebih kau pulang duluan, Kibum –ah. Aku akan pulang dengan Changmin nanti" ujar Kyuhyun tanpa menolehkan kepalanya, atensinya fokus penuh pada layar virtual di hadapannya.
Kibum akan menjawab perkataan Kyuhyun saat merasakan getaran di saku blazer sekolahnya. Itu ponselnya.
"Yeobosseyo... Aku sedang bersama adikku. Apa?!" Kibum membulatkan matanya. "Usahakan untuk mengulur waktu, Ra –ya.. aku akan segera kesana." Kyuhyun sedikit melirik Kibum melalui ekor matanya. Frase terakhir yang dilontarkan Kibum membuatnya mengalihkan atensi padanya. Ra-ya? Hyura, apa yang tengah terjadi padanya?
"Kyu.. aku akan segera kembali. Ada hal penting yang harus aku selesaikan." Ujar Kibum agak tergesa.
Kyuhyun menyeringai, mendecih pelan. "Hal penting? Dengan 'Hyura-mu'?" ia sengaja menekankan kata terkahirnya.
"Jangan salah paham, Kyu.. Hyura tengah membutuhkan bantuanku sekarang juga. Ini mendesak, Kyu.." Kibum mencoba memberi pengertian pada adiknya.
"Biarkan aku ikut." Kyuhyun menjawab dengan cepat. Dan Kibum menganggukkan kepalanya ringan.
"Chang, kau pulanglah.. teramakasih telah menemaniku bermain hari ini.." Kyuhyun memberikan senyum lebarnya pada Changmin sebelum berlari menyusul Kibum yang sudah terlebih dahulu menghilang di balik pintu Game Center itu. Bahkan Changmin belum sempat membuka suaranya.
"Sama-sama!" teriaknya kesal.
-o0o-
Kyuhyun mempercepat larinya menyusul Kibum yang berada beberapa meter di depannya. Tak dipungkiri, kini ia juga ikut khawatir dengan keadaan Hyura. Bagaimanapun Hyura adalah gadis yang kini tengah mengisi ruang kosong di hatinya. Yah, meski ia tahu gadis itu belum tentu atau bahkan memang –tak memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Namun saat ini hal yang lebih penting adalah keselamatan Hyura.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Hyura?" tanya Kyuhyun setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Kibum.
"Hyura menghubungiku dan mengatakan bahwa ia tengah berada di taman kota dan seseorang yang tak ia kenal memaksanya untuk ikut dengannya." Kibum menjawab sembari mempercepat langkah kakinya untuk berlari menuju tempat dimana Hyura berada saat ini. Dinginnya angin malam tak menyurutkan tekad mereka untuk segera menolong gadis itu.
Kyuhyun tak menjawab lagi, ia ikut mempercepat kakinya untuk segera menyelematkan Hyura. Pikirannya berusaha menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Taman kota yang menjadi tujuan mereka sudah terlihat, hal itu membuat mereka semakin meningkatkan fokusnya untuk bisa mencapainya secepat mungkin. Kibum berada beberapa meter berada di depan Kyuhyun. Ia melihat seseorang yang sedari tadi menjadi tujuannya tengah duduk seorang diri di bangku taman yang berwarna putih, membelakanginya. Tunggu. Seorang diri? Apa ia tak salah lihat? Penglihatannya memang kurang sehingga membutuhkan lensa kacamata untuk membantunya.
Tap.
Kyuhyun sampai tepat di samping Kibum, mengatur nafasnya yang terengah akibat berlari dengan kekuatan penuh di malam hari. Dahi Kyuhyun mengernyit melihat keadaan Hyura yang terlihat baik-baik aja. Tak ada tanda-tanda orang asing ataupun bahaya yang menghampirinya. Semua terlihat normal dan baik-baik saja. Beberapa orang terlihat tengah menikmati malam dengan pasangannya yang tersebar di seluruh penjuru taman. Kibum mengerjap. Benar. Mengapa hal ini tak terpikirkan olehnya? Bukankah Hyura tengah berada di taman kota? Seharusnya jika ada bahaya yang mengintainya, tindakan yang paling tepat adalah berteriak dan meminta bantuan orang-orang di sekitarnya bukannya menghubungi dirinya dan menunggu bantuan darinya.
Kyuhyun pun tengah memikirkan hal yang sama dengan kakak kembarnya. Hyura tanpa sengaja menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan sosok yang sedari tadi ia tunggu tengah menatapnya heran. Bahkan nafasnya masih terengah-engah. Hyura mengernyit saat melihat Kyuhyun juga berada disana, disamping Kibum yang juga tengah menstabilkan nafasnya.
Hyura beranjak dari duduknya dan mengampiri kedua lelaki tampan yang masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia memberikan senyum manisnya, namun hal itu membuahkan tatapan tak mengerti dari kedua namja disana.
"Ra –ya, bukankah tadi kau bilang ada seseorang yang mengganggumu?" alis Kibum bertaut saat Hyura menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyuman yang masih belum pudar dari bibirnya.
"Tapi-
"Suprise! Saengil chukkae..Kibum-ah!" ujar Hyura tiba-tiba dan mengeluarkan birthday cake berukuran kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya.
Kibum dan Kyuhyun mengerjap tak percaya dengan tingkah Hyura. Gadis ini, meminta pertolongan Kibum dan justru kini memberi kejutan untuk ulang tahunnya? Hyura mengarang cerita hanya untuk memberikan kejutan pada Kibum. Gadis ini benar-benar..
Ada sesuatu yang terasa menggores hatinya melihat betapa manisnya Hyura memberi kejutan untuk Kibum, hyung-nya. Kyuhyun hanya bisa menatapnya dengan pandangan miris, sesak. Senyuman miris kini mulai tercipta di bibirnya saat melihat Hyura seolah tak mempedulikan eksistensinya disana.
"Ra –ya, kau..." Kibum kehilangan kata-katanya. Sedangkan Hyura masih mempertahankan senyumannya dan mulai menyalakan lilin kecil berupa angka 19 di atas kuenya.
"Saengil chukae.. Kibum –ah, maaf aku baru sempat mengucapkannya. Sekarang tiup lilinnya dan buatlah permintaan sebelumnya, ne?" Hyura mengucapkan kalimatnya dengan ceria, namun baik Kibum maupun Kyuhyun belum menunjukkan respon yang berarti.
Kibum melirik adik kembarnya yang masih mematung di tempatnya berdiri, namun tatapannya terlihat sendu. Ya Tuhan, lagi-lagi ia membuat hati adiknya terluka. Meski tidak secara langsung, namun tetap saja ia merasa jika dirinya kembali membuka luka itu –untuk kesekian kalinya.
Lagipula, apakah Hyura melupakan fakta bahwa mereka adalah saudara kembar? Mengapa hanya nama Kibum yang terucap dari bibirnya? Bukankah Kyuhyun juga berhak mendapatkan ucapan itu? Bahkan di atas kue mungil itu hanya tertulis nama hyung- nya. Namun sepertinya Kyuhyun hanya mampu menelan kembali rasa pahit ini dalam hatinya. Jelas-jelas Hyura hanya menghubungi Kibum, bukan dirinya. Sudah tentu semua kejutan ini ia persiapkan untuk Kibum, bukan? Hah, berhenti bermimpi, Cho Kyuhyun! Rutuk Kyuhyun dalam hatinya.
Mendapat respon pasif dari Kibum, Hyura mengalihkan atensinya pada Kyuhyun yang masih persisten menatapnya dengan intens. Mendapat tatapan seperti itu, mau tak mau membuat Hyura sedikit canggung. Namun iris matanya melebar saat sesuatu dalam benaknya menyadari fakta bahwa kedua lelaki di hadapannya itu adalah saudara kembar, yang berarti ia seharusnya mengucapkan selamat untuk Kyuhyun juga. Hyura merutuki dirinya sendiri menyadari kebodohannya.
"Ah, neo-do saengil chukkae, Kyuhyun –ah, maaf sempat melupakanmu." Hyura melirik Kyuhyun. "Tadi aku terlalu teburu-buru.." ucap Hyura lirih di akhir kalimatnya.
"Sekarang buatlah permintaan dan tiup lilinnya bersama, arasseo?" Hyura berusaha menyelipkan nada riang di kalimatnya, tak ingin larut dalam suasana canggung yang melingkupi mereka bertiga.
Kyuhyun menghela nafas dalam dan mulai memejamkan matanya. Kibum yang melihat Kyuhyun memanjatkan doa dengan dua tangah saling menangkup di depan dada, mengikutinya. Kini kedua saudara kembar –tak identik itu terlihat memejamkan matanya dan memanjatkan doa dalam hati masing-masing. Pemandangan yang sungguh manis, membaut Hyura tersenyum makin lebar.
Fuhh!
Dan api kecil yang menyala di atas angka 19 itu pun padam setelah Kyuhyun dan Kibum meniupnya secara bersamaan. Kyuhyun kembali menampilkan senyuman miris yang ia tujukan pada dirinya sendiri. Menyadari betapa dirinya terlihat menyedihkan. Sepertinya harus mulai mengubur jauh-jauh perasaannya pada gadis di depannya ini, mengingat betapa jauh jarak yang tercipta diantara mereka. Kyuhyun yang selalu menatap Hyura, sedangkan gadis itu selalu mencurahkan tatapannya pada Kibum, kakak kembarnya sendiri. Hal yang sama pernah ia alami sebelumnya saat dulu ia sempat jatuh hati pada Jiyoung yang lebih memilih Kibum daripada dirinya. Dan kini ia harus merasakan kembali rasa sakit itu? Yang benar saja.
"Jadi, kau berbohong untuk memberi kejutan pada kami?" Kibum mulai membuka suaranya.
Hyura tersenyum, mengangguk kaku. Ya, memberi kejutan pada mereka berdua –lebih tepatnya pada Kibum. Lantaran Kyuhyun adalah sosok yang 'kebetulan' datang bersama Cho Kibum itu.
"Terimakasih, Hyura –ya.." kali ini Kyuhyun yang menyuarakan suaranya. Meski rasa sakit di hatinya belum juga pudar.
"Sama-sama, Kyuhyun –ah.."
-o0o-
Ketiga remaja yang sebaya terlihat tengah menghabiskan makan malamnya di dalam sebuah cafe bernuansa tradisional Korea. Makanan yang telah di pesan masing-masing dari ketiganya tampak telah habis, tak tersisa. Namun ketiganya nampaknya masih enggan untuk membuka suaaranya. Hening panjang tercipta, menyelimuti atmosfer malam itu.
"Ehhmm..." Kyuhyun mencoba memecah atmosfer hening yang melingkupinya.
"Mm, jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi, bisakah aku pulang?" pertanyaan Kyuhyun membuat Hyura da Kibum mengalihkan atensi padanya. "Nampaknya kalian berdua butuh waktu pribadi untuk bicara?"
Kibum memandang Kyuhyun dengan intens, mencoba memahami pesan yang disampaikan adiknya melalui tatapan matanya. Adiknya itu, pasti ingin menghindarinya lagi.
"Tak ada yang ingin kami bicarakan, Kyu.." ujar Kibum datar. "Tapi ada yang ingin aku sampaikan pada kalian." Lanjutnya. Kali ini Hyura menolehkan kepalanya pada Kibum dengan pandangan penuh arti.
Kyuhyun sedikit menautkan alis tebalnya. "Mwo?"
"Aku yakin, kalian bukan orang bodoh yang bisa berpura-pura untuk tak peduli mengenai hubungan yang ada di antara kita bertiga." Kibum menghela nafas untuk mengambil jeda.
"Aku hanya tak ingin kita berlarut-larut dalam kesalahpahaman yang tidak berguna." Lanjut Kibum dengan nada tegas. Hyura melirik Kyuhyun yang persisten menatap Kibum dengan intens.
"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan, Kibum –ah?" Iris kelam Kibum menatap Hyura yang tengah meminta penjelasan darinya.
"Jika yang ingin kau sampaikan bahwa kalian berdua adalah sepasang kekasih yang dulu sempat terpisah dan masih saling mencintai hingga saat ini, aku sudah tahu, Kibum –ah.." Kibum mengernyit kala indera pendengarannya menangkap frase yang tiba-tiba terucap dari bibir Kyuhyun.
"Untuk itu, aku meminta maaf pada kalian berdua jika selama ini aku menjadi pengganggu di antara kalian berdua –mungkin?" Kyuhyun tersenyum kikuk mendapat tatapan penuh arti yang berbeda dari kedua pasang iris mata di hadapannya. Apa ada yang salah dengan perkataannya?
"Su- sungguh. Aku benar-benar meminta maaf. Kau tak usah merasa bersalah, Kibum –ah, aku sudah menerima semuanya." Kyuhyun menggerakkan tangannya saling menyilang dengan cepat, seolah perkataannya akan di bantah oleh Kibum. Ia menggaruk tengkuk belakangnya menerima tatapan tajam dari kakak kembarnya. Aisshh.. mengapa ia jadi gugup?
"Yah, meski aku harus merasa patah hati lagi, tapi... kau tak bisa memaksakan perasaan seseorang untuk membalas perasaanmu terhadapnya, bukan?" Kyuhyun melayangkan tatapannya pada Hyura, tersenyum tipis kala melihat Hyura sedikit tersentak karena perkatannnya.
"Kyuhyun –ah..."
"Tak perlu khawatir, Kibum –ah.. Kita sama-sama sudah dewasa, bukan? Aku yakin kau pasti bisa memahamiku." Senyuman manis Kyuhyun siratkan di akhir kalimatnya. Melihat Hyura dan Kibum masih belum mengeluarkan suaranya membuat Kyuhyun gemas.
"Yak! Setidaknya kalian berdua harus berterimakasih padaku, bukan?" Kibum dan Hyura mengerjapkan matanya mendengar pernyataan terakhir dari Kyuhyun. Membuat Kyuhyun semakin gemas. Apa mungkin sepasang kekasih di depannya ini tengah kehilangan salah satu syaraf sensosrik di otaknya sehingga tak bisa merespon pernyataan yang dikeluarkannya?
Kibum dan Hyura saling melempar pandangan sebelum senyuman merekah di bibir mereka. Mereka berdua bergerak mendekati Kyuhyun yang kini menatap mereka dengan waspada. Pasangan ini, benar-benar mengeluarkan aura yang tidak biasa, pikirnya.
GREP!
Dan Kyuhyun hanya bisa membulatkan kedua mata bulatnya kala dua tubuh itu memeluknya secara bersamaan dan tiba-tiba. Membuahkan rasa sesak hingga membuatnya meronta dalam serangan pelukan hangat yang menimpanya.
"Terimakasih, Kyuhyun-ah.." pada akhirnya Kyuhyun membalas pelukan mereka berdua dan memejamkan matanya, tersenyum ringan. Kini hatinya menjadi ringan setelah berusaha menerima semuanya meski lagi-lagi rasa sakit itu belum sepenuhnya hilang dari sudut hatinya.
-o0o-
Krieeett...
Kyuhyun terlihat berjinjit dalam langkahnya, mengendap-endap untuk menapakkan kakiknya di kediamannya. Sementara Kibum terlihat berjalan santai beberapa langkah di belakangnya. Jarum jam kini menunjukkan pukul 10:20 PM, ini adalah malam paling larut bagi keduanya untuk pulang ke rumah. Bahkan keduanya masih mengenakan seragam kebanggaan SIHS meski sudah tak bisa dibilang rapi. Suasana ruang keluarga nampak sepi, sepertinya orang tua mereka sudah menghangatkan dirinya di balik selimut.
"Bisa kalian jelaskan darimana kalian seharian ini?"
Suara berat dari Tuan Cho berhasil menghentikan aksi mengendap-endap Kyuhyun dan langkah Kibum. Keduanya menolehkan kepalanya kaku pada ayah mereka yang berdiri di ujung tangga dan menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.
Tap.. Tap.. Tap..
Derap langkah kaki Tuan Cho yang menuruni satu persatu anak tangga terdengar seperti nada kematian di telinga Kyuhyun. Semakin mendekat, suara itu terdengar semakin menyeramkan. Kini ia melirik Kibum di sisinya yang terlihat tenang, seolah ini hal biasa baginya.
"Jadi, siapa yang akan menjelaskannya pada Appa?"
"Kami mendapatkan kejutan ulang tahun mendadak dari teman kami, dan tanpa sadar kami merayakannya hingga larut malam." Kibum menjawab Tuan Cho dengan tenang.
"Dan tak ada satu pun dari kalian yang berinisiatif untuk memberi kabar pada eomma kalian? Bahkan tak membalas pesan dan panggilan darinya. Bukankah kalian paham bagaimana sifat eomma kalian?"
Kyuhyun menundukkan pandangannya pada lantai marmer di bawahnya. Entah mengapa tiap melihat kilat kemarahan di mata ayahnya, ia tak pernah bisa untuk memandangnya. Nyalinya menjadi ciut seketika. Berbeda dengan Kibum yang tampak begitu tenang menghadapi ayahnya. dan Kibum memahaminya. Ini saatnya ia berperan sebagai seorang hyung yang akan melindungi adiknya. Dan ia pun tahu, tersirat rasa ke-khawatiran di balik sifat tegas ayahnya. Mengingat betapa ayahnya menyayangi mereka, hingga rela melakukan sebuah skenario hanya untuk membuat mereka menyadari perasaan masing-masing. Ia tak akan pernah melupakan peristiwa beberapa hari lalu yang melibatkannya pada sebuah penculikan adiknya –yang merupakan bagian dari sekenario ayahnya.
"Mianhamnida, appa.. Kami tak akan mengulanginya lagi." Kibum membungkukkan badannya pada ayahnya, dan Kyuhyun mengikutinya. Melihatnya, membuat Tuan Cho menghela nafas berat.
Kedua tubuh itu masih pada posisinya, membungkuk 90 derajat di depan ayahnya. Mereka belum akan mengubah posisinya sebelum mendapat pernyataan maaf dari ayahnya. Ini adalah kebiasaan mereka ketika mereka melakukan sebuah kesalahan.
Tuan Cho tersenyum dibalik lensa minusnya. "Baiklah, appa pegang janji kalian."
-o0o-
Mentari masih belum menampakkan dirinya di langit pagi, namun suasana di kediaman keluarga Cho tampak ramai, berbeda dari biasanya. Pasalnya, si bungsu Cho –Kyuhyun kini tengah menyibukkan dirinya di dapur, berdalih membantu para maid untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga Cho. Beragam pertanyaan muncul di benak para maid disana, lantaran hal ini merupakan hal sangat jarang terjadi, dan mendekati mustahil. Seorang Cho Kyuhyun, bangun pagi dan membantu pekerjaan dapur? Lagipula ini hari minggu. Meski yang ia lakukan hanya sekedar pekerjaan ringan, jangan tanyakan kemampuannya yang nol besar dalam urusan memasak. Namun tetap saja perilakunya mengundang gurat tanya di antara mereka semua yang menyaksikannya. Dan tak ada yang berniat untuk meredakan rasa penasarannya, melihat raut muka tuan muda mereka yang begitu semangat dalam melakukan pekerjaannya.
"Cha... selesai!" Kyuhyun bertepuk tangan, tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. Sarapan pagi untuk keluarganya kini sudah tertata dengan begitu rapi, dengan menu sesuai dengan selera masing-masing anggota keluarga yang berbeda-beda.
Tepat saat Kyuhyun membalikkan badannya berniat untuk memanggil anggota keluarga yang lain, derap langkah pelan terdengar menuruni tangga. Tampaklah Tuan Cho yang memakai pakaian santai dengan Kibum yang mengekor di balik punggungnya.. Keduannya melangkahkan kakinya menuju kursi makan masing-masing. Setelah melemparkan tatapan herannya pada Kyuhyun yang tengah memasang senyuman hangatnya, Kibum pun mendudukkan dirinya di kursi miliknya. Sementara Nyonya Cho turun tak lama setelahnya.
"Apakah eomma kesiangan hari ini?" Nyonya Cho mengernyit heran, saat seluruh menu sarapan sudah tertata rapi di meja makan. Padahal biasanya dirinya yang akan menyiapkannya, dengan bantuan para maid yang setia mengabdi pada keluarganya.
"Aniya, eomma. Aku yang menyiapkan ini semua –dengan bantuan ahjumma tentunya." Kyuhyun memberikan senyuman lima jarinya saat merasa dirinya mendapat tatapan heran dari ketiga pasang mata disana.
"Mianhae, telah membuat eomma khawatir kemarin. Jadi, aku sengaja bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk kita semua. Bagaimana, eomma mau memaafkanku, kan?"
Nyonya Cho memandang lekat Kyuhyun yang tengah menatap penuh harap padanya. Putranya itu, sangat manis, bukan? Perlahan bibirnya tertarik, mengukir sebuah senyuman teduh yang membuat Kyuhyun merasa lega dalam hati. Begitu juga Kibum yang menyaksikannya.
"Arasseo. Tapi..." raut wajah Nyonya Cho kini tampak berubah, ia menyipitkan matanya, memberi pandangan skeptis pada putra bungsunya. "Kau tak membuat dapur cantik eomma jadi berantakan, kan?" lanjut Nyonya Cho seraya mengacak surai cokelat gelap milik Kyuhyun dengan sayang, membuahkan dengusan sebal dari pemiliknya.
"Eomma..!"
-o0o-
"Hal penting apa yang membuatmu meninggalkanku sendirian di Game Centre kemarin?" suara dengan nada datar itu menyapa indera pendengaran Kyuhyun begitu ia mendudukkan dirinya di bangku miliknya.
Ia menatap Changmin dengan senyuman lebar yang terpatri di bibirnya. Membuat Changmin memutar bola matanya malas, kemudian menghela nafas pasrah. Kyuhyun masih saja memberikan senyuman lebarnya, tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang Changmin lontarkan beberapa menit lalu.
"Ck. Hentikan senyumanmu itu, Cho!" akhirnya Changmin mengalah dan memilih untuk berkutat dengan PSP di tangannya yang menunggu untuk di sentuh. Dan Kyuhyun pun melakukan hal yang sama dengan sahabat ajaibnya itu.
-o0o-
Dering bel tanda usainya kegiatan belajar di SIHS telah bersuara sejak lima belas menit lalu, namun suasana di area sekolah masih begitu ramai. Para siswa kini sibuk hilir mudik, mengikuti kegiatan ekstra pada masing-masing klub yang telah dipilihnya. Kyuhyun dengan modal akan kegemarannya dalam dunia game, memilih untuk bergabung dalam klub sepak bola bersama Changmin sahabatnya, sedangkan Kibum dengan otak jeniusnya menjadi ketua dalam klub ilmiahnya.
Kyuhyun dan Changmin berjalan beriringan menuju base camp milik klub mereka, tempat yang biasanya mereka gunakan untuk berdiskusi dan menyusun strategi serta mengevaluasi performa masing-masing anggota tim. Di depan ruangan, berdiri seluruh anggota klub sepak bola kebanggaan SIHS yang menanti kedatangan Kyuhyun dan Changmin sebagai ketua dan wakli klub sepak bola di sana.
"Wah, semua sudah berkumpul sepertinya!" teriakan nyaring dari seorang Shim Changmin mampu mengalihkan atensi selutuh pasang mata yang ada disana.
"Arasseo, mari kita buka pintunya... 4..6..6..8." gumam Changmin pada dirinya sendiri, seraya mulai memutar code yang terpasang di depan pintu ruangan.
Cklek.
Satu persatu anggota klub mulai melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, sebelum terdengar pekikan dari salah satu orang di dalamnya.
"Mwoya? Apa ini?!"
To Be Continued
Balasan review chapter 6
jihyunelf : sweet moment, ya? Haha.. iya, mereka akhirnya bisa akur. Tapi kalau akur ngga asik *eh*
readlight : TBC yang tahu aturan reader yang seperti apa yah? Kekekeeee
Awaelfkyu13 : Kyuhyunnie emang suka seenaknya sendiri -_-
lydiasimatupang2301 : arasseo x)
kakagalau74 : jangan galau kaka... xD baca aja dari awal xixixiixxi
abelkyu : mm,, kalau sekiranya lua, silahkan baca dari aawal kekekekeeee
riritary9 : aduh.. jadi tersapu *eh*
Hyunhua : kibum emang sayang banget sama adek kembarnya, ehmm kalo urusan cinta... kita lihat saja nanti, dan aku rasa semua pertanyaannmu terjawab di chapter ini, ya? Ehe..
A . N : chapter ini mungkin ada yang ngerasa kurang dapet feelnya, aku tahu. Karena kelamaan hiatus -_- *peace*
Well, What's on your mind? Just say it on review box.
Thank you, everyone!
With Love, Little Evil
