Chapter 8

Kyuhyun mengernyit saat indera pendengarannya menangkap pekikan salah seorang anggota klub sepak bolanya yang sudah terlebih dahulu memasuki base camp milik mereka. Segera ia memerintahkan kakinya untuk melangkah, menyelusup diantara kerumunan siswa yang tampak tengah berebut untuk melihat sesuatu yang terlihat menarik di dalam sana.

"Kelemahan dan Penyebab Kekalahan Tim Sepak Bola SIHS Saat Pertandingan Kemarin.." gumam Kyuhyun melihat deretan huruf yang tertulis dengan ukuran besar di papan tulis yag tertempel di ruangan mereka. Kemarin memang telah diadakan turnamen tahunan sepak bola antar sekolah yang membuahkan kegagalan tim SIHS dalam babak perempat final.

"Wah, aku mau melihatnya!"

"Aku juga..." "Aku juga mau...!" seluruh anggota tim terlihat begitu antusias membaca deretan kalimat yang terlihat memenuhi papan hijau segi empat yang tergantung di dinding.

"Yang pertama..." Changmin mulai membacakan tulisan yang terpampang disana. "Tan Hyun si kiper menangkap bola dalam keadaan tak tenang." Semua pasang mata melirik ke arah Tan Hyun yang tengah terengang di tempatnya berdiri.

"Ck.. orang yang menulis ini sepertinya sedang kurang kerjaan.." gumam Tan Hyun lirih.

"Yang kedua.." suara Changmin melanjutkan. "Dae Hyun juga bermain kurang semangat."

"Mianhae." Ujar Dae Hyun singkat, dan datar.

"Ketiga, penjaga lini bawah Dong Sook sangat mudah di patahkkan." Dong Sook yang mendengarnya, terlihat menghela nafas dan menunduk dalam. "Sepertinya itu benar.."

"Ke empat, Seo Hyuk terlihat tidak memiliki keahlian sedikitpun.." suara Changmin masih terdengar membacakan satu persatu baris kalimat yang berada di sebelah kiri bagian papan tulis tersebut.

"Apa aku terlihat seperti itu, ya?" gumam Seo Hyuk yang ia arahkan pada dirinya sendiri.

"Wah... kalian semua sepertinya kena! Haha..." tawa Changmin menggelegar mengisi atmosfer ruangan, ia membalikkan badannya menatap semua anggota klub dnegan tawanya yang kian melebar. Sementara Kyuhyun masih persisten mengamati deretan huruf yang terpampang di depannya dengan seksama.

"Yang kelima.. Changmin yang menjadi kaptennya.." seketika tawa Changmin terhenti ketika mendengar nama-nya ikut di sebut-sebut. "Pandangannya kurang jeli, dia tak menyadari pemain mana yang berpotensi saat bemain di lapangan dan mana yang lemah." Ujar Tan Hyun mengakhiri kalimatnya.

Changmin segera mendekat ke arah papan tulis, seolah memastikan temannya tak salah membaca namanya yang ikut mendapatkan kritik pedas dari siapapun orang yang menulis ini.

"Yak! Mengapa bagianku mendapat kritikan paling panjang?" gerutunya sebal.

"Kau kan menjadi kapten di pertandingan kemarin.." celetuk salah seorang anggota klub yang berhasil mengundang tawa seluruh anggota yang ada di sana. Changmin merengut mendengar dirinya di tertawakan dengan tidak elitnya.

"Yang ke-enam, Jong Hyun lambat sekali, apalagi saat mengejar bola dari lawan..."

"Ke tujuh.. Shin Wook terlalu fokus pada diri sendiri hingga melupakan kerja sama dengan teman satu tim.."

"Ke delapan.. Min Gyeo si gelandang, akurasinya agak kurang.." Min Gyeo menggaruk tengkuknya salah tingkah saat membaca tulisan yang ditujukan untuk dirinya. Saat ini masing-masing anggota membaca deretan kalimat di papan tulis yang ditujukan untuk diri mereka sendiri.

"Yang ke sembilan.. Ji Sung terlalu semangat saat mengejar bola lawan.." Ji Sung yang membacanya terlihat mengernyitkan alisnya. "Apa ini bisa disebut sebagai kekurangan?"

"Terlalu semangat saat mengejar bola, bisa jadi bola justru keluar dan mereka melempar ke arah kita, kan?" Ji Sung mengalihkan atensinya pada Kyuhyun yang akhirnya membuka suaranya. "Hehe, kau benar, Kyuhyun -ah.." lanjutnya kemudian. Dan Kyuhyun membalasnya dengan senyuman kecil.

"Yang ke sepuluh..." kali ini Changmin yang membacakan. Ia melihat deretan kalimat yang kini berada di bagian sudut kiri atas dari papan tulis itu. "Gelandang yang bernama Kyuhyun, kurang malicia." Kata terkahir yang keluar dari bibir Changmin berhasil mengundang tatapan tak mengerti dari orang-orang disana.

"Malicia, apa maksudnya?" dahi Changmin berkerut bingung.

"Dalam bahasa Portugis, itu berarti 'ketajaman otak'.. mantan kapten Brazil mengatakan bahwa para pemain Korea tidak cukup pintar untuk malicia." Jawab Kyuhyun dengan tenang.

"Yang ke sebelas, Jino, kurangnya konsentrasi menentukan arah.." Seun Gi yang membacakan itu menutup mulutnya untuk menahan tawanya yang ingin segera keluar dari termpatnya. "Haha.. itu benar, itu benar..." sementara Jino yang mendapat tatapan itu hanya bisa mendengus kesal.

"Dan yang ke tiga belas, penyerang Seun Gi.." sementara Seun Gi yang tengah dibacakan namanya terlihat masih sibuk menertawakan Jino.

"Yak! Seun Gi! Pertahananmu yang paling buruk disini..! Kau bisa baca, kan?!" suara Changmin kembali terdengar meninggi. Seun Gi yang mendengar itu segera menghentikan aksi tertawanya, dan kini ia-lah yang mendapat serangan tawa dari teman-teman satu timnya.

Changmin kini mulai menempatkan dirinya di depan papan tulis, menghadap para anggota tim yang merupakan anak kelas 3 dengan tatapan tegas. "Siapa yang menulis semua ini?!"

"Jawab dengan jujur! Tapi yang jelas.." ia memberi jeda sejenak. "Pelaku pasti oang yang tidak berada dengan Seun Gi dan di luar." Changmin kini berjalan menuju luar ruangan yang berisi anggota-anggota yang mayoritas hobae-nya itu. "Yang artinya, pelaku berada di anatara kelas 1 dan 2!"

"Ingat, kan? Pintu ini awalnya terkunci, dan yang mengetahui passwordnya hanyalah orang dalam." Changmin berdiri di depan pintu, mengedarkan pandangannya pada para anggota tim yang berada di luar. Sementara para anggota kelas 3 melihatnya dari belakang pintu. Dan Kyuhyun, ia kini sibuk mengamati hal-hal di papan tulis dan sekitarnya yang mungkin bisa memberinya petunjuk siapa pelaku yang sebenarnya.

"Yaitu anggota dari tim SIHS ini." lanjut Changmin, matanya masih awas mengawasi gerak-gerik dari anggota tim yang mungkin terlihat mencurigakan. "Yang artinya kalian semua juga tahu. Itulah sebabnya pelakunya ada diantara kalian semua. Yaitu salah satu yang berdiri disini sekarang." Changmin mengakhiri analisinya dengan nada yakin. Sementara para hobae didepannya terlihat menundukkan kepalanya serempak. Takut-takut mendapat tatapan Hittler milik Changmin.

"Arasseo.. Jika tak ada yang mau mengakuinya, kalian semua tak di izinkan untuk latihan!" inilah Changmin yang terkenal keras di depan para hobae-nya. Berbeda dengan Changmin saat berada di sisi Kyuhyun.

Keputusan Changmin menimbulkan bisik-bisik diantara anggota tim yang tampak tak terima dengan keputusannya itu. saling berbisik, menebak-nebak siapa pelaku sebenarnya.

"Kata-kata yang tertulis di papan tulis ini, bukan mereka yang menulisnya.." suara Kyuhyun dari dalam ruangan berhasil mengalihkan atensi para anggota kelas tiga yang masih berada di dalam ruangan. Meski sedikit heran, mereka kini serempak membalikkan badan dan mulai memperhatikan Kyuhyun dengan seksama.

"Coba lihat ini." Kyuhyun menunjuk kursi kayu yang berada di depan papan tulis pada mereka. Ia membalikkan kursi itu hingga kini sisi belakangnya yang menghadap para anggota tim. Para anggota yang merasa penasaran pun mulai mendekat ke arah Kyuhyun untuk bisa melihat kursi itu lebih dekat dalam jarak pandangnya.

"Memang ada apa, Kyu?" Changmin mendekat dengan raut penasaran. "Oh, kapur ini, ya?"

"Kau benar. Ini adalah jejak ibu jari kirinya." Kyuhyun menunjuk jejak kapur yang berbentuk ibu jari sebelah kiri di sudut kiri atas bagian belakang sandaran kursi kayu tersebut.

"Ibu jari, maksudmu?" Changmin masih belum begitu mengerti.

"Lihat! Jika kau cocokkan lihat telunjuk kirinya.." Kyuhyun memegang sandaran kursi itu dari arah belakang hingga kini telunjuknya berada di bagian sudut kiri atas bagian depan sandaran kursi. Sementara ibu jarinya berada di posisi sudut kiri atas bagain belakang sandaran kursi itu.

"Jari telunjuk kiri? Apa maksud semua itu?" Tan Hyun yang mulai mengerti kini terlihat mulai penasaran.

"Dengan kata lain, kita bisa asumsikan tinggi pelakunya dengan melihat semua ini.." Kyuhyun meraih kapur dari kotak kecil yang terpasang di sudut papan tulis dan membuat garis lurus di bawah kalimat yang merupakan judul dari semua kritikan yang pelaku sampaikan di papan tulis. "Kita urutkan dari nomor satu.. dua, lalu terus ke bawahnya." Lanjut Kyuhyun sembari melingkari nomor-nomor di papan tulis secara berurutan.

"Kemudian ke samping kanan hingga ia tak punya ruang lagi untuk menulis 10, 11, dan 13." Tunjuk Kyuhyun ketika tak ada ruang kosong yang tersisa di papan tulis itu. Yang tersisa hanya bagian atas papan tulis, karena 'pelaku' tersebut tidak memulai tulisannya dari bagian atas, melainkan sesuai dengan jangkauan tangannya.

"Jadi dia menggunakan kursi untuk menulis di atas.." Kyuhyun menarik kursi dan meletakkannya di depan papan tulis sebelah kiri. "Dia berdiri di atas kursi ini dan mulai menulis kelanjutannya."

"Oleh sebab itulah, ia meninggalkan jejak di kursi kayu ini." tunjuk Kyuhyun pada jejak kapur putih yang masih terlihat jelas pada sandaran kursi. "Dengan kata lain, pelaku memiliki postur tubuh yang pendek, dan dilihat dari jejak yang tertinggal, ia juga seorang yang kidal karena ia memegang kapur ini menggunakan tangan kirinya."

"Lalu pelakunya..." ujar Changmin yang sedari tadi menyimak penjelasan dari Kyuhyun.

"Tunggu dulu. Bukankah dari kelas 1 ada yang pendek?" ia kemudian memalingkan wajahnya keluar ruangan dan berteriak.

"Hei! Anak pendek dari kelas 1..! Cepat kemari!" seru Changmin, dan tak lama setelahnya, muncullah seorang lelaki bertubuh pendek yang memasuki ruangan dengan raut cemas yang tak bisa ia sembunyikan.

"Sa-saya, sunbae?" ujarnya dengan nada takut.

"Coba tangkap ini..!" dengan gerakan tiba-tiba, Kyuhyun melemparkan penghapus ke arah anak lelaki bertubuh pendek tersebut. Anak itu yang belum sempat melakukan persiapan pun hanya menggunakan refleksnya untuk menangkap penghapus kayu yang melayang cepat ke arah tubuhnya.

Grep.

Kini penghapus itu bersarang di genggaman tangan kanannya. Sementara ia masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat lantaran menerima lemparan secara tiba-tiba dari kakak kelasnya –Kyuhyun itu.

Melihatnya, Kyuhyun tersenyum kecil. "Lihat, ia memakai tangan kanan, bukan?"

"Jadi bukan dia ya.." gumam beberapa anggota tim yang merasa salah mengira sang pelaku.

"Kalau tak ada orang pendek yang kidal, itu artinya..." Tan Hyun mengarahkan pandangannya pada Changmin. Mata Changmin melebar mendapat tatapn seperti itu dari temannya. Hey, apa mereka kini tengah mencurigainya?

"Yak! Bukan aku pelakunya!" sangkalnya dengan lantang. "Lagipula apa kau tak melihat tinggi badanku ini?"

"Apa mungkin ada pelaku dari luar? Tapi aku kira hanya orang dalam yang mengetahui password untuk masuk ke ruangan ini." sergah Jino. Ia pun mulai bingung akan siapa pelaku yang sebenarnya.

"Mana ku tahu?!" Changmin menyahut dengan sedikit kesal. "Lagipula bagaimana 'pelaku' masuk ke sini?"

Kyuhyun mengeluarkan smirk andalannya. "Changmin –ah, coba kau ingat-ingat kembali saat kau membuka kunci awalnya. Membuka password secara langung di depan para anggota, membuat siapapun yang mendengar dan melihatnya pasti mengetahuinya, kan?

Pandangan Changmin terlihat menerawang pada kebiasaannya untuk membuka password dengan mengucapkannya cukup keras. Dan ia hanya bisa meringis, menyadari kecerobohannya itu.

"Apa mungkin saat itu ada orang luar yang melihatnya, ya?" Giliran Dong Sook yang kini mengeluarkan suaranya.

"Bisa saja, yeah.. mungkin benar." Ucap Changmin seraya mengusap tengkuknya. Ia merasa malu sekarang. Dan saat ia mengangkat kepalanya, seluruh pasang mata disana menatapnya dengan berbagai ekspresi, membuatnya semakin merasa kikuk.

"Su- sudahlah, kita serahkan saja pelakunya pada Kyuhyun. Arasseo?" Changmin berdalih dengan cepat, mencoba mengalihkan perhatian.

"Kita masih harus fokus dan konsentrasi untuk persiapan turnamen selanjutnya. Jadi, ayo kita latihan!" ucapnya semangat, dirinya keluar dan diikuti para anggota tim yang lainnya.

Dan Kyuhyun hanya terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu.

-o0o-

Kyuhyun berjalan dengan santai menuju ruang guru. Ada hal yang harus ia pastikan. Dan di tengah langkahnya, ia bertemu dengan Kibum yang tengah berjalan dengan teman-teman klub-nya.

"Mau kemana, Kyu?" tanya Kibum saat melihat Kyuhyun, adik kembar –tidak identiknya berjalan berlawanan dengannya. Ini sudah jam pulang dari klub sekolah dan Kyuhyun sepertinya belum berniat untuk pulang.

"Aku ada sedikit urusan dengan Kang seonsaengnim, kau pulanglah dulu." Balas Kyuhyun yang kini berhenti tepat di depan Kibum. "Jangan khawatir. Aku sudah menghubungi eomma tadi." Lanjutnya dengan cepat begitu melihat raut wajah Kibum. Ia bisa menebaknya bahkan sebelum kakaknya itu mengeluarkan suaranya.

"Arasseo. Kau, hati-hati di jalan." Ucap Kibum datar. Sedatar wajahnya.

"Setidaknya berikan senyumanmu di akhir kalimat, Kibum –ah!" Gerutu Kyuhyun pelan saat dirinya kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang guru. Namun pendengaran Kibum yang memang tajam mampu menangkapnya, mencipta senyuman samar yang menghiasi bibirnya.

-o0o-

"Selamat sore, Kang seonsaengnim.." Kyuhyun membungkuk hormat pada lelaki paruh baya yang masih terlihat bugar di usianya. Salah satu guru olahraga di SIHS yang menjadi pembimbing dalam klub sepak bola yang di ketuai oleh Kyuhyun. Guru Kang tersenyum ramah melihat anak didiknya menyapanya.

"Sore, Kyuhyun –ah... Ah, ini latihan terakhirmu sebelum masuk ujian kelulusan, bukan?"

Kyuhyun tersenyum simpul, menganggukkan kepalanya singkat.

"Ne, seonsaengnim."

"Sayang sekali.. padahal aku berharap di turnamen musim ini kau bisa membawa tim-mu menuju babak final nantinya." Tersirat harapan dalam mata Guru Kang. "Aku berharap perjuanganmu tak berhenti sampai disini saja, Kyuhyun –ah.." Guru Kang menepuk pundak kanan Kyuhyun. Dan Kyuhyun mengangguk mantap sebagai balasannya.

"Ehm.. seonsaengnim, boleh saya meminta tolong sesuatu?" tanya Kyuhyun dengan sopan. Meski terkenal sebagai anak yang kurang ajar, namun ia begitu menghormati orang-orang yang jauh lebih tua darinya.

Guru Kang memberikan tatapan bertanya pada Kyuhyun. "Minta tolong apa, Kyu? Katakanlah.."

-o0o-

Mentari mulai menyembunyikan dirinya di balik mega kala Kyuhyun tengah mengarahkan kakinya menyusuri jalanan kota Seoul seorang diri. Sebuah kertas kecil menjadi pedomannya. Pandangannya berkeliling sementara kakinya terus membawanya melangkah menyusuri jalan. Hingga ia tiba sebuah tanah lapang yang cukup luas, dengan pagar kawat yang mengelilinginya. Kyuhyun menghentikan langkahnya dan memilih untuk memandangi seorang perempuan dengan seragam sepak bolanya tengah menggiring bola seorang diri dan menendangnya ke arah dinding pembatas, mencipta pantulan yang cukup keras dari sana. Kyuhyun tersenyum penuh arti memandangnya.

Ia mulai memasuki area tanah lapang. Dan kedatangannya sukses menghentikan aksi gadis yang tengah memainkan bola sepak diantara kedua kakinya.

Tap.

Kini bola itu berada tepat di bawah sepatu milik Kyuhyun, dan ia menendang bola itu ke arah gadis yang menerimanya dengan senang hati.

"Anyeong.." sapa Kyuhyun dengan ramah. Ia merasa, gadis yang tengah berdiri di depannya itu sungguh menarik.

Gadis itu hanya memandang Kyuhyun dengan tatapan herannya, masih dengan memainkan bola di antara kedua kakinya.

"Orang yang menulis di papan tulis base camp tim sepak bola SIHS. Itu dirimu, 'kan?" pertanyaan yang terlontar dari bibir Kyuhyun membuat gadis itu tertegun. Ia terdiam, namun matanya tak pernah luput menatap Kyuhyun dengan intens.

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya gadis itu, kedua kakinya masih dengan lincah memainkan bola di kakinya. Sementara Kyuhyun kini mendudukkan dirinya di bangku besi yang berada di tepi tanah lapang tersebut.

"Di kursi ada jejak kapur yang tertinggal dari ibu jari dan jari telunjuk kiri, jadi dapat di simpulkan bahwa pelaku merupakan orang dengan postur tubuh pendek dan kidal." Gadis itu masih fokus pada aksinya memainkan bola, menunggu Kyuhyun melanjutkan kalimatnya.

"Selain itu, kau yang selalu membersihkan ruangan itu. Dan dari bentuk tulisan yang ada, lalu mengenai pengetahuannya mengenai dunia sepak bola, aku dapat menyimpulkan bahwa pelakunya adalah seorang perempuan."

"Aku memutuskan untuk bertanya pada Kang seonsaengnim, dia berkata bahwa pada musim panas, seorang gadis meminta padanya untuk bergabung dengan tim sepak bola SIHS." Kyuhyun pesisten memperhatikan mimik wajah gadis yang masih saja fokus pada aksinya memainkan bola. Namun ia bisa melihat sedikit perubahan pada tatapan matanya ketika mendengar kalimatnya yang terakhir.

"Aku bahkan hampir tak percaya.." Kyuhyun tersenyum simpul. Kini kedua telapak tangannya ia masukkan ke dalam saku blazer seragamnya. "Lalu aku menanyakan langsung nama gadis itu."

"Kemudian ia memberitahu kelasnya dan aku pun meminta alamat lengkapnya. Karena itu mencarimu ke sini." Gadis dengan kuncir kuda itu kini mulai menghentikan aksinya memainkan bola. Namun ia masih belum mengangkat kepalanya untuk menatap Kyuhyun. Rupanya rerumputan hijau yang dipijaknya lebih menarik perhatiannya daripada wajah tampan yang terus menatapnya dengan intens.

Kyuhyun sengaja membiarkan gadis itu larut dalam pikirannya, menunggunya untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Gadis itu menghela nafas dalam sebelum memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun yang masih menyunggingkan senyumannya.

"Mianhae. Memang aku yang menulisnya." Mendengar pengakuan jujur dari gadis itu membuat senyuman Kyuhyun semakin merekah.

"Aku ini murid pindahan dari Nowon sejak akhir Juni lalu." Gadis itu tampak mulai terbuka dengan Kyuhyun. "Dari taman kanak-kanak, aku sudah bermain sepak bola."

"Aku juga berambisi sejak junior high school untuk bisa menjadi pemain yang berbakat."

"Mengagumkan sekali, padahal kau adalah anak baru." Kyuhyun berucap seraya membawa tubuhnya untuk berdiri, menghampiri gadis itu lebih dekat.

"Tapi di sekolahku dulu, tim sepak bola khusus untuk perempuan. Karena itu aku ingin bergabung dengan klub sepak bola SIHS." gadis itu melanjutkan kalimatnya. Kyuhyun berjalan melewati gadis itu dan berhenti beberapa langkah di depannya.

"Aku ragu mereka mau menerima seorang pemain wanita, karena tim kami adalah tim kuat yang takut melukai seorang wanita." Ucap Kyuhyun tanpa membalikkan badannya, memunggungi gadis itu. Kini ekspresinya terlihat serius.

"Aku pun awalnya ragu untuk bergabung, maka dari itu aku menemui Kang seonsaengnim. Namun ia justru mengira aku menawarkan diri untuk menjadi manager dalam tim SIHS. Dan tanpa mendengar penjelasanku, ia menerimaku sebagai manager dalam tim kalian." Ujar gadis itu, menatap punggung Kyuhyun.

Gadis itu tersenyum lirih. "Jujur saja, keputusan Kang seonsaengnim itu membuatku sedikit terpukul. Yah, mungkin memang SIHS tidak menerima pemain sepak bola seorang wanita."

"Kalau memang seperti itu, aku mengerti sekarang.." Kyuhyun kembali mengukir senyuman tipis di bibirnya. "Karena kata Kang seonsaengnim, ia sangat berterimakasih atas kesungguhanmu menjadi manager dalam tim kami." Lanjut Kyuhyun dan membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu. Namun jarak yang memisahkan mereka semakin jauh.

"Aku jadi tak punya pilihan. Selain jauh dari tempat latihan sepak bola.." Gadis itu tertegun saat Kyuhyun memberi isyarat padanya untuk mengoper bola di kakinya. Dengan senyuman yang mengembang di bibir merahnya, gadis itu menendang bola di kaki kanannya ke arah Kyuhyun. Dan Kyuhyun kembali menendangnya. Jadilah saat ini mereka berdua melanjutkan percakapan mereka sembari saling mengoper bola.

"Lalu, bagaimana rasanya?"

"Yah.. aku hanya melihat dari atas gedung sekolah saja. Aku melihat semuanya bermain, tapi tak ada seorang wanita pun di sana. Aku jadi sedikit kecewa." Gadis itu tersenyum singkat mengingat masa-masa dirinya yang selalu mengawasi tim SIHS dari atap gedung sekolahnya. "Aku jadi ragu bisa ikut bermain dalam tim.." desahnya pelan, tersirat nada kecewa di balik kalimatnya.

"Tetapi, sebentar lagi turnamen besar akan di mulai" seru Kyuhyun dan menendang bola dengan sedikit memberi gerakan menukik. Gadis itu mengantisipasinya dengan baik, dan kembali mengoper bola sepak itu pada Kyuhyun.

"Sebenarnya, aku khawatir pada tim sekolah kita." Kyuhyun menghentikan laju bola di kaki kanannya dan menatap gadis di depannya dengan seksama, menunggu ia melanjutkan kalimatnya. "Kyuhyun sunbae sangat aktif dan berbakat untuk membawa nama baik SIHS, tapi sayangnya anggota tim yang lain kurang memperhatikannya."

"Dan itulah yang membuatmu-"

"Benar." Gadis itu mengangguk, mendahului Kyuhyun yang belum menyelesaikan kalimatnya. "Ke-esokan harinya, aku menulis hal-hal yang aku perhatikan di papan tulis yang ada di base camp."

"Aku berharap introspeksi diri agar mereka memperbaiki dan meningkatkan cara bermain mereka." Lanjut gadis itu dengan raut wajah yang terlihat antusias.

"Dan mungkin, meski pun saat ini aku punya tekad kuat untuk bergabung dengan tim SIHS, aku tak boleh egois dan harus terus memberi semangat pada para anggota tim sekolah kita." Mendengar penjelasan gadis itu, Kyuhyun semakin melebarkan senyumnya.

"Bagaimana dengan password ruangannya?"

"Oh itu, aku mengikuti Changmin sunbae dan melihat password yang ia ucapkan sebelum ia membuka pintu base camp.

"Sudah ku duga." Kyuhyun mengangguk puas mendengar jawaban dari gadis itu. "Pantas saja kau bisa membukanya."

Keduanya saling berpandangan untuk sesaat sebelum tawa mereka pecah, menggantikan keheningan yang sempat terjadi.

"Haha.. passwordnya selalu 4668, kan?" tanya Kyuhyun di tengah tawanya.

"Ne." Gadis itu ikut tertawa renyah.

"Tapi kau sungguh berani menulis seperti itu. Nanti kau bisa kena marah mereka, lho.."

"Aku mengerti. Mianhae.."

"Haha.. kau benar-benar orang dewasa yang imut, ya? Aku jadi suka melihatnya." Kyuhyun tak menyadari, kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya sukses membuat kinerja jantung gadis itu meningkat, dan rona merah muda menjalar dengan cepat di pipinya.

-o0o-

Sinar mentari kini benar-benar telah bersembunyi di balik awan-awan hitam yang menyelubungi langit Seoul. Kyuhyun merapatkan blazer sekolahnya saat merasakan hawa dingin mulai menyelusup pori-porinya. Jarum arlojinya baru menunjukkan pukul 18:35, yang artinya masih cukup sore untuk menginjakkan kaki di rumahnya. Lagipula ia telah memberi tahu eomma-nya terlebih dulu, jadi saat ini tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kyuhyun melangkahkan kakinya dengan santai, kini blok rumahnya sudah terjangkau pandangannya.

Langkahnya terhenti saat matanya menangkap suasana yang cukup ramai di depan kediamannya. Beberapa maid tampak hilir mudik mempersiapkan keperluan untuk perjalanan jauh yang sepertinya Kyuhyun tahu siapa yang akan membutuhkannya. Dan benar saja, kedua orang tuanya kini tampak berjalan beriringan dengan mantel tebalnya. Keduanya tampak tengah mengutarakan sesuatu pada Kibum, kakak kembarnya yang terlihat beberapa kali menganggukkan kepalanya singkat.

Kyuhyun semakin mendekatkan diri pada ketiga sosok yang sepertinya belum menyadari kedatangannya.

"Eomma, kalian akan pergi kemana?" suara tanya Kyuhyun yang tiba-tiba membuat ketiga pasang mata itu mengalihkan atensi padanya. Nyonya Cho berjalan pelan, menghampiri putra bungsunya yang masih mengguratkan raut penasaran.

"Appa dan eomma ingin menghabiskan seminggu untuk berlibur di Jeju, Kyuhyun –ah. Kau tahu, appa-mu saat ini sangat membutuhkan refreshing." Jawab Nyonya Cho dengan senyuman di wajahnya. Pernyataan eomma-nya membuat Kyuhyun menatap mereka dengan heran.

"Berlibur? Kenapa tak menunggu kami liburan akhir semester, eomma? Kita bisa berlibur bersama. Iya kan, Kibum –ah?" Kyuhyun mencoba keberuntungannya dengan meminta bantuan Kibum. Berharap kakaknya itu menyetujui pemikirannya.

"Kami membutuhkan waktu hanya untuk kami berdua, Kyuhyunie." Kali ini Tuan Cho menghampiri Kyuhyun, mencoba memberi pengertian padanya. "Kau tahu, yah~ semacam honey moon season kedua." Tukas tuan Cho dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya.

Kyuhyun membulatkan matanya mendengar penuturan appa-nya. Kali ini ia menatap horor pada kedua orang tuanya yang kini saling merangkul satu sama lain dengan mesranya.

"Aku sama sekali tidak mengharapkan untuk bisa punya adik, eomma!" Kyuhyun mulai melancarkan aksi protesnya. "Lagipula, apa appa dan eomma tak ingat berapa usia kalian?"

Tuan Cho melempar pandangan menegur pada Kyuhyun yang dirasa berbicara kurang sopan padanya. Kyuhyun menundukkan kepalanya, meski bibirnya merengut mendapat tatapan seperti itu.

"Kau akan mengerti jika kau dewasa kelak, Kyu.." Tuan Cho menepuk pundak Kyuhyun.

"Cha.. semua sudah siap. Kibum, kau jaga adikmu dengan baik. arasseo? Dan ingat! Tidak ada pertengkaran. Kalian harus saling menjaga satu sama lain." Nada tegas dari ayah mereka membuat Kyuhyun dan Kibum menganggukkan kepalanya bersamaan.

Nyonya Cho memeluk Kibum erat, kemudidan menepuk puncak kepalanya pelan seraya memberi senyuman teduhnya.

"Eomma pamit, ne? Jaga adikmu." Kibum membalas senyuman ibunya dan mengangguk mantap. Kini Nyonya Cho beralih pada Kyuhyun dan melakukakn hal yang sama sebelumnya. Ia memeluk Kyuhyun dan mengacak surai cokelat gelap putarnya dengan sayang.

"Jaga dirimu baik-baik dan turuti nasehat hyung-mu, arasseo? Eomma tidak mau menerima laporan tentang pertengkaran kalian berdua."

"Arasseo, nae yeoppo eomma." Nyonya Cho tersenyum gemas mendengar kalimat yang Kyuhyun ucapkan dengan lamat-lamat, terdengar jengah.

Si kembar Cho memperhatikan appa dan eomma mereka yang memasuki mobil dengan bantuan sopir pribadi keluarga Cho. Setelah masuk, mereka melambaikan tangan mereka dan meneriakkan kata 'hati-hati' dengan keras, terutama Kyuhyun.

Mobil yang ditumpangi Tuan dan Nyonya Cho telah menghilang dari pandangan. Kyuhyun bergegas masuk ke dalam rumah, namun suara Kibum mencegahnya.

"Darimana kau tadi, Kyu?"

"Aku?" Kyuhyun terlihat tersenyum dengan pandangan menerawang. "Aku bertemu dengan seseorang yang sangat menarik."

Meninggalkan Kibum yang tengah mengernyitkan dahinya heran.

-o0o-

Tim sepak bola SIHS tampak tengah berkumpul di tengah stadion untuk mendengar beberapa intruksi dari pelatih sekaligus pembimbing mereka, Kang seonsaengnim. Mereka duduk berbanjar, dan memperhatikan pelatih mereka dengan serius.

"Dan hari ini, kita kedatangan teman baru.." ucapan Kang seonsangnim membuat mereka saling berbisik dan menebak-nebak siapa si anggota baru itu.

"Hey anggota baru, perkenalkan dirimu!" seru Kang seonsangnim. Seorang yeoja yang masih mengenakan seragam SIHS lengkap dengan blazer terlihat memasuki stadion dengan langkah pelan. Semua manik mata memandangya dengan berbagai ekspresi. Bahkan sebagian terlihat lupa untuk sekedar menutup mulutnya. Gadis itu tampak manis dengan bandana biru muda yang membingkai rambut sebahunya semakin mempermanis penampilannya.

"Anyeonghaeseyo, na neun Lee Min Young imnida. Mohon bantuannya." Ucapnya riang, dan membungkukkan tubuhnya 90 derajat sebagai rasa hormat di awal pertemuannya sebagai anggota tim SIHS.

"Mengenai tulisan di papan tulis kemarin, saya benar-benar meminta maaf.." sekali lagi, Min Young membungkukkan badannya. Kali ini sebagai permintaan maaf yang tulus darinya. Kyuhyun tersenyum menatap gadis manis yang kini terlihat makin menarik di matanya.

"Jadi, kau yang menulisnya?" Changmin berseru dengan heboh, seolah ini adalah hal yang benar-benar luar biasa baginya.

"Ne, sekali lagi maafkan sikap tidak sopan saya."

"Gwenchana, Min Young-ssi. Kau justru terlihat keren!" ucapan Changmin membuat para anggota tim SIHS menyoraki aksinya. Dasar! Sikapnya akan berubah 180 derajat jika dihadapkan dengan seorang gadis cantik, apalagi yang berwajah manis seperti Min Young. Meski sedikit tomboy, namun Min Young benar-benar tampak manis dengan penampilannya saat ini.

"Sudahlah, lagipula yang kau tulis itu memang kekurangan kami. Dan itu sangat membantu kami untuk memperbaiki performa." Ujar Tae Hyun, salah satu anggota tim yang memiliki postur tubuh paling tinggi di antara yang lainnya.

"Itu benar." Sahut Tan Hyun. "Dan tulisanmu itu benar-benar keren!" serunya riang searaya mengacungkan kedua ibu jarinya pada Min Young. Gadis itu sendiri terkikik pelan melihat perlaku rekan satu tim-nya saat ini.

Kyuhyun melirik seseorang di sampingnya yang kini tampak menatap intens pada sosok Min Young di depan mereka yang masih menunjukkan tawanya menghadapi reaksi para anggota tim yang kini bergantian untuk memujinya.

"Ada apa denganmu, Seun Gi –ya?" Kyuhyun menyikut pelan lengan Seun Gi. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Kyuhyun sunbae, tahun depan tim kita sudah tidak ada senior lagi." Seun Gi mengucapkannya dengan raut wajah murung. "Bagaimana kami bisa memenangkan turnamen tanpa adanya dirimu?"

"Ah, memang kenapa?"

"Aku bahkan tidak menyangka sama sekali." Seun Gi mengalihkan atensinya pada Min Young. "Kau justru di gantikan oleh seorang perempuan." Mendengar kalimat terakhir dari Seun Gi membuat Min Young menurunkan pandangannya pada tanah di yang di pijaknya. Ia menunduk, memikirkan hal yang memang sudah ia prediksi akan terjadi ini. Menjadi anggota baru dalam tim sepak bola SIHS memang bukanlah hal yang mudah, terlebih dengan statusnya sebagai seorang perempuan.

"Apa yang kau katakan? Jangan melihat dari penampilannya. Bisa jadi gadis ini memiliki kemampuan yang lebih hebat dari kita semua!" seru Changmin dengan nada serius.

"Aku mengerti, tapi.."

"Seperti yang dikatakan oleh Seun Gi, ia mengharapkan tim kita memenangkan turnamen tahun depan." Ucapan Kang seonsangnim berhasil memotong kalimat Seun Gi.

"Hari ini adalah tahun ke-3 peresmian tim kita. Dan kita akan adakan pertandingan latihan mendadak. Waktu bermain hanya 30 menit."

"ARASEEO!"

-o0o-

PRITTT!

Suara peluit menandakan dimulainya pertandingan sepak bola yang merupakan bagian dari latihan tim SIHS. Regu tim di bagi menjadi dua, sementara para junior duduk di tepi stadion untuk bisa mengamati para senior yang tengah beraksi.

Min Young duduk bersama deretan para junior disana, mengamati jalannya pertandingan dengan seksama. Senyuman di bibirnya makin merekah kala melihat Kyuhyun yang sampai menit ke 18 sudah mencetak gol sebanyak tiga kali. Kemampuan Kyuhyun memang di atas rata-rata.

Pertandingan harus terhenti saat tiba-tiba Changmin terlihat mengeluh kesakitan. Ia memegang paha kanan bagian atasnya. "Sepertinya kakiku mengalami kram."

Kyuhyun mendekat untuk mengecek keadaan sahabatnya itu. "Berdiri dengan benar!"

"Aw! Sepertinya aku harus mundur, Kyuhyun-ah!" seru Changmin, berjalan keluar lapangan. Namun sebelumnya, ia mengedipkan sebelah matanya pada Kyuhyun, membuat Kyuhyun tertegun. Tapi sedetik kemudian, smirk tipis terukir di bibir menawannya. Ah, ia mengerti sekarang.

"Min Young-ah! Kau gantikan posisiku. Arasseo?!" Changmin menepuk pundak Min Young dan memberikan senyuman terbaiknya.

Min Young yang masih terkejut, menatap Changmin dengan pandangan tidak percaya. Ia kini di izinkan untuk bermain? Bersama para anggota tim SIHS lainnya? Sungguh ini seperti mimpi baginya. Min Young menatap Kyuhyun yang tengah tersenyum ke arahnya dan menganggukkan kepalanya seolah memberi semangat padanya.

"Arasseo, sunbae!" seru Min Young dengan semangat yang berkorbar dalam dirinya.

-o0o-

Min Young tersungkur akibat dorongan dari tubuh tinggi Seun Gi saat berusaha merebut bola darinya. Ia mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan mata Seun Gi yang tengah menatapnya sinis. "Kau bilang kemarin pertahananku yang paling lemah, bukan?!"

Min Young tersenyum kecil, bangkit untuk kembali pada posisinya. Sementara anggota tim lain di tepi lapangan terlihat berseru memberi semangat padanya.

Langkah Min Young kembali dihalangi oleh anggota tim lawan, dengan cepat ia mengoper bolanya pada Kyuhyun yang berlari di samping kanannya. Kyuhyun menerima bola darinya dan melakukan shooting ke arah gawang, bola itu menukik tajam dan melesat menjebol gawang lawan.

"Yeah! Goal...!" Kyuhyun melakukan high five dengan Min Young dan tersenyum bangga padanya. "Timing yang tepat, Min Young –ah."

-o0o-

Kibum tengah memfokuskan dirinya pada deretan huruf dalam buku sains yang berada dalam genggamannya, dirinya duduk di halte bus untuk menunggu adiknya keluar dari gerbang sekolah. Seharusnya tak lama lagi ia akan melihat sosok Kyuhyun mengingat ini sudah memasuki jam usai klub sekolah. Klub-nya sendiri hari ini sedang tak ada jadwal.

Cess.

Ia sedikit berjengit saat tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipi kirinya. Tanpa melihat siapa pelakunya, Kibum sudah bisa menebak siapa gerangan sosok yang berani melakukan hal ini padanya.

"Kau terlihat lebih tampan dengan wajah seriusmu itu, Kibum –ah." Hyura tersenyum manis pada Kibum.

"Gomawo." Balas Kibum singkat, seraya menerima kaleng coke dingin dan meminumnya perlahan.

"Apa kau akan terus melakukan ini tiap harinya, Kibum –ah?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Hyura membuat Kibum meninggalkan atensinya dari deretan kalimat dalam bukunya dan menatap gadis itu dengan alis sedikit bertaut. Namun tak ada satu pun frase yang keluar dari bibirnya, seolah menunggu Hyura untuk melanjutkan kalimatnya.

"Yeah.. kau tahu, menunggu Kyuhyun untuk pulang bersama meski kau tak ada jadwal untuk klub yang kau ikuti dan membuatmu harus menunggu lama untuknya."

Iris Kibum sedikit mengeruh mendengar pernyataan dari Hyura. Ia sedikit tak suka dengan pernyataan Hyura yang terdengar seperti menyalahkan Kyuhyun.

"Ya, aku akan terus melakukannya. Waeyo?" Ujar Kibum mantap, pandangannya lurus ke depan.

"Eobseoyo. Hanya saja, apa kau tak lelah?"

"Kyuhyun adalah dongsaeng-ku satu-satunya. Jangankan hanya menunggunya, apa pun akan aku lakukan demi menjaganya. Apa kau ada masalah dengan hal ini, Ra –ya?"

Hyura sedikit tergagap mendapat tatapan intens dari Kibum. Apa mungkin ia telah salah bicara?

"Aniya, Kibum –ah." Hyura kini menundukkan pandangannya, menatap ujung sepatunya yang menjadi objek pengalihan rasa gugupnya. Kedua tangannya memutar-mutar kaleng coke yang sudah tak lagi dingin.

"Ra –ya, aku harap kau bisa memahami posisiku. Kyuhyun adalah tanggung jawabku saat berada di luar jangkauan appa dan eomma. Bagaimanapun aku adalah hyung-nya, Ra –ya."

Hyura menghela nafas dalam. "Arasseo, Kibum –ah. Maafkan aku."

"Kibum –ah!" perhatian mereka berdua beralih pada sosok Kyuhyun yang tengah berlari kecil ke arah mereka, menyeberang zebra cross yang melintang di jalan raya. Senyuman cerah merekah di bibir milik Kyuhyun.

"Anyeong, Kyu.. sepertinya suasana hatimu sedang sangat baik, ya?" Hyura menyapa Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh pada Hyura masih dengan senyuman yang belum memudar dari bibirnya. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya. "Apa terlihat dengan jelas?"

"Bagaimana tidak terlihat jelas jika kau memasang senyumanmu selebar itu. Apa kau tak takut bibirmu robek, huh?" tak biasanya seorang Cho Kibum mengeluarkan frase sepanjang ini. Kyuhyun merengut mendengar sindiran yang dilayangkan oleh kakaknya.

"Yak! Setidaknya kau harus ikut senang saat adikmu merasa senang!" seru Kyuhyun sarkatis.

Kibum menyeringai. "Jadi, sekarang kau meengakui kalau kau 'adik'ku, hm?"

"Cho Kibum aku membencimu!" Kyuhyun berlalu meninggalkan Kibum dan Hyura setelah mengungkapkan rasa kesalnya dengan melemparkan tatapan tajamnya pada Kibum. Sementara Kibum terkekeh pelan melihat tingkah adik satu-satunya itu. Ini merupakan sebuah hiburan untuknya. Dan Hyura, gadis itu sedari tadi memperhatikan interaksi yang terjadi antara dua saudara kembar –tidak identik itu. dan ia bisa menyimpulkan, jika Kibum memang teramat menyayangi adiknya. Terlihat dari caranya berkmunikasi dengan Kyuhyun. Kibum akan menjadi sosok yang berbeda jika tengah bersama adik kembarnya.

Kibum melirik Hyura di sampingnya. "Saekarang kau pasti mengerti mengapa aku ingin selalu melindunginya, Ra –ya."

Hyura menatap Kibum dari samping, berusaha membaca raut wajah Kibum. Sedetik kemudian, senyuman tipis terukir di bibir tipisnya. "Ne, Kibum –ah." Hyura menganggukkan kepalanya mengerti. "Kau seorang hyung yang sangat baik."

Senyuman Kibum kian merekah, ia kini menatap Hyura dengan pandangan teduhnya, kemudian membawa gadis itu dalam rengkuhannya. "Gomawo, Ra –ya." Hyura tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya dalam rengkuhan hangat milik Kibum.

-o0o-

Kibum melirik Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya dalam sandaran duduknya. Mereka kini tengah berada dalam bus yang akan mengantar mereka menuju jalan pulang, setelah Kibum berhasil mengejar Kyuhyun dan menyeretnya untuk masuk ke dalam bus berwarna biru itu. Sifat Kyuhyun yang keras kepala dan sedikit kekanakan memaksanya untuk bersikap tegas padanya. Masih ingat beberapa saat lalu saat Kyuhyun menolak untuk pulang dengannya. Hey, apa yang akan anak itu lakukan untuk sampai ke rumah? Jalan kaki? Bisa-bisa eomma mereka langsung melesat untuk meninggalkan Jeju jika menerima kabar bahwa putra bungsunya tumbang.

"Yak bocah! Sampai kapan kau marah padaku?"

Kyuhyun langsung membuka matanya dan melemparkan death glare-nya pada Kibum. "Bocah kau bilang?! Apa kau lupa bahwa kita ini saudara kembar yang berarti kita berada di usia yang sama?"

Kibum menyeringai, tatapannya seolah mampu mengejek Kyuhyun. "Usia kita memang sama, tapi tingkahmu itu tak ada bedanya dengan bocah enam tahun."

Kyuhyun mendelik kesal. Dirinya ingin membantah, memilih pembelaan apa yang kiranya akan ia berikan. Namun semua kalimatnya seolah tertelan kembali dalam benaknya. Matanya bergerak gelisah, saat tak ada satupun kaliat pembelaan yang terpikir olehnya. Lagipula kalau dipikir-pikir, pernyataan Kibum memang benar adanya.

"Tak bisa mengelak, ya?" Kibum semakin menggoda Kyuhyun, ini hal yang sangat menyenangkan baginya. Sementara Kyuhyun memilih untuk menatap jalanan Seoul dari balik jendela bus yang melaju cepat menembus lautan kendaraan yang kian padat di saat petang. Kibum menahan dirinya untuk tidak mengacak-acak surai cokelat gelap milik Kyuhyun lantaran gemas dengan tingkah adiknya yang memang hanya satu itu.

CKIIT...

Decitan yang terjadi pertanda bahwa bus yang membawa tubuh mereka telah mencapai pemberhentian. Keduanya bergegas turun, namun Kyuhyun melangkah lebih cepat. Sepertinya anak itu masih dalam mode kesalnya pada Kibum.

Kibum mempercepat langkahnya untuk bisa mensejajarkan dirinya dengan Kyuhyun, dan memulai pembicaraan.

"Kyuhyun –ah, sampai kapan kau akan bertahan dengan sikapnmu yang seperti ini, hmm?"

Pertanyaan Kibum hanya dianggap angin lalu oleh Kyuhyun, ia tetap pada langkahnya.

"Kau tak ingat pesan eomma? Tak ada pertengkaran selama mereka tak di rumah, Kyu."

Kali ini Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menatap Kibum, menyeringai.

"Oh, jadi kau takut pada eomma , ya?" mau tak mau Kibum terhenyak di tempatnya.

"Apa kau bilang?!" Belum sempat Kibum memberi pelajaran pada Kyuhyun, pemuda itu sudah terlebih dahulu membawa tubuhnya berlari, melesat meninggalkan Kibum di belakangnya.

-o0o-

Minggu pagi, Kyuhyun dan Kibum memilih untuk berolahraga di taman kota yang terlihat ramai dengan para warga kota yang juga tengah melakukan berbagai jenis olahraga demi menjaga kesehatan tubuh mereka. Tak lupa Kyuhyun membawa serta bola sepak kesayangannya.

Saat ini Kyuhyun tengah memainkan bolanya diantara kakinya, melakukan atraksi yang menarik di depan para anak kecil yang memandangnya dengan penuh takjub. Berulangkali ia mengarahkan shooting pada tembok pembatas, tepat di tengah lingkaran yang memang biasa dijadikan target shooting. Sementara Kibum tengah berlari kecil mengelilingi taman kota.

"Sekarang hyung akan menunjukkan tendangan overhead. Perhatikan baik-baik, arra?"

"Ne...!" para bocah lelaku itu terlihat sangat bersemangat menanti tendangan milik Kyuhyun.

Kyuhyun kini memainkan bola di kaki kanannya, kemudain melambungkannya ke atas hingga bola itu berada di atas kepalanya, dan menyundulnya dengan ritme yang tetap. Sembari memainkan bola di atas kepalanya, Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap para bocah itu.

"Tapi kalian semua harus berjanji pada hyung, untuk tidak melakukannya sendiri di rumah, arasseo?"

Para bocah itu kembali mengangguk dalam duduknya, mata mereka semakin memancarkan binarnya, tak sabar menunggu aksi kakak tampan di depannya.

Kyuhyun menyundul bola dengan agak keras hingga bola itu kini melambung tinggi di atasnya. Ia mengangkat kaki kanannya, bersiap melakukan overhead shooting dan melakukan lompatan. Namun sebelum kakinya menyentuh bola di atas kepalanya, seseorang menginterupsi aksinya.

Duk!

Bola itu kini mendarat cukup keras di kepalanya, membuahkan tawa riang para bocah disana yang menyaksikan kakak tampan itu kini tengah mengelus-elus bagian atas kepalanya.

"Mianhae, aku mengganggu." Kyuhyun yang masih terfokus pada rasa sakitnya, menoleh pada suara seorang pria yang berusia sekitar 30-an itu.

"Ada apa, ahjussi?"

"Aku hanya ingin bertanya, apa tiga hari yang lalu kau melihatku di tempat ini?" tanya pria itu seraya menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuk kanannya. "Sekitar pukul 10:30.." Kyuhyun memasang wajah herannya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mulai mengamati wajah pria tinggi yang berdiri di hadapannya. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan harapan meski tertutup dengan wajah murungnya.

"Hmm, itu adalah jam sibuk, ahjussi.. murid sekolahan sepertiku tak mungkin berada di sini."

"Begitu, ya. Ah, benar juga." Wajah pria itu tampak kembali murung, seperti lelah mencari sesuatu.

"Memangnya ada a~"

"Terima kasih." Pria itu menepuk pundak Kyuhyun dan berjalan melewatinya. Kyuhyun menautkan kedua alis tebalnya, iris hazelnya mengamati pergerakan pria itu yang kembali menanyakan hal yang sama dengan beberapa orang yang berada di taman ini.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh sisi taman kota ini, mencoba menemukan hal yang mungkin bisa menjawab rasa herannya. Dan pandangannya terhenti pada dua orang pria bertubuh tegap yang tengah berdiri di bawah pohon rindang di salah satu sisi taman. Kedua pria itu terlihat tengah memfokuskan pandangannya pada satu arah, melemparkan tatapan mengawasi dengan matanya yang tajam. Kyuhyun mengikuti arah pandang mereka dan menemukan pria yang tadi bertanya padanya yang menjadi objek pengawasan mereka. Pria itu masih saja berkeliling taman dan menannyakan hal yang mungkin sama dengan pertanyaan yang dilontarkan padanya.

Puk.

Kyuhyun sedikit terhenyak di tempatnya berdiri saat secara tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak kanannya. Dan Kibum adalah pelakunya.

"Wajahmu tampak serius, Kyu. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Dan Kyuhyun menyeringai kecil setelahnya.

To be continued~

Balasan review chapter 7

riritary9 : ini udah lanjut~ :3

jihyunelf : iya nih, ga tega ssama Kyuhyunie patah hati melulu xD

Awaelfkyu13 : *pukpukKyuhyunie* pasangan baru? Yang ekstrem?! Ini udah aku munculin kekekeee... aha Appa Cho emang jahil, tapi demi kebaikan putra-putranya x)

emon el : iya kak, serumit cintaku padamu #eaa Wah aku juga suka baca FF-FF kakak.. apalagi yang Twins xD update juga ya kak :3

AlifiaR2012 : selamat datang~~ x)

lydiasimatupang2301 : ini mendekati end kayaknya ;3 *smirk*

Nanakyu : sama. Aku juga gemess sama mereka berdua xD

Hyunhua : yup, karena sikap mereka berdua yang ekstrem, jadi cara menyatukannya pun harus degan cara yang ekstrem kekekekeee.. kyu emang baik hati mau ngalah buat kakaknya tersayang ;)

P . S : sebenernya sedih liat silent reader , tapi ini memang resiko posting di media online. Tahukah kamu? Review dari kalian bisa menjadi inspirasi jalan cerita FF yang aku tulis loh, review kalian yang suka menebak-nebak dengan rasa penasaran itu bisa memunculkan ide-ide yang lagi stuck di kepala ku. Jadi, jangan sungkan untuk review yah~~~

Well, what's on your mind? Just say it on the review box.

Thank you, everyone~

With love, Little Evil ;]