Rate: saat ini masih T… semoga sampai akhir bakal tetep T….
Pairing : Stony, Stucky, SpideyPool(ntar,kalo inget… tapi kayanya ga jd)
Genre: family, bromance,sismance, boys love, shonen ai, hurt... author patah hati, dll...
Disclaimer :
Mas Tony dan mas Steve saling memiliki~
Semua chara di sini punya marvel~
Saya Cuma minjem... tapi ga bilang...
tidak ada keuntungan material apapun yang Koharu dapet dari penulisan ff ini. Hanya keuntungan batin berbagi kegalauan bersama pecinta stony...
WARNING: ff ini mengandung unsur BL/Buah Love#plak! Maksudnya percintaan sesama lelaki, beberapa adegan kekerasan dan baper...
SPECIAL WARNING: entah kenapa ada beberapa adegan yg nyerempet gore…. Buat yg ga suka jangan dibaca aja~
Note: Disini Steve ama Tony udah nikah, tinggal di Tower bareng beberapa avenger lainnya. Mereka punya anak yg namanya Peter. Sekarang Peter kelas 2 smp dan dia bukan spiderman~ atau setidaknya belum…. Dia masih ada typo tolong kasih tau yo~
saya ga baca ulang lagi soalnya... dan ga punya beta...
Happy reading~
:3
Don't touch my son chapter 3
(Do you remember?)
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Steve berusaha menuruni tangga-tangga batu dengan cepat hingga menimbulkan suara gemericik diantara tangga yang tergenang air. Steve cukup tergoda untuk berlari jika tangga yang bahkan tidak jelas ujungnya ini tidak licin oleh genangan ir pipa yang bocor. Steve heran bagaimana mungkin wanita yang terlihat berumur hamper lima puluh tahun itu bisa berlari begitu cepan bagai tikus got yang menyusup di gorong-gorong.
[kau sudah mendapatkannya? Hm….wait? I have to go] kata Tony melalui intercom sebelum bunyi beberapa benda yang jatuh mulai berdenging di helm Steve.
"belum. Yang lain, apa yang kalian dapatkan?" Tanya Steve pada anggota team yang lain.
[selain bahwa mereka punya kantin yang lebih buruk dari SHIELD?] Tanya Clint sambil mencicipi entah apa yang dilihatnya, Steve tidak ingin tahu[yeikss, aku bersyukur tidak bekerja untuk HYDRA, makanan mereka menjijikan.] Steve mendengar suara beberapa panci-panci yang sedang sibuk.
"black widow? bagaimana denganmu?" Tanya
[tidak sekarang cap, ada beberapa pria yang tidak tahu kapan waktunya meninggalkan seorang wanita sendirian…] dan dengan itu sambungan dengan avengers yang lain terputus. Steve menghentikan langkahnya, tidak sadar bahwa dia kini berdiri di ujung tangga.
Ada beberapa pintu batu yang gelap di hadapanya, seolah berusaha menjebak Steve. Steve berusaha menajamkan pendengarannya, dari pintu paling kiri terdengar gema langkah dan kecipakan air maka kesanalah dia pergi. Steve mengikuti suara langkah yang perlahan melambat hingga akhirnya menghilang dalam kegelapan, wanita itu berhenti. Steve berusaha memperlambat langkahnya, mengendap-endap. Steve bisa mendengar wanita itu bergumam dan mulai menjerit-jerit kesal.
Steve bersebunyi di balik pintu, bersembunyi dalam bayangan. Steve bisa melihat wanita itu berjalan melewati tabung-tabung raksasa berisi cairan hijau dan biru yang aneh, didalamnya banyak organ-organ dalam, potongan-potongan tubuh, dan beberapa bayi yang wujudnya tidak sempurna. Steve rasanya ingin muntah melihat pemandangan yang seharusnya hanya ada di film-film fiksi ilmiah tentang ilmuan gila yang sering ditonton Tony dan Bruce.
"padahal tinggal sedikit lagi… andai saja kita punya waktu lebih lama, aku pasti bisa menyempurnakanmu." Kata wania itu sambil menghadap sebuah kotak yang tidak jelas apa isinya. Steve bisa membayangkan tentakel-tentakel berlendir akan keluar dari dalam kotak itu untuk menyambut tangan wanita yang kini terulur kedalam kotak, membelai apapun yang ada di dalam sana.
Wanita itu kemudian menuju sebuah computer raksasa yang mulai mengeluarkan bunyi aneh, ditekannya beberapa tombol di computer raksasa yang mengingatkannya pada computer Zola, hanya saja lebih canggih dan menggunakan layar touch screen. Wanita itu kemudian mulai memecahkan tabung-tabung kaca itu, sengaja membiarkan isinya berceceran di lantai dan menguarkan bau alcohol dan formalin yang menyengat. Kemudian kembali pada kotak yang berisi makhluk entah apa itu. Wanita itu menarik sebuah buntalan dari dalam kotak itu dan meletakannya pada sebuah meja, buntalan kain itu kemudian mulai menangis. Seorang bayi.
Si wanita meninggalkan bayi yang terus menangis, mencari sesuatu dalam laci di bawah meja. "sebentar lagi kita akan pergi dari tempat busuk ini, tidak perlu khawatir." Kata si begitu menemukan apa yang di carinya, sebuah pisau. "HAIL HYDRA!" kata wanita itu sebelum menghujamkan pisaunya kea rah bayi itu. Bayi itu sekarang menyemburkan darah ke seluruh ruangan dan sekarat karna kehabisan darah jika saja Tony yang entah datang dari mana dan melontarkan wanita itu dengan repulsornya.
"tunggu, bagaimana kau bisa sampai di sini?" Tanya Steve heran melihat Tony yang tiba-tiba muncul, seingat Steve dia dan Tony pergi ke arah yang berlawanan. Dan rasanya Steve sudah menuruni setidaknya 15 lantai di bawah tanah sementara Tony seharusnya masih ada si lantai tiga.
"selamat datang di abad 21! Ini namanya pintu rahasia" kata tony sambil menunjuk dinding batu yang entah sejak kapan memiliki celah seukuran orang dewasa. "dan apa-apaan wanita itu? Membunuh bayi yang bahkan belum bisa menyebut namaku? It's not cool."
"right, pintu rahasia. Tentu saja. Daripada itu bisa kau lakukan sesuatu pada komputernya? Sejak tadi ada bunyi aneh yang keluar dari sana." Kata Steve sambil menunjuk computer di sepanjang dinding ruangan itu. Sementara Tony sibuk dengan kompuetrnya Steve memperhatikan bayi yang masih terisak di atas meja itu. Sebelum sadar apa yang dilakukannya Bayi itu kini sudah berpindah ke dekapan Steve, dan seketika itu tangisan si bayi berhenti.
"hail hydra…" rintih si wanita yang terlupakan di sudut ruangan. Wanita itu kemudian melemparkan sebuah pemantik. Hanya butuh sedetik untuk membuat Tony dan Steve menyadari apa yang terjadi, api mulai merayap ke seluruh ruangan. Keduanya segera berlari kearah pintu rahasia yang ditemukan Tony. Steve menyerahkan bayi di pelukannya pada Tony , dia berlari menuju wanita itu, berusaha menyelamatkannya.
"lepaskan aku! Aku lebih baik mati daripada harus ikut denganmu dan menghianati hydra" kata si wanita yang tangannya ditarik oleh Steve. Steve mendecak kesal tapi tidak menggubris perkataannya, tidak sadar bahwa si wanita mengambil pisau di sisinya.
CHRASHH….
Steve bisa merasakan darah di sepanjang tangannya, untuk sesaat Steve tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dilihatnya wanita itu tersenyum sambil memegang pisau, dilihatnya wajah si wanita yang terkena cipratan darah itu tersenyum. Steve segera melihat pergelangan tangannya, dalam genggamannya tangan si wanita yang putus mulai berhenti meneteskan darah. Steve segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sarung tangan, dibebatnya tangan si wanita yang masih mengucurkan darah berharap itu bisa menghentikan pendarahannya.
"hahahahaha… kau ini aneh" kata si wanita yang terduduk di lantai terlalu banyak kehilangan darah hingga tidak sanggup berdiri. "yah, sepertinya pahlawan akan tetap jadi pahlawan sampai akhir?" si wanita kemudian merogoh saku jas lab miliknya yang kini sudah berlumuran darah, sebuah flashdisk disodorkan kea rah Steve. Steve menatap wanita itu penuh tanda Tanya, "aku mungkin jahat, tapi aku tahu balas budi" kata si wanita sambil mengusir Steve. Steve bersikeras untuk membawa wanita itu, tapi si wanita mengambil kembali pisau yang tadi dipakainya, membawa pisau itu melewati lehernya. Menyisakan luka gorokan yang menganga.
Steve berlari keluar secepat yang dia bisa, di luar Tony menggendong bayi di pelukannya erat, melihat keduanya tiba-tiba tubuh Steve menghangat. Sudah dua tahun Steve dikelurakan dari bongkahan es, tapi baru kali ini hatinya kembali menghangat.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Stev- Mr. rogers kau dengar aku?" mendengar suara Tony Steve membuka matanya. Dilihatnya lelaki yang masih suaminya itu mulai kehilangan kesabaran. Mata yang memerah dan kantong mata di wajah Tony cukup menjelaskan bahwa dia belum tidur sama sekali, namun raut lelah dan kesedihan tidak bisa menutupi rasa benci dan kemarahan di mata Tony.
"Tony…"
"Don't you dare to call me Tony" geram Tony begitu mendengar namanya di panggil oleh Steve, Steve yang dikenalnya. Ingin rasanya Tony memeluk Steve-nya yang kini telah kembali, ngin rasanya Tony merengkuh lelaki yang mengisi hari-harinya, menciumi kelopak mata yang tersembunyi sehingga permata biru milik Steve kimi menampilkan kesedihan dan keputus asaan, ingin rasanya tony mengecup bibir yang sedang menggumamkan kata maaf dan mengatakan pada Steve bahwa semua baik-baik saja dan akan Tony pastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Tony benar-benar ingin melakukannya, tapi kemudian dilihatnya tangan Steve yang kini putih karna terlalu keras di kepal. Kemudian dalam sekejap Tony tahu semua itu mustahil, setelah apa yang dilakukannya pada peter, Tony tidak akan bisa menatap kemilau biru itu dengan cara yang sama.
"look, aku tidak peduli apa pendapatmu, aku tidak butuh maaf darimu dan aku tidak mau kau ada di sekitarku atau Peter." Lanjut Tony. Dilihatnya mata Steve melebar, membulat tak percaya, seolah Kristal biru itu siap pecah dan menyerpih dalam air mata. Seolah seseorang menarik paksa arc reactor darinya, jantungnya bagaikan dicabik melihat wajah mata Steve. Mata yang selalu membuat Tony selalu memaafkan Steve bahkan meski dia menghancurkan setengah bumi. Tapi tidak kali ini, tidak setelah apa yang dilakukannya pada Peter.
"Tony, pasti ada jalan lain. Kau pasti tahu ada jalan lain, kau selalu punya jalan lain" pinta Steve, tidak rela melepaskan keluarganya begitu saja. Steve sudah kehilangan banyak hal, dia tidak ingin kehilangan lebih dari ini, dia tidak akan sanggup, tidak setelah akhirnya mencicipi kebahagiaan dalam ikatan keluarga.
"just… sign it… aku sudah menemukan solusi dari masalah kita dan itu dengan cara berpisah. Setelah kau menandatanganinya kau bisa memberikannya pada Pepper atau Happy atau kau bisa menyelipkannya ke celah di bawah pintu kamar rawat Peter." Kata Tony sambil membalikan badannya, pergi meninggalkan super hero pertama di dunia.
"Tony! Dengarkan aku, kumohon? Kita tidak seharusya berakhir seperti ini. " pinta Steve sambil mencengkram pergelangan tangan Tony, menahannya untuk pergi, melangkah keluar dari hidup Steve.
Flashback : ON
Steve benar-benar kelelahan, dengan misi selama dua bulan di daerah terorris benar-benar menguras tenaganya. Saat ini Steve hanya ingin kembali ke kamarnya dan tidur untuk beberapa jam, bahkan super serum tetap tidak bisa menghilangkan Stress dan rasa lelah yang tertumpuk selama dua bulan. Atau mungkin stamina dan kondisi Steve menurun setelah terbiasa dengan misi singkat yang biasa diberikan padanya.
"paa~ pababa~" kedua tangan mungil menggapai Shield yang digenggam Steve. Hamper saja Steve menabrak bayi mungil yang kini berusia setahun setengah itu. Digendongnya bayi yang telanjang bulat itu. Tunggu…. Telanjang bulat?
"aha! Disana rupanya kau laba-laba nakal! Bersembunyi dibalik Shield Captain? Cerdas sekali huh, anak ini." kata Tony yang hanya mengenakan selembar handuk merah di pinggangnya. Beberapa tetes air mengalir ke leher dan pundak Tony, menuruni dadanya perlahan, sukses menaikan darah ke kepala Steve lebih cepat dari yang seharusnya sehingga membuat wajah dan telinga Steve memerah.
"kalian sedang… mandi?" kata Steve sambil menyerahkan Bayi kecil itu ke pelukan Tony. Sementara si bayi tertawa-tawa karna digelitiki Tony. Entah sejak kapan rasa lelah yang dirasakan Steve lenyap tak bersisa saat melihat keduanya.
"hm? Wajahmu agak merah Cap, kau demam?" Tanya Tony saat menyadari wajah Steve yang masih bersemu. Tanpa sadar tangan Tony terjulur, merasakan hangat tubuh di kening Steve. Tanpa sadar wajah Steve kembali memerah, steve langsung membuang muka merasakan sentuhan Tony terutama dengan jarak yang makin menghilang, "hm? Oh! Ahahahaha… enjoy what you see?" kata tony sambil membalikan badannya. Meninggalkan kapten amerika yang merah padam.
"ah, aku hampir lupa." Kata Tony sambil berbalik menatap Steve. "welcome home" kata Tony sambil tersenyum, dipelukannya si bay ikut tersenyum sambil berusaha menggapai-gapai kearah Steve.
"I'm home" balas Steve sambil tersenyum melihat lelaki dan bayi yang entah sejak kapan mulai menutupi lubang-lubang di hatinya. Sebuah senyum terukir di wajah Steve, akhirnya dia punya tempat untuk pulang.
Flashback : OFF
"lepas, kau tidak punya hak untuk menyentuhku" kata Tony sambil mencengkram tangan Steve yang masih berusaha menggenggam tangan kiri Tony. Tanpa ragu Tony cengkram tangan itu dan dihempaskannya hingga kini tangannya bebas, sama bebasnya dengan jiwa Tony.
Keduanya kemudian hanya saling menatap tanpa saling bicara, berusaha saling mengerti dan mencari tahu jalan pikiran orang dihadapan mereka. Sayangnya hasilnya nihil, keduanya tidak menemukan jawaban dari mata yang ditatapnya. Hanya ada kemarahan, kebingungan dan rasa tidak pecaya, tidak ada cinta, tidak ada kasih, tidak ada apun lagi di sana untuk dibagi satu sama lain selain kekecewaan dan penyesalan. Hanya kekosongan dan luka yang menganga tanpa obat untuk menyembuhkan.
BRAKH!
Suara pintu yang dibanting Tony bergema dalam kepala Steve yang kini terduduk di atap yang sepi. Steve menatap kertas-kertas yang berhamburan, ingin rasanya Steve robek kertas-kertas itu, tapi diurungkan niatnya dan mulai dipungutinya satu persatu. Sementara dibalik pintu Tony masih terduduk lemas , mengumpulkan serpihan hatinya sebelum pergi menjauh.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tony memandang putra satu-satunya yang masih belum sadarkan diri. Dikecupnya tangan peter yang memucat, tanpa peringatan tetes-demi tetep kristal di mata Tony mencair, menetes dalam sunyi, membasahi tangan yang dipasangi infus. "hei, kau aman sekarang. Tidak akan ada lagi yang melukaimu, aku akan selalu menjagamu. 24 jam kalau perlu, kau pasti akan mengamuk dan marah karena aku meperlakukanmu sebagai anak kecil dan bukan remaja yang mulai dewasa. Tapi aku tidak perduli, aku lebih ingin melihatmu marah dan mengomel padaku daripada melihatmu seperti ini." Tony perlahan menghapus air matanya.
"kumohon bangunlah, akan kulakukan apapun, akan kuberikan seluruh dunia padamu, aku tidak peduli bahkan jika kau ingin menghancurkan bumi atau menguasai Asgard, aku bahkan akan mendukungmu jika kau ingin menjadi neo nazi atau apapun. Tapi kumohon buka matamu." Kata Tony sambil menggenggam tangan yang pemiliknya masih terlelap itu erat. Tony tidak percaya kalau dia bisa begitu menyayangi anaknya seperti sekarang. Tony bukanlah calon ayah yang baik, dia tidak pernah menjadi salah seorang yang akan dipercaya bahkan untuk memelihara kaktus, apalagi seorang anak.
Tony bahkan hampir tidak bisa mengurus dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia mengurus seorang anak? Tony sendiri tidak percaya akan hal itu, ditambah lagi dia punya sedikit masalah dengan hubungan ayah-dan-anak. Tapi kemudian seorang bayi bermata biru datang kepadanya, mengubah semua persepsi buruk yang bahkan Tony akui sebagai kenyataan.
Flashback : ON
"whoa, whoa... jadi maksudmu dia anakku dan cap?" dihadapan Tony kini berdiri Nick Fury dengan tatapan yang cukup untuk membuat Tony mengerti. "apa hanya aku yang menyadari fakta bahwa AKU DAN CAPSICLE SAMA-SAMA LELAKI? JIKA INI SEMACAM LELUCON APRIL MOP YANG TERLAMBAT JUJUR SAJA AKU SAMA SEKALI TIDAK TERKESAN!" jerit Tony frustasi.
"KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU KALAU KALIAN BERDUA PUNYA SESUATU YANG MENGGANTUNG DI SELANGKANGAN KALIAN DAN MEMANGGIL KALIAN HANYA UNTUK LELUCON BODOH?! DAN KAU PIKIR SIAP DIRIMU STARK SEHINGGA BISA SEENAKNYA BERTERIAK DI KANTORKU?!" teriak Fury yang ikut emosi karena Tony berteriak di hadapannya. Hanya ada sat orang yang boleh berteriak di dalam kantor Fury dan itu adalah dirinya sendiri. Sementara itu Steve hanya memandang keduanya tanpa mengatakan apapun. Terlalu banyak informasi untuk dicerna olehnya dalam sehari.
"um... apa dua lelaki tidak bisa memiliki anak?" tanya Steve ragu, membuat kedua lelaki lain yang sedang saling berteriak justru terfokus padanya.
"WHAT? I know you are 90-year-old-virgin but... [apa dua lelaki bisa memiliki anak?] Yang benar saja Cap? " Tony mengerang frustasi mendengar pertanyaan Steve dan Fury memandangnya seolah ada kepala lain yang mencuat dari leher Steve.
"maksudku.. di jamanku aku tahu itu mustahil. Tapi aku sudah tidur sekitar dari 70 tahun. Masih banyak informasi yang tidak kuketahui dan kupikir ini adalah salah satu diantaranya! Kau bahkan bisa membuat baju besi yang terbang , kita berdua tahu soal extremis, dan bahkan dizamanku ayahmu dan Doctor Erskine bisa membuat super human." Steve coba menjelaskan.
"itu cukup masuk akal." Kata Tony sambil tertawa terhibur. Siapa yang menyangka lelaki yang sepantaran ayahnyaa bisa begitu polos.
"pertanyaannya sekarang, apa yang akan kalian lakukan pada bayi itu?" tanya Fury, dia sudah menyiapkan sebuah tempat di panti asuhan untuk anak itu sejujurnya, tahu betul bahwa mempercayakan makhluk hidup di tangan Tony stark sama seperti membawa kambing ke pejagalan. Selain itu Fury juga ingin meneliti anak dari seorang jenius dan super human. Memang setelah dittelitti tidak ada serum di dalam bayi itu, tapi DNA seorang Steve Rogers jelas sekali hidup dalam setiap sel di tubuh anak itu. Jadi Fury hanya perlu membuat kedua orang ini menandatangani beberap surat dan dia bisa melihat apa yang ingin dibuat Hydra dengan menciptakan anak ini.
"kita akan merawatnya?" tanya Steve entah pada siapa. Tony memandangnya tidak yakin, Tony tahu betul bahwa dia bahkan hampir tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
"entahlah cap, bukannya aku meragukan dirimu. tapi mengurus seorang anak, terutama baayi buknlah perkara mudah." Tony berusaha memberikan pendapatnya. Bukannya dia tidak mau mengurus anak itu, hanya saja dia tidak yakin bahwa anak itu bisa selamat dari apapun yang mungkin terjadi jika Tony merawatnya.
"tapi Tony, dia punya DNA kita dan tidak ada siapapun yang bisa merawatnya. Dia sendirian dan kita adalah satu-satunya keluarga yang mungkin dimilikinya" kata Steve dengan mata memelas. Pikiran tentang menelantarkan seorang anak yang memiliki setengah dari dirinya membuat Steve marah. Terutama menuruh data yang didapat anak itu tidak memiliki super serum di dalam tubuhnya. Steve ingat sebelum super serum dia hanya anak kecil yang penyakitan. Tapi dia punya seorang ibu yang menjaganya saat itu, sedankan anak ini tidak.
"haah, aku sudah menyiapkan tempat untuk bayi itu di panti asuhan khusus milik SHIELD. Jika kalian tidak yakin bisa merawatnya, kalian tinggal memandatangani surat-surat ini dan dia akan dirawat oleh orang-orang terbaik kami" fury menjelaskan, berharap kedunya akan setuku dan membiarkan bayi itu diurus olehnya.
"entahlah, kurasa kami harus melihatnya dulu" kata Tony lesu, jujur saja tawaran Fury sangat menggoda bagi Tony. Ide tentang menelantarkan anaknya di tangan orang lain mengganggu Tony.
"terserah kalian, tapi kuingatkan bahwa hidup kalian sangat berbahaya dan tidak cocok untuk membesarkan seorang anak." Kata Fury sebelum membiarkan keduanya pergi bersama dokumen penyerahan hak asuh. Fury hanya bisa berharap keduanya akan menyetujui idenya.
Flashback : OFF
Tony tersenyum mengingat dimana dia begitu menentang ide mengenai dirinya merawat peter kecil saat itu. Selain karena dia tidak ingin anak itu terpengaruh keburukannya dia juga tidak yakin bisa merawat anak itu dengan Steve, mengingat dia dan Steve saat itu tidak lebih dari rekan sesama Avengers. Tapi dia tidak menyesali merawat peter, sebaliknya dia sangat bersyukur dia bisa merawat anak yang kini tidak sadarkan diri. Satu-satunya yang disesali Tony adalah hubungannya dengan Steve yang harus berakhir seperti ini. Jika Tony tahu semuanya akan berubah seperti sekarang Tony akan memilih dimana bubungannya dan Steve tidak mengalami kemajuan, tetap sebagai rekan kerja. Tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang.
"hei, kurasa kau sudah tidur terlalu lama. Kau tidak rindu padaku? Pada teman-temanmu? Paman dan bibimu setiap hari menjengukmu. Kau tidak kasihan melihat Paman Clintmu harus makan makanan dari kantin rumah sakit?" tanya Tony sambil mengusap perlahan wajah peter, berhati-hati agar tidak menyentuh luka putranya.
"peter kumohon bangunlah. Jika kau tidak bangun juga aku akan... aku akan menghukummu! Kau dengar itu? Aku akan membuatmu diam di rumah sepanjang musim panas, memaksamu training dengan dua asassin yang kau sebut paman dan bibi. Tidak ada Prom night untukmu kalau kau masih menolak untuk bangun, dan tidak ada kencak di akhir minggu dengan Gwen. " ancam Tony. dia pasti sudah sangan putus asa, Tony mulai meraung dalam amarah. kata-kata sarkastis mulai keluar dari kedua bibirnya tanpa bisa dikendalikan. Tony bahkan tidak bisa memahami apa yang dikatakannya, dia kacau dan berantakan, baik diluar maupun di dalam.
Di balik pintu seorang Steve Rogers menatap pemandangan itu tanpa bisa melakukan apapun untuk memperbaikinya. Tony yang begitu putus asa dan menyedihkan terduduk di lantai samping ranjang Peter bukanlah pemandangan yang bisa Steve lihat, maka dipejamkan kedua mata biru itu, disembunyikannya dari dunia.
Flashback : ON
"aku masih tidak percaya kita akan melakukan ini" bisik Tony saat menaiki sebuah kotak apel di sebelah Steve. Disebelahnya Steve hanya tesenyum, terlalu bahagia untuk melakukan apapun. Dilihatnya lelaki yang sebentar lagi akan menjadi Suaminya, Steve tidak kebaratan tertidur selama 70 tahun jika itulah yang bisa membuatnya dan Tony bersatu.
"ehm..." pastor di hadapan keduanya berdehem kecil. Setelah itu keduanya kemudian memulai upacara pernikahan dengan doa-doa yang sama sekali tidak Tony ingat. Dia bukan orang yang taat, dan alasan dia mengiyakan upacara ini adalah karena Steve. Jadi disinilah dia, diam mendengarkan ayat-ayat yang tak dikenalinya. Dilihatnya seorang balita berumur empat tahun berusaha mendengarkan kata demi kata yang diucapkan pastor dengan serius, takut melewatkan hal penting. Alis bocah yang menggenggam cincin pernikahannya berkedut tiap kali ada kata-kata yang tidak dimengertinya, Tony tersenyum melihatnya. Tidak rugi juga menjalankan upacara ini pikirnya.
"Saya, Steve Rogers, menerima, Anthony Edward Stark untuk menjadi suami, untuk memiliki dan menerima, mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, kaya maupun miskin, sakit dan sehat, untuk saling menyayangi dan menghargai, hingga maut memisahkan, dengan bimbingan Tuhan dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu." Kata Steve yakin, Tony menatap kedua emerald di mata Steve dan Tony tahu, dia menemukan belahan jiwanya. Tony menatap Steve, dan sebelum dia bisa mengendalikan dirinya Tony mengecup bibir Steve.
"ehm, jika tidak keberatan bisakah kita lanjutkan upacaranya sebelum kau mencium pasanganmu mr. Stark" kata si pastor sambil menatap Tony kesal. Sementara itu Clint hanya tertawa melihat kelakuan Tony sebelum ulu hatinya disikut Natasha.
"upacara? Oh ya,sumpahnya right? Uhm... ya aku bersedia. Err.. dan aku, Anthony Edward Stark, menerima, Steven Grand Rogers untuk menjadi suami, untuk memiliki dan menerima, mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, kaya maupun miskin meskipun aku ragu ada yang bisa membuatku miskin, sakit dan sehat, untuk saling menyayangi dan menghargai, hingga maut memisahkan, dengan bimbingan Tuhan, saat kubilang tuhan itu artinya bukan kau dan sodaramu Thor, dan karena itu aku menyerahkan jiwa raga ini untukmu. Juga beberapa aset lainya juga sesuai kesepakatan kita, kau ingat saat peter dicapit kepiting dan kita berkeliling pantai untuk mencari apotek? Oops, maaf..." kata Tony begitu sadar dia mulai bicara melantur. Tony memang selalu merancau saat gugup dan Steve segera menciumnya, menghentikan rancauan Tony yang semakin tak jelas.
Steve merasakan celananya ditarik, dilihatnya peter kelihatan kesal saat diacuhkan. Jadi digendongnya bocah berumur empat tahun itu, kemudian bersama dengan Tony diciumnya pipi gembul yang menggemaskan itu. Peter yang merasakan kedua pipinya dicium hanya tertawa geli, gembira merasakan cinta kedua orang tuanya tercurahkan untuknya. Dan itu adalah foto keluarga paling besar yang menggantung di Stark tower, bersama dengan banyak foto lain yang menggambarkan kebahagiaan dan kesempurnaan keluarga mereka.
Flashback : OFF
Steve membuka matanya begitu mendengan suara benturan yang cukup keras, menyadarkannya dari kenangan indah masalalu. Dilihatnya tangan Tony yg mulai berlumuran darah, baru kali ini Steve melihat seorang Tony Stark kehilangan akal dan mulai membenturkan tangannya ke lantai tak berdosa. Segera ditahanya tangan yang Steve yakini jari-jarinya telah patah dan bergeser itu, darah segar tidak mau berhenti mengalir dan satu tonjokan mendarat di pipi Steve.
Butuh beberapa saat bagi Steve untuk menyadari bahwa Tony baru saja memukulnya. Dalam sekejap kemarahan merasuki Steve. "apa yang kau lakukan?!" teriak Steve sebelum balas meninju Tony. baru setelah melihan Tony jauh terhuyung Steve sadar apa yang telah dilakukannya. Perlahanb didekatinya Tony yang mesih tersungkur di lantai rumah sakit.
"apa yang kulakukan bukan urusanmu brengsek!" kata Tony sambil kembali meninju wajah tampan Steve. "aku tidak akan diam, tidak setelah apa yang kau lakukan! Sekarang menyingkir dari hidupku dan peter karna aku tidak mau melihatmu ada di dekat anakku!" satu pukulan telak diarahkan ke ulu hati Steve, sayangnya pukulan itu berhasil di tangkis.
"dengar, aku tidak mau melukaimu, aku hanya ingin mengobatimu, jadi-"
"jadi kau bisa melukainya lagi? Aku tidak butuh itu darimu rogers!" raung Tony sambil berusaha menendang Steve. Sekali lagi Steve berhasil menghindar, tentu saja mengingat teknik tendangan yang dilakukan Tony adalah hasil dari pelatihannya pada si Jenius.
Keduanya tidak menyadari langkah-langkah kaki yang memasuki ruangan, tidak sampai Nat dan Clint berusaha menghentikan pertikaian keduanya. Meskipun lebih banyah Tony yang menyerang Steve sementara Steve terus menghindar dan berusaha menenangkan Tony.
"aku bersumpah Rogers, jika sampai terjadi apa-apa pada Peter, aku akan membunuhmu!" raung Tony yang kini sedang ditahan oleh Natasha.
"uhrg...dad..." sebuah suara serak keluar dari bibir Peter. Dalam sekejap perhatian seluruh ruangan teralih pada remaja itu.
"aku akan panggil dokter" kata clint sambil berlari meninggalkan ruangan.
"idjit..." kata Natasha sambil menekan tombol darurat di sebelah ranjang Peter.
"hei champ, kau bisa melihatku? Kau haus? Apa kau butuh sesuatu? Katakan padaku, apapun akan kuberikan. " kata Tony, mulai melantur tidak jelas.
"biarkan dia Stark, kau bisa membuatnya tak sadar lagi mendengar ucapanmu. Hei peter, bagaimana keadaanmu?" tanya Nat sambil mengecup pipi peter perlahan.
"aunt tasha" kta peter perlahan saat melihat wanita rusia yang dihormatinya itu. Mata Peter beralih pada Tony, sebuah senyuman lemah terukir di wajah peter, "dad... apa yang terjadi?" tanya Peter.
"tidak ada apa-apa, semua akan baik-baik saja mulai sekarang, aku akan menjagamu. Dan jangan pernah membuatku takut seperti ini lagi." Kata Tony sambil memeluk putranya, berhati-hati untuk tidak menyentuh luka peter. Mata Peter beralih menatap Steve, tatapan yang tidak terbaca diarahkan pada super human itu.
"hai peter..." kata Steve perlahan, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Tony melepaskan pelukan pada putranya, siap untuk mengusir Steve dari ruangan ini sekarang juga. belum sempat Tony mrngatakan apapun tangan peter menggenggam lengan kemejanya.
Tangan peter yang bebas menunjuk kearah Steve, matanya terarah padaTony yang juga menatapnya,"siapa dia dad?"
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
daaaaaaannnnnnnnnnnn bersambuuunnngggg!
yang mau bunuh saya mana suaranya?
XD
chap 3 akhirnya seleseeeee! Dan diluar dugaan lumayan panjang dibanding chapter-chapter sebelumnyaaa~
dan tema kali ini adalah : gagal move on alias banyak flashback~
#plak
adegan awal-awal sama dokter misterius itu sebenernya lebih gore lg... cuman kuedit lg karna adegannya bakal bikin ini ff rate-nya jd M... maafin... mungkin efek marathon hannibal dan tokyo ghoul buat fic challenge...
dan makin deket dengan civil war...
makin takut ga bisa lanjutin ini ff...
*kabur*
btw... makasih banget buat yg udah review, kalian adalah semangan buat lanjutin ini ff... kalau ga ada kalian mungkin ini chapter ga akan selese...
karena saya tipe yang baru ngerjain ff kalau ada ayg nyuruh ato ngingetin...
makasih banget~
buat yg nge fav dan nge follow ni story juga makasih banget~
tapi saya mohon buat di review juga, biar saya tau sudut pandang dan perasaan temen-temen yang baca...
dan klo mau curhat buat civil war juga silahkan, saya bakal dengan senang hati ngobrol sama temen-temen semua~
oh dan maaf klo ada typo…. Saya ga punya beta dan bukan tipe yg kuat baca ff sendiri begitu selese….
#plak!
Jd klo ada typo kasi tau aja yak~
:3
Sekian dari saya~
btw, seperti biasa~
yg mau request silahkan review
yg mau ngoreksi silahkan review
yg mu ngajak berantem juga review aja #Plak!
see you next time~
:D
