Rate: saat ini masih T… semoga sampai akhir bakal tetep T….
Pairing : Stony, Stucky, SpideyPool
Genre: family, bromance,sismance, boys love, shonen ai, hurt... author patah hati, dll...
Disclaimer :
Mas Tony dan mas Steve saling memiliki~
Semua chara di sini punya marvel~
Saya Cuma minjem... tapi ga bilang...
tidak ada keuntungan material apapun yang Yuharu dapet dari penulisan ff ini. Hanya keuntungan batin berbagi kegalauan bersama pecinta stony...
WARNING: ff ini mengandung unsur BL/Buah Love#plak! Maksudnya percintaan sesama lelaki, beberapa adegan kekerasan dan baper...
Note: Disini Steve ama Tony udah nikah, tinggal di Tower bareng beberapa avenger lainnya. Mereka punya anak yg namanya Peter. Sekarang Peter kelas 2 smp dan dia bukan spiderman~ atau setidaknya belum…. Dia masih SMP.
Oh karena ada beberapa yg nanyain ini peter parker atau bukan...
Jawabannya iya, dia ini peter parker spiderman... tapi belum jadi spiderman... karna dia ga pernah digigit laba-laba dan yah nama belakangnya Stark-Rogers karena dia ga pernah jd Parker... rahasia kelahirannya seperti yang telah dijelaskan di chapter 3, jadi begitulah...
.
.
Special Thanks
Yup, special thanks diberikan kepada Lisette Lykouleon yang syudah mau jadi Beta buat chapter ini. Semoga buat chapter depan juga masih mau, amien... semoga dengan bantuan Lisette, ff ini bisa terus berlanjut dan tamat sebelum tahun depan dan kualitasnya makin meningkat.
Happy reading~
:3
.
Xxx-(mari kita mulai Chapter 6)-xxX
.
Ada banyak orang yang tidak percaya akan kisah cinta. Lebih banyak lagi yang memimpikan kisah-kisah heroik dan romantis bagai dalam negri dongeng. Orang-orang itu memimpikan hal yang tidak dimilikinya. Mereka menanti dan mencari sesuatu yang tidak ada, sesuatu yang bukan milik mereka dan bukan untuk mereka. Tony tidak pernah mengharapkan cinta sejati dalam hidupnya, tidak juga berusaha mencari seseorang untuk mengisi posisi tersebut. Kalau boleh jujur Tony bahkan berharap dia tidak pernah menemukan orang yang disebut 'cinta sejati' untuk dirinya.
Membayangkan bahwa dirinya terjebak dengan seseorang seumur hidupnya membuat Tony ingin membunuh dirinya atau merubah otaknya menjadi sejenis komputer tanpa hati agar hal itu tidak pernah terjadi. Oke, sejujurnya Tony memang selalu ingin mengantongi sebuah otak digital cadangan dengan atau tanpa cinta sejati. Tapi poin pentingnya adalah Tony Stark tidak ingin terjebak dengan seseorang yang bisa membuat jantungnya berdetak seolah baru lari maraton keliling New York tiap kali menatap mata seseorang terutama dengan Arc reactor di dadanya detak jantung yang tidak stabil sama seperti panggilan cepat ke ponsel dewa kematian. Saat usia Tony 13 tahun Tony belajar bahwa ketika seseorang Jatuh cinta otaknya akan dibanjiri oleh dopamine seperti saat mengkonsumsi narkotik, lima tahun kemudian saat usia Tony 18 dia belajar bahwa narkotik bukan sesuatu yang baik untuk dikonsumsi. Tony belajar setelah mengalami overdosis saat berkencan bersama beberapa gadis (atau pemuda? Entahlah...) dan membuatnya mengalami patah tulang setelah Rhody menghajarnya karna membuat lelaki itu hampir terkena serangan jantung saat menemukan Tony kejang dan hampir mati di asrama mereka.
Maka Tony memutuskan untuk berhenti menggunakan obat-obat itu dan menolak untuk jatuh cinta pada seseorang karna jatuh cinta dan Narkotik memiliki efek yang sama. Tony akan mencari beberapa orang untuk menghangatkan ranjangnya, minum untuk mengisi kekosongan hatinya selama satu malam dan selalu berakhir dengan hang over keesokan harinya. Tony kacau dan berantakan, secara fisik maupun mental, luar juga dalam dari lapisan kulit terluar hingga tiap DNA dalam tubuhnya, tapi dia bukan orang jahat yang akan menyeret seseorang dalam kekacauannya terutama jika orang itu adalah cinta sejatinya. Maka Tony mengubur dalam-dalam keinginan untuk memiliki pasangan dengan jangka waktu lebih dari satu malam. Takut-takut Tuhan (jika dia memang ada dan itu bukanlah Thor atau adiknya yang Jahat dan bertanduk) sedang ingin mempermainkannya seperti biasa dan mempertemukan Tony dengan orang yang disebut cinta sejatinya. Tony akan mengusir orang itu jauh-jauh dan membuat orang itu membencinya atau memberinya pulau pribadi di sebrang samudra sehingga dia tidak perlu bertemu dengan Tony untuk kedua kalinya.
Tony tahu dirinya tidak berharga, dia belajar dari ayahnya. Howard tidak pernah menghargainya dan semua yang dibuatnya. Jika Tony gagal Howard akan membuatnya merasa sampah kertas yang bisa didaur ulang lebih berguna daripada Tony, jika Tony berhasil dia akan kecewa karna Tony tidak bisa melakukannya lebih cepat. Jika Tony tidak melakukan apapun? Well selamat datang di SMA berasrama dengan para pembuly berpengalaman militer saat usianya sepuluh tahun. Tony benci sekolah itu sehingga dia kabur dari penjara anak berkedok sekolah itu sampai 15 kali dalam seminggu pertama. Berhasil membuatnya dikeluarkan dua minggu kemudian, membuat Howard memukulinya dengan sabuk sampai Tony tidak bisa tidur terlentang selama sebulan. Sukses membuat Tony semakin menolak kemungkinan dirinya memiliki pasangan karena orang itu hanya akan menambah satu lagi alasan untuk Tony membunuh dirinya, seorang anak. Ayahnya bukan ayah yang baik, begitu juga ayah dari ayahnya, terus berlanjut hingga ke kakek dari kakeknya, seolah menjadi seorang suami dan ayah yang brengsek adalah warisan genetik bersama dengan otak jenius keluarga Stark.
Tidak ada pasangan berarti tidak ada anak. Maka Tony membuat dirinya menjadi orang paling brengsek dan menyebalkan, dengan bumbu playboy dan semangkok besar keegoisan dan segudang penuh prilaku buruk yang tersebar di media, oh jangan lupakan kebiasaannya membuat 70% air ditubuhnya menjadi alkohol. Satu-satunya alasan orang-orang masih mendekatinya hanya otak jenius, uang, dan ketenaran satu malam yang akan didapat jika bisa bersama si Jenius yang terkenal Playbooy. Tony tidak keberatan, toh orang-orang itu tidak pernah menginginkan seorang Tony sebagai seorang pribadi untuk dicintai. Meski terkadang ada rasa iri yang tidak pernah diakui oleh seorang Tony Stark tiap melihat seseorang bisa begitu dicintai oleh orang lain tanpa perlu melemparkan uang atau kunci salah satu mobil sport seperti yang biasa dilakukan Tony. Tony tidak mengerti bagaimana seseorang bisa begitu dicintai dan mencintai tanpa benar-benar melibatkan materi dalam hubungan mereka, berjalan di jembatan setipis 'hubungan' itu terlalu klise dan tidak masuk akal bagi Tony. Dalam hubungan seperti itu apa yang bisa didapat dan diberi tidak jelas batasnya, terlalu banyak kemungkinan dan tidak ada rumus pasti untuk menghitungnya.
Tony pernah mengarapkan suatu hubungan yang serius hanya sekali dalam hidupnya dan itu dengan wanita yang menjadi CEO Stark Industri hingga detik ini. Tony mengira wanita yang selama ini mampu bertahan menghadapi segala ego dan kegilaan seorang Tony Stark pastilah mampu menghadapi Tony. Sayangnya suatu hubungan tidak dapat diprediksi bahkan dengan semua rumus maupun perhitungan matematika dan tidak terpengaruh oleh hukum fisika sehingga Tony harus kembali kecewa saat Pepper memutuskan untuk mengakhiri hubungan keduanya. Tony tidak menyalahkan Pepper tentunya, karna ini bukan salah Pepper, untungnya bukan salah Tony pula, hubungan mereka hanya tidak bisa berjalan dan tidak bisa pula dipaksakan. Hati manusia itu bagaikan misteri yang belum bisa dipecahkan oleh ilmu pengetahuan, mungkin ada beberapa yanng dapat diprediksi dengan ilmu- ilmu kejiwaan tapi itu bukanlah ilmu pasti seperti matematika. Tidak peduli kau seorang dewa atau iblis, hati manusia tidak akan bisa dibelenggu dan dipaksa bergerak sesuai keinginanmu. Selalu ada keraguan, rasa tidak aman, ketidakteraturan dalam keteraturan, prasangka dan masih banyak emosi lain yang belum terkategorikan untuk membuat suatu hubungan hancur atau menghilang tanpa bekas, dilupakan dan tidak diinginkan.
Tony kemudian berhenti untuk memikirkan cinta sejatinya. Memilih menyibukkan diri untuk menyelamatkan orang-orang, entah itu sebagai seorang Tony Stark maupun sebagai Iron Man. Meski terkadang kata-kata Pepper masih terngiang direlung hatinya maupun dalam sel-sel otaknya bagaimana Pepper tidak punya harapan lagi untuk Tony dan bahwa hubungan mereka sudah tidak tertolong. Tony sendiri pun pada dasarnya tidak terlalu mengharapkan hubungannya dengan Pepper atau lebih tepatnya tidak menyadarinya sampai lima menit setelah keduanya memutuskan untuk tidak terlibat dalam hubungan romantis. Dan kemudian Tony kembali hancur sebelum dirinya benar-benar memproses apa yang terjadi. Butuh bertahun-tahun untuk kembali menjadi teman dengan Pepper, tapi waktu yang mereka lalui dalam pembicaraan canggung dan dingin itu terbayar dengan keberadaan Pepper di dekatnya saat Tony membutuhkan seseorang untuk membuatnya tetap berpijak di bumi. Keduanya sadar bahwa mereka lebih cocok sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai sodara, tapi bukan kekasih.
Tony memutuskan untuk tidak pernah memiliki hubungan romantis dengan siapapun. Sayangnya takdir yang sedang bosan selalu mengajak Tuhan untuk mempermainkan Tony saat kedua matanya bertemu dengan manik biru Steve Rogers. Tony tahu getaran itu selalu ada di sana sejak detik pertama mata mereka bertemu, sayangnya Tony terlalu keras kepala dan kekanakan dan menganggap perasaan itu hanya angin lalu. Steve tidak pernah mengatakan apapun, dan ego Tony terlalu besar untuk mengakui cinta pada pandangan pertama karena itu tidak masuk akal. Sampai kemudian Peter muncul, memaksa keduanya terjebak dalam hubungan yang tidak jelas dalam jangka waktu yang tidak singkat sampai-sampai seluruh Avengers ingin menyeret keduanya ke KUA terdekat. Tanpa disadari Tony, Steve telah mendobrak pintu hatinya.
Tony tidak tahu kalau menghabiskan waktu dengan seseorang yang dicintainya bisa begitu menakjubkan. Tony heran bagaimana bisa dia melewati tahun-tahun sebelumnya tanpa kehadiran Steve Rogers di sisinya. Membuat hal sesederhana hari esok jadi begitu menyenangkan bahkan hanya dengan memikirkannya karena Tony tahu dia akan bertemu denga Steve saat dia terbangun. Tony sadar lubang-lubang hitam di hatinya mulai terisi cahaya-cahaya kecil yang didapatnya setip kali bersama Steve. Maka mereka memutuskan untuk memperjelas status hubungan mereka sebulan setelah ulang tahun kedua Peter. Hubungan itu kemudian berubah menjadi sebuah komitmen antara rasa percaya dan kasih dalam ikatan pernikahan. Menyatukan Tony dengan dua orang yang paling dicintainya di dunia, membentuk sebuah keluarga untuknya, sesuatu yang bahkan tidak berani Tony impikan dalam hari-hari terbaiknya. Membuang kepercayaan bahwa seorang Tony Stark tidak pantas bahagia.
Hubungan mereka bisa dibilang bukanlah sesuatu yang seterang cahaya mentari, tidak semulus kulit apel, tidak juga selancar aliran sungai-sungai kecil di kanada. Selalu ada kerikil dan batu di jalan yang hubungan mereka jalani, selalu ada perdebatan dan ganggguan untuk keduanya. Bukan berarti mereka akan menyerah tentunya, karena keduanya akan menjaga punggung pasangannya dari bahaya sambil menggenggam tangan Peter, menjaganya tetap aman.
Steve pernah bilang kalau semua orang butuh keluarga. Tony tidak yakin dengan ucapan itu, kemudian Steve membuktikan ucapannya. Tony bisa merasakan berat Peter dalam gendongannya dan hangat tubuh Steve di punggungnya bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Di saat-saat ketiganya bersamalah Tony merasa bahwa hidupnya sempurna. Tony bisa merasakan seluruh lubang dihatinya tertutup, tergantikan rasa sesak karena terlalu bahagia. Peter membuat keduanya bersama dan Steve memberikan keluarga untuk Tony, menghilangkan semua keraguan di kepala Tony.
Sayangnya semua tidak berlangsung lama. Steve pergi meninggalkan Tony untuk seseorang yang lain, Bucky. Tony tahu bahwa lelaki itu lebih dulu mengenal Steve, dialah yang ada di samping Steve saat super serum belum mengalir dalam tubuh pemuda dari Brooklyn. Lelaki itu juga yang mengusir para berandalan yang sering mengerjai Steve, dialah yang menemani Steve disaat asmanya kambuh sehingga Steve hanya bisa berbaring di kamarnya sepanjang hari. Tony tahu kalau dia orang yang sangat berarti bagi steve, sayangnya Tony juga tahu kalau dialah yang membunuh kedua orang tuanya.
Maria Stark mungkin tidak akan memenangkan award sebagai ibu terbaik di dunia, tapi dia adalah ibu terbaik yang mungkin dimiliki Tony. Maria lah yang mendekap Tony saat Howard bahkan tak ingin memandangnya, dialah wanita yang melindungi punggung Tony dari pecahan kaca saat botol minuman yang Howard lemparkan membentur dinding dibelakang Tony. Howard sendiri mungkin menyebalkan dan brengsek, tapi bukan berarti dia layak mati di tangan dingin seorang winter soldier. Steve tahu itu tapi dia memilih bungkam dan pergi meninggalkan Tony.
Tony ingin melupakan lelaki yang meninggalkannya, melanjutkan hidupnya dengan Peter. Sayangnya Peter saat itu hanya berumur sepuluh tahun dan dia merindukan ayahnya yang berambut pirang. Jika bukan karena air mata Peter mungkin Tony tidak akan pernah meminta seorang Steve Rogers untuk kembali pada keluarga kecil mereka yang perlahan retak. Steve tidak pernah mengatakan keberadaannya selama menghilang berbulan-bulan, tidak pernah pula dia memberi tahu dimana keberadaan Bucky. Keduanya menolak untuk membicarakan masalah diantara mereka, membiarkan luka dalam hubungan keduanya tetap menganga, perlahan membusuk dan menggerogoti hubungan mereka seolah tidak terjad apa-apa.
Peter tidak menyadari bahwa perlahan keutuhan dalam keluarganya direngut. Kini usianya lima belas dan hormon dalam tubuhnya memutuskan bahwa gadis pirang di kelas kimia lebih menarik daripada pertengkaran kedua ayahnya. Peter lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman di sekolahnya dari pada melihat tatapan dingin yang saling dilemparkan kedua ayahnya. Peter mencintai kedua ayahnya, tapi dia benci melihat keduanya berusaha membunuh satu sama lain dengan tatapan yang tidak dapat Peter mengerti maksud di dalamnya. Tapi separah apapun pertengkaran keduanya Peter tidak pernah melihat keduanya menggunakan kekerasan dalam pertengkaran mereka. Hanya tatapan dan ucapan yang saling dilontarkan.
Maka saat malam itu Peter melihat Tony terbaring tak berdaya saat Steve nyaris membunuhnya maka tubuhnya bergerak sebelum otaknya benar-benar memproses kejadian dihadapannya, seketika menghempaskannya dalam kegelapan dan membawa keluarga kecil itu dalam kehancuran absolut. Steve tidak bisa lagi mengendalikan dirinya dan Tony tidak sanggup lagi bertahan. Kemudian seolah gembok yang dipakai Tony untuk mengunci semua mimpi buruknya ikut hancur bersama dengan menutupnya mata Peter, Tony kembali ditelan dalam kengerian masa lalu tak berujung. Mimpi-mimpi mengerikan itu perahan kembali. Howard, MIT, Yinsen, Afgnistan, Obie, Paladium, New York, Ultron, Sokovia, detik-detik kematian Howard, Jeritan terakhir ibunya, Steve…
Steve...
Steve, rasanya menggelikan begitu menyadari orang yang membantunya lepas dari mimpi buruk kini menjadi kunci yang melepaskan kembali semua kengerian dalam diri Tony, membuat mimpi-mimpi buruk silih berganti mengisi kepalanya. Apa boleh buat karena inilah hidup bagi seorang Tony Stark, dia akan selalu berada di posisi memberi. Seharusnya Tony sadar untuk tidak pernah mengharapkan sesuatu dari orang lain. Karena apapun yang didapatnya dari orang lain bukalan pemberian, melainkan pinjaman yang bisa direnggut darinya begitu saja.
Termasuk keluarga yang Steve ciptakan untuknya.
.
Xxx-(Author istirahat dulu ya)-xxX
.
Peter membuka matanya perlahan saat mendengar suara piring yang terbanting. Matanya belum fokus tapi dipaksakannya untuk melihat keadaan di sekitarnya, warna putih mendominasi dengan bayangan merah hitam yang sedang bergerak-gerak tidak jelas keluar ruangan melalui jendela. Geraman Daddynya yang kesal membuat Peter mengarahkan kepalanya ke arah suara tersebut, membuat matanya bertemu dengan sepasang mata coklat terang yang sangat dikenalnya. "hei sunshine" kata Tony sambil tersenyum ke arah Peter, si remaja tersenyum lemah membalas senyuman lelaki di hadapannya.
Peter ingin mengatakan sesuatu, sayanganya hanya suara parau yang keluar dari bibirnya. Mengerti, Tony menyodorkan segelas air dan membantu putra satu-satunya itu minum. "dad..." bisik Peter perlahan, dia bisa melihat keadaan ayahnya juga tidak begitu baik. Perban masih terlihat menyembul di beberap bagian tubuhnya dan kantong mata yang hampir menyerupai panda terlihat jelas, membuat Peter tersadar bahwa ayahnya tidak lagi semuda yang ada dalam pikirannya maupun ayahnya. Ayahnya terlihat pura-pura tidak menyadari tatapan khawatir Peter, membelai perlahan poni anaknya. Tapi Peter tahu kalau ayahnya hanya pura-pura, menghindari pembicaraan dengannya.
Peter ingin memaksa ayahnya bicara jika saja perutnya tidak berbunyi, tiba-tiba perutnya terasa lapar. Tony tertawa mendengar suara perut putranya yang protes minta diisi kemudian menghangatkan pancake blueberry yang kata Tony dibawakan Happy. Tony mendekat dengan sepiring pancake blueberry dan semua jenis sirup yang bisa ditemukannya, membuat tangannya penuh. Tony meletakan piring itu di meja lipat yang menempel pada ranjang rumah sakit.
Peter menambahkan sirup maple dan beberapa potong buah segar di atas Pancakenya. Tony tersenyum melihat putranya yang beberapa hari ini hanya tertidur di ranjang sudah bisa makan dengan lahap. Beberapa hari ini putranya lebih sering tidur dan setengah sadar saat terbangun karena efek obat pereda nyeri dan obat tidur yang mengalir di dalam darahnya. Dokter memutuskan untuk mengurangi dosisnya kemarin dan sepertinya putranya sudah mulai kembali menjadi dirinya sendiri.
"dad?" tanya Peter saat melihat ayahnya melamun. "kau mau?" tanya Peter sambil mengacungkan sepotong pancake yang menancap di garpu miliknya. Tony menggeleng dan menunjuk piring bekas sarapannya di meja kecil pinggir ranjang Peter. Peter mengangguk dan melanjutkan makannya tapi matanya tidak beralih dari Tony.
"Aunty dan Unclemu bilang kau tidak ingat apa yang terjadi padamu." Kata Tony akhirnya saat menyadari Peter mulai menyiksa beberapa potong terakhir pancake di piringnya tanpa berusaha memakannya. Peter selalu melakukannya sejak berusia tiga tahun, mencabik dan memotong atau bahkan menggilas makanan di piringnya hingga tak berbentuk setiap akali merasa kesal tapi tidak tahu harus berbuat apa. Tony tersenyum mengingat bayangan bocah bergigi ompong yang sedang menusuk sandwitch buatan Stevee dengan bibir cemberut. Ah...
"yes, aku... aku entahlah... aku hanya ingat pergi bermain bersama Harry dan MJ, lalu... entahlah, aku tidak bisa mengingat apa yang kulakukan. Apa Harry dan MJ baik-baik saja? Apa kami menghancurkan gedung milik keluarga Harry?"
"what? Tidak, tentu tidak. Kau tidak menghancurkan apapun. Kenapa kau berpikir tiga anak yang baru menginjak masa remajanya tahun ini bisa menghancurkan sebuah gedung? Kau tidak melakukan hal yang berbahaya diam-diam kan? Oh, dan temanmu baik-baik saja, mereka menitipkan salam karena kau tidur saat mereka berkunjung." kata Tony saat melihat wajah anaknya.
"no, no.. kami hanya menggunakan gedung tua yang sepertinya akan roboh. Tidak lebih, sungguh, aku bersumpah!" kata Peter yang tahu kalau ayahnya tidak terlalu suka Peter dekat dengan pewaris Osborn Industries. Peter berusaha menghindari tatapan curiga Tony, tidak sadar gerakan tiba-tibanya membuat garpuh dan pisau di piringnya jatuh.
Peter tanpa sadar berusaha mengambil garpuh dan pisau yang masih berdenting di lantai. Sayangnya kalah cepat oleh Tony yang sudah menggenggam kedua benda itu sekarang, "akan kuambilkan yang baru" kata Tony sambil berjalan kearah pantry kecil di sudut kamar. Peter hanya bisa menatap kepergian ayahnya dalam diam.
"dad…" Peter memanggil Tony perlahan, suaranya tercekat dan Tony segera tahu ada yang tidak beres dengan putranya.
"Pete? Ada yang sakit?" Tanya Tony sambil mendekat ke ranjang Peter. Putraanya terlihat ragu dan ketakutan, ketakutan itu dengan cepat menular.
"kakiku… dad…. Aku tidak bisa merasakan kakiku! KAKIKU TAK BISA DIGERAKAN!" Jerit Peter histeris begitu menyadari ada yang salah dengan kakinya.
"Shhh… tenang Peter… shhh… it's okay…." Bisik Tony sambil berusaha merangkul putranya, sayangnya belum sampai tangan Tony sudah ditepis putranya!
"tenang? KAKIKU TIDAK BISA DIGERAKAN DAD!" jerit Peter sambil berusaha bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa dan tidak sabaran, menjatuhkan piring dan tubuhnya sendiri ke lantai rumah sakit yang dingin.
Suara pecahan piring dan jeritan Tony yang memanggil namanya memenuhi kepala Peter. Kepalanya seolah berputar dan Peter tidak bisa merasakan udara di paru-parunya. Jantungnya berdetak terlalu keras hingga Peter dapat mendengar gema tiap kali jantungnya berdetak. Perutnya kram dan mual seolah Peter baru menelan Cheese cake berisi bom dan sekarang bom itu sedang meledak dalam perutnya. Seluruh Tubuhnya terasa janggal dan fikirannya seolah pergi untuk liburan musim panas namun tidak akan kembali, terasa begitu jauh dan diluar jangkauan. Peter merasakan sakit di seluruh tubuhnya, tapi dengan anehnya dia tidak bisa merasakan apapun di kakinya.
Tony berusaha menenangkan Peter, sayangnya tangan Tony sendiri bergetar. Kemudian Peter mulai menjerit, Tony memeluknya dan Peter berontak. Tony ingin ikut menjerit bersama Peter jika itu bisa meringankan sakit yang dirasakan Putranya. Peter tidak pernah menjerit sekeras ini bahkan waktu dia mematahkan tangannya saat bermain Skateboard. Tidak juga saat dirinya diculik dan disandra oleh orang-orang yang tidak ragu melukai wanita dan anak kecil. Peter selalu menolak untuk takut sejak usianya tujuh tahun dan seorang anak berambut pirang mengganggu sahabatnya, MJ. Peter adalah putra pahlawan super terkuat di bumi, dan dia menolak untuk mempermalukan ayahnya. Maka Peter selalu berusaha terlihat kuat dan berani, terlepas dari tubuh kurus dan asmanya yang terkadang kambuh. Bukan karena tuntutan ayahnya, itu keputusan Peter.
Tony segera memanggil bantuan sementara dia masih memeluk Peter, "ada ap- DAMN STARK! Is he?" Clint yang sedang menunggu di luar akhirnya datang.
"SHUT UP BARTON! Panggilkan Bruce atau dokter atau siapapun!" teriak Tony pada Clint yang masih langsung pergi.
Tony melihat Putranya kesulitan bernafas dan sadar bahwa asma Peter kambuh karena panic attack. Pertama kalinya Tony merasa bahwa dia adalah makhluk paling tidak berguna di dunia ini karena tidak memilih kedokteran dan malah masuk MIT sesuai perintah ayahnya. "Peter, peter it's okay... I'm here..." Kata Tony sambil mengusap perlahan kepala Peter yang tidak terluka. Mata Tony menangkap bercak merah yang janggal dan menyadari bahwa bercak yang mulai menggenang itu berasal dari tangan Peter yang entah sejak kapan menggngam pecahan piring yang tadi terjatuh. "Shit... Peter, berikan pecahan itu..." kata Tony sambil berusaha melonggarkan cengkraman jari-jari Peter yang mulai berlumur darah.
"Dhh!" bibir Peter membuka dan mengatup seolah dia berusaha mengatakan sesuatu tapi hanya desahan dan nafas yang tercekat lolos dari bibirnya. Tony masih berusaha melepaskan jemari Peter yang terlihat makin erat menggenggam pecahan piring itu, Tony tidak perduli jari-jarinya yang juga mulai meneteskan darah karenanya.
Rasanya bagaikan bertahun-tahun lamanya sampai segerombol tenaga medis datang memasuki kamar Peter. Sialnya kegaduhan itu entah bagaimana diartikan sebagai ancaman bagi Peter hingga remaja itu kembali mengamuk, menolak dipisahkan dengan Ayahnya. Tony berusaha menenangngkan anaknya, sialnya pecahan kaca di tangan Peter justru mengenai punggung tangan Tony. Seorang dokter mendekat sambil mengarahkan suntikan ke arah leher Peter, "Dhadd..." adalah kata-kata Peter sebelum kehilangan kesadarannya.
"woah... tadi lebih menegangkan dari chitauri" kata Tony saat melihat putranya kembali di pindahkan ke atas ranjang sementara perawat lainya membersihkan sisa pecahan piring dan darah yan berceceran di lantai. "kalian melakukanya setiap hari?"
"tidak setiap hari dan sepertinya kami masih punya satu pekerjaan lagi" kata dokter yang sedang memeriksa Peter. "sepertinya tanganmu harus dijait juga Mr. Stark" kata Dokter yang kini mulai menjahit luka Peter.
"huh? Oh, right... apa dia akan baik- baik saja?" tanya Tony khawatir melihat tangan putranya dijahit.
"lukanya? Ya... dia akan sembuh. Suster Joe akan mengantarmu untuk dijahit" kata dokter itu. Tony ingin sekali menolak tapi darah di tangannya masih mengalir dan Tony tidak punya pilihan. Clint dan Natasha yang berdiri di ambang pintu mengangguk ke arahnya, Tony tahu mereka akan menjaga Peter.
.
Xxx-(Author istirahat dulu ya)-xxX
.
Matahari sudah hampir tenggelam, meninggalkan bercak jingga di awan dan berbaur dengan langit yang birunya mulai menghitam. Di sebuah Kamar rumah sakit seorang remaja bernama Peter terbangun karena perutnya terasa lapar, kemudian ingatan akan apa yang terjadi sebelumnya. Ingatan bahwa kakinya tidak bisa digerakan tiba-tiba membuatnya mual, Peter kehilangan rasa lapar yang tadi membangunkannya. Dilihatnya tangan kirinya yang kini terbalut perban, bukan mimpi.
Peter coba menggerakkan kaki kanannya, tidak terjadi apapun. Dicobanya kaki kirinya, tak jauh beda dengan kaki kanannya. Peter tidak percaya apa yang terjadi padanya, berharap kalau semua hanya mimpi buruk yang terjadi karena dia lupa sikat gigi dan baca doa sebelum tidur. Peter tidak bisa membayangkan dirinya duduk di kursi roda dan berhenti bermain skate board dengan kedua sahabatnya. Peter tidak ingin membayangkan dirinya duduk di kursi sementara teman-temannya bermain basket, mengejar bis sekolah atau menari saat Prom. Sial, Peter bahkan belum pernah menari dengan seorang gadis! Wanita yang pernah menari dengannya hanya Aunt Tasha dan Aunty Pepper.
Tidak ada siapa pun di ruangannya untuk menutup jendela yang membiarkan angin memasuki kamar Peter, menerbangkan tirai hingga kain putih itu berkibar-kibar perlahan. Peter yakin angin-angin itu membawa juga debu masuk bersama udara dingin yang menggerogoti kulitnya karena Peter bisa merasakan debu-debu itu berkunjung ke matanya dan membuat kelenjar-kelenjar air matanya bekerja terlalu keras hingga kelopaknya tidak mampu menahan lagi cairan berlebih itu. Peter tidak menangis, salahkan debu-debu yang tak bisa dilihatnya! Semua salah debu karena tidak ada alasan lain sehingga seorang Peter Stark menangis.
Langit sudah gelap dan matahari tidak lagi menunjukan dirinya. Peter tidak pernah merasa lebih bersyukur karena tidak ada seseorang di sisinya, menolak menunjukan air mata di hadapan orang lain. Tugasnya adalah terlihat bahagi, bersemangat, lucu dan menyenangkan. Peter senang melemparkan lelucon-lelucon dalam situasi apapun, menjadikan dirinya sebagai 'badut' diantara orang-orang berseragam pahlawan super dan mencairkan ketegangan yang sering terjadi di dalam tower Avengers. Peter menikmati perannya karena dia sadar dia tidak punya otak sejenius ayahanya atau kekuatan sebesar pamannya yang hijau, tidak juga bisa menjadi mata-mata super seperti aunt Natasha, atau membidik tanpa meleset seperti uncle Clint, apalagi mengendalikan petir seperti godfathernya. Peter hanya akan berpura-pura polos dan tidak sensitif kemudian melemparkan beberapa lelucon hingga ketegangan di tower perlahan memudar.
Tidak ada yang tahu seberapa banyak Peter berusaha menahan diri dan menempatkan dirinya sebagai bocah. Membiarkan orang-orang dewasa dengan kekuatan dan ego super besar itu memandang Peter seperti menatap anak kucing, tidak berdaya. Karna itulah peran Peter, dan hanya dialah yang bisa melakukannya. Tidak ada seorangpun yang menyadarinya, bahkan ayahnya sekali pun memandangnya sebagai bocah umur lima tahun yang takut petir, membuat Peter bingung harus frustasi karena semua orang menganggapnya lemah atau harus bangga dengan kemampuan actingnya. Peter tahu rahasia-rahasia tiap orang di Tower, tapi seperti kata orang jaman dahulu bahwa diam adalah emas, Peter memutuskan untuk bungkam.
Peter mengakui kalau itu tidak mudah, dan butuh lebih dari sekedar kesabaran dan kontrol emosi. Di tengah gelapnya malam saat kesendirian memeluknya, Peter akan duduk bersila di depan cermin di pojok kamarnya. Dia akan melihat pantulan dirinya hanya dengan cahaya bulan, dia akan melihat ke dalam dirinya melalui cermin itu dan bicara pada sisi lain dirinya yang selalu Peter kurung di dalam kepalanya. Unce Bruce pernah mengajarinya untuk meditasi dan mengendalikan diri, Peter diajari cara berkomunikasi dengan jiwanya, membebaskannya dari bunga tidur yang menghantuinya saat usia Peter tujuh tahun. Peter kemudian mulai berlatih teknik yang diajarkan Bruce dan membentuk kepribadian putra ideal, sebagai gantinya Peter akan memisahkan pikiran negatif dan emosinya kemudian memperhitungkan tindakan yang paling sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Semua orang akan melihat Peter sebagai anak yang cerdas dan ceria, bukan Jenius yang keras kepala dan seenaknya.
Sayangnya hal itu terkadang membuatnya stress dan kesulitan mengendalikan diri, untuk itulah Peter bicara pada dirinya yang lain. Peter tidak menyangka bahwa dengan melepaskan monster di dalam kepalanya justru memberikan ketenangan dan keberanian dalam hatinya, hal ini juga yang membuat Peter sadar betapa kuat Uncle Bruce yang bahkan memliki HULK di dalam dirinya. Peter memagari pikiran negatif dan pola pikirnya yang kelewat dewasa sebelum waktunya demi memainkan perannya sebagai anak normal. Peter tidak peduli asalkan bisa melihat ayahnya dan keluarganya senang, hal-hal lain akan Peter simpan sendiri.
Tapi entah kenapa menemukan kondisinya saat ini membuat Peter tidak bisa mengendalikan dirinya. Maka Peter membiarkan air matanya mengalir, tidak memperdulikan kekosongan ganjil dalam kepalanya. Peter lelah berpura-pura, jadi Peter biarkan emosinya bercampur menyia-nyiakan latihan bertahun-tahun yang dijalaninya. Kemudian isakan-isakan mulai terdengar dan disusul oleh suara raungan, Peter tidak tahu kalau suaranya akan terdengar seperti itu saat menangis dan anehnya ada rasa nyaman yang memenuhi dadanya. Peter tidak menyadari bahwa pintu kamarnya sedikit terbuka dan suaranya samar-samar terdengar di lorong yang sepi, bergema dikepala seorang Tony Stark yang kini terduduk sendirian di lantai rumah sakit yang dingin sementara punggungnya bersandar ke dinding yang memisahkannya dengan sang anak. Tony menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menolak memperlihatkan wajahnya saat bibirnya memantulkan suara isakan Peter.
.
Xxx-(Author istirahat dulu ya)-xxX
.
Steve memukul samsak di hadapannya, tidak terima dengan apa yang terjadi padanya. Mengingat bahwa dia bahkan tidak diijinkan memasuki rumah sakit membuat Steve naik pitam dan memukul samsak di hadapannya hingga samsak itu terlontar ke seberang ruangan. Natasha sudah siap membanting Steve saat Clint datang dan membawa pemuda pirang itu kembali ke Avengers Tower, Steve awalnya menolak tapi kemudian Clint berjanji akan menceritakan apa yang terjadi. Maka Steve akhirnya mundur, tahu bahwa dia tidak akan bisa mendapatkan apapun jika berdiam di gerbang rumah Sakit. Clint menceritakan jika kondisi Peter saat ini sedang tidak stabil dan keberadaan Steve mungkin hanya akan memperburuk keadaan Peter. Mendengarnya Steve naik pitam, menolak kalau keberadaannya akan memperburuk keadaan Peter.
Peter juga putranya dan Steve yakin kalau Peter juga membutuhkannya. Clint memberitahunya jika Peter hari ini mengamuk dan melukai dirinya sendiri, mendengarnya tentu saja Steve geram karena tidak bisa berada di sisi anaknya disaat Peter membutuhkannya. Steve sudah pernah kehilangan ayahnya saat perang, Steve juga kehilangan ibunya dan tidak bisa berbuat apapun melihat cahaya di mata ibunya meredup, Steve bahkan kehilangan Bucky sampai dua kali dan membuatnya menderita menjadi boneka pembunuh HYDRA, Steve kehilangan Peggy dan seluruh dunia yang dikenalnya dan terbangun di tempat yang sama sekali asing. Saat Steve terbangun orang-orang mengatakan kalau perangnya telah usai, bahwa mereka akhirnya menang. Steve bertanya apa saja kehilangan yang diterima bangsanya, tidak ada yang menjawab. Steve tahu, Steve merasakannya, Steve kehilangan segala yang dikenalnya, Steve kehilangan dunianya. Steve menolak untuk kehilangan lagi.
Steve selalu mendambakan sebuah keluarga. Berharap bisa memiliki satu atau dua orang anak dan seseorang yang bisa dipeluknya saat dunia terlalu dingin untuk hatinya. Peter dan Tony mungkin tidak seperti keluarga yang ingin dimilikinya di masa lalu. Tony bukan seorang wanita lembut dengan senyum hangat yang akan menyambutnya dengan aroma masakan dan sebuah peluka saat dia pulang kerja, Tony sebaliknya akan berlumuran oli dan kantong mata seperti panda setiap Steve pulang dari misi beberapa minggu karena tidak ada yang menyuruh Tony makan atau mandi. Maka kegiatan rutin Steve setiap pulang dari misi adalah mandi bersama si jenius dan bermesraan sambil melahap beberapa potong pizza dan berpelukan di sofa sambil menonton beberapa film dan menceritakan pengalaman masing- masing. Semua hal itu sama sekali bukan hal yang pernah dimimpikan Steve tapi senyuman dan mata Tony lebih indah dari seluruh wanita yang pernah diimpikannya, tangan Tony yang digenggamnya lebih hangat dari gadis-gadis dalam mimpinya, ciuman Tony adalah hal yang terlalu luar biasa bahkan untuk bisa dimimpikannya dan yang terpenting adalah semua yang dialaminya dengan Tony adalah kenyataan. Tony bukan pasangan hidup yang diimpikannya, bukan impian yang menjadi nyata, Tony lebih baik dari semua impian-impian itu dijadikan satu dan lebih dari segalanya, Steve mencintainya.
Steve menyukai dan membenci seluruh yang ada pada Tony. Steve menyukai dengkuran kecil yang dihasilkan Tony, Steve menyukai saat bahunya mati rasa karena semalaman dijadikan bantal oleh Tony, Steve menyukai suara Tony yang mengerang di bawahnya, Steve menyukai saat-saat dimana tubuh mereka saling berhimpitan, Steve menyukai rambut-rambut halus di wajah Tony yang menggelitiknya setiap kali mereka berciuman, Steve menyukai setiap bagian tubuh Tony termasuk luka-luka di tubuhnya tetapi bagian yang paling dicintai Steve adalah sepasang manik coklat yang berpendar indah setiap kali menatap Steve. Sayangnya kilauan itu tidak secemerlang dahulu, selalu ada keraguan atau ketakutan yang bercampur amarah dan rasa cemburu juga rasa lelah dan muak. Steve membenci perubahan yang terjadi setelah kepulangannya dari membekukan sahabatnya di Wakanda. Mata itu tidak pernah lagi berkilau untuknya.
Steve tidak mengerti apa yang salah, Tony lah yang memintanya pulang. Tony hanya bertanya satu kali di mana keberadaan Bucky dan Steve menolak untuk memberitahunya. Tony bilang dia mengerti, tapi mata itu tidak pernah lagi memancarkan cemerlang yang dicintai Steve. Steve tidak mengerti apa yang dia lakukan hingga mata itu selalu menghancurkan hatinya setiap kali Steve memandangnya. Perlahan tanpa Steve sadari kebencian itu perlahan merambat dalam hatinya bersama rasa cinta yang dimilikinya. Steve selalu memperhatikan mata Tony dan berharap bisa melihat kerlip yang dicintainya, tapi setiap kali manik Tony berbinar ada rasa marah dan cemburu di sana karena binar itu bukan untuknya. Steve menolak untuk kehilangan Tony, dia sudah merasakan begitu banyak kehilangan. Maka akan Steve ambil semua yang bisa dimilikinya.
Jika Steve tidak bisa memiliki mata itu maka akan Steve ambil bagian lain yang tak akan bisa Tony perlihatkan selain kepadanya. Harus Steve akui membuat seorang Tony Stark menangis bukan hal yang mudah, tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan. Membuatnya menjerit dan meringis lebih menyenangkan dari yang Steve bayangkan. Sejak Tony menolak untuk menciumnya Steve menjadi kreatif dan menemukan banyak cara lain untuk membuat bibir itu memerah, favorite Steve adalah menampar bibir ranum yang dirindukannya. Saat kulit-kulit tan itu tak bisa lagi ditandai dengan ciuman maka Steve biarkan kedua kepalan tangannnya menandai tubuh yang dicintainya, biru hitam dan ungu mewarnai tubuh itu, pasti akan lebih indah dengan merah menemani. Steve seorang seniman, tapi daripada kanvas dia lebih memilih tubuh Tony untuk diwarnai.
Mungkin semua kelakuan Steve terdengar tidak rasional tapi itulah cinta yang Steve mengerti setelah semua kegilaan yang dialaminya. Itulah bagaimana Steve mengungkapkan rasa sayang pada Tony, karna lelaki itu tidak lagi mau mendengar kata cinta dari Steve maupun semua kecupan sayang atau pelukan yang ditawarkan Steve, meninggalkan kegelapa dan lubang-lubang di hati seorang Captain America. Karena hanya itulah cinta yang Steve mengerti, yang tersisa untuknya.
"Steve?" sebuah suara menyadarkan Steve dari lamunannya. "mau temani aku menghabiskan ini?" tanya Clint sambil menunjukan dua piring besar berisi beberapa beberapa tumpuk Sanwitch di kedua tangannya.
"aku tidak lapar..." kata Steve dingin
"setelah dua hari ini hanya minum air? Aku kira super soldier sepertimu punya selera makan yang besar" kata Clint setengah bercanda sambil menyerahkan piring di tangan kanannya. Steve agak ragu tapi menerimanya.
"Clint... aku..." Steve tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada lelaki di hadapannya. "terima kasih" dan hanya itulah yang keluar dari bibirnya.
"yeah, kau harus berterima kasih karena sandwitch buatanku adalah yang paling enak di seluruh alam semesta" kata Clint memancing kekehan pelan dari Steve "aku juga punya anak Steve, aku tahu rasanya harus berpisah dengan mereka" kata Clint sambil mulai memakan Sandwitch miliknya. Tersenyum kecil saat Steve juga mulai ikut memakan sandwitch buatannya.
Steve sudah memutuskan, dia tidak akan melepaskan Peter dan Tony. Steve tidak perduli jika dia harus mematakhan tangan atau kaki Tony, dia akan mempertahankan keluarganya. Steve menolak takdir mengambil apa yang menjadi miliknya, tidak perduli meski dia harus melawan iblis atau bahkan Tuhan sekali pun.
.
Xxx-(Author lelah, boleh berenti nulis?)-xxX
.
Tony tidak menyedari suara langkah yang kian mendekat, tidak juga dia pedulikan si pemilik sepasang kaki jenjang penghasil suara-suara itu yang kini sudah berada tepat dihdapannya. Tony terlalu sibuk untuk perduli, otaknya bekerja berkali-kali lebih kencang berlari sekuat tenagga sambil berusaha mengumpulkan serpihan hatinya yang terkoyak. Tony tidak boleh berhenti dan terpaku, dia harus memikirkan langkah selanjutnya, dia butuh rencana.
"Tony… " Panggil Natasha pelan.
"I'm fine" kata Tony saat menyadari wanita itu akan terus mengganggunya jika dia tidak menjawab.
"Ton-"
"I said I'M FUCKIN FINE!" Tony tersentak menyadari bahwa suaranya pasti terdengar hingga ke kamar Peter, "damn…."
Tony segera bangkit dari duduknya dan menepuk wajahnya beberapa kali. Diketuknya pintu kamar Peter tiga kali dan segera masuk ke kamar tempat putranya dirawat tanpa menunggu jawaban. Dilihatnya gorden yang berkibar tertiup angin. Di atas ranjang Tony melihat Peter yang terbaring memunggunginya, berpura-pura tidur. Tony melangkahkan kakinya,menyalakan lampu dan menutup jendela di kamar itu kemudian duduk di samping ranjang Peter dan mengusap punggungnya perlahan penuh sayang.
"aku mengerti kalau kau tidak mau bicara saat ini, tapi percayalah aku selalu menyayangimu Peter." Kata Tony sambil mengecup kepala putranya dan bangkit.
"dad..." pelan, begitu pelan sehingga nyaris tak terdengar oleh Tony jika saja dia tidak memperhatikan suara putranya
"yes Pete?" Tanya Tony perlahan sambil kembali duduk dan mengusap punggung anaknya.
"apa yang terjadi?" tanya Peter. Tony bersyukur putranya tidak memandang langsung ke arahnya dan memutuskan untuk memunggungi Tony karena Tony tidak yakin dia bisa berbohong jika Peter menatapnya.
"kau pulang dari bermain, tower diserang dan monster itu berhasil mengenaimu. " kata Tony yang menolak menceritakan kejadian seutuhnya, karena toh bagi Tony Steve adalah monster yang akan menghantui mimpi-mimpi buruknya.
"monster?" tanya Peter yang ingin mengetahui penyebab dibalik kelumpuhannya.
"percobaan dari perang dunia dua... kau tidak akan mau melihatnya, bentuknya sangat... euuhh... selain itu kami sudah mengatasinya..." kata Tony yang tidak ingin Peter mencari tahu terlalu banyak soal kejadian malam itu. "makluk itu kebetulan berpapasan denganmu dan menyerangmu."
"hm..." Peter hanya bergumam, tahu dia tidak akan mendapatkan info lebih banyak dari ayahnya. Sejujurnya Peter masih kesal dan marah tapi begitu tahu yang mencelakainya adalah makhluk percobaan yang sepertinya lepas dari lab membuatnya sadar kalau dia hanya ada di tempat dan waktu yang salah. Makhluk-makhluk hasil percobaan memang sering kali mengamuk dan tidak terkendali jadi wajar kalau dia menyerang siapapun yang ditemuinya, apalagi mendengar makhluk itu sudah menjadi tikus lab sejak perang dunia dua. Peter enggan membayangkan rupa makhluk yang mungkin sudah berkali-kali dipotong, dibedah, dan kemudian disatukan kembali secara berulang kali dan terus menerus hingga dia berhasil melarikan diri malam itu. Lagipula Peter yakin makhluk itu sudah dimusnahkan oleh ayahnya.
"pete..."
"dad..."
Keduanya berbicara bersamaan kemudian berhenti, tidak ingin melanjutkan . "kau duluan Pete" kata Tony, kemudian dilihatnya putranya berbalik ke arahnya dan mendudukan dirinya agar bisa memandang Tony. Hati Tony rasanya hancur memandang sepasang manik putranya. Sudah begitu lama Tony tidak pernah melihat binar itu penuh ketakutan dan kesedihan hingga si jenius lupa bahwa mata putranya bisa menunjukan pandangan itu.
"kakiku... apa... apa kakiku..." Peter tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, menolak membayangkan kalau kakinya tidak bisa lagi berfungsi.
"what? No! Syarafmu memang terkena sedikit masalah, tapi kita sudah memperbaikinya, Bruce sudah memperbaikinya. Kamu akan baik-baik saja Pete, aku akan memastikan kau akan baik-baik saja, aku berjanji tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padamu." Kata Tony sambil memeluk putranya yang seolah akan menangis lagi. Tony tidak akan membiarkan apapun menyakiti putranya yang berharga, hanya Peter lah satu-satunya hal berharga yang dimilikinya.
"ini tidak akan permanen?" tanya Peter memastikan, Tony bisa merasakan suara Peter yang masih bergetar dalam pelukannya.
"no, kau hanya perlu terapi, minum banyak susu juga makan banyak sayuran. Akan kusuruh DUM-E membuatkanmu Smoothie sayuran dan buah, Happy bisa membawakannya untukmu bersama beberapa pakaian baru "
"uugghh... Smoothie buatan DUM-E rasanya seperti oli" kata Peter mengingat rasa cairan hijau aneh yang sering dibuatkan robot itu untuk ayahnya. Tony terkejeh mendengar penolakan Peter.
"hey, itu bumbu rahasianya Peter" kata Tony sambil melepaskan pelukannya. Ditatapnya mata putranya yang kini tidak lagi kelam, "oh Pete, sebenarnya ada satu hal lagi..." kata Tony sambil menatap putranya serius. Tony sejujurnya tidak ingin mengatakannya tapi dia tahu Peter anak yang cerdas, "kau kehilangan beberapa ingatamu..."
"huh? Aku merasa baik-baik saja. Aku tidak merasa melupakan apapun selain penyerangan di Tower" kata Peter sambil berusaha mengingat apa yang dilupakannya. "oh... oh tidak... apa aku melupakan sesuatu yang penting? Jangan bilang kalau aku punya adik dan aku melupakannya? " Tanya Peter panik
"what?! Kenapa tida-tiba kau pikir kau punya adik?"
"aku selalu ingin seorang adik"
Dan keduanya terkekeh pelan sebelum meninggalkan kesunyian dalam balutan kehangatan. Tony merapatkan dirinya agar pundaknya bisa saling menempel dengan pundak Peter.
"Peter, kau ingat rumah kita di Malibu?"
"yeah, rasanya sudah lama sekali kita tidak ke sana"
"bagaimana menurutmu kalau kita pergi ke sana? Karena sepertinya aku lupa soal tempat itu" kata Tony sambil berpura-pura mengingat.
"kurasa itu akan menyenangkan, tapi kenapa tiba-tiba?" tanya Peter heran
"tower sedang diperbaiki karena serangan terakhir" bohong Tony, "selain itu sebentar lagi liburan musim panasmu akan dimulai, jadi yaay! It's win win!"
"Dad... " Peter tahu ada yang disembunyikan ayahnya.
"haah... ini untuk pengobatanmu Peter..." kata Tony jujur. Bruce bilang Peter dan Tony harus menenangkan pikiran dan memulai Terapi Peter secepatnya. Tony merasa tempat baru adalah hal terbaik untuk melakukannya karena jujur saja Tony bahkan tidak yakin bisa menginjakan kakinya di Tower dalam waktu dekat.
"tapi Dad, bagaimana jika ada musuh yang menyerang atau keadaan darurat?" Tanya Peter yang tidak ingin jadi penghambat ayahnya. Namun jauh di dalam hatinya Peter bahagia ayahnya memilih penyembuhannya dibandingkan pekerjaan sambilannya sebagai super hero.
"aku sudah memutuskan untuk cuti. Selain itu rasanya War Machine dan Iron Legion sudah cukup untuk menggantikanku" kata Tony berusaha menjelaskan. "selain itu tower saat ini tidak aman" kata Tony serius sambil menatap luka di tangan Peter. Peter menatap luka di tangannya dan ingat apa yang telah dilakukannya, ditatapnya tangan ayahnya yang kini dibalut perban karena ulahnya. Pereasaan bersalah karena kehilangan kontrol semudah itu dan membuat ayahnya terluka seolah menggerogotinya.
"aku mengerti" kata Peter menyetujui keputusan Ayahnya.
.
Xxx-(Author istirahat dulu ya)-xxX
.
Bruce menatap Natasha yang memasuki ruangan dengan wajah yang dingin. Bagi beberapa orang mungkin wajahnya terlihat biasa saja, tapi Bruce tahu wanita yang kini duduk di hadapannya itu sedang kesal. Bruce tersenyum lembut kemudian bangkit dan membuat teh untuknya dan Natasha.
"apa yang dilakukannya kali ini?" tanya Bruce sambil menyerahkan mug berisi teh herbal buatannya ke arah Natasha. Wanita itu menerimanya dengan senang hati, menikmati rasa hangat yang menyebar ke tangannya.
"nothing..." kata Natasha sambil menyesap teh miliknya.
"dan kau kesal karena dia tidak melakukan apapun?" tanya Bruce sambil ikut duduk di samping Natasha, membiarkan lutut mereka saling bersentuhan.
"kau tahu apa maksudku Bruce" Kata Natasha sambil meletakan mug miliknya yang isinya kini tinggal setengah. Natasha memandang Bruce, "kita semua tahu dia tidak baik-baik saja dan seseorang harus menghentikannya..."
Bruce menarik nafas dalam, ini bukan pertama kalinya dia dan Natasha membicarakan masalah ini. "kita sudah sering membicarakan ini..." Bruce mengingatkan.
"ini alasanku tidak merekomendasikan Tony..." kata Natasha sambil mengingat saat-saat dia menyamar sebagai pegawai di Stark Industry. "dia punya PTSD yang tidak pernah diobati sejak Afganistan dan kecenderungan menghancurkan dirinya sendiri..."
"dan kebiasaan menolak bantuan" tambah Bruce. "kita tidak bisa menolong orang yang tidak menginginkannya..." Bruce segera meletakan mug miliknya di samping mug Natasha. Natasha bisa melihat sedikit retakan di mug milik Bruce, "andai saja dia mau bicara saat dia memutuhkan bantuan kita, tapi tidak! Karena dia adalah TONY FUCKIN STARK!" bentak Bruce pada dinding di hadapannya.
Natasha melihat kilat hijau di sana, maka digenggamnya tangan Bruce lembut. Diusapnya punggung lelaki itu, "yah, kadang melihat tingkahnya membuatku frustasi." Kata Natasha lembut. Dibawanya tangann Bruce mendekat, kemudian diciumnya tangan lelaki itu sayang. Natasha tersenyum puas begitu melihat kilat hijau di mata Bruce perlahan menghilang, "itulah tugas kita, kita harus mengawasinya sebelum dia mengacaukan sesuatu."
"yah, aku tidak mau kejadian Ultron terulang lagi." Kata Bruce yang punya peranan cukup besar karena membantu Tony menciptakan monster itu. Bruce masih bisa merasakan penyesalan amarah dan rasa malu setiap mengingat kejadian itu meski sudah bertahun-tahun terlewati.
BRAKH!
Natasha dan Bruce segera dalam posisi siaga begitu pintu didobrak terbuka. Memunculkan sosok Tony yang hampir menjerit karena nyaris diserang pisau di tangan Natasha.
"oh, oops... aku salah timing sepertinya... sorry..." kata Tony sambil menjauhkan pisau yang diarahkan padanya.
"pintunya bahkan tidak dikunci Stark" kata Natasha dingin. Dimasukannya pisau itu ke saku di balik jaket miliknya, "kau beruntung pisau ini belum menembus tengkorakmu"
"uh, yeah sorry... btw, kita akan berangkat ke Malibu besok jadi siapkan baju renang kalian okey, good... sekarang aku akan pergi, bye~" kata Tony sambil lalu, meninggalkan keduanya dan kembali ke kamar Peter.
"yah... sepertinya kita terlambat, aku tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang tapi semoga bukan hal yang bisa memicu perang dunia ketiga" kata Bruce yang tahu kalau Tony sedang memulai kebodohan atau kegilaannya dan menyeret Bruce ke dalamnya.
Natasha hanya mendengus, "jadi?" tanya wanita Rusia itu.
"jadi?" tanya Bruce bingung.
"warna apa yang menurutmu cocok untuk bikini ku?" Tanya Natasha dengan senyum menggoda. Natasha menatap wajah Bruce yang mulai berubah warna, tapi bukannya hijau wajah itu kini memerah seperti apel. Natasha selalu menyukai buah ranum berwarna merah itu dan melihat dirinya berhasil membuat wajah Bruce kini bersemu dengan warna yang nyaris identik menimbulkan kepuasan tersendiri bagi Natasha. Ide Tony untuk liburan ke Malibu sepertinya bukan ide yang terlalu buruk.
.
XXXXXxxxxxx-(Bersambung dulu ya)- xxxxxxXXXXX
.
Hhhhhuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Akhhirnya bisa Update juga... maafkan telat pake sangat...
Dan yeah, Yuha lumayan suka pairing BruceTasha... meski sebenernya lebih doyang ClintTasha... tapi apa boleh buat, OTP karam di Age of Ultron... tapi ga papa, Bruce+Tasha itu kalau punya anak ntar anaknya jadi kaya Princess Fiona di SHREK! YAAY! #dibunuh Natasha + Dipukul HULK#
Dan yaps, chapter ini memunculkan sisi lain Cap dan Peter! Terus Yuha ngebayangin kalau Steve di sini itu kaya Steve di comic Captain America: Steve Rogers #1...
HAIL HYDRAAAAA! #Plak!
So yeah, lagi galau apa mau di bikin full darkSteve atau ngga... hm... agak melenceng dari rencana awal cerita sih... tapi pengen liat Steve ato Tony mati.../woooiii...
Oh dan karena sepertinya banyak yang tertarik soal hubungan Deadpool sama Peter, sebenernya kejadian Deadpool nembak Peter itu beneran ada di komiknya... dan ya, nembaknya bukan pake bunga dan ucapan "mau ga jadi pacar aku" tapi nembak literally nembak pake pistol dan Peternya emang beneran mati. Dan yah, Deadpool nembak Peter tanpa tahu kalau Peter itu Spiderman padahal malemnya keduanya baru selese nge'date...
Bedanya kalau Deadpool di komik itu udah nikah ama Shiklah dan Deadpool berhasil menghidupkan kembali Peter. Kalau di FF Yuha, Deadpool ga berhasil ngehidupin lagi Peter dan dia belum nikah sama Shiklah. Jadi tenang, Peter ga ngerebut Suami orang kok, hehehehehe...
Oke, kayanya cukup...
Sekali lagi maafkan keterlambatan ini, namun KKN tahap 2 dan revisi proposal itu diluar dugaan cukup memakan waktu, tenaga, dan pikiran...
makanya Chapter ini jadinya lumayan panjang, semoga bisa menebus keterlambatan Yuha. Makasih buat yang udah baca, fav, dan follow. Semoga suatu saat bisa ikut Review juga.
Makasih banget buat yang udah mau menyempatkan diri buat Review, karena review itu tenaga dan jiwa buat fanfic Yuha. Bisa dibilang Review itu kaya gaji buat Yuha biar tambah semangat nulisnya sekaligus cermin biar Yuha tau kualitas tulisan Yuha meningkat atau malah turun. Jadi please buat yang baca bagilah pikiran dan perasaan kalian setelah baca ff ini.
Oke, sekian dari Yuha, sekarang waktunya balesin Review
:D
XXXxxx-( Oke, kita balesin review dulu yaaa~)- xxxXXX
Lisette Lykouleon
emang apa bedanya ibu peri sama shinigami? :3 ? Tony ga sengaja ko ngejatuhin pedangnya! #ngitung uang dari Tony# iya nih beb, bantuin beta-in chap2 sebelomnyaaa~
XD
Btw, makasih udah baca dan review dan jadi Beta, I love you beb~
:*
.
.
.
StarkPeterPark
MAAFIN BIKIN BAPER!
MAKASIH UDAH REVIEEWWW~
hehehehehehehe... Maaf updatenya lama... sering2 mampir dan teror si aku aja... biar sadar ada yang nunguin...
Sekali lg makasih udah review~
.
.
.
Amandhadl
Iya... maafkan lama... tapi ga akan hiatus ko... semoga bisa update 2 minggu sekali lagi...
makasih udah review
.
.
TheColorsAquarius
Makasih karena selalu setia mereview, terharu deh ceritanya diperhatiin sampe segininya :*
Dan maafkan atas Typo yang tak lekang oleh waktu...
Soal Steve... sudah mulai dibuka sedikit-sedikit ya, semoga tidak mengecewakan...
Yeah, Nick juga bersikap Netral dan ga mau terlalu ikut campur soal masalah pasutri Avengers, tapi kalau ada yang tahu Tony dari kecil orang itu pastilah Nick karena dia sempet ada di bawah Howard dulu.
Makasih karna dibilang mirip sama Tony, jadi pengen malu hehehehehe... iya, Tony itu sering dianggap pengacau sama hampir semua orang... padahal udah jelas dia itu ngalamin PTDS tapi entah kenapa orang-orang seakan ga perduli atau ga mau tau... udah gitu meski Tony udah ngasih segalanya tetep aja orang-orang nganggep itu hal yang wajar dan emang tugas dia buat ngasih makan, tempat tinggal, semua kebutuhan Avengers bahkan dia juga yang harus bayar setiap kerusakan yang bukan tanggung jawab dia... kadang-kadang aku takut kalau Stark Industry bakal bangkrut gara-gara uangnya abis buat ganti rugi... kerusakan di Airport pas civil war juga pasti Tony yang bayar deh...
Dan soal cerita Deadpool, yups emang sempet bikin aku nangis pas baca komiknya dan liat Peter tergeletak setelah dibunuh Deadpool...
.
That x
Udah laanjuuutttt!
Lololololol...
Makasih udah review :D
XXXxxx-( Oke,udah semua kan)- xxxXXX
Sip, sekian Chapter 6...
Semoga chapter 7 bisa segera update juga, semoga Yuha ga terlalu galau dan bisa nulis tanpa Typo... Sekali lagi makasih buat yang udah Review, aku cinta kalian~
