((Warn!))

Gaje; slice of life; romance; bikin mual; kurang memperhatikan EYD; Boys Love; PG-15 (padahal saya belum 15)

.

.

.

Suara decit ranjang terdengar saat pemiliknya itu tengah berguling ke kanan dan kiri. Wonwoo mengeratkan pelukannya pada guling. Ia tengah dilanda dilema, tubuhnya ingin pergi sekolah namun hatinya tidak. Wonwoo mengacak rambutnya yang sudah tidak rapi itu. Dan kembali menarik selimut yang jatuh dilantai untuk menutupi tubuhnya.

Setidaknya aku baru tidak masuk sekali, pikir Wonwoo seraya memejamkan matanya. Sebelum Wonwoo masuk kembali ke alam mimpi, bel apartemen mungilnya itu berbunyi, ia mencoba untuk mengabaikan itu. Wonwoo menggeram rendah saat bel itu berbunyi berulang kali, sangat mengganggu ketenangan dipagi hari.

Wonwoo segera bangkit dari tidurnya, ia langsung berdiri dari kasur namun itu malah membuat kepalanya sedikit pening hingga ia berjalan pelan ke depan dengan memegang kepalanya. Ia membuka pintu itu dan menatap aneh orang didepannya. Sampai orang itu berteriak marah yang membuat Wonwoo langsung berlari menuju kamar mandi.

"YAK! KAU BELUM MANDI? KITA ADA KUIS PAGI INI!"

Yang berteriak tadi Junghan, ia mendudukkan dirinya disofa kecil disudut ruangan. Matanya bergerak mengutari seluruh ruangan, Ian tersenyum miris melihat ruangan ini. Bahkan televisi pun tidak ada. Apartemen sederhana dengan tiga buah ruangan, kamar tidur, dapur, dan ruang depan. Junghan hanya berpikir, kenapa anak itu betah sekali tinggal disini.

Ia menghela napas nya, dan menyender disofa menunggu Wonwoo selesai mandi.

"Hyung, bangunlah" Wonwoo menggoyangkan tubuh Junghan yang terlelap itu, ia sudah selesai mengerjapkan matanya lucu, dengan pandangan bingung Junghan menatap Wonwoo yang terkekeh didepannya.

"Apa aku tertidur terlalu lama?" Tanya Junghan. Yang lebih muda membalas dengan gelengan dan mendongak menatap jam dinding diatasnya, "sekitar 20 menit mungkin hyung" Jawabnya. Junghan mengucek matanya dan beranjak berdiri dari duduknya, ia ikut melihat jam dinding itu. Sedetik kemudian tangan Wonwoo segera ia tarik keluar dari apartemen. Untung dirinya tadi tidak melepas sepatunya.

Mereka berdua berlari secepat mungkin, keuntungan kedua adalah apartemen Wonwoo tidak jauh dari sekolah hingga masih ada kesempatan untuk tidak terlambat. Saking cepatnya mereka kadang menabrak orang lain yang sedang lewat, bahkan diantara keduanya jatuh karena tidak sengaja tersandung kakinya sendiri.

Mereka berhenti didepan gerbang sekolah dengan napas terengah-engah, penampilan mereka acak-acakan. Menatap nanar pintu gerbang yang sudah tertutup. Didalam sana ada seorang guru yang menatap remeh kearah mereka. Tangannya mengisyaratkan mereka untuk mendekat, dengan langkah berat mereka mendekati guru yang sangat dibenci para murid. Siapa lagi kalau bukan Park seonsaengnim selaku guru kesiswaan disekolah mereka.

"Aku tidak menyangka kalian bisa terlambat" guru itu tertawa melihat kedua muridnya itu menunduk takut. Mereka segera mendongak saat gurunya itu tiba-tiba berhenti tertawa. Tubuh mereka otomatis bergerak berbalik mengarah pada orang yang ditatap tajam gurunya.

"Aku belum pernah melihat dirimu, apa kau murid baru itu?"

Murid yang baru datang itu membungkuk, "Ya, saya Kim Mingyu" senyum lebar ia sematkan dibibirnya. Ia melirik kedua murid lainnya yang terdiam dengan ekspresi menggelikan, Mingyu menahan tawanya dibalik wajahnya yang datar.

"Sudah, kalian masuk! Tetapi kalian harus menyapu tumpukan sampah itu dan membuangnya!"

Mereka bertiga segera melakukan apa yang disuruh, mereka berjalan berderet dengan urutan -Junghan -Wonwoo -Mingyu. Wonwoo melangkahkan kakinya cepat mendempet ketubuh Junghan. Karena pemuda tinggi dibelakangnya itu terus mencoba memegang tangannya.

Mereka melakukan pekerjaan tanpa keluhan. Membagi tugas masing-masing dengan adil, sampai Mingyu menjatuhkan karung yang ia bawa. Semua sampah yang kebanyakan tumpukan daun itu kembali berceceran. Tanpa peduli Mingyu berjalan menjauhi mereka.

Wonwoo menatap sampah yang berceceran itu sengit, sia-sia dia menyapu daun yang tadi tersebar, ia menatap punggung Mingyu yang semakin menjauh, wajahnya sudah merah karena menahan amarah.

Junghan mencoba untuk meredakan amarah Wonwoo dengan menepuk pundaknya berkali kali. "Dia pasti akan mendapat balasannya tenang saja" Junghan tersenyum dan segera memunguti sampah itu kembali tanpa mengeluh, ya walau dalam hatinya ia tidak berhenti mengumpat bagaimana bisa seorang Mingyu yang terlihat sopan itu berwatak asli seperti tadi?

"Kau kembali seperti dulu lagi..."

.

.

.

.

Wonwoo segera duduk dibangku nya dengan emosi. Ia masih kesal dengan tadi. "Tidak setiakawan sama sekali dan aku benci itu" gerutunya. Wonwoo sekarang lebih memilih untuk membaca bukunya yang selalu ada di tas untuk meredam emosi nya.

Seseorang melempari punggung Wonwoo sesuatu yang keras, Wonwoo tidak memperdulikan itu, ia masih fokus dengan bacaannya. Karena ia pikir mungkin itu permainan dari temannya tapi salah sasaran.

Pemuda bersurai hitam itu masih tetap tidak memperdulikan lemparan kedua, ketiga, dan seterusnya. Sampai sebuah lemparan itu mengenai kepalanya. Ia mengerang sakit dan mengusak bagian kepalanya yang terkena lemparan. Moodnya sudah rusak, benar-benar rusak kali ini. Dengan aura kelamnya ia menoleh kebelakang.

Disana terlihat Mingyu yang menatap kearahnya dengan tangan membentuk love sign, mata itu berkedip genit kearahnya. Wonwoo menaikkan satu alisnya melihat itu. Kemudian matanya menyipit memfokuskan penglihatannya ke bibir Mingyu yang seperti berucap sesuatu.

Wonwoo langsung membalikkan tubuhnya kedepan dan menatap lurus kedepan saat pintu ruang kelas terbuka menampilkan seorang guru yang mengajar kali ini. Wonwoo masih ingat betul apa yang diucapkan Mingyu tadi, ia tidak bisa untuk tidak melupakan itu.

Sa-rang-hae

Hanya tiga kata.

Wajahnya merona tipis, dan bibir nya ini ingin sekali untuk menyunggingkan sebuah senyuman. Wonwoo menghela napasnya, "Kenapa aku merasa kalau ini hal yang salah? Sepertinya memang iya, seharusnya aku itu move on, tetapi kenapa rasanya seperti cinta lama itu bersemi kembali? Ya tuhan, aku tidak boleh jatuh dengan dia" batinnya.

Semakin buruk moodnya, saat telinganya ini mendengar kata 'kuis' dari seorang yang berdiri didepan kelas, yang berarti akan ada tes mengerjakan, meskipun hanya lima soal, tetapi sangat sulit. Wonwoo bahkan pernah hanya mendapat nilai 20 saat kuis seperti ini.

Wonwoo parsah dengan jawaban yang ia tulis disebalik kertas yang sudah dibagikan tadi. Mungkin memang benar harusnya ia tidak pergi ke sekolah, kepala nya pening sekali. Ia berjalan kedepan memberikan lembar jawabnya dan memilih keluar pergi ke ruang kesehatan.

Wonwoo berjalan sendirian dikoridor yang sepi itu, tangannya sesekali memegang kepala nya yang berdenyut. Ia terhenti dan menoleh ke arah lapangan outdoor yang ramai berisi adik kelasnya yang bermain bola, pikirannya kembali melayang saat dulu.

Wonwoo mengeratkan genggaman pada tasnya saat ia sudah berada disamping lapangan. Ia mendudukkan dirinya disana, menunggu Mingyu yang sedang bermain sepak bola.

Ia menatap Mingyu yang lincah mengambil bola dari lawannya, bola itu bergerak kesana kemari mengikuti arah yang menyepaknya. Dirinya tersenyum saat Mingyu mendekati arah gawang lawan dan berusaha memasukkan bolanya, namun senyum itu pudar berganti dengan hembusan napas saat bolanya memantul ke tiang gawang.

Untung dari arah belakang ada dari salah satu anggota tim Mingyu yang dapat menendang itu dan akhirnya masuk kedalam gawang. Wonwoo menjerit tertahan saat satu poin berhasil diraih tim Mingyu.

Suara pluit terdengar nyaring sekitar 15 menit kemudian, ia segera mengambil handuk dan minuman isotonik dari dalam tasnya saat ia melihat Mingyu tengah berjalan kearahnya.

"Wonu hyung!" Panggil Mingyu membuat Wonwoo tersenyum lebar membalasnya, ia menyodorkan botol minuman itu.

"Kau terlihat keren tadi"

Mingyu terkekeh mendengar penuturan dari yang lebih tua dan mendudukkan dirinya disamping Wonwoo. dan menjatuhkan kepalanya dipundak Wonwoo. Dan meminum minumannya.

"Tumben sekali kau menjadi manja seperti ini hm?" Wonwoo tidak kuat untuk tidak mencubit hidung dari kekasihnya ini. Ia tertawa saat kekasihnya itu mengerucutkan bibirnya.

Tangannya meraih handuk dipahanya, dan mengulurkan tangannya untuk mengusap peluh diwajah Mingyu. Dengan hati-hati ia melakukannya, takut jika merusak pahatan indah dihadapannya ini.

"Kau tidak berniat pulang hyung?" Wonwoo mengangguk mendengarnya. Ia terkaget saat tangannya tiba-tiba langsung ditarik dan digenggam erat.

"Kali ini kita pulang bersama" Wonwoo tersenyum dan mengeratkan genggamannya.

Wonwoo mengerjapkan matanya dan kembali melangkah. Ia menoleh lagi saat ia rasa ada tekanan dari arah kanan. Dan kejadian itu tidak dapat dihindari.

DUAK!

Sebuah bola itu terlempar kearahnya tepat didahi nya dengan keras. Wonwoo langsung jatuh karena terkejut, kepalanya makin pening. Bahkan suara dari adik kelasnya itu terdengar tidak jelas. Wonwoo memejamkan matanya dan mencoba berdiri dan berucap tidak apa-apa kepada adik kelasnya itu.

"Ugh, kenapa sangat sakit" Wonwoo berjalan tertatih menuju ruang kesehatan yang sekitar 10 langkah dari tempatnya jatuh.

Wonwoo menegakkan tubuhnya, dan membuka pintu ruang kesehatan. Ia menengok kedalam, ia menghela napas saat tidak ada satu pun guru penjaga disana.

Wonwoo melangkah kan kakinya masuk, belum tiga langkah ia sudah merasa ingin jatuh, ia mengumpat pelan, dan mencoba melangkah lagi, kepalanya semakin pusing.

"Sial, ini semakin sa- argh" Wonwoo kira ia akan jatuh ke lantai. Tapi ia merasa ada tangan kokoh yang menyangga nya. Matanya berkunang-kunang, ia mengongak untuk melihat siapa yang menolongnya itu.

"K-kau..." Wonwoo sudah tidak kuat lagi, pening nya semakin parah, ia menutup matanya dan pingsan.

.

.

.

Wonwoo terusik dengan suara-suara orang tengah berbincang, matanya mengerjap saat ia mendengar suara pintu ditutup. Wonwoo memegang kepalanya saat rasa pening itu kembali menyerang. Ia mengerang sakit.

"Kau tidak apa-apa?" Wonwoo meringis menatap seorang wanita berumur yang ia yakini sebagai dokter sekaligus guru penjaga. "Tidak, kepalaku sedikit pening" ujar Wonwoo pelan. Ia merasa tenggorokan nya sangatlah kering.

"Sebaiknya kau makan dan minum obat, terima kasihlah pada temanmu yang baik hati itu membelikanmu bubur, kau nanti akan ku antar pulang" wanita itu tersenyum lembut dan menyuruh Wonwoo bangun dan menyenderkan tubuh bagian atasnya ke tembok.

"Temanku siapa saenim?" Wonwoo mengernyit heran, setaunya ia tadi hanya sendiri kemari. "Aku tidak tahu, dia langsung pamit saat aku kemari baru saja" Guru itu menyodorkan mangkuk berisi bubur ke Wonwoo dan menaruh segelas air putih beserta obat dimeja samping.

Wonwoo memakannya pelan, sebenarnya ia tidak nafsu juga sih untuk makan, apalagi bubur seperti ini. Tapi melihat raut wajah gurunya yang terlihat khawatir itu membuat nya tidak bisa menolak.

Pikiran Wonwoo kembali ke kejadian tadi. Ia tidak terlalu ingat siapa orang itu, tapi ia berterima kasih.

Dengan segera ia menghabiskan makanannya dan meminum obatnya, ia mengambil tasnya yang berada diatas meja juga. Wonwoo tidak memperdulikan siapa yang menaruhnya disitu. Ia segera pamit pada gurunya

"Saenim, aku pulang sendiri saja"

"Ah, iya. Tapi kau masih pusing?"

Wonwoo menggeleng, dan membungkuk sopan, kemudian berjalan keluar. Matanya manyipit saat melihat dari kejauhan segerombolan anak, ia seperti kenal siapa saja itu. Ia melangkan kakinya kesana.

Semakin jelas siapa mereka. Wonwoo hanya mengangguk-angguk saat tau siapa mereka. Tapi matanya membola saat melihat Mingyu ada disana tengah menghisap batang yang mengeluarkan asap diujungnya. Ia tersenyum datar saat melihatnya, dan pergi menjauh

"Aku kira kau sudah berubah"

.

.

.

TBC/END?

Nah kan jelek udah bilang ini kurker hm, chapter 1 udah aku rombak padahal, tapi tetep aja bahasa nya gak pas. Tapi gapapa lah wkwk, btw, Jae ultah hari ini, gaada yang mo ngucapin? Ngarep amat :'v

Upatenya cepet karena saya anak baik haha, sudah kubilang ini tidak panjang. Oh iya, mungkin setiap chapnya bertelet-tele kali ya, nanti diceritain satu-satu. Tapi kemungkinan ya, bisa berubah kalo saya mau (?)

Oh ya, kalo disuruh milih badboy!mingyu ama goodboy!mingyu pilih yang mana?

Special thanks to:

sailing2000; btobae; DevilPrince; tfiy; cehuns2; Whirlwinds Meanie; wonderella; eunha jung(guest); Herlin790; Rookie's noona; zahra9697; madejasmine80; Arlequeen Kim; Iceu Doger; kookies(guest); Beanienim; KimAnita; porororororong; Mbee(guest); Herdikichan17; svtbae; meanieslaves; 17MissCarat; jehongsar; shinhy(guest); hoshilhouette; dongiie; onmyfingertips; ishmaelme; wan MEANIE(guest); lulu-shi; all favourites; all followers;

Mind to review?