CHAPTER 2

.

.

.

((Warn!))

Gaje; slice of life; romance; bikin mual; kurang memperhatikan EYD; Boys Love; PG-15 (padahal saya belum 15)

©DaeMinJae present

.

ps: italic; flashback.

.

.

.

.

.

Wonwoo berjalan menuju apartemennya. Ia mendengus keras, kepalanya kembali berdenyut. Rasa sakit itu berkurang ketika angin berhembus pelan melewati Wonwoo. Ia tersenyum kecil saat rasa tenang menyeliputinya.

Seketika Wonwoo mendongak saat merasakan setetes air jatuh ke wajahnya. Ia mengernyit heran, cuacanya cerah, bahkan matahari nya bersinar tetapi kenapa gerimis?. Wonwoo masih berjalan pelan ketika setitik-titik air mulai turun, ia memasukkan salah satu tangannya ke saku celananya.

Tetesan air itu semakin banyak dan semakin deras, mau tidak mau Wonwoo harus berlari agar tubuhnya tidak basah, atau sekedar mengurangi agar tidak terlalu basah. Wonwoo dapat melihat kalau apartemennya sudah terlihat. Ia mempercepat larinya.

Wonwoo berhenti ketika ia sudah sampai didepan kamarnya. Ia mengatur napasnya. Dan masuk kedalam setelah membukanya. Ia menaruh tas nya disofa, dan berjalan menuju kamar mandi yang satu ruangan dengan dapur.

Wonwoo menatap pantulan dirinya dicermin, dan menghela napasnya.

"Kau tidak gagal, kau hanya tidak bisa untuk tidak mengabaikannya" monolog Wonwoo dengan menunjuk dirinya dipantulan cermin. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Dan segera membasuh mukanya.

Ia kembali menatap pantulan dirinya, mendekat kan tubuhnya ke cermin. dan kembali berkata, "Sepertinya kau memang akan gagal".

Drtt drtt.

Wonwoo mengalihkan pandangannya ke arah saku celananya. Ia merogoh ponsel nya yang bergetar itu. Ada sebuah panggilan dari ibunya. Saat ia ingin menggeser tombol hijau, panggilan itu berhenti.

Wonwoo tetap memegang ponselnya dan keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju rak tempat makanan instan disimpan, ia mengambil sebuah bungkus ramen. Ponsel Wonwoo kembali bergetar, masih panggilan dari ibunya. Dengan segera ia menggeser tombol hijau.

"Halo eomma?" Wonwoo memulai percakapan. Ia menghidupkan speaker dan menaruh ponselnya disebelah bungkus ramen tadi, dan berganti mengambil ramennya.

"Bagaimana kabarmu sekarang?" Suara lembut ibunya itu terdengar. Wonwoo mengambil panci dan menaruhnya diatas kompor. Ia menuangkan air secukupnya kedalam panci itu.

Wonwoo terdiam sebentar, "Antara baik dan buruk. Mungkin?" Wonwoo menyalakan kompornya. Dan membuka bungkus ramen tadi.

"Ada apa? suaramu terdengar baik" Ibu Wonwoo berujar dengan nada khawatir, "Apa ini karena mantan pacarmu dulu itu? Siapa namanya? Ibu dengar tadi dia juga masuk sekolah yang sama denganmu" lanjut ibunya.

Wonwoo tersentak, ia terbatuk-batuk karena saat itu ia tengah menyobek bungkus bumbu pedas ramennya. "Emm, namanya Kim Mingyu eomma" ia berujar dengan nada sebiasa mungkin.

"Hey, kau sedang apa? Kenapa terbatuk?" Nada khawatir itu semakin jelas.

"Tidak, aku hanya terbatuk karena menghirup bumbu pedas eomma" Ucap Wonwoo sembari menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal.

"Benarkah? Bukan karena eomma mengungkit soal 'mantan' mu itu?" Ibu Wonwoo menekan kata 'mantan' yang membuat Wonwoo tertawa canggung.

"T-tentu tidak" Wonwoo mulai gugup. Ia mengambil sumpit dan tutup panci di rak. Ia mengaduk ramen itu sebentar dan menutupnya.

Wonwoo meraih ponselnya dan mematikan speakernya. Ia menaruh ponsel itu disebelah telinganya. Wonwoo mendengar suara tertawa diseberang sana, ia tahu pasti ibunya itu tertawa karena ia berbicara gugup tadi.

"Berhentilah tertawa eomma" Wonwoo cemberut, karena bukannya berhenti ibunya itu malah semakin menertawakan dirinya. Ibunya tertawa selama satu menit dan kemudian minta maaf dengan terkekeh kecil.

"Sudah. Eomma tutup teleponnya, minggu depan kau pulanglah, kau sudah lama tidak pulang"

"Krisis uang selalu terjadi eomma. Ya sudah, bye" Wonwoo menaruh ponselnya disaku celananya. Ia berjalan kearah kompor, mematikan nyala api itu.

Wonwoo memakan makanannya dengan tenang. Perutnya semakin kenyang. Ia baru teringat kalau tadi dia sudah makan, tapi mungkin berlari membuat tenaganya berkurang?

Wonwoo kembali membayangkan saat dimana dirinya saat bersama Mingyu.

.

.

.


Waktu itu sedang sore hari. Wonwoo menyenderkan tubuhnya dibatang pohon, dia duduk disana dan membuka bukunya. Ia selalu berusaha fokus ketika membaca buku. Wonwoo juga sedang menunggu kekasihnya yang tadi meminta bertemu. Daripada duduk dibangku taman, lebih nyaman seperti ini.

Rasa dingin itu menyentuh pipinya, membuatnya menoleh, ia mendapati kekasihnya sedang tersenyum memperlihatkan taringnya, ia membalas senyum itu. Pandangannya beralih kepada minuman yang dibawa Mingyu.

Mingyu mengerti ketika mata Wonwoo memandang minumannya. Ia menyodorkan minuman itu, "Untuk mu".

Wonwoo menerimanya dengan senang hati. Ia menepuk pahanya; menyuruh Mingyu untuk membaringkan kepalanya disana. Setelah mengangguk, Mingyu segera berbaring disana.

Wonwoo mengusap rambut kecoklatan Mingyu berulang kali. Entah, ia sangat suka itu. Mingyu sendiri memainkan jemari tangan Wonwoo yang lain. Sungguh itu sangat romantis.

"Hyung kau tau? aku ingin merokok"

Ucapan Mingyu itu membuat Wonwoo menghentikan usapannya. Wonwoo memandang Mingyu dengan tatapan bingung, "Kau ingin merokok? Kenapa?" Suara Wonwoo kini berubah datar.

"Pokoknya aku ingin mencoba merokok!" Mingyu menekan kalimatnya. Membuat Wonwoo menatap datar kekasihnya ini.

"Aku tahu kau itu nakal Mingyu, tapi merokok? Kau tidak sayang nyawa mu nanti? Kau itu juga masih dibawah umur!" Wonwoo masih mencoba untuk tidak emosi. Karena kalau ia emosi, itu akan membuat Mingyu yang keras kepala dan tidak menerima bantahan itu berbuat yang aneh-aneh.

"Tapi rasa rokok itu manis hyung, kau pun jika mencobanya akan suka" Mingyu masih ngotot untuk keinginannya merokok.

"Tidak ya tidak Mingyu, bukankah masih ada permen yang manis? Aku tidak suka melihat kau merokok Mingyu"

Mingyu duduk dari acara berbaringnya. Ia menatap lurus kearah mata Wonwoo. Dan mendesah keras,

"Kau tidak tau hyung apa yang ku rasakan" Mingyu berdiri dari duduknya. Dan berjalan pergi dari sana.

Mingyu berhenti sebentar, menoleh kearah Wonwoo sekali, dan berucap, "Seandainya kau mau dicium hyung" dan pergi. Sayangnya Wonwoo tidak mendengarnya. Wonwoo hanya melihat bibir Mingyu yang bergerak.

Wonwoo menatap sendu kepergian kekasihnya itu.


.

.

"Hah, aku paling benci saat mengingatnya"

.

Wonwoo pergi ke sekolah lebih pagi seperti biasa. Ia pergi sendiri sekarang. Wonwoo berhenti melangkah saat sesudah ia memasuki pintu gerbang sekolahnya. Ia menolehkan kepalanya ke samping.

Pagi itu riuh sekali.

Wonwoo heran, sekolah yang biasanya tidak pernah ribut soal desas-desus apapun itu berbeda kali ini. Wonwoo dapat mendengar kata, 'pembulian', 'tertangkap', 'dihukum'. Wonwoo tidak terlalu memperdulikannya, karena itu tidak penting. Hanya sebuah kata pembulian yang membuat Wonwoo merasa aneh.

Ia seperti merasa pernah seperti ini.

"Aku harap yang aku pikiran tidak terjadi"

Wonwoo menghembuskan napasnya dan beralih segera masuk kedalam kelasnya.

Ditengah perjalanan pundaknya tiba-tiba dirangkul oleh seseorang. Wonwoo langsung memasang wajah masam setelah tau siapa yang ada disebelahnya, Choi Seungcheol. Wajahnya berubah datar saat rangkulan itu semakin erat, membuatnya menempel ke tubuh kekar Seungcheol. Yang merangkul itu hanya tertawa melihat temannya ini merasa tidak nyaman, sangat lucu.

Wonwoo melepaskan rangkulan itu saat banyak orang yang memperhatikannya. Seungcheol itu murid populer, dan meskipun ia temannya tapi ia tidak terlalu dekat dengannya. Ia berjalan cepat mendahului Seungcheol.

Sampai dikelasnya. Wonwoo segera duduk dibangkunya. Ia mengambil buku novelnya dan membacanya.

"Hei Jeon Wonwoo-" Seseorang memanggil Wonwoo, tangannya menyodorkan sebuah kotak kecil kearahnya. Wonwoo mendongak dan mengangkat satu alisnya. Belum sempat Wonwoo menjawab, orang itu menyela dan pergi begitu saja, "-dari Kim Mingyu".

Wonwoo tersentak didalam wajah bingungnya. Ia mengocok kotak kecil itu pelan, menerka apa isinya. Wajahnya berubah serius saat kotak itu mengeluarkan suara. Wonwoo kembali mengocoknya untuk memastikan. Wonwoo membuka kotak itu dengan pelan-pelan.

"Jangan bilang kalau ini-" Mata Wonwoo melebar saat melihat isinya, "-uang koin?".

Wonwoo seperti mengenal bunyi suara tadi. Ia mengerucutkan bibirnya kesal karena tebakannya benar. Ia menumpahkan isinya itu keatas mejanya. Ia mendengus kesal karena nilai harga uang itu sangat rendah. Matanya beralih kearah kotaknya tadi, ia menengokkan kepalanya melihat kembali isi kotak tersebut.

Ia melihat sebuah dua kertas kecil; lebih panjang sedikit dari kotaknya. Wonwoo mengambil kertas itu dan membacanya.

"Hah?! Ini tidak bohong kan? Kupon cheese burger paling besar di pertigaan dekat minimarket itu? Sial. Ini jangan sampai kehabisan"

Wonwoo segera memasukkan kupon itu ke sakunya. Dan berganti membaca yang satu lagi.

"Wonwoo hyung, kau tau kan aku dulu mengatakan suka padamu? -" Wonwoo mengangguk-angguk saat ia mengingat bagaimana tidak tahu malunya Mingyu.

"-kau bilang kalau aku memberi mu selusin kupon cheeseburger milik Park ahjussi kau akan menerima ku kan? Kau juga ingat itu? -"

Wonwoo mengangguk lagi. Yah, saat itu dirinya memang sedang tidak punya uang, dan ia sangat ingin membeli cheeseburger itu. Saat itu, sebenarnya ehm, dia sudah menyukai -ehm mencintai lebih tepatnya- Mingyu. Untung dirinya itu berwajah datar, tidak ada yang akan tau jika saat itu ia sudah menyukai Mingyu. Jujur saja, saat itu pula dirinya sangat terkejut karena Mingyu juga menyukai nya.

"Jadi... jika aku memberikan mu kupon cheeseburger itu, meskipun tidak selusin seperti dulu, aku ganti dengan paling besar! Jadi... intinya bisakah kau menerimaku kembali hyung? Jujur aku masih mencintai mu"

Wonwoo terdiam membacanya. Pipinya perlahan merah merona. Ia tidak mengira Mingyu akan seperti ini!. Kepalanya menunduk menyembunyikan rona merah itu. Sudut bibirnya itu tertarik keatas, ia tidak bisa untuk tidak tersenyum.

"Ya, aku tau kau masih suka padaku. Tapi tidak semudah itu kau bisa merebut hatiku lagi. Yah, meskipun kau sudah merusak seperempat rencanaku" batin Wonwoo.


Istirahat tengah berlangsung. Wonwoo berjalan kearah kantin, ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Wonwoo melambatkan langkahnya ketika telinganya kembali mendengar gosip yang tengah dirumpikan sekelompok wanita, suara mereka terlalu keras sehingga ia sampai mendengarnya.

"Kau tau? Ternyata kasus pembulian itu ada kaitannya dengan Kim Mingyu anak pindahan seminggu yang lalu itu. Tadi aku melihatnya dipanggil ke ruang kepala sekolah"

Wonwoo terkejut dan membalikkan badannya kearah kumpulan itu. Ia mendekat, "Permisi, apa yang kau bilang tadi fakta?".

Para wanita itu lebih terkejut, mereka menatap satu sama lain dan mengangguk, "Kami tidak akan membicarakannya jika tidak ada bukti" ujar salah satu wanita disana.

Wonwoo ber-oh saja mendengar jawaban mereka. Ia membungkuk dan berucap terima kasih. Ia kembali berjalan menuju kantin.


Wonwoo menghembuskan napasnya kasar saat ia sudah duduk disalah satu meja kantin, ia menaruh roti dan susu putih yang tadi dibelinya sebentar. Junghan, yang tadi sudah duduk disana bersama Seungcheol –mereka memang selalu bersama disekolah- menatap wajah temannya ini bingung.

"Kau kenapa? Wajahmu semakin menakutkan jika kau seperti itu"

Mendengar perkataan Junghan itu membuatnya terdiam sebentar, dan berguman 'tidak'. Wonwoo menancapkan sedotannya kedalam minumannya. Ia menyedotnya sedikit dan kembali menaruh minuman itu kasar.

"Yak! Aku tau kau sedang tidak baik, ceritalah" Junghan berusaha untuk membujuk Wonwoo agar mau menceritakan apa yang membuat dirinya yang biasanya datar itu menjadi sedikit uring-uringan, bukan tipe Wonwoo sekali. Junghan bahkan mengabaikan Seungcheol yang dari tadi merengek meminta pergi dari kantin karena sudah hampir bel.

"Sebegitunya kau ingin tau ya?-" Wonwoo menatap Junghan dengan pandangan yang sulit diartikan. Yang didepannya itu mengangguk semangat, "Aku ini kau anggap sahabat tidak sih, tentu aku ingin tau!". Wonwoo yang melihat Junghan merengut diakhir katanya itu tertawa.

"Baiklah, nanti pulang bersamaku ya" Wonwoo berucap dengan nada menggoda sambil melirik Seungcheol yang kini melotot menatapnya. Tanpa menunggu apapun Seungcheol langsung mengoceh kalau dirinya tidak setuju, Junghan kan harus pulang dengannya. Wonwoo kembali tertawa, dan Junghan hanya tersenyum geli melihat Seungcheol.

"Tidak tidak, aku akan menceritakannya disini, tapi kau bisa pergi sebentar? Aku dengan Junghan tidak akan lama" Junghan mengangguk setuju, namun Seungcheol kembali menggeleng tidak setuju, "Aku tetap disini!"

Junghan menghela napasnya pelan menahan amarah dan menatap Seungcheol yang keras kepala itu, "Kau pilih pulang bersama atau tidak?". Seungcheol tentu memilih pilihan pertama, tapi kalau boleh memilih semua ya ia memilih itu saja. Junghan tersenyum dan mengusap pipi Seungcheol sebentar kemudian menyuruhnya pergi.

Ketika yang disuruh tadi sudah menghilang dari kantin Junghan bergantian menatap Wonwoo yang tengah memakan rotinya.

"Kalian itu teman apa pacaran sih?" Wonwoo berkata dengan mulut yang penuh. Junghan hanya menggelengkan kepalanya, entah apa maksudnya.

"Ceritakan apa yang membuatmu seperti tadi…" ujar Junghan dengan pandangan menyelidik.

.

.

.

Wonwoo menceritakan semua apa yang dialaminya, dimulai tentang dirinya yang dulu satu daerah dengan Mingyu, dia berpacaran dengannya, alasan kenapa dia dan Mingyu bisa putus, saat Mingyu yang memberi hint kalau dia ingin mengajak balikan, bahkan sampai tadi saat dirinya mendengar sekelompok wanita menggosip.

Junghan mengangguk mengerti saat Wonwoo menyudahi ceritanya. Tapi alisnya berkerut menandakan kalau dia sekarang tengah memikirkan sesuatu.

"Tunggu sebentar, dilihat dari ceritamu kau masih mencintainya kan? Sebenarnya kurang masuk akal juga kau memutuskannya hanya dengan karena Mingyu tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan, setiap orang itu berbeda, mungkin dulu kalau kau tidak keras kepala dan tidak gegabah mungkin Mingyu masih bersamamu sampai sekarang, kau kan bisa dengan menasehatinya kan?"

Wonwoo yang mendengar penjelasan Junghan hanya terdiam dan menunduk, "Aku tau memang harusnya aku tidak gegabah, tapi kau tidak tau aku yang setiap hari harus mengurusnya karena masalah yang ia buat" matanya memandang Junghan dengan pandangan sendu. Ia sudah tidak kuat saat itu.

Junghan mengusap puncak kepala Wonwoo itu pelan, ia tersenyum kecil dan kedua tangannya berganti menarik sudut bibir Wonwoo naik, menampilkan senyum dari wajah Wonwoo, "Kesempatan kedua pasti ada kok, tinggal dirimu saja seperti apa menanggapinya".

"Sudah, ayo kita masuk kelas!" Junghan menarik tangan Wonwoo erat. Yang ditarik itu sedikit meringis karena terlalu erat pegangan itu, ia memanggil Junghan untuk melepas pegangannya, namun dihiraukan dari sang empu. Wonwoo hanya pasrah ditarik akhirnya.


Junghan menghentikan langkahnya ketika dua orang berdiri tepat dihadapannya. Junghan menyipitkan matanya melihat mereka, tidak salah kan penglihatannya? –mereka itu anak berandalan disekolah ini. Junghan meneguk ludahnya takut, ya berandal didepannya ini memang tidak bertubuh besar seperti kebanyakan, tapi mereka terkenal ganas. Junghan menoleh kebelakang melihat Wonwoo yang memperhatikan pergelangan tangannya yang memerah, Junghan kembali menghadap kedepan dan menatap dua orang didepannya itu dengan pandangan –mau apa kalian-.

Yang didepan itu saling pandang dan salah satu dari mereka menujuk Wonwoo yang masih sibuk memperhatikan tangannya. Junghan menatap mereka bingung. Yang satu lagi mengerti bahwa Junghan bingung itu segera berkata,

"Bisakah kami meminjam Jeon Wonwoo sebentar?" Suara agak berat itu terdengar menuntut. Wonwoo yang mendengar namanya dipanggil itu mendongak. Yang menyebut namanya tadi tersenyum tipis yang seperti pernah ia lihat.

"Kita akhirnya bertemu kembali Jeon-" Wonwoo tertegun sebentar, ia memiringkan kepalanya bingung.

"Kau siapa? Apa kita pernah bertemu?"

"Kau lupa padaku hm? Tidak ingat Kwon Soonyoung sama sekali?"

Mata Wonwoo membulat lucu, ia berkedip-kedip tidak percaya, "Kau bersekolah disini?! Astaga kwon! Katamu kau akan pergi ke Jepang!"

Wonwoo segera mendekat kearah Soonyoung dan memeluknya. Mari kita perkenalkan, Kwon Soonyoung, sahabat Wonwoo sejak dari ia masih bocah, dulu mereka kemana-mana pasti bersama, rumah mereka juga dekat, hanya berjarak empat rumah. Yang Wonwoo ingat, Soonyoung dulunya itu imut bahkan sangat menggemaskan, tapi sekarang? Ia sudah tampan dengan surai biru yang acak-acakan itu, saat itu setelah kenaikan kelas dua smp, Wonwoo mendapat kabar kalau Soonyoung akan pergi ke Jepang. Wonwoo kalut saat itu sampai tidak meminta kontak Soonyoung yang terbaru dan berakhir mereka kehilangan kontak sampai sekarang.

Ehm,

Suara dehaman itu membuat Wonwoo melepaskan pelukannya. Ia menatap Jeonghan kikuk, ia juga melirik orang yang disebelah Soonyoung, dan langsung mengalihkan pandangannya ketika orang itu menatapnya tajam.

"Jeon, ikut denganku sebentar" Ujar Soonyoung dan menarik tangan Wonwoo yang membuat pemiliknya berteriak kesal, "Lepas kwon! Tanganku sakit". Wonwoo menghentakkan tangannya dan akhirnya terlepas. Ia mempoutkan bibirnya lucu dan kembali melihat tangannya yang memerah. Ia menatap sengit kearah Soonyoung dan dibalas cengiran khasnya.

Mereka berjalan menjauh dan meninggalkan Jeonghan sendiri yang menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan, "Mungkin kehidupanmu tidak akan jauh dari anak berandalan won, aku harap kau tidak langsung berpikiran pendek".

.

.

.

.

TBC/END?

(1)Maafkan saya kalo kurang plus lama, stuck tbtb nih. Terima kasih buat ucapan selamatnya~ kalo mau tau umur(?) saya baru 14th. Jadi jangan manggil kak/min ya, bahkan thor, saya bukan monthor. Panggil Jae ajah

(2)Untuk guest maafkan saya nggak bisa bales review kalian :") ohiya. Ini sudah terlihat minguw badboy

(3)Saya usahakan tidak akan update selama seperti chapter ini

(4)Saa ya memberinya genre romance tapi hasilnya ya seperti ini, agak mengecewakan.

.

Special thanks for:

porororororong; btobae; Arlequeen Kim; DevilPrince; tfiy; Beanienim; wonnderella; svtvisual; Sekar310; Kkamjongmin; DfheeHyper; dongiie; wonujeon; KimAnita; equuleusblack; svtbae; 17MissCarat; zahra9697; Rookie's noona; monwii; Hansollee; shinhy; kookies; nuyybonew; SkyBlueAndWhite; Rie Cloudsomnia; BumBumJin; hoshilhouette; eunha jung; chikincola; blackjackcrong; meanie4lyfe; Hyunchannn; Mingyu; kimxjeon; alysaexostans; NichanJung; MingyuAin; hamipark76; Zahra427; all favorites; all followers

Mind to review?

Sragen, 2016