CHAPTER 3
.
.
((Warn!))
Gaje; slice of life; romance; bikin mual; kurang memperhatikan EYD; Boys Love; PG-15 (padahal saya belum 15)
Khusus chapter ini saya panjangkan sedikit! Sedikit yah ga banyak, sebagai permintaan maaf saya karena php/?
.
©DaeMinJae present
.
.
.
.
.
Soonyoung berjalan diikuti Wonwoo dibelakangnya, dan seseorang yang disebelah Soonyoung tadi bilang ingin pergi ke sebuah tempat terlebih dahulu. Mereka berdua berjalan menuju atap sekolah.
Soonyoung sesekali melirik Wonwoo yang berjalan lesu karena tadi mereka sempat berdebat soal membolos kelas saat bel sekolah berbunyi dengan kerasnya. Dan akhirnya, siapa yang bisa membantah seorang Kwon Soonyoung? Apalagi hanya seorang Jeon Wonwoo yang dulunya itu sangat menurut padanya.
Lama-lama ia juga jengah melihat wajah cemberut itu, bibir itu semakin melengkung kebawah. Soonyoung merangkul pundak sahabatnya dan berbisik sambil terkekeh kecil.
"Sudahlah, kau terlihat semakin manis kalau cemberut" bisiknya. Wonwoo yang kesal itu mencubit pinggang Soonyoung kuat. Soonyoung mengerang saat rasa nyeri hasil dari cubitan itu muncul.
Soonyoung membuka pintu atap pelan, menimbulkan suara berderit besi yang berkarat. Sinar matahari langsung masuk ke indra penglihatan mereka. Angin tiba-tiba berhembus kencang saat kepala mereka menyembul dari pintu. Mengerjapkan mata menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang semakin terang. Soonyoung menarik tangan Wonwoo dan mengajaknya berdiri dibalik pagar pembatas.
Pemandangan sekolah mereka yang luas dan cukup dikatakan mewah untuk sekolah-sekolah biasa terpampang jelas. Pohon-pohon yang cukup menjulang itu membuat suasana sekolah lebih segar. Cat tembok sekolah yang berwarna oranye dengan pilar yang bercat kuning gading itu menambah kesan elegan dari sekolahnya.
Setelah cukup lama terpana –Wonwoo baru menyadari kalau sekolahnya begitu besar nan apik- Wonwoo berdehem dan menoleh kearah Soonyoung.
"Sebenarnya apa yang ingin kau bica-" Ucapan Wonwoo terpotong oleh seseorang yang memanggil Soonyoung dan otomatis membuat mereka membalikkan badan.
"Junhui! Seungcheol kemari!" Soonyoung melambaikan tangannya menyuruh keduanya untuk mendekatinya. Keduanya bergegas untuk duduk membentuk sebuah lingkaran, mendudukkan dirinya dan menyilangkan kakinya.
"Jadi… apa yang ingin kau bicarakan Kwon sampai Junhui menarikku tadi" Celetuk Seungcheol, suaranya agak terdengar kesal. Karena sudah berapa menit mereka duduk disini hanya diam menatap satu sama lain bergantian, kurang kerjaan sekali.
Soonyoung menghembuskan napasnya kasar, ia mendongak menatap awan-awan putih yang bertebaran dilangit yang cerah. Lalu menatap mereka bertiga, entah kenapa dirinya jadi gugup padahal sebenarnya apa yang ingin ia sampaikan bukan sesuatu yang terlalu mengeluarkan energi otak yang berlebih.
"Sebelumnya, aku ingin mengatakan-" Soonyoung melirik Wonwoo sekilas dan kembali melanjutkan ucapannya, "Kalian belum tahu kan kalau Wonwoo itu pacarnya Mingyu?".
Wonwoo tesedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Soonyoung, wajahnya terlihat memerah disekitar area pipi, semburat merah itu semakin menjalar sampai ke telinga saat mendengar perkataan Soonyoung selanjutnya.
"Bahkan yang kudengar mereka pernah berhubungan badan." Ujar Soonyoung. Dan langsung mendapat geplakan keras dikepalanya. Wonwoo dengan brutal menjambak rambut itu.
"Siapa yang kau bilang bersetubuh hm?!" Suara datar Wonwoo itu terdengar sangat menusuk. Soonyoung hanya nyengir saja membalasnya, kepalanya agak sakit, ia rasa rambutnya sampai rontok lebih dari lima helai.
Seungcheol berdehem untuk menghentikan mereka.
"Sudah sudah, lagipula sejak kapan kau pacaran dengan Mingyu? Bahkan ku lihat jarang sekali menyapa satu sama lain ketika berpapasan?"
Hening, semua menatap Wonwoo dengan pandangan –menuntut.
"Tidak, aku sudah tidak berpacaran dengannya" Aku Wonwoo. Ia meringis saat sadar dirinya memang sudah putus dengannya. Seungcheol menepuk-nepuk pundak Wonwoo untuk menyemangatinya, "Sabar bro! nanti juga ada yang lain".
Soonyoung berdiri dari duduknya. Menatap mereka dingin. Ia membalikkan badannya ke arah pagar pembatas. Angin berhembus menyapu wajahnya, surai biru metalic nya itu bergoyang. Bibirnya bergerak mengucapkan sebuah kalimat,
"–ini soal Mingyu."
.
.
.
Wonwoo duduk menyila diatas ranjang mungilnya. Tangannya itu memeluk sebuah bantal yang lumayan besar dan empuk. Ia menaruhkan dagunya diatas bantal. Pikirannya itu melayang pada percakapan serius diatas atap sekolah tadi.
Awalnya ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Soonyoung waktu itu, tapi ia melihat Junhui yang mengangguk menyetujui itu entah kenapa membuatnya menjadi percaya. Saat menatap wajah Junhui itu rasanya dia memang tidak berbohong.
Ngomong-ngomong soal Junhui, dahi Wonwoo berkerut saat sekelebat bayangan wajah Junhui muncul dalam otaknya, "Apa aku pernah bertemu dengannya?".
Wonwoo segera menggeleng keras. Ia menjatuhkan tubuhnya keranjang, menarik selimut tebal kesayangannya. Dan memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Dentingan jam yang beradu dengan dengkuran halus dari Wonwoo itu membuat malam itu menjadi terasa tenang dan sunyi.
Wonwoo mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan dari arah pintu apartemennya-, ketukan itu menjadi brutal, Wonwoo keluar dari kamarnya dengan langkah yang terhuyung-huyung, ia merasa kalau dirinya tadi baru menembus mimpi sebentar dan ketukan ini sangat mengganggu, -ia bersumpah kalau ini yang mengetuk itu Jeonghan ia akan mencekik leher putih itu kuat-
Wonwoo mengusap jemarinya yang terasa dingin, ia menatap gagang pintunya itu ragu. Ia tidak bisa membayangkan kalau orang yang mengetuk brutal pintunya itu adalah penculik? Bagaimana jika saat ia membuka pintu itu dan penculiknya langsung membekap mulutnya dan membawanya pergi jauh dari Seoul. Membayangkannya saja sudah membuat merinding.
Wonwoo memegang gagang pintu itu cepat saat ketukan itu menjadi semakin brutal, ia khawatir kalau tetangganya itu akan komplain tentang betapa berisik gedoran itu. Wonwoo membuka itu dengan gerakan pelan, ia memejamkan matanya serta meringis kecil saat menarik pintu itu agar terbuka. Bunyi engsel besi yang sudah agak tua itu membuatnya semakin berdebar.
Matanya membulat saat sebuah badan yang jatuh tertumpu padanya. Wonwoo yang saat itu tidak siap sama sekali akhirnya ikut terjatuh terlentang dilantai. Bulu kuduknya itu berdiri saat rasa dingin menyentuh punggungnya. Tangannya itu menyentuh kepala orang yang jatuh menimpanya tadi, kepala itu berada diatas dada Wonwoo. Matanya semakin membulat saat ia berhasil menggulingkan tubuh berat itu kesamping sehingga dapat di identifikasi itu siapa,
"-eh.. M-Mingyu..?"
Wonwoo segera berdiri dan menatap Mingyu dengan tatapan yang sulit diartikan. Wonwoo berganti melirik jam dinding yang terpasang disana. Ia memfokuskan matanya kearah jam. Ya, dirinya ini sebenarnya minus, tapi dia tidak mau memakai kacamata terlalu sering, karena memakai kacamata itu tak enak.
Jam setengah satu pagi. Wonwoo terdiam dan menatap jam dan tubuh mingyu yang terkapar bergantian. Ia menghembuskan napasnya kasar untuk menghilangkan rasa gugupnya sekarang. Dalam pikirannya itu banyak sekali pertanyaan yang ia ingin lontarkan kepada orang yang tengah terkapar pingsan didepannya itu.
Kenapa dia bisa kemari?
Dari mana dia tahu apartemenku?
Kenapa dia memilih kemari?
Kenapa tidak dirumah lain saja?
Kenapa dia tengah malam begini keluar?
Dia ada masalah?
Kenapa?
Kenapa?
Banyak sekali kata kenapa yang ada dibayangannya. Wonwoo menghela napasnya dan menutup pintu apartemennya. Karena rasa dingin kembali menyerangkan. Sekarang,Wonwoo mulai berpikir bagaimana caranya memindahkan Mingyu dari sana menuju kamarnya. Ayolah dirumahnya itu hanya ada sofa tunggal, ia masih mempunyai rasa simpati terhadap mantan pacarnya ini.
Wonwoo mencoba untuk menyeretnya –tetapi terlalu berat.
Wonwoo berganti mencoba untuk mendudukkan Mingyu –dan berhasil. Wonwoo berjongkok didepan Mingyu dan melihat wajah tampan yang terlihat lucu itu. Wonwoo mendekatkan wajahnya sedikit kearah Mingyu ketika ia mencium aroma sebuah bir.
"Kau mabuk?"
Wajahnya mengernyit tidak suka. Mingyu-nya itu tidak boleh lagi menjadi seperti itu. Wonwoo langsung tersentak kecil setelah menyadarinya, Mingyu itu bukan siapa-siapanya lagi. Dia hanya seorang yang disebut 'mantan'. Seharusnya seperti kata kebanyakan orang, bukan apa-apa sih, tapi memang kadang kenyataan memang seperti itu.
Mantan itu bagaikan permen karet, mungkin jika kau baru saja memakannya mungkin akan terasa manis, itu melambangkan dimana masa saat berpacaran, semua yang dilakukan berdua itu terasa sangat manis, Ketika permen itu dikunyah akan terasa menyengat manisnya dimulut, itu seperti ketika berpelukan atau berciuman, rasa hangat pasti akan menyelimuti seluruh bagian tubuh. Dan lambat laun, ketika kita lelah mengunyah permen itu dan bahkan rasa manisnya mulai memudar dan bergantikan dengan rasa pahit dan hambar, itu dapat diartikan ketika kalian merasa bosan dan sudah lelah dengan konflik yang terjadi.
Seketika permen karet itu kalian buang karena rasanya semakin tidak enak. Itu seperti saat kalian memutuskan pacar kalian, rasa ego pun sudah meninggi, tidak memikirkan sama sekali apa yang akan terjadi selanjutnya –permen itu kalian buang sembarang dengan melemparnya jauh.
Saat kalian beranjak pergi, sebuah ketidak sengajaan menimpa kalian. Permen karet itu tak sengaja kalian injak, sama arti dengan seorang yang sudah menjadi mantan itu muncul.
Ketika kalian mencoba untuk mengelupas permen karet itu dari sepatu itu rasanya akan sulit, karena menempel dengan kuatnya dan banyak kemungkinan meninggalkan sedikit sisa –sama rasa dengan mantan itu mencoba untuk mengembalikan kalian seperti dahulu. Dan meninggalkan rasa gejolak sedikit yang dapat membuat galau.
Mereka memberi harapan kembali ketika kalian sudah berusaha melupakan.
Dan itu yang membuat ada banyak orang yang gagal move on.
-filosofi dari saya sendiri wkwk
Wonwoo menjatuhkan tubuh itu keatas ranjang setelah perjuangan yang cukup berat. Ia menjerit tertahan saat setelah selesai dengan menidurkan Mingyu diranjang. Punggungnya itu terasa sedikit kram karena memang ia tidak terlalu terbiasa dengan menggendong sesuatu yang berat dipunggungnya. Kalo pun buku pelajaran sekolah saat itu sedang berat-beratnya ia lebih memilih untuk menentengnya.
Wonwoo menarik kursi meja belajarnya dan mendudukkan dirinya disana, kursi itu menghadap ranjang mungil milik Wonwoo. Ia duduk dengan mengangkat kedua kakinya disana dan memeluknya. Ia menumpukan dagunya pada lututnya. Melihat Mingyu lagi dengan pandangan sayu. Matanya sudah kembali mengantuk, ia tak ingin terlambat lagi berangkat ke sekolah. Tidak ingin bertemu dengan sosok guru kedisiplinan yang garang itu.
Samar-samar ia mendengar suara ingauan dari mulut Mingyu. Ia berusaha untuk membuka matanya dan mendengarkan baik-baik apa yang dikatakan oleh Mingyu. Karena suara itu terdengar lirih, bahkan lebih lirih dari suara jam yang berdenting.
Wonwoo mendekatkan tubuhnya lebih dekat, dan lebih dekat, dan dia dapat mendengar suara lirihan dari Mingyu. Itu membuatnya membeku ditempat, matanya membulat, tidak –Mingyu sedang mabuk pasti dia berbohong, batinnya.
"Wonwoo hyung, aku merindukanmu"
Wonwoo menjauhkan tubuhnya ke posisi semula, wajahnya kini mulai terasa panas, ia yakin pasti pipi itu sudah merah merona, Wonwoo menyembunyikan wajahnya ditekukan lutut itu. Memejamkan matanya, serta menggeleng-geleng kecil.
"Tidak, Mingyu pasti bohong. Tidak" Sederet kata tidak dan tidak terus keluar dari mulut Wonwoo.
Semakin memikirkan tentang itu semakin membuat Wonwoo mengantuk. Ia sangat yakin Mingyu itu berbohong, tidak mungkin sekali ia masih merindukannya, ia masih ingat wajah berseri Mingyu ketika bersama orang itu. Orang yang sempat Wonwoo anggap sebagai teman.
-sebenarnya sampai sekarang masih Wonwoo anggap teman. Tetapi hanya saja dirinya itu menjadi lebih canggung ketika bersama orang itu. Tidak perlu tahu, karena Wonwoo sudah berusaha melupakannya. Sekarang ia merubah pandangannya ke orang itu hanya sebatas kenal –tidak ada sangkut pautnya dengan Mingyu.
Wonwoo merasakan matanya itu sudah tidak kuat lagi untuk terbuka, lagipula ia sudah lelah sekali dengan kegiatan hari ini. Walaupun tadi karena pembicaraan Soonyoung ia jadi membolos pembelajaran sampai akhir. Ia harus menyiapkan diri untuk besok ketika sekolah.
Wonwoo mulai terpejam menuju alam mimpi. Dengkuran halus itu mengikuti alur semakin lelapnya Wonwoo. Ia tertidur dengan kepala yang bertumpu pada lutut dan tangannya itu memeluk kaki nya erat.
.
.
.
.
.
Tak terasa pagi sudah menyapa. Diluar sinar mentari sudah bersinar dengan terangnya dari ufuk timur, rasa hangat menyelimuti keadaan bagaimana carahnya hari itu. Tapi sayangnya di dalam kamar itu masih terasa hawa dingin malam hari, dinding-dinding masih beradaptasi dengan rasa hangat pagi itu.
Disana pemuda dengan tubuh kurus dan berkulit putih pucat itu masih tertidur dengan lelapnya, posisi tidurnya itu sangatlah tidak nyaman jika dilihat, terdapat kemungkinan besar mendapat rasa pegal dipunggung.
Dan seorang pemuda lain yang mengenakan kaos tipis berwarna hitam dengan rambut yang sedikit basah yang ditata keatas. Pemuda berkulit tan itu tengah menatap yang sedang terlelap itu dengan pandangan lekat. Ia menyilangkan kakinya dan memiringkan kepalanya. Bibir itu tertarik keatas dan membentuk sebuah senyuman manis disertai dengan gigi taring yang mencuat itu menambah kesan er sedikit tampan. Dilihat dari penampilannya itu sepertinya dia sudah mandi. Lagipula tetesan air yang jatuh dari rambutnya itu semakin memperkuat.
Pemuda bernama Mingyu itu betah sekali, jika dihitung mungkin sudah hampir tiga puluh menit ia menatap Wonwoo. Bahkan sebenarnya juga ada niat untuk mengusap rambut hitam lembut itu. Namun ia urungkan, yah karena ia masih terlalu canggung untuk berhadapan kembali dengan Wonwoo.
Yah –itu juga termasuk alasan kenapa ia hanya bisa menggoda Wonwoo dari jauh, bahkan tidak berani berkata atau sekedar menyapanya. Tidak gentle? Ya biarlah… Mingyu sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting dirinya itu masih sedikit blak-blakan seperti ia dulu, itu sudah mewakili semuanya.
Mingyu sedikit tersentak saat melihat Wonwoo menggeliat dan perlahan dia membuka matanya. Mingyu tersenyum kala Wonwoo mengerjapkan matanya lucu. Ketika bibir tipis merah muda itu menguap lebar. Ingin rasanya Mingyu mencubit pipi itu.
"Mingyu?–"
Wonwoo berucap dengan nada yang masih mengantuk, dan matanya itu berkedip berulang kali dan menyipit untuk memperjelas pandangannya.
"eh –mingyu?! Kenapa bisa kau disini!" Wonwoo berteriak kecil ketika sadar. Efek bangun tidur menjadikannya lupa sepertinya, padahal tadi malam ia yang menaruhkan Mingyu yang mabuk ditempat tidurnya. Wonwoo menurunkan kakinya dari kursi dan duduk menyandar disana. Ekspresi wajahnya sedikit kesaki
Mingyu hanya tersenyum menanggapinya. Meskipun ia juga tidak ingat kenapa ia bisa berada disini, dan kenapa bisa tidur diatas ranjang milik Wonwoo dengan Wonwoo yang malah tidur dikursi kecil itu. Tapi ia tidak mempermasalahkannya, ia bahagia karena dirinya yang kala itu mabuk –karena sesuatu hal- berakhir kemari.
"Hai Wonu hyung" ujar Mingyu sambil nyengir kuda.
Wonwoo mengernyit karena ini pertama kalinya setelah sekian lama Mingyu berbicara padanya. Kalau boleh jujur ia sangat merindukan suara serak nan cukup berat itu, meskipun ia juga sering tidak sengaja mendengar suara atau bahkan tawa Mingyu dari jauh, tapi ini berbeda.
"ehm, kau tidak pulang?" Ujar Wonwoo dengan nada yang sedikit gugup.
Mingyu menggeleng kecil, dan itu membuat Wonwoo terkejut. Dan kemudian menghela napas.
"Sudahlah, terserah kau saja" ujarnya lagi dan segera beranjak dari kursi dan keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju kamar mandi, namun langkah kakinya berhenti sejenak ketika suara keras itu menyapa telinganya. Dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat ketika suara itu sudah tidak terdengar lagi.
"Aku anggap itu sebagai kau sudah menerimaku kembali hyung!"
Sedangkan Mingyu terkekeh kecil melihat Wonwoo yang salah tingkah itu, terlihat manis. Mingyu membatin, akhirnya aku berani mengatakannya.
Mingyu beranjak dari posisinya dan memutari kamar Wonwoo, melihat isi dari kamar dengan tembok berwarna krem itu. Ia membuka laci meja belajar Wonwoo dan menemukan sebuah foto polaroid dengan tulisan dibagian belakangnya. Mingyu membaca tulisan itu sambil tersenyum. Oh, sudah berapa kali ia tersenyum pagi ini.
Mingyu-ku terlihat sangat manis
Foto itu adalah foto Mingyu dan Wonwoo ketika mereka pergi jalan berdua ke pantai. Wonwoo yang tersenyum lebar dengan Mingyu yang merangkul pundaknya juga tersenyum dengan jemari tangan yang membentuk peace yang menempel di sekitar pelipisnya. Mingyu dapat mengingat detail bagaimana mereka sangat bahagia saat itu.
Mingyu juga punya foto polaroid seperti itu, tapi dengan gambar yang sedikit berbeda, kalau milik Wonwoo yang memegang kamera adalah Wonwoo, kalau miliknya itu yang memegang kamera dirinya sendiri. Fotonya itu, Mingyu yang menarik pinggang Wonwoo dengan tiba-tiba, sehingga foto itu tergambarkan Mingyu yang sedang mengecup pipi Wonwoo. Ditambah ekspresi terkejut Wonwoo yang sangat lucu itu. Meskipun sedikit kabur tapi Mingyu sudah cukup puas dengan itu.
Wonu hyung yang terkejut terlihat lucu
Itu yang tertulis dibelakang polaroid tersebut.
Mingyu menaruh kembali foto itu, dan menutup lacinya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar, selangkah ketika ia sudah keluar dari kamar itu, hidungnya mencium sebuah aroma wangi dari sebuah masakan. Mingyu mengendus kecil karena bau itu tercium sangat menggiurkan.
Mingyu berjalan menuju dapur dan melihat Wonwoo yang sedang berkutat dengan kompor dengan segala bahan-bahan untuk memasak. Mingyu melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Wonwoo.
"eh?!"
Wonwoo terkejut menghentikan gerakannya, ia melihat kearah perutnya, terlihat tangan yang lebih gelap dari miliknya itu melingkar dengan eratnya. Wonwoo memegang tangan itu dan mencoba melepaskannya. Tapi Mingyu mencegahnya dengan semakin mengeratkan tangannya, ia menumpukan dagunya dipundak Wonwoo. Dan berbisik kecil membuat Wonwoo menggeliat didalam kukungan hangat Mingyu.
"Biarkan seperti ini hyung"
Wonwoo membiarkan Mingyu memeluknya. Ia hanya berharap Mingyu tidak memperhatikan wajahnya yang mulai merona ini, dan juga detak jantung yang berpacu sangat cepat, meskipun Wonwoo tidak menjamin kalau Mingyu tidak akan tahu, tapi mengantisipasinya bisa kan?
Pelukan itu berlangsung sebentar, karena Mingyu sudah melepaskannya. Wonwoo kembali melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda itu, dengan Mingyu yang berpindah posisi menjadi disampingnya dengan menatapnya lekat seperti tadi pagi.
"Kau sudah bisa masak hyung? Dulu kau payah sekali…" celetuk Mingyu.
"Kalau kau disini hanya berniat mengganggu, pergi saja sana!" Usir Wonwoo dengan mendorong pundak Mingyu untuk menjauh.
"Jadi kau ingin aku membantumu hyung? Baiklah…"
Mingyu mengambil alih alat masak itu dan mendorong Wonwoo menjauh. Skakmat! Wonwoo kesal karena itu, Mingyu tidak tahu malu sekali, batinnya. Wonwoo berganti mendorong Mingyu balik. Dan acara memasak itu menjadi sedikit lebih lama karena acara saling mendorong satu sama lain. Dengan sesekali ada cubit mencubit yang membuat salah satu dari mereka itu meringis sakit.
Bukan sesuatu yang romantis tapi mereka mencoba melupakan status mereka yang sudah tidak saling memiliki –namun masih saling menyukai- sehingga dapat tercipta sebuah rasa kesenangan kecil untuk menghilangkan rasa rindu dari masing-masing.
.
.
.
Wonwoo kala itu sedang terpejam karena mengantuk dan kelelahan karena Mingyu yang sangat menyebalkan tadi, Wonwoo tertidur dengan menekuk tangannya sebagai bantal untuk dirinya yang tertidur di meja makan. Acara sarapan sudah selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Sedangkan Mingyu sendiri masih duduk dihadapan Wonwoo dengan memakan cemilan yang ia temukan dari dalam lemari dekat kompor setelah ia mencuci piring tadi.
Wonwoo itu tertidur ketika Mingyu sedang mencuci piring. Karena keadaan hening waktu itu membuatnya tidak bisa untuk tidak menutup matanya.
Mingyu mencolek pipi Wonwoo berulangkali membuat sang empu itu mengusap wajahnya kasar dengan mata yang masih menutup. Mingyu terkekeh melihatnya, dan terus mencolek pipi yang sekarang sedikit tirus itu. Hingga sang empu membuka matanya dan menatap Mingyu dengan tajam. Wonwoo menggeram tertahan,
"Aku hanya butuh teman bicara hyung" ujar Mingyu.
Wonwoo hanya diam, tidak menanggapi. Ia menatap Mingyu dengan pandangan yang sulit diartikan, sedang memikirkan sesuatu.
"Ming… hari ini hari apa?-" Tanya Wonwoo dengan hati-hati.
"Tadi aku melihat kalender, hari ini hari rabu-"
Ucapan Mingyu terpotong, Wonwoo melotot menatap Mingyu dan bibirnya itu mengeluarkan suara yang keras, "Kenapa kau tidak membangunkan ku heh! Ya tuhan, kita ada tugas yang harus dikumpulkan hari ini gyu!".
Teriakan marah Wonwoo menjadi saksi akhir dari perjumpaan Mingyu dirumah Wonwoo. Karena Mingyu takut Wonwoo-nya marah dan akan melampiaskannya kepadanya lebih baik ia memilih kabur dari apartemen itu. Bahkan Mingyu sampai lupa membawa kemeja serta ponselnya yang berada dikamar Wonwoo. Hingga membuat Wonwoo harus berteriak dan menyusul Mingyu yang sudah berjalan menjauh dari apartemen.
.
.
.
.
.
Hari sudah berganti, Wonwoo berangkat kesekolah dengan jalan kaki seperti biasanya, ia melangkahkan kakinya dengan riang, mengingat kemarin setelah kenangan-kenangan indah yang sekejap itu –ia mencoba untuk tidak tsundere -
Ketika ia berjalan, ia melihat Junhui yang tengah mengendarai sepeda motor matic miliknya, Wonwoo memanggil Junhui yang membuatnya mengerem mendadak dan menoleh ke belakang.
"Jun! aku bareng yah" Teriak Wonwoo, dan berlari kearah Junhui yang berhenti didepan sana. Sedangkan Junhui hanya mengangguk dan menunggu Wonwoo yang berlari. Wonwoo segera menaiki motor itu, dan motornya segera melesat menjauh.
Mereka dengan cepat sudah sampai sekolah. Junhui yang memarkirkan motornya dan segera meninggalkan Wonwoo disana yang sudah mengucapkan terima kasih.
"Sial, cuek sekali" Gerutu Wonwoo. Dan mulai melangkahkan kakinya kedalam kelas. Ia melihat kelasnya sudah ramai sekali. Ia melihat Mingyu disana yang tengah melambaikan tangannya kearahnya. Wonwoo mendesah kesal. Dia mulai lagi, batinnya.
Wonwoo duduk dikursinya dan menopang dagunya dengan tangannya. Menunggu sang guru datang sambil menghentakkan kakinya pelan. Bibirnya itu melantunkan sepenggal lirik lagu dari penyanyi kesukaannya.
Dan ketika guru itu masuk, membuatnya langsung duduk menghadap kearah depan dan sedikit melirik gurunya itu. Raut wajahnya berubah menjadi sangat datar, saat gurunya mengucapkan kata 'kuis' lagi, bahkan gurunya itu belum sama sekali mengucapkan salam pembuka, tapi sudah menyuruh muridnya untuk bersiap karena akan ada sebuah kuis lagi, Wonwoo kesal, karena Minggu kemarin pun juga seperti ini.
Ia dapat mendengar teman-teman sekelasnya itu banyak yang mengeluh tidak suka, tapi untuk Wonwoo cukup dengan menggerutu dalam hati saja. Karena didepan kebanyakan teman sekelasnya ia dianggap berperingai dingin.
Dengan setengah hati ia mengeluarkan pulpen dari tempat pensilnya dan menunggu ia mendapat kertas yang sedang dibagikan oleh gurunya itu. Ia sedikit berbahagia karena kuis kali ini tidak secara lisan, ayolah ia tidak nyaman berdiri didepan dan menjawab pertanyaan gurunya –dan akan berakhir dengan debat karena gurunya itu selalu menanyakan lagi alasan dan alasannya lagi.
Wonwoo mencoretkan garis-garis hingga membentuk sebuah jawaban untuk soal-soal yang diberikan. Ia kadang mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja sehingga menimbulkan bunyi yang sedikit keras didalam keadaan yang hening itu. Ia menghentikan tangannya untuk menggores kata dikertasnya ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Ia sedikit menoleh ke belakang ketika pintu kelasnya itu dibuka perlahan.
"Saem, bisakah aku ijin ke kamar mandi?" Ujar Mingyu. Ia berdiri dari bangkunya dan mengangkat tangannya.
"Sudah selesai memang?" Balas sang guru.
Mingyu sendiri mengangguk, dan kembali menatap gurunya. Dan ia mulai melangkahkan kakinya keluar kelas dan membuka pintu itu perlahan –tidak ingin mengganggu murid lain- ketika gurunya mengisyaratkan dirinya boleh keluar dan menyuruh meletakkan lembar soal kuisnya diatas meja.
Detik hingga menit sudah berlalu, sekarang sudah setengah jam berkutat dengan soal akhirnya sang guru mengucapkan bahwa soal sudah harus dikumpulkan. Wonwoo sebenarnya sudah selesai sejak tadi, tapi ia malas sekali untuk maju kedepan menyerahnya soalnya. Selama waktu yang tersisa tadi ia hanya menelungkupkan kepalanya ke meja, ia terlalu lelah. Karena pikirannya masih tertuju saat Mingyu yang tiba-tiba datang kerumahnya itu.
Wonwoo bahkan kembali mengelungkupkan kepalanya saat sudah mengumpulkan soal, ia bahkan tidak membalas salam dari gurunya itu seperti murid yang lain, sekali lagi, karena ia terlalu lelah.
Matanya itu mulai terpejam, karena hawa dari kelas itu juga mendukung sekali, tapi-
Wonwoo terkaget saat tangannya yang kecil itu ditarik paksa oleh Soonyoung yang tiba-tiba masuk kedalam kelasnya sedetik setelah guru yang mengajar dikelasnya itu keluar. Bahkan ia berpikir kalau Soonyoung sudah menunggu didepan kelasnya dan membolos pelajarannya sendiri. Ia sudah hafal dengan apa yang pasti Soonyoung lakukan.
Meski kali ini ia tidak bisa menebak apa yang sedang di cemaskan karena wajah Soonyoung sangat terlihat berbada dari dulu, dengan dahi yang berkerut yang membuat matanya itu terlihat semakin sipit. Ia sempat memikirkan Soonyoung akan menabrak dinding karena matanya yang sudah tidak terlihat itu.
Ia merasakan perih dari pergelangan tangannya yang dipegang erat itu, biasanya Soonyoung tidak terlalu erat seperti ini jika menggenggam tangannya karena dia tahu tangannya itu sangat sensitif. Ia memukul pelan lengan Soonyoung dengan tangannya yang tidak ditarik.
"Kau kenapa sih!" Guman Wonwoo masih dengan memukul tangan Soonyoung agar berhenti berlari. Ia tadi sampai tidak sengaja menabrak hingga membuatnya hampir terjembab –Wonwoo sedikit lega karena orang yang ia tabrak tadi tidak marah, dan malah meminta maaf-.
Soonyoung menengok kebelakang ketika Wonwoo sangat mengganggu sedang segala gumanan-gumanan tidak jelasnya, ia melirik tangannya yang memegang tangan Wonwoo, dan sedikit melonggarkan pegangannya. Ia melambatkan langkahnya juga, dan berhenti.
Ia membalikkan badannya, menaruh tangannya dipundak Wonwoo dan mengcengkramnya kuat dan membuat Wonwoo meringis karenanya. Ia menatap dalam ke onyx hitam, seakan memberi perintah kepada Wonwoo untuk diam sebentar.
Ia menghela napas, "-aku harap kau tidak terkejut-" ujarnya. Wonwoo mengangguk menanggapi.
"-Mingyu tadi dikeroyok sendirian dibelakang sekolah-" Lanjut Soonyoung. Dan membuahkan ekspresi terkejut dan khawatir secara bersamaan dari Wonwoo, mulutnya sudah siap berteriak 'apa' namun segera dibekap oleh Soonyoung sebelum suara itu keluar.
"Kau tidak bilang akan terjadi hari ini!" sela Wonwoo setelah bekapan itu sudah melonggar. Dan dibalas oleh helaan napas putus asa dari Soonyoung, sepertinya ia lelah dengan Wonwoo yang seperti sedang pms.
"-aku pun tidak tahu! Ini jauh dari perkiraan!"
Soonyoung terlihat sedikit marah, tapi ia mencoba untuk tidak berteriak didepan wajah manis Wonwoo, ayolah, ia sahabatnya, ia bisa merasakan bagaimana rasanya dibentak oleh sahabat sendiri. Wonwoo menunduk setelah mendengarnya, "Jadi, rencana kita tidak terpakai?" Tanyanya dengan nada yang sedikit takut.
"-kemungkinan tidak, dan kita harus cepat, karena kita harus membantunya secara fisik" Lanjut Soonyoung yang terakhir kalinya dan kembali menarik tangan Wonwoo. Dan kali ini tidak ada gerutuan ataupun gumanan sedikitpun karena Wonwoo sibuk berpikir.
Setelah sampai dibelakang sekolah –tempat kejadian- Soonyoung segera ikut maju dalam melawan orang-orang yang kata Soonyoung waktu itu adalah orang yang sempat menghina Mingyu. Dan Wonwoo hanya terdiam diujung tempat perkelahian itu, ia meringis ketika salah satu tonjokan mengenai wajah sahabatnya ataupun Mingyu, dan matanya menyipit ketika melihat ada sosok lain yang membantu Mingyu disana, Junhui dengan jurus kungfu yang ia miliki membuat para lawannya itu kewelahan, meskipun memiliki pertahanan yang kuat tetapi karena lawannya itu sangat cerdik menimbulkan sebuah bekas pukulan disudut bibirnya.
Itu tidak parah, dibandingkan Mingyu yang menonjok wajah mereka kesetanan, mengeluarkan semua emosi yang ia rasakan, tonjokan itu terus menerus dilayangkan, Mingyu terlihat sangat sangat dendam dengan salah seorang lawannya itu, ia menonjok wajahnya berkali kali sehingga wajah itu sudah penuh lebam berbanding sama dengan Mingyu.
Pukulan satu, dua, dan tiga, dan seterusnya. Mingyu kewelahan sendiri, ia masih belum puas dengan apa yang ia lakukan, ia merasa hanya dengan pukulan itu tidak impas. Ia tetap memukul lawannya meski ia sadar lawannya itu sudah sangat lemah sekarang. Dan ia mencoba melirik kebelakang tubuhnya sedikit, ketika sang lawan itu sudah sangat sekarat, bahkan Mingyu yakin mata lawannya itu sudah sangat buram sekali. Matanya membulat terkejut ketika menemukan Wonwoo yang berdiri diujung sana, Mingyu yakin Wonwoo sedang menahan air matanya agar tidak keluar –menahan diri agar tidak terlihat lemah.
Mingyu merasa gagal, ia benar-benar merasa gagal sekarang. Ia tidak berubah sama sekali seperti yang Wonwoo harapkan. Ia juga tidak menyangka kalau Soonyoung yang datang paling akhir dalam acara membantu dirinya itu akan membawa Jeon Wonwoo.
"-wonwoo-" gumannya lirih dan menatapnya sendu.
Ia mengabaikan rasa perih yang terjadi akibat luka diwajahnya, kedua pipi yang lebam biru keunguan serta darah yang keluar dari sudut pelipis dan bibirnya. Mendengar saja sudah membuat merinding, apalagi merasakan. Ia menatap lekat Wonwoo dan berjalan mendekatinya. Dengan langkah yang sedikit terseok-seok ia menghampirinya.
Ia mengernyit heran ketika wajah Wonwoo dari kejauhan terlihat panik, bukankah seharusnya dia tidak panik sama sekali?
Sedetik kemudian ia merasakan kepalanya menjadi begitu berat, dan sangat sakit. Suara pukulan dengan benda tumpul dikepalanya membuatnya meringis, ia bisa merasakan darah segar mengalir dibelakang kepalanya. Suara nyaring dari pukulan itu membuat seluruh orang yang berada disana terfokus kearahnya. Melihat Mingyu yang semakin ingin menutup matanya karena ini sangat sakit, dan pada akhirnya terjatuh pingsan tepat dihadapan seorang Jeon Wonwoo.
Air mata mulai menetes dari sudut mata Wonwoo saat melihat Mingyu terkapar dihadapannya. Ia sedikit merasa de javu dengan kejadian ini, meski dengan penyebab yang berbeda. Ia dengan segera menghampiri Mingyu dan mencoba menolong Mingyu dengan menutup tempat darah mengalir dari kepala belakang Mingyu. Ia tidak memperdulikan Junhui ataupun Soonyoung tadi yang berteriak, ia tetap fokus dengan Mingyu yang masih mengeluarkan darah. Baju seragamnya pun sudah berubah menjadi merah, dengan aroma anyir yang menyengat.
"Wonwoo-ya! Bawa dia kerumah sakit!" Kata Soonyoung. Dan segera ikut membantu mengangkat Mingyu dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Wonwoo menoleh ketika pundaknya itu disentuh, "Sebaiknya kau pulan dan ganti bajumu terlebih dahulu, dan aku akan membantu Soonyoung" Kata Junhui. Dan dibalas pandangan yang tidak setuju dengan ucapan Junhui.
"Tapi kau bau anyir, aku bahkan ingin muntah mencium baunya" Lanjutnya.
Dan Wonwoo pun hanya bisa mengangguk menurut akan ucapan Junhui.
.
.
.
.
Wonwoo duduk disamping Mingyu yang sudah dipindahkan ke dalam ruang rawat, menunggu Mingyu sadar. Ia menopang dagunya diatas ranjang, dan tangannya yang lain itu sedang menari-nari diatas perut Mingyu membentuk sebuah garis garis abstrak. Wajahnya terlihat sangat mengantuk, hingga tidak sadar ia sudah terlelap kedalam Mimpinya.
Ia terbangun karena sebuah elusan lembut dirambutnya, ia melenguh dan menguap. Ia melirik jam dinding, ternyata sudah malam. Jam sembilan lebih sepuluh. Ia berganti melirik Mingyu, apakah sudah bangun atau belum. Dan ia menjadi sedikit salah tingkah karena Mingyu yang sedang menyender dikepala ranjang.
Ia terdiam. Mingyu dengan tatapan sayu dengan bibir yang masih pucat dan pecah-pecah itu memiliki efek tersendiri, darahnya berdesir yang membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Ia berdehem untuk menghilangkan suasana hening yang sangat membosankan.
"Hey, apa perlu aku telpon bibi Kim untuk datang kemari?" Tanyanya. Dan dibalas gelengan oleh Mingyu, "tidak perlu" katanya.
Wonwoo mengangguk paham, dan suasana kembali hening, "Akhir pekan aku ingin pergi ke Changwon untuk menemui orangtua ku, dan sepertinya aku akan mengabari orang tuamu tentang ini agar mereka menjengukmu".
Mingyu tersenyum menanggapi.
"Aku ingin ikut denganmu" Kata Mingyu. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, sungguh itu membuat mual. Wonwoo ingin sekali melempar orang itu ke samudra atlantik.
Ia menggeleng, "Tidak, kau masih sakit". Wonwoo sudah cukup khawatir ketika wajah itu penuh dengan lebam serta tangan kanan yang terbalut kain perban putih itu. Ketika melihatnya, membuat dirinya itu merinding, pasti sakit sekali. Namun, ia ingin menoyor kepala Mingyu yang tengah berbaring karena meskipun sakit, kadar menggombalnya itu tidak berkurang sama sekali. Ia hanya berharap wajah khawatirnya ini tidak terlalu kentara.
"Tapi aku tetap ingin ikut denganmu" pinta Mingyu lagi.
Sorot matanya itu terlihat sangat ingin sekali, kali ini dengan kedua tangan yang digosok-gosok dengan lucu. Wonwoo memalingkan wajahnya kesamping menghindari tatapan memohon itu, sekarang ia merasa gemas sekali untuk tidak mencubit pipi Mingyu. Jarang sekali Mingyu juga bertingkah seperti itu, ya meski seingat Wonwoo sih mantan kekasihnya –sedang masa pendekatan lagi sekarang- sering sekali manja kepadanya. Mungkin karena umur yang lebih muda?
Mingyu itu sebenarnya lebih muda satu tahun dari Wonwoo, makanya ia memanggil Wonwoo sebagai hyung, yah dipaksa juga, seorang yang keras kepala seperti Mingyu akan menolak pasti tapi dengan jurus yang ampuh –yang jarang Wonwoo lakukan juga-. Bukan alasan yang mutu soal Mingyu yang bisa sekelas dengan Wonwoo.
"Kalau kau tidak mengijinkan, aku akan menyusulmu-"
Kalimat Mingyu itu membuat Wonwoo menolehkan kepalanya dan menatap iris hitam sedikit kecoklatan Mingyu dengan tajam. Raut wajah sengit kembali ia tampilkan. Ia tidak bisa berkata lagi –karena Mingyu itu sama sekali tidak pernah menarik kata yang ia ucapkan, meski ucapan yang menurut orang awam itu terdengar gila, tapi seorang Kim Mingyu akan tetap nekat.
Wonwoo hanya bisa berharap, –semoga Mingyu kali ini tidak berlaku nekat.
.
.
TBC or END/?
Maaf untuk keterlambatan update. Ada masalah sedikit yang mengganggu. Dan aku mau ngabarin kalo ini bakalan selesai 2 chap lagi, atau mungkin chapter depan selesai dan ku kasih sebuah bonus (side story Mingyu) tapi jangan berharap dulu wkwk. Dan aku kali ini tidak bisa membalas review, aku pengen nge-feedback sedikit tapi sekarang belum bisa TT
Terima kasih sudah menyukai ini, see ya!
Special thanks for;
DevilPrince; itsathenazi; tfiy; Arlequeen Kim; hamipark76; meanie4lyfe; monwii jeonwii; kimxjeon; Zahra427; KimAnita; btobae; zahra9697; Karuhi Hatsune; wonumon; Whirlwinds Meanie; Kkamjongmin; Iceu Doger; MingyuAin; hoshilhouette; 17MissCarat; aestas7; chikincola; equuleusblack; NichanJung (makasih masukannya kak :*); Guesteu; kookies; Rie Cloudsomnia; Mrs. EvilGameGyu (terima kasih sudah mengingatkan); 11234dong; Neulra (hai siders tersayang); Beanienim (ih kapel :3); sailing2000; all favourite; all followers.
Dan teruntuk para siders, dapat salam hangat dariku^^
Sragen, 11 Agustus 2016
