"Rose" panggil Al cepat, saat melihat Rose di depannya.
"kau mau kemana?" Tanya Al. saat melihat langkah Rose yang melewati lorong aula besar, padahal sudah waktunya makan malam.
"perpustakaan" jawab Rose, tanpa menghentikan langkahnya.
"demi janggut merlin, kau ingin membaca lagi? Ya setidaknya kau pikirkan perutmu dulu"
"iya iya sepupu cerewet, aku hanya ingin membawa bukuku yang tertinggal disana"
"hanya itu?"
"ya"
"baiklah, aku antar"
"tidak perlu" ucap Rose cepat. "kau makanlah duluan, dengan begitu kau bisa menyisakan puding coklat kesukaanku"
"baiklah" ucap Al. lalu berbalik meninggalkan Rose yang segera melanjutkan langkahnya.
Langkah kakinya terasa menggema di tengah lorong, yang sudah sepi. Karna semua murid, mungkin sudah berada di aula besar.
Rose terus berjalan santai, tak merasa takut sedikitpun. Sampai langkahnya terhenti, dan kedua kakinya terasa terhalang oleh sesuatu. Sehingga ia tak bisa melangkah kedepan.
"ada apa ini?" tanyanya sendiri, lalu menatap sekeliling dan melihat ke atas.
"sial" pekiknya kesal. Saat ia melihat misstletoe, tanaman yang akan menjerat siapapun yang ada di dekatnya dan akan melilit tubuh. Tapi itu tidak akan terjadi, jika berciuman dan tanaman itu akan menghilang dengan sendirinya.
Rose menghela nafas berat, sudah banyak mantra yang ia layangkan pada tanaman itu. Namun hasilnya nihil, malah tanaman itu kini sudah menjalar hampir menyentuh kepalanya.
"oh tidak" pekiknya panik. Lalu kepanikannya bertambah, saat ia mendengar derap langkah dari ujung kolidor menghampirinya.
Ia menutup mata, ia benar-benar malu dalam keadaan ini. Namun jika ia tetap diam, tanpa melakukan apapun. Itu akan membuatnya di permalukan, saat semua murid keluar darI aula. Maka ia bertekat, ia akan memohon pada seseorang yang sedang berjalan itu, untuk mengeluarkannya dari jeratan tanaman itu, meskipun harus berciuman.
"tolong aku" ucapnya cepat, masih memejamkan kedua matanya. Ia bisa merasakan derap langkah itu berhenti di depannya.
Lalu ia mendengar seseorang itu, berdecak keras.
"kau meminta tolong padaku Weasley" ucap seseorang itu dingin. Rose mengetahui siapa pemilik suara itu, dan itu membuat jantungnya berpacu begitu cepat.
"ah kau terjebak tanaman itu" ucap seseorang itu, sambil terkekeh mengejek.
Rose tetap memejamkan kedua matanya erat, ia berharap semua ini tak pernah terjadi padanya. Namun pada kenyataannya..
"bagaimana jika aku menyeret, si gendut jelek yang di Hufflepuff itu. Lalu kalian berciuman dan di saksikan semua murid dan aku akan memfotonya. Wah pasti foto itu akan laku terjual"
"foto dimana gadis dingin dan sombong sepertimu, berciuman dengan si jelek" ucap seseorang itu. Lalu seseorang itu mulai berjalan kembali. Membuat Rose panik, dan membuka kedua matanya.
"ja-jangan lakukan itu" ucap Rose keras. Namun seseorang itu terus saja berjalan.
"'a-aku mohon. Jangan lakukan itu M-Malfoy" ucap Rose lebih keras. Membuat langkah Scorpius berhenti, berbalik dan mendekati Rose.
"lalu kau mau aku, yang menciummu?" Tanya Scorpius, semakin melangkah kedepan.
"ti-tidak err maksudku-" Rose berhenti berbicara, saat Scorpius sudah berada di depannya dan sudah terperangkap dengannya.
"k-kau" pekiknya kaget, lalu mundur dan menabrak dinding koridor. Scorpius melangkah dan memenjara tubuh Rose, dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisi tubuh Rose.
"aku memberimu pilihan" bisik Scorpius. "pertama kita berciuman disaat tak ada seorang pun melihat, atau berciuman disaat semua murid sudah selesai makan malam dan melihat kita berciuman"
Rose memejamkan kedua matanya kuat, ia berusaha mengumpulkan kekuatannya. Agar terlihat kuat di mata Scorpius.
Rose berdecih keras. "kau memang tak pernah berubah, masih konyol dan kekanakan"
Scorpius mendengus pelan, "kau saja yang terlalu sibuk dengan, buku-buku tebalmu. Sehingga kau tak tau apa yang terjadi di sekitarmu"
"yeah terserah kau mau bicara apa. Sekarang bisakah kita menyingkirkan tanaman sialan itu" ucap Rose, memberanikan diri menatap Scorpius, yang sudah lebih dulu menatapnya.
Lama mereka saling bertatapan, seperti akan menyelami apa yang sebenarnya mereka rasakan pada satu sama lain.
"kau masih tidak menyukaiku?" Tanya Scorpius, pada akhirnya memecahkan keheningan.
"te-tentu saja" jawab Rose, sedikit tergagap karna kegugupannya.
"padahal sudah tahun ajaran ketujuh, dan kita sudah lebih dewasa dengan berumur tujuh belas tahun."
"Aku pikir saat kau bicara begitu, karna saat itu kau masih kecil. Tetapi aku salah, kau ternyata benar-benar tak menyukaiku. Bahkan hanya untuk sekedar ber-"
Scorpius menghentikan ucapannya, saat Rose menarik tengkuknya dan menciumnya. Beberapa saat Scorpius terdiam, lalu saat merasakan Rose akan melepasnya. Ia segera menarik tengkuk Rose, dan membalas ciuman Rose dengan lembut.
"ssh" desah Rose, saat Scorpius menggigit bibirnya dan membuatnya membuka mulut. Sehingga Scorpius bisa menciumnya lebih dalam.
Lama mereka terhanyut dalam ciuman dalam itu. Sampai beberapa saat kemudian, mereka saling melepaskan.
Rose memejamkan kedua matanya, saat merasakan hembusan nafas Scorpius yang menggelitik kulit wajahnya. Lalu ia merasakan Scorpius menciumnya lagi, ciuman yang lebih lembut.
Membuat Rose merasakan, seolah Scorpius ingin mengingat setiap kecupan ciumannya. Lalu beberapa saat kemudian, ia merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, bersamaan dengan rasa sakit yang kembali menjalar di seluruh tubuhnya.
Scorpius yang merasakan tubuh Rose menegang, segera melepaskan ciuman mereka dan terkejut. Saat melihat aliran darah keluar dari hidung Rose.
"Rose, kau berdarah" pekiknya sembari berusaha, menghapus aliran darah itu. Namun segera Rose tepis. Lalu tanpa banyak kata, Rose segera berbalik dan berjalan menuju asrama.
Namun baru beberapa langkah, pandangannya semakin mengabur dan menggelap. Ia hanya mendengar sayup-sayup suara Scorpius yang memanggilnya. Lalu detik berikutnya pandangannya semakin menggelap.
~Pure Love~
.
"bagaimana keadaannya?" Tanya Scorpius. Saat Madam Malkins selesai dengan pemeriksaannya.
"lebih baik kau kembali ke asramamu" ucap Madam Malkins tanpa, menjawab pertanyaannya.
"tidak" ucap Scorpius cepat. "aku ingin tahu, bagaimana keadaanya" lanjutnya bersikukuh.
"dia baik-baik saja" jawab madam Malkins.
"sebenarnya dia sakit apa? Mengapa dia selalu jatuh pingsan?" Tanya Scorpius memberanikan diri. Pertanyaan yang sudah ia pendam hampir tujuh tahun ini.
"aku tidak berhak memberitahumu" ucap madam Malkins. Lalu memandang Scorpius prihatin. "Rose yang lebih berhak memberitahumu" lanjutnya, lalu keluar.
Scorpius menghela nafas berat, lalu memandang Rose yang masih tak sadarkan diri. "Rose" lirihnya sambil mengecup, kedua belah tangan Rose.
"apa yang sebenarnya, terjadi padamu?" tanyanya pada keheningan.
~Pure Love~
.
Rose menghela nafas perlahan, lalu memulai gerakan-gerakan untuk merilekskan tubuhnya yang terasa kaku. Namun ia merasa sudah jauh lebih baik, maka dari itu ia akan masuk kelas kedua hari ini.
"kau mau kemana?" Tanya madam Malkins. Saat melihat Rose akan keluar dari Hospital Wing.
"kembali ke Asrama, lalu masuk kelas keduaku hari ini" jawab Rose, sambil tersenyum cemerlang.
"wah wah, melihat kau tersenyum seperti itu. Kau pasti sudah jauh lebih baik" ucap madam Malkins, namun tetap memeriksa Rose yang segera cemerut.
"kau tidak percaya padaku?"
"tentu saja tidak, karna kau pandai berbohong" ucap madam Malkins, membuat Rose berdecak keras.
"tapi kau boleh keluar dari sini, asal kau minum ini dulu dan minum obatmu secara teratur. Mengerti?"
"baik-baik" ucap Rose. Segera meminum ramuan yang di berikan madam Malkins, lalu keluar dari Hospital Wing.
"ah senangnya" pekik Rose, tampak girang sekali. Lalu saat melihat, banyak murid berlalu lalang. Ia segera menampilkan sikap Sok nya. Berjalan dengan mengangkat tinggi-tinggi dagunya, tanpa melihat maupun menyapa semua orang.
Jelas sekali, beberapa murid yang sangat tidak menyukainya tampak berdecih keras saat melihatnya. Lebih parah lagi, ada yang mendelik. Itu adalah orang-orang yang pernah, mendengar kalimat pedasnya. Yeah Rose memaklumi itu, karna itulah yang dia inginkan.
Ia tak mau mempunyai teman satu pun. Cukup keluarganya saja dalam hidupnya, hanya keluarganya.
Sampai saat ia berjalan, di tangga pualam. Ia kehilangan fokus, karna memikirkan hal apa yang terjadi semalam bersama Scorpius.
Ciuman itu
Dan
Brughhh
"akh" pekik Rose kesakitan, saat ia menyandung tangga lain, dan membuat kakinya keseleo.
Ia mendengar orang-orang di dekatnya cekikikan, bahkan yang melewatinya. Untuk sesaat ia merasa sedih, dan sengsara karna tak ada satu pun yang membantunya.
Tapi tak apa, ia memakluminya. Ia memang pantas, di perlakukan seperti itu atas semua sikap sok nya selama ini.
"wahh tontonan, yang sangat menarik sekali" ucap Scorpius, tiba-tiba sudah berada di depan Rose yang segera menengadah untuk melihatnya.
"pasti sakit sekali ya, sampai kau tak bisa berdiri lagi" ejek Scorpius, menatap Rose prihatin.
Rose bungkam, mendadak ia tak bisa membalas semua ejekan Scorpius. Karna kilasan ciuman mereka kemarin, terus saja bergentayangan bagai kaset rusak.
"ohh pasti sakit sekali ya, sampai mulut pedasmu itu terkunci hm" ucap Scorpius, sambil berjongkok untuk mensejajarkan wajah mereka.
"u-urus saja urusanmu sendiri, jangan pedulikan aku" desis Rose tajam. Setelah berhasil mengenyahkan kilasan itu.
"sayangnya aku mau peduli, aku ingin kau sembuh" ucap Scorpius, membuat tubuh Rose menegang akibat kalimat terakhir yang Scorpius lontarkan.
"sepertinya berendam di danau siang hari, bisa membuat kakimu lebih baik" lanjut Scorpius keras, membuat orang-orang yang sengaja mendengar mereka. Tampak bersorak ria, terutama Ilona yang memang sangat tidak menyukai Rose.
Lalu beberapa detik kemudian, Scorpius menggendong tubuh Rose ala bridal style. Membuat Rose terperanggah, lalu berusaha lepas dari Scorpius.
"Lepas! Aku tidak mau Malfoy! Aku tidak mau!" teriak Rose keras, mengundang banyak tawa. Lalu tanpa banyak kata, Scorpius hanya tersenyum dan berjalan keluar kastil.
~Pure Love~
.
"kau benar-benar akan melempar aku ke danau" teriak Rose. Saat mereka sudah di tepi danau.
"tentu saja" jawab Scorpius santai. Membuat Rose menatap berkeliling, mencari keberadaan Al, Hugo dan lily yang mungkin saja berada di sekitaraan sini. Namun hasilnya nihil, karna beberapa saat yang lalu bel pemberitahuan, kelas akan di mulai sudah berbunyi. Jadi tinggalah hanya mereka berdua, yang berada disana.
"Malfoy, aku peringatkan kau sekali lagi. Aku akan membunuhmu jika kau menceburkanku ke danau" desis Rose tajam.
Scorpius terkekeh pelan, "kau benar-benar mengira, aku akan melemparmu ke danau?"
"te-tentu saja. kau kan anak mantan pe-"
"aku ingin memeperlihatkan, sesuatu padamu" ucap Scorpius cepat, memotong kalimat Rose. Kalimat hinaan yang bisa saja, membuat emosinya kembali hadir ke Scorpius tak mau itu terjadi, karna itu bisa membuat Rose semakin jauh darinya.
"kenapa menatapku seperti itu?" Teriak Rose keras. Membuat Scorpius berdecak keras.
"kau bisa tidak diam, dan berhenti berteriak keras dengan suara melengking itu"
"tidak" teriak Rose lagi. "dan suarku tidak melengking" lanjut Rose.
Scorpius tertawa kecil, saat melihat wajah Rose yang cemerut. Membuat Rose terdiam, dan menatap lekat wajah Scorpius yang tengah tertawa. Karna pemandangan itu, selalu membuatnya merasa bahagia.
"kau terpesona"
"ti-tidak"
"mengaku saja, tadi kau melihatku seperti melihat sesuatu hal yang indah. Bahkan seperti ingin menciumku seperti semalam" ucap Scorpius, menggoda Rose yang wajahnya kini sudah merah. Seperti kepiting rebus.
"aku bilang tidak, ya tidak!" ucap Rose keras, sambil memalingkan wajahnya yang semakin memanas. Membuat Scorpius tersenyum lebar, lalu memalingkan wajah juga. Karena jika ia terlalu lama menatap Rose yang sedang manis-manisnya itu, bisa saja ia hilang kendali.
Beberapa saat kemudian, Scorpius segera memanggil sapu terbangnya. Yang segera meluncur terbang keluar dari kastil, dan menghampirinya.
Lalu tanpa banyak kata, Scorpius segera menduduki Rose di sapunya dan ia pun duduk di belakang Rose. Lalu menyuruh sapunya untuk terbang menuju halaman belakang kastil, dan mengabaikan protesan serta berbagai umpatan Rose untuknya.
"kau gila" teriak Rose keras, diantar deru angin yang berhembus keras saat sapunya melaju cepat. Lalu spontan ia memeluk Rose, untuk menjaga gadis itu agar tidak terjatuh. Karna Rose tak terbiasa menaiki sapu terbang. Membuat Rose menegang, dengan jantung yang kini berdebar keras.
"jangan memelukku" teriak Rose keras, sambil berusaha melepas pelukan Scorpius yang malah semakin mengerat.
"hei! Hei! Diam! Kau bisa jatuh" ucap Scorpius keras.
"aku tidak peduli! Aku tidak mau peduli! Aku tidak mau kau memelukku" teriak Rose, membuat Scorpius menatap pucuk kepala Rose sendu.
"kau bisa jatuh"
"aku bilang, aku tidak peduli. Cepat lepaskan aku!"
Scorpius tertatawa sinis, "sebegitu jijiknya kau padaku, sampai kau tak mau aku sentuh"
"tentu saja aku jijik, karna aku tak sudi di sentuh seorang anak mantan pela-"
"baik-baik" ucap Scorpius keras, memotong kalimat mengerikan Rose. Bersamaan dengan itu Rose berteriak histeris, saat tubuhnya tiba-tiba oleng dan hampir jatuh. Saat Scorpius melepas pelukannya.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau jatuh! Mom aku akan jatuh! Mom tolong aku! Mom!" oceh Rose tak karuan, sambil memejamkan mata. Membuat Scorpius yang melihat tingkah konyol Rose, terkekeh pelan lalu memeluk lagi Rose yang segera bungkam.
"nah beginikan lebih bagus, dan aman untukmu" bisik Scorpius, membuat Rose geli dan wajahnya yang memanas lagi.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua saling bukam. Hanya deru angin yang terdengar. Mereka saling memejamkan kedua mata, meresapi kehangatan yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Rose merasa nyaman sekali dalam posisi itu, ia begitu merasa di lindungi. Perlahan ia membuka mata dan melihat pemandangan indah dibawah sana, pemandangan hamparan berbagai macam bunga-bunga yang ada di belakang kastil.
"indah sekali" pekik Rose, tampak sekali gadis itu begitu senang melihat pemandangan itu. Membuat Scorpius tersenyum, lalu menyelipkan beberapa helai rambut Rose ke belakang telinga gadis itu. Membuat Rose terperanjat, dan menatap Scorpius yang sudah lebih dulu menatapnya.
"Rose"
"hm"
"Aku mencintaimu"
~TBC~
Hai Reader semua #lambai-lambai bareng Rose. Gimana makin seru atau makin gaje ? yahh aku harap reader semua menyukai ch ini hhe
Maaf typo bertebaran dan sedikit banyak ooc hhe
Sampai jumpa di next chapter
