"Aku mencintaimu"

"a-apa?"

"Aku mencintaimu" ulang Scorpius, membuat kedua mata Rose semakin membulat kaget. Untuk beberapa saat ia merasakan kehagatan luar biasa, dalam hatinya. Sampai mampu membuatnya tersenyum cemerlang. Namun ia tak bisa melakukan itu, saat sadar akan keadaannya.

"omong kosong" ucap Rose, sambil mendengus jijik.

"aku benar-benar mencintaimu Rose" ucap Scorpius penuh kesungguhan dan ketulusan, hal itu sangat terpancar dari sorot mata abu-abunya. Kedua mata yang dimiliki seseorang, yang sangat Rose cintai.

Rose memalingkan wajah, menatap objek lain. Karna jika ia terus menatap Scorpius, bisa saja ia akan goyah dan mengatakan kalau ia pun sangat mencintainya.

Lalu ia merasakan, Scorpius menggenggam kedua belah tangannya. Membungkusnya dengan lembut yang menghangatkan hatinya.

"aku mencintaimu sejak pertama kali, kita bertemu di hutan saat itu Rose"

"tak peduli kau membenciku, dengan alasan aku anak mantan pelahap maut-" Scorpius menghela nafas, untuk mengusir rasa sesaknya. "aku tetap mencintaimu, tak peduli kau menghinaku dan mengacuhkanku aku tetap mencintaimu"

Rose menengadah, untuk menghalau air matanya yang terus mendesak ingin keluar, karna semua untaian kalimat Scorpius. Serantaian kalimat yang membuatnya bahagia dan terluka dalam bersamaan.

Bahagia, karna mereka saling mencintai.

Terluka karna mereka, tak mungkin saling memiliki.

Lalu mereka saling diam, tanpa mau membuka suara. Hanya semilir angin yang mereka rasakan, sampai suara gemuruh yang menandakan hujan akan turun. Membuat Scorpius segera menyuruh sapu terbangnya, kembali ke tepi danau.

Sesampainya di tepi danau, Scorpius kembali menggendong Rose ala bridal style menuju hospital wing. Bahkan dalam perjalananpun, mereka tetap saling bungkam.

Rose bersandar pada dada bidang Scorpius dengan nyaman, sambil menatap lekat wajah Scorpius. Berharap waktu berhenti, sehingga ia tetap dalam pelukan Scorpius.

'Aku mencintaimu, Scorpius. Sangat mencintaimu' bisik Rose dalam hati.

Lalu ia merasakan Scorpius berhenti melangkah, dan menatapnya sendu.

"berhenti menangis" ucapnya membuatnya tersadar, jika ia sedang menangis lalu menghapusnya dengan cepat.

"apa pernyataan cintaku itu membebanimu, sampai kau menangis seperti ini?"

".."

Scorpius menghela nafas berat, lalu kembali berjalan menuju hospital wing dengan langkah lebih lebar.

Sampai tiba di hospital wing, ia segera menduduki Rose di atas ranjang. Tanpa banyak kata lagi, lelaki itu segera beranjak pergi dari Rose yang masih bungkam.

Bersamaan saat Scorpius sudah menghilang di balik pintu, Rose kembali menangis dan menangis. Hatinya sungguh sesak. Tak peduli pada Madam Malkins, yang sudah di depannya. Siap menyembuhkan kakinya.

"seandainya aku tidak, mempunyai kutukan ini" ucapnya dalam isak tangisnya, yang memilukan. Saat kilasan memory itu kembali memenuhi pikirannya. "mungkin aku akan bersamamu, Scorpius" sambungnya sambil memukul dadanya, berharap rasa sesak itu menghilang.

~Pure Love~

.

Flashback

Rose masih ingat, hari itu tepat dua bulan lagi ia akan pergi ke Hogwarts. Membuat beberapa hari sebelumnya, ia dan Hermione pergi berbelanja di Diaggon Aley. Hari itu pun mereka habiskan berbenja lagi di Diaggon Aley, untuk memenuhi keperluannya nanti di Hogwarts.

Mereka pulang saat waktu makan malam, dan sesaat sampai di rumah. Mereka terkejut saat melihat, Hugo dan Ron terkapar di lantai.

Ia masih ingat, Hermione segera berlari menghampiri Hugo dan Ron. Untuk mengecek keadaan mereka. Sedangkan Rose sendiri masih terpaku di tempat, sampai ia melihat seorang wanita berajalan keluar dari ruang santai, tanpa sepengetahuan Hermione yang membelakanginya.

"Mom" jeritnya saat wanita itu, mengacungkan tongkatnya pada Hermione. Lalu tanpa banyak berpikir, Rose segera berlari dan menjadi tameng Hermione. Sampai mantra kutukan yang wanita itu tujukan untuk Hermione, malah tertuju kepadanya.

Sampai detik berikutnya, ia mendengar jeritan Hermione dan rasa sakit yang tak terkira di seluruh tubuhnya. Sampai semua menggelap.

.

.

Lalu saat ia membuka mata. Ia sudah berada di ruangan, yang sudah ia yakini tengah berada di St. Mungo.

Ia menatap sekeliling ruangan yang kosong, sampai ia mendengar suara orang tuanya yang tengah berbincang dengan seorang wanita. Membuatnya perlahan bangkit, dan berjalan menghampiri mereka.

Rose baru menyadari, jika ruangan yang ia tempati sangatlah luas. Sampai menyediakan ruang tamu, yang sekarang di isi oleh kedua orang tuanya, bersama seorang wanita paruh baya, yang ia yakini seorang Penyembuh.

"tidak mungkin" lirih Hermione serak. Air mata kini kembali memenuhi wajah cantiknya.

"tidak mungkin" ulang Hermione, diantar isak tangisnya yang semakin keras. Ron juga tampak pucat saat mendengar apa yang Penyembuh itu sampaikan, tentang keadan Rose pada mereka.

"apa tidak ada cara lain, untuk menyembuhkan Rose?" Tanya Ron, pada Penyembuh yang menatapnya prihatin.

"kutukan itu sangat langka, tak ada obat untuk menyembuhkannya. Mantra itu adalah mantra kutukan, yang membuat korban mati secara perlahan" jelas Penyembuh sekali lagi.

"Rose Weasley hanya akan bertahan, sampai usianya kurang lebih, delapan belas tahun"

"a-apa" lirih Rose mengagetkan mereka.

"Rose!"

"a-aku tidak mau mati! Aku tidak mau Mom, Dad" lirihnya dalam isakan. Lalu semuanya kembali menggelap, saat rasa sakit itu kembali menusuk setiap sendi tubuhnya.

Flashback End

~Pure Love~

.

beberapa hari berlalu, sejak hari dimana ia menyatakan cintanya pada Rose. Yang bahkan di tolak mentah-mentah oleh Rose. Membuatnya patah hati, dan tak bersemangat akhir-akhir ini.

Bahkan saat ia latihan Quidditch pun, tak membuat ia senang walau hanya sesaat. Mungkin benar, harus ia akui jika ia memang cinta mati pada Rose.

"Scorpius awas" teriak Ken, yang terasa jauh dari pendengarannya. Karna ia sedang melamun, memikirkan Rose yang saat sarapan tadi, tiba-tiba saja jatuh pingsan lagi.

Rose jatuh pingsan, memang sudah hal biasa bagi semua murid Hogwarts. Kecuali dirinya, ia selalu mengkhawatirkan Rose.

"dasar idiot!" teriak Ken, saat bludger benar-benar mengenai kepala Scorpius. Yang membuat lelaki itu limbung, dan jatuh pingsan.

Ken mau tak mau segera membawa Scorpius, menuju Hospital Wing dengan menyulap tandu.

Sesampainya disana, Scorpius segera di tangani oleh Madam Malkins yang memberitahunya. Jika Scorpius baik-baik saja, hanya mendapatkan benjolan kecil dan boleh keluar besok pagi.

Lalu ia mendengar suara Al dan Rose, yang sedang berbincang. Membuatnya sadar, jika penghuni ranjang di sebelah Scorpius adalah Rose weasley. Membuat Ken tersenyum senang, karna ia yakin hal ini pasti membuat Scorpius senang.

"aku akan kembali lagi, setelah makan malam" ucap Al, tanpa Rose jawab. Ken yakin jika sebelum mereka datang, Al dan Rose terlibat dalam perdebatan. Sampai tak menyadari keberadaan mereka.

~Pure Love~

.

Perlahan Scorpius membuka mata, lalu ia menyadari jika sekarang ia tengah berada di hospital wing. Bersamaan itu ia mendengar bel berdering dua kali, menandakan waktu makan malam selesai.

Membuatnya segera beranjak, namun rasa pusing menderanya. Membuatnya kembali berbaring, dengan merutuk dalam hati. Karna melewati makan malam.

Lalu ia mendengar, seseorang sedang menangis pilu di sebelahnya. Membuatnya terkejut, dan memandang kesamping.

Ia terdiam, ia sangat mengenal suara itu. Lalu dengan perlahan dan hati-hati, ia buka tirai yang menghalangi ranjang di antara mereka berdua.

Ia bisa melihat, Rose sedang menangis memunggunginya. Semakin lama, isak tangis itu semakin pilu, dan menyayat hatinya.

Scorpius ingin beranjak, dan memeluk Rose. Namun niat itu ia urungkan, saat mendengar derap langkah mendekati mereka. Lebih tepatnya mendekati Rose.

"berhenti menangis" ucap Al, setiba di dekat ranjang Rose. Tanpa menyadari Scorpius, tengah berbaring di samping ranjang Rose.

"pergilah" ucap Rose bergetar.

"apa dengan menangis, membuatmu sembuh? Tentu saja tidak Rose, kau harusnya-"

"DIAM!" potong Rose keras.

"kau selalu berbicara, seolah kau mengerti apa yang terbaik untukku Al. namun pada kenyataannya, kau tidak mengerti! Kau tidak mengerti!" ucap Rose, dalam isakannya.

"kau tidak mengerti" lirihnya.

"kau tidak mengerti, bagaimana sakitnya aku merasakan kutukan ini bertahun-tahun lamanya"

"kau tidak mengerti, bagaimana perasaanku saat ingin hidup lama, mempunyai banyak teman-" Rose tersedak oleh isak tangisnya.

"dan bersama Scorpius" lanjutnya perih.

"karna kutukan ini, aku tak bisa memiliki teman dan Scorpius" ucap Rose, saat tenggelam dalam isakan yang lebih memilukan. Menyayat hati Al maupun Scorpius.

Al duduk di hadapan Rose, dan menggenggam tangan Rose lembut. "kau hanya mempersulit diri" ucapnya membuat Rose memandangnya, lalu melepas genggaman Al.

"kalau kau ingin memiliki teman dan Malfoy, kau hanya perlu melepas topengmu Rose. Kembalilah bersikap layaknya kau"

"kau lupa? Aku akan mati saat menginjak umur, kurang lebih delapan belas tahun"

"aku ingat. Lalu kenapa dengan kau akan mati? Semua orang pasti akan mati Rose"

"kau tidak mengerti!"

"apa yang tidak aku mengerti? Katakan!"

"kau tidak mengerti, perasan mereka nanti"

"jika hal itu terjadi, kepergianku akan membuat mereka terluka. Aku tak mau itu Al! aku tak mau, terutama Scorpius" lirih Rose.

Al menghela nafas berat, sungguh menghadapi Rose yang keras kepala. Selalu membuat kepalnya pening seketika.

"baiklah, terserahlah lakukan semaumu" ucap Al lalu bangkit berdiri, dan beranjak pergi. Namun ia kembali lagi.

"dengar Rose! Aku hanya akan berbicara ini untuk terakhir kalinya. Jika kau terus begini, kau akan mati dalam ketidak bahagiaan-" Al menghela nafas, mengusir rasa sesak di dadanya.

"dan aku tidak mau itu. Setidaknya ketika saat itu tiba, kau sudah merasakan banyak kebahagiaan" lanjut Al, lalu tanpa menunggu jawaban Rose. Lelaki itu segera pergi, meninggalkan Rose yang masih terisak pelan.

Sementara Scorpius yang sedari tadi mendengarkan, tampak menghela nafas perih. Hatinya terasa sesak, sampai sulit membuatnya bernafas.

Dalam helaan nafasnya, bagai duri yang menancap di hatinya. Membuatnya menggerang sakit, dan menjatuhkan air matanya.

Duri itu adalah kenyataan, yang menampar keras dirinya.

Perlahan Scorpius bangkit, dan kembali menyibak tirai itu lebih keras. Membuat Rose kaget dan berbalik menghadapnya. Membuat kedua mata mereka bertemu.

"Potter benar" ucapnya serak.

"setidaknya beri kesempatan untukmu, merasakan kebahagian memiliki teman dan aku"

~TBC~

Hai reader semua #lambai-lambai bareng Scorpius. Gimana ch ini ? makin suka atau makin ogah baca ini ff ?

Ch ini udah keungkapkan, kenapa Rose bersikap seperti itu pada Scorpius maupun orang-orang.

RnR please

Sampai jumpa di next chapter