WE CAN

by OX Wind

Main Cast : Chanyeol, Baekhyun

Support Cast : Kyungsoo, Sehun, Jongin, and others

Genre : School life, Romance, Friendship

Rated : T

Disclaimer : All chara isn't mine, but the story is pure mine.

.

.

Don't Like, Don't Read.

.

.

.

.

Enjoy~

.

.

.

.

Pelajaran sejarah adalah yang paling membosankan. Lebih parah daripada pelajaran matematika yang diharuskan untuk memahami rumus-rumus aneh dalam menyelesaikan soal-soal rumit. Semua kalimat panjang lebar yang keluar dari mulut guru wanita itu seolah mengambang, terombang-ambing di udara sebelum masuk ke telinga seorang lelaki tinggi yang sedang menopang dagunya sambil menatap ke luar jendela kelasnya. Atensinya ditujukan sebentar pada si guru yang masih sibuk dalam dunianya sendiri, kemudian beralih menatap sekeliling kelas. Ada beberapa siswa yang mulai menguap, namun masih berusaha fokus mendengarkan. Sedangkan yang lain? Tidak usah ditanya lagi. Mereka sudah menegakkan buku bacaan mereka di atas meja, berusaha menutupi wajah mereka dan mulai tidur.

Kembali pada si guru, tetap mengoceh terus menerus dengan pandangan lurus menatap ke arah buku sejarah mereka yang tebalnya -uh, hampir setara dengan sebuah ensiklopedia. Melihatnya saja sudah membuat orang-orang ingin muntah. Semakin banyak kalimat yang dikeluarkan oleh si guru dalam penjelasannya, semakin besar pula rasa kantuk yang berusaha ditahannya. Suara cempreng itu lebih terdengar seperti sedang memberi lantunan lagu tidur di telinganya. Memutar bola matanya jengah, Chanyeol memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya yang lain. Dengan kedua tangan terlipat di atas meja, dia mulai merebahkan kepalanya.

Tok Tok.

Suara pintu kelas XII-2 yang diketuk dari luar menghentikan ocehan Nam seonsaengnim tentang benda-benda bersejarah. Dia meletakkan bukunya di meja dan berseru, "Masuk." Yang disusul dengan kepala seseorang yang menyembul dari balik pintu. "Maaf, apa benar ini kelas XII-2 seonsaengnim?"

"Ya." Kening si guru berkerut sebentar ketika dia mulai memasuki kelas itu, namun setelahnya mengangguk paham. "Kau murid pindahan itu? Apa saja yang kau lakukan sehingga baru datang sekarang, hm?"

Mengabaikan tatapan mengintimidasi yang diberikan dan pandangan kagum dari beberapa siswi, dengan santai dia menjawab, "Aku terlambat karena harus ke ruang kepala sekolah, omong-omong." Setengah berbohong. Dia bahkan menghabiskan waktu setengah jam untuk bermalas-malasan di taman tadi.

"Perhatikan cara bicaramu. Dan juga lakukan perkenalan diri." Ujar guru itu malas.

Lelaki berkulit tan itu langsung menurut dan berdiri di tengah kelas. "Hai semua, aku Kim Jongin. Kuharap kita semua bisa berteman baik." Diiringi senyum andalannya, membuat beberapa siswi memekik gemas sedangkan para siswa hanya menghela napas malas.

"Ada satu lagi pangeran di kelas kita sekarang."

"Kulitnya sangat sexy~"

"Dia sudah punya pacar belum ya?"

"Uh, tampan sekali~"

Jengah harus mendengar bisik-bisik yang diucapkan dengan cukup keras itu, Nam seonsaengnim akhirnya berniat menyuruh si murid baru untuk langsung duduk saja. "Kau duduklah di kursi kosong yang ada di depan— astaga Park Chanyeol!"

Seruan yang cukup keras itu, nyatanya berhasil membuat Chanyeol tersentak dan buru-buru mengangkat wajahnya. Menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengumpulkan setengah nyawa yang masih melayang-layang. "Ya, seonsaengnim?"

Di depan kelas, Jongin yang masih berdiri terdiam dengan ekspresi bodohnya setelah melihat Chanyeol. 'Kebetulan macam apa ini?' batinnya. Sementara itu, Chanyeol dengan seluruh kesadarannya yang baru saja kembali sempat terbengong-bengong sebentar saat bertatapan dengan Jongin yang nyaris memekik.

"Woah, Chanyeol!"

"Jongin?" Suaranya terdengar ragu. Yang ditanya langsung berlari dan pelukan pun tak dapat dihindari lagi. Mereka berputar-putar dan sesekali melompat kecil dengan Chanyeol yang sudah bangkit dari tempat duduknya. Melupakan seluruh penghuni kelas yang hampir menjatuhkan rahangnya dan Nam seonsaengnim yang hanya bisa mengelus dadanya, berusaha untuk sabar menghadapi kelakuan dua siswanya itu.

.

.

.

.

.

.

.

"Kurasa aku akan memilih piano saja." Baekhyun membuat keputusan akhir.

"Kenapa? Bukannya kau bilang ingin belajar gitar?" sahut Kyungsoo heran, pasalnya sebelum memulai kelas seni temannya itu menggebu-gebu mengatakan kalau dia sangat ingin belajar gitar. "Cowok yang bisa main gitar itu keren." begitu katanya. Kyungsoo menampik pernyataan itu dengan keras. "Teman di SMP ku dulu pandai main gitar, tapi dia suka mengupil sembarangan. Dan menurutmu dia itu keren, begitu? Iuh sekali Baek." Pada saat itu Baekhyun hanya bisa menunjukkan mimik jijiknya.

Kembali ketika kelas mereka memasuki ruang musik, Baekhyun langsung berlari menuju grand piano. Sementara beberapa teman mereka masih sibuk memilih alat musik yang akan mereka pelajari. Termasuk Jongdae— sebenarnya anak itu lebih banyak membuang waktunya untuk menatap ke lapangan di bawah dari jendela dan sesekali tersenyum lebar seperti orang idiot sambil melambaikan tangannya.

"Tidak jadi saja. Aku kan tidak bisa main gitar sama sekali. Kudengar main gitar sepertinya cukup sulit, nanti kalau jari-jariku terluka bagaimana? Kulit tanganku jadi tidak lembut lagi bagaimana? Kau mau tanggung jawab?" Baekhyun berujar sambil memainkan jari-jarinya dan bibir yang mengerucut mencoba dramatis.

What the—

Rasanya Kyungsoo ingin sekali menjambak helaian rambut cokelat itu lalu membenturkan kepala Baekhyun ke tembok terdekat. "Dengar Baek, aku tidak pernah menyuruhmu belajar gitar. Kau sendiri yang ingin dan kenapa harus aku yang tanggung jawab?!"

Sedikit tersentak Baekhyun menjawab, "Uh, ya. Hanya bercanda kok, jangan marah ya, Soo. Hehe.." Ditanggapi dengan raut datar oleh Kyungsoo.

"Oh, mana si muka tembok itu?" Pengalihan topik yang bagus. Karena Kyungsoo kini tampak mengedarkan pandangannya, sebelum menunjuk ke sudut ruangan dengan dagunya. "Itu. Sepertinya dia akan masuk dalam list siswa populer."

"Yo!" Baekhyun menoleh cepat, lalu menarik tangan Jongdae.

"Jongdae, lihat!" Serunya cukup keras. "Apa?" Jongdae menoleh malas. Menatap gerombolan kecil para siswi yang menyaksikan Sehun -si muka tembok- bermain drum. Sesekali dia akan melempar stick nya ke udara, bertingkah seperti seorang profesional.

"Keren! Woah, lihat itu!"

"Apa-apaan kau, aku bahkan bisa lebih keren darinya." Baekhyun mendelik pada Jongdae, Kyungsoo di sampingnya hanya berdehem malas.

"Kau bercanda. Keren? Cantik lebih cocok untukmu, Baek."

"Sial. Kemari kau, Kim Jongdae. Aku akan menjambak rambutmu sampai botak! Yak!" Dan mereka sempat kejar-mengejar hingga akhirnya bekerja sama untuk merusak aksi Sehun bersama-sama. Baekhyun yang merebut stick dan memukulkan asal hingga terdengar bunyi yang begitu nyaring, dan Jongdae yang bergelayut di lengan Sehun.

"Aish, yak! Kalian sedang apa? Kalian merusak— Akh! Singkirkan kepalamu!" Sehun berusaha mendorong Jongdae menjauh dan menghentikan aksi 'brutal' Baekhyun. Entah bagaimana dia bisa berteman dengan orang-orang ini, kepalanya nyaris pecah kalau mengingat kelakuan absurd mereka.

"Niat latihan atau tidak? Kalau tidak aku akan latihan sendiri saja." Suara Kyungsoo menghentikan tingkah kedua orang itu, membuat Sehun mengucap syukur secara berlebihan.

Mengedikkan bahu acuh, Baekhyun berbalik kembali menghadap ke arah pianonya.

"Ayo kita latihan!"

.

.

.

.

.

.

.

Kelas baru saja dibubarkan beberapa jam lebih cepat untuk hari ini. Lantaran semua guru termasuk kepala sekolah akan mengadakan rapat dadakan. Seolah tidak peduli dengan alasan apapun itu, semua murid bersorak senang dan bergegas merapikan buku dan alat-alat tulis mereka, bersiap pulang. Dan tidak sedikit yang berpikir untuk mampir sebentar ke cafe langganan mereka ataupun menghabiskan waktu di game center.

"Hei, Baekhyun!" Langkah si pemilik nama terhenti kala seseorang menyerukan namanya. Ketika berbalik, dia melihat seorang lelaki dengan tubuh yang cukup tinggi dan berkulit putih setengah berlari menghampirinya.

"Kyuhyun sunbae? Ada apa?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di perpustakaan lantai atas. Katanya ingin membicarakan sesuatu yang penting." Ucap Kyuhyun disertai senyum jahilnya.

"Sesuatu yang penting apa? Siapa memangnya dia sunbae?" Baekhyun berujar bingung. Seingatnya dia tidak pernah punya urusan apapun yang harus dibahas. Apalagi di sekolah.

"Temui saja, nanti kau juga akan tau." Sebelah tangan Kyuhyun menepuk pelan bahu Baekhyun dan dia mulai melangkah pelan, menjauh. "Semoga beruntung, Baek." Baekhyun berani bersumpah dia sempat melihat si sunbae itu menyeringai kecil.

Mau tidak mau sedikit perasaan tidak enak mulai merasukinya. Apa mungkin dia hanya dibohongi? Apa itu hanya akal-akalan sunbae iblis itu? Bisa jadi.

Baekhyun hendak melanjutkan langkahnya sebelum dia berbalik dan menatap tangga menuju lantai atas. Perpustakaan ada di lantai 4, itu berarti 2 lantai lagi dari sini. Menggigit bibir bawahnya ragu, akhirnya dia memutuskan untuk naik dan memastikan saja. Lagipula kalau itu tidak benar, dia bisa langsung cepat pulang, kan?

Semakin dekat dengan perpustakaan, Baekhyun semakin menggigit bibirnya cemas. Kelas-kelas sudah kosong dan lorong sangat sepi. Tidak banyak siswa-siswi yang berlalu lalang karena kebanyakan sudah pulang sejak tadi. Begitu sampai di depan pintu masuk perpustakaan, Baekhyun menghela napasnya pelan sebelum membuka pintu.

.

.

.

.

.

.

.

"Aku tidak tau fakta kalau kau tidak berubah dari dulu."

"Kau bicara seolah kau sudah banyak berubah saja."

Setelahnya tawa terdengar dari dua orang siswa yang sedang menaiki tangga menuju atap sekolah. Jongin dan Chanyeol. Membolos setelah pelajaran pertama setelah guru mereka keluar dari kelas.

"Omong-omong, kenapa kau pindah lagi? Membuat masalah baru?" Ucap Chanyeol sambil merebahkan tubuhnya dan mulai menutup mata.

"Enak saja. Sejak SMP aku memang sering pindah sekolah. Kita pertama kali berkenalan juga kelas satu SMA. Masalah kepindahan kali ini.. aku juga tidak tau kenapa. Tapi sebuah keberuntungan karena sekolah yang dipilih untukku adalah sekolah ini." Jongin membalas santai.

"Karena kau bertemu kembali denganku yang begitu tampan ini? Iya kan?" Ucapan Chanyeol dihadiahi pukulan keras di kepalanya.

"Aku tidak tertarik denganmu dasar brengsek! Walaupun itu juga salah satu alasannya. Yang terpenting.. aku baru mengetahui kalau aku satu sekolah dengannya kembali." Senyum tipis tersemat di bibirnya.

"Siapa? Gadis incaranmu?"

"Gadis? Hahaha.. baiklah katakan saja begitu."

"Hey, bagaimana kalau kita ke ruang musik saja?" Ucap Chanyeol sambil bangkit dan menepuk-nepuk celananya yang kotor.

"Untuk apa?

"Ayolah, nanti kau juga akan tau." Chanyeol langsung menarik tangannya agar ikut beranjak.

.

.

.

Langkah mereka berdua dibuat sepelan mungkin, terkadang berjinjit kecil saat melewati beberapa kelas. Jongin menyesali keputusannya yang mau-mau saja ikut dengan si tiang idiot ini. Sekarang dia seperti tertular idiotnya.

"Ah, itu mereka. Sstt, jangan berisik." Chanyeol mengintip sedikit dari jendela besar di ruang musik.

"Aku hanya diam saja daritadi, kalau kau lupa." Jongin ikut menjulurkan kepalanya melihat ke dalam. Tidak ada guru yang mengawas. Menaikkan alisnya bingung, dia bertanya tanpa menoleh. "Kenapa tidak ada guru?"

"Kudengar guru musik mereka berhalangan hadir. Jadi, mereka diberi kegiatan bermusik bebas." Jongin baru tau ada hal seperti itu. Lagipula, apanya yang menarik dari acara mengintip kelas lain? Jongin kembali mengedarkan pandangannya dengan malas, sebelum tubuhnya tiba-tiba membeku. Di sana, osok itu.. masih sama seperti 4 tahun yang lalu. Masih tetap terlihat imut dan begitu cantik. Senyumannya...

"Siapa bocah itu? Beraninya dia memegang tangan Baekhyunku." Chanyeol mendesis membuat Jongin meliriknya sekilas. "Kau mengenalnya?"

Kening Chanyeol berkerut sebentar menatap Jongin, "Kalau Baekhyun tentu saja kenal." Mengalihkan pandangannya kembali pada ketiga orang yang sedang asik tertawa dan sesekali akan saling melayangkan pukulan sementara seorang lagi melerai malas. "Yang tidak aku kenal itu hanya si bocah berkulit pucat— Yak! Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?!" Tanpa aba-aba Chanyeol langsung saja membawa kakinya melangkah menerobos masuk ke dalam kelas.

Mengabaikan tatapan heran dan pekikan dari beberapa siswi di sana -yang termasuk 'penggemar' atau 'fans' Chanyeol karena dia cukup populer- atas kehadiran secara tiba-tibanya. Kakinya tetap berjalan lurus menuju ke arah Baekhyun yang sedang menatapnya bingung. Begitu jarak mereka sudah dekat, lengan panjangnya langsung menarik tubuh mungil Baekhyun dan mendekap tubuh itu erat. Pekikan tertahan sempat mendominasi di ruangan itu. Baekhyun yang baru sadar akan keterkejutannya langsung berusaha mendorong dada Chanyeol menjauh. Apa-apaan dia itu?

"Kau tidak apa-apa, kan? Mana yang sakit? Apa rambutmu ada yang rontok?" Dengan seenak jidatnya Chanyeol langsung memegang kepala Baekhyun dengan niat berusaha untuk memeriksa setiap helai rambutnya.

"Ish, hentikan. Kau ini kenapa sih?" Tangan Chanyeol ditepisnya dengan cepat.

"Kau! Kenapa kau menjambak rambut Baekhyunku? Berani sekali kau." Mengabaikan ucapan Baekhyun, dia menunjuk Jongdae —orang yang katanya menjambak Baekhyunnya- sementara si pelaku menatapnya super datar.

"Dia bahkan lebih sering menjambak rambutku. Kami hanya bercanda. Berlebihan sekali." Karena hal sesepele itu dia sampai berteriak dan menerobos masuk? Kekanakan sekali, begitu pikir mereka.

"Jangan menyakiti Baekhyunku!" Ucapnya sambil kembali memeluk dan mengecup singkat pipi si mungil Baekhyun, menciptakan semburat merah muda tipis bagi yang dikecup.

"Oppa, sebenarnya apa hubunganmu dengan si cerewet ini? Kenapa kau begitu perhatian kepadanya? Bahkan terkadang terlihat sangat berlebihan di mataku." Salah satu teman sekelas Baekhyun, Se Kyung memberanikan diri untuk bertanya.

"Kami? Tentu saja kami—"

"Teman. Apalagi yang kau harapkan?" Jawaban yang diberikan Baekhyun sontak membuat lelaki tinggi di sampingnya mendelik tak terima.

"Sempat terpikir olehku mungkin kalian.. berpacaran? Tapi untungnya tidak." Gadis itu mengedikkan bahunya acuh, tidak menyadari kalau lawan bicaranya sedang menelan ludah gugup. Ketika mencoba mengalihkan pandangan, matanya bertatapan dengan lelaki berkulit tan yang berdiri kaku di depan pintu.

Jongin yang sedikit tersentak dan membulatkan matanya, dan Baekhyun yang merasa tidak asing dengan sosok yang ditatapnya.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC-

.

.

Menurut kalian cerita ini gimana? Kok menurut aku yg nulis sendiri, kayaknya gak nyambung sama sekali ya? '-' wks. Jujur, ini kali pertama aku bikin ff berchapter. Kebanyakan di file tempat cerita yg pernah aku buat itu oneshoot dan rata" fluff. Jujur lagi, aku gak terlalu bisa bikin konflik apalagi yg berat". Bisanya itu cuma fluff kayak yg udh aku bilang tadi. Aku juga masih terbilang amatiran dalam buat ff. Kalo menurut kalian ini gak bagus ya bakal aku hapus dan diganti sama ff baru yg rada" fluff aja. Ntar kalo banyak yg gasuka + ceritanya tambah aneh kan susah. :'v oke, sekian cuap-cuapnya..

.

.

Mind to review?