Panduan untuk membaca dalam fic ini

Aku dipakai ketika menggunakan dialog berbahasa selain Bahasa Indonesia, dalam sesi flashback, dan mengambil bagian dari chapter sebelumnya diawal cerita

Selain ketentuan diatas maka dianggap normal. Terima kasih.

Disclaimer : Penulis tidak memiliki NFS Most Wanted 2005, Lucky Star, K-ON!. Masing masing judul yang disebutkan merupakan hak cipta dari pihak-pihak terkait. Terima kasih.


"Bagaimana usaha lamarannya? Sepertinya gagal ya, Risma-san?"

Lalu aku pun mengangguk sebagai tanda kalau lamarannya pun gagal

Chapter 2

"Sudah kuduga. That Razor, he doesn't want to see someone happy, doesn't he?"

Aku pun mengangguk setuju walaupun ada bagian yang sedikit kurang paham. Tidak ada pembicaraan baru selagi menaikkan mobil. Mungkin mereka memang fokus bekerja. Dimulai dari memarkirkan truk mereka hingga pas didepan Primera. Lalu mereka menurunkan penghubung antara truk dengan tanah. Dan akhirnya Primera pun bisa dinaikkan keatas truk. Setelah naik keatas truk, mereka mengikat ban mobil dengan tali agar mobilnya tidak bergerak pada saat truk dijalankan.

"Anu…"

Aku pun memulai pembicaraan baru.

"Azusa-san?"

Orang yang bernama Azusa pun menoleh.

"Ya? Ada Apa?"

Aku berpikir sesaat untuk memikirkan topik selanjutnya.

"Memangnya benar ya, Razor sangat gak kepengen lihat orang lain bahagia?"

Tanpa sadar aku menanyakan hal yang disebut oleh Azusa-san sebelum memulai pekerjaannya.

"Risma-san, kalau kau benar-benar penasaran. Di bengkel nanti aku jelaskan semuanya," Jawab Azusa.

Aku pun memilih untuk diam setelah mendengar jawaban Azusa. Selagi terdiam, pacarku pun mengatakan kalau aku naik mobil bareng Azusa-san dan temannya, lalu dia juga mengatakan kalau dia pulangnya nanti saja setelah minum teh disalah satu tempat minum favorit pacarku. Sepertinya dia mau curhat dengan Master disana.

Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, kami pun tiba di markas atau bisa dibilang bengkel yang berada dekat taman di Rosewood. Tempat ini dulunya merupakan sebuah pasar untuk barang-barang bekas. Karena satu dan lain hal, tempat ini pun tidak terurus. Sehingga, pacarku membuat tempat ini menjadi sebuah bengkel dadakan. Dalam bengkel ini terdapat banyak mobil. Dari Subaru Vivio sampai Lamborghini Gallardo pun ada dalam bengkel ini. Banyak perlengkapan pun tersedia. Terdapat banyak pembalap jalanan yang tinggal di bengkel ini. Karena, mereka kesusahan mencari tempat tinggal. Jadi, pacarku lah yang menyediakan tempat tinggal untuk mereka. Seseorang dari salah satu mereka pun datang menghampiriku.

"Risma-san! Bagaimana hasilnya? Apakah Rizki melamarmu pada hari ini?"

Yang datang menghampiriku ialah Konata Izumi. Dia memiliki fisik yang lumayan pendek dengan rambut warna biru yang panjangnya sampai pinggulnya. Walaupun begitu, dia sendiri sudah memiliki surat izin mengemudi dan mengendarai Subaru Vivio yang mobilnya terparkir di bengkel ini.

"Gagal. Tapi bukan karena aku maupun Rizki. Tapi ini semua akibat pengendara M3 itu." Aku pun menarik nafas atas kekecewaan.

"Sepertinya dia sudah gila. Rasa depresi akibat tidak ada seorang pun yang menantangnya berakibat dia sering merusak hubungan orang lain ya." Ujar Konata.

"Aku tak mengerti. Bisa saja kan kalau aku bakal menantangnya?" Tanyaku yang kemudian dijawab dengan ekspresi kaget dari Konata.

"Risma-san? Kau serius mau menantang Razor? Memang dia kepingin mendapatkan tantangan…" Katanya terhenti sesaat, "Tapi, dia itu anggota blacklist nomor 1 loh. Sementara kau sendiri berada di urutan 220. Sangat jauh untuk bisa mengejarnya."

Aku pun terdiam setelah mendengar pernyataan Konata barusan.

"Omong-omong, Konata-san. Posisimu sendiri dalam blacklist itu urutan berapa?" Tanyaku.

"Aku? Saat ini aku diurutan 16. Rivalku berikutnya si Izzy setelah itu lawan Kagami. Itu kalau dia tidak menantang Vic yang mengejutkan bisa mengalahkan Izzy sebelum dia ditantang oleh Kagami." Jawab Konata.

"Tunggu, kok aku bakal lawan kamu sih? Ini sih namanya pertandingan dalam satu tim." Sahut seseorang yang disebutkan oleh Konata.

Yang barusan menyahut pernyataan Konata ialah Kagami Hiiragi. Teman dari Konata. Dia memiliki gaya rambut twintail berwarna ungu yang panjangnya diprediksi sepunggung. Seperti yang Konata-san bilang, dia saat ini berada dalam urutan 14 dalam blacklist.

Azusa-san pun menghampiri kami. Lalu dia memanggilku untuk berbicara mengenai masa lalunya Razor. Namun aku menundanya karena menurutku ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya. Azusa-san pun paham dengan penjelasanku. Lalu aku pun kembali ke Konata dan Kagami.

"Kagami-san sendiri menggunakan mobil apa?" Tanyaku.

"Untuk menantang blacklist, aku pakai Mitsubishi Lancer Evo 9. Buat pursuit biasanya pakai Silvia S13. Dan kalau bosen pakai keduanya baru Lamborghini Gallardo yang keluar." Jawab Kagami.

"Jadi, Lamborghini berwarna hitam yang sedang dalam servis itu punyamu?" Tanyaku kaget ketika Kagami menyebutkan Lamborghini Gallardo.

"Iya. Karena memang sudah jadwalnya ganti oli sih." Jawabnya.

"Risma-san," Kagami pun memanggilku.

"Iya?" Jawabku sambil memiringkan kepala.

"Kau serius untuk menantang Razor?"

Pertanyaan Kagami barusan membuatku berpikir keras. Apakah aku benar-benar akan melawan Razor atau tidak. Aku pun berpikir apakah harus menyediakan mobil cadangan selain Dodge Neon ini. Bagaimana dengan lawanku, apakah langsung lompat naik 100 orang atau harus satu per satu. Berbagai pemikiran lainnya pun muncul. Kagami pun mengatakan bahwa aku boleh menjawab pertanyaannya dilain waktu. Karena dalam mengambil keputusan tidak boleh gegabah menurutnya. Kagami pun menyarankan sebaiknya aku berkonsultasi dengan Rizki, pacarku. Karena, posisi Rizki dalam blacklist cukup tinggi. Yakni urutan ke 3. Diatasnya ialah Bull dan Razor. Aku pun menangguk setuju.

Setelah itu, aku pun menuju ruangan istirahat untuk sekedar melepaskan kelelahan untuk sesaat.

=w=

Setelah tidur siang, aku pun membereskan rambut yang berantakan selekas bangun. Selagi membereskan rambut, aku mendengar suara pintu diketok. Lalu aku pun mendengar suara pacarku memanggil. Aku pun bergegas untuk menyelesaikan rambutku dan menemuinya. Ketika aku membuka pintu, dia mengajakku untuk jalan-jalan. Aku pun kebingungan. Mobilnya sendiri masih dalam perbaikan untuk mengatasi sistem pendinginan mobilnya. Lalu dia mengatakan kalau kita jalan-jalan dengan Dodge Neon milikku. Akhirnya aku pun setuju karena sekalian memanaskan mesinnya setelah terakhir dipakai sekitar seminggu yang lalu.

Dalam perjalanan kami, pacarku menanyakan apakah aku akan ikut dalam usaha mengalahkan Razor. Aku pun mengatakan sebenarnya aku tertarik, tetapi aku pun merasa tak yakin. Lalu dia menyarankan untuk pergi ke dealer mobil. Aku pun langsung mengatakan tak perlu kesana karena aku memang masih tidak yakin. Namun, dia mengatakan kalau masih belum yakin, anggap saja untuk melihat mobil saja. Dia juga mengkhawatirkan kondisi Neon ini dapat bertahan dalam perjalananku menuju Razor.

Setibanya kami di dealer mobil, aku pun langsung bergegas untuk melihat speksifikasi mobil yang ditawarkan disana. Dealer mobil ini merupakan salah satu dealer mobil terbesar di Rockport dan juga tempat dimana pacarku dan rekannya membeli mobil.

Aku pun menyusuri setiap sudut dari dealer itu. Mulai dari melihat sedan, MPV, SUV bahkan hatchback pun aku perhatikan setiap sudutnya. Aku pun sempat berpikir kalau Dodge Dart bakal jadi pengganti Neon. Disisi lain, aku pun tertarik untuk menggunakan Subaru Forester atau Nissan Primera Wagon. Aku pun sempat pusing karena pilihan tersebut.

Pacarku pun menyarankan untuk menggunakan Mazda 323F Wagon. Karena ukurannya yang kompak dan bisa lakukan engine swap ke 13B kalau mau mendapatkan performa lebih tinggi. Selain itu dia juga rekomendasikan Toyota Hilux dan Ford Focus RS. Ketika aku menanyakan peluang modifikasi mengenai kedua mobil itu, dia hanya bilang paling gampang itu Hilux untuk keperluan secara umum dan Focus RS untuk rute-rute berkecepatan tinggi. Akhirnya aku pun memberikan mobil pilihanku. Yang mengejutkan, dia terlihat tidak tertarik pada Primera Wagon dan Forester tapi dia lebih tertarik ke Dodge Dart.

Aku pun bingung kenapa dia lebih memilih ke Dart. Ketika aku tanyakan alasannya, dia hanya mengatakan mobil ini memiliki potensi jika dikonversi ke roda belakang. Mesin bawaannya pun bisa menghasilkan performa tinggi. Dipadukan dengan konversi ke roda belakang maka didapatlah sedan berkemampuan setara Lamborghini Aventador. Namun, dia juga memperhatikan keselamatan diriku ketika membawa mobil ini. Aku pun ditanyai apakah aku serius memilih Dodge Dart sebagai mobil yang bakal menggantikan Dodge Neon yang saat ini aku pakai. Aku pun mengangguk setuju.

Setelah melakukan proses pembayaran, aku pun melihat Dodge Dart yang telah aku beli sudah berada diatas truk. Aku merasa sangat senang sekaligus ketakutan ketika melihat truk yang mengangkut mobil itu bergerak menuju bengkel. Aku pun disuruh oleh pacarku untuk pulang duluan lagi. Kali ini, dia mengambil spare parts untuk berbagai mobil yang ada dibengkel sekaligus mengambil parts yang diperlukan untuk Dart. Aku pun langsung membawa Neon pulang. Karena kebetulannya aku juga ingin berkonsultasi dengan Konata dan Kagami mengenai langkahku selanjutnya.

=w=

Setibanya di bengkel…

Aku pun bergegas untuk mencari Konata dan Kagami dan seseorang rekan mereka memanggilku.

"Risma-san, mereka berdua sedang pergi ke toko buku untuk membeli buku baru."

"Ah Mugi. Benarkah?" Tanyaku.

Orang yang aku panggil Mugi pun mengatakan, "Iya. Omong-omong, selamat ya atas mobil barunya. Mau dipakai buat apa?"

"Sebagai pengganti Neon sih. Tapi belum bisa dipakai sekarang." Jawabku santai.

"Benarkah? Jadi kamu mau ikut membantu kami dalam menghancurkn organisasi blacklist bersama?" Tanya Mugi.

"Menghancurkan blacklist? Ah… maksudnya mengalahkan Razor?" Aku pun bertanya kembali ke Mugi.

"Iya itu maksudku." Jawab Mugi.

"Kalau itu, aku bakal maju pakai Neon dulu. Begitu Dart sudah selesai dimodif baru aku pakai Dart." Kataku.

Selagi ngobrol dengan Mugi, aku mendengar suara pintu dibuka. Begitu aku lihat, ternyata Konata dan Kagami sudah balik dari belanja di toko buku. Yang kalau aku lihat dari ekspresinya, mereka sepertinya kecewa.

"Pada akhirnya itu novel belum rilis juga ya. Padahal menurutku rilisnya hari ini." Kata Kagami sambil menghembuskan nafas.

"Aku juga kiranya hari ini berbagai judul yang aku ikuti sudah keluar edisi barunya." Ujar Konata dengan nada kecewa.

"Sepertinya tunggu saja besok deh…" kata Kagami terputus. "Sepertinya bakal ada anggota baru atau ada yang meremajakan mobil balapnya deh." Katanya setelah melihat Dodge Dart.

Konata pun melihat kearah kami. Lalu dia bergerak menghampiri kami dan dia pun langsung duduk di antara kami. Kagami pun mengikuti dengan mengambil kursi didepan Konata.

"Lalu, Risma-san. Kalau melihat mobil itu, kau bakal ikut melawan Razor?" Tanya Kagami.

"Iya." Jawabku singkat.

"Sebelumnya. Konata, tolong ambilkan tablet yang diatas meja di kamarku dong. Untuk mengecek profil Risma-san disini." Ujar Kagami sambil meminta tolong kepada Konata.

Konata pun bergegas menuju kamarnya Kagami untuk mengambil barang yang diminta oleh Kagami.

"Anu, Kagami-san. Untuk apa mengecek profilku?" Tanyaku kebingungan.

"Untuk mengambil langkah berikutnya. Siapa tahu kau bisa langsung melawan peringkat 200 atau 100 misalnya." Jawab Kagami.

"Eh? Emangnya bisa?" Aku pun makin bingung dengan jawaban Kagami.

"Selama prestasimu disini bisa melewati para angota blacklist diatasmu ya bisa. Karena itu hak untuk anggota yang peringkat di blacklist ada dibawah 50 besar." Jawab Mugi.

"Lalu batas peringkat blacklist yang bisa dilewati itu sampai mana?" Tanyaku kembali.

"Paling tinggi peringkat 49." Jawab Mugi.

Konata pun kembali dari kamarnya Kagami membawa barang yang diminta oleh Kagami. Kagami membuka aplikasi untuk melacak rap sheet dari kepolisian Rockport. Lalu setelah sudah terkoneksi dengan rap sheet, Kagami pun langsung mencari namaku dalam databasenya. Beberapa saat kemudian, dia berhasil menemukan namaku dan langsung mengecek isi dari rap sheetku itu.

"Risma-san. Jumlah bountymu sebenarnya bisa langsung naik ke peringkat 19 namun jumlah balapanmu untuk bisa mencapai peringkat 19 kurang 30 balapan lagi." Kata Kagami setelah melihat rekorku.

"Eh? Hebat sekali. Bagaimana caranya bisa lolos dari kejaran polisi federal yang menggunakan Chevrolet Corvette C6 dan Nissan GT-R itu?" Tanya Mugi.

"Sebenarnya karena banyak sekali Dodge Neon di kota ini. Sehingga aku pun mudah meloloskan diri setelah pengejaran." Jawabku santai.

"Bagaimana caranya? Mobilmu sendiri sudah mengalami modifikasi kan? Kok polisi bisa kesulitan mencari kendaraanmu?" Tanya Mugi yang penasaran akibat jawabanku.

"Memang sudah dimodifikasi. Namun masih tergolong ringan jika dibanding dengan mobil kalian sih. Aku hanya menggunakan turbo ukuran sedang dengan intercooler yang sedang juga. Setelah itu rasio kompresinya juga aku rendahkan supaya tidak mudah jebol mesinnya. Tenaga mobilku hanya sekitar 250 HP." Jawabku.

"EH?! 250 HP?! Itu sih terlalu kecil untuk bisa bertahan melawan Supercar disini." Sahut Konata, Kagami dan Mugi berbarengan.

"Sebenarnya bisa diatas itu. Bahkan 350 HP pun bisa dicapai. Cuman mobilku aku setting supaya tidak berisik pas berjalan dan mobil polisi pun gak tau kalau aku ngebut dalam keadaan cruising di tol." Aku pun berujar demikian.

"Jadi itu alasan mengapa ada gosip kalau sekalinya ada yang makai Neon untuk balapan di Rockport, mobil polisipun susah untuk menangkapnya." Kata Konata setelah mendengarkan penjelasanku.

"Tapi, tenaga sekecil itu pasti memiliki kelebihan lain kan?" Tanya Kagami.

"Iya. Bobot mobilku hanya sekitar 800 Kg dan penggerak mobil pun dirubah ke roda belakang. Jadi kudu hati-hati mengontrolnya di tikungan. Kalau tidak hati-hati spin out pun sangat mungkin terjadi." Jawabku.

"800 Kg?! Jangan bilang bodinya bukan bawaan Neon lagi." Sahut Mugi.

"Itu sangat mungkin karena memang bodinya dibuat dari karbon seutuhnya. Aku juga menambahkan sedikit aluminium supaya bodinya makin kuat. Interior pun dibuat seminimalis mungkin dan semua yang tidak berguna untuk balapan pun dicopot. Sehingga aku bisa menggunakan roll cage untuk memperkuat bodi. Jumlah bangku maksimal hanya 2 karena penggunaan roll cage itu." Aku pun menjawab pernyataan Mugi sambil minum teh.

"Ehem. Jadi, peringkat berapa yang bakal kau tantang duluan Risma-san?" Tanya Kagami.

"Mungkin peringkat 50 saja kali ya. Bisa minta info mengenainya?" Tanyaku balik.

"Blacklist urutan 50 ya… eh Mugi, peringkatmu keberapa sekarang?" Kagami bertanya kepada Mugi.

Mugi yang mendengarnya pun terlihat pucat. Badannya pun terasa bergetar di kursi tempat dia duduk. Aku pun penasaran karenanya.

"Anu, Mugi. Kau kenapa?" Tanyaku melihat tingkah Mugi yang mencurigakan.

"Bagaimana ini?!" Kata Mugi berbisik. "Saat ini aku berada di peringkat 50. Artinya…" Dia tetap mengatakannya sambil berbisik.

"Mugi, jangan bilang kalau kamu… peringkat 50 di Blacklist?!" Sahut Kagami kaget.

"I… I… Iya, Kagami!" Mugi mengatakannya sambil berteriak.

Aku pun kaget begitu mengetahui kalau Mugi saat ini berada diperingkat 50 dalam blacklist. Lalu aku pun baru menyadari kalau ini bakal menjadi pertandingan satu tim kalau aku tetap menantang Mugi. Kemudian aku pun mendapatkan ide lain.

"A… Anu. Kalau peringkat 51 di Blacklist siapa?" Tanyaku kepada Kagami.

"Peringkat 51 ya… Kalau itu sih… Ah! Namanya Rogers Baldminon. Dia menggunakan Aston Martin DB7 Coupe. Spesialisasinya merupakan Highway racing. Mobilnya sendiri sudah mengalami modifikasi pada mesin sehingga tenaganya menjadi 450 HP. Hampir 2x tenaga Neonmu. Tapi bobot mobilnya saat ini masih 2x lebih berat dari Neonmu, atau sekitar 1600 Kg. Untuk mengalahkannya kau cukup selesaikan satu balapan. Namun masalahnya…" Jawab Kagami terputus.

"Masalahnya?" Tanyaku penasaran.

"Balapan dengannya sangat panjang. Dia merupakan tipe pembalap ketahanan. Jadi siap-siap saja balapan dengannya bisa memakan waktu minimal 45 menit. Pernah seseorang menantangnya dan mampu bertahan selama 2 jam balapan di tol. Namun bannya bermasalah sehingga dia gagal menduduki peringkat 51." Jawab Kagami.

"Trus kalau di urutan 49 siapa ya?" Tanyaku setelah mendengarkan penjelasan Kagami.

"Blacklist urutan 49… Namanya Nakajima Seiri. Nickname 'Kaguya Kagayaku'. Mobilnya Toyota Crown Athlete GRS204 dengan VIP Style. Spesialisasinya ialah Cost to States Pursuit. Untuk mengalahkannya ada 2 balapan. Satu tipe circuit di tol Rockport selama 7 putaran dan satu lagi ialah sprint dengan rute Heritage and Campus. Mobilnya sendiri menghasilkan tenaga 520 HP dengan bobot yang tergolong enteng untuk ukuran sedan mewah sekelas Crown. Yaitu 1320 Kg." Jawab Kagami setelah melihat data blacklist.

"Aku sendiri mulai ragu bisa mengalahkannya. Dikarenakan satu rute circuit itu pastinya bisa menghasilkan kecepatan tinggi kan?" Aku pun mulai ragu ketika mendengar pernyataan Kagami.

"Satu hal lagi. Kalau mobilmu bisa menghasilkan kecepatan tertinggi diatas 245 KM/H, maka peluang kamu menang lebih besar. Walau tenaga dia besar, dia sendiri malas merubah rasio gigi mobilnya. Jadi angka yang tadi aku sebutkan merupakan kecepatan tertinggi yang ia capai dengan Crownnya." Kagami menjawab keraguan yang muncul dalam benakku.

"Untung Neonku bisa mencapai kecepatan 260 KM/H walau tenaga yang dihasilkan tergolong kecil. Yang penting membalap sepenuh hati dan hindari kesalahan deh." Gumamku.

"Anehnya walau peringkatnya lebih rendah, performa mobil Mugi lebih kencang daripada urutan 49. Atau kalau boleh jujur, performa mobil Mugi sendiri seharusnya berada diperingkat top 30." Ujar Kagami setelah melihat data Mugi.

"Lebih baik aku jelaskan sendiri deh kemampuanku," Ujar Mugi sebelum memberitahu spesifikasi mobilnya. "Aku, Tsumugi Kotobuki. Spesialisasiku ialah Speedtrap. Mobilku ialah Mazda RX-7 Bathurst R keluaran 2000. Untuk mengalahkanku ada 4 balapan yang harus ditempuh. 2 speedtrap dan 2 sprint normal. Mobilku sendiri menggunakan mesin bawaan 13B-REW yang sudah mengalami banyak modifikasi. Semua parts yang terdapat dimesinnya pun diganti untuk meningkatkan tenaga dan durabilitas mesinnya. Tenaga yang dihasilkan dari mobilku ialah 700 HP ketika kondisi normal. Pada saat tertentu, seperti kalau ketemu lawan yang menyusahkan. Wangan mode akan aktif. Tenaga mobil pada saat mode ini aktif menghasilkan 930 HP. Kecepatan tertinggi dalam normal mode yaitu 345 KM/H dan pada Wangan mode 390 KM/H bisa dicapai. Sebenarnya dalam spek seperti ini aku harusnya bisa masuk top 10 dalam urutan blacklist." Kata Mugi.

"Luar biasa sekali kemampuan FDmu. Terus kenapa kau tidak mengejar top 10?" Tanyaku.

"Sebenarnya… sekali lagi tertangkap. Selesailah sudah. Apalagi aku tidak ada mobil cadangan. Makanya aku memilih untuk tidak balapan sampai aku dapat mobil kedua." Jawab Mugi dengan nada depresi.

"Risma-san. FD itu apa?" Tanya Kagami kebingungan.

"Kode sasis dari Mazda RX-7 generasi ketiga yang pertama kali keluar sekitar tahun 1991 sampai 2002." Jawabku sambil mengingat-ingat.

"Tapi, kalau misalnya ada yang mau mengantarkan ke dealer langganan. Aku sangat mengapresiasi hal itu." Kata Mugi sambil merapatkan tangannya ke dada.

Aku merasa ada sesuatu bergetar dari dalam kantong. Begitu aku keluarkan dari kantong, ternyata HPku berdering pertanda panggilan masuk. Aku pun mengangkat panggilan itu. Ternyata pacarku meminta tolong untuk membawa van yang ia pakai untuk membawa barang banyak. Dia juga mengatakan, kalau Mugi butuh mobil baru datang saja ke dealer. Aku pun menanyakan darimana dia tahu mengenai hal ini. Dia pun menjawab santai, karena Mugi sendiri yang kepengen mobil baru.

Akhirnya, aku ajak Mugi ke dealer. Aku pun bisa melihat wajah senang yang terlukis diwajahnya. Kemudian, aku dan Mugi naik ke van yang biasa dikeluarkan dari bengkel jika pacarku membeli banyak parts untuk mobil. Yakni sebuah Ford Transit. Sebenarnya aku sedikit merinding ketika menyalakan mesin mobil ini. Karena, aku sudah lama tidak membawa van ini semenjak punya Neon!

Tapi begitu memegang tuas transmisi, aku pun merasa tenang. Mungkin ketakutan itu tidak ada artinya dengan berbagai pengalaman dengan mobil ini sebelum akhirnya ikut dalam organisasi blacklist.

Aku pun melajukan Transit menuju dealer dengan kecepatan tidak melebihi batas dan berhati-hati dalam bermanuver. Dikarenakan mobil ini bukanlah untuk balapan. Sehingga aku harus meningkatkan kewaspadaan ketika membawanya. Tapi, tanpa aku sadari aku membawanya terlalu berhati-hati sampai banyak mobil bergerak dibelakang mobil kami dan aku pun mendengar suara klakson saling bersahutan satu sama lain. Karenanya, aku pun kembali mengingat bagaimana membawa mobil ini seharusnya. Sehingga aku pun akhirnya terbiasa membawanya kembali dan sampai di dealer dengan selamat. Pacarku bergerak membuka pintu bagasi ketika mobilnya sudah diparkir depan tempat biasanya pacarku menaruh parts sebelum diangkut ke mobil.

Selagi pacarku mengangkut parts, aku dan Mugi menyusuri sepanjang showroom di dealer untuk melihat mobil apa yang digunakan Mugi sebagai mobil cadangan. Dia terlihat sangat senang bisa melihat mobil yang lumayan banyak dalam dealer tersebut. Namun, dia terlihat bingung mobil apa yang ia pilih. Akhirnya dia pun mencoba berkonsultasi denganku.

"Risma-san, aku sebaiknya pilih mobil apa ya? Antara Mazda RX-8, Subaru Impreza WRX STI hatchback, Nissan GT-R, Chevrolet Corvette C7 yang baru, atau BMW M4." Kata Mugi kebingungan dengan pilihannya.

Aku pun sempat kehilangan kata-kata. Semua mobil yang disebutkan oleh Mugi harganya diatas Dodge Dart yang aku bakal pakai sebagai pengganti Neon. Namun, karena aku juga pernah merasakan beberapa mobil yang disebutkan oleh Mugi. Aku pun mencoba menjawab pertanyaan Mugi walau aku tak bisa menjelaskan kelebihan dan kekurangan Corvette C7 dan BMW M4. Setelah mendengar penjelasanku, entah mengapa Mugi langsung memesan 3 mobil dan 3-3nya juga langsung diorderkan parts modifikasinya termasuk dipasang roll cage dimobilnya. Setelah Mugi selesai memesan mobilnya, Mugi pun mengajak aku pulang. Namun, Ford Transit yang tadi aku pakai sudah dibawa pulang oleh pacarku. Sehingga aku dan Mugi pun memilih untuk naik taksi untuk mencapai bengkel.

Setibanya di bengkel, Kagami pun langsung menghampiriku. Aku kaget melihatnya. Aku tanyakan alas an kenapa dia menghampiriku. Lalu ia pun menjawab…

"Sudah siapkah untuk melawan Nakajima Seiri, Risma-san?"


A/N

Akhirnya tembus 3k dalam satu chapter. Jarang sekali aku bisa nulis sepanjang ini. Semoga bisa bertahan atau lebih panjang lagi dalam chapter selanjutnya. Jangan lupa untuk review kalau sempat.