"Sudah siapkah untuk melawan Nakajima Seiri, Risma-san?"

Chapter 3

"Siap? Tentu saja!" Sahutku dengan enerjik.

"Bagus. Tapi, sepertinya kau bakal dalam masalah jika kau tidak berada didepan selama balapan dengannya," Kata Kagami.

Aku kebingungan dengan maksudnya yang didalam masalah jika aku berada dibelakang Nakajima. Menurut pernyataan Kagami, dia dikenal dengan bermain kotor selama balapan. Dia tidak segan-segan untuk mengirimkan lawan ke rumah sakit dengan menggukankan pembatas jalan, truk yang melintas bahkan pom bensin pun dipakai untuk mencegah lawannya mengalahkan dia. Dalam catatan Kagami, pernah ada satu pembalap tewas karena dia tidak bisa mengendalikan mobil ketika Nakajima mengirimkan mobilnya ke pom bensin dekat Highway. Pom bensin itu pun tutup selama beberapa bulan.

Aku pun merasakan sesuatu yang mengerikan jika hal ini terjadi padaku. Namun, jika ini terjadi saat ini, artinya aku batal menikah dan langsung menghadap Sang Khalik.

Mungkin karena terlalu memikirkan hal itu, Kagami pun berusaha menyadarkanku dengan mencubit tanganku. Alhasil aku pun kembali fokus ke pembicaraan.

"Namun, apakah ada cara untuk bisa menghindarinya?" Tanyaku.

"Bisa sih… lacak pergerakan dan langsung menghindar. Tapi yang susah kalo pas ngindar moncong mobilnya langsung mengarahmu. Mau tak mau harus mengcounternya agar kau bisa selamat dengan konsekuensi baret menanti." Jawab Kagami.

"Bodi baret ya… tak masalah yang penting selama sasis tidak hancur lanjut terus." Kataku.

Kagami pun langsung mengecek sesuati di tabletnya. Begitu aku lihat ternyata dia melihat profilku termasuk data kejaranku dengan polisi yang menurutku cukup memalukan. Soalnya dalam daftar itu ada satu kejaran polisi yang dimana hanya pakai pakaian dalam. Benar saja, aku mendengar dia tertawa karena melihatnya… Ah, malu…

"Kau memang menarik sekali, Risma-san. Pantas saja polisi itu tertarik sekali untuk menilangmu." Kata Kagami sambil menunjukkan sesuatu ditabnya.

Tadinya aku kira kalau Kagami menunjukkan hal memalukan itu, ternyata ia hanya menunjukkan bagian yang menjadi alasan kenapa polisi selalu mengejarku.

"Si Cross itu, emang gak pernah berubah ya, selalu saja berusaha untuk mengejar pembalap. Namun, yang selalu tertangkap itu yang menentang Razor sih. Sehingga muncul anggapan bahwa dia melindungi Razor." Katanya.

"Eh? Jadi penyebab aku selalu diincar polisi itu…" kataku kebingungan.

"Kau tak perlu menyelesaikannya juga sudah terjawab kok. Lagipula dia emang rada-rada kok." Jawab Kagami yang seakan-akan membaca pikiranku.

"Baru ingat, menurutmu, peluang bisa start awal didepan Nakajima dengan kondisi mobilku yang sekarang bagaimana?" Tanyaku.

Kagami pun langsung menghampiri ke mobilku untuk melakukan pengecekan. Dia pun menghubungkan sesuatu ke lubang untuk pengecekan mobilku. Dia langsung melakukan pengecekan dan…

"Hm… peluang untuk bisa start depan Nakajima itu 1:2 kalau dia tidak pakai nos dan 1:15 jika pakai nos." Kata Kagami.

"Sudah kuduga. Susah sekali buat melawan Crown dengan tenaga 520HP gitu." Kataku sambil menundukkan kepala.

"Namun kalau boostnya dinaikkan sedikit, mungkin bisa start didepan dia sih. Risma-san…" Katanya berhenti sejenak. "Tapi aku tidak bisa membuka akses untuk meningkatkan boostnya. Sepertinya terkunci oleh system keamanannya." Tambahnya.

Kemudian aku mendengar suara mesin yang familiar ditelinga, pada saat aku melihatnya, ternyata Rizki sudah pulang. Setelah ia keluar dari mobilnya, aku pun berusaha menghampirinya dan meminta untuk melakukan rubahan setup untuk Neonku.

"Tumben itu Neon kau minta rubah lagi. Kau mau lawan siapa?" Tanya Rizki.

"Sebenarnya… Aku mau membantumu untuk melawan Razor. Jadi sekarang aku mau lawan Nakajima Seiri sih nanti malam." Jawabku.

"Nakajima Seiri? Oh peringkat 49 itu? Sepertinya stage 2 bisa diunlock sekarang." Kata Rizki.

"Hm? Stage 2?" Tanyaku.

"Iya. Diprediksi bisa tembus 280 sih. Tapi topspeed naik sedikit dari 260 ke 268 km/h. tak masalah?" Tanya Rizki balik.

"Kalau akselerasi pas start naik tak masalah. Ya kan, Kagami?" Kataku.

Kagami pun menganggukkan kepalana sebagai tanda setuju. Aku pun merasa senang karenanya. Performa Neonku sepertinya bisa melebihi daripada Crown itu, mungkin.

Rizki pun mengeluarkan laptopnya yang biasa dipakai buat setup mesin Neonku, lalu dia menghubungkanya ke lubang yang sebelumnya dipakai Kagami untuk mengscan performa Neon. Dia membuka beberapa aplikasi dan melakukan beberapa perubahan untuk meningkatkan tenaga. Setelah beberapa menit kemudian, dia membawa Neon ke atas mesin dynoo dan begitu selesai mendengar mesin meraung, aku pun mendapatkan kertas yang isinya merupakan grafik tenaga dan torsi yang dihasilkan mobilku itu.

Setelah melihat ke grafik itu… aku pun kaget karena tenaga yang dihasilkan melebihi ekspetasi yang diperkirakan tembus 280dk ternyata bisa mencapai 291dk.

"Ternyata salah setup buat stage 2nya. Tapi ini lebih dari cukup sepertinya." Kata Rizki.

Salah setup? Tapi menurutku ini sudah lumayan sih. Karena menurutku ini bisa membuat peluang didepan pun lebih besar daripada masih menggunakan 250 dk.

Aku pun memutuskan untuk memanjakan diriku sebelum serius untuk melawan Crown itu nanti.

=w=

Rockport District, 9:45 PM

Aku pun sudah berada di tempat perjanjian dengan Nakajima Seiri. Terkadang saat menunggu ini membuatku mudah tegang. Apalagi ini adalah momen membalap setelah kurang lebih dua tahun tidak membalap. Apalagi aku sekarang ini lagi diincar polisi saat ini. Semoga si Nakajima cepat datang sebelum polisi itu datang mengejar Dodge Neon ini.

Rockport District, 9:52 PM

Tujuh menit telah berlalu, dan aku pun mendengarkan suara mobil mendekat. Begitu melihat ke arah sumber suara, ternyata Nakajima Seiri pun sudah datang dengan... tunggu, mobilnya beda dari data yang disebutkan Kagami. Dia datang dengan Ford Fiesta ST! Padahal datanya menunjukkan kalau dia pakai Toyota Crown Athlete. Semoga saja Fiesta itu bisa dikalahkan.

Nakajima pun menghampiriku untuk sekedar perkenalan sejenak. Aku pun menanyakan kenapa dia tidak menggunakan Crownnya. Dia menjawab, Crownnya dalam overhaul transmisinya karena beban tenaganya terlalu besar dan dia pun mengatakan kalau Fiestanya ini masih baru dan belum dimodifikasi. Karena surat-suratnya baru saja dia terima.

Mendengar alasan dari Nakajima Seiri pun membuatku sedikit lega. Namun tetap saja rasa cemas masih ada. Mungkin karena melihat mobilnya berbeda dengan data yang diterima Kagami. Lalu Nakajima mengajak diriku untuk segera menuju ke tempat balapan. Aku pun langsung masuk ke mobil karena Fiestanya langsung jalan.

Beberapa menit kemudian, kami pun sudah sampai di garis start dengan beberapa mobil parkir di pinggir jalan. Banyak sekali yang menonton. Terlebih banyak yang menggunakan mobil yang tergolong lebih kenang dari Neon ini. Sepertinya, mereka juga bagian dari Blacklist ini. Lalu, kacaku diketok oleh seseorang yang ternyata temannya Mugi, yakni Ritsu.

"Yo, kabarnya kau bakal naik ke peringkat 49 ya?" Tanya Ritsu.

"I, iya Ritsu-san." Jawabku.

"Tenang aja, asal kau bisa mengeluarkan kemampuanmu yang itu, pasti gampang mengalahkannya." Bisik Ritsu.

Lalu, Ritsu kembali ke rekan-rekannya yang juga menonton. Oh, Mugi-san juga ikut nonton. Kalau begini aku gak bakal mengalah dalam balapan ini.

Seseorang yang bertugas menjadi pemberi aba-aba pun berdiri diantara mobil kami. Dengan bahasa isyarat dia menyatakan untuk segera memanaskan mesin karena balapan akan dimulai. Aku pun menginjak pedal gas berkali-kali untung menudahkan menentukan putaran mesin yang dipakai untuk start. Nakajima pun melakukan hal yang sama. Setelah beberapa detik mesin kami meraung, pemberi aba-aba pun mulai berhitung. Aku pun berusaha untuk menahan putaran mesin di takometer di angka 4. Begitu pemberi aba-aba menggerakkan tangannya kebawah, aku pun langsung melepas kopling dan mobil pun mulai berakselerasi cepat. Namun... tidak untuk Nakajima Seiri. Entah mengapa mobilnya tidak mau bergerak.

Lalu sekilas dia pun keluar dari mobilnya dan melihat asap keluar dari mesin Fordnya. Aku pun melambatkan mobil dan membawanya kembali ke garis start. Begitu aku menghampirinya, dia pun terlihat kesal karena mobilnya mengalami kerusakan yang bahkan susah diketahui penyebabnya.

"Sial! Mobil baru padahal aku pakai buat ngebalap langsung rusak gini!" Sahut Nakajima kesal.

Aku pun mencium bau gosong disekitar mobilnya. Rasanya seperti ada yang terbakar. Tak lama kemudian muncul api dari interior mobilnya Nakajima. Sekejak para penonton masuk kedalam mobil mereka dan mengeluarkan pemadam api yang bisa dibawa untuk berusaha memadamkan api.

Aku pun membantu usaha pemadaman dengan memandu yang membawa pemadam api itu ke titik-titik yang diprediksi menjadi sumber api. Untung bisa bergerak cepat. Tidak tahu apa yang terjadi kalau mereka hanya diam saja dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Si jago merah yang sempat nonggol dari mobil Nakajima pun akhirnya bisa dipadamkan. Namun, kebakaran kecil ini membuat Nakajima tidak bisa menjalankan mobilnya. Nakajima pun mengajakku untuk berdiskusi.

"Sebenarnya, dengan kerusakan seperti ini, aku tidak bisa membalap. Apalagi mobilku yang biasa dipakai belum selesai. Dalam aturan Blacklist, jika dalam balapan memperebutkan peringkat, yang peringkatnya diperebutkan mengalami masalah pada kendaraan apalagi sampai terbakar... maka yang menantanglah mendapatkan peringkat secara otomatis. Kau tak keberatan kan jika kau langsung ke peringkat ke 49 tanpa melawanku kan?" Tanya Nakajima.

Aku berpikir sejenak...

"Dengan begini, kau langsung menyerahkan peringkatmu ke aku dan... kau bakal turun ke peringkat 50?" Tanyaku balik.

"Ya... itulah konsekuensinya." Jawab Nakajima.

Aku pun menerima konsekuensinya Nakajima karena aku langsung naik peringkat secara drastis dari 220 ke 49. Begitu Nakajima mengumumkan kekalahan yang disebabkan oleh masalah teknis yang dialami mobilnya, banyak pembalap jalanan yang menonton pun kecewa. Namun, beberapa yang menonton pun memakluminya karena repot untuk memadamkan api yang tiba-tiba muncul dari Fiestanya itu.

Sementara itu, tiga pembalap liar yang menggunakan S2000, M5 dan Silvia yang parkir agak menjauh dari keramaian tampak sedang mengomongkan sesuatu.

"Sepertinya, dia bisa jadi penyelamat kita dari mandeknya prestasi kita disini." kata pengendara S2000.

"Maksudnya Rin?" Tanya pengendara M5.

"Ya, kalau kita kalah, maka kita bisa keluar dari jeratan Razor dan mungkin bisa bergabung dengan tim dia." Jawab Rin, si pengendara S2000.

"Tapi, apakah dia bisa mencapai posisi dimana dia bisa melawan kita nanti?" Tanya Karen, Pengendara Silvia.

"Mungkin saja. Lagipula syarat untuk melawan kita juga tidak menyulitkan bagi dia." Jawab Rin.

"Darimana kau tahu?" tanya Nao, pengendara M5.

"Karena... bountynya sejajar dengan peringkat 1 di Blacklist, yakni Razor." Jawab Rin.

Nao dan Karen pun awalnya ragu dengan jawaban Rin, namun mereka akhirnya setuju. Kemudian mereka masuk kedalam mobil mereka dan pergi meninggalkan keramaian itu.


Tinggal satu chapter lagi dan next chapter membuat rating pindah ke M wkwk