Preview

Jeonghan sedang berendam air hangat.

"Ahh nyamannya..."

Selagi ia menikmati kegiatannya, tiba-tiba saja gagang ointu kamar mandi bergerak dan...

Cklek..

Pintu kamar mandi itu pun terbuka.

"Ya Jeonghan-ah, neo pabo-ya! Mengapa kau lupa mengunci pintunya?" batinnya dan merutuki dirinya sendiri.

"Bagaimana denganku? Aku harus melakukan sesuatu."

Pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka lebar. Seseorang itu hendak masuk, tapi ia hanya terpaku di depan pintu melihat pemandangan yang baru baginya...

"Yak! Apa yang kau lihat!" Jeonghan pun langsung mengambil gayung yang dekat dengan tangan nya lalu melemparkan nya dan tepat sasaran.

Jeonghan dan Seungcheol berada di meja makan untuk siap makan malam. Mereka duduk berhadapan dan saling bertatapan penuh dengan emosi dan amarah. Choi ahjusshi hanya tersenyum melihat tingkah kedua nya.

"Kalian pasti sudah sangat lupa ya? Bukannya kalian dulu sering bermain bersama?" Choi ahjusshi memulai percakapan diantara mereka terlebih dahulu.

"Appa, kenapa kau tak memberitahu ku kalau tadi ada dia di kamar mandi. Jadi kepala ku jadi ngga benjol begini deh." ucap Seungcheol pada ayahnya sambil mengusap-usap kepala nya yang tadi terkena lemparan gayung dari Jeonghan.

"Kau sendiri kenapa mandi lama sekali seperti perempuan, sudah gitu pintunya tidak di kunci lagi. Dasar perempuan jadi-jadian!"

"Yak! Apa kau bilang? Aku perempuan jadi-jadian? Aku ini laki-laki sepertimu! Kau juga kenapa tidak mengetuk pintu nya dulu, hah?"

"Sudah sudah kalian jangan bertengkar. Ayo kita makan, nanti makanannya dingin."

Mereka akhirnya pun makan masih dalam penuh emosi. Mereka masih saja saling pandang.

Setelah mereka menghabiskan malam, tiba-tiba terdengar bunyi telfon rumah berdering. Seungcheol pun bangkit dari kursi dan hendak menganngakat telfon tersebut, tetapi dicegat oleh ayahnya.

"Biarkan saja appa yanga angkat. Kau temani Jeonghan disini."

Seungcheol kembali menatap Jeonghan, masih dengan tatapan penuh emosinya.

"Apa kau lihat-lihat? Kau terpesona sama kecantikan aku?"

"Cih, aku? Terpesona dengan perempuan jadi-jadian sepertimu? Jangan harap!"

"Yak! Sudah kubilang aku laki-laki! Bukan perempuan jadi-jadian!"

"Hey, sudah-sudah. Mengapa kalian masih saja bertengkar. Ah ya, anak-anak appa ingin bicara sama kalian." Choi ahjusshi pun datang menghampiri mereka setelah menutup telfon.

Seungcheol dan Jeonghan pun terdiam dan menyimak apa yang akan Choi ahjusshi katakan.

"Begini, Seungcheol-ah Jeonghan-ah, barusan appa baru menerima kabar dari harabeoji di Hongkong, kalau halmeoni mu sakit, dan ingin appa ada di sana."

"Mwo, halmeoni sakit? Aku ikut ke Hongkong ya?"

"Tidak bisa Seungcheol-ah, sekolah mu bagaimana? Sepertinya appa juga akan lama disana. Lagian disini juga ada Jeonghan, masa kamu tinggalin dia sendirian?"

"Tak apa ahjusshi aku sendirian disini daripada harus tinggal berdua dengan Seung..."

"Seungcheol! Nama ku Seungcheol!"

"Nah iya, Seungcheol."

"Keputusan appa sudah bulat. Seungcheol kau tidak usah ikut ke Hongkong. Temani Jeonghan disini!"

"Ta, ta, tapi appa?"

"Tidak ada tapi-tapian, sudah apa mau bereskan pakaian appa dulu. Setelah itu appa berangkat ke bandara."

"Mwo malam ini juga?" tanya Seungcheol dan Jeonghan bersamaan.

"Ne, memang kenapa?"

"Aniya." jawab Seungcheol dan Jeonghan kompak.

Setelah sekitar 15 menit Choi ahjusshi membereskan pakaiannya, ia bersiap untuk pergi ke bandara. Seungcheol dan Jeonghan pun mengantarkannya sampai depan pintu.

"Appa, kau yakin pergi sendiri ke bandara, tidak perlu kuantar?"

"Tidak Seungcheol-ah, appa bisa naik taksi."

"Ahjusshi, bagaimana dengan tiket pesawatnya, apakah sudah dapat? Dan kapan jadwal terbangnya?"

"Aku sudah titip sama temanku yang bekerja di sana. Jam terbang nya mungkin besok pagi atau besok siang. Ah, baiklah apa berangkat dulu. Kalian hati-hati ya. Jangan bertengkar terus."

Setelah melihat kepergian Choi ahjusshi, kini tinggal hanya ada Seungcheol dan Jeonghan. Mereka masih saling emosi karena kejadian tadi sore. Setelah menutup pintu, Seungcheol memulai kembali pertengkaran diantara mereka.

"Yak! Kau! Permpuan jadi-jadian!"

"Yak! Aku juga nama! Nama ku Yoon Jeonghan, bukan perempuan jadi-jadian!"

"Baiklah Yoon Jeonghan! Minta maaf lah pada ku! Kepala ku masih sakit tahu!"

"Aku? Minta maaf sama kamu? Jangan harap! Aku kan sudah bilang kau yang salah, kau tidak punya sopan santun apa?!"

"Arrgghh sudah lah, capek ngomong sama perempuan jadi-jadian seperti kamu!" Seungcheol pun berjalan gontai dan masuk ke kamarnya.

"Yak! Sudah kubilang nama ku Yoon Jeonghan! Bukan perempuan jadi-jadian!"

Seungcheol POV

Akh.. Lelah sekali hari ini. Bertengkar sama perempuan jadi-jadian tidak ada ujungnya. Kalau diliat-liat untuk ukuran pria, dia cantik juga. Baru kali ini aku melihat pria cantik seperti dia. Apalagi kalau sudah marah-marah, coba saja dia sekali-kali tersenyum. Tidak, tidak apa yang bayangkan Choi Seungcheol. Kau tidak boleh terpesona olehnya.

Jeonghan POV

Apa-apaan dia, memanggilku perempuan jadi-jadian. Awas saja kau Choi Seungcheol! Heuh! Kalau dilihat-lihat dia tampan juga, apalagi kalau sudah tersenyum.

Tidak tidak! Apa yang kau pikirkan Yoon Jeonghan. Kau tidak boleh seperti ini.

Esok pagi nya...

Jeonghan bangun lebih awal, ia lalu keluar rumah dan merentangkan tangan nya menikmati udara pagi.

"Hah.. Segarnya..." batin Jeonghan.

Ia pun mengedarkan pandangan nya, melihat seluruh halaman rumah. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada suatu objek, sebuah kardus yang lumayan besar di dekat gerbang.

"Itu apa kalau tidak salah tadi malam tidak ada kardus itu?" monolog Jeonghan. Ia pun segera menghampiri kardus itu, untuk memastikannya. Ia melangkah dengan pelan. Mata nya pun terbelalak saat melihat apa yang ada di dalam kardus itu. Seorang bayi mungil yang sedang tertidur dengan tenang, ditemani oleh boneka teddy bear nya.

Jeonghan pun segera lari masuk ke dalam rumah, dan membangunkan Seungcheol.

"Yak! Choi Seungcheol! Ireona! Ireona!"

"Ehm.. Ada apa? Ini masih pagi. Dan kau tahu ini hari minggu. Kau menganggu tidur ku saja!"

"Yak! Ada bayi di depan rumah! Kau bangunlah!"

"Bayi? Apa kau bilang bayi?!"

Jeonghan mengangguk kan kepala nya. Seungcheol pun segera turun dari kasurnya dan bersama Jeonghan langsung menuju pintu gerbang.

Setelah mereka di sana, bayi itu sudah terbangun dan ia pun tersenyum pada Seungcheol dan Jeonghan dan mengatakan..

"Mama? Papa?"

"Mwo?! Yak! Kita bukan orang tuamu?!"

Bayi itu pun mulai menangis. Seungcheol dan Jeonghan panik.

"Duh, Seungcheol-ah kita harus gimana? Bayi ini nangis? Kamu sih teriakin dia segala!"

"Mau bagaimana lagi, kita memang bukan orang tuanya kan?"

Jeonghan pun berjongkok dan segera menggendong bayi itu.

"Cup cup, jangan menangis lagi ya adik kecil. Hyung disini." Jeonghan pun tersenyum, sambil mengusap helaian rambut bayi itu. Melihat senyuman Jeonghan bayi itu pun berhenti menangis. Seungcheol terdiam menatap Jeonghan. Ia seperti tersihir oleh apa yang dipandangnya tadi.

"Ia tersenyum? Dan senyuman itu..., cantik sekali dia.." batinnya. Seungcheol pun tersenyum senyum-senyum sendiri.

Jeonghan pun melihat ke arah Seungcheol.

"Yak! Apa yang kau lihat? Mengapa kau tersenyum-senyum seperti itu?"

Seungcheol pun tersadar "Ah.. Ye?"

"Daripada kau bengong kayak tadi, ambil tas itu, siapa tau ada pesan petunjuk bayi ini."

"Baiklah." Seungcheol pun memungut tas yang tadi ada di samping kardus tersebut. Seungcheol pun membuka tas itu dan melihat isinya.

"Astaga!"

"Ada apa?" Jeonghan pun penasaran dan langusng melihat isi tas itu juga. Ia lihat hanya sepasang baju dan celana bayi.

"Apa tidak surat tentang bayi ini? Dan alasan bayi ini mengapa dititipkan sama kita?"

Seungcheol hanya menggelengkan kepalanya.

"Terus bagaimana? Tidak mungkin kan bayi ini terus menerus memakai dua pasang pakaian ini kan setiap harinya?"

"Baiklah, mumpung hari ini hari minggu. Kita keluar jalan-jalan."

"Kemana?"

Seungcheol pun mengetuk kepala Jeonghan dengan tangannya, "Apa kau bodoh? Ya tentu saja kita beli pakaian dan keperluan bayi ini."

"Ah.. Ya ya ya, ternyata pria seperti mu peduli juga."

"Mama.. Papa..." tiba-tiba saja bayi itu menarik rambut panjang Jeonghan dan baju Seungcheol, dan membuat jarak mereka berdua semakin dekat. Karena jarak yang dekat tersebut, mata Jeonghan dan Seungcheol saling bertatapan, membuat jantung mereka berdegup kencang. Mungkin sampai terdengar oleh keduanya.

"Yak! Kau lepaskan kami!" teriak Jeonghan dan Seungcheol pada bayi itu. Tapi bayi itu tidak menghiraukan mereka dan masih saja tersenyum tanpa dosa. Akhirnya dengan terpaksa, Seungcheol melepaskan genggaman bayi itu pada bajunya dengan kasar. Karena sikap kasar Seungcheol, bayi itu kembali menangis.

"Hiks, hiks, huaaaaahaa..mamaaa" bayi itu menangis dalam gendongan Jeonghan dan masih menganggap Jeonghan ibunya.

"Aisssh, sudahlah kau jangan menangis lagi. Cup cup cup.. Ayo kita masuk. Tinggalkan dia disni." Jeonghan dan bayo itu pun masuk ke dalam rumah meninggalkan Seungcheol sendiri. Seungcheol pun akhirnya masuk kedalam rumah juga.

Seungcheol melihat Jeonghan sedang tersenyum pada bayi itu. Ia jadi membayangkan jika Jeonghan adalah istrinya dan bayi itu adalah anaknya.

"Seungcheol-ah apa kau masih punya persediaan susu? Susu yang di kulkas sudah habis, ku rasa bayi inj pasti lapar."

Seungcheol pun tersadar dari lamunannya. "Susu? Ah ada, ku rasa appa menyimpannya di lemari atas."

"Ah baiklah aku akan mengambilnya."

Jeonghan berusaha mengambil kotak susu yang ada di dalam lemari, tapi apa daya tinggi nya mencapai lemari tersebut. Seungcheol pun menghampiri nya dan membantu Jeonghan untuk mengambil kotak susu tersebut. Ketika Jeonghan hampir menyentuh kotak sus tersebut, Seungcheol juga menyentuh kotak itu, dan membuat tangan mereka menempel tak sengaja. Jeonghan pun kaget dan langsung menarik tangannya yang tersentuh Seungcheol. Seungcheol pun mengambil kotak susu, dan menyerahkan nya pada Jeonghan.

"Ini kotak susu nya. Kalau kau butuh bantuan bilang. Aku mau mandi dulu." Seungcheol pun tersenyum sambil mengusap-ngusap tangannya di rambut Jeonghan. Hal itu membuat wajah Jeonghan memerah.

Seungcheol menghentikan langkah nya, dan berbalik. "Jangan tersipu malu begitu. Cepat berikan makanan pada anak kita. Dia sudah lapar." Seungcheol pun melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.

"Yak! Apa maksudmu anak kita?! Yak! Choi Seungcheol!"

TBC