Tokyo, 25 Desember 2008
.
.
Suasana pagi dengan udara yang terasa begitu dingin sama halnya dengan hari-hari Natal di tahun-tahun sebelumnya namun pagi ini udara terasa lebih dingin membuat sosok perempuan muda dengan rambut cokelat ikal berantakan dalam tidurnya terlihat begitu pulas. Semalam dia sibuk menata pohon Natalnya seorang diri—sama seperti tahun-tahun sebelumnya— sehingga saat ini kantuk menyerangnya. Tidak ada yang spesial, tidak ada yang menyenangkan seperti hari Natal saat dirinya masih bersekolah di Hogwarts dan orangtuanya masih ada. Sebelum Voldemort merusak kebahagiaan kecilnya. Sebelum Death Eater membunuh orangtuanya yang bahkan kehilangan ingatan saat nyawa mereka terambil. Suara jam waker membangunkan tidurnya. Dia menggeliat malas dan meraih jam tersebut untuk mematikannya. Perlahan mata caramel indahnya terbuka, dia menguap pelan sebelum menyingkirkan selimut yang membelut tubuh langsingnya.
Hari ini dia diundang untuk merayakan hari Natal di kediaman Hyuga, keluarganya Hinata. Mereka sudah mengenal Hermione dengan baik meskipun kakak Hinata—Neji selalu menatapnya sinis. Entah mengapa, dia merasa lelaki –tampan—yang dikenalnya di Jepang ini selalu menatapnya sinis. Tapi dia tidak mau mengambil pusing hal itu toh Hinata, Hanabi, dan paman Hyuga menyambutnya dengan baik. Perayaan kali ini mengundang beberapa keluarga kecil di mansion besar Hyuga seperti keluarga Tsunemori, Minami, dan Ryutsu.
Hermione berjalan keluar untuk mengambil segelas air mineral di dalam pantry miliknya. Dia berjalan dengan pikiran yang melamun entah kemana sehingga sosok lelaki yang duduk di sofa dengan memegang kado kotak hadiah Natal tidak digubrisnya. Hermione membuka lemari es miliknya dan meneguk habis air dari botol kaca dan menyimpannya kembali. Dia berjalan menuju ruang santai miliknya berniat untuk merebahkan diri sejenak di kursi beludru merah favoritnya sebelum menyambar selembar handuk selembut sutra berwarna biru untuk berendam air hangat dengan aroma lavender kesukaannya. Matanya membulat ketika melihat sosok lelaki tampan yang tidak terlalu tinggi darinya tengah berdiri di dekat perapian, mata birunya menyiratkan kerinduan yang mendalam. Hermione membekap mulutnya sendiri tidak percaya dengan penglihatannya.
"Mione." Satu kata yang terucap dari mulut pemuda tampan ini berhasil membuat Hermione mengeluarkan air matanya. Dia berlari dan memeluk sahabatnya yang sudah sangat lama tidak ditemuinya. "Harry—" Ucapan Hermione terpotong dengan sendirinya. Dia tidak sanggup untuk mengatakan apapun. Hal ini benar-benar mengejutkannya. Harry James Potter membalas pelukan Hermione dengan hangat. Bibirnya tertarik membentuk lekukan senyum manis yang indah. "Lama tidak bertemu, aku merindukanmu Mione." Harry merasa pundaknya basah, dia melepaskan pelukannya pelan dan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi Hermione dengan ibu jarinya. "Sttt don't cry. Aku di sini bukan untuk melihatmu menangis." Ucap Harry mencoba untuk menenangkan Hermione. "Bagaimana—" Hermione kembali membekap mulutnya sendiri, dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Hal ini teralu mengejutkan di hari Natalnya. "Draco memberitahuku keberadaanmu, Mione setelah dia keceplosan bilang bertemu denganmu. Aku memaksanya untuk memberitahu keberadaanmu." Hermione memeluk Harry erat hingga sang empunya badan merasa kehabisan napas.
"Kuharap akulah orang pertama yang mendapatkan ucapan Marry Christmas darimu." Kekeh Harry mencoba mencairkan suasana. "Ma-maafkan aku Harry." Ucap Hermione merasa bersalah.
.
.
Harry Potter beserta karakter yang ada di dalamnya adalah milik JK. Rowling
You're Granger © Merisshintia97
Pairing : Hermione Granger x Draco Malfoy
Genre : Drama, Romance (Sewaktu-waktu bisa berubah/bertambah genre)
Rated : M (Saat ini masih T)
.
.
[ Happy Reading ]
.
.
"Apa kau tidak mempunyai televisi, Mione? Tempat tinggalmu begitu sunyi." Hermione memutar bola matanya dan menyimpan handuknya yang tadi dipakai untuk mengeringkan rambut setelah mandi dan keramas. Hari ini dia tidak jadi berendam lama seperti rencananya karena tidak mau membuat sahabatnya menunggu lama. Hermione duduk di samping Harry dan mereka mulai mengobrol kecil. Sesekali Hermione meminum cokelat panas favoritnya dan Harry meminum jus labu buatan Hermione. "Bagaimana? Rasanya jauh lebih enak dibanding dengan jus labu Hogwarts 'kan?" Tanya Hermione antusias tatkala Harry menghabiskan hampir setengahnya dalam sekali teguk. Harry tertawa pelan dan mengangguk, "Yeah ini jauh lebih terasa labunya dan juga manis." Jawab Harry jujur.
"Hu'um. Labu di Supermarket apartment ini memang enak dan selalu dalam keadaan segar ketika aku membelinya." Harry mengangguk-angguk mengerti. "Oh ya, aku tidak menyangka Malfoy akan memberitahumu di mana aku berada, Harry. By the way bagaimana keadaan bibi Molly? Ginny? Ron? Dan keluarga Weasley lainnya? Bagaimana juga dengan keadaan Teddy?" Tanya Hermione antusias. Harry tersenyum, "Daripada bertanya padaku, bagaimana kalau kau melihat sendiri keadaan mereka, Mione?" Hermione membelalakan matanya, "Tidak mungkin—"
"Kenapa tidak mungkin? Jepang-London hanya memakan waktu beberapa jam dengan pesawat dan kita bisa ber-apprate untuk ke London Sihir." Ucap Harry enteng tidak melihat kekhawatiran yang tergambar di raut wajah sahabat perempuannya ini. "Tidak Harry bukan begitu! Ini—"
"—Ah ya aku lupa. Datanglah Mione, malam tahun baru ini Ron dan Lavender akan menikah. Acaranya akan dilakukan di dunia Muggle! Di restoran Perancis mewah milik Blaise." Belum sempat Hermione menyelesaikan perkataannya, Harry dengan seenak jidatnya yang terkena sambaran petir itu memotong elakan kata Hermione. "WHAT?! R-Ron dengan Lav—Lavender?" Pekik Hermione tidak percaya. "Err, kamu sudah tidak punya perasaan khusus untuk Ron, kan?" Tuduh Harry. Hermione mendengus, "Tentu saja tidak! Aku hanya terkejut saja Harry. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Ginny?" tanya Hermione penasaran.
"Putus. Kami sudah tidak sama-sama lagi, Mione. Dia bersama D ean sekarang." Jawab Harry enteng seolah beban dua tahun yang lalu sudah hilang ketika Ginny memintanya untuk bersahabat saja.
"Ma-maaf. Aku tidak tahu Harry maafkan aku." Ucap Hermione lirih. Sahabat macam apa dia ini ketika sahabat terbaiknya dalam keadaan menyedihkan dia tidak ada di sampingnya bahkan tidak pernah bertukar surat walau hanya setahun sekali. Hermione merasa dirinya benar-benar bodoh dengan kabur ke Jepang dan menjadi Warga Negara Jepang meninggalkan Harry dan yang lainnya tanpa pamitan sama sekali.
"Sudahlah Mione lagian itu sudah dua tahun yang lalu. Tugas Auror benar-benar menyibukkanku Mione. Syukurlah aku bisa bertemu lagi denganmu." Hermione memeluk Harry lagi.
"Baiklah ayo kita datang ke acara Ron sama-sama Harry! Aku tidak mungkin datang tanpa pasangan." Harry bergerak gelisah, dia menatap sahabat cantik yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri olehnya itu dengan bersalah. "Maaf Mione sebenarnya aku sudah ada pasangan untuk datang ke acara Ron."
"Benarkah? Siapa perempuan beruntung itu, Harry?" tanya Hermione semangat. Harry tidak menduga dengan respon dari sabahatnya ini hanya bisa nyengir.
"Luna." Jawab Harry, "Luna Lovegood? Kau kencan dengannya?" Tanya Hermione tidak percaya. Harry menggelengkan kepalanya, "Tidak, Mione. Sebenarnya Luna memintaku untuk menemaninya karena saat pernikahan Ron, Neville harus melakukan tugasnya ke Venezuela." Jawab Harry tenang.
"Oh baiklah." Hermione mendesah pelan entah apa yang dipikirkan oleh otaknya yang cerdas itu. Dia kemudian memekik girang melihat kado yang Harry bawa yang disimpan di atas meja. "Merry Christmas, Harry! Maaf aku tidak punya kado apa-apa selain kado yang kubuat untuk keluarga Hyuga."
"Tidak apa-apa Mione." Harry kembali menyesap jus labunya hingga tandas. Dia berjalan kearah jendela luar kamar Hermione sementara gadis itu membuka dengan penasaran kado yang Harry bawa.
"Wow, apa ini benang wol asli, Harry? Kapan kau ke Ausie?" Tanya Hermione terkagum-kagum dengan hadiah sederhana yang diberikah oleh sahabatnya itu. Harry mengalihkan perhatiannya dan tersenyum simpul, "Saat mencarimu tiga tahun yang lalu." Jawaban Harry bagai menohok ulu hati Hermione. Perasaan bersalah kembali bersarang di hatinya.
"Maaf." Harry mendengus sebal, "Sudahlah Mione berapa kali kau akan mengatakan kata maaf? Daripada itu lebih baik kita jalan-jalan atau ke kediaman Malfoy untuk merayakan hari Natal ini." Ucap Harry semangat terdengar dari intonasi suara dan binar matanya yang jelas-jelas langsung ditolak Hermione.
Akhirnya mereka memutuskan untuk jalan-jalan disekitar apartement yang memang sangat besar dan memiliki ballroom dan kolam renang yang biasanya dipakai untuk pesta Natal. Mereka berjalan keluar dari kamar apartment Hermione dan menghilang dibalik lift.
.
.
You're Granger © Merisshintia97
.
.
"In contione incipat, et cito. Rex iam Jourell expectiantibus te.—Pertemuan akan segera dimulai, yang mulia. Raja Jourell sudah menunggumu—" Athar menganggukan kepalanya dan memasuki ruangan rapat besar keluarga Abellard. Dia mengangguk sopan ketika seluruh mata tertuju padanya. "Dimitte me mora—Maafkan keterlambatan saya—" Ucap bungsu keturunan Abellard itu. Dia mendudukan dirinya di kursi yang memang miliknya di samping pemuda pirang beriris biru cerah dengan tiga garis tipis di kedua pipinya menghiasi wajah tampannya. "Aku tidak tahu kau bisa telat, mate." Sindir Alex yang hanya di jawab dengan tatapan tajam dari Athar.
Pertemuan yang mencekam selama hampir tiga jam itu membuat beberapa pemuda penerus keluarga Abellard dan kerabat dari Abellard menghembuskan napas lega—kecuali Athar—
"Jadi kapan kita kesana? Apa kau sudah mendapatkan undangannya?" Tanya Alex santai. Athar menyeringai, "Tentu saja. Kerajaan Britania Raya tidak mungkin tidak diundang." Alex mengangguk-angguk mengerti. "Jadi kau akan datang dengan Cherry?" Tanya Alex prontal yang dijawab dengan delikan tajam dari si bungsu Abellard.
"A-ahaha sorry mate. Im iustus kidding—aku hanya bercanda—" Athar menggendikan bahu tidak perduli. "Mengapa para penyihir itu sangat merepotkan sih. Dan, kenapa mereka tidak mengatakan di mana itu Azkaban jadi kita tidak perlu repot-repot seperti ini." Athar melempar buku tebal berlambang salib terbalik pada Alex yang dijawab rintihan keras dari sang empunya kepala. "Berisik bodoh! Aku tidak tahu seberapa menyesalnya Mr. Arcangel punya cucu sepertimu." Alex mengerucutkan bibirnya kesal. Dia tidak suka bila dirinya—Alexander Aaraju Arcangel dikatai seperti itu meskipun oleh seorang Athar yang selalu bermulut tajam.
"Justru grandfa bangga dengan cucunya yang tampan ini!" Teriak Alex yang hanya dijawab dengan dengusan geli dari Athar.
.
.
You're Granger © Merisshintia97
.
.
"Aku tidak tahu apa masalahmu Mione, tapi kenapa kau terlihat sangat membenci Draco? Dia sudah bertobat, Mione." Ucap Harry penasaran saat mereka membahas tentang penerus keluarga Malfoy itu. Hermione tertawa merendahkan ketika mendengar Harry berujar seperti itu. Tobat? Jangan membuatku tertawa! Batin Hermione. Dia tidak ingin menyeruakan apa yang ada di kepalanya tentang si Malfoy junior itu. Tentang seberapa berengseknya dia telah menganggu aktifitasnya—ketenangannya dalam beberapa hari ini. "Sudahlah Harry aku sedang tidak ingin membahas musang pirang itu." Lirih Hermione.
"Umm, apa yang lainnya tahu kalau kau kemari untuk menemuiku?" Tanya Hermione.
"Tidak Mione. Aku ingin membuktikan terlebih dahulu kalau kau baik-baik saja baru aku akan memberitahu mereka." Jawab Harry jujur. "Tapi sepertinya aku tidak perlu memberitahu mereka, kau akan datang untuk memberikan kejutan di hari pernikahan Ron 'kan Mione?" lanjut Harry tidak membiarkan Hermione memotong kata-katanya. "Baiklah Harry." Jawab Hermione pasrah.
Seolah teringat sesuatu, dia menepuk jidatnya pelan. Hal itu berhasil menarik perhatian Harry, "Apa yang membuat gadis terpintar di Hogwarts ini menepuk jidatnya—"
"—Merlin! Aku lupa memberitahu Hinata kalau hari ini aku tidak jadi merayakan hari Natal di kediamannya! Aku tidak mau membuat mereka menungguku Harry!" Dengan cepat Hermione memotong kata-kata Harry dan menarik Iphone-nya untuk melakukan panggilan. Beberapa menit menunggu akhirnya Hermione mendudukan dirinya kembali di samping Harry dan menikmati acara natal mereka di ballroom apartmentnya dengan orang-orang yang tidak dikenal mereka. Harry tersenyum, "Aku mendapatkan kado natal terbaik tahun ini, Mione." Harry menerawang jauh keluar jendela yang sangat lebar yang menampilkan panorama kota Tokyo yang selalu ramai terutama di hari besar seperti sekarang. "Wow selamat Harry. Apa itu?" tanya Hermione penasaran.
"Kau, sahabatku kembali." Ucap Harry menatap Hermione hangat. Mereka kembali berpelukan dan saling mengucapkan Marry Christmas.
.
.
You're Granger © Merisshintia97
.
.
H-3 sebelum acara pernikahan Ronald Billius Weasley dan Lavender Brown dilaksanakan, Hermione mendorong koper miliknya keluar dari Bandara Heathrow. Kacamata hitam yang bertengger dengan sangat indah dan mempercantik penampilannya itu berhasil menarik perhatian kaum adam yang melihatnya. Hermione berjalan lurus tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya. Hermione berjalan memasuki W.H. Smith, supermarket kecil yang harganya lumayan mahal tapi rasa hausnya membuatnya tidak perduli toh dia mendapatkan tiket pesawat pulang pergi dengan gratis—Harry memberikannya— dia membeli sebotol air mineral. Tidak lama dia memanggil taxi London dan menaikinya. "Jubilee Hotel." Ucapnya pada sang supir. Salah satu hotel termurah di Inggris yang terletak dekat dengan Victoria Station. Dia tidak ingin menghabiskan uangnya dengan bermalam di hotel yang mahal toh besok dia mulai tinggal di apartmentnya yang ada di Dunia Sihir yang diberikan oleh Kementrian sihir atas jasanya sebagai Pahlawan Perang dalam melawan Voldemort.
._.
"Single bedroom." Ucap Hermione. "Baiklah, $200, miss." Hermione mengeluarkan dua lembar uang dan menukarnya dengan kunci kamarnya.
Dia merebahkan badannya di atas spring bed dan menarik Iphone 6 miliknya, dia menekan layar call dan menyalakan pengeras suara. "Hallo?" Suara lelaki dari seberang sana menyahutnya. "Harry, aku sudah di London dan aku menginap di salahsatu hotel malam ini. Jangan mencariku, besok kita bertemu di The Three Broomstick di Hogsmeade, OK?" Ucap Hermione dalam satu tarikan napas. Suara helaan napas terdengar dari seberang telpon dan jawaban baiklah mengakhiri percakapan mereka.
Hari berganti dengan begitu cepat, tidak terasa hari ini adalah H-2 sebelum sahabat sekaligus pacar pertamanya akan menikah dengan perempuan lain yang pernah dicemburui olehnya. Hermione menyisir rambutnya setelah menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Efek penggunaan conditioner yang rutin setelah keramas berhasil membuat rambutnya halus dan berkilau meski tetap mengembang di bawahnya namun hal itu justru mempercantik wajahnya. Dia mengoleskan lipbalm tipis dan tersenyum simpul pada dirinya dibalik pantulan cermin. "Sempurna!" Ucap Hermione kemudian menyambar tas serbaguna miliknya dan menarik koper untuk menuju Hogsmeade. Sesuai janjinya dengan Harry, mereka akan bertemu jam 2 tepat dan Hermione tidak mau membuat lelaki itu menunggu lama dirinya.
Ketika dirinya menunggu bis yang akan membawanya ke tempat penghubung antara London Muggle dan London Sihir—Leaky Cauldron. Sebuah mobil Ferari hitam melintas di depannya dengan kecepatan di atas rata-rata, mata Hermione menyipit untuk memperhatikan plat nomornya. "Ck. Awas saja kalau melintas lagi di depanku, habis kau!" Dengus Hermione karena kini rambutnya sudah acak-acakan dan mantel bulunya terkena cipratan dari genangan es yang mulai mencair.
Hermione berhenti di Charing Cross Road, dengan cepat dia memasuki Leaky Cauldron. Mengapa dia tidak ber-apprate untuk ke dunia sihir? Entahlah Hanya Hermione yang tahu. Leaky Cauldron masih sama saja dengan saat terakhir kali dia kemari—Kumuh dan tua— setelah sampai di tempat tujuannya, Hermione segera memasuki The Three Broomstick dan menunggu sahabatnya. Seorang pelayan perempuan menghampirinya untuk mencatat pesanan Hermione. "Butterbear." Si Pelayan mengangguk dan segera pergi.
Tidak lama seorang lelaki tampan berambut hitam berantakan dengan kacamata yang bertengger di wajahnya menghampiri Hermione. "Welcome back, Mione." Ucap Harry. Untunglah saat ini suasana The Three Broomstick tidak terlalu ramai jadi tidak akan terlalu menarik perhatian dengan kedatangan seorang pahlawan perang ke sini. Mereka mengobrol singkat dan bergegas pergi menuju tempat tinggal yang diberikan Kementrian Sihir untuk Hermione. Harry menunjukan jalannya.
"Umm, thanks Harry. Terima kasih untuk segalanya." Ucap Hermione. Harry tersenyum manis dan memberikan kunci apartment Hermione, "No need, Mione. Aku senang kau kembali meskipun tidak selamanya, kau akan tetap kembali ke Tokyo melanjutkan studimu 'kan." Jawab Harry.
"Ah, maaf Mione aku harus segera pergi masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Sampai jumpa besok pagi. Aku akan menjemputmu untuk menunjukan gereja dan tempat resepsi pernikahan Ron." Hermione mengangguk dan Harry pergi ber-apprate.
._.
H-1 sebelum pernikahan Ron. Hermione sudah membereskan barang-barangnya dan sekarang saatnya untuk berendam sebelum Harry menjemputnya jam 11 nanti. Hermione masih tidak menyangka dia akan kembali ke London setelah lima tahun menghilang dan di hari pernikahan sahabatnya dia baru akan menunjukan dirinya pada yang lainnya bahwa satu-satunya keturunan Granger telah kembali. 1 jam berendam dan dia mematut dirinya di depan cermin. Memilih pakaian kasual favoritnya dengan celana jeans hitam dan kemeja sappire blue. Tidak lama suara seseorang berapprate kedalam kediamannya, tidak perlu menduga siapa orangnya karena hanya ada satu orang yang tahu—Harry
"Aku tidak ingin berjalan kaki menuju Restoran milik Blaise. Kita ber-apprate, Mione." Harry dengan cepat membawanya ber-apprate dan kini mereka ada di dalam gang sempit sebelum muncul di jalan raya dan tepat di samping restoran mewah milik Blaise. Harry membawanya memasuki restoran dan langsung disambut baik oleh sang pelayan.
"Bukankah itu Draco? Ayo Mione kita ke sana!" Harry mengamit tangan Hermione dan membawanya pada pasangan lelaki pirang platina dengan seorang perempuan berambut hitam agak kecokelatan yang duduk saling menghadap. "Harry apa sebaiknya kita—"
"—Harry Potter, apa yang membuatmu kemari?" perkataan Hermione terpotong oleh suara Draco yang menyadari keberadaan orang lain menghampiri mejanya. Mereka saling berpelukan dan Astoria-pun ikut berpelukan hangat dengan Harry seolah mereka adalah teman lama. Hermione bergerak gelisah, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Malfoy junior di sini. "Hallo, Granger." Hermione tersenyum tipis, "Hallo Greengrass." Jawab Hermione membalas sapaan bungsu Greengrass itu. Draco menatap Hermione dalam namun gadis itu mengalihkan perhatian tidak mau menatap mata abu-abu lelaki pirang di depannya ini. "Aku ke toilet dulu, Harry." Ucap Hermione memecah keheningan diantara mereka.
._.
"Ma-maaf." Ucap Hermione ketika bahunya menabrak dada bidang seseorang, dia tidak menatap orang yang ditabraknya hanya kembali berjalan melewati lelaki dengan aroma maskulin menyerang penciumannya. "Granger—" Ucap lelaki itu tergantung karena si empunya nama sudah menghilang dibalik pintu bertuliskan toilet khusus wanita.
Setelah hampir lima belas menit di toilet akhirnya Hermione kembali ke tempat Harry dan yang lainnya, "Sorry Harry aku harus segera menyiapkan persiapan untuk ke acara Ron besok." Harry segera menegakan badannya, Hermione menatap Harry dengan puppy-eyes andalannya hingga akhirnya Harry menghela napas pasrah, "Baiklah Mione biar aku antar kau pulang. Draco, Tori, kami pamit pulang duluan. Sampai jumpa besok!" Ucap Harry.
"Baiklah hati-hati Harry, Herm—Granger." Jawab Draco, dia mengepalkan tangannya saat melihat Hermione mengacuhkannya dan pergi bersama Harry.
"Apa mereka sekarang jadi pasangan ya, Drake?" tanya Astoria. Draco mendengus kesal,
"Bukan urusanku, Tori. Berhenti mengajakku bergosip." Jawab Draco dingin. Sesaat bungsu Greengrass ini menahan napasnya mendengar nada yang keluar dari mulut tunangannya. "Terserah kau sajalah." Ucap Astoria cuek dan kembali memakan makanannya.
._.
Hari Pernikahan Ronald Billius Weasley dengan Lavender Brown di Katedral Canterbury berlangsung dengan sangat ramai. Banyak dari berbagai kalangan baik itu warga sihir ataupun muggle yang menghadiri acara pengikraran janji suci antara kedua mempelai wanita dan mempelai pria. Hermione datang seorang diri karena Harry sudah tiba lebih awal dan menjadi pendamping keturunan Lovegood. Hermione turun dari taxi yang dikendarainya, dia merapikan gaun brokat berwarna ungu muda dengan dipadukan kain sifon lembut berwarna ungu tua selutut miliknya. Penampilannya sekarang sangatlah elegan, feminim, dan menghanyutkan setiap lelaki yang melihatnya. Tatanan rambutnya digelung tinggi dengan beberapa anak rambut yang turun menghiasi wajah cantiknya. Bibirnya diolesi lipstick berwarna merah muda dan riasan wajahnya tampak natural. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang lelaki pirang yang sudah sangat dikenalnya turun dari dalam mobil lamborghini dengan seorang perempuan cantik bergaun putih dengan belahan dada yang rendah. Hermione berdecih kesal dan pura-pura tidak melihat pasangan yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Lagi-lagi langkahnya terhenti ketika lelaki yang diakuinya tampan—sangat malah— menghampirinya dengan seringaian tipis di wajah yang bak patung yunani kuno itu. Dia memakai tuxedo abu-abu dengan dasi senada membuat penampilannya sangat perfect. "Aku menunggumu sedari tadi—"
"—Apa yang kau lakukan di sini, U—" Hermione mematung di tempat ketika lelaki yang menurutnya sangat menyebalkan ini memotong kata-kata yang belum sempat diselesaikan itu mendekatkan bibirnya ketelinganya dan membisikan kata, "—Panggil aku Athar, Granger. Athar Sharkan Abellard." Desis Sasuke tajam.
.
.
.
—Bersambung—
[[Bandung, 05/08/16 Pukul 01.00pm]]
A/N : WHAT THE HELL! Maafkan aku kalau chapter ini terlalu bertele-tele :( Sesi percakapan Mione x Draco pun tidak ada kebanyakan dialog Harry-Mione karena chapter sebelumnya sudah full dengan percakapan antara Draco x Hermione. Di chapter ini keluarga Witch Hunter mulai melakukan aksinya dengan melakukan pertemuan keluarga, Sasuke Uchiha itu nama samaran seorang Athar Sharkan Abellard di Jepang. Abellard di kenal sebagai keluarga kerajaan Britania Raya turun-temurun—karangan Author dan hanya ada di fanfic ini— dengan Athar sebagai pangeran muda Britania.
Sekian cuap-cuap dari Author. Untuk review CH-3 kemarin saya ucapkan banyak terima kasih pada :
Cherry, aquadewi, Whelly573, NabilaAnanda, Staecia, hyo-chan, LuciusAbraxas.M, puma178, rikarika, guest010, dan untuk Silent reader lainnya :)
Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa next chapter.
Salam hangat,
Meris Shintia
