"Kau mencintainya kan?" Desak Hermione. Dia mendengus kesal, "Persetan dengan hal itu, Granger. Dia mencintai kakakku." / Aku sekarang jauh lebih kuat, Granger! Ya mereka melakukannya padaku, memperlakukanku seperti binatang dengan beribu jarum yang menusuk kulitku. Menurutmu apa yang akan kau lakukan jika mereka kembali menggunakan rumahmu sebagai markas mereka, ha?" Ucap Draco tajam. / "Tapi, Abellard bukan tandinganmu—"/"—Kau mencintai bedebah itu, Granger?"
.
[WARNING! Sumarry berganti setiap 4 chapter ]
.
Harry Potter beserta karakter yang ada di dalamnya adalah milik JK. Rowling
You're Granger © Merisshintia97
Pairing : Hermione Granger x Draco Malfoy
Genre : Romance, Fantasy, Drama, Hurt/Comfort
Rated : M (Saat ini masih T)
.
.
[ Happy Reading ]
.
.
Chapter 5
Draco melihatnya, ya dia melihat gadis itu mengenakan balutan gaun yang anggun berwarna ungu yang entah kenapa hal itu justru membuat dirinya di mata kelabu Draco tampak seperti gadis berumur 18 tahunan. Seulas senyum tipis terpatri di wajah tampannya itu saat tahu kalau Hermione datang seorang diri. Gelayutan manja di tangannya membuat Draco sadar bahwa dia tidaklah seorang diri. Melihat bungsu Greengrass seolah menampar dirinya sendiri keujung lorong hitam yang tidak ada ujungnya, hal itu membuatnya merasa miris. Memikirkan perjodohan yang dilakukan orangtuanya dengan orangtua Astoria benar-benar memuakan. Anehnya, dia tidak menolak—tidak bisa menolak— sama sekali. Ya, dari sejak kecil seorang Draco Malfoy tidak pernah diberikan kesempatan untuk memilih jalan hidupnya, kan. Dia tidak pernah mengira penderitaan yang akan dihadapinya berkepanjangan seperti ini walaupun Pangeran Kegelapan—Voldemort—sudah dikalahkan.
Suara sebuah dering telpon mengintrupsi jalan kedua pasangan muda ini. Astoria mengangkat telponnya dan menjauh dari Draco, hal itu berhasil membuat Draco bernapas lega. Akhirnya tangannya bisa terbebas dari gelutan manja yang membuat tangannya pegal bukan main. Draco melihat seseorang yang sangat diantisipasi olehnya menghampiri gadisnya—Hermione. Draco mengepalkan tangannya, aura hitam mengelilingi tubuhnya ketika dia melihat lelaki itu mendekatkan bibir—yang menurutnya—busuk itu ke telinga Hermione. Baru selangkah, suara Astoria menghentikannya. "Draco, Daphne dan Theo kecelakaan. Mom menelponku barusan, dia mengatakan mereka dalam keadaan kritis saat ini." Ucap Astoria, wajah cantiknya menampakan kegusaran yang sangat jelas. Draco menggenggam tangannya untuk menenangkan perempuan yang bagaimanapun tidak dapat dibencinya walaupun dia ingin. Astoria balik menggenggam tangan Draco, "Sorry, Draco. Apa kau tidak keberatan datang ke pernikahan Ron sendiran? Aku harus pergi—"
"—Tidak Tori, ayo kita pergi bersama-sama." Ucap Draco memotong perkataan Astoria. Perempuan itu menggeleng cepat. "Tidak Draco! Bagaimanapun kau harus mengembalikan imej keluargamu di mata masyarakat sihir, dengan hal ini tidak akan ada lagi yang mencurigai keluargamu, keluarga kita, Drake. Kau tetap harus datang, Draco." Entah kenapa, mendengar ucapan Astoria justru membuatnya mendengus. Mengembalikan imej keluarga agar tidak dicurigai. Persetan dengan semua itu! Mata kelabu miliknya menggelap, dia melihat gadisnya di bawa masuk oleh lelaki sialan itu. Draco mengalihkan perhatiannya pada tunangannya, "Baiklah Tori." Ucap Draco dan mereka berpisah saat Astoria memanggil taxi dan menghilang. Dengan cepat Draco masuk kedalam gereja, tangannya mengepal. Entah apa yang ada dipikirannya tapi dia kesal bukan main.
"Granger." Ucap Draco agak berteriak karena banyak sekali orang yang menghadiri acara sakral pernikahan ini, namun sepertinya gadis itu merasakan kehadirannya karena dia menghentikan langkahnya dan begitu pula dengan lelaki di sampingnya yang sama-sama menghentikan langkahnya. Banyak dari tamu undangan yang ingin melihat acara sakral pernikahan salahsatu dari Trio Emas Gryffindor itu melihat mereka dengan pandangan penasaran. Bisik-bisik mulai terdengar ketika lelaki tampan—sangat tampan—yang belum pernah mereka lihat tengah menggenggam erat tangan perempuan familiar bergaun ungu dengan rambut di sanggul tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang indah. Banyak yang menerka-nerka apa gadis ini 'Granger' yang itu? Ya, apa gadis ini Hermione Granger?
Merasa terkejut mendengar suara seseorang yang sudah dikenalnya memanggilnya, Hermione membalikan badannya. Draco batinnya. Dia tersentak saat merasakan tangan yang besar menggenggam tangannya, terasa hangat namun dia dengan cepat menghempaskan tangan lelaki di sampingnya yang hingga saat ini masih menunjukan ekspresi stoic-nya. Draco menghampiri mereka, dia menatap tajam pria berambut hitam dengan kulit seputih porselen tanpa ekspresi di wajahnya dan menarik Hermione untuk berada di dekatnya. "Kau bersamaku, Mione." Ucap Draco dan anehnya, Hermione menurutinya. Menurutnya dia lebih baik berada dekat dengan Malfoy junior daripada dengan lelaki itu. Ekspresi Athar bertambah dingin ketika melihat mereka berjalan beriringan menjauh darinya.
"Granger." Desis Athar tajam. Dia tidak pernah ditolak oleh perempuan manapun seperti yang dilakukan penyihir kecil itu. Seringai tipis menghiasi wajah tampannya. Beberapa perempuan yang melewatinya tidak pernah melepas pandangan menggoda mereka.
"Apa yang Pangeran Britania lakukan di depan pintu masuk seperti orang jomblo, eh?" Athar mendelik tajam, "Bukan urusanmu." Alex memukul bahu Athar kesal, "Kau ini menyebalkan sekali. Ayo kita jadi pasangan saja biar mereka tidak menatapmu lapar seperti itu." Dagunya menunjuk beberapa perempuan yang terang-terangan menatap mereka berdua. "Aku bukan maho, sialan." Tapi mereka tetap masuk berdampingan dengan kedua tangan mereka yang dimasukan kedalam saku celana masing-masing. "Apa kau siap untuk pertunjukannya?" bisik Alex. "Hn. Aku selalu siap." Dan mereka menduduki bangku diposisi tengah-tengah diantara para tamu yang lainnya untuk menyaksikan acara sakral penyatuan cinta targetnya itu.
.
.
You're Granger © Merisshintia97
.
.
"Kau berhutang padaku, Granger." Hermione memutar bola matanya malas. Mereka memilih duduk di bangku deretan kelima agar tidak terlalu mencolok dan terkubur diantara yang lainnya. Dia ingin memberi kejutan atas kehadirannya pada Ron, keluarga Weasley, dan teman-teman yang lainnya yang rata-rata mereka memilih untuk memenuhi kursi deretan depan. "Aku tidak meminta kau untuk melakukannya, Malfoy. Tapi, aku benar-benar berterima kasih." Ucap Hermione tulus. Draco menatap gadis di sampingnya yang benar-benar cantik. Dia tidak menyesal telah menyukainya sejak berumur 13 tahun karena Hermione memang sangat cantik. "Baiklah tapi apa yang dilakukan tetangga apartment-mu itu di sini?" tanya Draco penasaran. Hermione menggeleng, "Aku tidak tahu, Malfoy. Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?" usul Hermione yang dijawab dengan delikan tajam dari penerus keluarga Malfoy itu. "Apa kau tidak lihat bagaimana ekspresinya tadi? Kau yakin dia manusia?" canda Draco yang terdengar garing namun entahlah, hal itu berhasil membuat Hermione tertawa kecil, "Kau itu orang yang kesekian yang mengatai ekspresinya. Akupun pernah berfikiran seperti itu. Tapi, kenapa kau kemari sendirian? Aku tadi melihatmu bersama tunanganmu itu." Ucap Hermione sedikit sebal jika mengingat lelaki di sampingnya ini sudah bertunangan tapi tetap saja menganggunya. "Kau cemburu?" goda Draco yang berhasil membuat Hermione mengeluarkan semburat merah di kedua pipi putihnya. "Dalam mimpimu!" kali ini giliran Draco yang tertawa yang berhasil membuat orang di depan, samping, dan belakang mereka mengalihkan perhatiannya. Menatap Draco tajam seolah memperingatkan untuk diam karena acara akan segera di mulai.
._.
Sampai saat sahabatnya itu menaiki altar, Hermione belum melihat batang hidung sahabat-sahabatnya yang lain semasa di Hogwarts—bahkan Harry. Dia yakin 100% seberubah apapun penampilan mereka, Hermione pasti bisa mengenalinya. Penampilan Ron di atas altar benar-benar mengagumkan dengan balutan jas putih senada dengan dasi dan celana bahan yang dikenakannya dan bunga mawar merah yang terselip di saku atas jas putihnya semakin mempertampan penampilan Ron hari ini. Ron tampak dewasa dan tampan dengan rambut merahnya yang disisir rapi ke samping, benar-benar berbeda dengan Ron saat dia masih berstatus pacarnya. Suara alunan musik menandakan sang mempelai wanita telah tiba membuat semua orang melirik ke pintu masuk. Hadir sosok perempuan yang cantik dengan balutan gaun putih panjang yang menyapu lantai tanpa lengan dan sarung tangan putih sampai siku memasuki gereja dengan membawa sebuket bunga indah, berjalan di atas karpet merah dengan diiringi tiga orang perempuan yang sudah dikenalnya, Ginny Weasley, Luna Lovegood, dan yang paling mengejutkan—Pansy Parkinson!
"Sampai kapan kau akan merasa iri pada Brown, Granger?"
"Owh shut up Malfoy!" Hermione menempelkan jari telunjuknya tepat pada bibir Draco. Melihat seringaian yang terpatri di wajah –yang sialan selalu membuat Hermione betah memandanginya— itu dengan cepat Hermione menarik kembali tangannya tapi Draco menahannya dengan menautkan jari jemari mereka. "Jangan bergerak dan nikmati bagaimana mereka saling mengikat janji lalu berakhir dengan ciuman panas yang akan segera disuguhkan di hadapan kita—"
"—tidak bisakah kau menutup mulutmu itu, Malfoy?" Dengus Hermione kesal. "Sayangnya tidak bisa bila ada kau di sampingku. Kau tahu, membuat wajahmu merona seperti itu menjadi kesenangan tersendiri untukku." Dengan kasar Hermione melepaskan tangannya yang bertautan jari dengan Draco kasar, "Aku? Merona karenamu? Hell! Dalam mimpimu Malfoy, dan asal kau tahu, perempuan manapun pasti akan merona bila tangannya di genggam oleh lawan jenisnya terutama jika—" Hermione menghentikan ucapannya saat sadar dia akan salah ucap. "—Jika oleh pria yang dicintainya." Lanjut Hermione dalam hatinya. "—Jika apa, Granger?" Desak Draco,
.
"—Dalam senang ataupun susah?" Tanya si pendeta. "Aku siap!" jawab si pengantin wanita tanpa keraguan sedikitpun. Mereka saling menggenggam tangan dan mendekatkan wajah mereka untuk melakukan ciuman setelah mereka sah menjadi suami istri. Hermione mendengus kesal, "Gara-gara kau aku melewatkan pengikraran janji suci yang mereka ucapkan, Malfoy!" Draco hanya menyeringai menatap gadis di sampingnya yang kini mengacuhkannya. Draco mendekatkan bibirnya pada telinga Hermione, "Kau berhutang penjelasan, Mione."
Mendadak suasana alunan musik yang mengiringi itu berhenti, riuh orang-orang yang seharusnya saat ini bertepuk tangan 'pun tidak ada. Hermione melihat orang-orang yang hendak berdiri untuk bertepuk tangan itu mematung. Pasangan muda di altar yang hendak berciuman pun mendadak saling diam seperti patung. Hermione menatap sekeliling, dia menutup mulutnya tidak percaya. Waktu seolah terdiam, jarum jam tidak bergerak sama sekali seolah kehabisan batu baterai, tapi kenapa dirinya tidak diam seperti yang lainnya?
Dia menatap Draco di sampingnya tidak bergerak sama sekali dengan seringai jahil di wajahnya. Hermione menyentuh wajah Draco—dingin. Ada apa ini? Batin Hermione.
TAP
TAP
TAP
TAP
TAP
Suara langkah ringan terdengar begitu menggema di ruangan yang mendadak sepi ini. Hermione menatap sosok lelaki jangkung dengan balutan jas berwarna abu-abu dengan rambut hitam berjalan di atas karpet merah menuju altar. "Uchiha?" batin Hermione tidak percaya. Dia terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu, sungguh mengejutkan ketika keturunan Abellard itu menepuk pundak si pengantin lelaki hingga dia terlepas dari jerat kekuatannya. "Athar Abellard?" Ucap Ron pelan. Apa yang di lakukan Pangeran Britania itu di depannya saat ini? Harusnya dia berciuman dengan Lav Lav-nya! Batin Ron kesal.
"Hn. Katakan padaku di mana benda itu, Weasley?" Ron tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Athar. Dia malah mengedarkan pandangannya berkelililng, semuanya diam. Benar-benar sepert patung. Begitu pula dengan Lavender di sampingnya yang kini tengah mendongakan kepalanya untuk melakukan ciuman pasca pengikraran janji suci.
"Ada apa ini, Abellard? Kenapa semuanya seperti patung?" Ucap Ron histeris ketika dia mendapati keadaan berubah dengan sangat tidak semetinya. Athar yang lebih tinggi 15 cm dari Ron itu mencekik leher lelaki di depannya. Auranya saat ini benar-benar gelap, "Jangan membuatku mengulang ucapanku, Weasley. Aku tidak ingin membunuh." Tegas Athar tajam. "B-benda apa maksudmu?" gugup Ron. Dia benar-benar tidak mengira kehadiran Pangeran Britania justru memperburuk acaranya dan dia tidak tahu apa yang dilakukannya hingga orang-orang terdiam bagai patung dan itu dalam waktu yang lama. Dan, hanya penyihir dengan tingkat tinggi yang mampu menggunakan mantra Pararo Tempo itupun tidak dalam waktu yang lama. Setahu Ron, mantra penghenti waktu itu akan berpengaruh pada semua orang dan tidak bisa dilepaskan hanya pada satu orang target. Jika dilepaskan maka semua pengaruh mantra akan terhenti.
"Hn. Baiklah aku tidak ingin membuang waktuku, di mana benda-benda penampung jiwa milik Voldemort?" Ron diam mematung. Dia memang menyimpannya lima tahun yang lalu sebelum sahabat perempuannya mengambilnya, mengatakan dia akan menyimpannya. Ron mencoba menggunakan mantra non verbal untuk memanggil tongkat sihirnya namun cekikan di lehernya semakin kuat. "Kau mencoba menggunakan mantra." Desis Athar tajam. Bulu kunduk Ron meremang, bagaimana mungkin dia tahu bahwa aku sedang mencoba melakukan mantra? Batin Ron, "Ba-baik-lah ku-mo-hon le-pas-kan du-lu." Dan Athar melepaskannya hingga Ron jatuh terduduk. Dia tidak mungkin mengatakannya ada pada Hermione, bagaimana jika sahabat yang pernah menjadi pacarnya yang telah hilang lima tahun yang lalu diincar oleh lelaki di depannya ini? Ayo Ron kau harus memutar otakmu!
"Kementrian sihir. Aku menyerahkannya pada kementrian sihir." Tidak sepenuhnya bohong, Ron memang menyerahkannya pada kementrian sihir sebelum Hermione mengatakan akan mengambilnya dari kementrian sihir dan menyimpannya. Iris hitam milik Athar berubah warna, merah dengan tiga buah titik di dalamnya. "Kau tahu, aku bisa merasakan saat seseorang berbohong."
"Ta-tapi aku tidak berbohong. Aku memang tidak memilikinya—"
"—Tapi kau tahu di mana benda itu berada saat ini." Ron diam. Dia yakin seratus persen bahwa Pangeran Britania ini penyihir gelap seperti Voldemort.
"Sumpah aku tidak tahu dimana benda keparat itu." Pekik Ron gusar. Dia tidak mau menatap mata merah di depannya, menurutnya itu lebih menyeramkan dibanding mata merah milik Voldemort. Seketika lampu padam. Penerangan digantikan dengan cahaya merah yang berpedar keseluruh penjuru dengan sebuah lingkaran di luar dan dipadukan dengan segitiga yang di tengah-tengahnya lambang salib terbalik berada di langit-langit gereja. Kaca besar di gereja itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang menghasilkan bunyi memekakan telinga. Ron bergetar hebat melihat keadaan saat ini, apa aku akan mati di hari pernikahanku sendiri? Batin Ron.
"Kumohon hentikan semua ini. Liontin Salazar Slytherin bekas Hocrux ada padaku, jika itu yang kau inginkan." Ron mengalihkan pandangannya, melihat sahabat perempuannya berdiri dengan mengacungkan tongkat sihir yang bergetar berada di tangannya. Seketika semuanya kembali normal, lampu kembali menyala namun semua orang tetap seperti patung dan kaca jendela tetap pecah tidak kembali seperti semula. "Hermione?" Ucap Ron tidak percaya dengan penglihatannya. Setetes air mata mengalir di wajah cantiknya, bukan ini yang ingin Hermione lihat saat Ron melihatnya kembali. "Kumohon kembalikan semuanya seperti semula, Uchiha. Aku akan menurutimu." Perlahan iris mata Athar kembali seperti semula. Hitam bak batu onyx yang tajam. "Mione apa yang kau lakukan? Benda itu tidak berada bersamamu itu ada di kementrian sihir." Teriak Ron.
Hermione tersenyum sedih melihat Ron yang berusaha mati-matian untuk melindunginya. "Tidak Ron. Aku bisa melindungi diriku sendiri, selamat atas pernikahanmu." Ucap Hermione di sela air matanya yang mulai turun membasahi pipinya. Athar menghampiri Hermione, membuat tongkat sihir milik gadis itu terbakar oleh Black Fire miliknya dan terlepas dari tangan si pemilik. Athar menarik tangan Hermione dan membawa perempuan itu keluar dari gereja meninggalkan Ron yang berteriak mencoba menghentikan Hermione yang kini menolehkan kepalanya kebelakang, bibirnya mengucapkan kata tanpa suara yang tidak dipahami oleh Ron sebelum menghilang dibalik pintu yang kini kembali tertutup.
"Semua sudah kembali seperti semula, Hermione." Ucap Athar ketika mereka sudah berada dalam mobil ferari hitam miliknya. Dengan kasar Hermione menghapus air matanya yang menetes membasahi pipinya, "Ternyata kau memang benar pemburu penyihir, Uchiha." Ucap Hermione tajam. "Berhenti memanggilku seperti itu, Uchiha Sasuke bukan namaku."
"Berhenti memanggilku Hermione, kau tidak berhak memanggilku seperti itu."
"Hn. Tapi Her-my-oh-ne Jane Granger itu namamu." Jawab Athar mengeja nama yang menurutnya unik ini, dia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata membuat Hermione mengepalkan tangannya erat. "Kemana kau akan membawaku?" Teriak Hermione kesal takut frustasi ditambahkan jadi satu. Athar tidak mengindahkan teriakan gadis di sampingnya, dia justru menikmati ketakutan yang tergambar dengan sangat jelas pada wajah gadis di sampingnya itu. Aku harus memastikannya—batin Athar melirik Hermione yang memegang erat tas selempengannya.
"Kerajaan Britania."
.
.
.
.
Bersambung
A/N : Hello semuanya. Terima kasih untuk yang masih setia me-review dan membaca fanfic-ku ini.
Kali ini aku ingin membalas satu persatu pe-review chapter keempat kemarin, check this out guys!
Aquadewi : Hei, terima kasih sudah mengikuti ff-ku sampai sini :) Sudah lihat reaksi orang-orang di gereja 'kan? Pada akhirnya DraMione jadi pasangan ke gerejanya meskipun cuman bentar keburu Abellard bertindak haha. Thanks for your review :)
Guest : Haduh gimana ya, ikutin terus aja ya alur ceritanya karena sampai sekarang belum kepikiran buat bikin pairing lain selain DraMione. Thanks for your review :)
Dracoola : Jadi crossover sih seharusnya tapi saya ga tahu caranya mengubah statusnya jadi Crossover dari single :( Jadi dibuat Harry Potter aja. Thanks for your review :)
Staecia : Hei, terima kasih sudah mengikuti ff-ku sampai sini :) Ini udah ada lagi DraMionenya huahahaha. Konflik antara Ginny Harry bakalan di ceritain juga kok tapi mungkin sekitar chapter ke-10 atau ke-11 soalnya di chapter ke-6 sampai nanti 9 bakalan fokus ke konflik utama dulu :) Thanks for your review :)
V : Jadi crossover sih seharusnya tapi saya ga tahu caranya mengubah statusnya jadi Crossover dari single :( Jadi dibuat Harry Potter aja. Thanks for your review :)
Cherry : Huaahahaha boleh juga tuh sarannya :) tapi sayangnya Sakura di sini bukan penggemar penyihir. Next chapter bakalan di ceritain siapa itu Sakura sebenarnya ya, Thanks for your review :)
Puma178 : *Garuk-garuk kepala* Haduh maaf ya Puma kalau itu membuatmu kebingungan Soalnya aku biasanya buat keterangannya itu di akhirnya ga suka di awal-awal soalnya aku takut buat pembaca keganggu gara-gara di awal sudah banyak bacot /? Hahaha Thanks for your review :)
Blackeyes101 : Hwaaaaahhh haloooo kakak seniooorr X_X exited banget pas baca review dari kakak yaampun gak nyangka ada kating yang baca ffku hahaha. Oh iya, maksudnya Draco yang merusak hubungan Hermione itu gimana? *gagal paham* Hermy ga punya hubungan apapun sama siapapun kak. Oh ya makasih untuk review dan favoritnya ya!
Hinaruto hyuga : Tenang aja kok Draconya nggak akan lemah :) Thanks for your review :)
.
.
Terima kasih untuk dukungannya sampai sekarang, guys! Hope you enjoy with this chapter.
See you next time..
Meris S
