Halo, terima kasih untuk semua yang sudah membaca chapter 1. Sekarang, selamat membaca chapter 2! ^_^
Disclaimer dan glossary ada di chapter 1. Seperti sebelumnya, chapter ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang bisa dilihat di akun AO3 saya (neoratu), atau wattpad (neoratu). :D
Mimpi Hitam Putih
Two
2015, Spring. Palace Hotel Tokyo.
Pukul empat dini hari di awal Maret, jadwal syuting Mimpi Hitam Putih di taman Palace Hotel Tokyo harus ditangguhkan. Hujan mengguyur kota tanpa ampun, memberi pertanda bahwa musim telah berganti. Kru film berlarian, mengangkut seluruh peralatan elektronik sebelum rusak karena hujan. Tetsuya pun panik, menumpuk pernak-pernik ke dalam kotak kayu bertutup terpal, dan meminta para kru setting lainnya untuk menggotong peralatan yang lebih besar.
Hiruk pikuk dan kepanikan baru berakhir setengah jam kemudian—saat seluruh personil yang bertugas telah basah kuyup, dan perlengkapan sudah aman tersimpan di salah satu ruang pertemuan. Tetsuya menyeka keningnya, risih dengan tetesan air yang terus jatuh dan mengenai mata.
"Oke, scene thirty one kita tunda. Kalau hujan berhenti siang nanti, kita bersiap untuk scene thirty five. Sementara, istirahat dulu," kata Produser Mitsuhige dari tengah ruangan. Jawaban pelan dari para kru menunjukkan semangat mereka yang terganggu akibat hujan.
"Silakan handuknya," Momoi menawarkan sembari tersenyum. Mata bulatnya ramah, dan rambut merah mudanya digelung ke belakang. Dilihat dari pakaian Momoi yang kering, ia dan para aktor lain pasti sudah lebih dulu menyelamatkan diri dari hujan dan berganti pakaian.
"Terima kasih." Tetsuya menerima handuk kecil berwarna oranye dengan garis-garis biru.
"Kurokocchi, kau harus segera ganti baju," kata Kise dari belakang Momoi. Ia mengerutkan dahi. "Ah, apa kau bawa baju ganti?"
"Ya, kutaruh di meeting room dua. Aku akan ke sana sebentar lagi."
"Kami mau minum kopi. Apa Tetsu-kun mau bergabung?" kata Momoi dengan wajah yang berbinar.
Tetsuya mundur selangkah. Sampai kapan pun, ia tidak akan terbiasa dengan tingkah Momoi, artis idola yang mendadak memanggilnya dengan nama depan seolah mereka teman sejak kecil. Bahkan, ada rumor di antara para penata rias kalau Momoi diam-diam menaruh hati padanya.
Itu jelas tidak mungkin, kan …?
"Terima kasih, tapi aku mau istirahat saja," jawabnya.
"Kurokocchi, kau kurang tidur?" tanya Kise.
"Aku tidak tidur. Ada perlengkapan yang harus kuambil sendiri dari Kyoto. Aku baru tiba di Tokyo pukul dua pagi. Hanya pulang sebentar sebelum berangkat kemari."
Kise tampak mengiba. "Kalau begitu istirahat di sebelah saja. Biar kubelikan vanilla shake nanti."
"Terima kasih, Kise-kun, dan … Momoi-san."
"Jaga dirimu, Tetsu-kun," kata Momoi dengan pandangan kecewa. Namun sedetik kemudian ia bersemangat kembali, menarik lengan Kise dan pergi mencari manajer mereka.
Tetsuya mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu tanpa membuang waktu lagi, ia pergi ke ruang pertemuan dua. Seluruh badannya terasa lengket, kaus hitam dan jeans yang dipakainya menempel pada tubuh. Saat ini, Tetsuya hanya ingin sedikit waktu untuk tidur.
Sakurai yang hendak keluar dari ruang pertemuan dua berpapasan dengannya di pintu. "Maafkan aku, Kuroko-san. Apa kau mau minum kopi?"
"Tidak. Aku di sini saja."
"Oh, baiklah kalau begitu. Um, selamat beristirahat," ujar Sakurai seraya membungkukkan badan. Tetsuya pun terbawa dan ikut membungkukkan badannya.
Di dalam ruangan yang berukuran setengah dari ruang sebelah itu, hanya ada beberapa cermin dan meja yang disusun sebagai tempat merias dadakan. Tim tata rias dan kostum yang ditugaskan di ruangan ini tampaknya sudah pergi mencari segelas kopi, atau memutuskan untuk mengisi waktu dengan hal lain. Tentu saja Tetsuya senang akan hal itu. Artinya ia bisa tidur sejenak tanpa ada yang mengganggu.
Ia berjalan ke sudut ruangan tempat ia menaruh ranselnya, lalu merogoh sehelai kaus hijau pupus dan sepasang celana jeans hitam. Untunglah ia membawa baju bersih, berhubung rencananya setelah ini ia memang akan menginap di penginapan terdekat. Ia tidak mungkin menyetir sampai ke apartemennya jika ia masih terlalu lelah.
Tetsuya sedang menanggalkan pakaian basahnya, ketika pintu ruangan terbuka lagi. Ia berhenti bergerak dalam keadaan setengah telanjang, hanya mengenakan jeans yang sudah ia buka kancingnya.
Akashi mematung di ambang pintu, tangannya masih menggenggam gagang. "Kuroko …."
"Akashi-kun."
Akashi tersadar. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu mengalihkan pandangan ke deretan koper-koper berisi kostum di satu sisi ruangan. "Maaf, aku tidak menyangka."
Tetsuya menggeleng, walau ia tahu Akashi tidak bisa melihatnya. "Tidak apa-apa. Kita sesama laki-laki."
"Kau benar …."
Tetsuya melipat kaus basahnya dan memunggungi Akashi. Tengkuknya terasa panas, seluruh tubuhnya sadar akan kehadiran Akashi. Betapa memalukannya, bagaimana ia telah berpura-pura tenang walau hatinya berkecamuk. Dadanya berdesir, dan Tetsuya menelan ludah.
"Aku akan keluar," kata Akashi setelah cukup lama diam.
"Kau ke sini karena ingin menghindari yang lain, kan?" Tetsuya menarik kausnya melalui kepala dan berusaha untuk tidak memikirkan kenyataan bahwa sampai kini Tetsuya masih mengenal pikiran Akashi. "Tinggallah, ruangan ini bukan milikku."
Akashi tidak menyahut lama, memaksa Tetsuya untuk menoleh padanya. "… Baiklah," kata Akashi akhirnya. Ia melintasi ruangan dan memilih untuk duduk di sofa merah marun yang rapat di satu sisi dinding. Dikeluarkannya ponsel pintar dari saku celana abu-abu tuanya, dan matanya fokus pada apa yang tertera di layar.
Tetsuya melepaskan jeans-nya, kemudian melipat dan menaruhnya di dalam kantung plastik bersama kaus yang basah. Dengan cepat ia mengenakan jeans bersihnya, dan harus mencoba mengancing dua kali karena tangannya gemetar. Saat ia sudah berpakaian sempurna, ia menutup mata dan mengatur napas.
Sudah tidak ada apa-apa antara dirinya dan Akashi.
Meski di ruangan ini ada begitu banyak kursi-kursi kecil tersebar, hanya ada dua sofa yang cukup nyaman untuk beristirahat. Tetsuya menekan ujung-ujung dalam mata dan tulang hidungnya. Jika ia ingin rileks, tidak ada pilihan lain selain duduk di sofa yang berseberangan dengan Akashi. Lagipula, bukankah sekali lagi, sudah tidak ada apa-apa di antara mereka? Sungguh aneh jika Tetsuya sengaja menghindar setelah mengundang Akashi untuk tetap di ruangan ini.
Dengan pikiran itu, Tetsuya duduk menghadap Akashi. Ia menyandarkan badan, melirik Akashi yang tetap serius dengan ponselnya, lalu mencoba untuk santai. Di sisi kiri Tetsuya ada jendela besar yang memperlihatkan kolam dan taman. Hujan membuat dahan-dahan dan dedaunan bergerak dan bergesekan. Riak air memecah permukaan kolam. Tetsuya memerhatikan semua itu dengan mata sayu.
Suara gemuruh hujan menjadi irama yang membuat rindu.
2003, Summer. Setagaya-ku Suburb Area.
Tetsuya berlari di tengah hujan. Blazer SMA Teikou ia bentangkan di atas kepala sebagai pelindung dari hujan. Cipratan air menodai sepatu dan ujung celana panjangnya. Di belakang, Akashi mengikuti.
Tetsuya mengambil belokan pertama di kiri jalan, lalu berhenti di depan pagar biru tua. Dengan cepat ia membuka selot pagar dan melintasi halaman depan yang pendek hingga ke pintu masuk dan membuka kuncinya.
"Maaf mengganggu," Akashi berkata. Tidak seperti Tetsuya, Akashi tidak melindungi kepalanya, dan kini ia basah kuyup. Air menetes dari rambut dan baju.
"Tidak ada siapa-siapa di rumah," kata Tetsuya. Ia bergegas meletakkan blazer basahnya di ruang cuci, lalu kembali dengan membawa dua handuk kecil.
Akashi menerima handuk bagiannya setelah melepaskan sepatu dan kaus kaki. "Ramalan cuacanya meleset. Tapi Midorima pasti senang, karena benda keberuntungannya hari ini adalah payung."
"Kita bisa menunggu hujan berhenti di kamarku. Apa kau sudah nonton film arahan Okubo yang terbaru? Judulnya Catman."
"Tentu saja. Aku membeli DVD-nya sejak pre-order dibuka."
"Aku baru mendapatkannya kemarin."
Tetsuya memimpin jalan menuju lantai dua. Sepanjang jalan, Akashi menjaga matanya untuk tidak melihat ke sana-sini dengan tidak sopan, membuat Tetsuya tersenyum diam-diam. Ia tahu, bagi Akashi rumah Tetsuya sangat tidak istimewa. Namun itu tidak membuat Tetsuya minder. Malah, itu membuatnya semakin semangat untuk mengenalkan Akashi pada banyak hal 'biasa'.
Tetsuya membuka pintu kamarnya dan menaruh ransel di meja kecil dekat lemari pakaian. "Ukuran badan kita hampir sama, kau pakai bajuku saja, Akashi-kun. Aku akan menaruh seragammu di mesin pengering."
"Tidak perlu, aku bawa pulang saja seragamku," kata Akashi. "Apa Kuroko bisa menggunakan mesin pengering?" tanyanya jahil.
"Itu menghina. Tentu saja aku bisa," jawab Tetsuya. Ia pura-pura cemberut, tapi tangannya cekatan mencarikan baju ganti yang cukup bagus untuk Akashi. Ditariknya kaus hitam bergambar bola basket yang baru ia beli, dan sepasang jeans hitam.
"Terima kasih," kata Akashi seraya menerima baju yang disodorkan Tetsuya. Ia meletakkan ranselnya di lantai, lalu membuka seragam yang menempel pada tubuhnya helai demi helai.
Tidak Tetsuya sangka, Akashi memiliki otot di tubuhnya. Tidak terlihat jelas seperti Kise atau Aomine yang rajin berolahraga, atau juga Murasakibara yang bertubuh besar. Namun cukup untuk membuat Tetsuya menelan ludah. Tanpa ia sadari, ia telah menatap garis-garis otot Akashi—bisepnya yang kencang dan pinggangnya yang ramping. Tulang punggung yang terlihat samar, terbungkus kulit sempurna.
Tetsuya buru-buru mengalihkan perhatian.
Ia meraih kaus putih dari lemari dengan sembarangan, dan melepaskan seragamnya. Jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari bahwa—Akashi ada di kamarnya, setengah telanjang. Ia menepis pikiran-pikiran aneh, lalu mengenakan kaus dan celana training yang sudah ia gunakan sejak SMP.
Tetsuya mengundang Akashi ke rumahnya—untuk berteduh dan berbincang tanpa kehadiran anggota klub lain. Ia tidak mengundang Akashi untuk melakukan hal lain. Tidak.
"Apa kau mau nonton Catman?" Akashi bertanya, menyentak Tetsuya ke realita. Tetsuya berbalik dan menemukan Akashi sudah berpakaian sempurna. Jeans Tetsuya agak kependekan di kaki Akashi—ujung-ujungnya hanya sampai di atas mata kaki—dan kausnya tampak sedikit ketat, tapi Akashi tidak terlihat keberatan.
"Ya," jawab Tetsuya. "Oh, tapi kalau kau sudah menontonnya, kita bisa nonton yang lain." Ia melintasi ruangan dan berjongkok di depan rak berisi puluhan judul DVD. "Bagaimana kalau Joker?"
Akashi ikut bersimpuh di sisi Tetsuya. "Hmm, sebenarnya aku tidak keberatan untuk menonton Catman. Justru aku ingin membahas banyak hal denganmu."
"Kudengar special effect-nya luar biasa."
"Dan setting-nya. Aku tidak punya kata-kata lain untuk menggambarkan itu. Sempurna."
"Aku yakin kau juga akan bisa membuat setting yang lebih indah dari itu, Akashi-kun."
Mata Akashi membesar untuk sekian detik, sebelum ia tersenyum. "Kau bahkan belum menonton filmnya."
"Aku yakin kau bisa. Berdasarkan kepercayaan pada kemampuanmu selama ini," kata Tetsuya.
Akashi tertunduk.
Tetsuya mengernyit, khawatir ia sudah salah bicara. Namun sebelum ia bisa membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Akashi memeluknya dan membuatnya harus tertidur di karpet akibat gravitasi. Beban tubuh Akashi hangat, menyelimuti Tetsuya.
"… Akashi-kun?"
Akashi mengangkat diri, bertumpu pada salah satu lengannya di sisi Tetsuya. Matanya menatap lurus pada Tetsuya dan bibirnya sedikit terbuka. "Kuroko, aku …."
Akashi tidak melanjutkan. Ia hanya berbicara dengan pandangannya, dengan caranya membelai pipi Tetsuya. Jemari yang menyentuh halus, nyaris tidak terasa di pipi Tetsuya. Dan, Tetsuya mengerti.
Dengan gugup luar biasa, Tetsuya mengangkat kedua lengannya, melingkari leher Akashi. Ia menjawab pertanyaan tanpa suara Akashi dengan menarik Akashi dan mengecup sisi bibirnya. Jari-jari Akashi kini turun ke dada Tetsuya, menarik kaus yang Tetsuya pakai, sebelum turun lebih jauh lagi dan meraba perut Tetsuya. Sentuhan Akashi begitu kontras dengan kehangatan tubuhnya. Dingin, dan sedikit gemetar.
Akashi juga gugup, dan itu membuat Tetsuya merasa jauh lebih tenang.
Tetsuya menangkup rahang Akashi dengan kedua tangannya. Dengan lembut ia mengecup kedua pipi dan ujung hidung Akashi, sebelum kembali mencium bibir Akashi. Kini lebih dalam, lebih yakin.
Aroma Akashi menyelimuti Tetsuya. Bunyi hujan bercampur dengan desahan dan suara napas yang tersengal. Ujung-ujung jari Akashi menelusuri setiap sudut tubuh Tetsuya dengan perlahan, bagaikan salah satu adegan di film yang sering Tetsuya tonton diam-diam. Namun, ini adalah nyata. Akashi adalah nyata.
"A-Akashi-kun, tunggu …." Tetsuya menyentuh bahu Akashi. Ia berusaha mengatur napas. "Um, di laci. Di laci ada …." Tetsuya menunjuk meja kayu kecil di samping tempat tidurnya.
Akashi mengangkat tubuh. Bibirnya berkilat dan memerah, efek yang tentunya didapat dari ciuman-ciuman mereka. Pipi Tetsuya memanas melihatnya. Akashi bangkit dan membuka laci yang ditunjuk, kemudian merogoh botol lubricant dari dalamnya. Ia memiringkan kepala pada Tetsuya.
"Aku anggap ini yang kaumaksud."
Tetsuya mengangguk. "Ah, tapi aku tidak punya …."
Akashi melihat ke arah lain. Ia terlihat tidak nyaman, tapi kemudian ia mengambil dompetnya dari dalam ransel dan mengeluarkan sesuatu yang Tetsuya maksud. "Bukannya aku bermaksud untuk membawa-bawa ini. Hanya saja Midorima tidak mau diam soal safe sex dan sejenisnya."
"Um," kata Tetsuya. Jantungnya memukul-mukul di dalam dada. Ia menelan ludah, melihat jemari Akashi yang menjepit bungkusan kondom berwarna merah. "Aku tidak keberatan. Kalau kau menyimpannya memang karena ingin, maksudku."
Akashi membungkam sejenak, memandangi Tetsuya. Tetsuya membuang muka, malu. Lantas ia mendengar langkah kaki Akashi, perlahan dan mantap. Akashi berlutut di hadapan Tetsuya, tangannya membelai pipi Tetsuya. Mau tidak mau, Tetsuya kembali bertemu pandang dengannya, sambil masih menyimpan rasa malu dan gugup. Mata Akashi melembut. Ia tersenyum tipis, lalu mengecup bibir Tetsuya.
Tetsuya menutup mata. Pelan-pelan, ia membiarkan dirinya terbawa. Dan ketika tangan Akashi menarik kaus Tetsuya lagi, Tetsuya paham.
Helaian baju, botol lubricant, dan sobekan pembungkus kondom tersebar dan terlupakan di lantai. Kulit Tetsuya begitu sensitif pada apa pun yang Akashi lakukan padanya. Akashi memberi gigitan-gigitan kecil yang diselingi dengan jilatan di sepanjang leher Tetsuya. Semua itu membuat Tetsuya mabuk, membuatnya semakin menginginkan Akashi. Namun, ia lebih menginginkan bibir Akashi untuk menyentuh bibirnya, memberi sihir yang manis dan adiktif.
"Akashi-kun," kata Tetsuya. Pelan, setengah berbisik.
Akashi menyusuri dada, perut, dan pinggang Tetsuya dengan telapak tangannya yang sedikit kasar. Layaknya seseorang yang rutin mengerjakan sesuatu yang berat. Meskipun Akashi adalah pewaris besar dan hidup bak pangeran di dunia dongeng, ini membuat Tetsuya lagi-lagi sadar bahwa—Akashi adalah manusia biasa. Anak lelaki sepertinya, yang melakukan hal biasa dan menginginkan hal biasa.
Akashi memerhatikan Tetsuya, memandangnya seakan Tetsuya adalah satu-satunya yang pernah ada dalam pikirannya. Akashi memegang pinggul Tetsuya, dan, dengan satu hentakan ia membuat Tetsuya mendesah tertahan. Kemudian Ia memeluk Tetsuya, mencoba menenangkan tapi justru membuat jantung Tetsuya berpacu lebih cepat.
Bibir Akashi menyentuh daun telinga Tetsuya. Ia balas berbisik dengan lembut, "Kuroko …."
Dan Tetsuya kehilangan kendali. Akan pikirannya. Akan perasaannya pada Akashi.
Siang itu, hujan pun terus turun. Gemuruhnya terpatri dalam benak Tetsuya. Selamanya.
2015, Spring. Palace Hotel Tokyo.
"Kuroko?"
Tetsuya terperangah. Ia mendapati Akashi memandangnya dengan wajah cemas dari tempatnya duduk di sofa seberang. Entah sudah berapa kali Akashi memanggil. Tetsuya menahan malu karena telah tenggelam dalam pikirannya.
Di luar jendela, hujan telah mereda dan matahari pagi mulai terlihat di ufuk timur. Sepasang angsa berenang dengan santai di kolam taman hotel.
"Ya?" jawab Tetsuya akhirnya.
"Tidak …. Kau terlihat lelah sekali," kata Akashi.
"Aku baru tiba dari Kyoto tiga jam lalu. Mencari kipas tangan yang harus digunakan tokoh Ryoko."
Akashi tersenyum kecil. "Terima kasih atas kerja kerasmu."
"Itu memang sudah pekerjaanku."
Akashi mengambil jeda lama. Ia mengaitkan jari-jarinya di pangkuan. "Sembilan tahun ini apa yang kaulakukan?"
Tetsuya mengangkat alis. Itu adalah pertanyaan yang sesungguhnya ingin ia lontarkan pada Akashi. Sebagai jenius dunia perfilman yang selalu terlibat dalam proyek besar sejak tiga atau empat tahun lalu, Tetsuya sering melihat namanya di daftar kredit film dan majalah. Namun sebelumnya, ia tidak bisa menebak apa yang Akashi lakukan dengan dirinya. Sepanjang pengetahuan Tetsuya, Akashi menolak untuk berkuliah di jurusan perfilman. Namun nyatanya, ia bekerja di dunia film—menunjukkan bahwa entah di titik mana, ia memperbaiki pilihan hidupnya.
"Kau tidak perlu bercerita jika tidak mau," lanjut Akashi. "Kuroko, aku—"
"Kalau begitu, aku ingin mendengar tentangmu saja," kata Tetsuya. Akashi terlihat terkejut, tapi Tetsuya melanjutkan, "Kalau kau tidak mau bercerita, tidak apa-apa."
Akashi menutup mata untuk beberapa detik. Saat ia membukanya kembali, ia mengangguk. "Tidak ada yang perlu kusembunyikan darimu."
Tetsuya memiringkan kepalanya sedikit, memberi sinyal bahwa ia menanti cerita Akashi.
"Kau tahu …. Ayahku meninggal tepat setelah aku masuk universitas," Akashi memulai. "Itu begitu mendadak."
Tetsuya tahu berita itu. Sutradara terkenal yang meninggal akibat kesalahan diagnosis. Beritanya tersebar secara viral dan luas. Kasus yang membuat Tetsuya beberapa kali melihat sosok Akashi di layar televisi dan koran, hadir dalam proses pengadilan.
"Saat itu terjadi, aku tidak merasa sedih," kata Akashi. "Kaget, mungkin. Marah pada rumah sakit. Tapi yang lebih besar adalah benci." Akashi tersenyum pahit. "Benci karena ia tidak ada lagi untuk memberi pengakuan padaku."
"Akashi-kun …."
"Itu membuatku sadar kalau ada yang salah padaku," kata Akashi, tidak memberi peluang pada Kuroko untuk memotong. Seolah tekadnya untuk bercerita akan runtuh jika ia berhenti. "Setiap malam aku ketakutan, rasa percaya diri yang kuraih dengan cara membuang semua hal yang berarti untukku, lenyap."
Tetsuya mencengkeram ujung sofa. Ia harus mengingatkan dirinya sendiri berkali-kali untuk melonggarkan jemarinya, sebelum ia merobek kain beludru sofa itu.
Akashi membuang pandangan ke luar jendela. Apa pun yang ia perhatikan, Tetsuya yakin itu bukanlah pemandangan yang sama dengan yang Tetsuya lihat.
"Satu malam aku terbangun. Dan aku bertanya, apa suatu saat aku akan lenyap juga? Apa aku akan digantikan oleh diriku yang lain lagi, ataukah diriku yang dulu yang akan kembali?"
Dada Tetsuya mengetat mendengarnya. "Apa … itu yang membuatmu …."
Akashi mengangguk. "Aku menemui Midorima. Ia sedang kuliah kedokteran walau masih semester satu. Pikiranku terlalu kacau untuk menyadari bahwa Midorima tidak mungkin bisa membantu."
Tetsuya ingat, Midorima pernah menelepon dirinya. Menanyakan apakah mereka bisa bertemu. Namun Tetsuya bisa menebak apa yang akan dibicarakan. Karena itu ia lari, menyibukkan diri dengan kehidupan kampus, bertekad untuk membuang segala hal yang berkaitan dengan Akashi.
"Tapi itu tidak benar. Dia membantuku, mengenalkanku pada psikiater dan psikolog. Dan …." Akashi tertawa getir. "Itu bukan pengalaman yang indah, Kuroko. Aku berjuang. Aku gagal. Dan harus berjuang lagi. Itu tidak indah, tapi itu membuatku hidup." Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan tegas, " Itu membuat diriku yang sekarang duduk di depanmu."
Tetsuya ingin meraih tangan Akashi yang hanya berjarak kurang dari setengah meter darinya. Namun, ia mengepalkan jari-jarinya. "Apakah dia sudah tidak ada? Di dalam sana?"
"Mungkin ini akan mengecewakanmu," kata Akashi sedih. "Seijuurou yang kaucari dan Seijuurou yang kaubenci, keduanya sudah menjadi bagian dariku, Kuroko."
Tetsuya menutup mata. Ia bisa merasakan hangatnya air mata yang terancam jatuh ke pipi. Ia berkedip, mencoba menahan. "Dia tidak hilang. Itu saja sudah cukup," kata Tetsuya.
"Kuroko."
Tetsuya tidak menyahut. Wajahnya panas, dadanya sesak. Malu, ia malu setengah mati. Ia adalah kekasih Akashi. Ia yang seharusnya bertahan di sisi Akashi saat Akashi sangat membutuhkannya. Ia yang seharusnya mendampingi Akashi di masa-masa tergelapnya.
Namun, saat itu Akashi tidak menginginkan Tetsuya di sisinya.
Sesungguhnya, siapa yang salah dalam skenario ini? Seorang anak laki-laki yang rela membuang orang-orang terdekatnya, atau seorang anak laki-laki yang merasa dibuang?
2003, Summer. Teikou High School.
Tetsuya mendorong pintu ruang klub film SMA Teikou dari dalam. Tidak bergerak. Ia mencoba sekali lagi, kali ini dengan menempelkan sisi tubuhnya di daun pintu dan mengerahkan tenaga lebih besar. Percuma. Pintu itu bergeming.
"Kita terkunci," kata Akashi dari tempatnya duduk di pinggiran meja.
Tetsuya menyipitkan mata. "Mungkin kau bisa bergerak dan membantuku daripada membuat komentar tidak berguna, Akashi-kun."
"Tidak sepertimu, aku tidak suka membuang waktuku untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat seperti mendorong pintu yang terkunci," kata Akashi.
"Jadi apa usulmu? Melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali."
"Belajar menggunakan otak, Kuroko," balas Akashi. Ia menaikkan dagu dan memandang sinis pada daun pintu. Dengan suara yang lebih keras, ia berkata, "Kise, Aomine, Murasakibara. Kuharap kalian sudah siap dengan konsekuensi perbuatan kalian."
Terdengar bunyi geradak-geruduk dari seberang pintu. Beberapa detik kemudian, suara Kise terdengar, "Maaf, Akashicchi, kami melakukan ini untuk kepentingan bersama!"
"Akachin dan Kurochin menyusahkan seluruh anggota klub dengan pertengkaran kalian," kata Murasakibara.
"Heh. Lebih baik kalian cepat ciuman dan bercinta saja daripada merepotkan semua orang," sambung Aomine.
"Aominecchi!" Kise menyanggah. "Jangan terlalu vulgar!"
"Tapi benar kata Aomine. Bukannya aku menyetujui caranya yang vulgar, tapi kalian harus cepat baikan. Syuting sudah tertunda terlalu lama akibat kelakuan kalian yang kekanakan," kata Midorima tiba-tiba. Dilihat dari ekspresinya, Akashi tidak menyangka bahwa Midorima ikut-ikutan dalam operasi konyol ini.
"Kalau kalian baikan, kukasih pocky, deh," ujar Murasakibara.
"Dan karena itu, cepatlah berbaikan dan kami pergi dulu, oke!" Kise berseru. Suara-suara yang mengemukakan persetujuan terdengar dari mulut ketiga pemuda lainnya. Kemudian, bunyi langkah kaki menyusul.
"Tunggu! Kalian mau meninggalkan kami di sini?" Tetsuya buru-buru memanggil. Ia menggedor pintu beberapa kali untuk menarik perhatian teman-temannya di luar, tapi percuma. Tidak ada jawaban yang datang dari seberang pintu.
Ia positif ditinggalkan untuk berduaan saja dengan Akashi.
"Mereka sudah pergi, percuma kauteriak-teriak," kata akashi.
Tetsuya melotot. "Ini semua karena kau membawa-bawa perasaan pribadi ke proyek klub."
"Aku?" Akashi mendengus. "Kau yang bertingkah saat syuting."
"Setidaknya aku tidak mengganti-ganti jadwal syuting seenaknya hanya karena kesal."
"Dan aku tidak pernah berpura-pura tidak hadir saat jadwal syuting."
"Itu karena kau mencolok, jangan salahkan aku kalau semua orang langsung melihat warna rambutmu."
"Bukankah mencolok jauh lebih bagus daripada tidak dipedulikan?"
"Benarkah? Kalau begitu kenapa kau selalu mencari tempat sepi untuk bersantai, kalau kau begitu senang menjadi pusat perhatian?" balas Tetsuya. "Kise-kun menikmati semua perhatian yang ia dapat. Berbeda denganmu."
Akashi terlihat seratus kali lebih kesal. "Kau sangat mengerti Kise, ya."
"Apa maksudmu, aku hanya—" Tetsuya menghentikan bicaranya. Amarahnya yang nyaris meledak, kini sedikit padam, berganti dengan rasa takjub pada kesimpulan baru yang ia tangkap. "Akashi-kun."
Akashi membuang muka. Kedua tangannya dilipat di dada.
Kalau diingat-ingat, semua ini bermula dari pesta ulang tahun klub minggu lalu. Seorang kakak kelas menyelundupkan bir, dan Tetsuya yang tidak begitu kuat minum, kabarnya tertidur di pangkuan Kise saat Akashi selesai berbicara dengan guru pembimbing. Akashi yang bad mood, selama berhari-hari menyusahkan Tetsuya, membuat Tetsuya ikut kesal. Namun, jika alasannya hanya karena ….
"Akashi-kun, membuat semua orang susah hanya karena cemburu itu tidak baik," kata Tetsuya.
Akashi menyipitkan mata. "Apa? Kuroko, kau—"
"Kau cemburu, kan?"
"Jangan berpikiran bodoh, aku—"
"Aku hanya menyukai Akashi-kun."
Akashi terdiam. Kedua tangannya jatuh di pangkuan.
"Aku hanya menganggap Kise-kun sebagai teman yang berharga. Sama seperti Midorima-kun, Aomine-kun, Murasakibara-kun, bahkan Nijimura-senpai."
Tetsuya berjalan ke arah Akashi, mendekatinya hingga hanya tersisa sedikit jarak di antara mereka.
"Aku berharap kau percaya padaku, tapi …."
Raut wajah Akashi terlihat seakan ia tidak tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, ia menggeleng pelan. "Tidak, kau benar. Aku berlaku kekanakan."
"Kau memang kekanakan."
Akashi tersenyum tipis. "Aku selalu bisa berpikir tenang bahkan saat keadaan terjepit, tapi kalau sudah tentangmu, Kuroko, rasanya akal sehatku hilang."
Tetsuya memiringkan kepalanya. "Aku anggap itu pujian."
Akashi menghela napas. Ia mengamit kedua tangan Tetsuya dan menaruhnya di pangkuannya. "Aku percaya padamu."
"Hmm," kata Tetsuya, "memang tingkahmu sudah membuatku susah …."
"Kuroko—"
"… tapi ada rasa senang tersendiri begitu tahu kau sedang cemburu."
"Tetsuya, itu tidak lucu," kata Akashi, mulai terlihat kesal lagi.
Tetsuya tertawa. Ia mendekati Akashi dan mencuri cium di bibir. Saat ia menarik diri lagi, Akashi sudah tersenyum padanya.
"Kita harus berterima kasih pada anak-anak lain," kata Tetsuya.
"Mungkin," kata Akashi dengan sebelah bibir tertarik ke atas. "Setelah aku memberi hukuman yang pantas."
Tetsuya pikir, itu ide bagus.
2015, Summer. Dream Studio, Inc.
Tetsuya berlari. Napasnya memburu dan keringat membuat rambutnya lembap, poni menempel pada dahinya. Ia berbelok di lorong pertama, dan jantungnya berpacu saat melihat kehebohan di luar studio satu, lokasi syuting Mimpi Hitam Putih. Banyak kru yang menonton dan berkumpul di depan pintu, dan ada pula yang berlari keluar sambil menelepon.
Tetsuya tengah menghitung biaya yang telah ia keluarkan untuk proyek ini, ketika ia menerima kabar itu dari telepon Kagetora. Aliran listrik yang bermasalah pada salah satu peralatan elektronik menyebabkan kebakaran kecil saat syuting. Positifnya, tidak ada korban jiwa ataupun luka-luka. Negatifnya … setting-nya rusak parah.
Tetsuya berhasil menerobos masuk dari kerumunan kru, dan dadanya mencelos saat melihat kondisi studio. Busa putih dari tabung pemadam api tersebar di sudut kiri panggung. Sofa cokelat yang setengah hangus, meja yang sudah rubuh, serta—
Tetsuya berlari mendekat. Ia mencari-cari di mana lampu berdiri antik yang ia pesan khusus sampai ke Austria itu. Keringat dingin mulai membasahi telapaknya.
"Kuroko!" Kagetora memanggil. Wajah dan tangannya kotor dengan abu, dan rautnya lelah. "Untunglah kaudatang."
"Kagetora-san, di mana lampu berdirinya?"
Kagetora menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Aah. Kabar buruk." Ia menunjuk dengan dagunya ke sisi seberang studio, tempat barang-barang ditumpuk karena terbakar. "Rusak parah."
Benar saja, kap lampunya yang berwarna putih dengan ukiran bunga-bunga opium kini sudah legam dan hangus. Bahkan, separuh tiangnya sudah tidak ada. Lampu itu tergeletak di lantai dalam kondisi mengenaskan.
"Lampu itu hanya ada dua puluh di seluruh dunia …." Tetsuya tiba-tiba saja kehilangan energi. Kejadian ini memang akan membuatnya bekerja dua kali, membeli dan menyewa ulang semua yang terbakar. Proses pengambilan film sudah berjalan lebih dari separuhnya, tidak mungkin lagi untuk mengganti desain setting karena ia harus menyamakan seluruh benda dengan yang sudah terekam. Namun khusus lampu itu, ia tidak bisa menggantinya tanpa memesan khusus—dan itu membutuhkan waktu sangat lama.
"Kita harus mencari tahu di mana yang sembilan belas lagi," kata Kagetora tanpa semangat. Ia memijat pelipisnya. "Kalau bisa."
"Ya …. Tapi untuk menemukan satu itu saja sudah sulit …." Tetsuya menggeleng. Pikirannya kalut, antara tahu tidak mungkin untuk mencari yang sama persis, tapi lebih tidak mungkin lagi untuk mengulang pengambilan gambar untuk begitu banyak adegan. Panik mulai menyergap. "Aku akan coba hubungi beberapa kenalanku."
Kagetora mengangguk. "Ya, aku akan bernegosiasi dengan produser dan sutradara," katanya dengan tidak meyakinkan.
Tetsuya bergegas menuju pintu, tapi di tengah jalan ia nyaris menabrak Akashi.
"Kuroko," kata Akashi. Tangannya mencengkeram bahu Tetsuya, menyeimbangkan. Ia mengedarkan pandangan, terlihat jelas ia pun tidak luput dari frustrasi. "Kudengar kondisinya buruk. Tapi tidak kusangka sejauh ini."
Tetsuya melepaskan diri. "Aku harus buru-buru."
"Lampu antik yang kaupesan di Austria?"
Seperti biasa, Akashi begitu cepat menebak. Tetsuya hanya bisa mengangguk.
"Kita bisa menggantinya dengan yang mirip. Pasti ada yang mirip."
"Aku harus coba dulu menemukan yang sama," kata Tetsuya.
"Lampu antik itu hanya ada dua puluh di dunia, kan?"
"Benar, tapi kita tidak akan tahu kalau kita tidak mencoba dulu," Tetsuya bersikeras. Ia tahu argumennya lemah, dan ia sadar apa yang ia cari memiliki kemungkinan yang teramat kecil untuk terealisasi, tapi … apa gunanya ada dirinya di sini sebagai buyer jika ia tidak bisa menangani masalah seperti ini?
Akashi terlihat berpikir. Ia kemudian mengangguk pasti. "Baiklah, aku akan membantu."
Tetsuya tercengang. "Apa? Tapi itu bukan tugasmu."
"Proyek ini adalah proyek bersama. Tentu saja ini juga tugasku. Dan tugas kru yang lainnya." Kemudian Akashi mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon bawahannya di Art Department, serta meminta tolong pada kru setting yang ada di ruangan.
Tetsuya memerhatikan kesibukan itu untuk beberapa saat. Tekadnya untuk menemukan lampu itu menjadi semakin kuat.
"Terima kasih, Akashi-kun," ujarnya sebelum ia pun mulai menelepon kenalannya sambil berlari keluar untuk menghidupkan laptop di ruang kerjanya.
Berbagai website ia kunjungi—bahkan forum-forum yang berisi berita tidak jelas. Rumor akan keberadaan lampu itu sangat banyak, tapi hanya sedikit yang bisa dikonfirmasi. Dan, Tetsuya sudah pernah mencoba semuanya saat ia mencari lampu itu untuk pertama kalinya.
Jam demi jam berlalu, dan Tetsuya masih belum menemukan titik terang. Ia sudah nyaris dikuasai kesal dan rasa putus asa, ketika Akashi membuka pintu ruang kerjanya. Wajahnya cerah, dan tangannya menggenggam ponsel.
"Kuroko," kata Akashi, "salah satu staff di Art Department punya teman yang suka mengoleksi replika barang antik. Salah satunya lampu itu."
Tetsuya berdiri seketika. "Replika?"
Akashi mengangguk. "Memang bukan asli, tapi dari fotonya, replika ini cukup menyerupai aslinya. Kita bisa menggunakannya, kan?" Ia menunjukkan foto di layar ponselnya.
Tetsuya mengangguk pelan. "Ada di mana? Aku akan mengambilnya."
"Sudah dalam perjalanan ke sini."
Kelegaan sontak membanjiri Tetsuya. Sekujur tubuhnya mendadak lemas. "Syukurlah," katanya sebelum ia terduduk kembali di kursi.
Akashi mendekatinya dengan pandangan cemas. "Kau tidak apa-apa?"
Tetsuya mengeleng. "Aku …." Tiba-tiba saja ia dipenuhi oleh keinginan untuk melakukan hal-hal bodoh. Menari senang atau menyanyi. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. "Rasanya lega sekali," katanya sebelum mulai tertawa.
Akashi tersenyum. "Kita masih harus mengganti barang-barang lain yang terbakar."
"Benar, tapi biarlah dulu. Kau bisa membantu, kan?"
"Tentu saja."
Tetsuya tertawa lagi, dan Akashi pun tertular. Jika ada yang tidak sengaja melewati ruangan ini di lorong, mungkin mereka akan terheran-heran mengapa Akashi yang jarang tertawa dan Tetsuya yang terkenal berwajah datar bisa tergelak bersama.
Namun Tetsuya tidak peduli itu semua. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini. Fokus mengejar satu hal tanpa memedulikan hal lain. Dan, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Tetsuya tidak mempermasalahkan kehadiran Akashi di hadapannya.
Berteman kembali dengan Akashi mungkin bukan ide yang buruk.
2003, Autumn. Jiyugaoka Suburb Area.
"Bersulang!" Kise berseru sembari mengacungkan gelas berisi jus jeruk ke udara. Tanpa sengaja, ia menyenggol botol jus yang diletakkan di meja, dan cairan kuning itu membasahi seragam SMA Teikou yang ia pakai.
"Bodoh," kata Aomine. Ia buru-buru menyingkir, takut terkena tumpahan jus.
"Memang bodoh," kata Midorima.
"Bodoh," Tetsuya menimpali.
"Bodoh sekali, Kisechin," sahut Murasakibara, sebelum kembali mengunyah keripik kentang.
Kise memberengut. Ia melepaskan blazernya dengan ogah-ogahan dan bangkit untuk mengambil kain lap. "Kalian kejam sekali!"
"Tentu saja. Apa yang harus dirayakan? Kekalahan?" kata Midorima ketus. Kemudian ia menyadari apa yang ia katakan, dan melirik ke arah Akashi yang sedari tadi diam. "Oh, aku tidak bermaksud …."
Ya, siang itu mereka baru saja mengecap kegagalan dalam kompetisi film amatir yang setiap tahun selalu dimenangkan oleh SMA Teikou. Selain mencoreng keberhasilannya memimpin klub, itu juga kegagalan pertama Akashi dalam segala hal. Tetsuya adalah yang pertama memberi usul untuk mengadakan acara pelipur lara, dan Midorima menawarkan rumahnya untuk dijadikan tempat berkumpul. Kini mereka mengelilingi meja makan keluarga Midorima, menghadapi suasana hati Akashi yang tidak juga membaik.
"Bukannya merayakan kekalahan, tapi apa salahnya kita rileks sedikit. Supaya besok bisa semangat lagi," kata Kise dengan bibir yang dimajukan. Ia mengembalikan kain lap ke wastafel, lalu menghempas diri ke kursi.
"Kise," kata Akashi. Kise terlihat seakan ia nyaris lompat karena kaget. Dan yang lain, termasuk Tetsuya, segera menegakkan badan. Akashi lama tidak melanjutkan, seolah-olah ia menikmati ketegangan di wajah teman-temannya, sebelum ia berkata, "… kau benar."
"Eh?" Kise terperangah. "Apa?
"Kita tidak boleh terus bersedih."
"Ya, sejak awal itu memang bukan salah kita." Aomine, yang paling cepat pulih dari ketegangan, menggaruk kepalanya. "Kalau tas Tetsu tidak dicopet, kita pasti bisa mengumpul film itu tepat waktu."
Tetsuya tertunduk. Pagi ini, dalam perjalanan mengantarkan film yang akan diikutsertakan dalam kompetisi, tasnya yang berisi film itu dicopet. Ia dan anak-anak lain bergegas kembali untuk mengambil cadangan rekaman yang tersimpan di ruang klub, tapi tetap saja … mereka tidak berhasil mengumpulkan tepat waktu.
"Maaf," kata Tetsuya.
"Tidak, itu salah kita karena tidak mengumpulkan lebih cepat. Kita terlena dengan banyak hal, proses pembuatan film jadi dua kali lebih lama. Hal ini harus dievaluasi," kata Akashi.
"Benar, dan kita masih punya cadangan filmnya. Tasmu benar-benar hilang, itu lebih menyedihkan," kata Midorima.
"Tidak apa-apa, hanya ada film itu dan baju kotor di sana."
Hal itu membuat Kise tertarik. "Oh? Apa kau habis bermalam, Kurokocchi?"
Kontan, wajah Tetsuya terasa panas. Kise dan Aomine sibuk bersiul-siul melihatnya. Midorima terbatuk-batuk, wajahnya mungkin dua kali lebih merah dari Tetsuya. Hanya Murasakibara yang tampak lebih tertarik dengan deretan kue di meja.
Akashi melipat tangan di depan dada. "Kalau kalian punya waktu untuk bertingkah kekanakan, lebih baik kita mulai evaluasinya sekarang."
"Eeh, tapi hari ini kita bersantai!" protes Kise.
"Dan jangan salahkan kami kalau kau merasa malu karena ketahuan habis melakukan yang tidak-tidak dengan Tetsu," kata Aomine. Sontak, Midorima dan Kise menendang masing-masing tulang kering kaki kiri dan kanan Aomine di bawah meja. "Ow! Apa-apaan!"
"Minechin tidak punya otak," kata Murasakibara sambil mengunyah.
"Aku tidak mau dibilang begitu olehmu!"
"Aomine, mungkin kau tidak sabar ingin melihat daftar tugasmu untuk proyek selanjutnya, ya?" Akashi bertanya dengan senyuman yang tidak sampai ke matanya.
Aomine terdiam seribu bahasa.
Tetsuya kelepasan tertawa. Hanya tawa kecil yang berlangsung tidak sampai sepuluh detik, tapi sudah cukup untuk menarik perhatian teman-temannya. Mereka semua terpukau, bahkan Aomine sampai melongo, seakan telah melihat sesuatu yang mustahil—seperti babi terbang. Hanya Akashi yang kini tersenyum lebih tulus, mengobservasinya dari seberang meja.
"Aku juga manusia," kata Tetsuya lemah.
"Oh! Kalau Akashicchi bilang, 'kukira kau malaikat', aku bisa ngilu mendengarnya," kata Kise mencairkan suasana.
Aomine menimpuk kepala Kise dengan keripik kentang Murasakibara. Berang, Murasakibara mencoba untuk mencekik Aomine. Namun Midorima dengan cekatan menahan badan Murasakibara, dan itu semua membuat Tetsuya ingin tertawa lagi. Di tengah keributan itu, mata Tetsuya bertemu dengan Akashi.
Mata Akashi terlihat lelah. Tetsuya tahu ia tidak tidur semalaman menyiapkan kompetisi ini. Sejujurnya, mereka semua tidak tidur. Namun tidak ada yang saling menyalahkan. Alih-alih menangis kecewa, mereka malah bercanda seperti sekarang. Tetsuya membalas senyuman Akashi.
Tetsuya yakin, biarpun mustahil bagi Akashi untuk tidak merasa kecewa, pasti di dalam hatinya … ia juga bersyukur memiliki teman-teman yang baik.
2015, Summer. Dream Studio, Inc.
Tetsuya berhasil mendapatkan pengganti untuk seluruh barang-barang yang terbakar sebelum syuting Mimpi Hitam Putih dilanjutkan kembali. Ia terpaksa melembur beberapa hari, dan harus bolak-balik pergi dari Tokyo, Nagano, dan Kyoto nyaris tanpa istirahat yang cukup. Namun semua itu terbayar ketika ia melihat Kise dan Momoi berakting, dengan setting yang persis sama seperti sebelum kebakaran.
Seusai syuting, Tetsuya terkulai di sofa panjang hitam di ruang istirahat tiga yang sudah sepi di pukul dua dini hari. Ia menyandarkan kepala di penyangga tangan, punggungnya merebah dan kakinya ditekuk di atas sofa. Tetsuya hanya ingin beristirahat sebentar tanpa bermaksud tertidur. Namun ketika ia membuka mata lagi, ia melihat sinar matahari yang menyusup masuk dari jendela besar di dinding seberang.
Artinya ia terlelap tanpa disadari.
Tetsuya duduk dengan susah payah dan memutar kepalanya yang pegal. Sekujur tubuhnya seakan berteriak kelelahan. Ia mengusap belakang lehernya, lalu membeku saat mendapati dirinya tidak sendiri.
Akashi tertidur di salah satu bangku kecil yang dijajarkan mengelilingi meja panjang. Wajahnya terbenam di antara kedua lengannya yang terlipat di atas meja. Rambutnya berantakan, dan jas hitamnya tergeletak di lantai. Mungkin terjatuh dari pangkuannya. Terdengar bunyi napas teratur yang menandakan Akashi masih pulas. Sama seperti Tetsuya, kru setting dan Art juga melembur. Akashi pun tidak luput dari kesibukan itu.
Tetsuya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat angka 06.25 tertera di layar. Masih ada waktu beberapa jam lagi sampai ruang istirahat yang memang dikhususkan untuk kru Mimpi Hitam Putih ini dipenuhi oleh rekan kerjanya yang lain. Tetsuya berdiri dan meregangkan badan. Ia melintasi meja panjang, kemudian menyeduh teh dari termos air panas yang sudah disediakan.
Tetsuya mengaduk gula dan menyandarkan pinggul pada sisi pantry. Sembari menyesap teh panas, ia memerhatikan Akashi.
Perasaannya pada Akashi masih bercampur-aduk. Lebih banyak sakit mungkin. Namun ada sesuatu yang lain. Yang membuatnya rela untuk tetap berada di ruangan yang sama dengan Akashi. Yang membuatnya terus mengamati lekuk tubuh Akashi, dan mengingat semua yang Akashi lakukan bersamanya selama memperbaiki setting yang terbakar.
Tetsuya melihat sosok Akashi yang baru dengan kesan yang berbeda. Bukan sebagai orang asing, bukan pula sebagai laki-laki yang pernah mengisi hatinya dengan pilu.
Ia murni seorang Akashi Seijuurou, Art Director Mimpi Hitam Putih yang telah banyak membantu Tetsuya. Seorang teman dan rekan kerja yang sama-sama memikirkan Mimpi Hitam Putih lebih dari apa pun.
Tetsuya tersenyum. Sinar matahari membuat rambut Akashi berkilauan. Tetsuya meletakkan cangkir teh yang sudah separuh kosong di pantry, kemudian mendatangi Akashi. Ia meraih jas Akashi dari lantai, lalu dengan perlahan, menyampirkannya di pundak Akashi.
Tetsuya meninggalkan ruang istirahat dengan senyuman tulus yang masih terukir di bibir.
Bersambung ….
Hanya tersisa satu chapter lagi! Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Jika berkenan, silakan tinggalkan kesan dan pesan kalian di kotak review. Aku akan sangat menghargainya. ^^
Sampai jumpa di chapter terakhir!
