YoonMin Fanfiction!
Jimin!GS
Warn! Typo(s), gak sesuai EYD
THIS IS A REMAKE STORY!
.
.
Nyonya Jung Present
.
.
[Chapter 2]
Pindah?
.
Dalam keadaan darurat seperti ini, mempunyai kakak yang sedang kuliah di tempat yang tidak jauh dari tempat bimbingan belajarnya benar-benar menguntungkan. Dia bisa meminta jemput kakaknya, jadi tidak usah repot-repot meminta supir menjemput.
Yoongi menekan nomor telepon kakaknya -Min Yoonjin- sambil berjalan di koridor pintu keluar. Hujan benar-benar deras. Harusnya aku sudah sampai rumah daritadi kalau aku tidak mengurus berkas-berkas. Batin Yoongi kesal. Sialnya, karena proses itu membuat Yoongi ditinggal teman-temannya. Sekarang, Ia harus sendirian menunggu hujan reda dan jemputannya.
"Halo? Aku jadi dijemput?" Yoongi memperbaiki posisi ranselnya. Matanya mengedarkan pandangan mencari orang yang bisa diajak ngobrol supaya ada teman saat Ia menunggu kakaknya.
"Yoon, di sana hujan? Di sini sedang hujan lebat, mobil kakak ada diparkiran yang jauh dari gedung. Kalau kau naik bus bagaimana?"
Ternyata tidak semenguntungkan itu punya kakak kuliahan. Yoongi menahan jengkel. Benar-benar tidak menepati janji sekali sih.
"Iya, di sini hujan. Sepertinya akan lama. Kalau aku naik bus, mau sampai di rumah jam berapa?" Saat sedang jengkel-jengkelnya, mata Yoongi tertuju ke luar teras. Ada yang duduk di sana. Lalu keduanya bertemu pandang. Tapi saat Yoongi memberikan senyum, anak perempuan itu justru menunduk seakan menghindari Yoongi.
"Baiklah, kakak minta antar teman ke parkiran."
"Ya sudah. Aku tunggu." Yoongi menutup teleponnya.
Rasa penasaran muncul di hati Yoongi. Rasanya, Ia pernah melihat anak perempuan itu. Lama Yoongi memutar otak, dia ingat.
Dia yang tadi siang ditolongnya. Ini kejutan. Biasanya, Yoongi tidak pernah mengingat perempuan jelek. Yoongi sendiri kaget, kenapa dia bisa mengingat anak itu?
Tapi, kenapa anak itu pura-pura lupa? Kenapa dia menghindari Yoongi? Seharusnya anak itu setidaknya tersenyum. Ah, untuk apa Yoongi mengingat-ingat orang yang tidak tahu terima kasih.
Tapi melihat suasan yang sangat sepi, dan dia sedang menunggu kakaknya, Ia butuh teman ngobrol. Hm, anak perempuan itu mungkin bisa menjadi temannya sesaat.
.
.
"Aku Min Yoongi. Aku benar, kan? Kau yang tadi siang itu. Jadi, katakan kenapa kau terlihat menghindariku?"
Namanya imut. Jimin terus menyebut nama lelaki tampan itu di dalam hatinya.
Jimin tergagap. Ia tidak pernah ditodong langsung seperti itu. "A-aku.."
"Aku melihatmu senyum-senyum sendiri, aku jadi takut" ucapnya sambil pura-pura bergidik ngeri.
"Tidak" Jimin semakin tergagap. "A-aku hanya..."
"Sudah lupakan saja. Namamu siapa?" Tanya Yoongi lelah dengan kegugupan Jimin yang entah karena apa.
"P-park Jimin" ucap Jimin pelan.
"Lalu, kenapa kau masih di sini? Jam pelajaran sudah selesai daritadi, dan ini sudah waktunya pulang, kan?"
Jimin meringis sambil meluruskan kakinya. "Aku menunggu hujan reda"
Sebelah alis Yoongi terangkat. Bingung. "Menunggu hujan reda atau baru selesai hujan-hujanan?"
Oh, Tuhan. Rasanya sulit sekali berbicara langsung dengan lancar di depan Yoongi. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, Jimin juga tidak tahu.
"Um,... keduanya. Aku habis hujan-hujanan lalu sekarang menunggu hujan reda. Ya, seperti itu, hehe" ucap Jimin kikuk.
Yoongi mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti maksudmu"
Jimin bingung mau menjawab apa. Masa dia mau bilang yang sebenarnya, kalau dia ke sini menemui Yoongi. Itu konyol. Kalau dipikir-pikir lagi, tingkah Jimin seperti orang bodoh daritadi. Yoongi pasti tidak nyaman.
Cari topik lain, Jim!
"Yoongi-ssi belajar di sini juga?" Begitu kalimat itu meluncur dari bibir Jimin, rasanya Jimin ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Bertanya sesuatu yang jawabannya jelas-jelas Jimin tahu, bodoh.
Alis Yoongi terangkat lagi. "A-ah maksudku, Yoongi-ssi sekolah di mana? Kalau belajar di sini rata-rata mengejar target"
Jimin menjaga lidahnya agar tidak melontarkan pertanyaan bodoh lagi.
"Aku di SMA Bangtan"
Jimin tercengang. SMA Bangtan? Hey, itu sekolah menengah atas paling bergengsi di Busan, dan ketiga se-Korea. Syarat menjadi siswa di sana pun tidak main-main, hanya orang-orang berotak encer yang bisa masuk ke sana.
Yoongi pasti pintar.
"Kenapa? Wajahmu aneh" Tanya Yoongi bingung.
"Kaget ya mendengar sekolahku?" Tanya Yoongi lagi.
"T-tidak, maksudnya ya sedikit."
Jimin bingung mau bicara apa lagi, melihat Yoongi yang diam memandangi hujan. Lama keheningan itu tercipta membuat Yoongi bosan. Yoongi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kotak bekal.
Kotak bekal? Jimin bingung. Kotak bekal sama sekali tidak cocok dengan gambaran diri Yoongi yang maskulin.
"Wajahmu aneh lagi. Kenapa? Seperti perempuan ya bawa bekal?" Yoongi membuka kotak bekalnya. Aroma kopi, susu, dan cokelat menguar. Tiramisu.
"Kau mau? Tapi sendoknya hanya satu."
"Tidak, terima kasih" ucap Jimin sopan.
"Tiramisu ini enak lho. Benar tidak mau?" Ucap Yoongi sambil mengunyah tiramisunya dengan nikmat, sengaja membuat Jimin mau.
"Terima kasih, lagipula sendoknya hanya satu, kan"
"Kita bisa berbagi kok"
Ucapan itu membuat Jimin panas-dingin. Yoongi tersenyum, matanya melengkung. Tersenyum yang menyiratkan-
"Tapi nanti kita langsung diare"
-kejailan. Jimin tidak bisa marah pada Yoongi, entah kenapa.
"Huh, kau ini. Kau tadi itu justru seperti perempuan" ucap Jimin terkikik. Yoongi pura-pura tersinggung, lalu menutup kotak bekalnya seperti semula.
"Tidak ada tiramisu untukmu, kau membuatku sakit hati" ucap Yoongi bercanda. Mereka pun tertawa bersama.
Jimin tidak pernah merasa sedekat ini dengan orang yang baru dikenalnya. Jimin merapalkan doa, semoga hujannya lama, semoga hujannya lama. Jimin tidak mau kebersamaannya dengan Yoongi usai.
Tapi entah kenapa hujan justru mereda. Sontak Jimin membalik doanya, berharap doanya adalah kebalikan. Semoga hujannya reda. Tuhan pun mengabulkan doa Jimin, hujan semakin reda.
Jimin sedih, kenapa doaku tidak terkabul.
Akhirnya yang ditunggu Yoongi datang juga. Sebuah mobil memasuki halaman gedung. Yoongi berdiri lalu memasukan kotak bekalnya ke tas.
"Jemputanku sudah datang. Senang bertemu dengan,..." Yoongi bahkan tidak mengingat nama Jimin tadi.
",... denganmu. Aku pulang dulu"
Jimin nelangsa. Ternyata hujan ataupun tidak, Yoongi pasti pergi. Bodohnya aku. Bukankah aku sendiri yang mendengar dia akan dijemput. Bodoh.
Jimin memaksa bibirnya tersenyum. Tenang, masih ada besok.
"Aku pulang dulu, ya" Yoongi melambaikan tangan.
"Tung-tunggu" Jimin mengejar Yoongi yang sudah di dekat mobilnya. Begitu sudah dekat, Jimin menyerahkan jaket Yoongi.
"Ini" Yoongi yang melihat Jimin mengulurkan sesuatu terima-terima saja. Tanpa mau mendengar kalimat Yoongi, Jimin langsung lari masuk ke dalam gedung. Masuk ke dalam dan bersembunyi di balik tembok.
Yoongi bingung, antara mau mengejar anak perempuan tadi, atau masuk ke dalam mobil. Klakson mobil kakaknya terdengar. Yoongipun memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Begitu pintu mobil ditutup, mobil berjalan meninggalkan tempat bimbingan belajar.
Jimin di tempat persembunyiannya, merosot dengan bersandar di dinding. Tenaganya habis, pertemuan singkat itu membuatnya lemas, tetapi sangat senang. Benaknya penuh dengan Yoongi.
Kini muncul keyakinan baru. Aku harus pintar seperti Yoongi.
.
.
Sambil memegang setir, Yoonjin mencoba melirik apa yang Yoongi bawa. "Siapa?" Tanya Yoonjin tiba-tiba.
"Lupa," ucap Yoongi pendek. Yoongi membuka bingkisan yang diberikan anak perempuan tadi.
"Huh, kenapa bukan makanan" gerutu Yoonjin.
Yoongi menggeleng-gelengkan kepala melihat jaketnya. Wanginya berbeda, tidak ada wangi maskulin lagi di jaketnya. Ini memperjelas kalau jaketnya sudah dicuci beberapa waktu lalu. Sekali lagi Yoongi menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Serius, siapa dia?"
Yoongi membuang jaketnya ke jok belakang. "Lupa, hyung. Paling penggemarku yang lain" ucap Yoongi acuh.
.
.
TOK TOK TOK!
"Taehyung!"
"Taehyung-ah!"
"Taetae-ya!"
"Astaga anak ini belum bangun juga" ucap Jimin putus asa menggedor pintu kamar Taehyung.
"TAEHYUNG!" Teriak Jimin lebih keras.
"YAK!"
Jimin berjengit kaget mendengar teriakan dari dalam sana.
CKLEK!
"Ada apa, eoh?" Tanya Taehyung setengah bangun setangah kesal.
"Antar aku ke toko buku" Jimin mengerucutkan bibirnya.
"Aish, kenapa kau bisa masuk ke rumahku sih?"
"Huh, jangan seperti itu, Tae. Ayah dan Ibu mu pergi. Ayo cepatlah bersiap dan antar aku ke toko buku" ucap Jimin mendorong Taehyung masuk ke kamar.
"Tunggu tunggu, kau mau beli novel, kan? Tidak dan tidak, Jimin"
"Tae, kau pasti tidak percaya denganku. Sungguh, aku mau beli buku pelajaran"
Krik.
Krik.
Hening.
"Alibi apa lagi ini" ucap Taehyung datar sambil melipat tangannya di dada.
"Tae, aku benar-benar tidak sedang beralibi, Aku. Mau. Ke Toko Buku. Sekarang" Jimin berbicara dengan nada serius.
"Ya sudah minggir, mengganggu hari liburku yang indah saja" gumam Taehyung kesal. Mengabaikan teriakan kemenangan Jimin. Hari ini sekolah mereka libur karena rapat guru, tetapi tetap saja yang namanya les tambahan itu tetap ada untuk persiapan Ujian Tengah Semeternya.
Tak lama kemudian Taehyung keluar dari kamarnya dengan pakain rapi menemui Jimin yang duduk di sofa ruang tamu. Kalau di drama-drama, mungkin diceritakan mereka akan kencan, tapi di sini tidak sama sekali. Jimin dan Taehyung terlihat seperti pembantu dan majikannya.
Jimin terdiam sendu sejenak melihat penampilan Taehyung. Keren dan tampan, beda dengan dirinya, mau serapi apapun baju yang dia kenakan pasti ujung-ujungnya jelek. Ya memang selalu seperti ini jika mereka akan pergi keluar.
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Ne?"
Ah, Taehyung ingat sesuatu.
"Tunggu sebentar" Taehyung dengan cepat meninggalkan Jimin yang bingung.
Tidak ada lima menit, Taehyung keluar lagi. Kemeja hitamnya yang dipadu dengan jaket kini berganti menjadi baju warna putih compang-camping. Karena di bagian bahunya sobek, bagian lehernya sobek, dan bagian bawah bajunya juga sobek.
Jimin menganga.
"Kenapa?"
"Itu baju model apa?" Tanya Jimin heran. Dia tahu Taehyung itu aneh, tapi dia baru tahu kalau koleksi bajunya juga aneh.
"Ini baju model Kim Taehyung." Taehyung berucap sambil membusungkan dadanya percaya diri.
Jimin tersenyum. "Lalu kenapa kau memakainya? Sudah bagus yang tadi lho"
"Sudahlah ayo aku mau cepat selesai dan kembali tidur"
.
.
Sesampainya di toko buku, mereka berdua benar-benar jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, mereka berbeda dengan pengunjung yang lain. Taehyung melihat wajah redup Jimin. Dilihati dari atas sampai bawah memang tidak enak.
Taehyung langsung menarik Jimin ke deretan buku pelajaran. "Nah ini, pilih apa yang mau kau beli" Taehyung melipat tangannya di dada.
Jimin mual. Ini sungguh membosankan. Tidak, tidak, aku harus bisa seperti Yoongi!
Diabaikan rasa bosannya lalu memilih buku yang kira-kira bisa membantunya, tentu dibantu Taehyung.
"Kimia, Fisika, Matematika, Sejarah, dan Geografi. Cukup?" Tanya Taehyung.
Jimin sedikit pusing mendengar nama pelajaran yang disebutkan Taehyung. Tentu saja dia tidak membeli Bank Soal di semua mata pelajaran, bisa-bisa dirinya tidak makan saat istirahat. Uang sakunya, man.
"C-cukup"
"Baiklah kita ke kasir. Ku dengar buku-buku pelajaran dan Bank Soal terbitan Prof. Kim Namjoon adalah yang terbaik se-Korea." Mereka berjalan ke kasir. Jimin menelisik ke arah buku-buku yang dia bawa. Semuanya adalah buku yang disusun oleh Profesor Kim Namjoon.
"Woah pastilah dia orang jenius sedunia. Mungkin wajahnya sudah keriput dan kepalanya setengah botak karena terlalu jenius" ucap Jimin. Mereka sudah mengantri di kasir. Pengunjung hari ini lumayan banyak sehingga harus menunggu saat membayar.
"Mungkin. Tapi rumornya dia masih muda" ucap Taehyung.
"Heee? Dia professor? Aku tidak percaya kalau dia masih muda."
"Sudahlah, lebih baik kau maju, antrian di belakang sedang menunggu"
"O-oh ok"
.
.
Mereka sudah sampai di komplek elit daerah Busan, tempat rumah mereka berada. Rumah Jimin ada di blok A dan Taehyung blok B.
Di persimpangan jalan, "aku jalan ya" ucap Taehyung berbalik jalan meninggalkan Jimin.
"T-tae"
"Hm?" Taehyung berbalik.
"K-kalau a-aku kesusahan, mau tidak a-ajari aku?" Tanya Jimin terbata, takut-takut kalau sahabatnya tidak mau membantunya.
Taehyung menganga, sahabatnya yang paling malas belajar, sekarang minta diajari olehnya. Daebak!
"Hm, baiklah. Datang kapan pun kau mau, Jim" ucap Taehyung tersenyum. Jimin yang melihatnya langsung berbinar.
"Jinjja?!"
"Iya, sudah sana pulang." Usir Taehyung tapi sambil tersenyum lembut.
"Baiklah, aku pulang. Annyeong! Sampai ketemu di tempat les ya"
Jimin berlari kecil meninggalkan persimpangan gang mereka. Taehyung yang melihatnya geleng-geleng kepala dan ikut meninggalkan persimpangan gang itu.
.
.
"Hyung! Cepatlah. Mobil ayah sudah menunggu!" Teriak pemuda pucat yang diketahui adalah Min Yoongi. Meneriaki kakaknya di lantai atas karena terlalu lama.
"Tunggu, dalaman ku ketinggalan."
"Astaga bagaimana bisa, rumah ini sudah kosong dan dalaman mu ketinggalan? Ajaib"
DRAP DRAP DRAP!
"Ayo kita tinggalkan rumah ini."
"Aku pasti akan merindukan rumah besar ini." Yoonjin melankolis. Jujur, dirinya mengukir banyak kenangan di sini. Tapi apa boleh buat, cabang perusahaan ayahnya di Seoul sedang ada kendala, membuat ayahnya -sang pimpinan utama sekaligus pemilik- harus pindah ke Seoul, dan mau tidak mau keluarganya pun harus pindah.
"Hyung, rumah kita di Seoul bahkan lebih besar dari ini" ucap Yoongi malas.
"Semua berkas kepindahanmu sudah kau urus dengan baik kan?" Tanya Yoonjin
"Sudah. Ngomong-ngomong, sekolahku di Seoul nanti di mana?" Tanya Yoongi membuka pintu mobil karena mereka sudah sampai di depan mobil ayah mereka.
"Ku dengar ayah dan ibu mendaftarkanmu ke SMA BigHit"
"BigHit ya?" Gumam Yoongi.
"Hm. Sekolah elit, paling bagus pertama se-Korea. Beruntung sekali kau, Yoon"
'Perempuan yang cantik-cantik pasti banyak' pikir Yoongi nyeleneh.
Mereka berdua memasuki mobil dan meninggalkan pekarangan rumah mereka yang luas. Meninggalkan rumah mereka dan segala kenangannya.
.
.
Pelajaran les sudah selesai, tapi tak dipungkiri Jimin mau bertemu dengan lelaki tampan penyelamatnya. Siapa lagi kalau bukan Min Yoongi. Ah namanya saja masih terus diingat Jimin sampai sekarang. Hati Jimin terasa berbunga-bunga saat menyebut nama Min Yoongi.
Taehyung sudah lebih dulu meninggalkan Jimin yang seperti orang kurang kerjaan, duduk di koridor pintu keluar.
"Apa dia tidak masuk ya?" Gumamnya.
"Sepertinya dia ada di kelas orang-orang pintar di sini" Jimin menyerah. Gedung sudah mulai sepi, tapi tidak ada tanda-tanda Yoongi lewat.
"Hm. Mungkin besok aku bisa bertemu." Jimin berdiri dan berjalan pelan keluar.
"Sayang sekali dia keluar. Aku jadi tidak bisa melihat wajah tampannya lagi"
"Iya, aku juga. Sudah tampan, pintar lagi"
Jimin melihat dua perempuan cantik yang mendahuluinya. 'Huft kapan aku seperti mereka. Rambut panjang, tubuh langsing. Tapi mereka kurang kerjaan, orang pindah masih saja diurusi. Huh' Gumam Jimin campur aduk.
.
.
Sudah satu bulan Jimin melakukan rutinitasnya sebagai penunggu seorang Min Yoongi di tempat les. Taehyung sampai bingung dengan kelakuan Jimin. Jujur, Taehyung bangga dengan Jimin. Entah apa yang merasuki sahabatnya ini, Jimin jadi giat belajar dan nilai-nilainya meningkat.
Oh satu lagi, Ujian Tengah Semester sudah lewat dan Jimin berhasil menembus nilai rata-rata, tidak ada satupun nilai Jimin yang di bawah rata-rata. Wow, Taehyung takjub.
"Jim, ayo pulang"
"Tunggu, Tae." Ucap Jimin gemas. Sudah satu bulan dia menunggu Yoongi, tapi kenapa Jimin tidak melihat Yoongi sama sekali.
"Kau menunggu siapa sih?" Tanya Taehyung mulai kesal.
"A-aku. Kau masih ingat lelaki gentle itu?"
Taehyung tampak berpikir. "Hm, yang memberimu jaket?"
"Ya ya itu dia"
"Memang kenapa, kau belum mengembalikan jaketnya?"
"Bukan. Tapi.." Ucapan Jimin menggantung. Tapi wajah Jimin seperti menjelaskan semuanya. Kalau Jimin menyukai pemuda itu. Wajahnya memerah dan sikap Jimin malu-malu.
"Astaga kau tertarik padanya?" Jimin blank, bagaimana bisa Taehyung menebak dengan mudah?
"Begini, kenapa kau tidak coba tanya ke petugas tata usaha, tanya absennya"
"Ah ya! Kau benar."
Jimin langsung berlari menuju ruangan tata usaha. Taehyung berjalan santai mengikuti Jimin. Entah rasanya dada Taehyung ada yang mengganjal.
Taehyung memerhatikan Jimin yang sedang bertanya kepada petugas itu. Lama mereka berbincang, lalu Jimin membalikan badannya. Menghampiri Taehyung dan sedang duduk. Wajah Jimin terlihat lesu.
"Dia tidak masuk-masuk ya?" Tanya Taehyung.
"Mungkin itu lebih baik." Ucap Jimin lesu, menyandarkan badannya di tembok ternyata bisa mengurangi bebannya.
"Maksudmu?"
"Dia pindah, Tae" air mata Jimin menggenang.
.
.
"Aku pulang." Jimin berjalan lesu memasuki rumahnya. Dia melihat kedua orang tuanya sedang ada di ruang tengah, mengobrol sambil ditemani teh dan kue kering.
"Jimin, kemarilah, nak" panggil Ibunya. Jimin hanya bisa menuruti, dirinya lelah dan mau semuanya berakhir. Dia duduk di samping Ibunya.
"Kita harus pindah dari sini Jimin"
"Mwo?! Appa punya hutang? Kenapa kita pindah?" Perkataan Ayahnya membuat Jimin shock, melupakan rasa lelahnya tadi.
"Tidak bukan masalah hutang, tapi memang kita harus pindah ke Seoul. Kalau dipikir-pikir, perusahaan Ayah di sana sudah lama tidak Ayah pegang, jadi Ayah putuskan kita harus pindah."
"Kenapa mendadak?" Demi apapun Jimin yang kesal makin kesal.
"Maafkan kami Jimin, ini memang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Tapi belum sempat dibicarakan padamu"
Mungkin awalnya Jimin menolak, tapi toh untuk apa menolak. Di sini tidak ada Yoongi, Jimin pun tidak punya teman di sekolah. Hanya Taehyung temannya.
Taehyung?!
Jimin berlari ke kamarnya. Mengobrak-abrik isi tas untuk mencari ponselnya. Dengan cepat Jimin men-dial nomor ponsel Taehyung.
"Halo?"
"Tae..." suara Jimin terdengar lirih dan menahan tangis. Apakah sekarang dia akan meninggalkan sahabatnya ini. Kenapa Jimin harus ditinggal dan meninggalkan orang yang dia sayang?
"Aku tahu apa yang mau kau bicarakan"
"Hah?" Jimin yang tadi sedih jadi bingung.
"Jangan bodoh, kalau kau pindah, otomatis aku ikut pindah"
"Heee?" Jimin makin bingung. Maksud Taehyung apa?
"Ternyata kau memang tetap bodoh. Ayahku tangan kanan ayahmu, sudah pasti ayahku mengikuti kemana ayahmu pergi."
"Dan kita tetap akan satu sekolah. SMA BigHit, keren kan?"
Lama Jimin mencerna kata-kata Taehyung.
"Kau memang sahabatku, Kim!" Teriak Jimin senang. Tidak apa aku kehilangan jejak Yoongi, kalau jodoh tidak akan kemana kan? Batin Jimin.
.
.
.
TBC/END?
Haii aku udah pulanggg, maaf pas di kampung gak bisa update, aku di sana gak dapet sinyal, sekalinya dapet sinyal website ffn kena I-Po. Trus pas udah dapet sinyal lagi chrome aku gabisa dibuka T.T kalo post ff di browser biasa gatau kenapa dibikin ribet, mencet apa jadi malah jadi apa T.T maaf yaa readers.. but, hope you like this chap. This is so loooong.. dan ini sebagian dari tambahan imajinasi aku. Supaya nyambung ke sananya nanti^^
Yang nunggu ff faithful, tunggu yaa lagi on going :') semoga kelar, um mungkin satu atau dua chap lagi end T.T
THANKS SO MUCH, LOVE YOU ;*
Prologue reviews :
esazame | clutcha | yongchan | IoriNara | AllSoo | SweetyChim | noona93 | Tiwi21 | JiminVivi | vchim | Hanami96 | 7201
.
Chapter 1 reviews :
IoriNara | esazame | amprhidite | yongchan | hyena lee | vchim | Jungeunyoon | magnae palsu | JiminVivi | clutcha | Bubgummy | taehyungie | KookieL | Ssugarcookiess | megane1506 | Pinkerbell97 | avis alfi | yoongiena
.
Nyonya Jung.
