.
Blind Date © AliaZalea
Translated by juvenileflew
Main Cast: Chanyeol – Sehun
Warn: R18, YAOI
Don't like, so don't read
Chapter 1
TIK... TOK... TIK... TOK...
Bunyi jam dinding semakin membuatku tidak nyaman.
Meskipun aku dapat mendengar musik klasik di antara bunyi jam dinding itu, semuanya tidak bisa mengalahkan suara detak jantungku sendiri. Sambil pelan-pelan meminum kopi susu, sekali lagi kuperhatikan sekelilingku.
Berada di dalam ruangan ini mengingatkanku akan toko-toko yang ada di Rodeo Drive. Hahh...seperti aku pernah masuk saja ke toko-toko itu. Aku hanya pernah melihatnya ketika menonton acara The Osbournes di MTV. Walaupun begitu, yang jelas segala sesuatunya tentang ruangan ini meneriakkan kata MAHAL dan SUKSES.
Mulai dari karpet tebal warna putih yang terhampar di kakiku hingga sofa modern warna merah darah yang aku duduki. Meja kaca dengan kaki warna putih di hadapanku dipenuhi dengan majalah-majalah fashion edisi terbaru.
Wajah Chris Evans, Taylor Lautner, Brad Pit, dan aktor Hollywood lainnya menghiasi sampul majalah-majalah itu.
Seorang wanita bernama Yeri duduk di belakang meja kaca berbentuk seperti angka delapan. Di hadapan Yeri terdapat papan bertuliskan RECEPTION. Yeri tersenyum ramah kepadaku. Aku pun membalas senyumannya dengan canggung.
Aku masih tidak percaya bahwa aku ada di sini, lebih-lebih lagi di tempat ini. Selama ini aku selalu berpikir bahwa laki-laki yang memerlukan jasa blind date (khusus gay) adalah tipe lelaki yang:
1. Berwajah jelek, hidung seperti nenek sihir, mata jereng atau terlalu besar seperti ikan mas koki, atau gigi gingsul mirip vampir.
2. Berpenampilan buruk, termasuk tidak tahu cara memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuh sehingga terlihat seperti lemper.
3. Tidak memiliki tata krama, misalnya suka berbicara dengan mulut penuh makanan.
4. Terlalu tua sehingga pilihannya jadi sangat terbatas.
5. Dipaksa orangtua untuk menikah secepatnya.
6. Senang menggoda, dan hanya menginginkan laki-laki lain untuk hiburan mereka.
Aku tidak memiliki satu pun karakteristik itu.
Pertama, aku tahu bahwa aku tidak tampan luar biasa seperti bintang film atau supermodel, tetapi aku cukup menarik dengan rambut hitam mudah diatur dan wajah oval. Tubuhku proporsional dengan tinggi 184 sentimeter dan berat badan 60 kilogram. Kulitku meskipun tidak kuning langsat, masih tetap menggambarkan kulit laki-laki Asia pada umumnya, yaitu putih namun tidak mencapai albino.
Kedua, banyak orang mengatakan selera bajuku patut ditiru karena aku selalu bisa memilih pakaian yang akan menonjolkan fisikku dan menyempurnakan penampilanku sebagai laki-laki Asia yang sukses hidup dan bekerja di Amerika.
Ketiga, umurku masih 26 tahun, masih cukup muda.
Keempat, orangtuaku tidak pernah memaksaku untuk menikah secepatnya, mereka bahkan terkesan tidak peduli apakah aku akan menikah atau tidak. Masalah orientasiku tidak ada yang terlalu ambil pusing. Aku bersyukur keluargaku adalah orang-orang dengan pikiran terbuka. Sudah menjadi hak akan takdirku jika aku memang menyimpang.
Terakhir, meskipun aku tidak pernah mengalami masalah untuk mendapatkan pasangan yang aku mau, aku bukan tipe laki-laki penggoda karena aku lebih memilih hubungan yang serius daripada one night stand.
Jadi, mengapa aku ada di sini?
Aku ada di sini karena usahaku coba mencari calon pasangan sendiri setelah selama dua bulan tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya, aku harus mengaku kalah dan datang ke tempat ini.
Aku menemukan situs MyBlindDate dari Luhan, kakakku yang sedang menyelesaikan studi doktornya di bidang psikologi di Washington DC. Ia fans berat acara Oprah Winfrey. Di salah satu episodenya seminggu yang lalu, Oprah membahas mengenai blind date, dan selebriti berkulit hitam paling sukses di Amerika itu sangat merekomendasikan MyBlindDate atau MBD sebagai salah satu perusahaan kencan buta terbaik bagi laki-laki atau wanita yang sibuk untuk bertemu calon pasangan. Untuk straight maupun non-straight tercakup semua.
Usut punya usut, ternyata MBD mempunyai cabang di Greensboro, North Carolina, kota terdekat dengan tempat tinggalku. Setelah memberanikan diri menelepon MBD beberapa hari yang lalu dan membuat janji, Sabtu pagi ini aku berkendara menempuh jarak selama 45 menit dari Winston-Salem.
Berdasarkan informasi yang telah aku kumpulkan melalui internet, MBD didirikan sejak tahun 1985 atas dasar pengalaman laki-laki bernama Trumpy Kent dari Chicago, yang bernasib hampir sama denganku. Jumlah klien mereka sudah mencapai ribuan.
MBD memberikan pernyataan bahwa hampir setiap hari mereka menerima berita pertunangan ataupun pernikahan dari klien-klien mereka. Jadi, aku memiliki cukup keyakinan akan kesuksesannya.
Tidak lama kemudian seorang laki-laki berambut hitam dengan tinggi hampir 186 meter menghampiriku sambil tersenyum lebar. Otomatis aku langsung merasa cocok dengan laki-laki ini. Wajahnya menyiratkan kehangatan sekaligus keramahan.
"Hi, I'm sorry that you have to wait. I'm Leeteuk," ucapnya.
Aku mengangguk, lalu berdiri dan menjabat tangannya. Tanpa basa-basi lagi Leeteuk langsung menggiringku ke ruangannya. Kutinggalkan cangkir kopiku yang masih setengah penuh di meja lobi.
Ruang kerja Leeteuk ternyata tidak berbeda dengan lobi yang baru aku tinggalkan. Semua perabot yang ada di dalamnya terlihat modern dan berteknologi canggih.
Setelah mempersilakan aku duduk, Yeri datang menyerahkan beberapa lembar kertas dengan tulisan tanganku di atasnya. Kertas itu berisi informasi mengenai diriku dan tipe laki-laki yang aku inginkan.
Setelah Yeri keluar ruangan, Leeteuk lalu duduk di belakang meja dan terlihat menyimak lembaran-lembaran kertas itu selama beberapa menit, kemudian tersenyum kepadaku.
"Oh Sehun. Apakah saya mengucapkannya dengan benar?" tanya Leeteuk.
"Yes," balasku, sambil tersenyum juga.
"Nama yang bagus."
"Terima kasih."
Leeteuk tersenyum, "Oke, kalau Anda tidak keberatan saya akan membacakan kembali apa yang Anda sudah tuliskan mengenai persyaratan yang Anda inginkan dari pasangan date Anda. Kami hanya ingin memastikan agar tidak terjadi salah paham." Leeteuk terdengar serius, meskipun wajahnya masih tersenyum ramah.
Aku mengangguk.
"Anda menulis bahwa Anda ingin pasangan date Anda tingginya antara 185 hingga 190 sentimeter?"
"Ya, apakah itu akan bermasalah?" tanyaku ragu. Aku menyukai laki-laki yang lebih tinggi dariku. Aku akan merasa lebih nyaman.
"Tidak, ini tidak akan bermasalah. Hanya saya pikir Anda memerlukan laki-laki yang lebih tinggi dari 190 sentimeter. Apakah Anda mengenakan sepatu bersol tinggi sewaktu Yeri mengukur tinggi Anda?" tanya Leeteuk.
"Tidak, sepatu saya lepas," jawabku. Leeteuk mengangguk-angguk.
"Untuk umur, Anda memilih antara 25 hingga 30. Betul?"
Aku mengangguk.
"Itu juga tidak akan bermasalah. Kami ada banyak klien laki-laki yang masuk dalam kategori umur tersebut."
Leeteuk kemudian menambahkan, "Anda terbuka dipasangkan dengan laki-laki dari berbagai ras. Sekali lagi, itu akan membuat kami lebih mudah menemukan pasangan date untuk Anda." Leeteuk mengedipkan matanya kepadaku sambil tersenyum.
Aku tersenyum melihat ekspresinya. Luhan berkata kepadaku bahwa laki-laki dari Amerika Selatan cenderung sangat mencintai pasangannya, meskipun mereka juga paling sering selingkuh. Laki-laki bule kebanyakan akan menjadi botak kalau sudah tua.
Hal ini mengingatkanku akan Bruce Willis, yang kepalanya sudah dibiarkan botak selama sepuluh tahun terakhir untuk menutupi kenyataan dia sudah kehilangan rambutnya pada usia yang cukup dini.
Laki-laki Asia biasanya kurang menghargai pasangan, sedangkan laki-laki African-American malah justru kalah terhadap pasangannya.
Sebenarnya, aku tidak tahu mengapa aku mendengarkan Luhan, padahal Luhan sendiri sama sekali tidak berpengalaman dalam hal berpacaran.
"Anda mengharuskan pasangan date Anda single dan unattached. Apakah Anda bersedia dating dengan laki-laki yang statusnya 'baru pisah' dari pasangan mereka?" tanya Leeteuk.
Tanpa berpikir aku langsung menjawab, "Tidak. Saya ingin mereka single. Tidak duda cerai, dan terutama tidak laki-laki yang secara hukum masih terikat pernikahan, meskipun mereka mengatakan mereka sudah pisah."
Ini adalah salah satu persyaratan yang sempat kubahas panjang-lebar dengan Luhan. Aku dan kakakku setuju, aku sebaiknya tidak melayani laki-laki berpasangan yang masih senang "belanja", tidak peduli apa pun alasan yang mereka kemukakan.
Pendapat kami agak berbeda mengenai duda cerai. Menurut Luhan, laki-laki yang sudah pernah bercerai bukan berarti laki-laki yang tidak bisa menjadi pasangan yang baik. Ada begitu banyak faktor yang bisa menjadi penyebab perceraian. Walaupun begitu, aku tidak mau mengambil risiko.
Kami juga membahas mengenai duda yang ditinggal mati istrinya, baik duda yang tidak mempunyai anak maupun ada anak. Akhirnya, kami setuju bahwa aku harus menghindari duda jenis apa pun juga.
Leeteuk mengangguk. "Anda mencentang boks untuk area North Carolina saja," lanjutnya.
"Saya rasa akan lebih baik bagi saya mulai dengan laki-laki yang tinggal cukup dekat dengan saya, tetapi saya bisa mengubahnya nanti kan kalau misalnya saya tidak bisa menemukan pasangan yang cocok setelah enam bulan?" Aku mencoba menjelaskan alasanku mencentang pilihan itu.
"Oh, Anda tidak perlu khawatir soal itu. Saya cukup yakin Anda akan menemukan pasangan yang cocok dalam waktu enam bulan." Leeteuk terdengar yakin.
"Oh, ya?" tanyaku bingung dan kaget.
Leeteuk mengangguk. "Anda adalah tipe laki-laki yang biasanya dicari laki-laki Seme dalam suatu relationship."
"Oh," adalah satu-satunya kata yang keluar dari mulutku. Aku merasa tidak terlalu percaya diri untuk menanggapi pernyataan Leeteuk. Dengan kata lain, meskipun kalau aku mau jujur dengan diriku sendiri aku tahu itu memang kenyataannya.
Aku memang tidak pernah mengalami masalah untuk menarik laki-laki, tetapi mendengar seseorang mengkonfirmasikan sesuatu yang aku hanya bisa rasakan, masih tetap membuatku canggung.
Leeteuk tertawa melihat reaksiku.
"Anda tidak perlu menjawab pertanyaan berikut ini, tetapi kalau Anda bisa itu akan sangat membantu kami lebih memahami Anda dan menemukan pasangan yang paling cocok untuk Anda."
"Go ahead," ucapku, mengizinkan Leeteuk menyampaikan pertanyaannya.
"Apakah yang membuat Anda datang ke MBD?"
Aku tersenyum sebelum menjawab.
"Saya baru putus dari hubungan yang cukup serius beberapa bulan yang lalu. Setelah dirasa bergalau-ria tidaklah mengundang guna, saya memutuskan melanjutkan hidup dan datang ke MBD."
"Well said," balas Leeteuk penuh pengertian. "People should quote those words that you just told me and turned it into a movie or something."
Aku tersenyum kian lebar mendengar komentarnya. Kini aku memang bisa menertawakan keadaanku, tetapi tidak tiga bulan yang lalu. Aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya bahwa aku melihat Kris, pacarku selama tiga tahun, selingkuh dengan asistennya. Aku ingat betul kejadian pada akhir bulan Mei lalu itu.
.
Aku baru saja sampai di apartemen pukul enam hari Jumat sore ketika Kris menelepon untuk menunda date kami karena dia harus lembur. Dia berjanji akan menelepon kembali setelah pekerjaannya selesai. Aku tentunya tidak berkeberatan, aku justru senang karena pacarku begitu tekun dengan pekerjaannya.
Beberapa minggu ini memang Kris sering pulang malam karena salah satu klien terbesarnya sedang terkena kasus. Sebagai salah satu pengacara termuda di kantornya, aku justru merasa bangga karena para partner di kantornya melibatkan pacarku untuk menyelesaikan kasus itu sehingga aku sama sekali tidak curiga akan jam kerjanya yang tiba-tiba berubah.
Aku lalu menyempatkan diri membuatkan pasta jamur kesukaannya karena aku tahu dia pasti akan datang dengan wajah kelaparan, seperti biasanya. Akan tetapi, setelah menunggu hingga pukul tujuh malam dan Kris masih belum telepon juga, akhirnya aku pun menghubungi kantornya.
Anehnya tidak ada yang mengangkat. Aku lalu menghubungi telepon selularnya, tapi panggilanku langsung masuk ke voicemail. Dengan pemikiran bahwa aku akan memberikannya kejutan jika aku muncul di kantornya dengan membawa makan malam untuknya, aku menempuh jarak 30 menit untuk tiba di bangunan kantornya yang terlihat sepi kecuali bagian lobinya.
"Hello, Mr. Oh, coming to see Mr. Wu?" tanya Henry, satpam kantor Kris. Ia tersenyum ramah dan aku bisa melihat deretan giginya yang putih.
"Yes, is he still here? Saya bawakan dia makan malam," balasku tidak kalah ramahnya. "Apakah anda sudah makan malam?"
"You are a kind man. Ya, saya sudah makan sekitar satu jam yang lalu, thanks for asking."
Aku tersenyum mendengar jawaban Henry. Itulah salah satu sebab mengapa aku menyukai North Carolina, orang-orangnya sangat ramah.
"Mr. Wu masih di atas dengan Mr. Kim. Sebentar, saya telepon beliau dulu untuk memberitahu bahwa Anda ada di sini," ucap Henry lagi. Ia lalu mengangkat telepon.
Aku mengangguk. Rupanya memang kasus yang Kris hadapi cukup serius karena bahkan Kim Junmyeon, asistennya, juga harus lembur.
"Tidak ada yang menjawab." Henry terlihat sedikit bingung. "Mari, saya antar Anda ke ruangannya," ucap Henry. Aku tahu bahwa di kantor Kris apabila ada nonpegawai yang ingin masuk ke dalam, maka ia harus ditemani oleh salah satu pegawai.
Henry mengiringiku ke lift dan mengantarku ke ruangan Kris di tingkat delapan. Ketika pintu lift terbuka, lantai itu terlihat sepi dan redup. Henry kemudian berjalan menyeberangi ruangan yang dipenuhi dengan meja-meja yang dipisahkan oleh beberapa sekat, tempat para asisten duduk pada siang hari.
Aku tidak melihat Kim Junmyeon di mana pun juga. Aku hampir tidak mengenali ruangan ini. Terakhir kali aku ada di dalam ruangan ini ketika Kris membawaku untuk dikenalkan kepada kolega-koleganya hampir dua tahun yang lalu, dan pada saat itu semuanya terlihat sibuk, bahkan ramai.
"Sepi sekali," gumamku. Aku masih belum curiga ada sesuatu yang aneh dengan keadaan ini.
Henry hanya mengangkat bahunya, dan terus berjalan menuju ruangan yang berseberangan dengan lift. Kami berdiri di depan pintu kayu berwarna cokelat tua yang tertutup. Jendela sepanjang dua meter, yang terletak di sebelah pintu, juga tertutup oleh kerai kayu horizontal. Ada sinar terang yang menembus ke luar, menandakan masih ada orang di dalamnya. Henry bersiap-siap mengetuk pintu itu, tetapi aku berbisik perlahan.
"Biar saya yang melakukan. Saya ingin membuat kejutan untuknya."
Henry menYeriingai, dan berjalan kembali menuju lift. Aku tersenyum melihat wajah Henry. Dalam hati aku berjanji akan membuatkan kue cokelat untuknya, yang bisa dibawa Kris pada hari Senin.
Setelah menarik napas aku pun membuka pintu itu perlahan-lahan, sebisa mungkin tidak mengganggu konsentrasi Kris apabila dia sedang bekerja. Akan tetapi, apa yang kulihat cukup membuatku ternganga.
Pacarku dan Junmyeon dalam posisi doggy style. Pakaian mereka masih cukup lengkap di bagian atas, tetapi tidak ada sehelai pakaian pun dari pinggang ke bawah.
Aku mendengar suara orang berseru kaget, dan aku baru sadar bahwa suara itu adalah suaraku. Otomatis dua pasang mata langsung mengarah kepadaku. Mata Kris langsung melebar ketika melihatku.
"Excuse me," ucapku, dan buru-buru lari menuju lift. Aku tidak berhenti berlari hingga sampai di dalam mobil. Aku bahkan tidak menghiraukan Henry, yang menanyakan apakah ada masalah ketika melihatku berlari melewati lobi bagaikan dikejar setan.
Aku tidak bisa berkata-kata, bahkan tidak mampu menangis. Aku masih shock.
Untung saja aku selalu menolak tinggal bersama Kris selama kami berpacaran sehingga aku masih punya tempat tinggal setelah kejadian itu.
Walaupun begitu, aku merasa apartemenku tidak bisa memberikan kenyamanan dan keamanan yang aku inginkan. Selama dua minggu aku terpaksa tinggal dengan Luhan di Washington DC untuk menghindar dari Kris, yang setelah kutemukan sedang one night stand dengan asistennya selalu meneleponku, mendatangi apartemenku, bahkan menggangguku di kantor untuk meminta maaf.
Setelah tahu aku tidak akan pernah memaafkannya, Kris berubah menjadi seorang stalker. Ia meneleponku siang dan malam hanya untuk menutup kembali telepon itu apabila aku mengangkatnya. Dengan rasa kesal akhirnya aku meneleponnya untuk mengajaknya bertemu dan memutuskan hubunganku dengannya selama-lamanya.
Aku mengajaknya bertemu pada hari Minggu siang di tempat yang ramai untuk mencegah pertemuan itu berubah menjadi sebuah konfrontasi yang akan melibatkan kekuatan fisik. Selama tiga tahun kami bersama-sama, Kris memang sama sekali tidak pernah berbuat kasar terhadapku. Akan tetapi, Brandon laki-laki dan secara fisik dia lebih kuat daripada aku. Apalagi Kris sedang terluka, dan aku tahu orang yang dalam kondisi seperti ini akan memiliki kecenderungan mudah kalap kalau keinginannya tidak dipenuhi.
Kris sedang duduk sendiri di meja favorit kami di restoran yang dia pilih ketika aku datang. Sekali lagi aku harus mengakui Kris adalah laki-laki paling tampan yang pernah aku pacari. Kemeja biru yang dikenakannya menempel dengan sempurna pada bahunya yang tegap.
Dia tersenyum dan aku kembali ke realita. Luhan pernah berkata bahwa senyum Kris selalu terlihat palsu dan tidak tulus. Aku tidak pernah mengerti apa yang dimaksud Luhan hingga saat itu.
Senyum itu terlihat licik.
"Let's get this over with," ucapku tegas, lalu duduk di kursi di hadapan Kris.
Kris terlihat kaget mendengar nadaku, tetapi ketika melihatku duduk dia pun menatapku dengan penuh harap. Dia masih tersenyum, kemudian pandangannya tertuju ke dua kantong besar dari Old Navy yang ada di genggamanku dan senyumnya langsung hilang dalam sekejap mata.
"Do you want anything to eat?" tanyanya.
Seorang waiter mendatangiku, tetapi aku tidak memesan apa-apa. Aku tahu, aku tidak akan mampu berlama-lama duduk berhadapan dengan Kris tanpa merasa ingin menamparnya.
"Aku ke sini untuk memberitahumu agar berhenti menggangguku. Aku tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi denganmu sampai kapan pun juga."
Aku lalu berdiri dan menyerahkan dua kantong yang tadi aku bawa kepadanya.
"Aku sudah membereskan barang-barangmu yang masih ketinggalan di apartemenku. Semuanya ada di dalam kantong-kantong ini. Have a nice life," ucapku, lalu berdiri dan melangkah meninggalkannya.
Kris menatapku dengan mulut terbuka.
Kemudian tanpa kusangka-sangka Kris juga berdiri dan menarik lenganku.
"Apakah kau bahkan tidak ingin tahu mengapa aku melakukan itu?" tanyanya.
Matanya menatapku dalam. Aku melihat ada kemarahan dan kebencian di situ.
"Oh, aku tahu alasannya," jawabku.
Aku tahu alasan utama mengapa Kris selingkuh, tidak lain karena seks.
Selama ini aku sangat bersyukur karena telah menemukan Kris, laki-laki yang berbeda dari pacar-pacarku sebelumnya. Dia memahami prinsipku yang tetap ingin tetap bersih hingga aku menikah. Aku bahkan tidak pernah menyangka Kris selingkuh karena dia tetap selalu perhatian terhadapku sampai Luhan menempelkan ide itu di kepalaku ketika aku menceritakan tentang perselingkuhan Kris.
"Cara Kris memperlakukanmu seperti dia sedang menebus dosa. Dia terlalu perhatian."
Kata-kata Luhan itulah yang membuatku mencoba mengingat-ingat, apakah aku bisa melihat ada perubahan dalam diri Kris selama beberapa bulan terakhir?
Aku baru sadar Kris jadi semakin sering mengajakku ke luar makan malam dan memberiku hadiah-hadiah romantis dan mahal. Awalnya hanya bunga daisy setiap kali dia muncul di apartemen, tapi kemudian dia muncul dengan gelang dari Tiffany's atau topi dari Izro.
"Tolong jawab satu hal ini. Apakah dia satu-satunya atau ada yang lain sebelum dia?" desisku.
Kris tidak menjawab, tetapi dari sorot matanya aku tahu ternyata dugaan Luhan benar. Aku harus menarik napas dalam dan menahan diriku tidak mengguyurkan satu pitcher bir yang ada di meja kami ke kepalanya.
Bagaimana mungkin aku bisa sebuta ini? Bagaimana mungkin Luhan, kakakku yang empat tahun lebih tua dariku dan juga masih single dan rekor dating-nya sangat minim, bisa lebih punya intuisi membaca gelagat Kris daripada aku?
Kulepaskan cengkeraman Kris dari lenganku dan bergegas melangkah ke luar restoran. Aku tidak memedulikan tatapan beberapa orang di dalam restoran yang cukup padat itu. Sinar matahari yang terik langsung menyambutku.
Kukenakan kembali kacamata hitam yang tadi aku gantungkan di kerah kausku.
Tiba-tiba kudengar pintu restoran terbuka dengan bantingan yang cukup keras, dan kulihat Kris sedang menuju ke arahku. Wajahnya seperti badai, penuh dengan kemarahan. Aku tahu bahwa aku hanya akan mengundang masalah apabila tidak menjauh darinya saat itu juga, tetapi aku penasaran ingin tahu apa yang ingin dia katakan kepadaku sehingga membuatnya terlihat seperti itu.
"Apakah kau tahu bagaimana rasanya tidak mendapatkan seks selama dua tahun?!" teriaknya kepadaku.
Kukerutkan keningku, mencoba mengingatkannya bahwa kami sedang berada di tempat umum dan tingkah lakunya yang seperti orang kesurupan menarik perhatian semua orang yang ada di teras restoran. Kemudian aku tersadar oleh katakata terakhir Kris. Dia ternyata sudah tidak jujur terhadapku selama setahun terakhir ini.
"Jadi, kau sudah selingkuh selama setahun terakhir ini?" tanyaku santai.
"Ya, kau terlalu sibuk dengan hidupmu sendiri sehingga kau tidak pernah memperhatikanku. Ada empat lelaki lain sebelum dia, dan we did it everywhere. Termasuk di atas tempat tidurku." Kris menutup penjelasannya.
Luapan kemarahan yang sudah aku coba tahan naik ke permukaan. Bagiamana mungkin dia bisa mengatakan aku terlalu sibuk dengan kehidupanku sehingga tidak memperhatikannya? Selama tiga tahun dia pikir aku sedang berbuat apa?
"Apakah itu alasannya mengapa kau keluar dari restoran sambil marah-marah? Untuk mempermalukan diri kamu sendiri dengan mengumumkan perselingkuhanmu kepada seluruh Winston-Salem?" Meskipun darahku sudah mendidih, anehnya suaraku masih terdengar tenang.
Aku mendengar seseorang berteriak, "Laki-laki itu perlu ditampar!"
"Setuju!" sambut beberapa orang lainnya.
Seakan-akan baru sadar bahwa tidak hanya aku yang baru saja mendengar pengakuannya, Kris menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan hal itu. Ketika sadar apa yang telah dilakukannya, Kris terlihat semakin marah dan berjalan mendekatiku.
Baru saja dia berjalan dua langkah, dua laki-laki mencengkeram dan mendorongnya untuk menjauhiku. Salah satu dari mereka berambut coklat, dan yang satu lagi mengenakan topi baseball berlogo Wake Forest University.
"Walk away, man," ucap laki-laki yang mengenakan topi Wake Forest University itu.
Kris kemudian berjalan menjauhiku, tepat sebelumnya dia berteriak,
"Kau lihat saja, tidak akan ada yang mau denganmu! Tidak akan ada orang yang bisa tahan berhubungan denganmu! Akulah satu-satunya untukmu!"
Sepanjang sejarah aku tidak pernah dihina oleh siapa pun juga seperti Kris baru saja menghinaku. Aku sudah berniat menampar Kris saat itu, tetapi terlambat orang lain telah melakukannya untukku. Laki-laki yang berambut cokelat telah melayangkan kepalan tinjunya ke sisi kanan wajah Kris, dan aku mendengar bunyi "crack" yang cukup keras.
Kulihat Kris mundur beberapa langkah karena terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Darah segar mulai menetes dari pelipisnya, yang kini ditandai garis warna merah yang cukup panjang tepat di samping alisnya.
"That's not the way to talk with your ex," geram laki-laki yang baru melayangkan kepalan tinjunya.
Kris terlihat ingin melakukan serangan balik ke laki-laki itu. Aku yakin dia akan bisa mengalahkan laki-laki berambut cokelat itu karena Kris jelas-jelas lebih tinggi dan tubuhnya lebih besar. Akan tetapi, ketika ia melihat laki-laki yang mengenakan topi Wake Forest itu sedang bertolak pinggang, Kris berpikir dua kali sebelum meluncurkan serangannya.
Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa meskipun laki-laki bertopi itu lebih kurus daripada Kris, kedua lengannya terlihat kekar. Cukup kekar untuk mencekik Kris sampai dia kehabisan napas.
Setelah memberikan tatapan ganas kepadaku, Kris kemudian melangkah pergi yang diikuti oleh teriakan "booooo" dari beberapa orang yang menonton kejadian itu.
"Hi, are you alright?" tanya laki-laki bertopi itu lagi, sambil berjalan ke arahku. Aku tidak bisa betul-betul melihatnya karena wajahnya tertutup oleh bagian luar topi tersebut.
Aku mengangkat tangan dengan telapak menghadap ke arah laki-laki bertopi tersebut, dan mengangguk. "Thank you for that," ucapku. Laki-laki bertopi itu mengerti sinyalku, dan menghentikan langkahnya.
"It was our pleasure," balas laki-laki yang berambut cokelat, yang setelah aku perhatikan kulitnya pun sama-sama kecoklatan. Mungkin karena senyumnya yang sumringah, tatapannya yang bersahabat, atau matanya yang dalam. Temannya yang bertopi hanya menyentuh ujung topinya.
Aku lalu berjalan menuju mobil, dan meluncur pulang. Malam itu juga aku berangkat ke Washington DC.
.
Pertanyaan Leeteuk menarikku kembali ke masa kini.
"Jadi, Anda mencentang Looking for a serious relationship sebagai pilihan Anda. Betul?"
"Ya. Saya sudah 26 tahun, dan sekarang tampaknya waktu yang tepat untuk mulai suatu hubungan yang serius," jelasku. Ada beberapa alasan lain tentunya, tetapi aku tidak akan menceritakannya kepada Leeteuk. Dia adalah agen kencan butaku, bukan seorang psikolog.
Leeteuk tersenyum mendengar penjelasanku. "Saya mengerti maksud Anda. Pokoknya, Anda tidak perlu khawatir. Banyak klien laki-laki kami yang menginginkan hal yang sama."
Aku mengangguk. Justru yang aku khawatirkan adalah tidak ada satu pun dari laki-laki yang sesuai dengan kriteriaku itu bersedia menjalin hubungan serius denganku. Selama tiga bulan berulang kali kuputar percakapan terakhirku dengan Kris. Entah mengapa, tetapi kata-katanya,
"Kau lihat saja, tidak akan ada yang mau denganmu! Tidak akan ada orang yang bisa tahan berhubungan denganmu! Akulah satu-satunya untukmu!"
Semakin hari semakin menggangguku. Apakah ada yang salah dengaku? Apakah memang benar tidak ada yang akan mau berhubungan denganku? Kalau saja aku mendengar ucapan seperti ini tiga tahun yang lalu sebelum aku mengenal Kris, aku akan tertawa karena jelas-jelas itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.
Entah bagaimana, tampaknya selama tiga tahun aku bersama Kris tanpa aku sadari lambat laun aku sudah kehilangan jati diri dan kepercayaan diriku.
Berulang kali Luhan memastikanku bahwa Kris hanyalah laki-laki idiot yang tidak bisa menghargai diriku, dan Luhan memintaku melupakan semua kata-kata yang pernah diucapkan Kris kepadaku. Terutama kata-kata yang menyakitkan hatiku.
"Oke, pertanyaan terakhir." Suara Leeteuk lagi-lagi menyelamatkanku saat mengingat kembali kejadian tiga bulan yang lalu itu.
"Untuk body type, Anda menulis 'Athletic, I don't mind. Chubby but not obese..."
Aku tertawa mendengar tulisanku dibaca kembali oleh Leeteuk.
"Astaga, I sound so shallow now that you are reading it back to me."
Leeteuk pun ikut tertawa. "Tidak, jangan khawatir tentang itu. Kalau itu memang pilihan Anda, kami akan berusaha sebaik mungkin menemukan pasangan yang cocok untuk Anda."
Aku sangat berharap MBD tidak akan mengecewakanku karena sejujurnya inilah satu-satunya jalanku bisa menunjukkan kepada Kris bahwa aku bisa menemukan laki-laki yang menginginkanku, mungkin mencintaiku.
Setelah selesai interview, Leeteuk lalu menjelaskan perjanjian yang harus aku tanda tangani. Garis besar perjanjian itu berisikan tentang hak-hakku sebagai klien, dan beberapa peraturan yang sebaiknya dipatuhi oleh setiap klien. Beberapa peraturan itu adalah:
1. Untuk setiap kencan pertamaku, MBD akan mengaturnya untukku. Jika aku menemukan kecocokan dengan date-ku maka mereka memberiku kebebasan mengatur kencanku selanjutnya sendiri.
2. Aku harus makan di restoran yang telah dipilih oleh mereka untuk setiap kencan pertamaku karena ini salah satu cara MBD menjaga keselamatanku.
3. Aku diwajibkan menelepon MBD jika akan terlambat lebih dari 15 menit untuk kencanku agar date-ku tidak harus menunggu lama atau apabila kencanku harus dijadwal ulang.
4. Setiap klien wajib membayar makanan mereka masing-masing. Awalnya aku agak bingung dengan peraturan ini, tetapi kemudian aku dapat memahami logikanya.
Setelah kutandatangani perjanjian itu, kukeluarkan American Express-ku untuk membayar biaya jasa mereka sebesar dua ribu dolar. Hal ini akan mengikat MBD denganku selama enam bulan ke depan. Leeteuk kemudian memastikan semua pertanyaanku sudah terjawab, lalu menggiringku ke luar ruangannya dan mengantarku hingga ke mobil. Dia berjanji akan menghubungiku lagi secepatnya untuk mengatur jadwal kencanku.
To Be Continued
T/n: hai, thanks buat reader yang telah memberi respon di prolog kemarin ;')
keep support ya~
PS: ada beberapa perubahan yang disengaja supaya situasinya masuk akal, well ini aslinya straight novel so, saya musti sedikit makeover tanpa meninggalkan jalan cerita aslinya ;') thanks.
