YoonMin Fanfiction!

Jimin!GS

Warn! Typo(s), gak sesuai EYD

THIS IS A REMAKE STORY!

.

.

Nyonya Jung Present

.

.

[CHAPTER 3]

Menyatakan cinta?

.

"Tae, tunggu sebentar" Jimin membetulkan letak tasnya. Taehyung bergerak tidak sabar. Sedikit kesal dengan sahabatnya yang satu ini.

"Kau yang lambat. Masa hari pertama masuk sudah telat?"

Mereka akan mengawali hari ini sebagai murid baru di SMA BigHit. Jujur, Taehyung sangat senang. Siapa yang tidak senang bisa masuk di sekolah paling elit di negaramu. Kalau Taehyung yang masuk di SMA BigHit wajar, tapi Jimin? Dia melakukan serangkaian test dan akhirnya Jimin bisa lolos.

"Sebentar." Jimin ngos-ngosan.

"Aduh jangan akting. Aaargh..." Taehyung menyeret Jimin. "Kau harus diet, Jim"

Jimin tidak membalas perkataan Taehyung. Bernafas saja sudah sulit.

Lapangan sekolah penuh dengan murid-murid yang sudah berbaris rapi untuk mengikuti upacara. Jimin dan Taehyung bergabung di barisan belakang. Entahlah, tidak ada yang mereka kenal di sini. Wajah-wajah mereka terlihat asing.

"Aku... Hhhh.. Tidak mungkin diet" Ujar Jimin terduduk di lapangan.

"Kalau kau mau, pasti bisa"

"Contohnya sudah jelaskan? Yoongi" ugh menyebut namanya membuat sesuatu di dada Taehyung seperti terhimpit.

Jimin terdiam, entah bagaimana kabar Yoongi saat ini. Dia tidak tahu.

"Sudah cepat berdiri kalau kita tidak mau ditegur guru dan osis" ucap Taehyung lalu membantu Jimin berdiri. Walaupun Taehyung hampir terjungkal saat membantu Jimin, tapi dia laki-laki, man. Tenaganya banyak.

Jimin membersihkan bagian rok belakangnya yang kotor. Ngomong-ngomong, Jimin jadi teringat insiden 'bocor'nya waktu itu. Di mana Jimin bisa bertemu dengan Yoongi si penyelamat.

Saat sedang asik memikirkan Yoongi, entah apa Jimin salah lihat, dia melihat Yoongi!

"T-tae! Itu Y-yoongi kan?" Tanya Jimin penasaran. Dia meminta Taehyung lebih menjelikan matanya karena postur tubuh Jimin yang pendek jadi tidak bisa terlalu jelas. Berbeda dengan Taehyung yang tinggi menjulang.

Taehyung melihat kemana-mana, tapi tetap tidak menemukan wajah seorang Min Yoongi. "Tidak, aku tidak lihat siapa-siapa. Mungkin kau salah lihat." Ucap Taehyung.

"Hm, ya mungkin salah lihat." Ucap Jimin lesu. "Sudah jangan dipikirkan lagi, kalau jodoh pasti bertemu kok" Taehyung berucap sambil tersenyum secerah dan sehangat matahari.

.

.

Saran Taehyung untuk berjalan cepat tadi sungguh membuat tenaga Jimin habis. Jimin berjalan lemas menuju ruang UKS. Pikirannya penuh. Kenapa ayah ibu nya harus memasukan dia ke sekolah bergengsi ini.

Jimin membayangkan masa-masa sekolahnya nanti. Belajar, belajar dan belajar. Astaga itu sungguh membosankan.

Ia mengetuk pintu UKS. Apa tidak terlambat untuk pindah sekolah lagi? Mungkin dia bisa meminta bantuan ayahnya untuk melacak di mana keberadaan Min Yoongi. Di mana rumahnya, dan di mana sekolahnya.

Itu juga kalau orang tuanya tidak langsung stroke. Anaknya yang baru saja masuk ke sekolah terbaik, minta pindah sekolah yang entah ke mana.

"Permisi." Jimin masuk. Tidak ada guru yang berjaga.

"Permisi" ucap Jimin lebih keras.

Ruang istirahatnya terhalangi tirai. Dari sisi dalam, terdengar erangan. Sepertinya, dia terganggu dengan kedatangan Jimin. Jimin berjingkat, ia berbisik,

"Permisi" Jimin melongok. "Saya mau ikut istirahat."

Di atas kasur, seseorang tidur dengan selimut menutupi kepalanya. Sekali lagi, gundukan itu mengerang. Dia bergumam, "Tidak ada kasur lagi"

"Ah, baiklah aku duduk di kursi saja" ucap Jimin lalu mengambil kursi.

"Kau sakit?" Gundukan itu mengambil posisi duduk lalu membuka tirai agak lebih leluasa melihat sekitar. Selimutnya turun. Memperlihatkan wajah yang sedari tadi ditutupi selimut. "Pakai saja kasurnya"

Jimin pucat. Ia bengong. Ini bukan mimpi, kan? Dia tidak berhalusinasi kan?. Baru tadi dia salah lihat orang yang dia pikir adalah Min Yoongi. Dan sekarang! Min Yoongi ada di depannya. Utuh.

Berarti tadi itu memang benar Min Yoongi, kan?

"Aku pura-pura sakit. Jangan bilang-bilang ya" Yoongi menyeringai. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. Cengiran jailnya lebih menawan dibandingkan dulu. Yoongi menggeliat sambil merentangkan tangan.

"Hei, ada apa?" Tanya Yoongi lembut. Tatapannya tertuju ke manik mata Jimin.

Jimin hanya menggeleng. Perasaan bahagia merayap di dada Jimin. Tuhan memang baik!

.

.

Pertemuan Jimin dengan Yoongi di UKS ternyata berdampak besar kepada Jimin. Sekarang, Jimin menjadi penguntit seorang Min Yoongi.

Kali ini Jimin membuntuti Yoongi dan perempuan entah siapa namanya. Hoseok -Sahabat barunya- bilang itu adalah pacar baru Yoongi.

Kepala Jimin yang tadi bersembunyi di balik buku menu tiba-tiba tegak berdiri. Kedua pelayan yang daritadi menunduk di dekatnya untuk memastikan keadaan Jimin langsung terkesiap kaget. Pasalnya Jimin benar-benar aneh. Dipanggil-panggil oleh pelayan tidak bergeming juga.

Ditanya pesan apa, Jimin hanya diam. Berkali-kali. "Es teh lemon saja" Jimin tersadar dirinya tidak boleh terlihat. Buru-buru dia menutupi wajahnya dengan buku menu lagi.

"Hanya itu?" Pelayan tadi tersadar dari kekagetannya. "Tidak mau yang lain? Kami punya pai apel yang enak"

"Es teh lemon. Satu. Tidak pakai lama." Jimin mendelik.

"Oke. Es teh lemon" Kedua pelayan itu berlalu dari meja Jimin sambil berbisik-bisik.

"Orang gila" Salah satu pelayan itu mendelikkan bahunya.

Gila? Jimin mendengar kata-kata itu. Kalau membuat kepala orang bocor bukanlah tindakan kriminal, Jimin pasti sudah melakukannya. Ada apa dengan hari ini, Jimin mengelus dadanya. Banyak sekali cobaan yang mengganggunya. Orang gundah malah diejek aneh, gila malah. Tetapi itu belum seberapa. Hati Jimin mencelos.

Tidak jauh dari mejanya, Yoongi duduk berdua dengan seorang perempuan. Berat hati, Jimin mengakui kalau perempuan itu memang lebih segala-galanya dibandingkan Jimin. Karena itu, Jimin menggunkan senjatanya yang paling ampuh. Memohon tanpa putus kepada Tuhan.

Senyum pacar Yoongi membuat Jimin sakit mata.

"Sayang, aku senang kamu ngajak aku ke sini." Setelah mengelus pipi Yoongi, jemari tangan gadis itu turun ke tangan Yoongi. Membelainya lembut.

Jangan pegang-pegang!

Jimin menggebrak meja tanpa sadar. Suara gebrakannya cukup keras untuk mengalihkan pandangan seluruh pengunjung kafe ke arahnya. Termasuk Yoongi dan pacarnya.

Mati aku.

Jimin menunduk, pura-pura batuk parah sambil menggebuk-gebuk meja. Aneh sebenarnya. Kalau batuk, yang ditebah-tebah harusnya dada. Tapi ini keadaan darurat. Akting itulah yang terpikir pertama kali oleh Jimin.

Berhasil. Semua orang kembali ke urusannya masing-masing. Hampir saja Jimin ketahuan. Kalau ketahuan, bisa-bisa Jimin dianggap penguntit gila. Jimin tersenyum senang. Aksi pacar Yoongi yang menggerayangi tangan Yoongi pun batal. Itu semua berkat akting brilian yang Jimin lakukan.

"Es teh lemonnya." Pelayang menaruh gelas di depan Jimin. Ia pun mengucapkan terima kasih tanpa melepaskan pandangan dari Yoongi. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Layarnya kedip-kedip.

Hoseok Calling

"Kalau ada yang ingin anda pesan, anda bisa memanggil saya" ucap pelayan itu.

"Iya. Mengerti." Jimin berucap asal tidak memedulikan pelayan itu. Memang tidak sopan, tetapi biar saja, toh sebelumnya dia sudah mengira Jimin gila.

Panggilan ponsel Jimin mati. Tetapi sesaat kemudian kembali bergetar. Layarnya juga masih mengedip-ngedipkan nama Hoseok. Mengganggu saja. Kalau tidak diangkat, Hoseok akan menelponnya terus-terusan.

"Halo?" Bisik Jimin

"PARK JIMIINN!" Otomatis, Jimin menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Jangan teriak-teriak Hoseok"

"Apa? Apa? Apaaaa?" Suara Hoseok meninggi. "Kamu pikir, aku sudah menunggu berapa lama di sini? Kamu jadi nguntit si Yoongi itu? Kita jadi ketemu tidak? Aku sudah menunggu satu jam. Satu jam! Aku seperti anak hilang, tahu?! Pokoknya, dalam lima menit kamu belum sampai di sini, aku pulang"

Klik. Sambungan telepong diputus.

Astaga. Jimin menepuk jidatnya. Dia benar-benar lupa janji ketemu Hoseok. Jimin mengeluarkan beberapa lembar uang, menaruhnya di meja, lalu keluar tanpa menunggu kembalian. Orang ekspresif seperti Hoseok jika marah besar sangat berbahaya. Hoseok mogok bicara. Tidak peduli mulutnya sampai bau karena tidak digunakan. Mengerikan, bukan?

.

.

"Sayang, kamu lagi memikirkan apa?"

Yoongi tersenyum. Kalau saja gadis yang di hadapannya tahu apa yang sedang Yoongi pikirkan, pasti dia tidak akan seramah sekarang. "Aku sedang memikirkanmu."

Pipi Ryuka memerah. "Jangan gombal."

"Serius. Aku sedang memikirkanmu." Yoongi menyedap kopinya. Musik instrumental mengalun lembut. Cahaya lampu kekuningan memberi suasana redup. Yoongi bertelekan siku ke meja memandang Ryuka lekat-lekat. Salah tingkah, Ryuka menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan perasaannya.

Cantik. Ryuka cantik. Rambutnya panjang berkilau. Kulitnya bersih. Gerak-geriknya teratur seperti putri-putri dalam buku cerita. Dan terlebih dia blasteran Korea-Jepang.

Ryuka contoh pacar sempurna yang layak dipamerkan di depan sahabat-sahabat Yoongi.

Yoongi menghela nafas.

"Kita putus." Tanpa basa-basi, Yoongi menjatuhkan bom yang sejak tadi disimpannya.

"A-apa?" Ryuka yang sedang menyeruput teh cammomile di hadapannya tersedak. Dengan gerakan buru-buru, ia mengambil serbet kertas untuk mengelap ceceran air yang tumpah di meja dan wajahnya. Sedangkan Yoongi hanya diam memandangnya. "Kau bilang apa?"

"Kurang jelas?" Yoongi memajukan tubuhnya. "Kita putus. Selesai. Bubar. Bukan pacar lagi." Setelah melempar kata-kata itu, Yoongi menyender santai sambil menikmati ekspresi lawan bicaranya.

"A-apa?"

Kali ini, Yoongi mengetuk-ngetukan kakinya tidak sabar. "Kau ini entah bodoh atau kurang informasi sih. Masa ucapanku kurang jelas? Aku dan kau sudah selesai. Di antara kita, sudah tidak ada apa-apa lagi. Atau aku harus pakai bahasa Jerman?"

"Apa...?"

"Oh atau pakai bahasa Inggris?" Tampaknya, Ryuka bingung dengan apa yang dibicarakan Yoongi. "Uumm... we... are..friends..., oke?" Sekalian saja memakai bahasa tubuh. Yoongi menggerak-gerakan kedua tangannya sambil menekan kata perkata.

"Bukan itu maksudnya." Jemari lentik Ryuka yang dimanikur sempurna, menggebrak meja kafe.

Menyadari perhatian pengunjung kafe, Yoongi malah menoleh ke kanan kiri sambil tersenyum lebar.

"Tenang. Tenang. Semua terkendali. Kami hanya bertengkar. Aku memutuskan dia." Yoongi menunjuk-nunjuk gadis di depannya. "Tidak perlu khawatir ada perkelahian. Paling, sebentar lagi juga selesai. Maaf kalau kami mengganggu. Kalau ada isak tangis, harap maklum, Saudara-saudara."

"Yoongi!" Marah bercampur malu, Ryuka berdiri sambil merenggut tasnya. "Apa-apaan ini? Kita baru pacaran seminggu. Seminggu!" Sebenarnya, Ryuka ingin menangis. Air matanya menggenang, ditahannya kuat-kuat agar tidak jatuh. Gengsinya tidak mengizinkan -apalagi setelah ucapan Yoongi tadi. Ryuka tidak akan menangis. "Salah aku di mana, Yoon?"

Yoongi mengangkat bahu. "Kau cantik. Kau manis. Tidak ada orang lain. Tidak ada masalah. Semua baik-baik saja."

"Kalau begitu, di mana masalahnya?"

Selalu saja alasan. Yoongi menggeleng-gelengkan kepala. Kalau memang jatuh cinta tidak perlu alasan, mengapa memutuskan pacar harus ada alasannya? Kalau menyukai orang lain tanpa alasan, mengapa membenci orang lain harus memakai alasan?

Yoongi berdehem, "Sebenarnya, masalahnya hanya satu. Dan itu ada di aku"

Ryuka tersentak. Pikirannga melayang ke hal yang aneh-aneh. Mungkin, Yoongi sedang ada masalah keluarga. Mungkin, kedua orang tua Yoongi bercerai. Atau mungkin Yoongi mau pindah ke luar negeri dan tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh. Mungkin, seperti di film-film, Yoongi sedang sakit keras. Dia tidak ingin Ryuka sedih, kalau-kalau sebentar lagi Yoongi meninggal.

Ah, romantis. Kalau begini, Ryuka seperti menjalani kisah di novel-novel. Setidaknya, nanti, dia bisa cerita kalau salah satu mantannya menyukai dirinya sampai mati. Ryuka tidak jadi emosi. Suaranya disetel penuh pengertian. "Kau punya masalah? Cerita padaku, Yoon. Aku bisa mendukungmu. Apa yang bisa aku bantu?"

"Kau tidak bisa membantuku." Yoongi tersenyum kecil. "Aku ingin putus karena..."

"Karena?" Ryuka menunggu. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah dirinta menitikan air mata? Berlebihan. Lebih baik, dia meremas tangan Yoongi. Lalu, dengan mata sayu, Ryuka membisikkan kata-kata menghibur.

Yoongi geli melihat muka mengharap Ryuka. Bom yang lain dijatuhkan, "Karena aku bosan."

"Hah?"

"Aku bosan. Maaf ya. Jadi, mari kita putus baik-baik." Yoongi mengulurkan tangannya.

"Bosan?"

Ryuka seperti burung beo. Sejak tadi, dia mengulang-ulang suku kata yang diucapkan Yoongi. "Iya. Sesederhana itu. Aku bosan. Aku minta putus. Wajar, kan?"

PLAK

Ubun-ubun Ryuka berasap. Kesal dan sedih semuanya bercampur jadi satu. "Dasar orang gila!" Ucapnya sesegukan.

Ryuka pergi meninggalkan Yoongi dengan menghentak-hentakkan kaki.

Yoongi meringis sambil memegangi pipinya yang berdenyut. Sakit juga ternyata ditampar. Badannya memang mungil, tetapi tenaga Ryuka ternyata kuat juga. Mata Yoongi melirik minuman dan makanan yang ada di meja Ryuka tadi. Tiga kata yang ada di benak Yoongi. Ryuka belum bayar.

"Cih, cantik-cantik mental gratisan."

Pengunjung kafe yang lain melongi menatap Yoongi. Yoongi jadi salah tingkah. "Maaf mengganggu, tapi semuanya sudah selesai. Semuanya bisa kembali menikmati hidangan dengan tenang. Dan, benar dugaanku. Dia menangis kan?"

Mungkin Yoongi sudah tidak waras.

.

.

Tempat Jimin dan Hoseok bertemu masih dalam satu mal, hanya berbeda lantai. Jimin ngos-ngosan ke lantai empat dari lantai satu. Badannga yang tambun bergerak cepar di antara keramaian pengunjung mal.

"Permisi. Permisi"

Susahnya menjadi orang gemuk. Bergerak sedikit saja kulitnya langsung lembab mengeluarkan keringat. Jimin berjalan cepat melewati poster-poster iklan kecantikan. Tidak perlu dilirik. Pasti isinya makhluk cantik. Daripada nanti Jimin mengasihani diri sendiri, lebih baik tidak usah dilihat.

Mana yang lebih penting? Kecantikan fisik atau kecantikan hati? Jimin dengan mantap menyatakan kecantikan hati yang lebih penting. Walaupun dia mengakui kalau dirinya itu keras kepala.

Kecantikan hati tidak terpengaruh dengan mode yang sedang tren. Kecantikan hati tidak mengenal kadaluwarsa. Pada akhirnya, kecantikan hati yang lebih berharga dibanding kecantikan fisik. Jimin meyakini prinsip tersebut dan menanamkannya dalam-dalam di hatinya.

Jimin tahu kalau dirinya tidak termasuk dalam kriteria cantik zaman sekarang. Kriteria cantik zaman sekarang adalah kurus, kulit mulus bercahaya, dan rambut panjang. Rambut Jimin memang panjang, tapi tebal dan susah diatur. Diurus bagaimanapun rambutnya tidak akan bisa melambai halus seperti iklan di TV. Kulitnya memang putih, tetapi tidak bercahaya.

Jimin sering memimpikan dia kurus dan rambut indah. Dia pasti imut. Badannya sudah pendek. Matanya tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu sipit. Dia pasangan ideal untuk Yoongi. Badan Yoongi yang bagus yang siap melindungi Jimin.

"Permisi." Tidak sengaja, ia menyenggol seorang pelanggan yang keluar dari toko roti.

Sadar, Jim. Sadar. Jimin menghapus bayang-bayang tentang mimpinya itu. Benturan dengan pengunjung toko mengembalikan Jimin ke dunia nyata.

Jimin masuk ke dalam toko roti itu, celingak-celinguk sebentar. Hoseok tidak tampak. Jimin hampir menelpin temannya itu, tetapi diurungkan niatnya. Tengkuknya tiba-tiba merinding. Jimin meraba tengkuknya sambil mengalihkan pandangan ke asal penyebab tengkuknya merinding. Mau tidak mau, Jimin memberi cengiran lebar. Di pojok toko kue, Hodeok sedang cemberut. Dua tangannya bersedekp dan pancaran matanya menyiratkan kesal setengah mati. Dia hanya mendengus saat Jimin mendekat.

"Hoseooook," Rayu Jimin sambil duduk di depannya. "Hoseok cantik deh hari ini."

Tidak mempan. Hoseok tetap masam.

Aduh. Kayaknya keadaan sedikit gawat. Jimin melancarkan rayuan yang lain. "Hoseok marah ya? Kau kesal?"

Salah besar. Hoseok semakin kesal. "Tidak. Aku tidak marah. Siapa yang marah? Kenapa aku harus marah? Karena kau telat satu jam? Atau karena kau cengar-cengir?."

Jimin tertawa garing. "Ih, Hoseok lucu kalau seperti itu. Menggemaskan." Jimin mencubit pipi Hoseok.

"Jimin!" Hoseok menggetok kepala Jimin.

"Katanya tidak marah. Kok jadi mukul kepalaku? Jangan marah, dong" ucap Jimin.

Seorang pelayan toko mendekat. Toko roti ini memang memperbolehkan pengunjungnya untuk makan di tempat. Jimin melancarkan rayuan yang lain. "Aku traktir. Bagaimana?"

"Pesan apa, Kak?" Pelayan itu menunggu.

"Sebentar, ya" Jimin menunjuk Hoseok. "Teman Saya masih ngambek. Hoseokie, aku traktir. Tapi, jangan marah lagi, ya..."

Hoseok tetap cemberut.

"Aku traktir apapun yang kau mau"

"Benar ya." Hoseok langsung sumringah. Ekspresi marahmya hilang dalam waktu hitungan detik. "Aku mau cheese cake blue berry, scone, dan pie apelnya. Untuk minumannya, aku pesan earl grey. Ehm, take awaynya aku mau- "

Dibawa pulang!? Ini tidak bisa dibiarkan. "Seokie" potong Jimin. "Kira-kira dong kalau mau pesan."

Hoseok merengut. Mukanya langsung cemberut. "Aku marah lagi, nih"

"Oh, jangan! Kau boleh pesan apa saja. Seluruh isi counter ini juga boleh. Tokonya sekalian aku belikan juga boleh." Jimin mengeluarkan nada manis dengan ekspresi muka yang sama sekali tidak manis.

"Untuk yang take away, aku pesan roti kering dan kaastangel-nya" Hoseok mengibaskan tangan. "Itu saja. Jangan sok kaya. Ya walaupun kau memang kaya, tapi dompetmu? Mau belikan aku toko ini? Aku tahu pesananku saja sudah cukup bikin dompetmu tipis."

Pelayan yang sedang mencatat pesanan Hoseok jelas sekali menahan senyumnya. "Kak, pesan apa?" Tanya pelayan itu kepada Jimin. Suaranya bergetar menahan tawa.

"Uang satu karung dan kalau bisa emas 24 karat sekalian." Sahut Jimin sewot.

Hoseok menggeleng-gelengkan kepala. "Ck...ck..ck.., jangan kaya anak kecil. Kasihan pelayannya, dia masih banyak kerjaan. Cepat. Apa pesananmu?"

Tahu begini, harusnya Jimin tidak mengatakan akan menraktir Hoseok. Dasar tukang porot! Jimin sok judes. "Tiramisu dan tehnya saja. Tidak perlu earl grey segala. Aku mau yang lokal. Takut uangku tidak cukup." Sindir Jimin.

Walau berat hati, ia tidak membatalkan rencananya menraktir Hoseok. Kalau Jimin nekat membatalkan traktirannya, Hoseok pasti manyun lagi. Jadi demi perdamaian dunia, Jimin memilih bangkrut. Sepertinya, minggu ini, dia tidak bisa ke kantin. Dia harus membawa bekal dari rumah.

"Tiramusi?" Hoseok secara ajaib menjadi antusias.

"Tiramisu, Hoseok." Jimin berujar malas. Temannya ini kadang garing.

"Tiramisu?" Jimin menyadari sesuatu. Oh, tidak. Jimin harusnya memesan kue yang lain. Tertawa sumbang, Jimin ikut-ikutan antusias. Bahkan, lebih dari yang ditunjukkan Hoseok. "Seokie, habis dari sini, kita ke toko buku, ya? Ada majalah yang mau ku beli."

"Tiramisu?"

Tidak berhasil. Jimin mencoba jurus lain. Gelagapan Jimin mencoba mengalihkan perhatian Hoseok. "Seokie, kau tahu tidak? Jalan lima ratus langkah setiap hari bisa mengurangi resiko osteoporosis, loh."

"Tiramisu?"

Bahkan, informasi sepenting itu tidak menghentikan sifat ingin tahu Hoseok. Ya, walaupun informasi yang Jimin bagi sudah basi. Akhirnya, Jimin menyerah. Dia menyenderkan bedannya sambil menghembuskan nafas, tanda kekalahan. "Iya, tiramisu."

Hoseok bertepuk tangan. "Serius? Setelah selama itu, kau masih juga menyukai tiramisu? Wah, Jim kau benar-benar terobsesi dengan Yoongi."

Jimin mengeluh dalam hati, tahu begini, dia tidak akan pernah curhat kepada Hoseok. Cukup Taehyung yang tahu mengenai perasaannya pada Yoongi. Taehyung, ya? Jimin tersenyum membayangkan Taehyung. Eh?

Kembali ke Hoseok. Hoseok pasti akan memulai cermahnya yang panjang. Kadang-kadang, memiliki teman seperti Hoseok benar-benar menjengkelkan. Benar saja. Begitu Jimin pasrah, Hoseok langsung menyerang.

"Lupakan dia, Jimin. Sepertinya, prince charming mu itu tidak se-charming yang kau bayangkan. Kau memang baru masuk beberpa bulan di SMA Bighit. Aku juga tidak kenal Yoongi, karena, ya, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekolah. Tapi, dia tidak cocok untukmu." Hoseok menghentikan ceramahnya. Pesanan mereka diantar.

"Bukannya aku usil." Tadinya, Jimin berharap Hoseok melupakan ceramahnya begitu kue sudah dihidangkan. Ternyata, tidak. Pura-pura tuli, adalah cara terbaik saat ini.

Lalala... lalalalaa...

"Lebih baik kau menyukai orang lain saja. Dia... dia itu tipe anak populer yang tidak memedulikan perasaan orang. Mereka egois, Jim. Orang populer hanya mementingkan diri mereka sendiri."

La-lalalala...

"Mereka sok keren. Mereka sok laku. Padahal, artis bukan, atlet bukan. Baru beken di lingkungan sekolah yang sekecil itu saja bisa bikin mereka sombong setengah mati. Seolah mereka yang punya sekolah. Seolah orang populer tetap populer setelah lulus nanti."

Jimin tidak bisa lagi pura-pura menulikan pendengarannya. "Dia tidak seperti itu."

"Tahu dari mana?"

Jimin mati kutu. Ia memang tidak tahu. "Pokoknya, Yoongi bukan orang seperti itu."

"Menyerah saja."

Jimin menggeleng. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Tidak setelah berbulan-bulan yang dihabiskan Jimin menjadi maniak baca buku pelajaran. Terlebih lagi setelah pertemuan mereka di teras, Yoongi tidak muncul lagi di tempat bimbingan belajar. Jimin masih ingat saat ia mencari informasi di ruang tata usaha waktu itu.

Hoseok tidak akan mengerti bagaimana rasanya berharap. Banyak apakah yang muncul di kepala Jimin. Apakah dia bisa bertemu dengan Yoongi lagi? Apakah saat bertemu, Yoongi mengubah penampilannya? Apakah Yoongi sehat di sana? Apakah... apakah... apakah...

Hoseok tidak akan dapat mengerti bagaimana perasaannya begitu melihat Yoongi di ruang UKS. Lega, senang, dan haru bercampur jadi satu.

"Kau tidak mengerti, Seokie. Kau tidak tau apa yang aku rasakan."

Hoseok menelan scone-nya. "Memang tidak. Tapi, menyimpan perasaan seperti itu bisa merusak dirimu. Kenapa kau tidak bilang jujur saja pada Yoongi?" Ujar Hoseok.

Jimin menerawang. "Bilang sejujurnya sama Yoongi? Aku tidak berani."

"Kalau begitu, kamu idiot."

Jimin kaget. "Kau bilang aku idiot? Aku suka sama seseorang malah dibilang idiot, begitu?"

Sadar ucapannya sedikit keterlaluan, Hoseok menggenggam tangan Jimin yang terjulur di meja. Ia sedikit meremas memberikan kekuatan untuk Jimin.

"Kau idiot kalau terus seperti ini. Bilang saja, Jim. Jangan sampai kau menyesalm jangan sampai nanti kau berpikir kalau saja... kalau saja..."

Jimin tersentak. Tidak pernah sekali pun masalah menyesal muncul di kepalanya. Menyesal? Dengan keadaannya sekarang, dijamin seratus persen Jimin akan menyesali dirinya sendiri nanti. Mengapa ia tidak ambil jalan yang berbeda?

"Aku bilang seperti ini karena aku menganggapmu sebagai sahabatku. Jadinya aku galak. Katakan perasaanmu, biar kau lega. Bilang sejujurnya, biar tidak menyesal."

Jimin menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan menyesal."

Menggunakan gaya detektif bertanya pada buronannya, Hoseok bertanya, "Yakin? Sepenuhnya yakin?"

Yang ditanya pun diam.

"Bilang saja." Final. Itu kesimpulannya.

"Hoseok." Jimin gundah. "Bagaimana kalau aku ditolak?"

"Itu baru akan ketahuan kalau kamu sudah mengungkapkan perasaanmu."

.

.

TBC/END?

BIG THANKS TO:

Prologue reviews :

esazame | clutcha | yongchan | IoriNara | AllSoo | SweetyChim | noona93 | Tiwi21 | JiminVivi | vchim | Hanami96 | 7201

.

Chapter 1 reviews :

IoriNara | esazame | amprhidite | yongchan | hyena lee | vchim | Jungeunyoon | magnae palsu | JiminVivi | clutcha | Bubgummy | taehyungie | KookieL | Ssugarcookiess | megane1506 | Pinkerbell97 | avis alfi | yoongiena

.

Chapter 2 reviews :

IoriNara | Pinkerbell97 | yongchan | JiminVivi | Dessy574 | Cutiepie Jimin | meganehood | esazame | avis alfi | ORUL2 | amprhidite | Hanami96 | YoonminShipper | yoongiena | kumiko Ve | Jungeunyoon | Bubgummy | kastaengel | clutcha

.

Apakah ada yang nunggu ff ini kah? /gak ada/ .. maaf banget atas keterlambatan ff ini diupdate ya readers-nim T.T semoga chapter ini pada suka. Udah panjang belum? :'v btw, ini ada si kuda lepas nyasar ke sini nih :'vv hoseok biased tunjukan eksistensimu! Wqwqwq

Apakah jimin nyatain cintanya ke yoongi? Stay tuned in next chapter!

Makasih udah luangin waktu kalian untuk baca ff ini^^

RnR? :)