.

Blind Date © AliaZalea

Translated by juvenileflew

Main Cast: Chanyeol – Sehun

Warn: R18, YAOI

Don't like, so don't read


Chapter 3

Aku benar-benar menikmati kencanku dengan Junkook. Meski masih berusia 25 tahun, dia sangat berambisi menjadi psikolog terbaik dan siap membantu setiap orang yang memerlukan bantuannya tanpa memedulikan latar belakang mereka. Dia berencana membuka praktek sendiri dalam waktu lima tahun setelah mendapatkan sertifikasi dan izin yang diperlukannya.

Melihat keantusiasannya dalam menjalani hidup mengingatkanku akan Kris ketika dia masih kuliah dan sangat menggebu-gebu ingin bekerja menjadi pengacara yang rela tidak dibayar untuk membela orang-orang yang tertindas. Tentunya mimpi itu langsung punah setelah menerima tawaran pekerjaan dengan bayaran tujuh puluh ribu dolar setahun, meskipun untuk membela orang yang melakukan penindasan.

Aku berharap Junkook tidak melakukan hal yang sama.

"So, are you okay with seeing someone who is older than you are?" tanyaku kepadanya, meskipun aku sudah tahu jawabannya karena MBD tidak akan mempertemukan kami kalau Junkook keberatan berhubungan dengan laki-laki yang lebih tua darinya.

Junkook menggeleng. "You're not that much older than I am," ucapnya santai.

"Apakah kau siap untuk suatu komitmen yang serius? Kau masih muda. Apakah kau tidak mau mencari-cari dulu?" kataku lagi.

Keingintahuanku telah mengalahkan tata kramaku, tetapi aku tidak peduli. Aku sudah membayar dua ribu dolar kepada MBD. Aku harus menemukan laki-laki yang bisa aku jadikan pasangan sebelum kontrakku habis. Aku tidak ada waktu untuk main kucing-kucingan.

Junkook tertawa mendengar pertanyaanku. "Well, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa usia 26 masih terlalu muda untuk suatu hubungan yang serius. Apakah kau sendiri tidak mau melihat-lihat dulu?"

Mau tidak mau aku jadi tersenyum melihat logika pernyataannya itu. Kuperhatikan Junkook dengan lebih teliti. Cara dia berbicara tidak seperti laki-laki berumur 25 tahun pada umumnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya seperti telah dipikirkannya dulu masak-masak sebelum dikatakan. Pembawaannya terlalu tenang, yang membuatku agak sedikit malu karena aku jadi terlihat tidak sabaran duduk berhadapan dengannya.

Junkook bahkan berdiri dari duduknya ketika aku permisi pergi ke toilet, hal yang tidak pernah dilakukan pasangan mana pun kepadaku. Junkook mengingatkanku pada CEO perusahaan tempatku bekerja.

Itu mungkin suatu pujian bagi kebanyakan orang, tapi faktanya CEO-ku berumur 60 tahun dan sudah memiliki empat orang cucu.

Malam itu kami akhiri dengan bertukar nomor telepon, tetapi aku yakin meskipun aku cukup menyukai Junkook hubungan kami tidak akan pernah lebih dari hanya sekadar teman. Secara mental dia terlalu tua untukku.

Kesimpulannya, Junkook adalah pilihan yang salah untukku.

Hari Sabtu siang, aku sedang melangkah memasuki restoran untuk menemui Taeyang ketika telepon selularku berbunyi. Ternyata dari Leeteuk yang ingin memberitahuku bahwa Taeyang akan terlambat tiga puluh menit dari waktu kencan yang sudah dijadwalkan.

Informasi ini membuatku sedikit jengkel karena berarti aku harus menunggu Taeyang di restoran. aku tidak tahu dia akan datang dari mana, tetapi aku tidak suka orang yang tidak bisa datang tepat waktu. Junkook yang harus datang dari Charlotte saja bisa sampai tepat waktu kemarin, mengapa Taeyang tidak bisa?

Awalnya aku menolak duduk di meja yang telah dipesan. Aku lebih memilih menunggu date-ku di bangku panjang dekat pintu masuk. Akan tetapi, setelah dua puluh menit dan tempat itu mulai penuh dengan orang-orang yang sedang menunggu meja, aku pun meminta hostess restoran mengantarku ke meja yang telah dipesan MBD.

Aku memilih hanya memesan segelas chocholate lemonade, sambil menunggu Taeyang. Sepuluh menit kemudian aku masih belum juga melihat batang hidungnya. Dasar tidak bertanggung jawab.

Aku sudah semakin kesal karena kelihatannya restoran ini salah satu restoran terfavorit di Burlington. Antrean orang yang menunggu meja terlihat cukup panjang. Beberapa orang di sekitarku mulai menatapku penuh tanda tanya. Aku bahkan hampir bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di kepala mereka.

Mengapa dia sendirian? Apakah kau pikir pacarnya sengaja tidak datang?

Mengapa dia belum mulai makan? Dia sudah duduk di situ selama sepuluh menit. Dia cukup tampan, mengapa ada orang yang stood him up?

Aku sudah siap menelepon MBD agar membatalkan kencanku ketika kulihat hostess restoran yang tadi mempersilakanku duduk berjalan ke arahku diikuti laki-laki super tampan yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Dia bahkan lebih tampan daripada laki-laki bermata cemerlang yang baru-baru ini aku temui.

Wajah laki-laki yang sekarang ada di hadapanku lebih cocok berada di karpet merah pada acara Academy Awards bersama-sama dengan Tom Cruise atau Brad Pitt dibandingkan di restoran di Burlington, North Carolina, bersama dengan orang-orang yang wajahnya lebih pantas menjadi tukang kebun dua bintang Hollywood itu.

Apakah ini date-ku? Tidak mungkin. Buat apa laki-laki setampan ini memerlukan jasa blind date untuk menemukan pasangan? Aku yakin perempuan atau bahkan laki-lakimana pun akan rela mendampinginya tanpa ada insentif apa pun juga.

Kulihat mata beberapa wanita yang duduk di meja-meja di hadapanku mengikuti laki-laki itu. Beberapa dari mereka bahkan mulai menelanjangi laki-laki itu dengan matanya. Mau tidak mau aku terpaksa tersenyum dan mengalihkan perhatianku pada telepon selularku lagi.

Aku tidak mengalihkan perhatianku dari telepon selular ketika kurasakan ada angin yang berembus di hadapanku, efek samping ketika seseorang tiba-tiba berhenti di hadapanku. Tatapanku kemudian tertuju pada sepasang sepatu laki-laki, dan aku mendengar seseorang berkata,

"This is your table. Have a nice lunch."

Saat itu juga kuangkat kepalaku, dan bertatapan langsung dengan laki-laki tampan tadi.

"I'm sorry that you have to wait for me. But my flight from Boston was delayed. I drove as fast as I could from Raleigh. Did MBD called to let you know that I will be late?"

Laki-laki itu mengatakan semua itu, sambil menarik kursi yang ada di hadapanku dan duduk. Kemudian dia mulai membuka-buka buku menu. Aku hanya mengikuti gerakannya dengan mataku. Aku bisu seribu bahasa.

Benar saja, laki-laki ganteng ini Taeyang. Date-ku siang ini. Semua kejengkelanku hilang bagaikan ditelan bumi, yang timbul malah justru rasa malu karena telah merasa jengkel terhadap laki-laki setampan ini.

Beberapa orang yang tadi menatapku penuh tanda tanya sekarang mengerlingkan mata mereka penuh kekaguman. Haah...tidak usah mereka, aku bahkan kagum dengan diriku sendiri karena bisa mendapatkan date setampan ini.

"Oh, di mana sopan santunku. Aku Taeyang," ucapnya, sambil mengulurkan tangannya.

Entah bagaimana aku bisa menggerakkan tanganku, yang jelas kemudian tahu-tahu tanganku sudah menjabat tangan Taeyang diikuti dengan suaraku yang terdengar menyebutkan namaku.

"Apakah kau sudah siap pesan makanan? I'm starving. Let's see what's good in here."

Seketika aku tersadar dari keterpanaanku, dan berkata, "Shrimp ravioli dengan white sauce kelihatannya enak." Meskipun suaraku agak bergetar, masih terdengar cukup keras dan meyakinkan.

"Kau ingin pesan apa?" Taeyang menatapku.

"Shrimp ravioli dengan white sauce," jawabku. Otakku telah bekerja kembali dan bisa mengatakan kalimat itu dengan jenaka.

Taeyang tertawa mendengarku. "Aku sebaiknya pesan pizza, soalnya pasta tidak akan cukup untukku," balasnya, juga dengan jenaka.

"Itu tergantung ukuran perutmu. Tadi ketika aku menunggumu, aku lihat beberapa pesanan pasta yang sedang dihidangkan, dan ukurannya cukup besar," ucapku, sambil tangan kananku menunjuk pada beberapa meja di sekelilingku.

Taeyang menoleh ke kiri dan ke kanan. Ketika dia berpaling lagi kepadaku, dia menyeringai,

"Well, piring-piring itu memang besar."

Selang beberapa detik dia berkata lagi, "Aku tetap lebih memilih pizza. Pasta is such a girly food."

"Girly?" tanyaku, sambil mengernyit. "How can food be girly?"

"Kau tidak bisa kelihatan berantakan kalau makan pasta. Ini sebabnya mengapa pasta dikategorikan sebagai girly food."

"Apakah kalau makan pizza bisa berantakan?"

"Ya, dan kau bisa makan dengan tangan."

Aku memandangi Taeyang dengan mulut ternganga. Dari planet manakah laki-laki satu ini? Aku harus pindah ke planet itu sekarang juga karena sepertinya planet itu bisa menghasilkan laki-laki tampan dan humoris.

"Jadi, pizza tidak girly karena berantakan, dan kau bisa makan dengan tangan?" tanyaku merangkum percakapan kami.

"Yep."

Kami lalu terdiam sesaat saling tatap. Aku mencoba menyimpulkan, apakah Taeyang sedang meledekku dengan kata-katanya atau dia betul-betul serius. Aku yakin dia sedang bercanda.

"Aku hanya bercanda," lanjutnya, sambil tertawa dengan keras. "Coba ada yang bawa kamera untuk memfoto ekspresimu tadi. Lucu sekali."

Aku tidak tahu seperti apa ekspresiku tadi. Aku lalu menarik napas, kemudian berkata dengan nada sesarkasme mungkin,

"Haha, bagus kalau kau anggap aku lucu."

Tawa Taeyang semakin menjadi sehingga membuat beberapa mata menatap kami. Kebanyakan mata itu adalah milik wanita. Dalam tatapan mereka seolah-olah terlintas beberapa pertanyaan dan komentar.

Aku tidak percaya ini, dia bisa membuat laki-laki itu tertawa sampai terbahak-bahak?

Apakah kau pikir dia adik laki-laki itu? Dia nggak mungkin pacarnya, dua orang itu bisa saja sama-sama gay. Tapi rasanya sayang sekali jika si tampan rambut pirang itu benar-benar gay.

Wow, itu adalah gigi paling rapi yang pernah aku lihat.

Mereka tidak mirip. Mungkin mereka hanya berteman...tapi mesra?

Aku masih nggak bisa percaya kalau laki-laki itu duduk dengannya.

Apa yang dia punya yang aku tidak punya? Sungguh tak adil.

Aku tersenyum karena rupanya imajinasiku sedang berlari-lari dengan liar hari ini.

Seorang waiter kemudian menghampiri meja kami untuk mencatat pesanan. Dia kembali beberapa menit kemudian membawa segelas pepsi untuk Taeyang.

"Apakah kau selalu kelihatan seserius ini?" tanya Taeyang setelah waiter itu berlalu.

Aku menatap Taeyang bingung. Apakah maksudnya dengan pertanyaan itu?

"Kau kelihatan... marah. Waktu aku melihatmu tadi," lanjut Taeyang.

"Marah? Aku kelihatan marah?" ucapku terkejut. Apakah betul wajahku terlihat marah ketika melihatnya?

"Mungkin tidak marah, tetapi... kesal," tambahnya.

"Oh ituuu...aku sebetulnya memang sedikit kesal padamu karena telah membuatku menunggu lebih dari setengah jam. Aku sudah siap menelepon MBD untuk membatalkan date ini," balasku, sengaja menekankan kata 'kesal' dalam penjelasanku.

"Oh, ya? Kau ingin membatalkan date ini?"

Aku mengangguk.

"kenapa tidak jadi?"

"Karena kau muncul dan kelihatan lebih seperti bintang film daripada seperti layaknya seorang banker." Aku buru-buru menutup mulutku ketika sadar apa yang baru saja kukatakan.

Taeyang tertawa melihat reaksiku. Untung kemudian makanan kami tiba sehingga aku memiliki waktu beberapa menit untuk mengatur detak jantungku kembali ke normal.

"Jadi, kau kerja sebagai financial analyst?" tanya Taeyang, setelah waiter berlalu.

Aku sangat bersyukur dia tidak mengangkat kembali topik pembicaraan yang tadi sempat terputus, dan segera menjawab pertanyaannya,

"Ya...di sebuah bank di Winston-Salem."

"Kau keberatan tidak kalau aku bertanya-tanya mengenai beberapa investasiku? Aku hanya ingin memastikan apakah diriku sudah cukup berhati-hati dengan uangku sendiri."

Kami lalu membahas tentang keadaan keuangannya secara lebih mendetail. Secara tidak langsung Taeyang memberitahuku bahwa dia sudah sangat mapan dan siap melangkah ke jenjang selanjutnya, tahap serius.

Aku mencoba membandingkan Taeyang dengan Zhoumi dan Junkook. Di usianya yang sudah menginjak 30 tahun, aku seharusnya tidak kaget jika hidup Taeyang memang sudah mapan, bahkan sukses. Akan tetapi, fakta itu bukannya menenangkanku, malah justru membuatku sulit bernapas.

Pada Zhoumi dan Junkook, dengan usia mereka yang masih muda, aku bisa melihat potensi mereka dalam sepuluh tahun ke depan. Sementara pada Taeyang, aku melihat laki-laki yang sudah 'jadi' yang tidak lagi memerlukan doronganku untuk meraih kesuksesannya.

Entah mengapa, aku merasakan ada sedikit kekecewaan ketika menyadari hal ini.

Namun demikian, aku tetap melihat prospek pasangan yang sangat sempurna pada diri Taeyang. Harus kuakui, secara fisik aku tidak bisa menolak rasa ketertarikanku kepadanya. Aku pun cukup yakin, setelah satu jam mengobrol dengannya, dia juga tertarik kepadaku. Aku lalu menepiskan rasa waswasku yang tidak memiliki dasar yang kuat, dan mencoba mengenali Taeyang lebih jauh lagi.

"Sudah berapa lama kau jadi anggota MBD?" tanyaku, sambil memotong kue cokelatku dengan sendok.

"Bulan November ini bakal satu tahun," jawab Taeyang, sambil meminum kopinya.

Mau tidak mau keningku mengernyit. Bagaimana mungkin dia sudah menjadi klien MBD selama hampir setahun dan belum juga menemukan pasangan yang cocok.

"Kau masih belum menemukan orang yang tepat?" pancingku.

"Aku bertemu beberapa."

"Lalu?" Aku mencoba menyembunyikan nada penasaran pada suaraku, tetapi gagal total.

Taeyang menatapku sambil memicingkan matanya. Aku merasa dia sedang mencoba menilaiku. Setelah puas dengan pengamatannya, Taeyang menjawab,

"Montana."

Aku mengedipkan mata beberapa kali. Itu jawaban yang sama sekali tidak masuk akal bagiku. Apakah ada yang terjadi di negara bagian itu? Aku mencoba mengingat-ingat apa saja yang ada di Montana. Ada pegunungan dan peternakan kuda, itu saja. Setelah beberapa detik dan otakku tetap tidak bisa menemukan penjelasan yang lebih masuk akal, aku terpaksa bertanya,

"Maksudmu?"

"Anak gadisku."

Apa yang terjadi setelah itu di luar kontrol otakku. Tiba-tiba saja mulutku menyemburkan lemonade yang baru saja kutelan ke wajah, tangan, dan sebagian kemeja Taeyang. Semua orang yang ada di sekelilingku langsung menoleh ingin melihat apa yang sedang terjadi di meja kami.

Hahaha laki-laki itu pasti akan memutuskan hubungannya dengan laki-laki gay itu setelah kejadian ini.

Apakah yang laki-laki itu katakan kepadanya sehingga membuatnya bereaksi seperti itu?

Sudah kubilang laki-laki berambut hitam itu aneh. Aku masih tidak percaya dia menyemburkan minumannya ke laki-laki itu.

Sekali lagi aku mencoba tidak menginterpretasikan tatapan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku memerintahkan imajinasiku untuk diam seribu bahasa. Aku sangat menghargai Taeyang yang tidak marah, dia bahkan tidak terlihat tersinggung.

Dia hanya mengambil serbet yang ada di pangkuannya untuk mengusap tetesantetesan lemonade dari wajahnya.

"Are you okay?" tanyanya khawatir.

Tanpa menghiraukan pertanyaannya aku meluncurkan pertanyaanku sendiri,

"Kau punya anak gadis?" Dengan suara yang cukup keras.

Tiba-tiba waiter yang tadi melayani kami muncul, dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja sambil menatapku khawatir. Aku dan Taeyang mengangguk bersamaan. Waiter itu pun berlalu.

Aku lalu mengulang pertanyaanku lagi, tetapi kini dengan berbisik. Taeyang mengangguk, dan tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

"Umurnya sebelas tahun," ucapnya, sambil menyodorkan selembar kertas kecil kepadaku. Ternyata foto gadis menginjak remaja berambut hitam dengan kawat gigi.

"Wajahnya mirip denganmu." Aku mencoba terdengar seramah mungkin sambil membandingkan wajah anak itu dengan Taeyang.

Taeyang tertawa. "Dia lebih kelihatan seperti ibunya sebetulnya."

Saat itu aku sedang memaki-maki MBD di dalam hatiku. Bagaimana mungkin mereka memasangkanku dengan laki-laki yang sudah punya anak? Apakah mereka tidak memahami kalimat "single" ? Aku ingin laki-laki yang masih single dan tidak pernah menikah. Taeyang jelas-jelas pernah menikah, kalau tidak bagaimana dia bisa punya anak?

Aku menggeleng dan mencoba menjelaskan keadaan ini.

"Maaf, aku seharusnya memberitahumu sebelumnya." Suara Taeyang terdengar sedikit kecewa melihat reaksiku.

"Tidak tidak...ini bukan salahmu. Ini salah MBD. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku hanya mau dating dengan laki-laki single yang belum pernah menikah. Kelihatannya ada kesalahpahaman." Aku mengatakan semua katakata itu secepat mungkin agar tidak menyinggung hati Taeyang.

"Aku masuk ke dalam kategori itu," balas Taeyang, dengan suara tenang.

"What?"

"Hyuna, ibu Montana, dan aku tidak pernah menikah. Kami hidup secara terpisah. Hyuna meninggal dalam boating accident enam bulan yang lalu. Jadi, Montana harus tinggal dengan saya."

Aku hanya ternganga mendengar penjelasannya.

"La-lalu...kenapa bersedia dating denganku yang seorang laki-laki? Kupikir kau...baik-baik saja."

Taeyang tersenyum. "Sejak awal aku seorang bi. Kehilangan Hyuna membuat trauma yang cukup besar. Aku tidak ingin berhubungan dengan wanita lain selain Hyuna."

Aku merasa seperti sedang menonton sinetron daripada menjalankan hidupku sendiri. Bagaimana mungkin kejadian seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata?

"I'm sorry about...Hyuna," ucapku akhirnya ketika aku bisa mengeluarkan kata-kata lagi.

Taeyang mengangguk dan tersenyum.

Rasa penasaranku seketika muncul. "Kalau usiamu 30 tahun dan Montana 11 tahun, itu berarti dia lahir ketika usiamu...19?" Aku mencoba melakukan perhitungan itu di kepalaku.

Taeyang tertawa mendengar pertanyaanku. "Well, saya masih muda dan berpikir dunia ini milikku." Taeyang mengedipkan mata kanannya.

"Hyuna lebih sial daripada diriku. Dia tidak pernah mencapai mimpinya jadi seorang supermodel," lanjutnya.

Kalau ini dalam situasi lain, aku mungkin bisa tertawa mendengar penjelasan Taeyang, tetapi kini aku hanya bisa terdiam.

"Apakah kau berdua pacaran sejak SMA?" tanyaku, setelah beberapa menit.

"Tidak. Kami kenal di pesta teman kuliahku."

Aku pasti menatap Taeyang dengan wajah penuh kebingungan karena Taeyang tertawa lagi.

"Kami sama-sama drunk. Banyak hal terjadi. Ketika aku bangun, kami berdua ada di satu tempat tidur dan sama-sama tidak mengenakan apa pun. Sebulan kemudian dia datang mencariku dan mengatakan dia hamil anakku." Taeyang menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Aku dibesarkan sebagai laki-laki yang baik dan tahu sopan santun. Aku tidak punya pilihan selain menikah dengannya, tapi Hyuna menolak. Dia kurang memiliki insting keibuan. Orangtuanya mencoba meyakinkannya agar menikah denganku untuk menyelamatkan nama keluarganya. Mereka salah satu keluarga paling berpengaruh di New England. Hyuna tetap menolak, kami pun berhenti meyakinkannya."

"Montana sekarang ada di mana?" bisikku.

"Dia ada di salah satu boarding school di Boston. I will never let her out of my sight until she's 40. Saya tidak mau dia membuat kesalahan yang sama sepertiku dan Hyuna."

"Seberapa sering kau bertemu dengan anakmu?" tanyaku.

"Sesering mungkin, selama aku bisa mengambil off dari pekerjaan. Liburan Thanksgiving nanti aku akan membawanya ke Rhode Island mengunjungi grandparents-nya."

Rhode Island adalah salah satu negara bagian di timur laut Ameriak Serikat, yang juga dikenal sebagai New England. Kebanyakan keluarga dengan old money, yaitu keluarga yang kekayaannya turun-temurun semenjak Amerika Serikat merdeka dari Inggris di tahun 1800-an, tinggal di wilayah ini.

"Orangtua Hyuna?"

Taeyang mengangguk. "Aku memiliki hak asuh anak penuh atas Montana, tetapi aku tidak bisa melarangnya bertemu dengan satu-satunya grandparents yang dia pernah kenal. Lagi pula, mereka mencintai Montana, begitu pula sebaliknya."

Aku mengangguk, menyetujui keputusannya. Aku mendengarkan cerita Taeyang dengan saksama. Di satu sisi aku kagum karena dia telah memikul tanggung jawab sebesar itu pada usia yang sangat muda dan tetap bisa meraih sukses. Di lain sisi aku tahu Montana-lah penyebab kenapa aku, seperti juga beberapa laki-laki lainnya menurut Taeyang, memutuskan mundur teratur.

Aku masih terlalu muda untuk mengurus anak gadis berusia 11 tahun.

"Did I scare you off?" tanya Taeyang tiba-tiba.

Aku berpikir sejenak. Apakah aku harus berbohong kepadanya, dan mengatakan aku tidak peduli bahwa dia sudah punya anak? Tujuanku meminta pertolongan MBD agar aku tidak perlu lagi membuang waktu mencari pasangan di tempat yang salah atau menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Aku juga yakin Taeyang sudah cukup dewasa untuk mengerti jika aku menolaknya.

"Ya. Kalau aku mau jujur, kau sudah membuatku takut setengah mati," ucapku.

Tanpa kusangka-sangka Taeyang justru tertawa. "Setidaknya kau jujur kepadaku soal ini. Tidak seperti mereka yang mengatakan tidak mempermasalahkan hal ini, tetapi kemudian tidak mau menjawab teleponku."

"Ada yang begitu?" tanyaku terkejut. Menurutku tindakan itu sangat tidak sopan.

Taeyang mengangguk. "Are you finished with your dessert?" tanyanya.

"Yes, I'm done," ucapku.

Dalam perjalanan pulang menuju Winston-Salem aku menelepon Leeteuk dan memberitahunya agar menambahkan satu lagi persyaratan yang harus dipenuhi oleh date-ku, yaitu mereka tidak boleh punya anak di luar nikah.

Bulan Oktober pun tiba, dan aku sudah menjadi klien MBD selama enam minggu. Junkook sempat meneleponku untuk mengajakku ke luar, tetapi aku menolaknya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak bisa menjalin hubungan romantis dengannya, meskipun aku terbuka apabila dia masih mau berteman denganku.

Junkook memahami penjelasanku dan kami sempat bertemu makan siang ketika dia harus datang ke Winston-Salem untuk mengikuti seminar psikologi, yang diadakan Wake Forest University. Hingga kini Zhoumi tidak pernah meneleponku, dan aku sangat bersyukur oleh karenanya.

Setelah Taeyang, aku sudah pergi berkencan dengan empat laki-laki lagi. Tiga dari mereka bahkan tidak aku pertimbangkan sama sekali. Siwon sangat mengingatkanku akan Kris. Minho ternyata tidak bisa membedakan warna cokelat dengan hitam, alias buta warna. Heechul, yang meskipun usianya sudah 32 tahun, masih memulai setiap kalimatnya dengan, "My mother said...".

Hanya satu dari mereka yang betul-betul menarik perhatianku. Dia bernama Zhitao. Meskipun wajah dan penampilan keseluruhannya bisa digolongkan biasa saja, sepanjang kencan pertama kami aku selalu merasa nyaman dengannya. Berbeda dengan Taeyang, yang menjatuhkan 'bom atomnya' kepadaku dua jam setelah aku bertemu dengannya, Tao kelihatannya tidak memiliki rahasia yang harus disembunyikan.

MBD mungkin sudah siap mencekikku karena setiap kali mereka menanyakan apakah mereka sudah mempertemukanku dengan laki-laki yang berpotensi sebagai pasangan, aku akan menjawab tidak 'COLD', yang berarti 'meleset jauh dari sasaran'. Atau sudah 'WARM', artinya 'cukup mendekati sasaran'. Khusus kencanku dengan Taeyang, aku akan menjawab sudah cukup 'HOT' yaitu 'tepat sasaran', kalau saja dia tidak memiliki anak gadis yang umurnya lebih cocok jadi keponakanku daripada anakku.

Sejujurnya, menurutku MBD betul-betul telah melaksanakan tugas mereka dengan baik. Aku yakin, aku tidak akan bisa menemukan semua lakilaki yang telah dipasangkan denganku oleh MBD jika aku mencari mereka sendiri.

Oleh karena itu, aku berencana menemui Tao lagi malam ini untuk memastikan apakah aku bisa mengubah pendapatku tentangnya, dari 'cukup mendekati sasaran' menjadi 'tepat sasaran'.

Untuk kencan pertama kami Tao-lah yang datang dari Durham, tempat dia tinggal, untuk menemuiku di Winston. Untuk kencan kedua aku mengambil jalan tengah dan memintanya menemuiku di Burlington karena aku tidak mau membebaninya datang jauh-jauh ke Winston lagi.

Aku berjanji bertemu Tao di salah satu restoran Jepang yang telah direkomendasikan banyak orang kepadaku. Tao mengatakan dia tidak pernah makan makanan mentah, tetapi dia akan memberanikan diri mencobanya denganku.

Aku sedang meluncur di I-40, jalan raya yang menghubungkan Winston dengan kota-kota lainnya, ketika tiba-tiba kurasakan setir mobil terasa agak berat dan lari ke kiri. Aku memang kurang paham urusan otomotif, tetapi aku tahu jika mobil yang biasa dikendarai terasa agak lain ketika sedang dikemudikan, maka pastilah ada komponen mobil itu yang tidak bekerja dengan sempurna.

Perlahan-lahan kutepikan mobil ke bahu jalan dan berhenti. Kubiarkan mesin tetap hidup dan hanya menarik rem tangan, kemudian keluar dari mobil untuk memeriksa keadaan. Ternyata ban depan sebelah kiri memang agak sedikit kempes.

Aku mempertimbangkan, apakah dengan kondisi ban seperti itu aku bisa sampai ke Burlington, yang masih membutuhkan waktu lima belas menit lagi. Aku bisa menelepon AAA, perusahaan yang menyediakan berbagai jasa yang berhubungan dengan isu-isu travel, mulai dari peta hingga mengganti ban yang kempes.

Mereka akan mengganti banku selama aku makan siang dengan Tao. Kulirik jam tanganku, aku masih ada waktu setengah jam sebelum waktu pertemuanku dengan Tao. Melihat kondisi ban mobilku, sepertinya ban itu tidak akan bertahan sampai di Burlington.

Kalau aku harus menunggu hingga AAA datang, bisa jadi aku akan terlambat berkencan dengan Tao.

Aku pun segera mengambil keputusan. Kumatikan mesin mobil, kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan dongkrak serta kunci ban. Untung saja hari ini aku hanya mengenakan jeans dan kemeja denim biru cukup longgar. Jadi, aku bisa lebih leluasa bergerak.

Ketika aku sedang memompa dongkrak itu dengan kakiku, tiba-tiba kulihat sebuah Volvo SUV berhenti persis di belakang mobilku. Aku memperhatikan pemilik mobil itu, yang mengenakan kacamata hitam, keluar dari kendaraannya dengan langkah yang cukup luwes untuk ukuran laki-laki sebesar dia.

Apakah dia juga mengalami masalah dengan mobilnya sepertiku? pikirku.

Tiba-tiba dia meneriakkan namaku. "Oh Sehun!"

Aku menatapnya bingung. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Jelas-jelas aku tidak mengenalnya, tetapi tata krama tetap harus didahulukan.

"Yes?" Jawabanku lebih terdengar seperti pertanyaan.

"Flat tire?" tanyanya lagi.

"Yes," jawabku lagi. Aku masih bingung. Siapakah orang ini?

Kemudian seperti bisa membaca pikiranku, dia berkata, "Kau tidak mengingatku?"

Aku tersenyum sopan kepadanya, tetapi aku yakin wajahku menggambarkan kebingunganku.

"Aku Chanyeol. Kau membantuku memilih lettuce di Fresh Market. Masih ingat?"

Chanyeol melepaskan kacamata hitamnya, dan mata cemerlangnya langsung menatapku dengan jenaka. Saat itu juga aku bisa merasakan sengatan listrik yang menyerang tubuhku. Aku tidak bisa bernapas.

Aku berhenti memompa dongkrak dengan kakiku, lalu tertawa cemas.

"Kenapa bisa bertemu dengamu lagi di sini?" Suaraku agak bergetar.

Kulihat Chanyeol sedang menarik lengan sweater cokelatnya sambil tersenyum.

"Ban serepnya di mana?" tanyanya, dan melangkah mendekatiku.

Tiba-tiba ada angin yang cukup kuat berembus melewati tubuh Chanyeol yang besar ke arahku, dan aku bisa mencium bau cologne-nya.

Untuk mencegah imajinasiku agar tidak memikirkan yang tidak-tidak, aku buru-buru menjawabnya, "Di bagasi," sambil menunjuk ke bagasi mobil yang terbuka.

Aku lalu berlutut di samping mobil dan mulai melepaskan semua baut ban satu per satu. Kudengar ada suara gedebuk yang sangat halus, dan ban serep sudah berada di sampingku.

"Boleh kubantu?" tanyanya, sambil mengambil kunci ban dari genggamanku.

Aku sebetulnya mau protes karena aku laki-laki mandiri dan manly yang bisa mengganti ban sendiri, aku tidak memerlukan bantuannya. Chanyeol melihat ekspresi wajahku dan menambahkan,

"Kini giliranku membantumu," ucapnya pelan.

Aku mengangguk dan mempersilakannya mengganti ban mobilku. Dalam waktu lima menit dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu meletakkan ban yang kempes, dongkrak, dan kunci ban di bagasi mobil.

"Thank you," ucapku ketika Chanyeol menutup bagasi mobilku. Kuserahkan selembar tisu basah kepadanya. Chanyeol mengambilnya dan mengusap kedua telapak tangannya. Aku kemudian mengambil tisu bekas itu dari genggamannya.

"Kau mau ke mana?" tanyanya.

"Burlington," jawabku. Tiba-tiba angin bertiup dan aku harus memeluk tubuhku untuk mengusir udara yang tiba-tiba terasa agak dingin.

Tanpa kusangka-sangka Chanyeol menarikku ke pelukannya dan mengusap punggungku. Sekali lagi aku merasakan sengatan listrik yang tadi menyengatku. Bau cologne-nya yang tadi hanya samar-samar kini menyengat indra penciumanku dengan kekuatan penuh. Bau cologne itu semakin mengingatkanku betapa tampannya Chanyeol, dan aku tahu aku harus menjauh darinya sebelum terlena dalam pelukannya.

Akan tetapi, tubuhnya memang hangat sehingga aku tidak mencoba melepaskan diri.

Setelah beberapa detik, dia berkata, "Better?"

Aku mengangguk. Chanyeol kemudian menuntunku menuju mobil, membuka pintunya dan membiarkanku masuk. Setelah itu, ia menutup pintu mobil dan menunggu hingga aku menghidupkan mesin. Chanyeol mundur satu langkah untuk memeriksa banku sekali lagi, kemudian dia mengacungkan kedua jempolnya sebagai tanda oke. Aku pun menurunkan kaca mobilku dan berkata,

"Thank you. Again," ucapku.

"It was my pleasure," balasnya, sambil tersenyum. Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, seperti ada sesuatu dalam otakku yang berbunyi klik...klik...klik...Aku merasa kata-kata itu penting dalam konteks yang lain, tapi aku tidak bisa ingat di mana aku pernah mendengar kata-kata yang sama diucapkan.

Chanyeol kemudian berjalan menuju mobilnya. Aku baru sadar, aku masih menggenggam tisu bekas yang tadi digunakan Chanyeol. Kulemparkan tisu itu ke lantai mobil dan akan kubuang ke tempat sampah kemudian. Kuperhatikan lalu lintas yang ada di sebelah kiriku melalui kaca spion, kemudian meluncurkan mobil kembali ke jalan raya.

Sepanjang perjalanan untuk menemui Tao, aku merasa tidak tenang karena seperti ada sesuatu yang mengganjal. Suatu teka-teki yan gtidak terselesaikan atau ditinggalkan tidak terjawab. Yang jelas, aku tidak bisa menghapuskan bau cologne Chanyeol dari kepalaku, terutama karena bau itu sekarang menempel pada kemejaku.

Pada akhirnya, kencanku dengan Tao tidak berjalan sebaik yang aku harapkan. Tao sadar bahwa aku tidak menumpukan perhatianku kepadanya sepanjang kencan kami. Ia terlihat kecewa dan mengakhiri kencan kami lebih cepat dengan alasan dia harus mengunjungi temannya yang baru saja melahirkan.

Sejujurnya, aku merasa bersalah terhadap Tao. Akan tetapi, kepalaku terlalu penuh dengan sosok laki-laki bermata secemerlang langit malam yang bisa menenggelamkanku hanya dengan tatapannya sehingga aku tidak terpikir untuk mengatakan kata "maaf" kepadanya.

Seperti biasanya, Luhan akan meneleponku setelah kencanku untuk mengetahui hasilnya. Dia bahkan lebih tertarik terhadap Tao dibandingkan aku.

"Bagaimana date-nya, Sehun-ah?" tanya Luhan, penuh semangat.

"Biasa saja," jawabku. Aku baru saja membuka pintu depan apartemen ketika telepon selularku berbunyi.

"Hm? Kenapa kau terdengar tidak excited begitu? Ada yang salah?" Luhan terdengar curiga.

Tentu saja ada yang salah. Bukannya memikirkan Tao, selama perjalanan pulang dari Burlington aku justru memikirkan Chanyeol.

"Tidak, tidak ada yang salah," jawabku, sambil melangkah masuk ke dalam apartemen.

"Lalu, ada apa? Bukankah kemarin Tao sudah masuk zona HOT? Kenapa sekarang jadi COLD?"

Aku memang tidak pernah bisa berbohong kepada kakakku ini. Dia terlalu jeli melihat tingkah laku manusia.

"Ya, sepertinya Tao tidak cocok untukku." Kulepaskan sepatu dan berjalan menuju kamar tidur.

"Oh man, padahal aku sudah setuju sekali dengan yang ini!" teriak Luhan kecewa.

Aku terpaksa tertawa mendengar suaranya yang penuh kekecewaan itu.

"So, kapan date selanjutnya?"

"Belum ada. Leeteuk belum telepon lagi," jawabku.

Luhan mengembuskan napasnya, dan berkata, "Oh begitu."

"By the way, aku tadi bertemu Chanyeol," ucapku tanpa ancang-ancang. Daripada menyimpan rahasia ini dan berisiko diomeli habis-habisan oleh Luhan karena tidak menceritakan kepadanya, aku memutuskan mengambil jalan aman dan berkata jujur.

"Chanyeol? Laki-laki yang dari Fresh Market itu?" Suara Luhan langsung terdengar ceria.

Aku memang sempat menceritakan pertemuanku dengan Chanyeol beberapa bulan yang lalu itu kepada Luhan. Pada saat itu aku belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Chanyeol, selain bahwa dia tampan sekali.

"Yep," jawabku, sambil mengatur telepon selularku agar suara Luhan bisa terdengar melalui speaker. Aku kemudian menanggalkan kemeja dan celana jeans yang aku kenakan dan menggantinya dengan kaus longgar dan celana piama.

"Di mana?" Kini suara Luhan semakin meninggi, yang menandakan dia sudah sangat tertarik terhadap Chanyeol dan siap melupakan Tao.

Aku lalu menceritakan pertemuanku dengan Chanyeol. Luhan mendengarkan dengan saksama dan sesekali menarik napas karena kaget.

"Oh, my God. He is so sweet," ucap Luhan, dengan nada seperti si punguk yang merindukan bulan.

"You think so?" tanyaku ragu. Aku tidak tahu apakah normal menyukai laki-laki yang baru aku temui dua kali.

"Of course I think so. Aku jadi penasaran ingin lihat tampangnya. Mata cemerlangnya itu secemerlang apa kira-kira?"

"Pokoknya cemerlang sekali. Bahkan kilatan panci terbaru Kyungsoo saja kalah," ucapku bersemangat sembari tertawa.

Sejujurnya, aku tidak pernah terlalu memikirkan secemerlang apakah mata Chanyeol, tetapi kelihatannya penggambaranku barusan cukup mengena. Mungkin.

Luhan ikut tertawa mendengarnya. "Sehun-ah, sepertinya dia suka denganmu."

Kata-kata Luhan menyadarkanku akan perasaanku sendiri, tetapi aku tetap belum berani menerimanya sebagai suatu kenyataan.

"Ah, tidak. Dia hanya bersikap baik saja," balasku salah tingkah.

"Menurutku justru terlewat baik. Zaman sekarang mana ada yang mau berhenti di pinggir tol untuk membantu mobil orang?"

"Kalau di DC tidak mungkin, tetapi di sini masih banyak orang yang mau membantu orang lain." Aku memberi penjelasan bahwa memang budaya di kota besar akan sedikit berbeda dengan di kota kecil.

"Tetap saja aneh. Dari cara dia berbicara ketika bertemu denganmu seperti dia berhenti bukan karena memang berniat membantu siapa saja, tetapi karena orang yang akan dia bantu itu kau, Sehun-ah."

"Jangan membuatku terlalu percaya diri," omelku.

Luhan tertawa tergelak. "Sayang ya kau tidak sempat minta nomor teleponnya. Kalau tidak 'kan setidaknya kau bisa telepon dia."

"Doakan aku supaya bisa bertemu dengannya lagi. Mudah-mudahan kali itu aku tidak lupa minta nomor teleponnya. Err, tapi...bagaimana memintanya, hyung?"

Meskipun aku cukup berpengalaman dengan laki-laki sebelum aku bertemu dengan Kris, selalu merekalah yang meminta nomor teleponku terlebih dahulu sehingga aku tidak memiliki pengalaman melakukan sebaliknya.

"Ya, bilang saja kalau kau minta nomor telepon dia. Beres." Luhan terdengar tidak sabaran.

"Memang kau pernah minta nomor telepon seperti itu?" Aku tahu jawaban pertanyaan ini, tetapi aku hanya ingin menggoda kakakku. Luhan tipe laki-laki yang supergengsi untuk minta nomor telepon dari laki-laki mana pun. Terutama yang ditaksir.

"Apa maksudmu bertanya begitu, Sehun-ah?" Luhan terdengar tersinggung, tetapi aku tahu dia paham aku hanya bercanda.

"Ya, tidak ada apa-apa, hanya tanya saja," balasku cuek.

Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan, kemudian kudengar suara Luhan berteriak, "Be there in a sec!" Lalu Luhan berkata padaku, "Sehun-ah, sudah dulu ya bicaranya. Aku sudah dijemput teman."

"Kau mau ke mana?" tanyaku ingin tahu.

"Biasa...ke perpustakaan, mau research." Cara Luhan mengatakan kata 'perpustakaan' dan 'research' terkesan dia akan melakukan hal yang akan membawa kebahagiaan baginya. Aku tertawa pada diriku sendiri, menertawakan kakakku yang kutu buku itu.

"Well, have fun," ucapku memberinya semangat.

"I will. Oh ya, jangan lupa minta nomor telepon Chanyeol kalau bertemu dia lagi, oke."

Sebelum aku menjawab, Luhan sudah menutup teleponnya. "Oke," ucapku pelan.

To Be Continued


T/n: selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan~~ terima kasih feedback kalian di chapter sebelumnya ;'3 keep support ya