.

Blind Date © AliaZalea

Translated by juvenileflew

Main Cast : Chanyeol - Sehun

Warn: R18, Yaoi

.

Don't like, don't read

Chapter 5

Tanggal 31 Oktober pun tiba, dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun terakhir ini aku akan menghadiri pesta Halloween yang diadakan oleh kantorku tanpa ditemani Kris. Aku merasa agak sedikit canggung datang sendiri karena biasanya aku dan Kris selalu mengenakan kostum yang akan melengkapi satu

sama lain.

Dua tahun yang lalu kami memakai kostum sebagai Sherlock dan Watson, pasangan detektif konsultan dan dokter yang di hidupkan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Tahun lalu Kris mengenakan kostum Dracula dan aku sebagai Van Helsing.

Tahun ini aku terpaksa mengenakan kostum Nick dari Zootopia. Sejujurnya, kostum ini bukan pilihanku. Aku terpaksa mengambilnya karena pilihan lain yang tersisa adalah menjadi Judy si kelinci paskah menggemaskan dengan kostum super ketat atau menjadi Poseidon.

Aku langsung menolak kostum Raja laut karena udara sudah terlalu dingin bila harus bertelanjang dada. Selain itu, akut idak berani memamerkan perutku yang ramping - sungguh, menurutku ini tidak etis untuk ukuran seorang pria- kepada teman-teman kantor.

Mereka bisa langsung pingsan melihatku. Oh Sehun, seorang pegawai Asia dan sangat konservatif, tiba-tiba muncul shirtless dengan selembar kain tipis berwarna hijau yang menutupi pinggul hingga ke mata kaki.

Inilah konsekuensi yang harus aku terima jika baru pergi ke toko yang menyewakan kostum pada detik-detik terakhir.

Mungkin kalau aku tinggal di New York hal ini tidak akan menimbulkan masalah karena di kota-kota besar biasanya terdapat beberapa toko yang menyewakan kostum untuk Halloween.

Aku tinggal di salah satu kota terkecil di Amerika Serikat, dan di Winston hanya ada dua toko yang menyewakan kostum untuk Halloween. Satu toko dikhususkan untuk anak-anak berumur dua belas tahun ke bawah, sedangkan satu toko lagi untuk remaja dan orang dewasa.

Sejujurnya, aku sudah berniat tidak datang ke pesta Halloween tahun ini, tetapi Halloween adalah salah satu liburan yang aku paling sukai. Sejak aku Sekolah menengah dan pindah ke Amerika, aku tidak pernah melewatkan kesempatan menanggalkan identitasku dan berpura-pura menjadi orang lain, walaupun hanya untuk beberapa jam.

Bukannya aku ada masalah dengan diriku.

Aku sangat menyukai siapa aku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Hanya saja terkadang aku ingin melarikan diri dari segala tekanan yang ada di sekitarku. Aku sudah terbiasa mandiri sejak di sekolah dasar.

Meskipun aku tahu kakakku bisa menjaga dirinya sendiri, aku selalu merasa ikut bertanggung jawab untuk saling menjaga. Aku selalu berusaha mendahulukan kepentingannya daripada kepentinganku.

Luhan terlahir menjadi seorang pemikir. Oleh sebab itu, aku sangat mendukungnya ketika dia berniat mengambil S3, meskipun itu berarti dia tidak akan memiliki penghasilan sendiri selama lima tahun ke depan. Dengan diterimanya Luhan di Program S3 Psikologi pada salah satu universitas terbaik di Amerika, maka kecil kemungkinan baginya memiliki waktu untuk mencari pasangan.

Akhirnya, semua tanggung jawab itu jatuh padaku.

Luhan dan orangtuaku tentunya tidak pernah memintaku memikul semua tanggung jawab itu, tetapi aku tetap merasa itulah tugas seorang anak. Sepanjang hidupku, aku sudah menata semua rencana hidupku dengan rapi dan penuh perhitungan. Aku bahkan memiliki rencana cadangan jika rencana utama tidak berjalan sesuai yang kuinginkan.

Tentu saja semua rencana itu tidak mempersiapkanku untuk menghadapi perselingkuhan orang yang menjadi pusat semua rencana yang menyangkut masa depanku. Setelah aku pikirkan semuanya kembali, aku tidak tahu mengapa aku bisa bertahan hidup dengan Kris selama hampir tiga tahun.

Kris bahkan tidak pernah mengutarakan keinginannya untuk berkomitmen denganku. Memang kata cinta sering diucapkannya, terutama jika dia sedang memohon kepadaku agar mau melepaskan keperjakaanku untuknya. Namun demikian, tidak sekali pun dia menyinggung tentang pernikahan.

Selama ini aku telah membohongi diriku sendiri dengan mencoba meyakinkan diriku bahwa kata cinta dari Kris berarti pernikahan dengannya suatu hari nanti. Aku telah menginvestasikan tiga tahun hidupku bersama Kris. Kalau saja investasi itu bisa diuangkan, mungkin aku sudah menjadi kaya.

Aku mematut diriku sekali lagi di depan cermin panjang di kamarku. Ternyata memang ada untungnya berkostum sebagai Nick. Sambil tersenyum aku pun mematikan lampu kamar dan beranjak menuju mobil.

.

.

.

Pesta Halloween tahun ini seperti biasa diadakan di Embassy Suites, sebuah hotel

yang cukup jauh dari rumahku. Ketika aku memasuki lobi hotel, aku langsung merasakan beberapa pasang mata menatapku penasaran.

Aku melihat Jongdae, rekan kerjaku, memakai kostum Willy Wonka. Aku melambaikan tangan dengan semangat sambil berjalan ke arahnya. Kulihat Jongdae memicingkan matanya, dia terlihat ragu.

Setelah aku hanya tinggal satu meter darinya, Jongdae berteriak, "Oh Sehun, is that you? God, I almost didn't rrecognize yah!"

Dengan logat yang sangat North Carolina, dia memanjangkan pengucapan huruf 'r' dan mengubah 'ou' menjadi 'ah'.

Aku menyeringai melihat reaksinya. "Bagaimana penampilanku?" tanyaku.

Jongdae menatap kepalaku berhiaskan telinga rubah, kemeja hijau berhias dasi garis merah putih serta jeans hitam yang membungkus kakiku lekat. Oh, tak lupa ekor rubah oranye yang menyembul.

"Well, yah definitely look different and I'm suh that people won't know it's yah 'til you told'em."

Untungnya Jongdae tidak menyinggung soal Kris. Semua orang di departemenku sudah tahu mengenai berakhirnya hubunganku dengan bule brengsek itu. Mereka sempat terkejut ketika aku memberitahu bahwa aku dan Kris sudah tidak sama-sama lagi, tetapi aku tidak mengatakan alasannya. Mereka hanya tahu sudah tidak ada kecocokan lagi di antara kami berdua.

"Apakah semua orang sudah sampai?" tanyaku. Tiba-tiba aku mendengar bunyi

musik yang cukup keras dari ballroom, yang pintunya terbuka.

"Most of'em arrre. Therrre are some that I dont rrrecognize and we're not s'posed to ask until midnight when the parrrty is over and can take off their masks."

Aku hampir lupa dengan peraturan itu. Tentunya selama ini aku tidak pernah ada masalah mengenali siapa pun juga karena kebanyakan mereka mengenakan kostum tanpa menutupi wajah. Tahun ini tampaknya ada trend kostum baru.

Banyak wanita dan laki-laki yang seliweran mengenakan topeng. Beberapa dari mereka mengenakan topeng bulu-bulu yang hanya menutupi bagian kening hingga hidung. Beberapa lainnya mengenakan topeng yang menutupi separo wajah ala Phantom of the Opera. Banyak juga yang menutupi seluruh wajah dengan tiruan topeng Hannibal Lecter.

Aku hampir bergidik ketika melihat seseorang melewati kami dengan mengenakan topeng karakter antagonis di film Saw.

"Mengapa mereka pakai topeng?" tanyaku pada Jongdae, yang menggandengku menuju ballroom.

"I ain't got a clue, Sehunnie. Jujur saja, mereka membuatku sedikit waswas. You better be real careful coz people will act cra-ha-zy if they think that nobody can know who they are when they're doing it."

Aku mengangguk mendengar nasihatnya. Jongdae lalu membuka pintu ballroom, dan aku langsung terkesima. Ruangan itu telah disulap menjadi klub malam ala tahun 70-an. Semuanya terlihat retro, mulai dari lampu kristal yang memantulkan cahaya ke lantai dansa di tengah ruangan hingga kursi-kursi yang bertebaran mengelilingi ruangan itu.

Satu-satunya yang menandakan kita sedang berada pada abad ke-21 adalah musik yang terlantun dengan keras dari beberapa speaker yang tergantung rendah di langit-langit ballroom.

"Aku mau ambil minum, kau mau?" teriak Jongdae, meningkahi suara Justin Timberlake.

Aku menggeleng. Jongdae lalu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Di bawah lampu yang remang-remang pelan-pelan aku berjalan mengelilingi lantai dansa yang sudah cukup penuh.

Ada Hillary Clinton yang sedang berdansa dengan , Shakira dengan Harry Potter, laki-laki ubanan dengan kimono tidur berwarna merah sedang berdansa dengan dua orang wanita yang bergaya seperti Playboy Bunnies. Aku kemudian sadar bahwa laki-laki ubanan yang berdansa dengan mereka adalah Hugh Hefner. Bukan raja majalah khusus untuk laki-laki yang asli tentunya, tapi cukup mirip untuk jadi kembarannya.

Kemudian kulihat ada yang mengenakan kostum Batman. Aku harus menahan tawaku ketika sadar bahwa orang itu adalah Sooman, bosku. Kostum yang ketat itu tidak bisa menutupi perutnya yang buncit. Dia kelihatan mengalami masalah untuk bernapas dalam kostum itu. Aku merasa kasihan kepadanya. Kuputuskan menghampirinya, tetapi tiba-tiba ada yang menarik lenganku.

"Can I have this dance?" tanya suara itu, yang terdengar berat dan dalam.

Ketika aku berpaling, aku berhadapan dengan Zorro. Aku betul-betul sedang

tidak mood berdansa. Kuperhatikan sekelilingku, mencoba mencari Jongdae yang bisa menyelamatkanku, tetapi aku tidak melihat Willy Wonka di mana pun juga.

Aku kembali menghadapi Zorro smabil mempertimbangkan pilihanku.

"Hanya satu dance saja, lil fox?" Sepasang mata coklat di balik topeng Zorro itu terlihat sedang menari-nari. Dia memanggilku dengan kata "lil fox".

Mau tidak mau aku jadi tersenyum. Ada sesuatu yang terlihat familiar pada dirinya, tetapi aku tidak merasa pasti. Aku lalu membiarkan diriku dituntunnya ke

lantai dansa. Sebuah lagu rap melantun dengan keras. Aku mencoba mengikuti ketukan lagu itu.

Aku merasa agak risi. Berbeda denganku, Zorro seakan-akan tidak memiliki masalah sama sekali untuk bergerak mengikuti tempo lagu. Dia bahkan menggunakan pedangnya ketika sedang menari. Beberapa orang yang sedang berdansa di sekeliling kami sampai tersenyum melihat tingkah lakunya.

Mula-mula aku masih mengkhawatirkan reputasiku di depan orang-orang kantorku bila nge-dance dengan gaya yang terlalu heboh. Setelah sadar bahwa tidak akan ada yang bisa mengenaliku maka aku mulai menanggalkan "Oh Sehun

yang penuh dengan rencana masa depan" menjadi "Oh Sehun yang tidak peduli apa yang akan terjadi besok".

Kulenggokkan pinggulku dengan lebih percaya diri, kumainkan mataku untuk menggoda Zorro, bahkan membasahi bibirku agak terlihat lebih seksi. Zorro melahap semuanya dengan tatapannya, dan mendekatkan dirinya kepadaku.

Setelah beberapa lagu bertempo cepat, musik mulai berganti dengan lagu-lagu bertempo lambat. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berdansa dengan Zorro, tetpai tiba-tiba aku merasa haus.

Aku lalu memberi isyarat kepada Zorro bahwa aku akan pergi mengambil minum. Seperti yang sudah kusangka, dia mengikutiku ke bar yang terlihat agak sepi. Penerangan di situ bahkan lebih minim dibandingkan di lantai dansa. Aku melirik jam tanganku, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

Gila! Aku sudah berdansa dengan laki-laki tidak dikenal ini selama satu jam lebih.

Aku hanya memesan sebotol corona kepada bartender, dan duduk di salah satu kursi bar yang tinggi. Zorro kemudian duduk di sebelahku sambil menggenggam botol budweiser. Suara musik di bar ternyata tidak sekeras di lantai dansa.

"Kau datang sendiri?" tanya Zorro.

Aku memikirkan pertanyaan itu sejenak. Aku tidak mengenal laki-laki ini. Jangan-jangan dia seorang pembunuh berantai. Aku memilih jalan aman, dan

menjawab, "tidak, aku datang bersama teman."

"Kekasih?"

Aku menggeleng. "Kau sendiri?" tanyaku.

"Sendiri saja," jawabnya.

Kami lalu terdiam sesaat sambil menikmati minuman masing-masing.

"Kostummu keren juga," ucap Zorro lagi, sambil menunjuk kostumku.

"Kau juga," balasku, sambil menunjuk pedangnya yang terbuat dari besi.

"Mengapa jadi seekor rubah?" tanya Zorro, sambil menatapku dalam.

Aku mengangkat bahu. "Hanya ini yang tersisa."

Zorro lalu menghadapku, kemudian mendekatkan kepalanya dan membisikkan

sesuatu kepadaku. Otomatis aku pasti mendekatinya.

"Untung saja kau bukan rubah betulan, soalnya aku memikirkan hal-hal yang ingin kulakukan padamu yang tidakk seharusnya kupikirkan," bisiknya.

Ia menarik kepalanya sambil tersenyum. Sekali lagi suara hatiku berkata ada sesuatu yang familiar tentang dirinya, tetapi aku menepiskan kata hatiku itu. Aku tahu, seharusnya aku berdiri pada saat itu juga dan meninggalkan laki-laki tidak tahu tata krama itu.

"Hal-hal seperti apa?" Sebelum aku bisa mengontrol lidahku, kata-kata itu sudah keluar dari mulutku.

Setelah beberapa bulan ini dating dengan beberapa laki-laki, aku mulai mendapatkan kembali keahlianku flirting dengan mereka yang sempat hilang.

Kulihat mata Zorro melebar di balik topengnya. "Come with me and I'll show you," ucapnya, dengan suara serak.

Aku memutar kursiku dan menghadapnya sambil tertawa cemas. "I'm not gonna

come with you sampai aku tahu kau siapa," balasku.

"Oh, kau tahu siapa aku." Zorro terlihat menikmati permainan ini.

"Oh, ya?" Hal ini menjelaskan mengapa beberapa hal mengenainya sangat familiar bagiku. Kupicingkan mataku curiga.

"Look. Aku tidak ingin bermain-main malam ini. Jadi, bagaimana kalau kau lepas topengmu agar aku bisa melihat wajahmu," ucapku cepat.

Bartender yang terlihat sedang mencuci gelas menatapku. Dari matanya dia seperti menanyakan, apakah aku memerlukan pertolongannya. Aku menggeleng sedikit, menandakan aku masih bisa mengatasi keadaan. Bartender itu lalu kembali mencuci gelas-gelas, tetapi dia terlihat mendengarkan percakapanku dengan Zorro lebih saksama.

"Selalu perlu mengontrol semuanya." Suara Zorro seperti membelai wajahku.

Kemudian Zorro turun dari kursinya dan berdiri di hadapanku. Lututku bersentuhan dengan pinggulnya. Tanpa kusangka-sangka kemudian dia menyentuh kedua pahaku. Ia memaksaku membuka kedua kaki, kemudian memposisikan dirinya di antaranya. Dia lalu menarikku ke dalam pelukannya.

"Coba kau ingat-ingat lagi," ucapnya, kemudian sebelum aku bisa melakukan apa-apa dia sudah mencium bibirku.

Ciuman itu terasa panas dan mendesak hingga aku tidak bisa bernapas. Otakku tidak bisa bekerja, yang bisa kulakukan hanya berpegang erat ke dirinya dan menikmati saat-saat ini. Sudah hampir enam bulan berlalu, dan hal ini membuatku sedikit haus akan sentuhan pada bibir, mulut, dan lidahku.

Tiba-tiba bibirnya meninggalkan mulutku dan beralih menyusuri dagu hingga telingaku. Aku hanya bisa mendesah dan mengizinkannya melakukan itu.

"I like the way you kiss," bisiknya. Aku hanya bisa menarik napas karena embusan napasnya tengah menggelitik wajahku.

"Sepertinya aku satu-satunya orang untukmu," lanjutnya, dengan bisikan yang semakin menggoda.

Samar-samar kudengar suara Mariah Carey menyanyikan lirik lagu "We Belong Together". Pada saat itu juga aku tersadar oleh bunyi "KLIK" yang sangat keras.

Buru-buru kuletakkan kedua telapak tanganku di dadanya dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Zorro harus mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangannya dan menabrak meja bar.

Tanpa memedulikan bartender yang sedang berjalan ke arahku, aku beranjak turun dari kursi. Kutatap mata Zorro dalam-dalam, kemudian menarik topeng hitam yang menutupi wajahnya dengan tangan kananku. Ketika aku bisa melihat seluruh wajahnya, yang aku bisa lakukan hanya berdiri diam menatap wajah itu.

Wajah Kris yang sedang menatapku dengan penuh kemenangan.

"Hey, babe," ucapnya, seperti orang tidak bersalah.

Aku langsung merasa mual. Tanpa berkata-kata lagi aku langsung berbalik badan menuju pintu keluar ballroom. Aku bahkan tidak menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Kris mengikutiku atau tidak. Aku mencoba menyeka bibirku dengan tangan. Sebetulnya, aku ingin pergi ke kamar mandi dan mencuci mulutku dengan Listerine sebanyak sepuluh kali, kemudian mnyikat gigiku sepuluh kali juga.

Bagaimana mungkin aku tidak mengenalinya? Aku berhubungan dengannya selama tiga tahun. Aku seharusnya tahu bentuk wajahnya, badannya, suaranya, dan cara dia menciumku. Pokoknya, aku seharusnya mengenali dia. Aku bahkan seharusnya mengenali keahliannya dalam menarik perhatian hanya dengan kedipan matanya.

Aku pun pernah jatuh cinta kepadanya karena itu. Bagaimana mungkin aku jatuh pada perangkap yang sama untuk yang kedua kalinya? Ternyata usahaku menghapuskan Kris dari pikiranku cukup sukses karena aku betul-betul tidak bisa mengenalinya lagi. Kalau saja tadi dia tidak mengatakan kata-kata itu maka mungkin aku tidak akan pernah tahu hingga waktunya membuka topeng sekitar...-aku melirik jam- setengah jam lagi.

Sialan, sialan, sialan, geramku dalam hati.

Aku meninggalkan bunyi musik, yang kini membuatku pusing, di belakangku dan menuju pelataran parkir. Kukeluarkan kunci mobil dari saku kostum. Baru pada saat itu aku mendengar bunyi langkah di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa itu adalah Kris. Aku tahu cara dia berjalan, yang selalu terkesan seperti sedang berbaris dengan menghantamkan kakinya kuat-kuat pada lantai.

"Pergilah, Kris!" teriakku, tanpa menoleh dan mempercepat langkahku.

"Hey, tunggu! Aku perlu bicara denganmu." Kudengar langkah Kris juga semakin cepat.

Mendengar kata-kata itu aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.

"Aku tidak mau berbicara denganmu. Aku bahkan tidakmau melihat mukamu lagi. Bukankah aku sudah jelaskan semua terakhir kali aku bicara denganmu?" Aku mengatakan semua itu sambil bertolak pinggang.

"Kau tidak terlihat keberatan melihat wajahku ketika kau menciumku beberapa menit yang lalu."

"Itu karena aku tidak tahu kalau itu kau," geramku. "Bagaimana kau bisa masuk ke pesta ini? Ini private party."

"Aku hanya bilang ke orang-orang yang menjaga pintu bahwa aku pasanganmu malam ini, dan mereka mengizinkan aku masuk."

Aku menarik napas dalam-dalam. Kris mungkin seorang buaya darat, tapi dia buaya darat yang cerdas. Dulu aku sangat menghargai betapa pintar dan kreatifnya Kris, tetapi tidak sekarang.

"Bagaimana kau...Ah, sudahlah masa bodoh," ucapku, lalu kembali berjalan ke mobil.

Aku sebenarnya ingin menanyakan, dari mana dia tahu aku ada di pesta ini? Dan rasanya aku tahu jawabannya. Perusahaanku selalu menyewa ballroom di hotel ini setiap tahunnya untuk mengadakan pesta Halloween atau pesta apa pun juga. Kris cukup mengenalku dan tahu aku tidak akan mungkin melewatkan perayaan Halloween.

"Sehun, tunggu! Aku betul-betul perlu bicara denganmu!" teriak Kris.

"Bukankah kau seharusnya ada di Tennessee?" tanyaku, sambil terus berjalan menuju mobil.

"Aku kembali untuk berkunjung," jawabnya. Kemudian dia melanjutkan, "Tunggu sebentar, bagaimana kau bisa tahu kalau aku seharsunya ada di Tennessee?" tanyanya, dengan nada sedikit bingung.

"Steve yang memberitahu aku," balasku. Di antara beberapa hal lainnya, ucapku dalam hati.

"Have you been checking up on me?"

Kata-kata itu membuatku sekali lagi berhenti melangkah dan menatapnya.

"Kris, sebenarnya di planet mana kau hidup selama beberapa bulan ini? Mengapa juga aku harus checking up on you?"

"Karena kau masih cinta padaku, tetapi tidak mau mengakui," jawab Kris, penuh kepastian.

Saat itu juga emosiku bergejolak. Kutatap Kris sedalam-dalamnya, tidak percaya bahwa dia baru saja mengatakan kalimat itu.

"Kau lupa minum obat hari ini?" tanyaku akhirnya.

"Obat? Untuk apa?"

"Untuk gejala delusionalmu."

Kris mengerutkan dahinya sebelum membalasku, "Aku tidak delusional. Aku tahu kau masih mencintaiku, seperti aku mencintaimu. Jadi, bagaimana kalau kita lupakan saja yang sudah terjadi dan mulai lagi dari awal?"

"Hah? Apa kau pikir aku bisa lupa begitu saja setelah melihatmu berhubungan badan dengan asistenmu di kantor?"

"I'm happy to let you know that he is out of my life. Dia tidak berarti apa-apa untukku, begitu juga yang lainnya. Aku hanya mencintaimu," jawab Kris.

"Itu tidak membuat semuanya baik-baik saja, oke? Aku tidak mau lagi mendengarkan semua kebohongan yang keluar dari mulutmu. Ever. I'm done with you."

Aku lalu berjalan menuju mobil dengan langkah lebih cepat. Kudengar Kris memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Tiba-tiba kurasakan pergelangan tanganku ditarik dengan kasar dan tubuhku diputar menghadap Kris.

"Kau bisa tidak berhenti sebentar dan dengarkan aku?" geramnya, sambil mencengkeram kedua lengan atasku.

"Aku tidak mau berhenti atau mendengarkan atau melakukan apa pun untukmu,

Kris. Sekarang lepaskan!" Kucoba melepaskan diri dari cengkeramannya, tetapi Kris tetap tidak melepaskanku.

"Hey, let him go!" Tiba-tiba kudengar suara laki-laki berteriak dari belakangku.

Terkejut oleh teriakan itu, Kris melepaskan cengkeraman tangan kirinya, tetapi tangan kanannya masih mencengkeram lenganku. Aku pun menoleh dan langsung mengenali laki-laki berbadan tinggi yang sedang berjalan ke arahku.

Seperti terakhir kali aku melihatnya, dia hanya mengenakan sweater turtleneck di atas celana jeans dan tanpa jaket.

"Chanyeol?" aku terkejut.

Chanyeol memicingkan matanya sesaat untuk mengenali wajahku sebelum berkata, "Sehun?"

Tatapannya kemudian tertuju pada kostum yang kukenakan, dan aku bersumpah...aku melihatnya tersenyum.

"And I'm Kris, now run along, pretty boy." Cara Kris mengatakan kata "pretty boy" dengan penuh kebencian membuat tubuhku menjadi dingin.

Tidak ada laki-laki mana pun yang akan tinggal diam bila dipanggil "pretty boy". Aku yakin sebentar lagi kepalan tinju akan mulai melayang. Aku akan berada di antara mereka yang melayangkan kepalan tinju dengan targetnya.

Kualihkan perhatianku dari wajah Kris ke Chanyeol dengan perasaan waswas. Akan tetapi, yang kulihat justru membuatku bingung. Bukannya terlihat marah, Chanyeol justru terlihat terhibur dengan kata-kata Kris.

"Now that's a thought. I never think of myself as being pretty. Attractive, maybe, but definitely not pretty," ucap Chanyeol santai.

Meskipun hatiku sedang galau, aku harus mengakui bahwa kata "pretty" sama sekali tidak bisa menggambarkan dirinya. Dia lebih terlihat seperti patung Adonis Yunani. Seksi dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ini bukan urusanmu. Ini antara aku dengan kekasihku. Jadi, kalau kau tidak keberat-"

"Mantan kekasih!" teriakku ganas.

Mau tidak mau aku harus meluruskan khayalan Kris, yang seolah-olah mengelabui pikirannya.

"Tidak ada apa-apa di antara kita, Kris, sudah tidak lagi." Kutarik lenganku dari cengkeram Kris, dan dia melepaskanku.

Chanyeol terlihat melipat kedua tangannya di depan dadanya yang bidang.

"Well, kelihatannya kau yang harus pergi, pretty boy."

Mau tidak mau aku jadi tersenyum mendengar Chanyeol melempar balik kata-kata Kris, dan dia terlihat terkejut. Beberapa detik berlalu, dan aku berpikir Kris akan melangkah pergi dan meninggalkanku seperti yang terjadi beberapa bulan yang lalu ketika dia berhadapan dengan dua laki-laki yang rela membelaku.

Tiba-tiba, bagaikan seekor banteng yang melihat kain merah, Kris menyerang

Chanyeol. Gayanya pun sudah seperti banteng, ia sedikit membungkuk untuk menyerang bagian tengah tubuh Chanyeol. Selanjutnya, mereka bergumul di aspal pelataran parkir.

Aku mendengar bunyi kepalan tinju mengenai sesuatu yang keras, yang diikuti dengan teriakan, "Shit, my eye! My eye!"

Aku tidak tahu siapa yang berteriak, tetapi melihat posisi Chanyeol yang berada di atas Kris, aku menduga yang berteriak Kris.

"Guys! Guys, stop it!" teriakku panik. "Bisa tidak kita bicarakan ini semua layaknya orang dewasa?"

Mereka seakan-akan tidak mendengarku, bahkan dua orang yang sama-sama setinggi tiang itu terus terlibat perkelahian. Andai saja aku punya peluit, yang bisa aku gunakan untuk menarik perhatian mereka? Tampaknya meskipun aku meniup benda itu sampai mukaku biru, mereka tetap tidak akan berhenti berkelahi hingga salah satu dari mereka terkapar dan babak belur.

Aku mendengar bunyi 'cling, cling, cling' yang kemudian aku sadari berasal dari pedang Zorro Kris. Mau tidak mau aku jadi tersenyum. Seingatku dari semua film Zorro yang pernah aku tonton, aku tidak pernah melihat jagoan berjubah hitam dengan gaya misterius itu berhadapan dengan musuhnya tanpa menggunakan pedangnya.

"Let me blacken that other eye for you." Kudengar Chanyeol berkata sebelum dia

melayangkan kepalan tinjunya ke arah Kris, diikuti dengan bunyi "crack" yang cukup keras.

Kemudian kudengar Kris berteriak, "Shit! That hurts! You asshole."

Kulihat Chanyeol menarik tali yang mengikat jubah Zorro Kris ke arahnya, dan dia menatap Kris dengan tajam sebelum menggeram, "Who are you calling an asshole?"

"You. You senseless son of a bitch."

"Apa ibumu tidak pernah mengajarkan agar tidak mengucapkan kata sumpah serapah?"

Kudengar suara geraman, tiba-tiba Kris sudah mendorong tubuh Chanyeol dan posisi mereka pun berbalik. Kini Kris berada di atas Chanyeol.

"Get off me you sissy." Suara Chanyeol terdengar seperti guntur yang pecah di langit menjelang hujan.

"Jangan pernah menghina ibuku!" teriak Kris ganas, sambil menggenggam kepala Chanyeol di antara kedua telapak tangannya.

Aku melihat ke sekelilingku, mencari seseorang yang mungkin bisa membantuku menghentikan perkelahian ini, tetapi aku tidak melihat siapa-siapa. Pelataran parkir itu kosong melompong, tampaknya semua orang masih ada di dalam ballroom dan menikmati pesta Halloween tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di luar.

Menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghentikan pergumulan itu sendirian, aku memutuskan mundur beberapa langkah dan menyandarkan bahu pada satu sisi Ford Explorer yang diparkir tidak jauh dari tempat Kris dan Chanyeol dan menunggu.

Aku bukan orang yang menyenangi kekerasan sehingga aku harus menutup mataku ketika kulihat kepala Chanyeol bersentuhan dengan aspal dengan bunyiyang cukup keras, tetapi kelihatannya kepala Chanyeol cukup kuat karena entakan itu tidak memengaruhinya.

Kudengar dia berteriak, "Damn! You fight like a girl!"

"No I don't," balas Kris tersinggung, ia menghantam wajah Chanyeol dengan kepalan tinjunya, kemudian berusaha berdiri. Aku ragu, tetapi kelihatannya kepalan tinju itu mengenai Chanyeol tepat di hidungnya.

Kudengar Chanyeol terbatuk-batuk dan mencoba berdiri juga. Melihat darah segar menetes keluar dari hidungnya membuatku panik.

"Chanyeol, hidungmu!" teriakku, dan berjalan mendekatinya.

"Jangan mendekat, Sehun. Ini sudah menjadi urusanku." Seolah-olah tidak mendengarku, Chanyeol membalas pukulan Kris sambil mengangkat tangannya untuk mengingatkanku agar tidak mendekat. Dia tidak memandangku ketika melakukannya. Tatapannya tetap kepada Kris.

Kemudian Kris berbalik badan dan menatapku. Aku bisa melihat wajahnya lebih parah daripada Chanyeol. Mata kanannya sudah mulai tertutup karena bengkak. Bibir bawahnya pecah dan darah kering menempel di situ.

"Kris." Suaraku terdengar tercekik.

"Aku tidak apa-apa," geramnya kepadaku. Ia kemudian memutar tubuhnya menghadap Chanyeol, dan berkata, "Ayo! Pukul aku sekali lagi, dan aku akan membuatmu lebih babak belur!"

"Oke, hentikan ini semua ini sekarang! Both of you!" teriakku. "Kris, berdiri saja

kau sudah tidak bisa, bagaimana kau akan memukul Chanyeol?"

"Just shut up!" balas Kris, tanpa menatapku.

Aku terdiam sesaat sebelum kata-kata Kris betul-betul bisa aku cerna.

"Apa kau bilang?" Aku masih tidak percaya dengan pendengaranku. Dia baru saja melontarkan kata "shut up" kepadaku.

"Aku bilang diam!" Seperti tidak memahami kesalahannya, Kris mengulangi kata-kata itu sambil menatapku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku tiba-tiba jadi kalap dan langsung berjalan bergegas mendekatinya dengan mengepalkan kedua telapak tanganku dan langsung mendorongnya keras.

"You worthless son of a bitch, how dare you to tell me to shut up!" Aku kemudian melayangkan kepalan tinjuku lagi pada wajah Kris, yang terlihat terkejut dengan reaksiku.

"Sehun, kau kenapa!?" teriaknya, sambil mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Aku tidak menghiraukannya, dan tetap melayangkan kepalan tinjuku. Setelah beberapa detik dan menyadari itu tidaklah sepadan, aku pun memikirkan cara lain untuk betul-betul menyakiti fisik Kris.

Dengan menggunakan kaki kananku kutendang Kris di selangkangannya sekuat tenaga. Ujung sepatu botku yang agak runcing tepat mengenai sasaran. Kudengar Kris berteriak kesakitan, dan dia mundur beberapa langkah sambil membungkuk.

"That should teach you not to tell any men to shut up. Ever!" ancamku, dengan sedikit terengah-engah. Aku merasakan kemarahan yang tadi ada di dalam diriku menghilang perlahan-lahan.

Sejak awal aku mengerti mengapa laki-laki lebih memilih bertengkar secara fisik daripada verbal karena ternyata cara itu memang lebih efektif untuk melampiaskan kemarahan.

Aku baru sadar ternyata Chanyeol masih ada di situ ketika kudengar suara orang

cekikikan. Kualihkan perhatianku kepada Chanyeol, yang sedang membungkukkan tubuhnya. Aku pikir dia sedang kesakitan, tetapi kemudian aku melihat bahunya bergerak naik-turun dengan suara tawa yang tertahan. Kemudian dia meluruskan tubuhnya dan tertawa keras.

"Astaga, itu tidak ada duanya!" ucap Chanyeol, di antara tawanya.

Aku menunggu beberapa saat sambil mengetukkan kakiku ke aspal. "Senang bisa menghiburmu," kataku datar, kemudian berjalan ke arahnya. "Sini aku urus hidungmu dulu."

Seperti baru sadar ada darah yang sedang menetes dari hidung dan menodai sweater-nya Chanyeol berteriak, "Aiishh, crap!"

Mau tidak mau aku tertawa melihatnya. "Aku ada P3K di dalam mobil. Keep your head back, itu akan mencegah darah terus keluar dari hidung," ucapku, sambil menuntunnya menuju mobilku yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Kuminta Chanyeol duduk di atas kap mesin mobil. Kuberikan selembar tisu kepadanya, yang bisa digunakannya untuk menghentikan darah yang mengalir ke luar. Sementara itu, kulepaskan kostum Nick dan melemparkannya ke kursi belakang mobil. Bulu roma di punggungku langsung berdiri, bereaksi pada pergantian suhu tubuhku, tetapi aku tidak menghiraukannya.

Kuambil kotak P3K dan menghampiri Chanyeol. "Apakah patah?" tanyaku, sambil mengaduk-aduk kotak itu mencari kapas.

Dia menekan tulang hidungnya sepelan mungkin. "Sepertinya tidak." Suara Chanyeol terdengar lucu.

"Oke, lepaskan tanganmu biar aku bisa lihat," ucapku.

Chanyeol kemudian membiarkanku mengangkat tisu, yang kini berwarna merah karena darah. Darah yang tadi mengalir kini sudah berhenti. Aku menarik napas lega.

"Tahan napasmu!" perintahku, dan segera membersihkan bekas-bekas darah yang masih tersisa di atas bibir dan dagunya dengan kapas yang sudah dibasahi alkohol.

Selama melakukan itu semua aku mencuri-curi mencium aroma Chanyeol dalam-dalam. Aromanya menghantui pikiranku sehingga membuatku mencarinya di setiap date-ku selama tiga minggu terakhir ini. Ketika aku membersihkan bagian luar bibirnya, aku menyadari bibir itu mungkin adalah bibir terseksi yang aku pernah lihat.

Apakah yang Chanyeol akan lakukan bila tiba-tiba aku menciumnya? pikirku. Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah diriku melakukan tindakan yang ada di pikiranku.

Chanyeol tidak mengatakan apa-apa selama jari-jariku bersentuhan dengan kulitnya. Dia hanya menatapku dengan mata granitnya itu. Kalau saja dia mengetahui fantasiku tentangnya, dia mungkin akan lari pontang-panting sambil berteriak, "He's crazyyyyyy!"

Sekali lagi kugigit bibir bawahku, tetapi kali ini untuk mencegahku agar tidak tertawa karena imajinasiku.

Setelah wajahnya bersih kembali, aku memberikan beberapa lembar tisu kepadanya untuk digunakan bila ada darah yang keluar lagi. Sambil membereskan kotak P3K, aku mempertimbangkan bagaimana aku harus meminta maaf kepadanya atas kejadian malam ini.

Chanyeol menatapku, bibirnya tertarik lurus seperti sedang berusaha menahan senyum, tetapi tidak berhasil.

"Apakah kau menginap di hotel ini?" Pertanyaan yang bodoh sebetulnya, tetapi setelah selama lima menit aku mencoba mencari topik pembicaraan di dalam kepalaku tanpa membuahkan hasil, aku tidak punya pilihan lain.

Chanyeol menatapku seperti aku makhluk dari planet lain karena mengeluarkan pertanyaan itu, tetapi dia tetap menjawab, "Ya," ucapnya datar.

"Untuk kerja?" tanyaku lagi.

"Social visit. I'm leaving tomorrow morning," jelas Chanyeol.

Jadi, Chanyeol memang tidak tinggal di Winston rupanya. Inilah sebabnya aku jarang melihatnya. Di mana kira-kira dia bermukim? pikirku dalam hati. Kami masih terdiam dalam keheningan yang mulai membuagku canggung.

"Apakah kau marah padaku?" tanyanya akhirnya.

Aku menatap Chanyeol bingung. "Kenapa aku harus marah padamu?"

"Karena sudah membuat kekasihmu babak belur," jawabnya.

"Dia bukan kekasihku."

"Kenapa kau pikir aku marah padamu?" tanyaku kemudian.

"Karena kau hanya diam saja selama beberapa menit ini."

Aku terdiam sesaat untuk mencerna kata-katanya. Aku tersenyum atas kesalahpahaman ini. "Aku tidak marah. Tidak sama sekali. Kris laki-laki brengsek dan sudah sepantasnya dia babak belur. Sori karena dia sudah menonjok hidungmu."

Chanyeol mengangkat bahunya, kemudian berkata, "Bukan yang pertama kali, dan mengapa juga kau minta maaf untuknya?"

Wah, aku juga tidak tahu mengapa aku melakukannya. Aish, orang ini membuatku bingung. Terutama karena aku sadar, aku sedang berdiri terimpit di antara kedua pahanya yang terlihat kokoh di balik jeans berwarna gelap.

"Bagaimana bisa kau berkencan dengan laki-laki seperti dia?" tanya Chanyeol, mengeluarkanku dari rasa ketidaknyamanan.

Aku ada dua jawaban untuk pertanyaan itu. Pertama, ketika aku bertemu dengan Kris dulu. Kris terlihat seperti laki-laki sempurna bagiku pada saat itu. Kedua, aku cinta mati kepadanya hampir pada pandangan pertama. Aku ini pemuda tolol, yang sudah terlalu percaya dengan segala kata-kata manis yang keluar dari mulut Kris. Aku seharusnya tahu, sebagai seorang pengacara, mengeluarkan kata-kata puitis adalah keahliannya dan sudah menjadi bagian dari dirinya.

Bukannya menjawab pertanyaan Chanyeol, aku malahan lebih memilih menutup kotak P3K dan mengembalikannya ke dalam mobil. Melihatku tidak menjawab pertanyaannya, Chanyeol lalu turun dari atas kap mobilku.

"Aku sebaiknya mengecek Kris," ucapku.

Meskipun aku sangat membenci Kris karena telah membohongiku dan tidak peduli bila dia kehilangan testiclenya karena tendanganku, aku toh sudah menghabiskan tiga tahun hidupku bersamanya. Aku bahkan sempat merasa bahagia bersamanya. Melihatnya lagi malam ini membuatku teringat, aku dulu pernah mencintainya. Oleh karena itu, aku tidak bisa tidak memedulikannya sama sekali.

Chanyeol mengangguk. "Apa kau perlu bantuan?" tanyanya.

Aku menggeleng. "Tidak, aku bisa mengatasinya. Terima kasih sudah menawarkan bantuan."

Aku baru akan melangkah pergi ketika tatapanku tertuju pada sweater biru tua, yang membungkus tubuhnya dengan sempurna itu. Kini sweater itu telah dinodai oleh empat titik berwarna gelap. Aku lalu mengambil dompetku dari dalam mobil dan mengeluarkan kartu namaku. Di belakang kartu nama itu kutuliskan nomor telepon selularku.

"Sori soal sweater-mu. Bisa tolong kirimkan tagihan dry cleaning-nya padaku?" Kuserahkan kartu namaku kepada Chanyeol, yang menatap kartu namaku kemudian wajahku. Dia terlihat bingung.

"Don't worry about it," ucapnya, sambil menggerakkan tangannya di depan wajahku. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat logo sweater itu.

"Shit!" teriakku.

Chanyeol langsung mundur selangkah karena kaget. "Ada apa?" tanyanya khawatir.

"Sweater-mu itu Armani!" jawabku masih berteriak.

"Yeah, so what?" Chanyeol masih terlihat bingung. Ia menatap sweater yang dikenakannya, kemudian mengalihkan tatapannya kepadaku.

"Itu sangat mahal!" teriakku putus asa.

"Ini hanya sweater." Kini Chanyeol terdengar tidak peduli sambil menatap sweater yang dikenakannya itu lagi.

"No, harganya seperempat dari gajiku. Sudah begitu, kena darah pula."

Chanyeol menatapku, kemudian menoleh ke kiri dan tatapannya terfokus pada sesuatu. Aku menolehkan kepalaku, dan melihat Kris sedang memperhatikan kami sambil mengerutkan keningnya. Tampaknya dia sudah pulih dari tendanganku.

"Dia lebih memerlukan perhatianmu daripada sweater-ku. Kau sebaiknya cek dia, sebelum dia mulai satu ronde baru denganku," ucap Chanyeol.

"Tapi," ucapku ingin protes.

Chanyeol sudah memutar tubuhku dan mendorong aku berjalan menuju Kris. Kutolehkan kepalaku kepada Chanyeol, ia melambaikan tangannya dan menunjuk ke arah Kris lagi.

"Bye," ucapku pelan, dan berjalan menuju Kris yang masih mengenakan kostum Zorro.

"Zorro from hell," gerutuku.

To Be Continued...


T/n: orz, adakah yang masih menunggu fanfik ini? *digebukin* Maafkan saya karena sudah menelantarkannya, ini semua gara-gara gak bisa login karena lupa password! *plakk* Maaf ya!

Terima kasih buat kalian yang sudah menunggu bahkan mengingatkan *bow* tolong tetap ingatkan saya kalau kelewat XD

Terima kasih atas feedbacknya, saya gak bisa balas satu persatu tapi saya baca semuanya kok ^^ Support terus ya!