Blind Date © AliaZalea

Translated by juvenileflew

Main Cast : Chanyeol - Sehun

Warn: R18, Yaoi


Don't like, don't read


Chapter 5

Keesokkan paginya, aku terbangun karena terkejut. Aku harus menenangkan diri selama beberapa menit, kemudian duduk di atas tempat tidur. Matahari sudah masuk dari jendela kamar, yang tirainya kubiarkan tidak tertutup tadi malam. Kulirik jam yang ada di telepon selularku.

Sembilan lewat lima pagi.

Aku baru tidur kurang dari lima jam.

"Weird dream," gerutuku, lalu beranjak berdiri.

Aku berjalan menuju kamar mandi tanpa memperhatikan langkahku, dan akhirnya menabrak keranjang pakaian kotor yang terletak di samping pintu. Kata-kata sumpah serapah keluar dari mulutku. Sambil menahan sakit, aku terpaksa meloncat dengan satu kaki memasuki kamar mandi.

Kukenakan kacamata minusku, dan duduk di atas toilet memeriksa keadaan jempol kakiku. Bagian yang tadi tertabrak keranjang terlihat sedikit memar, tetapi tidak mengeluarkan darah. Setelah rasa sakit agak reda aku pun berdiri, dan setelah mendorong kacamata ke atas kepala, kubasuh wajah dengan air dingin.

Ketika kuangkat wajahku dengan air yang masih menetes, aku langsung berhadapan dengan wajah yang kelihatan stres. Ada lingkaran hitam di bawah mata dan kulitku terlihat kusam.

Kuseka mukaku dengan handuk dan mengenakan kacamata kembali, kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan. Aku malas masak sehingga hanya mengeluarkan susu dari dalam lemari es dan menarik kotak sereal dari atas lemari es.

Kutuangkan sereal itu ke dalam mangkuk, kemudian kusiram dengan susu. Setelah meletakkan susu dan sereal pada tempatnya, aku duduk di meja makan. Aku melipat kaki, lalu memasukkan satu sendok sereal ke dalam mulutku. Pelan-pelan kukunyah sarapanku.

Aku mencoba mengingat kembali mimpiku. Aku sedang berlari sekuat tenaga karena ada seseorang yang sedang mengejarku, tetapi aku tidak bisa melihat wajah orang itu. Kusadari kemudian, di hadapanku ada bukit yang cukup terjal. Aku yakin, aku tidak akan bisa mengalahkan orang yang sedang mengejarku jika aku menaiki bukit itu, tetapi aku tidak punya pilihan lain.

Aku menoleh ke belakang dan melihat orang yang mengejarku sudah semakin dekat ketika tiba-tiba aku terjatuh karena telah menabrak sebuah dinding, sesuatu yang tidak mungkin karena di bukit tentu tidak ada dinding. Ketika aku melihat penyebab mengapa aku jatuh, aku baru sadar ternyata aku bukan menabrak dinding melainkan seseorang bertubuh tinggi tegap dan dada bidang.

Ia sedang menatapku dari balik mata gelapnya.

Aku berkata, "Chanyeol, kau harus bantu aku. Ada yang mengejarku dan aku tidak tahu itu siapa."

Chanyeol di dalam mimpiku awalnya hanya menatapku bingung, tetapi kemudian dia berkata, "Tidaj usah khawatir, aku bisa urus dia."

"Ohya, bagaimana caranya?"

Chanyeol kemudian mengangkat tubuhku, dan memanggulku. Tahu-tahu aku sudah berhadapan dengan bokongnya, yang mengenakan celana ketat berwarna biru.

"Chanyeol, kau mau apa?!" teriakku panik.

"Aku harus membawamu melewati garis 10-yard untuk touchdown," jawabnya santai, dan mulai berlari menuruni bukit.

Touchdown? Memangnya aku ini bola? Kami bahkan tidak sedang berada di lapangan football.

Tiba-tiba suasana berubah, dan aku ada di lapangan football milik University of Florida, yang dikelilingi oleh lautan orang dengan baju berwarna biru dan oranye, warna khas "The Gators". Kulihat ada beberapa orang dengan kaus football dan celana ketat biru sedang mengejarku, atau lebih tepatnya mengejar Chanyeol yang sedang memanggulku.

Salah seorang di antara mereka adalah Kris, tetapi dia masih mengenakan kostum Zorro walaupun tanpa topeng.

Kris berteriak, "Mau ke mana kau, Sehun?! Mau lari?! Kau tidak akan bisa lari dariku!"

Aku berteriak pada Chanyeol, memintanya berlari lebih cepat dan menjauhkanku dari Kris. Chanyeol menjawab teriakanku, "Aku sedang berusaha sekuat tenaga, kau harus bantu aku!"

"Bagaimana caranya?"

"Aku akan menurunkanmu, setelah itu kau harus berlari bersamaku, oke?"

"Oke," balasku.

"Aku hitung sampai tiga. Begitu aku bilang tiga kau harus sudah lari."

"Oke."

"Satu... dua... tiga." Chanyeol menurunkanku, dan aku berlari sekuat tenaga di sampingnya menuju garis 10-yard. Tangannya menggenggam tanganku. Anehnya, bukan semakin dekat, garis itu terlihat semakin menjauh.

"Hei, aku sudah tidak bisa lari lagi." Lariku mulai berkurang kecepatannya.

"Kau harus bisa. Kalau kau mau berhasil, kau harus coba," bujuk Chanyeol. Dia tersenyum kepadaku.

Aku sudah siap melebarkan langkahku ketika tiba-tiba ada yang menarikku.

"CHANYEOL!" teriakku. Tanganku mencoba menggapainya, tetapi tidak mendapatkan apa pun kecuali udara kosong.

Dan kemudian aku terbangun.

Sekali lagi aku menggerutu, "Weird dream."

Mimpi itu betul-betul tidak masuk akal. Aku bahkan tidak tahu-menahu tentang permainan football atau warna seragam masing-masing universitas. Aku kebetulan saja mengenali seragam University of Florida karena sempat melihat pertandingan mereka di TV melawan University of Alabama beberapa waktu yang lalu.

Kalau dipikir-pikir mimpi itu bahkan tidak ada hubungannya dengan kejadian tadi malam. Aneh. Lebih anehnya lagi, dalam mimpiku Kris dan Chanyeol berbicara dalam bahasa Korea.

Jangan-jangan aku sudah jadi kurang waras. Aku tahu sumber kegilaanku ini tidak lain dan tidak bukan berasal dari laki-laki bejat bernama Kris, yang menolak menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak menginginkannya sama sekali. Entah dia dapat ide dari mana untuk meyakinkan dirinya bahwa aku masih mencintainya.

Ingin rasanya aku membunuhnya tadi malam.

.

.

.

Kemarin malam, setelah aku beranjak dari sisi Chanyeol, aku menarik napas dalam-dalam. Lalu aku berbalik menghadapi Kris untuk yang kedua kalinya malam itu. Aku harus membuatnya mengerti bahwa aku tidak lagi mencintainya, dan aku ingin dia meninggalkanku supaya aku bisa menjalankan hidupku dengan damai.

Kuhentikan langkahku agak jauh dari Kris.

"Bagaimana keadaan bibirmu?" tanyaku dari tempatku berdiri. Aku berusaha sebisa mungkin tidak menghampiri Kris pada saat itu juga untuk mengurus lukanya.

Meskipun aku masih peduli padanya, aku tidak mau memberinya sinyal yang salah. Dia sudah bukan lagi kekasihku, dia sudah bukan tanggung jawabku lagi.

"Sudah tidak berdarah," ucap Kris. "Aku masih tidak percaya kau menendangku."

"Kau pantas ditendang," balasku, sambil menatapnya serius. Melihat reaksiku, Kris hanya terdiam.

"Laki-laki itu siapa?" tanyanya.

Semula aku ingin berpura-pura tidak memahami siapa yang Kris maksud, tetapi aku sedang malas main tebak-tebakan malam ini.

"Teman," balasku pendek.

Pikiranku kembali kepada laki-laki bermata gelap, yang tampaknya telah menjadi lebih dari sekadar teman. Laki-laki itu sudah menjadi malaikat penyelamatku, yang akan muncul tiba-tiba tanpa aku minta bila aku sedang membutuhkannya.

"Well, temanmu itu harus belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain." Kris menggerutu sambil menatapku dengan memicingkan matanya.

"I agree," balasku, meskipun dalam hati aku tidak setuju sama sekali.

Aku tidak keberatan bertemu dengan Chanyeol lagi. Kalaupun itu berarti aku harus berada dalam keadaan darurat lagi, aku tetap rela.

Aku memaksa pikiranku kembali kepada Kris. Aku terdan sesaat memikirkan apa yang akan aku katakan selanjutnya.

"Aku ingin kau mengerti, aku tidak mau kejadian barusan terulang lagi. Kau paham, kan?"

Kris menggeleng. Aku menarik napas putus asa. Keras kepala sekali orang ini. Aku baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba kata-kata meluncur dari mulut Kris. Aku langsung diam mendengarkannya.

"Aku minta maaf soal kejadian barusan. Percaya atau tidak, rencanaku malam ini sebetulnya hanya ingin bicara denganmu dan minta maaf. Begitu aku melihatmu, rasa rinduku padamu selama beberapa bulan ini seolah terobati. Hidupku berantakan tanpamu, Sehun."

Mendengar pengakuan Kris, hatiku sedikit luluh. Setidak-tidaknya kini aku tahu dia lebih membutuhkanku daripada aku membutuhkannya.

Perlahan-lahan aku berjalan mendekatinya.

"Aku ingin kau tahu, aku sudah memaafkanmu. Aku bahkan sudah tidak pernah memikirkan kejadian dulu itu lagi."

Untuk pertama kalinya aku menyadari ternyata aku memang sudah memaafkan Kris atas perbuatannya. Mungkin itu sebabnya mengapa aku sudah bisa melanjutkan hidupku.

"Oh ya? Kau bersedia memaafkanku setelah aku menyakitimu seperti itu?" Kris terlihat betul-betul terkejut.

Aku tertawa melihat ekspresinya. Kuhentikan langkahku sekitar satu meter darinya, kemudian mengangguk.

"Hanya saja, rasanya aku tidak akan pernah bisa lupa sama sekali kejadian dulu itu. Jarang-jarang kan seseorang bisa memergoki kekasihnya sedang making love dengan selingkuhannya, padahal dia bilang sedang lembur."

Suasana hening selama beberapa detik.

"Kalau aku memohon, mencium kakimu, dan berjanji tidak akan pernah mengulang perbuatanku lagi, apakah kau mau menerimaku lagi, Sehun?" tanya Kris, dengan wajah penuh harap.

"Kau serius?"

"Super serius," jawab Kris, dengan penuh keyakinan.

"Tidak," jawabku pendek.

"Mengapa?" Wajah Kris terlihat kecewa.

Aku menggigit bibir bawahku, senewen. Ini adalah kebiasaanku dan Luhan apabila kami berdua merasa tidak nyaman.

"Kau tahu, kita tidak pernah benar-benar cocok satu sama lain." Kumulai penjelasanku. "You're too much for me. Kau memang pintar, sukses, dan tampan. Semakin kau sukses, your... needs would increase as well. The needs that I can never fulfill, setidaknya bukan sekarang."

Kris tidak berkata-kata, tetapi dari wajahnya kelihatannya dia memahami ketika aku mengatakan kata "needs", yang kumaksudkan adalah "sexual needs".

Kuangkat kepalaku ketika melihat banyak orang lalu-lalang di lobi hotel. Kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 24;30. Tampaknya pesta Halloween sudah selesai karena aku melihat beberapa orang berjalan menuju pelataran parkir.

Mengingat aku tidak ingin terlihat bersama Kris oleh orang kantorku, aku berkata, "Kau sebaiknya pulang dan minta seseorang mengurus wajahmu yang babak belur."

Aku lalu berbalik badan dan berjalan menuju mobil. Aku tahu Chanyeol sudah menghilang. Dalam hati aku menyumpah. Meskipun memang aku berkata bahwa aku bisa mengatasi Kris sendiri, aku berharap dia tidak mendengarkan kata-kataku dan tetap menungguku.

"Jadi, itu saja jawabanmu? Kau akan meninggalkanku begitu saja?!" teriak Kris.

Aku berputar balik, dan berjalan maju beberapa langkah.

"Bukan aku yang meninggalkanmu, tetapi kau yang meninggalkanku, Kris. Ingat itu!" teriakku, lalu memutar tubuhku lagi dan berjalan menuju mobil.

"Kau tahu, kau tidak akan bisa hidup tanpa aku, Sehun. Aku hanya perlu menunggu sampai kau mau mengakui itu!" teriak Kris lagi, masih tidak mau kalah.

Kalimat terakhir yang diucapkan Kris telah mengubah pendapatku tentangnya, yang selama beberapa menit tadi merasa kasihan kepadanya. Ternyata dia masih juga laki-laki kurang ajar dan tidak tahu diuntung, yang aku tinggalkan lima bulan lalu. Dia tidak berhak menerima simpatiku sama sekali.

"You need to grow up, Kris," balasku, dan melambaikan tanganku tanpa menatapnya lagi. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa hidup, terus akan hidup dan bahkan lebih baik tanpanya.

.

.

.

Sekali lagi kutatap sarapanku, yang baru setengah termakan. Kulirik jam yang tergantung di dinding dapur. Pukul sepuluh pagi. Kumakan habis sarapanku, kemudian mencuci mangkuk dan sendok. Kusempatkan menelepon orangtuaku.

Aku bertanya kapan mereka akan datang berkunjung lagi ke Amerika? Ibuku menjawab bahwa sebaiknya aku saja yang pulang ke Korea karena dia sudah tidak sanggup terbang 27 jam hanya untuk bertemu denganku dan Luhan. Aku bahkan sempat mengiming-imingi tiket pesawat Business Class kepadanya, tetapi ibuku tetap bersikeras tidak akan pernah terbang ke Amerika lagi. Kecuali bila situasinya memang darurat.

Kemudian ibuku bertanya, apakah aku sudah bertemu dengan orang baru. Aku tahu yang dimaksud ibuku adalah kekasih baru. Aku berusaha menghindar, dan hanya mengatakan aku masih terlalu sibuk untuk melakukan itu. Walaupun begitu, aku berjanji sebisa mungkin meluangkan waktu agar bisa mencari cintaku.

"Jangan lupa, Sehun. Kau boleh saja gila kerja, asal jangan sampai lupa cari pasangan," pesan Ibu kepadaku.

"Ya, Bu," jawabku.

Satu jam kemudian aku menutup telepon dengan perasaan lebih lega karena orang tuaku kelihatannya baik-baik saja. Biasanya hari Sabtu aku habiskan pergi ke toko buku dan membaca-baca majalah edisi terbaru, tetapi hari ini aku merasa malas keluar rumah.

Kulihat keranjang pakaian kotor yang sudah cukup penuh, tetapi belum berlimpah. Aku pun memutuskan mencuci pakaian. Sembari menunggu hingga cucian selesai, aku mandi. Setelah mandi kutata rapi tempat tidur, kurapikan lemari pakaian, kusedot karpet dengan vacuum cleaner sampai dua kali untuk memastikan karpet sudah super bersih.

Bahkan setelah pakaian kering kusetrika semuanya dengan rapi, kemudian memasukkannya ke dalam lemari.

Kulirik lagi jam, yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku lalu beranjak ke dapur untuk membuat makan siang. Setelah selesai makan siang, aku memeriksa telepon selularku untuk memastikan tidak ada text message atau telepon yang tidak terdengar olehku.

Tidak ada pesan ataupun missed call. Selanjutnya, aku menyalakan TV. Kuganti channel beberapa kali, mencari acara yang bisa menyita waktu dan pikiranku untuk beberapa jam. Aku memilih film komedi romantis yang dibintangi Drew Barrymore, yang baru saja mulai.

Aku lalu duduk menikmati film itu selama tiga jam. Ketika film itu berakhir, hari sudah gelap. Kunyalakan beberapa lampu di dalam apartemen. Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore.

"Aish, kenapa dia belum telepon!?" akhirnya aku berteriak frustrasi.

Aku sedikit terkejut dengan teriakanku karena pada saat itu aku baru menyadari alasan mengapa sepanjang hari ini aku merasa resah dan tidak bisa diam. Tanpa aku sadari, aku menunggu telepon dari Chanyeol. Aku ingin mengetahui, berapa hutangku untuk mengganti biaya dry cleaning sweater Armani-nya.

Tolol, tolol, tolol! Aku mengomeli diriku sendiri. Tentu saja dia tidak akan meneleponku hari ini. Dia mungkin belum sempat membawa sweater itu untuk di-dry clean. Oleh sebab itu, dia belum bisa meneleponku untuk memberitahu jumlah tagihannya.

Muncul keragu-raguan di hatiku dia tidak akan meneleponku sama sekali, meskipun sweater itu sudah di-dry clean. Hal ini disebabkan karena dua alasan. Pertama, dia tidak menganggap kejadian tadi malam merupakan kesalahanku. Oleh karena itu, aku tidak bertanggung jawab atas sweater itu. Kedua, dia tidak mau berhubungan denganku dan mantan kekasihku yang sinting.

Rasanya alasan kedua lebih masuk akal.

.

.

.

Satu bulan pun berlalu, dan Natal akan tiba dua minggu lagi. Aku sudah berkencan dengan delapan orang dalam kurusn waktu itu, dan tidak satu pun dari mereka yang mampu menarik perhatianku. Baru belakangan aku menyadari alasannya, ternyata karena aku membandingkan mereka semua dengan Chanyeol.

Laki-laki yang ini terlalu pendek, yang itu terlalu tinggi. Laki-laki ini matanya memang gelap, tetapi tidak secemerlang Chanyeol. Laki-laki itu aromanya mirip dengan Chanyeol, tetapi tidak betul-betul sama. Laki-laki ini rambutnya cokelat dan mirip dengan Chanyeol, tetapi rambut Chanyeol lebih mengilat dan sedikit merah kalau terkena sinar. Laki-laki itu suaranya mirip Chanyeol, tetapi jelas-jelas wajahnya jauh sekali dari Chanyeol... dan berlanjutlah semua alasanku untuk menemukan kesalahan pada setiap kencanku.

Lebih parahnya lagi, aku selalu menahan napas setiap kali melihat ada Volvo SUV berwarna perak. Aku betul-betul sudah terobsesi oleh Chanyeol.

Aku tidak tahu bagaimana Leeteuk masih bisa terdengar ceria setiap kali meneleponku untuk menanyakan tentang kencanku dengan orang-orang, yang telah dicarikan MBD untukku.

Apakah dia tidak bosan mendengar komentarku, "Ya, dia memang baik, tetapi sepertinya dia bukan orang yang tepat untuk saya" Mau tidak mau aku harus mengakui kekagumanku terhadap Leeteuk dan semua staff MBD, yang pantang menyerah mencarikan pasangan yang tepat untukku.

Di dalam hati kecilku aku tahu, laki-laki yang tepat untukku adalah laki-laki berbadan tinggi besar, bermata gelap, memiliki aroma yang membuatku tergila-gila, dan mobilnya Volvo SUV berwarna perak. Laki-laki yang seakan-akan menghilang dari permukaan bumi sebulan yang lalu.

Selama dua minggu pertama aku masih mengharapkan telepon darinya. Terkadang aku duduk menatap telepon selularku, dan berharap benda itu berdering. Tanpa sadar sering aku bergumam, "Ring, ring, ring. C'mon just ring."

Ketika telepon itu tidak berdering juga aku memaki-makinya, "Dasar telepon bodoh, bunyi saja tidak bisa."

Untungnya kegilaanku dapat teratasi setelah Luhan datang mengunjungiku dengan membawa kekasihnya bernama Xiao Liu, yang terlihat seperti seorang kutu buku pada umumnya. Luhan biasanya leibh menyukai seseorang yang gaul untuk mengimbangi gen kutu bukunya itu.

Oleh sebab itu, aku sedikit terkejut ketika melihat Xiao Liu. Hanya satu jam bersama Xiao Liu dan Luhan, aku langsung tahu perasaan Xiao Liu terhadap kakakku lebih dalam dibandingkan perasaan kakakku terhadap laki-laki itu.

Xiao Liu selalu menatap Luhan bagaikan dia berlian paling berharga. Xiao Liu hanya tinggal selama seminggu, kemudian dia kembali ke D.C.

Aku pun mulai menginterogasi kakakku.

"Kau dan Xiao Liu serius?" tanyaku, sambil menyiapkan makan malam untuk kami berdua.

Luhan, yang sedang menyiapkan salad, menjawab, "Hm, belum tahu juga, memang ada apa?"

"Tidak. sepertinya dia sudah cinta mati denganmu." Aku membalik dua daging sapi sirloin seperempat kilo yang ada di atas panggangan.

Kakakku berhenti menuangkan bumbu salad ke dalam mangkuk dan menatapku.

"Kenapa kau bilang seperti itu, Sehun-ah?"

"Dia terus-menerus menatapamu seperti kau ini mataharinya." Kuangkat sepotong daging yang sudah setengah matang. Aku tahu Luhan tidak pernah mau makan daging yang terlalu well-done.

Luhan tertawa mendengar komentarku dan meneruskan membuat salad sambil menyanyikan lirik lagu Nelly Furtado, yang bergema dari speaker stereo.

"Omong-omong, aku sudah lama tidak mendengar kabar tentang Chanyeol. Kau masih belum bertemu lagi dengan dia?" tanya Luhan tiba-tiba.

Argh, mengapa arah pembicaraan kami jadi ke situ? Sudah selama dua minggu ini aku cukup berhasil mengusir Chanyeol dari pikiranku.

"I guess he's fine. Aku belum bertemu dia lagi," ucapku pelan.

Aku mengangkat steak dari panggangan, kemudian meletakkannya di atas piring. Luhan sudah duduk di kursi makan dan menungguku. Dengan mulut penuh dia berkata,

"Menurutmu, mengapa dia timbul-tenggelam seperti itu?" Kata-kata Luhan terputus-putus karena dia mencoba berbicara sambil mengunyah.

"Telan dulu daging di mulutmu baru bicara, bisa?" pintaku, sambil mencoba menahan tawa melihat kelakuannya.

Luhan tersenyum, lalu mengunyah daging yang ada di dalam mulutnya.

"Steak ini enak, Sehun-ah. Terima kasih, ya," ucapnya, kini dengan lebih sempurna karena daging yang tadi dikunyahnya sudah ditelan.

"Enak? Baguslah. Aku mendapat resep dari Cooking Channel, cara bikin steak yang enak tapi gampang."

Hanya dengan begitu aku bisa mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih aman dan tidak membuat jantungku berdebar-debar.

.

.

.

Hari Natal pun tiba, berarti aku sudah resmi berumur 28 tahun. Orang tuaku meneleponku pukul enam pagi, mereka memberi ucapan selamat sambil menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" untukku. Ini tradisi yang telah kami lakukan sejak aku sekolah dasar.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku dan Luhan beranjak ke luar rumah. Kami memutuskan merayakan ulang tahunku di salah satu restoran Jepang yang ada di Winston, dan makan sushi sebanyak-banyaknya. Pelayan di restoran ini sudah cukup mengenalku, dan mempersilakan kami duduk di meja favoritku di tengah ruangan.

Restoran terlihat cukup padat dengan orang-orang yang baru pulang dari menghadiri misa pagi di gereja. Kulihat meja terbesar restoran itu, yang terletak di pinggir ruangan, sudah terisi oleh satu keluarga besar. Sepasang oma dan opa, dengan rambut yang sudah hampir putih semua, tampaknya adalah orangtua mereka.

Seorang wanita berambut cokelat gelap sepunggung sedang memasukkan sepotong sushi ke dalam mulut anak kecil, yang duduk di sampingnya. Seorang wanita berambut pendek, yang parasnya hampir sama dengan wanita yang tadi, duduk di sebelahnya.

Di depan mereka ada empat orang lagi duduk membelakangiku. Salah seorang dari mereka berambut pirang, dan selebihnya berambut cokelat gelap. Dari raut wajah dan suara-suara mereka yang berbicara satu sama lain, tampaknya mereka sedang membahas topik tentang American football dan betapa seksinya Paris Hilton.

Tiba-tiba salah seorang laki-laki di antara mereka berdiri, dan aku langsung bertatapan dengan wajah malaikat pelindungku. Aku harus mengedipkan mataku berkali-kali untuk memastikan aku tidak sedang berhalusinasi. Aku benar-benar tidak sedang bermimpi karena wajah itu kini sedang tersenyum lebar ke arahku.

"Sehun!" teriak Chanyeol. Dia betul-betul terlihat gembira bertemu denganku.

"Chanyeol," balasku, masih dengan suara agak tersedak.

Dia kemudian maju beberapa langkah dengan penuh semangat, sebelum berhenti persis di depanku dan kelihatan ragu. Aku baru sadar percakapan seru yang tadi terdengar di meja mereka kini sunyi. Delapan pasang mata dengan berbagai warna, tetapi kebanyakan gelap, sedang menatapku penuh rasa ingin tahu.

"Have you eaten?" tanyanya akhirnya, setelah beberapa detik hanya menatapku sambil mengerutkan kening.

"Just about," jawabku. Kulihat Luhan berdiri di sampingku dengan tatapan penuh arti.

"Why don't you join us?" Chanyeol terdengar antusias. Kulihat Chanyeol mengangguk kepada Luhan.

Sebelum aku bisa menolak, kulihat tiga laki-laki yang tadi duduk bersamanya melambaikan tangan kepada waiter untuk meminta ekstra kursi. Hanya dalam hitungan detik, meja mereka semakin padat dengan dua kursi tambahan. Tampaknya aku tidak memiliki pilihan, selain menerima tawaran itu.

Aku duduk bersebelahan dengan Chanyeol, sedangkan Luhan duduk di sebelahku. Dua laki-laki, yang tadi duduk di kursi yang sekarang kami duduki, sudah menyingkir ke kedua ujung meja. Aku dan Luhan lalu memesan makanan dan minuman kami.

Kini sembilan pasang mata menatapku dan Luhan, tetapi aku sadar bahwa fokus tatapan mereka adalah aku. Situasi ini sangat membuatku tidak nyaman, apalagi aku menyadari aku duduk terlalu dekat dengan Chanyeol sehingga bahu kami hampir bersentuhan.

Bagaimana mungkin aku bisa menerima tawaran duduk dan makan siang dengan orang-orang tidak aku kenal ini? Oh, ya... aku lupa... aku tergila-gila kepada laki-laki yang duduk di sebelahku, yang kini tampaknya sedang mengirimkan aliran listrik kepadaku setiap beberapa detik.

"Hi, I'm Chansu," ucap laki-laki yang duduk di ujung meja sebelah kiriku dengan tiba-tiba, kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya menyalamiku.

Ketika dia melakukan itu, kudengar beberapa orang berteriak pada saat yang bersamaan.

"Watch it, you're tipping the soy sauce bottle."

"He's taken you idiot."

"And look how smoooooth that boy is, it's a wonder why he has no boy or girlfriend."

Aku yang baru setengah berdiri terdiam kaget, dan memutuskan duduk kembali di kursi serta menarik lagi tanganku yang sudah setengah terjulur ke arah Jongin.

"Hei, kenalkan pada kami. Apa kau terlalu malu mengakui kami semua sebagai keluargamu?" Wanita yang tadi sedang menyuapi anaknya berkata sambil melemparkan senyumnya kepadaku.

Chanyeol memberikan tatapan gemas kepadanya sebelum menjawab, "Sehun, ini keluargaku. Mom and dad," ucapnya, sambil menunjuk kepada sepasang manula yang sedang tersenyum ramah kepadaku.

"My younger sister, Yeri," ia menunjuk wanita berambut pendek, yang mengangguk. "And her boyfriend, Mark," sambil menunjuk kepada laki-laki berambut pirang yang duduk di sebelah Luhan.

"My older sister Yoora, her husband Justin, and my nephew Woobin."

Chanyeol menarik napas, kemudian melanjutkan, "Ini adik laki-lakiku, si pembuat onar, Chansu."

"Hey!" teriak Chansu tersinggung, diikuti gelak tawa smua orang yang duduk di meja itu.

"Nice to meet you all. Saya Oh Sehun dan ini kakak saya Oh Luhan," ucapku memperkenalkan diri. Aku tidak menatap Luhan ketika sedang memperkenalkan diri karena dari sudut mataku aku bisa melihat wajahnya tampak sangat terhibur.

Rasanya aku harus mempersiapkan diri diinterogasi Luhan setibanya di apartemen nanti. Ini tentu saja bukan prospek yang aku tunggu-tunggu.

Ketika makanan kami tiba, aku menyempatkan diri memperhatikan sekelilingku. Kulihat wajah semua anggota keluarga Chanyeol jauh di atas rata-rata, bahkan bisa dibilang wajah Chanyeol paling biasa saja dibandingkan mereka semua.

Untungnya mereka sedang sibuk dengan percakapan atau makanan masing-masing sehingga memberikanku waktu beberapa menit untuk bernapas.

"Bagaimana kabarmu? Maksudku sejak terakhir kali kita bertemu," tanya Chanyeol pelan.

"Aku baik-baik saja," jawabku pendek, sambil memasukkan sebagian california roll ke dalam mulutku.

"Apakah Kris masih suka mengganggumu setelah malam itu?" lanjut Chanyeol, masih dengan suara pelan.

Mau tidak mau aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ternyata dia masih betul-betul ingat kepadaku.

"Tidak, dia sudah tidak pernah menggangguku lagi," jawabku.

"Baguslah. Aku sedikit khawatir soal itu," lanjutnya, kemudian kembali pada makan siangnya, meninggalkanku dengan mulut agak menganga dan hati berbunga-bunga.

Dia mengkhawatirkanku? Aku ada di pikirannya?

"Any more flat tires?" tanya Chanyeol lagi, setelah beberapa detik.

"Tidak." Aku mencoba menyembunyikan ekspresi wajahku yang bisa memperlihatkan bahwa aku merasa tersanjung dengan perhatiannya.

"Hidungmu bagaimana?" lanjutku.

Chanyeol menyentuh hidungnya sedikit, dan berkata, "Baik-baik saja," sambil kemudian tersenyum lebar.

"Kau kenal kakakku di mana?" tanya Chansu tiba-tiba, yang diikuti dengan teriakan, "Oowww, that hurts dude!"

Kulihat Chanyeol sedang menghunjamkan tatapan tajam ke arah Chansu, yang sedang meringis kesakitan.

"Bagaimana kalau kita biarkan mereka makan dulu sebelum kau interogasi." Ibu Chanyeol menolongku. Aku memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih.

"Bagaimana pihak rumah sakit memperlakukanmu?" seru Justin dari ujung meja kepada Chansu.

"Seperti sampah, that's all I could say," balas Chansu. "Aku kasih tahu saja, ya. Kalau kau memutuskan untuk kuliah, jangan pernah mau masuk kedokteran," lanjutnya. Ia menatap Luhan, yang mengerlingkan matanya kepadaku dengan bingung.

Aku harus menahan tawa. Luhan memang berwajah dan bergaya masih seperti anak sekolahan. Dengan wajahnya yang kecil dan tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, aku tidak bisa menyalahkan orang yang menyangka dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-17.

"Kau tahun keberapa?" tanya Chansu lagi kepada Luhan.

"Tahun keempat," balas Luhan sopan.

Kulihat ibu Chanyeol menggeleng-geleng melihat kelakuan anaknya, yang seakan-akan tidak menghiraukan kata-katanya untuk membiarkan kami makan dulu sebelum bertanya-tanya.

"Ah, senior rupanya. Kau sekolah di mana?" kata Chansu, semakin antusias.

"George Washington."

Kulihat Chansu mengerutkan keningnya. "Itu bukan di Winston, ya? Aku tidak pernah mendengar ada George Washington High School di sini."

"It's in Washington D.C." Aku bisa merasakan Luhan mulai terhibur dengan main tebak-tebakan ini.

"D.C.?!" teriak Chansu terkejut.

"Dia sudah kuliah, bodoh. George Washington University, paham?" Kudengar Yeri mengomentari dengan nada sarkasme. "Aku tidak tahu bagaimana kau bisa diterima kuliah kedokteran kalau kau sebodoh ini," lanjutnya.

Chansu mengerlingkan matanya kepada Yeri, yang membalas dengan kerlingan matanya juga.

"Jadi, kau bakal lulus tahun depan?" Kudengar suara Yoora.

"Mungkin belum. Saya masih mengerjakan disertasi saya. Mudah-mudahan saya akan lulus secepatnya." Luhan menjawab pertanyaan itu dengan penuh senyum.

Aku tahu, dia selalu menganggap kejadian di mana seseorang menyangka dia masih mengambil S1 dan bukannya S3 sebagai hiburan yang tidak akan pernah dia lewatkan.

Kulihat orang-orang yang ada di sekelilingku tampak bingung, kemudian ekspresi wajah mereka berganti dengan kekaguman setelah mereka betul-betul memahami maksud Luhan.

"You're doing your PhD in what area, dear?" Ibu Chanyeol bertanya, sambil memandang Luhan dengan tatapan keibuan.

Aku tersenyum bangga melihat Luhan mencoba menjelaskan kepada Chanyeol dan keluarganya tentang bidang yang ditekuninya. Tidak lama kemudian, Luhan sudah terlibat dalam pembahasan yang panjang lebar mengenai teori-teori psikologi dengan Yeri, yang ternyata sedang mengambil S2 Jurusan Psikologi.

Aku sama sekali tidak paham apa yang mereka bicarakan.

"Makananmu bagaimana?" tanya Chanyeol, dengan suara pelan sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

"Good," jawabku, sambil memasukkan unagi terakhir ke dalam mulutku.

Setelah menelan dan meminum teh hijau seteguk, aku memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang sudah berputar-putar di kepalaku selama satu jam terakhir.

"Berapa hutangku padamu untuk biaya dry cleaning, Chanyeol?"

Sebenarnya, yang ingin aku tanyakan adalah "Kenapa kau belum telepon aku?"

Chanyeol menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatapku bingung.

"Untuk sweater yang kau kenakan waktu itu," lanjutku.

Chanyeol masih menatapku bingung. Aku terpaksa menambahkan, "Sweater milikmu yang supermahal, yang kena darah itu."

"Ah, sweater itu. I told you not to worry about it. Kalau tidak salah, sweater itu sudah aku kirim ke Goodwill. Aku bahkan tidak ingat."

"Kau kasih sweater Armani ke Goodwill?" Nadaku meninggi karena terkejut.

Untung saja Chansu sedang ke toilet sehingga dia tidak mendengar ucapanku. Orang tolol mana yang akan menyumbangkan sweater Armani-nya ke organisasi yang menerima sumbangan pakaian. Walaupun sweater itu sudah terkena darah, tetap saja itu sweater Armani.

"Sweater itu sudah tua. Lagi pula, bahannya membuatku gatal. Hari itu aku pakai karena aku kehabisan pakaian."

"Oh," ucapku ragu.

"Itu sweater cadangan yang kusimpan di mobil, buat jaga-jaga saja kalau aku perlu," jelas Chanyeol lagi.

Aku mengangguk menerima penjelasannya itu, meskipun aku tetap bingung bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki sweater Armani dan tidak mengenakannya sesering mungkin.

"Omong-omong, mau dengar tidak apa yang terjadi padaku waktu aku pergi kunjungan ke rumah sakit jiwa?" Kudengar suara Yeri. Kualihkan perhatianku kepada adik perempuan Chanyeol itu.

"Were you about to commit yourself?" Mark bertanya dengan nada jenaka, yang diikuti suara tawa kami semua.

Setahuku orang yang akan "commit", atau memasukkan dirinya ke rumah sakit jiwa, hanyalah orang-orang yang betul-betul merasa kesehatan mental mereka tidak stabil.

"Mau dengar atau tidak?" omel Yeri.

"Mau," ucap Chanyeol. Aku menoleh dan menatap Chanyeol, yang sedangtersenyum kepadaku.

"Oke, aku mulai, ya. Profesor Duncan adalah orang paling gila yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Dia mengajak kami bertemu salah satu pasiennya, namanya Jim. Ia agak kurang waras karena percaya dirinya sudah meninggal." Yeri memulai ceritanya.

Kulihat Luhan dan Yoora saling tatap, kemudian tersenyum. Kelihatannya aku tidak perlu khawatir keluarga Chanyeol tidak akan cocok dengan keluargaku.

Oke, Sehun, stop. Aku mencoba mengontrol imajinasiku yang mengawang-awang dan kembali memfokuskan pikiranku pada suara Yeri.

"Ada beberapa suster yang mencoba menjelaskan kepada Jim bahwa dia masih hidup. Kalau dia sudah meninggal maka mereka tidak akan bisa melihat atau menyentuhnya. Nah, Prof. Duncan berkata pada kami untuk mengobservasi selama dia menangani masalah ini. He went up to Jim, took one of Jim's arm, and then slash it with a scalpel. Gila, 'kan?" Suara Yeri semakin meninggi karena antusias.

Aku pun melipat kedua tanganku di atas meja, tertarik dengan cerita itu dan menunggu Yeri melanjutkan ceritanya.

Tiba-tiba kudengar suara Chansu, yang baru kembali dari toilet. "Sedang membicarakan?" Dia kemudian duduk kembali di kursinya.

"Aku sedang cerita tentang kunjunganku ke RSJ," jawab Yeri, tidak sabaran.

"Oh, itu cerita gila. You guys would love it," ucap Chansu, sambil tertawa.

"Chansu, you mind? Aku sedang di tengah-tengah cerita." Yeri kelihatannya sudah siap marah.

Chansu mengangkat tangannya tanda menyerah. Kulihat semua orang di meja itu, kecuali aku dan Luhan, saling pandang dengan senyuman yang tertahan dan tatapan penuh pengertian. Rupanya hal yang cukup biasa bagi Yeri dan Chansu bertengkar, dan Chansu-lah yang biasanya akan mengalah.

Setelah yakin Chansu tidak akan mengeluarkan kata-kata yang akan mengganggunya, Yeri melanjutkan ceritanya.

"Jim memperhatikan lengannya yang sudah berdarah. Tidak banyak memang. Perhatiannya kemudian beralih ke Prof. Duncan, lalu ke para suster sebelum akhirnya ke kami, para mahasiswa yang sedang memandangi dia dengan mulut ternganga tentunya. Bukannya menyadari dia masih hidup, Jim malahan mulai berteriak-teriak 'Orang mati bisa berdarah, orang mati bisa berdarah' sambil lari-lari keliling ruangan."

Yeri mengakhiri ceritanya sambil tertawa keras, dan kami pun ikut tertawa bersamanya.

"Ada yang mau dessert?" Kudengar suara Justin bertanya, setelah suara tawa reda.

Aku sudah terlalu kenyang sehingga menolak tawarannya, begitu juga semua orang yang duduk di meja itu. Justin kemudian berdiri dan menuju toilet.

"So where are you from, dear?" tanya ibu Chanyeol kepadaku. Kulihat ayahnya juga sedang menatapku ingin tahu.

"Saya dari Korea," jawabku sopan.

"I'm glad to hear it. Apakah orangtuamu ada di sini atau mereka masih di sana?" tanya ibu Chanyeol lagi. Ini mungkin hanya imajinasiku saja, tetapi aku merasa ia sedang menginterogasiku untuk melihat apakah aku calon pasangan yang sesuai untuk anaknya.

Calon pasangan? God.

"Mereka masih di Seoul," jawabku, sambil tersenyum.

"Seberapa sering kau pulang ke Seoul?"

"Sekali setiap empat sampai lima tahun."

"Lima tahun sekali?" teriak ibu Chanyeol. "Orangtuamu pasti rindu dan ingin sekali bertemu denganmu, ya. I know I would."

"Not all parents are as whiny as you are, Mom," Chansu berkata, yang diikuti dengan bunyi "whack" dan kata, "Owww... Mooom," ketika tangan ibunya bersentuhan keras dengan belakang kepalanya.

"Honestly, I should have stopped with your brother if known that you and your twin sister will be so out of control," omel ibu Chanyeol.

Pada saat itu barulah aku sadar bahwa Yeri dan Chansu ternyata anak kembar. Aku seharusnya sudah bisa menebak sebelumnya karena mereka memang terlihat sangat mirip dan sepantar, dan cara mereka berinteraksi terlihat lebih dekat daripada kakak-beradik pada umumnya.

Mereka kelihatan lebih bisa memahami satu sama lain tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Sekali lagi aku tersenyum melihat semua interaksi dalam keluarga Chanyeol; mereka terlihat seperti satu keluarga yang utuh dan bahagia, seperti keluargaku.

Dari sudut mataku kulihat Justin baru kembali dari toilet, kemudian aku melihat Yoora berdiri sambil menggendong Woobin yang sudah tertidur.

"We're heading out. Kami mau menghindari traffic ke Atlanta," ucap Yoora.

"Yoora tidak tinggal di Winston?" tanyaku kepada Chanyeol.

"Tidak ada dari kami yang tinggal di sini. Hanya orangtuaku saja," jawab Chanyeol.

Sebetulnya, aku ingin menanyakan di mana Chanyeol tinggal ketika Chansu menepuk bahu Chanyeol.

"Nice seeing you again, Big Man, but we gotta split. Aku ada shift pagi besok."

Di sudut lain kulihat Yeri sedang memeluk dan mencium kedua orangtuanya.

"Promise me you'll call more often, you do'.t see your family enough," ucap ibu

Chanyeol, sambil memegang wajah Yeri di antara kedua telapak tangannya.

"Aku bertemu Chansu setiap hari," balas Yeri cuek.

"Dia saudara kembarmu, itu tidak bisa dihitung." Kudengar ibu Chanyeol mengomentari.

Chansu dan Yeri tertawa terkekeh-kekeh. Luhan menarik tanganku dan menanyakan tentang tagihan makanan kami. Aku mencoba menarik perhatian salah seorang pelayan untuk menanyakan bon makanan kami. Chanyeol, yang melihatku sedang melambaikan tangan, kemudian bertanya,

"Kau perlu sesuatu?"

"Aku ingin minta tagihan makananku," balasku, sambil tetap melambaikan tangan kepada pelayan.

Chanyeol menarik tanganku turun, dan tidak melepaskan genggamannya.

"Kau tidak usah khawatir soal itu. Justin sudah membayar semuanya," ucapnya.

"Justin?" tanyaku terkejut. Chanyeol mengangguk.

"Kalau begitu, sebaiknya aku tanya ke dia berapa hutangku," ucapku, dan siap beranjak menuju Justin, yang sedang mengangkat Woobin dari pelukan istrinya. Chanyeol menarik tanganku yang masih digenggamnya.

"Don't worry about it." Chanyeol menatapku tajam.

"Kau yakin?" tanyaku ragu.

Tiba-tiba Chanyeol mengalihkan perhatiannya kepada seseorang di belakangku.

"Hei, Justin, Sehun bertanya padaku apakah kau keberatan membayari makan siangnya?"

Aku rasanya ingin mencekik Chanyeol pada saat itu juga. Mengapa dia harus menanyakan secara langsung begitu kepada Justin sehingga membuatku terkesan terlalu perhitungan dengan uang? Aku memang sangat berhati-hati dengan uangku, tetapi aku tidak mau orang lain tahu tentang itu.

Untungnya Justin hanya tertawa, dan Yoora menjawab, "Makan siang kami yang traktir."

Kemudian dia melangkah ke arahku dan memelukku sambil berkata, "Merry Christmas. It was very nice to meet you."

Aku tidak punya pilihan selain mengucapkan terima kasih, membalas pelukannya dan mengatakan hal yang sama. Yoora kemudian berputar untuk memeluk dan mencium semua anggota keluarganya, termasuk Luhan, kemudian melangkah ke luar restoran diikuti oleh Justin dan Woobin. Justin melambaikan tangannya sebelum menghilang dari pandanganku.

Sebelum aku bisa pulih dari reaksi Yoora terhadapku, Yeri sudah memelukku diikuti Chansu. Mark, kekasih Yeri, hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum tersipu-sipu.

Aku baru ingat, sepanjang makan siang tadi aku tidak mendengarnya berbicara sama sekali. Mereka berlalu untuk menempuh jarak dua setengah jam dengan mobil ke Chapel Hill.

Aku pun berpamitan dengan Chanyeol dan kedua orangtuanya. Meskipun ayah Chanyeol hanya menyalami tanganku, ibu Chanyeol memelukku dengan hangat dan antusias. Kami berjalan ke luar restoran bersama-sama dan berpisah di depan pintu.

Luhan berjalan tanpa suara di sampingku, tetapi aku tahu dia tidak sabar menunggu sampai kami ada di dalam mobil dan membahas semua kejadian siang ini. Aku dan Luhan masuk ke dalam mobil sebelum kuhidupkan mesin dan menyalakan pemanas.

Dari kaca spion kulihat Chanyeol berjalan menuju Mercedes berwarna hitam, diikuti oleh ayahnya yang sedang menggandeng ibunya. Melihat pasangan tua yang masih mesra itu aku teringat ibu dan ayahku, yang juga selalu bergandengan tangan ke mana pun mereka pergi.

Akhirnya, mereka masuk ke dalam mobil. Aku masih tetap menunggu karena mesin mobilku masih terlalu dingin. Luhan menekan tombol radio mobil untuk mencari siaran yang melantunkan lagu selain lagu-lagu Natal.

Tiba-tiba telepon selularku berbunyi, Kulirik layar untuk mengetahui siapa yang meneleponku, tetapi di layar hanya tampil tulisan "private". Sambil mengerutkan kening kujawab telepon itu. Kulihat Luhan buru-buru mengecilkan volume radio, dan menatapku penuh tanda tanya karena melihat wajahku yang bingung.

"Hallo," ucapku ragu.

"Hei, apa kau berencana tidak ingin segera meninggalkan tempat parkir ini?"

Kudengar suara Chanyeol dari ujung telepon.

Aku sempat tersedak sebelum berkata, "Chanyeol?"

Kini Luhan menatapku dengan mata terbelalak.

"Yes," jawab Chanyeol, kemudian ia tertawa. "So are you planning to move soon?" lanjutnya.

"Memang ada apa?" Aku masih tidak bisa menebak alasan mengapa dia meneleponku dan menanyakan hal itu.

"Ibuku tidak membolehkanku pergi sampai dia melihatmu dan kakakmu sudah dalam perjalanan pulang dengan aman." Suara Chanyeol terdengar sedang mencoba menahan tawa.

Kemudian kudengar bunyi sesuatu dan suara perempuan yang agak teredam, seperti ada tangan yang menutupi speaker telepon Chanyeol.

Kudengar suara Chanyeol lagi, "My Mom said to tell you that it was very nice meeting you and your brother and that she hopes to see you again."

Kini nada Chanyeol terdengar sedikit terpaksa.

Aku berusaha tidak menelaah setiap perkataan yang diucapkan Chanyeol kepadaku, dan berkata, "Please tell your Mom that we said thank you. It was nice meeting her and your dad as well."

"Mereka bisa mendengar, teleponnya on speaker. Kau lebih baik bergerak sekarang, soalnya ada mobil yang menunggu tempat parkirmu," lanjut Chanyeol.

Aku melirik ke kaca spion untuk mengkonfirmasi apa yang Chanyeol baru katakan. Kulihat ada sebuah Mustang warna hitam sedang menunggu.

"Ok, bye," ucapku. Aku buru-buru menutup telepon selularku, kemudian memberikannya kepada Luhan. Ia memasukkan telepon itu ke dalam tasku.

Buru-buru kualihkan persneling mobil dari "P" ke "R", dan mundur dari tempat parkir. Kubunyikan klakson satu kali sebelum meluncur ke Jalan Bethesda menuju arah Country Club, jalan di mana apartemenku berada.

To Be Continued...