[CHAPTER 6]
.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang menuju apartemen, Luhan tidak habis-habisnya memuji Chanyeol dan keluarganya.
"Astaga Sehun-ah, dia perfect buatmu. Terang saja kau suka sekali dengannya. He is nice. Aku pikir orang seperti dia sudah punah, ternyata aku salah. Kau benar, matanya...wow, seperti langit malam yang indah."
"Sepertinya kau lebih excited bertemu dengannya dibandingkan aku?" tanyaku, sedikit bingung melihat reaksi Luhan yang menggebu-gebu.
"Terang saja aku excited. Aku tidak percaya kau sudah membuang waktu tiga tahun hidup bersama Kris, manusia sialan dan tidak tahu diri itu, kalau ternyata ada Chanyeol di dunia ini. Aku yakin ini kismet."
"Kismet?" tanyaku ragu.
Luhan seakan-akan tidak mendengar atau tidak mau menghiraukan keraguanku, dan melanjutkan usahanya untuk meyakinkan.
"Ya, kismet. Jodoh, Sehun-ah, jodoh dengan Chanyeol. Kau lihat saja faktanya. Kau bertemu dia setelah putus dari Kris, dan sudah bertemu berkali-kali setelah itu. Sepertinya memang Tuhan menunjuknya untukmu, Sehun-ah."
Aku terpaksa tertawa mendengar penjelasan Luhan.
"Keluarganya juga sepertinya suka denganmu. Apalagi si Chansu. Untung saja anak itu super muda dariku, kalau tidak, ck dia tidak tahu sudah kukerjai."
"Yeah, he's cute," balasku, ketika sadar Chansu memang tipe orang yang Luhan suka. Tinggi, besar, gaul, dan atletis.
"Cute? Dia super tampan, Sehun-ah!" teriak Luhan. "Well, anyway...setidak-tidaknya kau sudah punya nomor teleponnya sekarang. Jadi, bisa telepon dia kapanpun."
"Aku tidak punya nomor telepon Chansu," balasku bingung.
"Argh, bukan Chansu, Sehun-ah," Luhan terdengar gemas. "Maksudku Chanyeol. Dia tadi menelponmu, 'kan. Jadi, bagaimana kalau kau telepon dan ajak dia makan di rumah Tahun Baru nanti?" katanya dalam satu tarikan napas.
Aku harus menahan diri untuk tidak mengakui bahwa aku tidak bisa melakukannya karena nomor telepon Chanyeol di-private.
Luhan melihat ekspresi wajahku, "What?" tanyanya curiga.
Aku menelan ludah sebelum menjawab, "Nomor telepon Chanyeol...private, aku tidak bisa menelponnya balik."
Aku menunggu ledakan kemarahan Luhan sampai di telingaku.
Ternyata yang keluar dari mulut Luhan hanya, "Oh, yasudah. Kulihat kau tadi ngobrol dengannya. Pastinya kau sempat minta nomor teleponnya, 'kan. Minta kartu namanya atau apa."
Aku memahami logika berpikir Luhan. Pada dasarnya untuk siutasi lain mungkin hipotesisnya bisa berlaku, tetapi tidak untuk kali ini. Melihatku tidak juga menjawab Luhan mengerlingkan matanya,
"Kau meminta nomor telepon Chanyeol, kan?"
Aku menggeleng.
"Kartu nama?"
Aku menggeleng sekali lagi.
"Oh, maaannn sucks," omel Luhan, dan sekali lagi aku bisa melihat mengapa banyak orang menyangka kakakku ini masih di tingkat sekolah. Sewaktu dia mengatakan kata-kata barusan, dia terdengar seperti Bart Simpson. Aku seakan-akan jadi bisa mendengar lagu yang selalu terlantun pada awal setiap seri The Simpsons di TV.
.
.
.
Bulan Januari pun tiba, dan Luhan harus kembali ke Washington D.C. untuk melanjutkan risetnya. Aku kembali sendirian di Winston-Salem. Leeteuk dan timnya di MBD, yang dulu masih cukup optimis dapat menemukan pasangan ideal untukku dalam waktu kurang dari enam bulan kini mulai terdengar khawatir karena aku belum juga menemukan satu date pun yang "HOT", tetapi seperti biaya Leeteuk dan timnya tetap pantang menyerah.
Kembali aku sudah mulai tenggelam dengan kencan-kencan butaku selanjutnya, yang selalu diakhiri dengan kekecewaan. Sejujurnya, semua date-ku yang tampaknya salah alamat ini mulai membuatku khawatir, apakah semua ini sebanding dengan uang dua ribu dolar yang telah kukeluarkan lima bulan yang lalu?
Apakah pada akhir bulan keenam aku akan berakhir dengan tabungan yang sudah berkurang dua ribu dolar, kilometer mobil yang jebol karena semua perjalanan luar kota yang harus aku tempuh, setidak-tidaknya seminggu sekali untuk menemui date-ku, dan masih tanpa prospek?
Kalau saja Chanyeol mau meneleponku, aku tidak akan mengalami kekhawatiran seperti ini. Sepanjang tanggal 25 Desember hingga 3 Januari, aku dan Luhan selalu melonjak dari kursi setiap kali mendengar telepon selularku berbunyi.
Luhan akan menatapku penuh harap, dan kecewa ketika melihatku menggeleng sebagai tanda bahwa telepon itu bukan dari Chanyeol. Sering kali wajah kecewa kakakku itu membuatku tertawa karena seolah-olah justru dia yang menaruh banyak harapan terhadap Chanyeol.
Sejujurnya, aku pun merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, aku juga merasa kecewa karena Chanyeol belum meneleponku lagi.
Suatu malam, aku sedang mengganti-ganti channel TV ketika kutemukan acara yang membahas tentang Scott Peterson, suami pembunuh istri yang sedang hamil besar agar bisa menikahi kekasihnya. Acara itu membahas tentang beberapa indikasi yang bisa kita kenali pada orang yang selingkuh.
Bagi seseorang yang mungkin jadi selingkuhan seorang laki-laki tetapi tidak tahu-menahu soal itu, beberapa ciri kebiasaannya bisa dikenali. Pertama, orang itu akan datang dan pergi dengan tiba-tiba. Kedua, hidupnya terkesan misterius dan penuh rahasia. Ketiga, dia biasanya yang menghubungi kita, tetapi kita tidak bisa menghubunginya.
Entah mengapa, pikiranku langsung tertuju kepada Chanyeol dengan sifat timbul-tenggelamnya. Aku bertemu dengannya secara tiba-tiba di Fresh Market ketika dia menegurku untuk menanyakan bahan salad, padahal pada saat itu ada beberapa orang yang cukup berdekatan denganku yang bisa dia tanya.
Seperti disulap dia muncul sebulan kemudian ketika aku mengalami masalah dengan mobilku, dan tanpa diminta dia segera membantuku. Kemudian lagi-lagi seperti dia telah menguntitku, Chanyeol menolongku di pelataran parkir Embassy Suites.
Kalau aku ini selingkuhannya, mengapa dia berani memperkenalkanku kepada keluarganya? jangan-jangan mereka bukan keluarganya betulan? Oh, my God! Apakah Chanyeol seorang penjahat yang buron dan sedang dikejar polisi?
Jadi, selama beberapa hari aku sama sekali tidak bersemangat melakukan apa-apa. Ada kabut kesedihan dan kekecewaan yang menyelimutiku dengan tebal, membuatku sulit bernapas. Aku harus mengusir semua perasaan itu dan bersiap-siap untuk kencan selanjutnya dengan Winslow, seorang computer programmer berusia 30 tahun.
Dia berkulit putih dengan tinggi 190 sentimeter. Seingatku dia laki-laki tertinggi yang pernah aku temui sepanjang sejarah kencan butaku ini. Ketika mendengar deskripsi tentang dirinya, aku merasa agak ragu.
Sebagai seorang computer programmer tentunya Winslow akan kelihatan seperti kutu buku dengan tubuh yang kurus kering kerontang, kulit yang pucat karena kurang terkena sinar matahari, dan berkacamata tebal. Pokoknya, jauh sekali dari tipe laki-laki yang biasanya.
Belum lagi karena namanya...Winslow, nama yang menurutku sudah ketinggalan zaman. Aku cukup penasaran terhadapnya karena Leeteuk mengatakan,
"I think he's the best candidate so far."
Mau tidak mau aku harus memberi kesempatan kepada diriku untuk mengenal Park karena siapa tahu ternyata memang ada kecocokan di antara kami berdua.
.
.
.
Hari ini aku harus mengenakan jaket wol karena suhu di Winston mencapai 32 derajat Fahrenheit, yang berarti 0 derajat Celsius. Aku tidak pernah mengalami cuaca sedingin ini sejak aku meninggalkan Washington D.C. tiga tahun yang lalu.
Aku memasuki pelataran parkir restoran tepat pukul 12.45. Hari ini aku hanya bekerja setengah hari karena aku sudah bekerja overtime dari hari Senin sampai Kamis. Winslow bersedia menemuiku di Winston, hal yang aku sangat syukuri karena aku tidak akan berani mengemudikan mobil ke luar kota dengan salju setebal ini.
Untuk memastikan bahwa penampilanku masih sempurna seperti ketika aku meninggalkan rumah, kusempatkan mematut wajahku di kaca beberapa detik sebelum keluar dari mobil.
Untuk pertama kalinya aku terpaksa mengenakan kacamata minusku ketika keluar rumah karena ada iritasi di mata kananku. Mengikuti saran dokter, aku melepas lensa kontak dan mengenakan kacamataku selama satu minggu sampai iritasi di mataku reda. Setelah selalu mengenakan lensa kontak setiap kali keluar rumah selama empat tahun terakhir ini, aku merasa sedikit tidak nyaman ketika harus mengenakan kacamataku kembali.
Salah satu alasan mengapa aku tidak pernah mengenakan kacamata ketika keluar rumah karena menurut Kris aku kelihatan seperti dorky, bukan penampilan yang ingin aku perlihatkan sebagai seorang financial analyst yang sukses.
Tadinya aku sempat berencana tidak akan menghiraukan saran dokter dan tetap mengenakan lensa kontak, tetapi mengingat betapa gatalnya mataku ketika harus melepaskan lensa kontak itu beberapa jam kemudian, aku memutuskan membatalkan ide itu.
Pilihan lain yang bisa aku pertimbangkan adalah tidak mengenakan lensa kontak dan juga tidak mengenakan kacamata, tetapi semuanya akan terlihat kabur. Aku lebih memilih bisa melihat ekspresi wajah date-ku selama kencan daripada takut kelihatan seperti dorky.
Dengan langkah sedikit canggung aku memasuki restoran dan langsung disambut Maitre d'restoran, yang berbicara dalam bahasa Prancis. Buru-buru kuinformasikan siapa diriku kepadanya dalam bahasa Inggris.
Untungnya Maitre itu kelihatan mengerti bahwa aku tidak bisa berbahasa Prancis sehingga dia melanjutkan percakapan dalam bahasa Inggris.
"Oh, great you're here. Your date is already here," ucapnya antusias.
Aku terpaksa melirik jam tanganku untuk memastikan aku tidak terlambat. Jam tanganku menunjukkan pukul 12.55. Hmm, sepertinya date-ku ini tipe orang yang memilih lebih baik datang lebih cepat daripada terlambat.
"This way please," ucap Maitre itu lagi, dan mengantarkanku melewati beberapa meja yang sudah terisi.
Kami berjalan menuju meja yang terletak di samping jendela, di mana seorang laki-laki berambut cokelat sedang duduk menyandar pada kursi. Tubuhnya yang berkemeja biru terlihat santai. Aku sampai di meja yang sudah dipesan.
Maitre itu menyapa date-ku, yang duduk membelakangiku dalam bahasa Prancis. Aku sedikit terkejut ketika mendengar suara date-ku, yang membalas sapaan itu dalam bahasa Prancis yang fasih.
Pada detik itu aku merasa bahwa aku sedang berada di Paris daripada di Winston-Salem, North Carolina. Aku merasa sedikit kagum dan mulai penasaran dengan date-ku ini. Aku masih belum bisa melihat wajahnya, tetapi kemudian dia memutar tubuhnya dan berdiri.
Seketika aku langsung seperti terkena serangan jantung.
"Hai, Sehun," ucapnya, sambil tersenyum.
"Chanyeol?" Suaraku terdengar ragu.
"Oh, you two know each other?" tanya Maitre, yang kini sedang menatap kami berdua dengan mata melebar.
Kemudian kudengar Chanyeol berkata-kata dalam bahasa Prancis lagi sambil melirik ke arahku dengan jenaka. Maitre itu tertawa dan mengangguk, kemudian meninggalkan meja kami dengan penuh senyum.
Chanyeol kemudian mempersilakanku duduk di kursi yang terletak di hadapannya. Aku hanya menuruti kemauannya karena masih terlalu terkejut menyadari date-ku adalah Chanyeol.
Aku juga sedikit jengkel karena tahu Chanyeol dan Maitre itu baru saja membicarakan aku, tetapi aku tidak bisa memahaminya karena tidak mengerti bahasa Prancis.
Chanyeol kembali duduk, dan menatapku sambil tersenyum.
"Kau perlu mengambil napas, wajahmu sudah membiru," ucapnya, masih jenaka.
Aku lalu menarik napas, dan merasakan otakku mulai berfungsi kembali dengan bantuan oksigen. Sayangnya, dengan pemikiran yang lebih jernih aku bisa melihat situasi ini apa adanya.
"What game are you playing at?" desisku.
Chanyeol menatapku bingung ketika mendengar pertanyaan dan nada bicaraku.
"Game? What game?"
"Apa kau sedang punya affair? Apa aku ini selingkuhanmu? Apa orangtuamu tahu apa yang sedang kau lakukan?"
Wajah Chanyeol terlihat semakin bingung, tetapi aku sudah tidak bisa menghentikan ketakutanku kalau-kalau Chanyeol sedang membohongiku. Aku juga tidak bisa menghentikan kemarahanku karena dia tidak pernah meneleponku balik.
Terlebih-lebih aku tidak bisa menghentikan kekecewaanku akrena sudah terlanjur menyukainya. Sekali lagi aku terjatuh ke dalam perangkap seorang brengsek seperti Kris.
"Ibumu kelihatannya wanita baik-baik. Dia akan sangat kecewa padamu kalau sampai tahu kejadian ini, atau jangan-jangan dia bukan ibumu? Apa mereka bahkan juga bukan keluargamu? Kau sebaiknya punya alasan dan penjelasan yang masuk akal, kalau tidak...aku akan telepon polisi."
Chanyeol menatapku dengan mulut ternganga. Aku tidak tahu mengapa aku membawa-bawa polisi dalam argumentasiku. Jelas-jelas kalau polisi datang dan menanyakan tuduhanku terhadap Chanyeol, paling-paling aku hanya bisa menjawab laki-laki satu ini telah "menggantung" perasaanku selama empat bulan.
Aku yakin para polisi itu akan menatapku seakan-akan aku ini pasien yang baru kabur dari rumah sakit jiwa.
Tanpa kusangka-sangka Chanyeol kemudian tertawa sekencang-kencangnya. Seluruh tubuhnya bergoyang, dan dia terus tertawa. Melihatnya tertawa aku sudah siap mengangkat buku menu yang tadi ditinggalkan Maitre, dan melemparkannya ke wajah Chanyeol.
Bagaimana mungkin dia menganggap semua pertanyaanku sebagai lelucon yang superlucu dan patut ditertawakan? Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku, dan aku tidak pernah semarah ini kepada laki-lai mana pun dibandingkan kemarahanku kepada Chanyeol pada saat ini.
Bahkan kemarahanku pada Kris tidak ada apa-apanya dibandingkan ini.
Aku semakin merasa tidak nyaman karena beberapa orang mulai menatapku perasaan. Karena Chanyeol tidak juga berhenti tertawa, akhirnya aku terpaksa berkata,
"Apa yang lucu?"
"Kau," jawab Chanyeol singkat, kemudian tertawa lagi.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan menunggu. Salah seorang waiter datang dan menanyakan pesanan kami dalam bahasa Prancis, tetapi aku memintanya kembali saja beberapa menit lagi.
Aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa berpesan kepada Leeteuk agar tidak lagi mengatur kencanku di restoran ini. Aku merasa seperti orang paling tolol karena semua orang berbicara dalam bahasa yang tidak aku pahami.
Tak lama kemudian Chanyeol mulai bisa mengontrol tawanya dan menatapku, meskipun dia masih tersenyum lebar.
"Mengapa kau kira aku ini sedang selingkuh?" tanyanya.
"Karena kau penuh dengan rahasia," jawabku, tanpa berpikir lagi.
"Aku tidak punya rahasia." Chanyeol menyatakannya dengan tenang, dan dari matanya kelihatannya dia memang mengatakan yang sebenarnya.
Waiter yang tadi, yang bernama Pierre, kembali lagi untuk menanyakan pesanan kami. Aku buru-buru menunjuk beberapa tulisan berbahasa Prancis yang ada di menu, tanpa tahu apa yang aku tunjuk.
Seperti Maitre tadi, Chanyeol juga berbicara dalam bahasa Prancis dengan Pierre. Mereka kelihatannya sedang berdiskusi panjang-lebar mengenami semua makanan yang dihidangkan di restoran ini. Pierre kemudian menanyakan sesuatu kepada Chanyeol, yang menatapku selama beberapa detik.
Chanyeol kemudian tersenyum kepada Pierre sambil menggeleng. Setelah itu, mereka berdua tertawa.
Aku sudah siap mencekik mereka berdua. Untungnya kemudian Chanyeol menunjuk salah satu makanan yang ada di buku menu, kemudian tersenyum kepada Pierre lagi. Aku baca makanan itu bernama lunettes d'agneau, entah apa artinya.
Pierre mengulangi pesanan kami, kemudian berlalu sambil tersenyum. Mungkin ini hanya imajinasiku saja, tetapi kelihatannya ada sesuatu yang menggelikannya di balik senyuman itu, dan aku yakin akulah penyebab yang membuatnya merasa geli.
"Mengapa dia menatapku seperti itu? Kau bicara apa dengannya?" desisku.
Chanyeol hanya menggeleng sambil tetap tersenyum.
"Nothing important," jawabnya pendek.
Mengatahui bahwa aku tidak akan mungkin bisa mengorek informasi apa-apa dari Chanyeol tentang percakapan mereka, aku pun mengganti topik pembicaraan dan menyerang Chanyeol dari sisi lain.
"Apakah namamu memang Chanyeol?" Nadaku terdengar curiga.
Chanyeol terlihat ragu sebelum menjawab, "Yes. Itu bukan nama yang dipakai oleh rekan kerjaku, tetapi namaku memang Chanyeol."
Melihat tatapanku yang tidak percaya, Chanyeol mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan SIM-nya padaku, kemudian berkata,
"Nama lengkapku di Amerika adalah Park Winslow O'Chanyeol, tetapi ketika kuliah teman-teman memanggilku dengan nama tengah. Lambat laun 'O' pada O'Chanyeol mulai tidak dipakai lagi, dan akhirnya teman-teman lebih familiar memanggil saya Chanyeol saja. Nama itu seolah-olah stuck denganku."
Aku perhatikan nama dan foto yang ada di SIM Negara Bagian North Carolina itu. Kelihatannya semua cukup valid. Aku mengembalikan SIM itu kepadanya. Aku juga tidak bisa berargumentasi tentang pergantian namanya itu.
Aku sempat behubungan dengan laki-laki bernama Evan Wheeler. Di rumah, tempat dia tinggal bersama delapan temannya, dia dipanggil Will, kependekan dari Wheeler.
"Hanya sebagai informasi, semua orang yang bertemu kamu Christmas kemarin memang keluargaku. My real mom and dad, my brother and two sisters. Aku yakin ibuku...akan kena serangan jantung kalau dia tahu aku sudah mempermainkan seseorang."
"Oh," ucapku.
Aku tidak tahu bagaimana harus menyikapi penjelasan Chanyeol ini.
Untung saja minuman kami tiba. Aku buru-buru menyambar gelas yang berisi pepsi, dan meminumnya sampai habis untuk menenangkan pikiranku. Chanyeol hanya menatapku sambil mengerutkan keningnya, kemudian dia memanggil Pierre lagi dan memintanya mengisi gelasku yang kosong.
"Jadi, apakah kau ingin kupanggil Park saja?" tanyaku ragu, setelah Pierre sekali lagi berlalu dan gelasku sudah penuh lagi.
"Oh, no pelase don't. Call me Chanyeol, please," ucap Chanyeol buru-buru.
"Oh ya, sepanjang yang kutahu, aku tidak pernah menikah. Kecuali kalau ada orang iseng yang memberiku obat bius, membawa ke Las Vegas, menikah di sana, dan mengembalikanku ke tempat tidur sebelum aku sadar. Jadi, boleh 'kan kalau aku simpulkan bahwa hubungan yang ingin kujalin denganmu tidak bisa dikategorikan sebagai perselingkuhan," lanjutnya.
"Hubungan macam apa yang kita bicarakan di sini?" tanyaku hati-hati.
"Dating, kalau bisa yang serius."
Aku masih tetap menatapnya curiga, lalu aku terpaksa menanyakan pertanyaan terahirku.
"Kalau kau memang serius, mengapa kau belum memberi nomor teleponmu padaku?"
"Kau menginginkan nomor teleponku?" Chanyeol kelihatan kaget.
"Te-tentu saja, kalau tidak untuk apa juga aku tanya."
Sebenarnya, aku malu juga setelah mengatakan kalimat itu. Aku benar-benar tidak percaya, aku bisa mengatakan hal itu. Secara tidak langsung, aku baru saja memohon kepada Chanyeol untuk memberikan nomor teleponnya kepadaku. Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu sepanjang hidupku.
"Forget I said that," lanjutku buru-buru.
Pada saat itu pesanan kami tiba, dan aku menatap pesananku dengan mata melebar. Karena tadi terlalu kesal aku hanya asal tunjuk saja, suatu hal yang sangat aku sesali sekarang. Makanan yang ada di hadapanku tampilannya seperti makanan yang sepatutnya tidak dimakan manusia. Yuck.
"Jadi, kau berubah pikiran untuk tidak mau tau nomor telponku?" tanya Chanyeol, sambil dengan luwesnya bergerak menukar piring yang ada di hadapanku dengan piringnya yang jelas-jelas kelihatan lebih bisa membangkitkan selera makanku.
"Hei, kau mau apa?" tanyaku bingung, dan memegangi piring pesananku yang sudah setengah terangkat.
"Kau pesan makanan yang salah. Kau tidak akan bisa menelan makanan ini. Percaya padaku, Sehun." jelas Chanyeol, sambil menunjuk pesananku dengan gerakan kepalanya karena kedua tangannya sedang memegangi piring.
"Now let go!" perintahnya.
Aku melepaskan genggamanku pada piring dan membiarkan Chanyeol menukarnya dengan piringnya.
"Memang itu apa?" tanyaku, setelah Chanyeol meletakkan makanan pesanannya di hadapanku. Aku menunjuk pada makanan pesananku, yang kini berada di hadapannya.
"Ini tĂȘte de veau vinaigrette," jawab Chanyeol pendek.
Aku menunggu sampai Chanyeol menjelaskannya dalam bahasa Inggris. Aku mulai menyesal karena tidak pernah belajar bahasa Prancis ketika kuliah.
"TĂȘte de veau artinya kepala anak sapi, tapi bisa juga diterjemahkan otak sapi. Nah, itulah makanan yang kau pesan tadi," lanjutnya.
Menu yang kupesan otak anak sapi?
Mulutku langsung terbuka, dan aku tidak bisa melepaskan tatapanku dari wajah Chanyeol yang sedang tersenyum. Dia kelihatannya cukup terhibur melihat tingkah lakuku.
"Kau sebaiknya makan lunch-mu sebelum dingin," ucapnya, sambil menunjuk lamb chop yang ada di hadapanku dengan garpu.
Kulihat Chanyeol memasukkan sesuap makanan di hadapannya ke dalam mulutnya. Dia tidak terlihat ada masalah dengan makanan itu sama sekali. Kupotong dagingku dan memasukkannya ke dalam mulutku. Sejujurnya, ini adalah steak daging kambing terenak yang pernah aku makan.
"Bagaimana makananmu?" tanya Chanyeol.
Aku menelan makanan yang ada di dalam mulutku, dan menjawab, "Enak." Aku terdiam sesaat dan minum pepsi.
"Aku tidak tahu ternyata kau bisa bahasa Prancis."
Chanyeol mengangkat bahunya. "Aku cukup bisa bahasa Prancis sekadar untuk memahami menu restoran ini sehingga tidak asal tunjuk."
Aku mengangguk. Aku tahu Chanyeol sedang meledekku. Aku memperhatikan Chanyeol lebih saksama. Kini aku mulai menyadari, ternyata Chanyeol bukan berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Kecenderungannya dia bahkan berasal dari keluarga kelas atas. Hal ini bisa dilihat dari cara dia membawa diri, berbicara, berpakaian, makan, bahkan dari cara dia menaburkan lada di atas makanannya.
Aku jadi semakin penasaran terhadapnya.
"Kau belajar bahasa Prancis di mana?" Meskipun aku agak kesal dengannya, aku tetap tertarik dengan laki-laki satu ini.
"Here and there," jawabnya. Ia kemudian mengangkat gelas anggur merahnya, menandakan bahwa dia tidak lagi ingin memperpanjang topik ini.
Aku pun terdiam dan memfokuskan perhatian pada makananku.
"Aku minta maaf karena tidak memberi nomor teleponku padamu, Sehun. Aku tidak pernah terpikir kau cukup tertarik kepadaku, dan ingin meneleponku," tiba-tiba Chanyeol berkata. Dia terdengar tulus.
Aku menatapnya sambil memicingkan mataku.
"You need to do better than that. That's the lamest excuse for not calling that I have ever heard," balasku datar.
Chanyeol menatapku, sekali lagi wajahnya terlihat terhibur mendengar jawabanku. Seolah-olah memahami ekspresi wajahku yang aku yakin terlihat marah, dia menatapku tidak percaya.
"Kau pikir aku menghindarimu?" Pisau yang dipegangnya tergantung di antara piring dan mulutnya.
Aku harus mengontrol ekspresi wajahku agar terlihat tidak peduli, dan menjawab, "No," ucapku pendek, dan mengalihkan tatapanku pada piring makananku.
"You did! Kau betul-betul berpikir aku sudah menghindarimu."
Mendengar nadanya, aku kembali menatapnya. Chanyeol menggeleng, kemudian menatapku tajam.
Aku hanya mengerlingkan mata, kemudian berkata,
"Hanya sebagai informasi saja..." aku sengaja mengulang kata-kata yang tadi diucapkannya untuk membuatnya kesal, "aku coba menelponmu, tetapi nomornya private...Jadi, tidak bisa tersambung," jelasku, sambil menusukkan garpu dengan gemas ke sepotong daging.
"Kau menelponku?" Chanyeol kelihatan betul-betul terkejut.
"Kapan?" Dia memasukkan suapan yang tadi sempat tertunda ke mulutnya.
Aku menelan makananku sebelum menjawab, "Beberapa hari setelah Christmas." Aku tidak tahu mengapa aku mengakui ini semua. Aku bahkan tidak pernah menceritakannya kepada Luhan karena takut diomeli atau malahan justru dikomporinya.
Kulihat Chanyeol sedang bersusah payah menelan makanannya. Setelah itu, dia minum satu teguk, dan berkata, "Kau...benar-benar menelponku?" Sambil mengusap mulutnya dengan serbet. Nadanya masih tidak percaya.
"Would you stop saying that? Ya, aku menelponmu, Chanyeol, dan aku merasa seperti orang bodoh. Meskipun aku tahu nomor itu tidak akan terhubung, aku tetap mencoba," geramku, sambil mulai memotong daging steak.
Aku mencoba sebisa mungkin melonggarkan genggamanku pada garpu dan pisau.
"Berikan aku ponselmu," ucap Chanyeol tiba-tiba. Kedua tanganku yang sedang memotong daging terhenti seketika.
"Apa? Untuk apa?" Kini giliranku menatapnya terkejut.
"Just give it to me, please."
Kuletakkan pisau dan garpu sepelan mungkin di sisi kiri dan kanan piring, kemudian merogoh telepon selular dari dalam tas, dan meletakkannya ke dalam genggaman tangan Chanyeol. Dengan ahlinya dia langsung menekan beberapa tombol, lalu mengembalikan telepon selular itu kepadaku.
"Aku sudah memasukkan nomorku. Bisa tolong kau telepon nomor itu, hanya untuk memastikan nomornya benar," pintanya.
Aku mengangguk, dan mulai mencari-cari nama Chanyeol pada phonebook telepon selularku, tetapi aku tidak bisa menemukannya. Aku coba mencari di deretan huruf 'P' untuk 'Park', tetapi juga tidak membuahkan hasil.
"Sebenarnya kau menyimpannya di mana?"
"Di deretan huruf 'H'..."
Aku menatap Chanyeol penuh tanda tanya.
"Untuk 'Hunny Bunny'," ucapnya, tanpa ekspresi.
Aku menatapnya tidak percaya. Aku pikir dia hanya bercanda, tetapi ternyata di deretan huruf "H" aku memang menemukan nomor untuk "Hunny Bunny". Tidak mau kalah dengan tantangan Chanyeol, aku pun menelepon nomor itu.
Kutempelkan telepon di daun telingaku, dan menunggu. Kudengar nada sambung. Tiba-tiba kudengar lagu Goo Goo Dolls terlantun. Meskipun pelan, tetap terdengar dengan jelas di dalam restoran yang cukup tenang walaupun penuh dengan orang.
Kulihat Chanyeol merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan Smartphone. Dia sempat tersenyum sebelum menekan satu tombol, menempelkan ponsel itu ke daun telinganya, dan berkata, "Nah, sekarang kau punya nomor teleponku."
Aku mendengar suara itu dari speaker ponselku, bukan suara Chanyeol sendiri. Aku menatap Chanyeol, seolah-olah dia makhluk planet yang superaneh. Sejujurnya, Chanyeol laki-laki paling 'nyentrik' yang pernah aku temui.
Aku lalu menutup telepon, begitu juga Chanyeol. Chanyeol menatapku, dan aku pun menatapnya. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, tetapi sebuah pengertian terlintas di antara kami berdua. Saat itu juga tubuhku terasa panas, seolah-olah darahku tiba-tiba mendidih.
Aku tidak lagi sedang berada di restoran, melainkan di suatu ruangan tanpa nama dan tanpa batas. Ruangan itu diterangi lampu-lampu gemerlap bagaikan di stadion sepak bola sebelum Liverpool bertanding dengan Chelsea. Kudengar riuh rendah suara beribu-ribu orang berteriak-teriak.
Suara Leeteuk, agen kencan butaku dari MBD, "I'm guessing we found a HOT one for you?"
Kudengar suara ibuku yang berkat,a "Sehun-ah, Chanyeol cocok sekali untukmu. Ibu dan ayah setuju kalau kau memilihnya."
Lalu kudengar suara Luhan, yang berteriak dengan gemas, "Apa kau buta, Sehun-ah?! Kau perlu bukti apa lagi?! Go and get him or I swear I'm gonna kick your ass when I see you again!"
Selainkan tiga suara yang aku kenal itu, selebihnya hanya meneriakkan nama Chanyeol berulang-ulang. "Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!" Bagaikan dia seorang quarterback, yang sedang berdiri sambil membawa bola menuju touchdown.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terdiam, tetapi tiba-tiba kudengar Chanyeol berkata dengan pelan.
"What are you thinking?"
Aku menggeleng. Aku tidak mungkin menceritakan apa yang ada di pikiranku. Kalau dia sampai tahu, aku yakin dia akan menghilang dalam sekejap mata.
Melihat tatapan mataku yang kosong, Chanyeol mulai kelihatan khawatir.
"Look. You don't have to put my number under 'Hunny Bunny'. if you don't like it. Kau ubah saja. Aku hanya bercanda. Bad joke, on my part. Here, kasih ke aku teleponmu nanti aku ubah nama untuk nomor tadi," ucapnya cepat, nadanya terdengar sedikit kecewa.
Ketika melihatku tidak juga bereaksi, kudengar dia menyumpah. Meskipun pelan, aku bisa mendengarnya.
"Apa kau baru saja menyumpah?" tanyaku, sambil menaikkan daguku sedikit.
Chanyeol awalnya hanya menatapku, tetapi kemudian dia mengangguk.
"Yes," ucapnya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menyisiri rambut gelapnya dengan jari-jari tangan kanannya.
Aku hampir tertawa melihat ekspresi wajahnya, yang kelihatan sangat bersalah karena telah mengucapkan kata serapah itu.
"Aku sangka kau tidak pernah mengumpat?" tanyaku, sambil memasukkan ponselku kembali ke tasku.
Chanyeol mengembuskan napasnya, sebelum menjawab, "I don't. Hanya suka kelepasan kalau lagi stres."
Kemudian Chanyeol menatapku dengan mata melebar.
"Eh, bagaimana kau bisa tahu kalau aku tidak pernah mengumpat?"
"Kau mengomeli Kris ketika dia menyumpah saat kalian terakhir kali kau ketemu dia," akhirnya aku berkata.
"Oh. Aku bahkan tidak ingat," balas Chanyeol.
Dia kelihatannya bisa menerima penjelasanku, walaupun wajahnya masih kelihatan bingung.
"Bisa dimengerti, soalnya kalian terlalu sibuk memukul satu sama lain ketimbang memperhatikan hal lainnya."
Mau tidak mau aku tersenyum mengingat kejadian malam itu. Tiba-tiba aku teringat topik pembicaraan kami sebelum Chanyeol mengalihkannya.
"Memangnya aku membuatmu stres?" tanyaku, sembari mulai mengangkat pisau dan garpu lagi dari meja, berniat meneruskan makan siangku.
Chanyeol terlihat menarik napas.
"Tidak. Bukan kau. Aku yang membuat diriku sendiri stres," jawabnya.
"Kenapa seperti itu?" Perlahan-lahan kupotong steak di piringku.
Chanyeol mengerlingkan matanya kepadaku. Seketika aku sadar, bulu mata Chanyeol lebih lentik daripada bulu mataku. Digabung dengan mata birunya, wajahnya tampak benar-benar sempurna. Aku masih menatap Chanyeol, menunggu hingga dia menjelaskan alasan mengapa dia stres.
"Aku tidak pernah mencoba mendekati seseorang sepertimu sebelumnya. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
"Orang sepertiku? Memang aku seperti apa?" tanyaku bingung.
"Tipe seseorang yang sangat serius, sangat sukses, dan sangat mandiri," jawab Chanyeol jujur.
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku tidak tahu bahwa seperti itulah image orang tentang diriku.
"Satu hal lagi, kau orang Asia," tambah Chanyeol.
Aku tidak tahu, apakah aku harus tersinggung atau tidak ketika Chanyeol menyebut rasku. Sejujurnya, isu ras bukanlah hal yang baru untukku. Banyak temanku di bangku kuliah, yang mengatakan bahwa bangsa Asia adalah bangsa yang patut ditakuti karena mereka selalu ada di mana-mana.
Selain itu, ada juga yang memandang orang Asia sebagai spesies yang sangat menarik karena terlihat berbeda dengan mereka. Pendapat ini tentunya biasanya diutarakan oleh orang-orang non-Asia. Menurutku, Asia atau non-Asia tidak ada bedanya. Bukan ras yang menentukan siapa kita, tetapi cara kita membawa dirilah yang menentukan siapa kita.
"Apa saat ini kau segan terhadapku?" tanyaku, sepelan mungkin.
"Tidak...tidak juga. Tidak saat ini karena kau kelihatan terlalu bingung dan menggemaskan. Beberapa kali aku bertemu denganmu, jujur saja aku sedikit segan."
"Apa?" Aku tidak percaya Chanyeol mengatakan aku menggemaskan.
Tidak pernah ada orang yang menggunakan kata itu untuk melihatku. Lebih-lebih lagi, aku tidak percaya ternyata aku telah membuat laki-laki berbadan tinggi besar ini segan terhadapku.
"Kau kelihatannya siap mengulitiku hidup-hidup ketika aku bertanya tentang lettuce," Chanyeol menjelaskan.
Aku mencoba mengingat-ingat ekspresi wajahku ketika pertama kali bertemu Chanyeol. Aku hanya berhasil mengingat bahwa aku tidak bisa berkata-kata selama beberapa detik karena tatapanku terpaku pada mata gelapnya. Mata gelap yang sekarang sedang menatapku dengan agak khawatir.
Akhirnya, aku memutuskan mendorong piringku yang masih setengah penuh ke tengah meja. Pikiranku terlalu penuh untuk mencerna makanan. Chanyeol juga sudah berhenti makan, dan menyingkirkan piringnya ke tepi meja.
"Makananmu tidak habis?" tanya Chanyeol, sambil menunjuk piringku.
"Aku tidak bisa makan sekarang. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu," balasku.
"Contohnya?"
"Kau sudah berapa lama jadi klien MBD?" tanyaku.
"Sejak 1 Januari," jawab Chanyeol.
"Kau baru bergabung tahun ini?" aku terkejut.
Chanyeol mengangguk. Dia kelihatan siap menanyakan sesuatu, tetapi aku potong,
"Apakah kau tahu, akulah date-mu sebelum kau bertemu denganku?"
Chanyeol tersenyum simpul, dan berkata, "Feeling-ku mengatakan itu kau. Deskripsi yang diutarakan MBD kepadaku cocok sekali denganmu, Sehun."
Aku mengangkat alis kananku, dan Chanyeol melanjutkan penjelasannya.
"MBD memberitahu date saya bernama Sehun, ras Asia, financial analyst, sedikit lebih tinggi dari 180 sentimeter, umur 27, I mean 28 years old...Omong-omong, kenapa kau tidak bilang ketika bertemu denganku kalau Christmas itu hari ulang tahunmu?"
"Tidak sempat. Tunggu sebentar, kau tahu itu dari mana?" tanyaku curiga.
Setahuku informasi yang biasanya diberikan MBD kepadaku tentang date-ku hanyalah informasi mendasar seperti nama (tanpa nama marga), umur (tanpa tanggal lahir), penampilan fisik (misalnya, ketinggian), pekerjaan (bukan di mana tempat bekerja), dan ras.
Bagaimana mungkin dia bisa tahu tanggal lahirku?
"Agen saya di MBD kelepasan. Tentu saja dia tidak sengaja, mereka terlalu profesional untuk blak-blakan memberitahuku."
Chanyeol mencoba membela agen kencan butanya, yang membuatku bertanya-tanya. Jangan-jangan dia ada hubungan istimewa dengan orang itu, di luar hubungan antara agen dan klien. Tiba-tiba muncul perasaan cemburu di benakku.
Buru-buru kumarahi diriku sendiri, dan mencoba membuang jauh-jauh perasaan yang tidak masuk akal itu.
Aku tidak tahu, ternyata aku sudah terdiam lebih lama daripada yang Chanyeol harapkan. Aku baru bisa kembali fokus ketika kudengar Chanyeol menggerutu.
"Kau harusnya memberitahuku kalau hari itu adalah hari ulang tahunmu," ucapnya.
"Memang kenapa?" tanyaku bingung.
"Karena aku ingin mengenalmu lebih jauh."
Cara Chanyeol mengatakannya seakan-akan itu adalah penjelasan yang paling masuk akal.
Aku menarik napas putus asa. Masih ada sejuta pertanyaan di dalam kepalaku, tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Setiap kali aku akan menanyakan sesuatu, Chanyeol akan membuatku bingung dan tidak bisa bernapas oleh jawaban-jawabannya.
"Aku...aku tidak bermaksud...," ucapku terbata-bata.
"God. Aku tidak percaya ternyata mereka benar." Kudengar Chanyeol menggumam.
"Mereka siapa?" tanyaku pelan.
"My brother and sisters. Mereka berkata, aku akan screw this one up really bad. Mereka berkata, saya sebaiknya melupakan saja semua ini."
"Date ini?" Aku mencoba bersusah payah mengikuti jalan pikiran Chanyeol, yang seakan-akan meloncat-loncat.
"Oh, screw this whole blind date shit," geram Chanyeol.
Aku sempat terkejut dengan sumpah serapah itu. Kelihatannya sekarang dia sudah betul-betul stres, dan aku tidak tahu bagaimana mengatasi keadaan ini. Sebelum aku menyadari apa yang telah aku lakukan, tanganku sudah melambai untuk menarik perhatian Pierre.
Chanyeol yang melihatku melambai menatapku bingung.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin meminta bill," jawabku singkat.
"You're leaving?" tanyanya, semakin bingung.
"No. We are," balasku.
Chanyeol masih tetap menatapku bingung, tetapi kemudian dia mengangguk. Aku berharap aku tidak salah menilai Chanyeol. Dia tipe pria baik-baik, yang tidak akan menginterpretasikan kata-kataku sebagai suatu undangan untuk melakukan hal yang tidak-tidak.
"How is everything?" tanya Pierre, yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja kami. Seperti memahami bahwa aku tidak mengerti bahasa Prancis, Pierre menggunakan bahasa Inggris. Dia kelihatan bingung melihat kedua piring kami yang masih setengah penuh.
Aku tersenyum ramah kepadanya.
"It was delicious. Bisa kami minta bill-nya?" pintaku, sebelum Pierre berkata-kata lagi.
Pierre kemudian berlalu. Chanyeol tetap menatapku bingung, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Pierre kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua tagihan. Seperti juga restoran-restoran lainnya yang telah direkomendasi MBD, restoran Prancis ini juga tahu bahwa kami harus membayar tagihan kami masing-masing.
Kulihat Chanyeol mengeluarkan tiga lembar uang 50 dolar, dan berkata, "Ini untuk bill kami berdua. Keep the change," ucapnya, lalu ia berdiri.
Aku hanya menatapnya penuh tanda tanya, tetapi dia tidak menghiraukanku. Buru-buru melangkah ke luar restoran. Chanyeol berada tepat di belakangku.
Aku baru berhenti berjalan ketika kami sudah berada di luar restoran.
"Kau tahu Crowne Park apartment, di daerah Country Club?"
"Yes," jawab Chanyeol ragu.
"Good. Aku tinggal di situ. Kau bisa bertemu denganku di sana, atau kau bisa mengikuti mobilku."
Nadaku terdengar sedikit memerintah, tetapi aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan jawaban atas semua pertanyaanku.
"Aku bertemu denganmu di sana saja. Nomor apartemennya berapa?"
Kuberikan nomor apartemenku. Chanyeol tidak mencatatnya, dan dia tidak memintaku untuk mengulangnya. Aku kemudian melangkah menuju mobilku. Kulihat Chanyeol ragu sesaat, tetapi kemudian dia pun berjalan menuju Volvo SUV berwarna perak yang diparkir cukup jauh dari mobilku.
.
To Be Continued...
