Penulisanku memusingkan ya? Mix language ya.. XD
Sekali lagi , maaf. Memandangkan fandom ini mayoritasnya orang Indonesia dan dibangunkan sendiri oleh author-author dari Indonesia..Aku hanya sekedar ingin kalian bisa memahami ceritanya , walaupun sedikit. Kalau aku tulis keseluruhannya dalam BM , tak semuanya akan mengerti. Aku juga sebolehnya gak mahu nulis bahasanya dengan terlalu formal. Enjoy aja..
Kalau terma bahasanya salah silahkan dibetulkan.
Yah..soalnya juga aku memang dari Malay..atau apa aku harus langsung nulis ke BM aja? /plakk
So next chapter..
"Api?"
Blaze mematung. Jantungnya hampir lucut apabila mendengar nama yang dipanggil. Sontak ekspresi di wajahnya berubah kaget. Wajahnya pucat.
Dia memberanikan diri untuk menoleh untuk berhadapan dengan orang yang menegurnya lalu bersuara, "A-apa kau bilang?"
"Kamu Api bukan? Aku Yaya. Apa kamu lupa?"
Perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Yaya semakin hampir mendekati Blaze.
Taufan yang barusan sampai turut kaget melihat adegan itu. Dia menyaksikan dengan penuh minat dan mulut yang separuh ternganga.
Blaze terus diam. Lidahnya kelu.
"Loh? Aku jiranmu, begini aku lagi kerja-"
"Kamu pasti salah orang," Blaze memotong kata-kata Yaya. Dia berniat untuk buru-buru meninggalkan perempuan tersebut.
"Salah orang? Gak mungkin," batin Yaya. Dia menatap Blaze dari ujung rambut ke ujung kaki.
Apa pun yang dibicarakan gadis berkerudung itu , Blaze tidak mahu peduli. Terserahlah mahu dibilang apa , dia bukan Api. Api sudah mati.
"Ayahmu udah meninggal dua minggu yang lalu," Yaya menatap punggung Api yang mulai menghilang dari pandangan.
Langkah Blaze terhenti.
.
.
.
"Kamu kenal sama gadis itu? Wow, bagiku dia cantik!" komentar Taufan sebaik memasuki mobil. Matanya menatap lurus ke arah jalanan yang lagi basah ditimpa hujan.
Blaze meneguk ludah. Dia coba untuk tidak mendengarkan omongan Taufan.
"Dan juga..Kamu punya ayah?" Baginya Taufan merasa soalannya itu bodoh namun dia ingin mendapatkan reaksi temannya.
"Entahlah," jawab Blaze lirih. Kepalanya lagi pusing. Dadanya sesak.
Taufan sudah terlanjur melihatnya tadi. Dia tidak bisa lari lagi dari disoal laki-laki itu berkenaan latar hidupnya. Blaze tidak mahu diingatkan tentang apa-apa yang berlaku pada masa lalunya di desa. Terlalu memeritkan. Dia bukanlah anak yang bisa diharapkan. Dia masih belum ingin bertemu sama Ayah. Dia kurang..ah dia tidak bersedia sama-sekali!
Taufan memiringkan kepalanya lalu menatap Blaze.
"Kamu bisa pulang sebentar kalau kamu mahu."
"Tapi..masalah kita belum-"
"Nggak ada tapi-tapi. Lagian kamu akhir-akhir ini terlihat tertekan. Sebaiknya kamu liburan dulu,"
"Apa kamu bisa tutup mulut?"
"Pasti dong."
"Awas ya jangan diberitahu macam-macam sama anggota lain soal kepulanganku." Blaze memberi amaran.
Taufan tertawa.
.
.
.
Kota Pulau Rintis
"Ada apa anda datang ke kantor saya?'' tanya Gempa sopan. Berkas kerjanya disusun rapi di sudut kiri meja. Senyuman lembutnya dihulurkan kepada kedua tamu di hadapannya.
"Apa anda Pak Gempa?" tanya seorang pria bernama Adu Du.
"Ya, benar. Jadi kalian Pak Adu Du sama Pak Probe?"
"Iya," Adudu melirik ke arah pria di sebelahnya, Probe.
Gempa mengangguk.
"Begini, Pak. Kepala desa kami baru meninggal , jadi kami-"
"Mahu ganti dengan kepala desa yang baru? Ya. Saya sudah diberitahu soal itu sama sekretaris saya."
Adu Du dan Probe diam. Keduanya membiarkan Gempa untuk menyambung bicara.
"Maaf memotong bicara kalian. Soal yang itu..Apa sudah ditemukan calon yang sesuai?"
Hening.
"Mengikut salasilah calon yang paling dianggap sesuai adalah keponakanku , Boboibot."
"Hmm, yang mana satu ya?" Gempa memasang pose berfikir , cuba mengingati sosok yang dimaksudkan.
Adu Du menghulurkan sekeping foto,"Ini dia , Pak."
Gempa merenung foto tersebut lalu berkomentar,"Muda lagi ya.."
"Dia lagi belajar di luar negeri. Sudah kuhubungi dia untuk memberitahu tentang pelantikan itu."
"Apa dia setuju? Kalian harus memastikan dia setuju , kalau nggak...yah kita terpaksa calonkan anak dari keluarga yang lain." ujar Gempa serius.
"Heh, siapa juga yang gak bakal setuju. Orangnya bisa kaya loh," bilang Adu Du yakin.
"Apa kalian punya masalah atas pelantikan itu?" lanjut Gempa.
"Nggak ada masalah, cuma.."
"..Uwangnya?" Gempa menaikkan alis.
Adu Du mengangguk.
"Baiklah kusertakan cek untuk kalian. Yang paling penting , adat istiadatnya harus dijalankan tepat pada waktunya. Jika ada apa-apa masalah lagi , bisa kalian hubungiku."
Adu Du dan Probe tersenyum puas.
"Makasih, Pak. Anda baik sekali.." balas Adu Du.
"Oh iya , soal tombak bertiga...kalian harus segera menghubungi keluarga kepala desa yang lama." Gempa mengingatkan Adu Du dan Probe.
"Baik." jawab Adu Du dan Probe serempak sebelum berpamitan meninggalkan ruang kantor Rintis Holdings milik Gempa.
.
.
.
Gempa buru-buru meninggalkan kantornya seusai jam kerjanya tamat. Di sisinya , ada seorang pembantunya yang setia mengikuti.
"Kita mau ke mana, Pak?" soal pembantu yang dua tahun lebih tua darinya , Ran. Pria itu sudah bekerja untuk keluarga Gempa selama 8 tahun , merangkap teman baik Gempa sendiri.
"Sudah kubilang jangan memanggilku 'Pak'. Kau temanku," tegur Gempa sambil memakai sabuk pengaman.
"Maaf, Gem."
"Ya sudah. Kita ke Batu Rintis," pinta Gempa pada Ran yang menjadi supir.
Mobil meluncur laju ke arah ujung sebuah permukiman desa tertua di Pulau Rintis.
.
.
.
Mobil sedan hitam itu tiba di hadapan sebuah kawasan berhampiran sungai. Tepat di hadapan mereka, sebuah kawasan yang dipagari pagar setinggi lapan kaki dan dikeilingi pohon duren yang ditanam bebas. Kawasan itu dikawal oleh dua orang satpam dan dua ekor anjing Rottweiler yang hidup meliar. Tempat itu sangat dikawal rapi.
Gempa mendelik tajam ke arah anjing-anjing Rottweiler yang menyambut tajam kedatangannya di situ. Ran yang mengikuti di sebelah Gempa berasa gerun melihat anjing-anjing yang galak itu seolah-olah ingin menerkamnya kapan pun.
"Gimana ini, Gem?" tanya Ran.
"Masuk aja," arah Gempa.
Sebaik sahaja mobil melepasi pos keselamatan kedua, pagar yang berukuran lumayan besar itu tertutup semula. Setelah merasakan keadaan cukup aman, Gempa dan Ran serempak membuka pintu mobil.
Gempa memberi salam hormat pada dua satpam yang mengawal bangunan itu, lalu mereka membalasnya. Gempa langsung membuka kunci pintu bangunan tua tersebut.
Sebaik sahaja kenop pintu diputar, debu berterbangan meyesakkan nafas. Gempa terbatuk-batuk lalu menutup mulutnya.
Tap! Lampu yang dinyalakan Gempa meyebabkan sekitar ruang itu dapat dilihat dengan jelas.
Gempa meneruskan langkahnya ke sebuah lagi pintu yang dibuat khas dari besi anti-karat. Pintu itu dikunci dengan sistem elektronik modern yang memerlukan sebaris kode lapan angka.
Setelah memasukkan kata sandi yang dihafal, Gempa menunggu dengan sabar sehingga pintu itu terbuka secara otomatis. Lalu Gempa dan Ran bisa masuk ke dalam ruang yang diterangi cahaya lampu neon dua puluh empat jam.
Batu besar itu menanti mereka.
.
.
.
"Kamu tidak masuk?" tanya Gempa pada Ran yang masih tercegat di hadapan batu itu.
Di hadapan Batu Rintis itu ada sebuah lubang kecil, seperti sebuah gua.
"Gak mahu ah. Kamu aja," ujar Ran grogi. Dia menyerahkan tas hitam yang dipegangnya sejak tadi ke Gempa.
"Hehe..takut eh~"
Gempa tahu. Temannya itu masih lagi takut jika diajak masuk walaupun usianya sudah 27 tahun. Dia sudah lama menemani Gempa ke Batu Rintis, namun tetap sahaja Ran bersikeras tidak mahu masuk.
Gempa meninggalkan Ran keseorangan di luar, sementara dia mengambil sesuatu di dalam batu itu.
Setelah hampir lima belas minit, Gempa keluar membawa tas tadi yang sudah bertambah berat.
"Selesai?" tanya Ran.
Gempa mengangguk, lalu mereka keluar dari situ.
.
.
.
Setelah melepasi pos keselamatan yang pertama, Ran menyetir laju ke bandar semula. Mereka ingin mencari sebuah bank. Begitulah rutinitas mereka setiap sekali sebulan.
"Ada pertanyaan?'' Gempa menyeringai melihat wajah Ran yang berkeringat. Ran masih terlihat cemas walaupun mereka sudah berada dalam mobil di jalan.
Gempa menatap Ran bosan bercampur geli. Hal seperti itu pula yang ditakutinya. Lelaki macam apa itu?
Gempa terkikik, "Kalau aku meninggal siapa yang mau ganti? Kamulah.."
Ran menoleh, "Gak ah! Kamu itu seharusnya udah nikah! Cepat nikah dong agar bisa punya anak..nanti suruh aja anakmu itu."
Gempa tertawa keras. Lucu sekali melihat Ran yang berbadan lebih besar daripadanya bersikap pengecut seperti itu.
Ran pula ingin sahaja ketika ini dia menghajar wajah tampan Gempa itu..namun dia hanya mengeluh.
"Aku dulu juga begitu masa kecil..puas ayahku membentak tapi aku tetap gak mau masuk," Gempa termenung.
"Kenapa tidak?" tanya Ran, bingung.
Gempa tidak menjawab. Dia terus termenung mengingati masa lalunya. Sepintas memori masa kecilnya bermain di pikirannya.
Waktu itu bangunan yang menyembunyikan Batu Rintis tidak semegah itu. Ia jauh terlihat lebih tua, masih diperbuat dari kayu. Dia telah menukar desainnya agar bangunan sebesar sumah dua tingkat itu dibuat dari batu, lalu menggantikan pintunya dengan besi serta memasang kawalan keselamatan dwilapis. Apa yang ada dalam itu sangat berharga nilainya pada jaman sekarang sehingga diperebutkan ramai orang.
"Bilang dong kenapa kamu takut! Apa kamu juga takut sepertiku?" desak Ran mematikan lamunan Gempa.
Akhirnya Gempa hanya bisa menjawab, "Entahlah, Ran. Hatiku berat ingin masuk ketika itu. Seperti ada yang membuatku meriding. Aku rasa seperti sesuatu sedang memerhatikanku..sepasang mata yang menatapku lekat. Dia seperti ingin menerkamku."
"Dia...apa?" tanya Ran separuh ketakutan.
Gempa terdiam lagi.
Kata-kata itu berlegar di kepalanya..
Masuk..
Masuk..
20 tahun yang lalu..
Anak yang hampir menginjak usia delapan tahun itu memasang wajah masam. Dia bersikeras ingin ditinggalkan dalam mobil sahaja. Dia tidak mahhu turun. Dia tidak suka.
"Turun!" perintah ayahnya setelah keluar dengan membanting pintu mobil.
Gempa menggeleng.
"TURUN!" kali ini ayahnya meninggikan suara.
Dia menatap anaknya dengan bengis, "Sampai kapan mau takut seperti ini?!"
"Gak mahu, ayah.."Gempa bersuara halus di dalam mobil namun dapat didengar ayahnyya diluar.
Ayahnya membuka pintu mobil, kasar. Dia menarik lengan Gempa kuat. Diseretnya anak mungil itu tanpa belas kasihan ke kawasan permakaman yang berusia ratusan tahun, tidak jauh dari Batu Rintis.
Gempa meneguk ludah. Dia cuba melepaskan pegangan ayahnya, namun apalah dayanya sebagai anak kecil. Dia seperti pesalah yang lagi diborgol, diheret ke pembicaraan.
"TIDAKKKKK..! A-AYAHHH...!" pekik Gempa menangis-nangis.
Gempa dapat melihat kawasan permakaman yang terbiar. Tulang-belulang manusia bertebaran. Mayat reput tanpa kepala tergeletak tidak jauh di sisi ianya diseret. Bau anyir darah di mana-mana.
Dia seolah-olah melihat Neraka.
Dia tercium bau busuk yang membuatnya ingin muntah. Hawa dingin menyeruak dalam tubuhnya. Kakinya gementar hebat. Giginya menggertak.
"MASUK," tegas ayahnya dingin. Sekarang di hadapan Gempa terlihat sebuah liang lahad yang amat dalam.
Air mata Gempa mengalir deras.
Sungguhpun Gempa mencintai ayahnya, perintah itu kedengaran amat berat dikupingnya. Dia hanya sempat berundur setapak, sebelum ayahnya mendorong tubuh mungilnya ke dalam lubang itu.
Gempa jatuh terjerembap kemudian menggelupur. Dia menjerit kaget apabila tersadar bahawa dia telah terjatuh atas sekujur jasad tanpa kepala.
Dia mendongak. Ayahnya memandang tanpa perasaan.
"AYAH! TOLONG..!" di dalam makam itu, dia menangis. Namun tangisannya tidak diacuhkan. Bahkan, ayahnya tega meninggalkan dia seorang diri di situ, semalaman.
"AYAH! AYAH, TOLONG-AYAH?"
Gempa melotot horor apabila sosok ayahnya yang menghilang digantikan dengan pemandangan yang cukup mengerikan. Seorang pria tua yang hancur wajahnya. Ulat menyembul dari kerongkongnya yang terbuka. Darah kotornya mengalir deras dari ujung kepalanya.
Di dalam gelap yang hanya ditemani cahaya bulan, Gempa menekuk lutut. Dia terus menangis tanpa henti sambil meringkuk.
"Sesiapapun, tolong..." rayu batinnya. Dia membalikkan pandangan daripada pria hodoh itu yang sedang melahap cebisan mayat.
Pandangannya menggelap..dan masa terus berlalu sehingga keesokan pagi.
Gempa tersedar apabila pipinya teras hangat disulut cahaya matahari. Dia cuba membuka matanya yang terpejam, berharap makhluk itu tidak dilihatnya lagi.
Ayahnya kembali.
"Naik!" perintah ayahnya.
Tanpa berpikir panjang, Gempa terus menyambut sebatang kayu yang dihulurkan ayahnya. Akhirnya dia dapat keluar dari lubang itu.
"Gimana? Sekarang kamu sudah gak takut lagi,bukan?" Ayahnya menatap anaknya tajam.
Gempa menggeleng.
Dia melepas nafasnya yang sesak dari semalam. Dia sedikit tersenyum. Dia merasa sudah mendapatkan kekuatan ke seluruh tubuhnya..seperti mendapatkan semacam kuasa. Segenap perasaannya berubah. Dia merasa lebih kuat dan hebat. Dirinya sudah kebal dan bersatu dengan tanah.
Mulai saat itu dia tidak bisa lagi menolak apabila ayahnya membawanya ke Batu Rintis.
.
.
15 tahun setelah itu..
"Ibu, pulang yuk" Gempa tetap berlembut sama wanita paruh baya itu.
"Tidak. Aku tidak mahu," suara di ujung talian itu meninggi.
Gempa hampir hilang kesabaran. Sudah dibujuk beberapa kali namun wanita itu tidak mengubah pendiriannya.
Suara meraung ayahnya dari bawah bisa kedengaran dari kamarnya di lantai dua. Ia terdengar menyakitkan. Kadang-kadang kedengaran menakutkan. Seperti ngauman harimau.
"Ibu, kumohon..pulang. Ayah lagi terlantar sakit..Kalau ibu gak mahu lihat ayah gak apa-apa. Lihat Gempa aja," bujuk Gempa.
Dia mendesah. Dia paham wanita yang dipanggil 'ibu' itu masih marah sama ayahnya. Orang tua Gempa udah berpisah. Dia kini sudah bekerja namun tinggal sama ayahnya, selaku satu-satunya waris keturunan penjaga Batu Rintis. Dia bakal menggantikan posisi ayahnya di kantor juga sebagai penjaga Batu Rintis.
"Maaf, Ibu benar-benar gak bisa kembali. Ibu sudah muak digangguin sama 'benda' yang mengikuti ayahmu terus. Ayahmu mungkin sudah tenar..tapi kamu, Gempa. Masih belum terlambat, nak. Sadarlah.."
Gempa terdiam, marah.
"Apa yang ibu maksudkan? Ibu jangan tuduh ayah sembarangan! Kalau ibu gak mahu pulang gak apa-apalah..!" Gempa meghempas telefonnya ke kasur.
Dia tidak terima ayahnya dicemuh sebegitu. Bagi Gempa sendiri, ayahnya hebat.
Kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya, lalu masuk seorang pria berjanggut putih-seorang Ustadz membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Ayahmu sudah pergi.."
Sekali lagi Gempa terdiam.
.
.
Di saat itu Gempa melihat jasad ayahnya mereput seolah-olah sudah lama mati. Wajah ayahnya yang dahulu dikira tampan walaupun sudah berumur, kini berulat. Ulat itu melahap wajah si mati dengan rakus, sehingga wajah ayahnya tidak berwajah lagi. Kerongkongnya melopong. Persis seperti pria tua jelek yang dilihatnya di kuburan dahulu. Bahkan setelah ayahnya dimakamkan, kamar itu tetap berbau anyir selama berbulan-bulan.
Namun karena rasa amarah dan dendam kepada sikap ibunya, sedikit pun kejadian itu tidak membuatkan dia sadar atau insyaf.
Gempa bersumpah, suatu hari nanti ibunya akan datang melutut di kakinya juga apabila dia kaya dan berjaya. Dia tetap akan mempertahan apa yang diwarisi keluarganya terdahulu, walaupun apa yang harus dilakukan itu jijik dan kejam.
TB..eh, TBC.
Muahahaha~ Gimana?
Horrornya gak terkesan? Ini belum lagi yang kejam bangat..
Chapter ini fokus dikit ke pengenalan Gempa..ada yang bisa nebak perannya apa? Khkhkh..xD xD
Di Chapter depan bakal kembalinya Blaze ke pangkuan(?) keluarganya..oh ya dan bakal ada Hali dan Air, dan diceritakan sedikit demi sedikit soal apa sebenarnya yang berlaku.
See ya next chapt~!
Makasih tumpang lewat(?)..
