HalO aku kembali! Buat yang mau membaca, ini UPDATE KILAT!


Pinggir Bukit Tinggi..

Dingin.

Sambil membenarkan jaket yang membaluti tubuhnya, Blaze terus termenung di beranda apartment menyaksikan kabut pagi yang menyelimuti kawasan perbukitan. Semalaman dia tidak bisa tidur. Dia khawatir memikirkan apa yang bakal dihadapinya. Dia berasa seperti dihempap batu besar. Semilir angin sama sekali tidak bisa mendamaikan hatinya yang kacau ketika ini.

'Apa orang-orang di desa bisa menerimaku semula?' batinnya.

"Tumben udah bangun?" sapa Taufan sebaik membuka pintu geser. Tubuhnya yang bertelanjang dada menampakkan sosok tubuh yang kurus namun keras, hasil latihan bela diri.

Suara Taufan menyebabkan kepala Blaze menoleh. Dia teringat pada jam tangannya yang diletakkan atas meja kecil di pinggir kasur.

"Hoaamm..udah jam berapa sekarang?" Blaze pura-pura menguap.

Taufan menoleh pada jam dinding di dalam kamar, kemudian menoleh kembali ke arah Blaze.

"Jam tujuh," jawabnya singkat.

"Tumben udah bangun?" Blaze bertanya kembali.

Taufan tertawa renyah, merasa disindir.

"...Selalu bangunnya tengah hari," sambung Blaze.

"Bajumu udah dikemas?" tanya Taufan.

"Belum."

"Kok belum?"

Blaze mengangkat bahu sebagai jawaban. Dia menghela nafas.

"Lagi berat hati nih mau pulang.." ucapnya lirih lalu menatap Taufan.

.

.

.

Satu jam sudah berlalu. Blaze baru selesai mandi. Wajahnya menghadap cermin.

Blaze meraba-raba di sekitar area lehernya. Ditanggalnya kalung emas yang terkalung manis di lehernya, hasil rampokan anggotanya dahulu. Begitu juga dengan subang di kedua kuping dan di ujung hidungnya.

Kalung dan subang itu disimpan dalam sebuah kardus berukuran kecil dalam lemari bajunya.

Kemudian matanya menatap pada tatu bermotif kobaran api di bahu kirinya. Entah mengapa sekarang dia berasa malu mempunyai tatu seperti itu. Dahulunya, memakai tatu adalah kebanggaan baginya. Mana-mana anggota yang tidak mempunyai tatu di badan dianggap lemah oleh anggota lain.

Dia menatap lama pantulan wajahnya di cermin. Surai yang aslinya hitam kecoklatan, diwarnakan merah di beberapa bahagian. Juga dipotong tidak rapi, sebelahnya digayakan mencuat dan sebelah lagi dibiarkan acak-acakan.

Dia sedar dirinya orang jahat.

Dia tidak layak untuk kembali semula. Dia malu dilihat sama keluarganya dengan penampilan aneh seperti itu. Penampilannya yang 'baru'.

'Ini tidak beres.' batinnya.

Pagi itu, dia berusaha sehabis yang bisa untuk merubah penampilannya.

Rambutnya dipotong pendek separas telinga dan disisir rapi. Warna merah permanen cuba ditutup dengan pewarna cokelat gelap.

Dia menanggalkan jaket merah dengan motif api mencolok kepunyaannya, lalu dilempar ke dalam koper.

Blaze menyarungkan sehelai kaos mahal yang bersih dan memakai celana jeans biru lusuh. Tidak biasa memakai kaos lengan panjang, dia menarik lalu melipat lengan kaos itu ke paras siku. Lalu dia mengambil sehelai jaket merah polos lalu disarung ke tubuhnya dengan membiarkan resletingnya terbuka. Setidaknya dia harus kelihatan sedikit kemas dari biasanya.

Dia mengeluarkan beberapa helai kaos mahal serta seluar jeans berjenama dari lemari bajunya untuk dimasukkan ke dalam koper. Bersamanya dibawa sebotol parfum yang mahal.

Dia harus meyakinkan orang bahawa dia sekarang punya pekerjaan yang bagus lagi berjaya. Dia juga bisa hidup kaya-raya dan mampu membeli dengan uwangnya yang banyak.

Setelah menutup pintu kamar, dilihatnya Taufan yang tertidur pulas. Tidak tega mengganggu, dia menutup pintu itu perlahan tanpa berpamitan. Sebentar nanti Taufan juga pasti sudah tahu dia ke mana.

Blaze turun ke kawasan parkir untuk menghidupkan enjin mobil. Tas bajunya dicampakkan begitu sahaja di tempat duduk belakang. Cakram padat nyanyian MCR segera diputar. Mobil dikemudi dengan tangannya yang bergetar.

Bermulanya saat di mana dia harus membuktikan bahawa keputusannya sepuluh tahun yang lalu tidak pernah disesalinya.

10 tahun yang lalu..

"INI AJA NILAI YANG BISA KAMU DAPAT?"

Dia menunduk tidak bergeming.

"SUDAH PUAS KUAJAR SIANG MALAM, CARI UWANG UNTUK MENGHANTARMU KE KELAS, HANYA INI YANG BISA KAU DAPAT?"

Dinding rumah yang diperbuat dari kayu bergegar apabila ayahnya bersuara dengan lantang. Sangat lantang.

Ibu dan adiknya yang masih kecil hanya menikus di tepi dinding. Langsung tidak berani berkutik melihat ayahnya lagi marah besar.

Blaze membatu. Kepalanya makin tertunduk, tidak terangkat walau secenti. Sejak keputusan ulangan sialan itu diumumkan di sekolah, ayahnya terus marah-marah. Dia tidak bisa lari lagi dari akibat yang bakal menimpanya.

Kertas yang menunjukkan keputusan ulangan yang tercorot itu dilempar ke mukanya. Sakit. Namun sakit lagi kenyataan yang bakal dihadapinya.

Dadanya ingin meletup karena terlalu sedih, namun dia sekuat hati menahan isak.

Ketika ini, dia sudah tidak punya harga lagi di mata ayahnya.

Melihat sikap anaknya yang masih diam dan kaku, ayahnya mengeluh berat. Detak jantungnya laju. Dia hanya bisa menunggu reaksi anaknya itu.

"Sudah. Kalau begitu gak usah belajar lagi. Buang masa. Menghabiskan uwang," ucap ayahnya lalu membuang muka darinya.

"Di jaman sekarang kalau gak punya pelajaran jangan harap kamu bisa mendapat perkerjaan. Orang lain berlomba-lomba ingin punya kerjaya yang bagus...kamu?" Ayah beralih menatapnya tajam.

"Dasar anak bodoh."

Itu tidak benar. Dia bukanlah bodoh seperti yang dianggap ayahnya. Dia juga memiliki impian, namun dia tidak bisa menadi anak yang diharapkan ayahnya.

Dia juga ingin menjadi anak yang dibanggakan sama ayahnya. Tetapi harapan tinggal harapan. Benarkah hidupnya sudah berakhir?

Setelah puas melampiaskan amarah dan kekecewaan, deruman enjin sepeda motor di luar menandakan ayahnya terus keluar dari rumah.

Malam itu, ibunya menegur sang ayah.

"Tidak baik omong begitu sama anak sendiri. Kata-kata itu doa.." tegur ibunya.

"Huh! Anak apa seperti itu? Bikin malu sama keluarga! Setelah ini apa pula sikapnya yang bertambah tidak berguna? Jadi anak yang berkeliaran di luar sana? Perampok? Pengisap narkoba? Bodoh! Anak itu gak bisa dibiarin, dimanjakan terus! Dia tidak bisa sama sekali dijadikan contoh sama adiknya! Akan kuhantarnya ke sekolah lain tahun hadapan!"

Hati ibunya teramat sakit apabila mendengar suaminya berbicara sedemikian tentang anaknya.

Blaze yang terdengar pertengkaran ayah sama ibunya hanya mampu merosot di balik pintu kamarnya.

Malam itu, dia bertekad ingin lari.

Suatu hari nanti, dia berjanji bahawa dia akan pulang dengan kejayaan.

Dia juga ingin buktikan bahawa dia juga bisa menjadi seorang manusia walaupun dengan nilai ulangan yang jelek. Dia mahu ayahnya gembira apabila menatap wajah anaknya yang sudah dewasa. Punya harta, kerjaya dan kaya raya.

Namun 10 tahun kemudian, dia kembali ragu...

.

.

.

PON!

Bunyi klakson truk mengejutkan Blaze yang lagi memandu sambil mengelamun. Segera dia membelok untuk membenarkan truk itu mendahuluinya. Ternyata dia memandu secara terlalu perlahan tanpa henti.

'Huh..apa jauh lagi? Sudah berapa jam kukemudi?' Blaze membatin lalu matanya memfokus ke arah jam tangannya.

Dari 10 pagi hingga 1 tengah hari...bererti sudah 3 jam.

Akhirnya dia memilih untuk berhenti sebentar setibanya di sebuah kota. Kota itu terletak di pinggir sungai yang luas.

Melihat sungai itu, Blaze sadar sesuatu. Kota itu ialah Kota Rintis dan tidak jauh di sana, letaknya sebuah perkampungan berhampiran kawasan perbukitan. Ternyata dia semakin hampir dengan rumah yang ditinggalkan.

Sepuluh tahun merupakan suatu jangka waktu yang lama. Sepasang matanya bisa menyaksikan satu-persatu bangunan yang 'tumbuh' bersama pohon-pohon tua di kota itu. Perusahaan-perusahaan di situ mula dibangunkan sejak kapan? Dia tidak ingat.

Bahkan dermaga yang dahulunya sibuk kini sepi, malah dijadikan waterfront.

Jujur aja, dia terasa sungguh asing di sini.

Blaze mendudukkan dirinya di sebuah warung yang menghadap waterfront.

Lalu dia ditegur oleh seorang pria yang sudah berumur,

"Anda mau ke mana?"

Pemilik warung itu menghantar minuman yang dipesan lalu meletakkannya di atas meja.

"Gak ke mana-mana. Saya hanya ingin melawat ibu saya di kampung," jawab Blaze santai.

Dia tahu. Di sini dia bukan Blaze.

Dia Api.

Pria berambut hampir putih itu mengangguk.

"Di mana kampungmu?"

"Desa Rintis."

Blaze sedikit tersenyum sebelum menghirup es kopinya. Sebenarnya, dia gugup. Mahu tidak mahu, dia terpaksa berdepan dengan bermacam-macam soalan apabila dia pulang nanti. Jadi seeloknya dia berlatih dulu sebelum berdepan dengan soalan yang lebih rumit.

"Oh..."

"Paman silahkanlah duduk."

Pria tua itu pun duduk menghadap Blaze. Anehnya seperti ingin disoal siasat sahaja..

"Apa kamu lagi liburan? Seorang?"

Blaze terus gelisah dipandang laki-laki itu. Jangan-jangan dia mengenalnya? Oh, gawat.

"Iya, seorang. Apa paman orang sana juga?"

Orang tua itu menggeleng.

"Bukan. Saya bukan orang sana, tapi sudah biasa ke situ. Tempatnya udah gak banyak orang..ramai yang sudah pindah."

"Pindah? Kenapa?"

Pria itu menggeleng, "Saya kurang pasti..juga kudengar kepala desanya udah meninggal kok. Nanti bakal ada kepala yang baru.."

Blaze terdiam. Dia tidak terlalu peduli soal kepala desa. Yang ia khawatirkan ialah..Apa ibu dan adiknya juga sudah berpindah? Kalau begitu sia-sia aja dia ke sini.

Melihat Blaze yang terus diam, lelaki itu bertanya lagi.

"Kamu dari keluarga yang mana, nak? Keturunannya siapa?"

Blaze meneguk ludah. Sejujurnya dia sudah lupa nama keluarganya, juga susur galur keturunannya sendiri. Apa yang dia ingat, desa dan kawasan itu sendiri dibangunkan oleh tiga orang...apa ya? Entah asalnya dari yang mana satu, dia tidak ingat.

Akhirnya dia berpamitan sama orang itu.

"Makasih ya, Paman. "

Dia terus mengeluarkan selembar uwang dari saku celananya.

"Eh? T-Tunggu..! Bakinya-"

"Simpan aja," laung Blaze terburu-buru sambil melambai-lambai ke arah lelaki tua itu.

.

.

.

Suasana di kawasan permakaman Desa Rintis itu sepi sekali. Kelihatan nisan-nisan yang telah berusia ratusan tahun dan juga yang usianya baru beberapa hari. Ada yang tercocok tegak malah ada yang jatuh menyembah bumi.

Air melangkah perlahan-lahan di belakang ibunya. Tanah yang diinjak terasa sejuk dan lembap. Hatinya masih iba. Kesedihannya terasa menjalar ke urat darah.

Diikutkan hati, dia belum bersedia.

Dia tidak ingin mengingati semula kejadian dua minggu lalu..

"Air," panggil Tok Aba dari atas rumah.

Dia yang baru pulang dari sekolah terus naik ke rumah. Setibanya di pintu, dia memandang pria tua itu dengan penuh harap.

"Kakek harap kamu bersabar ya.."

Kata-kata Tok Aba membuat anak itu terdiam.

"Polisi sudah menemukan ayahmu, tapi dia..."

Tok Aba tidak sanggup meneruskan kata-kata apabila melihat air mata anak itu mulai tumpah di pipi.

Doanya tidak dimakbulkan. Dia rebah ke pelukan kakek itu, lalu terisak.

"Si-sia-siapa..yang..yang..Di mana..?" tanya Air parau.

"Di ladang."

"Ke-kenapa? Siapa yang tega membunuh ayah?"

"Kita bicarakan nanti aja..Air sabarlah dulu, Allah lebih sayangkan ayahmmu.."

Tangisan Air semakin kuat.

"Kamu kuat, nak. Kumohon, bersabarlah..Ayahmu akan dimakamkan besok," Tok Aba membujuk.

Air sekedar mengangguk lemah. Sebagai anak laki-laki dia harus menerima khabar itu dengan tabah.

"Ayuh kita pulang,nak"

Suara lembut ibunya mematikan lamunan Air. Segera dia mengusap air matanya yang turun.

Air bangkit lalu menabur bunga di atas makam ayahnya.

Ketika ini Air meninggalkan kawasan perkuburan itu buat ke sekian kali. Dia tidak henti-henti melawat pusara sang ayah. Ada amanah yang berat memikul di bahunya. Hatinya merasa terbeban.

.

.

.

Lima puluh menit kemudian, Blaze sudah tiba di tempat yang dicarinya. Sebelumnya dia terpaksa mengemudi di sepanjang lorong-lorong kecil yang menyusuri Sungai Rintis.

Enjin mobil dimatikan. Tangannya segera menggapai tas plastik yang berisi buah-buahan mahal yang dibeli dari pasar raya di kota tadi. Langkahnya diatur perlahan mendekati pintu rumah yang bertutup rapat.

"Assalamualaikum!"

Tiada jawaban.

"Assalamualaikum!"

Masih tiada jawaban walau setelah dua saat berlalu.

'Jangan-jangan mereka benaran sudah pindah?' batinnya grogi.

Dia menyentuh belakang tengkuknya yang terasa meremang. seperti ada sesuatu yang menyentuhnya, namun ditepis pemikiran itu.

Kemudian dia terdengar deruman enjin sepeda motor dari arah punggungnya. Blaze terpaku.

Dilihatnya seorang pemuda yang menunggang sepeda motor lalu dibelakangnya seorang wanita paruh baya.

Matanya membulat.

"IBU!"

Blaze menerpa ke arah wanita itu.

"Astaga..API!"

Perasaanya berbaur antara senang dan sedih. Kedua-dua tangan diraih, dicium dan dipeluk tubuh itu dengan penuh haru. Kerinduannya lebur dalam pelukan sang ibu.

Sungguh, dia benar-benar rindu akan pelukan itu. Blaze tersedu-sedu di dekap ibunya. Matanya terpejam. Rindunya terubat.

"Selama ini kamu ke mana?" tanya ibunya pilu.

Bagai disengat listrik, sekujur tubuhnya terasa lumpuh. Sentuhan dan tatapan penuh kasih itu seperti telah memadam sebahagian masa lalunya yang hitam dan kotor. Selama sepuluh tahun dia kehilangan cinta seorang ibu yang tulus lagi murni. Hari ini, dia merasa sudah menemukan sebahagian dari hidupnya yang hilang.

"Ibu sihat?"

Blaze tidak mahu menjawab pertanyaan ibunya. Biarlah masa lalunya ditolak ke tepi dahulu.

Dia belum bersedia.

"Alhamdulillah, sihat walafiat..Kamu balik sendirian?"

Blaze tersenyum. Dia mengerti. Ibunya pasti mengharapkan yang dia udah punya keluarga.

"Sendirian."

Entah kenapa, dia begitu berat untuk melepaskan pelukan itu.

Pemuda yang memerhati pertemuan ibu-anak itu sejak tadi berdehem.

"Kakak," tegurnya dengan mata berbinar kagum.

"Air," bisik Blaze.

Hatinya membuak-buak penuh haru apabila melihat adiknya udah tumbuh dewasa, menjadi seorang pemuda yang tenang.

Mengikut kiraannya, Air kini berusia di lingkungan 17 tahun.

Tanpa diduga, Air memeluk tubuhnya. Bisa memeluk tubuh seorang kakak yang sekian lama dirindui terasa amat menyenangkan.

Blaze kaget namun tetap membalas pelukan sang adik yang pernah digendongnya sewaktu kecil. Sekali lagi dia dirundung sayu.

"Ayuh naik ke rumah, nak.." Ibunya memimpin.

"Iya, Kak Api. Naik, yuk.." Air tersenyum sambil menarik-narik tangan Blaze menuju ke pintu yang terbuka lebar.

"Kalian ke mana tadi?" tanya Blaze.

"Ke makam Ayah."

Blaze terdiam, merasa bersalah.

.

.

.

Secangkir air bening terhidang di atas meja. Blaze mendudukkan dirinya di atas kursi kayu yang sama, di mana dia pernah dicemooh dan dihina oleh ayahnya dahulu. Rumah kayu itu tidak banyak berubah sejak dahulu lagi.

"Kak, minum dulu.." pelawa Air.

"Maaf, kak. Cuma air bening," hulur Air dengan rasa bersalah.

Demi tidak menyinggung adiknya, dia tetap minum.

"Gak apa-apa.." Blaze meneguk rakus walaupun tekaknya tidak terasa haus.

Setelah itu Blaze terus bertanya,"Apa ayah sakit?"

"Ayah gak sakit.."

Blaze mengangkat alis.

"Dia..ditembak."

Jika saja dia lagi minum ketika ini, pasti minumannya sudah tersembur. Nah, dia merasa tertampar. Kerjanya juga menembak orang, namun dia tidak pernah menyangka, kali ini yang tertembak adalah ayahnya. Tewas, lagi. Seingatnya, Ayah tidak pernah mempunyai musuh.

Hukum karma, mungkin?

Blaze diam.

Air juga diam.

"Lalu? Bagaimana bisa?" sambung Blaze. Bibirnya bergetar. Tangannya mengepal. Sebolehnya dia ingin melampiaskan amarahnya sekarang, namun tidak boleh di depan adiknya.

"Orang-orang desa menjumpainya di ladang karet dua hari setelahnya."

"Setelah dua hari?"

Air mengangguk.

"Aku sama penduduk desa udah mencarinya di mana-mana..sehinggalah ada orang yang kebetulannya lewat di kawasan bukit itu. Lagian tempatnya jauh, kak. Gak ada sesiapa yang berani masuk ke ladang itu lagi. Tidak terurus."

Blaze tampak diam berpikir.

'Ngapain pula ayah ke situ? Apa ada yang berniat mahu bunuh...ah gak mungkin. Ayah kan cuma seorang penyadap karet dan tukang papan..'

Cerita Air membuat dadanya bertambah sesak menahan marah. Kepalanya bertambah sakit dan pusing. Rasa amarahnya memuncak hingga membuat otaknya menggelegak. Tidak sadar, dia berkeringat.

"Apa kakak gak baca koran? Beritanya kan udah keluar..ada gambar Ayah," ujar Air sambil memandang wajah Blaze yang berkeringat.

"Polisi lagi siasat," tokok Air.

Blaze menggeleng lemah,"Mungkin tersilap orang. Mungkin orang lagi berburu, lalu tersilap tembak."

"Hmm.." Air hanya bergumam pasrah.

.

.

.

"Air ke mana?" tanya Blaze pada Ibu. Dia barusan ingin mengajak adiknya itu ke ladang. Namun kelibat adiknya tidak ditemukan.

"Lagi sholat di kamar," jawab Ibu.

"Kamu udah sholat?" tanya ibunya.

Blaze termangu. Sholat? Sejak kapan dirinya sholat?

"Nantilah," Blaze berdalih.

Selepas makan tengah hari, Blaze memutuskan untuk keluar bersiar di halaman rumahnya sendirian. Sudah lama dia tidak melihat pohon-pohon buah yang dahulunya baru ditanam di belakang rumahnya. Kini ia pasti sudah tumbuh merimbun, berbuah dan bisa dipanjat. Semua itu menyadarkan betapa telah lama sekali dia meninggalkan rumah.

Namun aneh, dia tercium bau busuk. Dia menapak menerusi denai-denai yang kecil, sehingga akhirnya membawanya ke ladang karet lama di belakang rumahnya. Dia masih ingat, ladang itu pernah dikerjakan oleh ayahnya tetapi kini ia tampak tidak terurus. Duri-duri serta pohon-pohon liar menjalar di mana-mana.

Sedang leka mengenang kisah lama, tiba-tiba pokok disekitarnya berguncang bagaikan ditimpa ribut. Lamunannya terus mati. Langit dilihatnya begitu gelap. Apa hari mahu hujan?

Entah kenapa, hati Blaze menjadi gementar.

Bau busuk itu kembali menusuk hidungnya.

Bulu kuduknya berdiri tegak.

Sesuatu sedang memerhatikannya.

.

.

Ngehehehe~To Be Con.


Akhirnya chapter ini bisa ku-update pantas!

Kali ini sedikit angst..atau kurang ya 'feel'nya di bahagian pertemuan? Lepas ini apa ya?

Banyak lagi chapter lain yang lebih seru menanti~ /diem!